7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
in Esai
AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan gelombang perubahan yang tidak bisa dihindari. Dari ruang redaksi hingga studio musik, dari ruang kelas hingga meja kerja penulis, Artificial Intelligence/Akal Imitasi (AI) telah menjadi bagian dari proses kreatif manusia. Namun, kehadirannya tidak datang tanpa perdebatan. Di satu sisi, AI dipuji sebagai alat bantu yang mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Di sisi lain, ia dituding sebagai ancaman terhadap keaslian karya dan integritas kreator. Di tengah polemik ini, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah AI sekadar ‘alat bantu’, atau justru telah diperlakukan sebagai ‘pembantu’ yang mengambil alih peran manusia?

Kegelisahan ini tercermin dalam sebuah diskusi yang dipantik oleh Angga Wijaya, seorang penulis dan jurnalis asal Jembrana. Di media sosial Facebook-nya (23/3/26), ia membagikan kabar tentang sebuah novel yang batal terbit karena penulisnya dituding menggunakan AI. Alih-alih memberi jawaban, Angga membuka ruang tanya: apakah penggunaan AI dalam proses kreatif salah? Pertanyaan ini memantik beragam pandangan dari para pelaku seni dan media, yang justru memperkaya cara kita memahami posisi AI hari ini.

Salah satu pandangan menarik datang dari seorang penyair, Tan Lioe Ie alias Yoki. Ia mengajak kita melihat analogi dari dunia musik. Dalam musik, penggunaan sampler, MIDI, hingga instrumen digital bukanlah hal baru. Bahkan kini, seorang musisi bisa tampil seorang diri dengan bantuan teknologi yang menghadirkan bunyi seolah dimainkan oleh banyak orang. Namun, perkembangan ini tidak memicu pertikaian besar di kalangan musisi. Mengapa? Karena teknologi tersebut dipahami sebagai alat, bukan pengganti manusia. Pilihan untuk menggunakannya atau tidak tetap berada di tangan kreator.

Pandangan ini menjadi cermin yang menarik bagi dunia sastra. Jika di musik teknologi bisa diterima sebagai bagian dari evolusi, mengapa di sastra justru menimbulkan resistensi? Mungkin jawabannya terletak pada persepsi tentang proses kreatif itu sendiri. Menulis sering dianggap sebagai aktivitas yang sangat personal, bahkan intim. Ketika AI masuk ke dalam proses tersebut, muncul kekhawatiran bahwa ‘suara manusia’ akan tergantikan oleh mesin. Padahal, seperti yang disampaikan Yoki, AI tetaplah alat. Ia tidak memiliki kehendak, tidak memiliki rasa, dan tidak memiliki pengalaman hidup. Semua itu tetap milik manusia.

Yoki sendiri mengaku belum sepenuhnya menggunakan AI dalam proses kreatifnya. Ia lebih melihat AI sebagai sumber data atau bahkan calon ‘sparing partner’ yang bisa diajak berdialog. Dalam bayangannya, AI bisa dilatih untuk mengenali warna karya seorang penulis, lalu digunakan sebagai mitra untuk mengembangkan ide sebelum akhirnya tetap melalui proses penyuntingan manusia. Gagasan ini menarik karena menempatkan AI bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai pendamping. Seperti halnya seorang mentor atau rekan diskusi, AI hadir untuk memperkaya, bukan menggantikan.

Pandangan yang lebih praktis datang dari Wayan Udiana, atau akrab disapa Nanoq Da Kansas, seorang dramawan dan penulis. Ia menyoroti praktik di dunia jurnalistik, di mana banyak wartawan menggunakan AI untuk membantu menulis berita. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa proses utama tetap dilakukan oleh manusia. Wartawanlah yang mencari data, melakukan wawancara, dan memahami konteks peristiwa. AI hanya membantu merangkai menjadi tulisan yang lebih rapi dan efisien. Dalam konteks ini, penggunaan AI jelas bukan pelanggaran, melainkan efisiensi.

Hal serupa juga terjadi dalam pengalaman pribadi Nanoq di dunia musik. Ia menggunakan AI untuk mendokumentasikan lagu-lagu yang telah lama ia ciptakan. Dengan keterbatasan akses terhadap studio rekaman dan musisi profesional, AI menjadi solusi yang memungkinkan karyanya tetap hidup. Namun, ia tetap menegaskan bahwa lirik, melodi, dan aransemen berasal dari dirinya. AI hanya berperan dalam proses teknis seperti mixing dan mastering. Transparansi ini menjadi kunci penting dalam penggunaan AI secara etis.

Menariknya, Nanoq juga menyoroti satu hal yang sering luput dari perhatian: penggunaan AI tidak otomatis menghasilkan karya yang baik. Banyak orang gagal memanfaatkan AI karena tidak memiliki pemahaman dasar tentang bidang yang mereka geluti. Dalam musik, misalnya, tanpa pengetahuan tentang instrumen dan aransemen, hasil yang diberikan AI akan terasa kosong atau tidak masuk akal. Ini menunjukkan bahwa AI bukanlah jalan pintas menuju kualitas. Ia tetap membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kepekaan manusia.

Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa persoalan utama bukan pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika AI digunakan sebagai alat bantu, ia dapat memperluas kemungkinan kreatif dan membuka akses bagi lebih banyak orang untuk berkarya. Namun, ketika AI digunakan sebagai ‘pembantu’ yang sepenuhnya menggantikan proses kreatif, di situlah masalah muncul. Klaim kepemilikan atas karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI tanpa kontribusi signifikan dari manusia menjadi persoalan etika yang serius.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan kembali peran manusia sebagai pusat dari proses kreatif. AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak merasakan kegagalan, tidak memahami cinta, kehilangan, atau harapan. Semua itu adalah sumber utama dari karya seni. AI hanya mengolah data yang sudah ada, tanpa benar-benar memahami maknanya. Oleh karena itu, karya yang lahir dari kolaborasi antara manusia dan AI tetap harus berakar pada pengalaman manusia itu sendiri.

Perdebatan tentang AI dalam dunia kreatif mungkin masih akan terus berlangsung. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu menghadirkan resistensi sebelum akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan. Kamera pernah dianggap mengancam lukisan, mesin cetak pernah ditakuti akan merusak tradisi lisan. Namun, pada akhirnya, teknologi tersebut justru memperkaya cara manusia mengekspresikan diri.

AI pun kemungkinan besar akan mengikuti pola yang sama. Ia akan menemukan tempatnya sebagai alat bantu yang memperluas batas kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran, etika, dan kejujuran dalam penggunaannya. Kreator perlu jujur tentang sejauh mana AI berperan dalam karya mereka. Dengan demikian, kepercayaan publik dapat tetap terjaga.

Jadi, salahkah penggunaan AI di era sekarang sebagai alat bantu? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Penggunaan AI menjadi salah ketika ia digunakan untuk menipu, untuk mengklaim sesuatu yang bukan sepenuhnya hasil kerja manusia. Namun, ia menjadi sah dan bahkan bermanfaat ketika digunakan secara transparan dan proporsional sebagai alat bantu.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Ia tidak memiliki niat, tidak memiliki ambisi. Manusialah yang menentukan bagaimana alat itu digunakan. Apakah ia akan menjadi jembatan menuju kreativitas yang lebih luas, atau justru menjadi jalan pintas yang mengikis integritas. Semuanya kembali pada pilihan kita. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Next Post

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co