2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid

Yahya Umar by Yahya Umar
July 23, 2025
in Ulas Buku
Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid

Sampul buku Al "Qur'an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan" karya AS Rosyid

“KUASA manusia atas bumi itu ilusi. Bumi memiliki ‘tugas’ yang jauh lebih besar dari sekadar melayani manusia”.

Pernyataan bernada lantang dan menantang ini ditulis AS Rosyid dalam bukunya “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”. Pernyataan tersebut menentang pendapat arus utama selama ini bahwa manusia itu berkuasa atas bumi. Bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini memang disediakan Tuhan untuk kepentingan manusia.

Judul “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” sungguh saya rasakan bernada sangat beda. Selama ini yang sering saya dengar, manusialah yang harus didahulukan kepentingannya di atas makhluk hidup yang lain. Narasi-narasi para penyampai risalah agama pun berbicara seperti itu. Kalaupun ada misi penyelamatan bumi, memang motif utamanya harus pada kepentingan penyelamatan manusia.

Membaca buku AS Rosyid ini saya memperoleh penjelasan bahwa pandangan tersebut diarus-utamakan oleh para penganut antroposentrisme. Bagi mereka, manusia adalah pusat semesta dan tuan yang berkuasa. Bumi dan yang lainnya menurut pandangan penganut antroposentrisme tidak memiliki atribut moral. Karena itu, kedudukannya dan haknya tidak bisa disetarakan dengan manusia.

Dalam buku ini, AS Rosyid menyebutkan tokoh-tokoh yang mengusung antroposentrisme dan menjelaskan pokok-pokok argumentasi dan prinsip-prinsip mereka. Kemudian argumentasi dan prinsip-prinsip mereka diadu dengan pokok-pokok argumentasi dan prinsip-prinsip berpikir penentangnya, yakni penganut ekosentrisme.

Penganut ekosentrisme berpendapat, manusia dan bumi (alam) ini setara. Bumi juga mempunyai nilai instrinsik, tak sekadar instrumen. Paham ini juga menentang pendapat penganut antroposentris yang menyatakan bahwa bumi sekadar aset ekonomi belaka, dan karena itu upaya eksplorasi bisa dibenarkan.

Bagi penganut ekosentrisme, bumi juga merupakan objek moral, karena itu bumi berhak mendapatkan perlakuan moral dari manusia. Salah-benarnya tindakan manusia terhadap bumi diukur dari kemaslahatan ekosistem bumi (yakni keutuhan, kelestarian, dan keindahan), bukan dari kepentingan manusia. Bumi adalah entitas yang harus dihormati dan disakralkan.

AS Rosyid dalam buku ini mengurai bagaimana bahayanya jika paham antroposentrisme memenangkan laga. Sebab, paham ini membenarkan eksploitasi bahkan sekalipun merusak bumi sepanjang hal itu membuat maslahat bagi kepentingan ekonomi manusia. “Tamat sudah nasib manusia di bawah ancaman krisis iklim”.

Yang lebih ngeri lagi, jika paham antroposentrisme terus mendapat legitimasi para agamawan. Dalil-dalil teks suci agama dipahami dan dibuat sepakat dengan apa yang menjadi pendapat penganut antroposentrisme. Bahwa alam merupakan penyokong kepentingan manusia, dan atau manusia berkuasa atas alam.

Bagi AS Rosyid, harus ada revisi terhadap paham semacam itu. Harus ada ‘penyembuhan’ terhadap ilusi bahwa manusia berkuasa atas alam. Termasuk ‘penyembuhan’ terhadap pandangan para pembawa risalah teks-teks suci agama yang berpihak kepada paham antroposentrisme.

Dalam konteks Islam, AS Rosyid melihat paham antroposentrisme menjangkiti banyak agamawan. Padahal, menurut AS Rosyid, Islam itu ekosentris. Ayat-ayat Al Qur’an yang sepaham dengan ekosentrisme jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat antroposentris. Itu berdasarkan telaah yang dilakukan AS Rosyid terhadap ayat-ayat dalam Al Qur’an.

Ayat-ayat antroposentris yang menyatakan bahwa Allah SWT telah menundukkan segala sesuatu di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia, dan bahwa manusia sebagai khalifah di atas bumi, harus dibaca bersamaan dengan ayat-ayat lain sehingga mungkin saja muncul “pembatasan”. Misalnya, keistimewaan manusia dalam ayat-ayat tadi bukan tanda mata kekuasaan manusia atas bumi, melainkan pengingat untuk bersyukur, mengakui kebesaran Allah, dan mengedepankan ketakwaan. Sebab, Allah berkali-kali menekankan bahwa Dia-lah yang memiliki, menguasai, mengelola dan memelihara bumi ini dengan kebijaksanaan dan kasih sayang. Bumi, bagi manusia, hanya dikelola berdasarkan kehendak-Nya.

AS Rosyid menulis tegas seperti ini. “Dalil-dalil yang membenarkan umat (manusia) untuk merasa berkuasa atas alam, atau untuk berbuat kemungkaran ekologis atas nama pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan dalil teks suci yang menyatakan keunikan dan keistimewaan bumi dan makhluk-makhluk yang  menghuninya, dalam konteks kontribusi keseluruhannya terhadap hidup yang berkelanjutan”.

Dalam bukunya ini, AS Rosyid mengaku perjuangan membawa ke arah yang dicita-citakan ekosentrisme butuh banyak lagi kerjasama lintas disiplin dan kreativitas. Ekosentrisme perlu diperkenalkan kepada khalayak yang lebih beragam lagi, menjangkau batas-batas geografis, budaya dan bahkan agama. Islam, kata dia, perlu ‘diperkenalkan-ulang’ kepada umatnya sebagai agama dengan spirit deep-ecology, bukan shadow-ecology.

Saya sampai di sini saja menelaah buku yang merupakan tesis yang dibuat AS Rosyid untuk meraih magister ini. Sebagai wartawan, saya biasanya memang mencatat sedikit saja dari apa yang saya baca, saya lihat, dan saya dengar. Anggap saja tulisan ini sebagai “straight news”-nya kalau dalam bahasa dunia jurnalistik. Untuk pendalaman, Anda bisa membaca bukunya secara langsung, menelusuri kalimat-kalimat yang disuarakan AS Rosyid.

Nanti Anda akan menemukan ayat-ayat ekosentrisme dalam Al Qur’an, beserta penjelasan-penjelasannya. Ayat-ayat yang boleh dikatakan mematahkan pandangan antroposentrisme. Ayat-ayat tersebut dicantumkan terjemahannya, nomor surat dan nomor ayat.

Seperti saya sebutkan di awal tulisan, buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” ini memang lantang, terutama dalam menyuarakan ekosentrisme, dan juga menantang. Ya, buku ini menantang untuk dibaca, ditelaah, didiskusikan, dan bahkan diperdebatkan. Apa benar Islam ekosentrisme? Apa benar ekosentrisme itu memang lebih banyak disuarakan dalam ayat-ayat Al Qur’an? Apa betul prinsip-prinsip ekosentrisme yang lebih dibutuhkan manusia dan alam ini? Apakah benar, prinsip-prinsip ekosentrisme yang akan menyelamatkan semesta raya ini?[T]

Tentang Penulis Buku:

AS Rosyid adalah seorang penulis, pengajar, dan pemikir yang berasal dari Pulau Lombok. Saat ini, ia menetap di Kota Mataram dan mengabdikan diri sebagai pengajar di Pesantren Alam Sayang Ibu Karya-karyanya telah banyak dimuat di berbagai media daring, dengan fokus pada topik agama, kritik sosial, ekologi, serta kebudayaan masyarakat tradisi. Selain itu, ia juga telah menerbitkan sejumlah buku, di antaranya Sihir, Ganja, Miras, Buku dan Islam (Merabooks, 2022) serta Melawan Nafsu Merusak Bumi (EABooks, 2022).

Sebagai seorang intelektual yang aktif dalam gerakan literasi dan advokasi lingkungan, AS Rosyid sering diundang sebagai pembicara dan mentor dalam berbagai diskusi, seminar, serta pelatihan. Saat ini, ia juga menjabat sebagai manajer program Festival Sastra Banggai di Sulawesi Tengah. Berafiliasi dengan Muhammadiyah, ia terlibat dalam berbagai jaringan gerakan intelektual dan lingkungan hidup bersama generasi muda Muhammadiyah di berbagai kota di Indonesia.

Pendidikan formalnya dimulai di Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kediri, Lombok Barat, tempat ia menempuh pendidikan selama enam tahun. Pada tahun 2011, ia mendapatkan beasiswa dari Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dengan fokus pada hukum keluarga Islam. Selain itu, ia juga mengikuti pendidikan intensif filsafat hukum Islam bersama tim pengajar Majelis Tarjih Muhammadiyah. Selama masa studinya, ia aktif di berbagai pusat studi di UMM serta mendalami wacana Islam dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Pada 2017, AS Rosyid melanjutkan studi di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim dengan mengambil bidang Islamic Studies. Ia menulis tesis berjudul “Ekosentrisme Islam Menurut Pembacaan Maqāşid”, sebagai bagian dari risetnya yang mendalam tentang hubungan antara agama dan lingkungan hidup. Pemikirannya yang kritis dan progresif menjadikannya salah satu suara penting dalam diskusi tentang Islam, ekologi, dan perubahan sosial di Indonesia.

Data Buku:

Judul : Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”
Penulis : AS Rosyid
Penerbit : Intrans Publishing
Cetakan Pertama : Mei 2025

  • Ulasan buku ini akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025

Penulis: Yahya Umar
Editor: Jaswanto

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Tags: "Al Qur'an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan"aktivismeAS RosyidBukulingkunganSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Next Post

Keindahan Olahraga Keindahan Tarian pada Sajian Dancesport di Panggung Festival Seni Bali Jani 2025

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Keindahan Olahraga Keindahan Tarian pada Sajian Dancesport di Panggung Festival Seni Bali Jani 2025

Keindahan Olahraga Keindahan Tarian pada Sajian Dancesport di Panggung Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co