6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
in Esai
AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan gelombang perubahan yang tidak bisa dihindari. Dari ruang redaksi hingga studio musik, dari ruang kelas hingga meja kerja penulis, Artificial Intelligence/Akal Imitasi (AI) telah menjadi bagian dari proses kreatif manusia. Namun, kehadirannya tidak datang tanpa perdebatan. Di satu sisi, AI dipuji sebagai alat bantu yang mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Di sisi lain, ia dituding sebagai ancaman terhadap keaslian karya dan integritas kreator. Di tengah polemik ini, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah AI sekadar ‘alat bantu’, atau justru telah diperlakukan sebagai ‘pembantu’ yang mengambil alih peran manusia?

Kegelisahan ini tercermin dalam sebuah diskusi yang dipantik oleh Angga Wijaya, seorang penulis dan jurnalis asal Jembrana. Di media sosial Facebook-nya (23/3/26), ia membagikan kabar tentang sebuah novel yang batal terbit karena penulisnya dituding menggunakan AI. Alih-alih memberi jawaban, Angga membuka ruang tanya: apakah penggunaan AI dalam proses kreatif salah? Pertanyaan ini memantik beragam pandangan dari para pelaku seni dan media, yang justru memperkaya cara kita memahami posisi AI hari ini.

Salah satu pandangan menarik datang dari seorang penyair, Tan Lioe Ie alias Yoki. Ia mengajak kita melihat analogi dari dunia musik. Dalam musik, penggunaan sampler, MIDI, hingga instrumen digital bukanlah hal baru. Bahkan kini, seorang musisi bisa tampil seorang diri dengan bantuan teknologi yang menghadirkan bunyi seolah dimainkan oleh banyak orang. Namun, perkembangan ini tidak memicu pertikaian besar di kalangan musisi. Mengapa? Karena teknologi tersebut dipahami sebagai alat, bukan pengganti manusia. Pilihan untuk menggunakannya atau tidak tetap berada di tangan kreator.

Pandangan ini menjadi cermin yang menarik bagi dunia sastra. Jika di musik teknologi bisa diterima sebagai bagian dari evolusi, mengapa di sastra justru menimbulkan resistensi? Mungkin jawabannya terletak pada persepsi tentang proses kreatif itu sendiri. Menulis sering dianggap sebagai aktivitas yang sangat personal, bahkan intim. Ketika AI masuk ke dalam proses tersebut, muncul kekhawatiran bahwa ‘suara manusia’ akan tergantikan oleh mesin. Padahal, seperti yang disampaikan Yoki, AI tetaplah alat. Ia tidak memiliki kehendak, tidak memiliki rasa, dan tidak memiliki pengalaman hidup. Semua itu tetap milik manusia.

Yoki sendiri mengaku belum sepenuhnya menggunakan AI dalam proses kreatifnya. Ia lebih melihat AI sebagai sumber data atau bahkan calon ‘sparing partner’ yang bisa diajak berdialog. Dalam bayangannya, AI bisa dilatih untuk mengenali warna karya seorang penulis, lalu digunakan sebagai mitra untuk mengembangkan ide sebelum akhirnya tetap melalui proses penyuntingan manusia. Gagasan ini menarik karena menempatkan AI bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai pendamping. Seperti halnya seorang mentor atau rekan diskusi, AI hadir untuk memperkaya, bukan menggantikan.

Pandangan yang lebih praktis datang dari Wayan Udiana, atau akrab disapa Nanoq Da Kansas, seorang dramawan dan penulis. Ia menyoroti praktik di dunia jurnalistik, di mana banyak wartawan menggunakan AI untuk membantu menulis berita. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa proses utama tetap dilakukan oleh manusia. Wartawanlah yang mencari data, melakukan wawancara, dan memahami konteks peristiwa. AI hanya membantu merangkai menjadi tulisan yang lebih rapi dan efisien. Dalam konteks ini, penggunaan AI jelas bukan pelanggaran, melainkan efisiensi.

Hal serupa juga terjadi dalam pengalaman pribadi Nanoq di dunia musik. Ia menggunakan AI untuk mendokumentasikan lagu-lagu yang telah lama ia ciptakan. Dengan keterbatasan akses terhadap studio rekaman dan musisi profesional, AI menjadi solusi yang memungkinkan karyanya tetap hidup. Namun, ia tetap menegaskan bahwa lirik, melodi, dan aransemen berasal dari dirinya. AI hanya berperan dalam proses teknis seperti mixing dan mastering. Transparansi ini menjadi kunci penting dalam penggunaan AI secara etis.

Menariknya, Nanoq juga menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian: penggunaan AI tidak otomatis menghasilkan karya yang baik. Banyak orang gagal memanfaatkan AI karena tidak memiliki pemahaman dasar tentang bidang yang mereka geluti. Dalam musik, misalnya, tanpa pengetahuan tentang instrumen dan aransemen, hasil yang diberikan AI akan terasa kosong atau tidak masuk akal. Ini menunjukkan bahwa AI bukanlah jalan pintas menuju kualitas. Ia tetap membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan manusia.

Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa persoalan utama bukan pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika AI digunakan sebagai alat bantu, ia dapat memperluas kemungkinan kreatif dan membuka akses bagi lebih banyak orang untuk berkarya. Namun, ketika AI digunakan sebagai ‘pembantu’ yang sepenuhnya menggantikan proses kreatif, di situlah masalah muncul. Klaim kepemilikan atas karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI tanpa kontribusi signifikan dari manusia menjadi persoalan etika yang serius.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan kembali peran manusia sebagai pusat dari proses kreatif. AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak merasakan kegagalan, tidak memahami cinta, kehilangan, atau harapan. Semua itu adalah sumber utama dari karya seni. AI hanya mengolah data yang sudah ada, tanpa benar-benar memahami maknanya. Oleh karena itu, karya yang lahir dari kolaborasi antara manusia dan AI tetap harus berakar pada pengalaman manusia itu sendiri.

Perdebatan tentang AI dalam dunia kreatif mungkin masih akan terus berlangsung. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu menghadirkan resistensi sebelum akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan. Kamera pernah dianggap mengancam lukisan, mesin cetak pernah ditakuti akan merusak tradisi lisan. Namun, pada akhirnya, teknologi tersebut justru memperkaya cara manusia mengekspresikan diri.

AI pun kemungkinan besar akan mengikuti pola yang sama. Ia akan menemukan tempatnya sebagai alat bantu yang memperluas batas kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran, etika, dan kejujuran dalam penggunaannya. Kreator perlu jujur tentang sejauh mana AI berperan dalam karya mereka. Dengan demikian, kepercayaan publik dapat tetap terjaga.

Jadi, salahkah penggunaan AI di era sekarang sebagai alat bantu? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Penggunaan AI menjadi salah ketika ia digunakan untuk menipu, untuk mengklaim sesuatu yang bukan sepenuhnya hasil kerja manusia. Namun, ia menjadi sah dan bahkan bermanfaat ketika digunakan secara transparan dan proporsional sebagai alat bantu.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Ia tidak memiliki niat, tidak memiliki ambisi. Manusialah yang menentukan bagaimana alat itu digunakan. Apakah ia akan menjadi jembatan menuju kreativitas yang lebih luas, atau justru menjadi jalan pintas yang mengikis integritas. Semuanya kembali pada pilihan kita. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Next Post

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co