SETIDAKNYA ada tiga hal yang membuat saya spontan berjanji pada Putu Juli Sastrawan setelah membaca novel Menuai Badai. Kekaguman pada penulis yang di masa kecilnya penikmat “cerita susu (kaleng?)” ini membuat saya tidak ragu berjanji. Apalagi, “cerita susu (kaleng)” itulah yang mengantarnya menjadi penulis bukan kaleng-kaleng saat ini.
Saat di-tag pada sebuah WAG, sepontan saya mengumbar janji akan berbincang selama dua abad dengannya. Janji yang akhirnya saya ingkari dengan selaksa alasan klasik. (Persis janji politikus yang tampaknya selalu dirancang berlebih-lebihan untuk kemudian diingkari).
Tentu saja saya akan berbincang tentang novel terbarunya, “Menuai Badai”. Hal pertama, setelah membaca ayahnya Kandar dihabisi akibat memiliki tato macan di lengannya, tentu akan membuka diskusi yang tidak singkat. Apalagi di awal novelnya tertulis: untuk kakek saya.
Peristiwa 1965 yang menjadi pokok pembahasan dalam novel ini tentu tidak terlepas dari sosok seorang kakek, setidaknya buat saya. Bagi saya, sosok kakek adalah penutur utama peristiwa kelam enam puluh tahun lalu itu. Peristiwa serius yang selalu dibawakan dalam mode serius membuatnya lumayan melekat dalam ingatan. Diawali pertanyaan yang harus dijawab dengan tepat saat itu, cerita kakek kemudian mengalir.
“Kambing apa macan?” Itulah pertanyaan sekaligus pilihan yang harus dipilih dengan tepat. Apabila salah menjawabnya, nyawa menjadi taruhan. Andai saja waktu itu dijawab macan, maka “para kambing” akan menggeruduknya seketika itu juga. Orang yang bertanya bukan orang yang kita kenal. Berasal dari beberapa desa yang jauh dari tempat kita. Mereka datang dengan tujuan untuk menyerbu “macan” yang melarikan diri. Cerita kuno yang mengisahkan kambing yang ditakuti macan tampak nyata pada tahun itu. di sini, bukan masalah berani atau takut, melainkan “kambing” yang berburu “macan”.
Macan-macan pada tahun itu tidak ada yang takut, bahkan menjelang hari-hari terakhirnya, mereka yang dicap macan berpamitan kepada rekan-rekan lekatnya di masyarakat. Biasanya dalam pertemuan di tajen, misalnya. Berpamitan dengan baik-baik serta meminta maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah mereka buat. Tidak ada ketakutan di mata mereka, tidak pula kepasrahan. Mereka terlihat tegar. Peristiwa berpamitan tersebut kemudian disusul dengan rombongan yang bertanya kambing atau macan tadi. Beruntungnya sudah ada yang memberi komando untuk menjawab kambing. Selamatlah kita dan ada kewajiban bagi masyarakat tertentu untuk ikut rombongan tersebut memburu macan ke tempat yang sudah diidentifikasi.
Pertanyaannya kemudian, apakah cerita kambing dan macan tersebut merupakan cerita yang merata tersebar di seluruh Bali sehingga diambil sebagai simbol tato macan oleh Juli Sastrawan dalam novel Menuai Badai? Seperti permintaan maaf oleh orang yang tertuduh di dalam novel juga diceritakan oleh kakek saya tentang peristiwa 1965 itu.
Hal kedua, untuk mencari jawaban penyebab awal Kandar mengalami trauma berkepanjangan selama sisa-sisa hidupnya. Beberapa pembaca mungkin berusaha mencari sebab utamanya. Di dalam novel sekilas diceritakan kondisi itu akibat Kandar harus membuat keputusan pada parang yang tertambat di lehernya. Keputusan yang jawabannya pasti: putus. Akan tetapi dua pilihannya, diputus atau memutus. Sebuah situasi yang membuat Kandar menjawab “iya”, yang artinya dia memilih memutus. Keputusan yang membuat parang itu tidak memutus bagian tubuhnya. Kilasan tersebut tentu belum memberi gambaran yang jelas bagi pembaca (setidaknya saya).
Juli dengan apiknya menggiring pembaca menikmati lembar demi lembar novelnya sampai akhir untuk menemukan situasi kompleks yang membuat Kandar mengambil keputusan itu. Kebersamaan Kandar dan Jimakir, adiknya, saat melihat ayah mereka ditemukan sudah tidak bernafas lalu ibunya yang pergi meninggalkan mereka, seolah memberi sedikit peluang. Akan tetapi, ternyata tidak demikian. Seolah sengaja memberi jamuan lain bagi pembaca untuk mencarinya dibagian lain.
Tanpa terasa halaman demi halaman berlalu dengan hidangan bergizi pengetahuan tinggi tentang peristiwa mencekam tersebut. Bukan hanya cerita, namun petikan-petikan berita yang dimuat menjadikan novel ini terasa bukan sebuah karya fiksi melainkan kisah nonfiksi. Kondisi yang membuat pembaca perlahan melupakan tujuan awal karena tenggelam dalam pengetahuan yang disajikan.
Pada bagian Kandar berada di puskesmas dan mendengarkan perbincangan antara supir mobil yang menabraknya dengan seorang ibu bernama Tarmini, harapan itu sedikit muncul. Munculnya ketika Ibu Tarmini menceritakan empat anaknya. Berharap salah satu dari anaknya itu adalah Kandar dan mungkin menyinggung mengapa kandar menjadi tameng. Ternyata sampai akhir percakapan belum memberi jawaban sebab tidak ada cerita tentang anaknya yang menjadi tameng.
Jika dalam sebuah situasi Kandar dan Jimakir tertangkap dan ibunya bisa melarikan diri, kenapa Kandar saja yang dipaksa memilih menjadi tameng? Apakah Jimakir masih terlalu kecil sehingga terbebas dari pilihan itu? Keberadaan dua bersaudara yang menjalani kehidupan menua bersama tanpa keluarga lain sebenarnya sudah mempertegas bahwa secara sosial mereka dihukum dengan tidak ada yang mau menikah dengan mereka. Usaha mencari alasan kompleks Kandar menjadi tameng seolah hanya upaya untuk membuat ulasan yang sedikit panjang. Tentu itu bagian dari cara penulis menggiring pembaca menelan habis karyanya. Satu yang terlihat jelas kemudian adalah novel setebal 158 halaman ini sangat berpotensi untuk dipertebal lagi.
Hal ketiga, mempertanyakan ketegaan penulis menghukum Kandar dengan peristiwa yang dialami Jimakir. Penderitaan kompleks Kandar sepertinya sudah setimpal dengan perbuatan masa lalunya. Dihantui dan dikejar-kejar tanpa henti oleh para korbannya, mengharuskan memakai pakaian dalaman loreng, baret yang tidak boleh dicuci, dan helm tempur, membuatnya tampak seperti orang gila.
Rasa bersalah karena merasa memberatkan adiknya yang harus membiayai pengobatan dan merawatnya, serta upaya menyiksa diri untuk tidak meminta pertolongan orang lain. Sebuah penderitaan yang sempurna maksimal bagi seorang tokoh dengan perbuatan kelamnya. Kesempurnaan itu dilengkapi dengan penolakan perwakilan korban untuk memberi kesempatan meminta maaf kepada korban sebagai tujuan dari novel ini. Sampai di sini, Juli sepertinya ingin memperberatnya lagi dengan cara membuat Kandar menyelesaikan prosesi pemandian mayat dan penguburan adiknya, satu-satunya orang yang menjaganya selama ini.
Sebagai pembaca, ingin rasanya protes pada keputusan penulis untuk membunuh Jimakir dalam novel Menuai Badai ini. Keputusan yang tidak hanya membuat Kandar makin menderita tapi juga membuat pembaca syok. Sebuah twist yang benar-benar mencengangkan. Twist yang membuat saluran lakrimal bereaksi dengan kiriman mendadak cairan ke kornea.
Tiga hal itu tampak layak untuk diperbincangkan lama-lama kalau bertemu sekaligus mencicil utang percakapan dua abad yang terlontar dengan sembrononya. Selain itu, novel menuai badai tampak layak menjadi pedoman penulisan novel bagi para pemula. Upaya menampilkan data secara akurat dalam novel ini seolah memberitahu kita bahwa pendalaman terhadap cerita yang dibangun sangat penting dilakukan.
Riset yang baik akan menghidupkan cerita yang dibangun. Demikian pula, cerita-cerita yang ada dalam masyarakat tentang sejarah masa lalu walau tidak akurat dengan angka tanggal, tahun, maupun statistik sangat layak dirangkum dan diarsipkan dalam berbagai media. Berjibunnya konflik dalam novel seolah memberi bimbingan membangun konflik cerita dapat begitu mudahnya dilakukan (tentu diasah dengan latihan dan latihan)
Hal tambahan yang mungkin bisa dijadikan topik adalah protes pada Juli Sastrawan. Betapa susahnya mendapatkan novel ini secara fisik. Susahnya di sini ditinjau dari keberadaannya dalam toko buku. Masalahnya bukan ada atau tidak ada dalam toko buku, tapi keberadaan toko buku itu sendiri. Beberapa waktu lalu sempat berusaha mendapatkannya di sebuah toko pakaian besar di Denpasar, di atas pintu masuk jelas masih terlihat tulisan Gramedia. Biasanya masuk ke sana di lantai dua atau tiga (lupa juga posisi pasnya) hamparan buku terpajang dengan rapi di sepanjang ruangan. Akan tetapi, waktu dicari di lantai dua hanya hamparan pakaian. Mencoba naik ke lantai tiga juga sama.
Akhirnya turun dan bergumam, “mungkin di lantai empat,” lalu pergi tanpa berusaha bertanya ada atau tidak lantai empat atau di bagian bangunan lainnya letak toko buku tersebut. Meninggalkan tempat tersebut, mencoba singgah di toko buku besar di Jalan Hayam Wuruk. Eh, ternyata sama. Bangunan yang dulunya toko buku tersebut ternyata sudah dibongkar. “Mau dijadikan hotel.” Itu kata penjaga yang ada di sana. Situasi yang kemudian membuat hati merasa bersalah menyalahkan penulisnya. [T]
Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole



























