26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
in Esai
AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan gelombang perubahan yang tidak bisa dihindari. Dari ruang redaksi hingga studio musik, dari ruang kelas hingga meja kerja penulis, Artificial Intelligence/Akal Imitasi (AI) telah menjadi bagian dari proses kreatif manusia. Namun, kehadirannya tidak datang tanpa perdebatan. Di satu sisi, AI dipuji sebagai alat bantu yang mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Di sisi lain, ia dituding sebagai ancaman terhadap keaslian karya dan integritas kreator. Di tengah polemik ini, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah AI sekadar ‘alat bantu’, atau justru telah diperlakukan sebagai ‘pembantu’ yang mengambil alih peran manusia?

Kegelisahan ini tercermin dalam sebuah diskusi yang dipantik oleh Angga Wijaya, seorang penulis dan jurnalis asal Jembrana. Di media sosial Facebook-nya (23/3/26), ia membagikan kabar tentang sebuah novel yang batal terbit karena penulisnya dituding menggunakan AI. Alih-alih memberi jawaban, Angga membuka ruang tanya: apakah penggunaan AI dalam proses kreatif salah? Pertanyaan ini memantik beragam pandangan dari para pelaku seni dan media, yang justru memperkaya cara kita memahami posisi AI hari ini.

Salah satu pandangan menarik datang dari seorang penyair, Tan Lioe Ie alias Yoki. Ia mengajak kita melihat analogi dari dunia musik. Dalam musik, penggunaan sampler, MIDI, hingga instrumen digital bukanlah hal baru. Bahkan kini, seorang musisi bisa tampil seorang diri dengan bantuan teknologi yang menghadirkan bunyi seolah dimainkan oleh banyak orang. Namun, perkembangan ini tidak memicu pertikaian besar di kalangan musisi. Mengapa? Karena teknologi tersebut dipahami sebagai alat, bukan pengganti manusia. Pilihan untuk menggunakannya atau tidak tetap berada di tangan kreator.

Pandangan ini menjadi cermin yang menarik bagi dunia sastra. Jika di musik teknologi bisa diterima sebagai bagian dari evolusi, mengapa di sastra justru menimbulkan resistensi? Mungkin jawabannya terletak pada persepsi tentang proses kreatif itu sendiri. Menulis sering dianggap sebagai aktivitas yang sangat personal, bahkan intim. Ketika AI masuk ke dalam proses tersebut, muncul kekhawatiran bahwa ‘suara manusia’ akan tergantikan oleh mesin. Padahal, seperti yang disampaikan Yoki, AI tetaplah alat. Ia tidak memiliki kehendak, tidak memiliki rasa, dan tidak memiliki pengalaman hidup. Semua itu tetap milik manusia.

Yoki sendiri mengaku belum sepenuhnya menggunakan AI dalam proses kreatifnya. Ia lebih melihat AI sebagai sumber data atau bahkan calon ‘sparing partner’ yang bisa diajak berdialog. Dalam bayangannya, AI bisa dilatih untuk mengenali warna karya seorang penulis, lalu digunakan sebagai mitra untuk mengembangkan ide sebelum akhirnya tetap melalui proses penyuntingan manusia. Gagasan ini menarik karena menempatkan AI bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai pendamping. Seperti halnya seorang mentor atau rekan diskusi, AI hadir untuk memperkaya, bukan menggantikan.

Pandangan yang lebih praktis datang dari Wayan Udiana, atau akrab disapa Nanoq Da Kansas, seorang dramawan dan penulis. Ia menyoroti praktik di dunia jurnalistik, di mana banyak wartawan menggunakan AI untuk membantu menulis berita. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa proses utama tetap dilakukan oleh manusia. Wartawanlah yang mencari data, melakukan wawancara, dan memahami konteks peristiwa. AI hanya membantu merangkai menjadi tulisan yang lebih rapi dan efisien. Dalam konteks ini, penggunaan AI jelas bukan pelanggaran, melainkan efisiensi.

Hal serupa juga terjadi dalam pengalaman pribadi Nanoq di dunia musik. Ia menggunakan AI untuk mendokumentasikan lagu-lagu yang telah lama ia ciptakan. Dengan keterbatasan akses terhadap studio rekaman dan musisi profesional, AI menjadi solusi yang memungkinkan karyanya tetap hidup. Namun, ia tetap menegaskan bahwa lirik, melodi, dan aransemen berasal dari dirinya. AI hanya berperan dalam proses teknis seperti mixing dan mastering. Transparansi ini menjadi kunci penting dalam penggunaan AI secara etis.

Menariknya, Nanoq juga menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian: penggunaan AI tidak otomatis menghasilkan karya yang baik. Banyak orang gagal memanfaatkan AI karena tidak memiliki pemahaman dasar tentang bidang yang mereka geluti. Dalam musik, misalnya, tanpa pengetahuan tentang instrumen dan aransemen, hasil yang diberikan AI akan terasa kosong atau tidak masuk akal. Ini menunjukkan bahwa AI bukanlah jalan pintas menuju kualitas. Ia tetap membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan manusia.

Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa persoalan utama bukan pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika AI digunakan sebagai alat bantu, ia dapat memperluas kemungkinan kreatif dan membuka akses bagi lebih banyak orang untuk berkarya. Namun, ketika AI digunakan sebagai ‘pembantu’ yang sepenuhnya menggantikan proses kreatif, di situlah masalah muncul. Klaim kepemilikan atas karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI tanpa kontribusi signifikan dari manusia menjadi persoalan etika yang serius.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan kembali peran manusia sebagai pusat dari proses kreatif. AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak merasakan kegagalan, tidak memahami cinta, kehilangan, atau harapan. Semua itu adalah sumber utama dari karya seni. AI hanya mengolah data yang sudah ada, tanpa benar-benar memahami maknanya. Oleh karena itu, karya yang lahir dari kolaborasi antara manusia dan AI tetap harus berakar pada pengalaman manusia itu sendiri.

Perdebatan tentang AI dalam dunia kreatif mungkin masih akan terus berlangsung. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu menghadirkan resistensi sebelum akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan. Kamera pernah dianggap mengancam lukisan, mesin cetak pernah ditakuti akan merusak tradisi lisan. Namun, pada akhirnya, teknologi tersebut justru memperkaya cara manusia mengekspresikan diri.

AI pun kemungkinan besar akan mengikuti pola yang sama. Ia akan menemukan tempatnya sebagai alat bantu yang memperluas batas kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran, etika, dan kejujuran dalam penggunaannya. Kreator perlu jujur tentang sejauh mana AI berperan dalam karya mereka. Dengan demikian, kepercayaan publik dapat tetap terjaga.

Jadi, salahkah penggunaan AI di era sekarang sebagai alat bantu? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Penggunaan AI menjadi salah ketika ia digunakan untuk menipu, untuk mengklaim sesuatu yang bukan sepenuhnya hasil kerja manusia. Namun, ia menjadi sah dan bahkan bermanfaat ketika digunakan secara transparan dan proporsional sebagai alat bantu.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Ia tidak memiliki niat, tidak memiliki ambisi. Manusialah yang menentukan bagaimana alat itu digunakan. Apakah ia akan menjadi jembatan menuju kreativitas yang lebih luas, atau justru menjadi jalan pintas yang mengikis integritas. Semuanya kembali pada pilihan kita. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Next Post

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co