3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid

Yahya Umar by Yahya Umar
July 23, 2025
in Ulas Buku
Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid

Sampul buku Al "Qur'an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan" karya AS Rosyid

“KUASA manusia atas bumi itu ilusi. Bumi memiliki ‘tugas’ yang jauh lebih besar dari sekadar melayani manusia”.

Pernyataan bernada lantang dan menantang ini ditulis AS Rosyid dalam bukunya “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”. Pernyataan tersebut menentang pendapat arus utama selama ini bahwa manusia itu berkuasa atas bumi. Bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini memang disediakan Tuhan untuk kepentingan manusia.

Judul “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” sungguh saya rasakan bernada sangat beda. Selama ini yang sering saya dengar, manusialah yang harus didahulukan kepentingannya di atas makhluk hidup yang lain. Narasi-narasi para penyampai risalah agama pun berbicara seperti itu. Kalaupun ada misi penyelamatan bumi, memang motif utamanya harus pada kepentingan penyelamatan manusia.

Membaca buku AS Rosyid ini saya memperoleh penjelasan bahwa pandangan tersebut diarus-utamakan oleh para penganut antroposentrisme. Bagi mereka, manusia adalah pusat semesta dan tuan yang berkuasa. Bumi dan yang lainnya menurut pandangan penganut antroposentrisme tidak memiliki atribut moral. Karena itu, kedudukannya dan haknya tidak bisa disetarakan dengan manusia.

Dalam buku ini, AS Rosyid menyebutkan tokoh-tokoh yang mengusung antroposentrisme dan menjelaskan pokok-pokok argumentasi dan prinsip-prinsip mereka. Kemudian argumentasi dan prinsip-prinsip mereka diadu dengan pokok-pokok argumentasi dan prinsip-prinsip berpikir penentangnya, yakni penganut ekosentrisme.

Penganut ekosentrisme berpendapat, manusia dan bumi (alam) ini setara. Bumi juga mempunyai nilai instrinsik, tak sekadar instrumen. Paham ini juga menentang pendapat penganut antroposentris yang menyatakan bahwa bumi sekadar aset ekonomi belaka, dan karena itu upaya eksplorasi bisa dibenarkan.

Bagi penganut ekosentrisme, bumi juga merupakan objek moral, karena itu bumi berhak mendapatkan perlakuan moral dari manusia. Salah-benarnya tindakan manusia terhadap bumi diukur dari kemaslahatan ekosistem bumi (yakni keutuhan, kelestarian, dan keindahan), bukan dari kepentingan manusia. Bumi adalah entitas yang harus dihormati dan disakralkan.

AS Rosyid dalam buku ini mengurai bagaimana bahayanya jika paham antroposentrisme memenangkan laga. Sebab, paham ini membenarkan eksploitasi bahkan sekalipun merusak bumi sepanjang hal itu membuat maslahat bagi kepentingan ekonomi manusia. “Tamat sudah nasib manusia di bawah ancaman krisis iklim”.

Yang lebih ngeri lagi, jika paham antroposentrisme terus mendapat legitimasi para agamawan. Dalil-dalil teks suci agama dipahami dan dibuat sepakat dengan apa yang menjadi pendapat penganut antroposentrisme. Bahwa alam merupakan penyokong kepentingan manusia, dan atau manusia berkuasa atas alam.

Bagi AS Rosyid, harus ada revisi terhadap paham semacam itu. Harus ada ‘penyembuhan’ terhadap ilusi bahwa manusia berkuasa atas alam. Termasuk ‘penyembuhan’ terhadap pandangan para pembawa risalah teks-teks suci agama yang berpihak kepada paham antroposentrisme.

Dalam konteks Islam, AS Rosyid melihat paham antroposentrisme menjangkiti banyak agamawan. Padahal, menurut AS Rosyid, Islam itu ekosentris. Ayat-ayat Al Qur’an yang sepaham dengan ekosentrisme jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat antroposentris. Itu berdasarkan telaah yang dilakukan AS Rosyid terhadap ayat-ayat dalam Al Qur’an.

Ayat-ayat antroposentris yang menyatakan bahwa Allah SWT telah menundukkan segala sesuatu di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia, dan bahwa manusia sebagai khalifah di atas bumi, harus dibaca bersamaan dengan ayat-ayat lain sehingga mungkin saja muncul “pembatasan”. Misalnya, keistimewaan manusia dalam ayat-ayat tadi bukan tanda mata kekuasaan manusia atas bumi, melainkan pengingat untuk bersyukur, mengakui kebesaran Allah, dan mengedepankan ketakwaan. Sebab, Allah berkali-kali menekankan bahwa Dia-lah yang memiliki, menguasai, mengelola dan memelihara bumi ini dengan kebijaksanaan dan kasih sayang. Bumi, bagi manusia, hanya dikelola berdasarkan kehendak-Nya.

AS Rosyid menulis tegas seperti ini. “Dalil-dalil yang membenarkan umat (manusia) untuk merasa berkuasa atas alam, atau untuk berbuat kemungkaran ekologis atas nama pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan dalil teks suci yang menyatakan keunikan dan keistimewaan bumi dan makhluk-makhluk yang  menghuninya, dalam konteks kontribusi keseluruhannya terhadap hidup yang berkelanjutan”.

Dalam bukunya ini, AS Rosyid mengaku perjuangan membawa ke arah yang dicita-citakan ekosentrisme butuh banyak lagi kerjasama lintas disiplin dan kreativitas. Ekosentrisme perlu diperkenalkan kepada khalayak yang lebih beragam lagi, menjangkau batas-batas geografis, budaya dan bahkan agama. Islam, kata dia, perlu ‘diperkenalkan-ulang’ kepada umatnya sebagai agama dengan spirit deep-ecology, bukan shadow-ecology.

Saya sampai di sini saja menelaah buku yang merupakan tesis yang dibuat AS Rosyid untuk meraih magister ini. Sebagai wartawan, saya biasanya memang mencatat sedikit saja dari apa yang saya baca, saya lihat, dan saya dengar. Anggap saja tulisan ini sebagai “straight news”-nya kalau dalam bahasa dunia jurnalistik. Untuk pendalaman, Anda bisa membaca bukunya secara langsung, menelusuri kalimat-kalimat yang disuarakan AS Rosyid.

Nanti Anda akan menemukan ayat-ayat ekosentrisme dalam Al Qur’an, beserta penjelasan-penjelasannya. Ayat-ayat yang boleh dikatakan mematahkan pandangan antroposentrisme. Ayat-ayat tersebut dicantumkan terjemahannya, nomor surat dan nomor ayat.

Seperti saya sebutkan di awal tulisan, buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” ini memang lantang, terutama dalam menyuarakan ekosentrisme, dan juga menantang. Ya, buku ini menantang untuk dibaca, ditelaah, didiskusikan, dan bahkan diperdebatkan. Apa benar Islam ekosentrisme? Apa benar ekosentrisme itu memang lebih banyak disuarakan dalam ayat-ayat Al Qur’an? Apa betul prinsip-prinsip ekosentrisme yang lebih dibutuhkan manusia dan alam ini? Apakah benar, prinsip-prinsip ekosentrisme yang akan menyelamatkan semesta raya ini?[T]

Tentang Penulis Buku:

AS Rosyid adalah seorang penulis, pengajar, dan pemikir yang berasal dari Pulau Lombok. Saat ini, ia menetap di Kota Mataram dan mengabdikan diri sebagai pengajar di Pesantren Alam Sayang Ibu Karya-karyanya telah banyak dimuat di berbagai media daring, dengan fokus pada topik agama, kritik sosial, ekologi, serta kebudayaan masyarakat tradisi. Selain itu, ia juga telah menerbitkan sejumlah buku, di antaranya Sihir, Ganja, Miras, Buku dan Islam (Merabooks, 2022) serta Melawan Nafsu Merusak Bumi (EABooks, 2022).

Sebagai seorang intelektual yang aktif dalam gerakan literasi dan advokasi lingkungan, AS Rosyid sering diundang sebagai pembicara dan mentor dalam berbagai diskusi, seminar, serta pelatihan. Saat ini, ia juga menjabat sebagai manajer program Festival Sastra Banggai di Sulawesi Tengah. Berafiliasi dengan Muhammadiyah, ia terlibat dalam berbagai jaringan gerakan intelektual dan lingkungan hidup bersama generasi muda Muhammadiyah di berbagai kota di Indonesia.

Pendidikan formalnya dimulai di Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kediri, Lombok Barat, tempat ia menempuh pendidikan selama enam tahun. Pada tahun 2011, ia mendapatkan beasiswa dari Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dengan fokus pada hukum keluarga Islam. Selain itu, ia juga mengikuti pendidikan intensif filsafat hukum Islam bersama tim pengajar Majelis Tarjih Muhammadiyah. Selama masa studinya, ia aktif di berbagai pusat studi di UMM serta mendalami wacana Islam dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Pada 2017, AS Rosyid melanjutkan studi di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim dengan mengambil bidang Islamic Studies. Ia menulis tesis berjudul “Ekosentrisme Islam Menurut Pembacaan Maqāşid”, sebagai bagian dari risetnya yang mendalam tentang hubungan antara agama dan lingkungan hidup. Pemikirannya yang kritis dan progresif menjadikannya salah satu suara penting dalam diskusi tentang Islam, ekologi, dan perubahan sosial di Indonesia.

Data Buku:

Judul : Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”
Penulis : AS Rosyid
Penerbit : Intrans Publishing
Cetakan Pertama : Mei 2025

  • Ulasan buku ini akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025

Penulis: Yahya Umar
Editor: Jaswanto

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Tags: "Al Qur'an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan"aktivismeAS RosyidBukulingkunganSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Next Post

Keindahan Olahraga Keindahan Tarian pada Sajian Dancesport di Panggung Festival Seni Bali Jani 2025

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Keindahan Olahraga Keindahan Tarian pada Sajian Dancesport di Panggung Festival Seni Bali Jani 2025

Keindahan Olahraga Keindahan Tarian pada Sajian Dancesport di Panggung Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co