16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
in Esai
AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan gelombang perubahan yang tidak bisa dihindari. Dari ruang redaksi hingga studio musik, dari ruang kelas hingga meja kerja penulis, Artificial Intelligence/Akal Imitasi (AI) telah menjadi bagian dari proses kreatif manusia. Namun, kehadirannya tidak datang tanpa perdebatan. Di satu sisi, AI dipuji sebagai alat bantu yang mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Di sisi lain, ia dituding sebagai ancaman terhadap keaslian karya dan integritas kreator. Di tengah polemik ini, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah AI sekadar ‘alat bantu’, atau justru telah diperlakukan sebagai ‘pembantu’ yang mengambil alih peran manusia?

Kegelisahan ini tercermin dalam sebuah diskusi yang dipantik oleh Angga Wijaya, seorang penulis dan jurnalis asal Jembrana. Di media sosial Facebook-nya (23/3/26), ia membagikan kabar tentang sebuah novel yang batal terbit karena penulisnya dituding menggunakan AI. Alih-alih memberi jawaban, Angga membuka ruang tanya: apakah penggunaan AI dalam proses kreatif salah? Pertanyaan ini memantik beragam pandangan dari para pelaku seni dan media, yang justru memperkaya cara kita memahami posisi AI hari ini.

Salah satu pandangan menarik datang dari seorang penyair, Tan Lioe Ie alias Yoki. Ia mengajak kita melihat analogi dari dunia musik. Dalam musik, penggunaan sampler, MIDI, hingga instrumen digital bukanlah hal baru. Bahkan kini, seorang musisi bisa tampil seorang diri dengan bantuan teknologi yang menghadirkan bunyi seolah dimainkan oleh banyak orang. Namun, perkembangan ini tidak memicu pertikaian besar di kalangan musisi. Mengapa? Karena teknologi tersebut dipahami sebagai alat, bukan pengganti manusia. Pilihan untuk menggunakannya atau tidak tetap berada di tangan kreator.

Pandangan ini menjadi cermin yang menarik bagi dunia sastra. Jika di musik teknologi bisa diterima sebagai bagian dari evolusi, mengapa di sastra justru menimbulkan resistensi? Mungkin jawabannya terletak pada persepsi tentang proses kreatif itu sendiri. Menulis sering dianggap sebagai aktivitas yang sangat personal, bahkan intim. Ketika AI masuk ke dalam proses tersebut, muncul kekhawatiran bahwa ‘suara manusia’ akan tergantikan oleh mesin. Padahal, seperti yang disampaikan Yoki, AI tetaplah alat. Ia tidak memiliki kehendak, tidak memiliki rasa, dan tidak memiliki pengalaman hidup. Semua itu tetap milik manusia.

Yoki sendiri mengaku belum sepenuhnya menggunakan AI dalam proses kreatifnya. Ia lebih melihat AI sebagai sumber data atau bahkan calon ‘sparing partner’ yang bisa diajak berdialog. Dalam bayangannya, AI bisa dilatih untuk mengenali warna karya seorang penulis, lalu digunakan sebagai mitra untuk mengembangkan ide sebelum akhirnya tetap melalui proses penyuntingan manusia. Gagasan ini menarik karena menempatkan AI bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai pendamping. Seperti halnya seorang mentor atau rekan diskusi, AI hadir untuk memperkaya, bukan menggantikan.

Pandangan yang lebih praktis datang dari Wayan Udiana, atau akrab disapa Nanoq Da Kansas, seorang dramawan dan penulis. Ia menyoroti praktik di dunia jurnalistik, di mana banyak wartawan menggunakan AI untuk membantu menulis berita. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa proses utama tetap dilakukan oleh manusia. Wartawanlah yang mencari data, melakukan wawancara, dan memahami konteks peristiwa. AI hanya membantu merangkai menjadi tulisan yang lebih rapi dan efisien. Dalam konteks ini, penggunaan AI jelas bukan pelanggaran, melainkan efisiensi.

Hal serupa juga terjadi dalam pengalaman pribadi Nanoq di dunia musik. Ia menggunakan AI untuk mendokumentasikan lagu-lagu yang telah lama ia ciptakan. Dengan keterbatasan akses terhadap studio rekaman dan musisi profesional, AI menjadi solusi yang memungkinkan karyanya tetap hidup. Namun, ia tetap menegaskan bahwa lirik, melodi, dan aransemen berasal dari dirinya. AI hanya berperan dalam proses teknis seperti mixing dan mastering. Transparansi ini menjadi kunci penting dalam penggunaan AI secara etis.

Menariknya, Nanoq juga menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian: penggunaan AI tidak otomatis menghasilkan karya yang baik. Banyak orang gagal memanfaatkan AI karena tidak memiliki pemahaman dasar tentang bidang yang mereka geluti. Dalam musik, misalnya, tanpa pengetahuan tentang instrumen dan aransemen, hasil yang diberikan AI akan terasa kosong atau tidak masuk akal. Ini menunjukkan bahwa AI bukanlah jalan pintas menuju kualitas. Ia tetap membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan manusia.

Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa persoalan utama bukan pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika AI digunakan sebagai alat bantu, ia dapat memperluas kemungkinan kreatif dan membuka akses bagi lebih banyak orang untuk berkarya. Namun, ketika AI digunakan sebagai ‘pembantu’ yang sepenuhnya menggantikan proses kreatif, di situlah masalah muncul. Klaim kepemilikan atas karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI tanpa kontribusi signifikan dari manusia menjadi persoalan etika yang serius.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan kembali peran manusia sebagai pusat dari proses kreatif. AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak merasakan kegagalan, tidak memahami cinta, kehilangan, atau harapan. Semua itu adalah sumber utama dari karya seni. AI hanya mengolah data yang sudah ada, tanpa benar-benar memahami maknanya. Oleh karena itu, karya yang lahir dari kolaborasi antara manusia dan AI tetap harus berakar pada pengalaman manusia itu sendiri.

Perdebatan tentang AI dalam dunia kreatif mungkin masih akan terus berlangsung. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu menghadirkan resistensi sebelum akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan. Kamera pernah dianggap mengancam lukisan, mesin cetak pernah ditakuti akan merusak tradisi lisan. Namun, pada akhirnya, teknologi tersebut justru memperkaya cara manusia mengekspresikan diri.

AI pun kemungkinan besar akan mengikuti pola yang sama. Ia akan menemukan tempatnya sebagai alat bantu yang memperluas batas kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran, etika, dan kejujuran dalam penggunaannya. Kreator perlu jujur tentang sejauh mana AI berperan dalam karya mereka. Dengan demikian, kepercayaan publik dapat tetap terjaga.

Jadi, salahkah penggunaan AI di era sekarang sebagai alat bantu? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Penggunaan AI menjadi salah ketika ia digunakan untuk menipu, untuk mengklaim sesuatu yang bukan sepenuhnya hasil kerja manusia. Namun, ia menjadi sah dan bahkan bermanfaat ketika digunakan secara transparan dan proporsional sebagai alat bantu.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Ia tidak memiliki niat, tidak memiliki ambisi. Manusialah yang menentukan bagaimana alat itu digunakan. Apakah ia akan menjadi jembatan menuju kreativitas yang lebih luas, atau justru menjadi jalan pintas yang mengikis integritas. Semuanya kembali pada pilihan kita. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Next Post

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co