15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
in Esai
AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan gelombang perubahan yang tidak bisa dihindari. Dari ruang redaksi hingga studio musik, dari ruang kelas hingga meja kerja penulis, Artificial Intelligence/Akal Imitasi (AI) telah menjadi bagian dari proses kreatif manusia. Namun, kehadirannya tidak datang tanpa perdebatan. Di satu sisi, AI dipuji sebagai alat bantu yang mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Di sisi lain, ia dituding sebagai ancaman terhadap keaslian karya dan integritas kreator. Di tengah polemik ini, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah AI sekadar ‘alat bantu’, atau justru telah diperlakukan sebagai ‘pembantu’ yang mengambil alih peran manusia?

Kegelisahan ini tercermin dalam sebuah diskusi yang dipantik oleh Angga Wijaya, seorang penulis dan jurnalis asal Jembrana. Di media sosial Facebook-nya (23/3/26), ia membagikan kabar tentang sebuah novel yang batal terbit karena penulisnya dituding menggunakan AI. Alih-alih memberi jawaban, Angga membuka ruang tanya: apakah penggunaan AI dalam proses kreatif salah? Pertanyaan ini memantik beragam pandangan dari para pelaku seni dan media, yang justru memperkaya cara kita memahami posisi AI hari ini.

Salah satu pandangan menarik datang dari seorang penyair, Tan Lioe Ie alias Yoki. Ia mengajak kita melihat analogi dari dunia musik. Dalam musik, penggunaan sampler, MIDI, hingga instrumen digital bukanlah hal baru. Bahkan kini, seorang musisi bisa tampil seorang diri dengan bantuan teknologi yang menghadirkan bunyi seolah dimainkan oleh banyak orang. Namun, perkembangan ini tidak memicu pertikaian besar di kalangan musisi. Mengapa? Karena teknologi tersebut dipahami sebagai alat, bukan pengganti manusia. Pilihan untuk menggunakannya atau tidak tetap berada di tangan kreator.

Pandangan ini menjadi cermin yang menarik bagi dunia sastra. Jika di musik teknologi bisa diterima sebagai bagian dari evolusi, mengapa di sastra justru menimbulkan resistensi? Mungkin jawabannya terletak pada persepsi tentang proses kreatif itu sendiri. Menulis sering dianggap sebagai aktivitas yang sangat personal, bahkan intim. Ketika AI masuk ke dalam proses tersebut, muncul kekhawatiran bahwa ‘suara manusia’ akan tergantikan oleh mesin. Padahal, seperti yang disampaikan Yoki, AI tetaplah alat. Ia tidak memiliki kehendak, tidak memiliki rasa, dan tidak memiliki pengalaman hidup. Semua itu tetap milik manusia.

Yoki sendiri mengaku belum sepenuhnya menggunakan AI dalam proses kreatifnya. Ia lebih melihat AI sebagai sumber data atau bahkan calon ‘sparing partner’ yang bisa diajak berdialog. Dalam bayangannya, AI bisa dilatih untuk mengenali warna karya seorang penulis, lalu digunakan sebagai mitra untuk mengembangkan ide sebelum akhirnya tetap melalui proses penyuntingan manusia. Gagasan ini menarik karena menempatkan AI bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai pendamping. Seperti halnya seorang mentor atau rekan diskusi, AI hadir untuk memperkaya, bukan menggantikan.

Pandangan yang lebih praktis datang dari Wayan Udiana, atau akrab disapa Nanoq Da Kansas, seorang dramawan dan penulis. Ia menyoroti praktik di dunia jurnalistik, di mana banyak wartawan menggunakan AI untuk membantu menulis berita. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa proses utama tetap dilakukan oleh manusia. Wartawanlah yang mencari data, melakukan wawancara, dan memahami konteks peristiwa. AI hanya membantu merangkai menjadi tulisan yang lebih rapi dan efisien. Dalam konteks ini, penggunaan AI jelas bukan pelanggaran, melainkan efisiensi.

Hal serupa juga terjadi dalam pengalaman pribadi Nanoq di dunia musik. Ia menggunakan AI untuk mendokumentasikan lagu-lagu yang telah lama ia ciptakan. Dengan keterbatasan akses terhadap studio rekaman dan musisi profesional, AI menjadi solusi yang memungkinkan karyanya tetap hidup. Namun, ia tetap menegaskan bahwa lirik, melodi, dan aransemen berasal dari dirinya. AI hanya berperan dalam proses teknis seperti mixing dan mastering. Transparansi ini menjadi kunci penting dalam penggunaan AI secara etis.

Menariknya, Nanoq juga menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian: penggunaan AI tidak otomatis menghasilkan karya yang baik. Banyak orang gagal memanfaatkan AI karena tidak memiliki pemahaman dasar tentang bidang yang mereka geluti. Dalam musik, misalnya, tanpa pengetahuan tentang instrumen dan aransemen, hasil yang diberikan AI akan terasa kosong atau tidak masuk akal. Ini menunjukkan bahwa AI bukanlah jalan pintas menuju kualitas. Ia tetap membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan manusia.

Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa persoalan utama bukan pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika AI digunakan sebagai alat bantu, ia dapat memperluas kemungkinan kreatif dan membuka akses bagi lebih banyak orang untuk berkarya. Namun, ketika AI digunakan sebagai ‘pembantu’ yang sepenuhnya menggantikan proses kreatif, di situlah masalah muncul. Klaim kepemilikan atas karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI tanpa kontribusi signifikan dari manusia menjadi persoalan etika yang serius.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan kembali peran manusia sebagai pusat dari proses kreatif. AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak merasakan kegagalan, tidak memahami cinta, kehilangan, atau harapan. Semua itu adalah sumber utama dari karya seni. AI hanya mengolah data yang sudah ada, tanpa benar-benar memahami maknanya. Oleh karena itu, karya yang lahir dari kolaborasi antara manusia dan AI tetap harus berakar pada pengalaman manusia itu sendiri.

Perdebatan tentang AI dalam dunia kreatif mungkin masih akan terus berlangsung. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu menghadirkan resistensi sebelum akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan. Kamera pernah dianggap mengancam lukisan, mesin cetak pernah ditakuti akan merusak tradisi lisan. Namun, pada akhirnya, teknologi tersebut justru memperkaya cara manusia mengekspresikan diri.

AI pun kemungkinan besar akan mengikuti pola yang sama. Ia akan menemukan tempatnya sebagai alat bantu yang memperluas batas kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran, etika, dan kejujuran dalam penggunaannya. Kreator perlu jujur tentang sejauh mana AI berperan dalam karya mereka. Dengan demikian, kepercayaan publik dapat tetap terjaga.

Jadi, salahkah penggunaan AI di era sekarang sebagai alat bantu? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Penggunaan AI menjadi salah ketika ia digunakan untuk menipu, untuk mengklaim sesuatu yang bukan sepenuhnya hasil kerja manusia. Namun, ia menjadi sah dan bahkan bermanfaat ketika digunakan secara transparan dan proporsional sebagai alat bantu.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Ia tidak memiliki niat, tidak memiliki ambisi. Manusialah yang menentukan bagaimana alat itu digunakan. Apakah ia akan menjadi jembatan menuju kreativitas yang lebih luas, atau justru menjadi jalan pintas yang mengikis integritas. Semuanya kembali pada pilihan kita. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Next Post

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co