2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Yahya Umar by Yahya Umar
July 23, 2025
in Ulas Buku
Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

“MENYAKITI, apalagi membunuh, satu makhluk hidup saja, bisa menyebabkan kerusakan atawa kehancuran pada bumi dan makhluk lain di dalamnya”. Itulah satu salah imajinasi liar saya setelah beberapa kali membaca kumpulan cerpen “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo.

Semula sebenarnya saya ingin memulai tulisan ini dengan kalimat, “Kenapa kekuasaan punya kelebihan?” Karena ia punya dosa yang rakyat biasa tak punya. Tangan yang kekar tak punya airmata yang akan mengucur. Kekuasaan yang kuat selalu ingin membuat suara-suara berbeda menggelepar tak berdaya dan memikul trauma sepanjang masa.

Saya menggumamkan kalimat-kalimat semacam itu saat kali pertama membaca buku ini. Setelah membaca buku ini saya merasakan betapa kekerasan yang dilakukan oleh dan untuk kekuasaan akan menyayat luka pada korbannya. Mereka (korban) itu akan memikul trauma dalam hidupnya.

Namun, setelah kembali saya baca (beberapa kali), saya mengubah pembuka tulisan ini. “Menyakiti, apalagi membunuh, satu makhluk hidup saja, bisa menyebabkan kerusakan atau kehancuran pada bumi (alam) dan makhluk hidup lain di dalamnya”. Ini memang bukan kesimpulan, hanya catatan saya saja.

Membaca cerpen “Musik Akhir Zaman” yang menjadi judul buku ini dan berada di bagian terakhir, misalnya, saya yakin ini cerita tentang hari kiamat. “Akhir zaman” itu ya kiamat. Dan ‘musik akhir zaman’ seperti kita ketahui dari teks-teks agama (Islam) adalah terompet.

Cerpen “Musik Akhir Zaman” memang menceritakan tentang terompet. Di akhir zaman nanti, terompet akan ditiup oleh Malaikat Israfil. Tiupan pertama menandai hancurnya alam semesta dan matinya semua makhluk hidup. Setelah itu tiupan kedua akan menghidupkan (membangkitkan) kembali manusia.

Terompet dalam cerpen ini dilukiskan dari tanduk binatang. Sama dengan dalam cerita agama tentang terompet hari kiamat. Dalam cerpen ini dilukiskan terompet dimiliki seseorang yang tinggal di pulau yang jauh. Terompet terbuat dari tanduk binatang. Binatang di pulau itu tak punya rupa, hanya memiliki suara. Binatang itu dibunuh oleh seorang perempuan. Begitu dibunuh, binatang itu berubah menjadi sebatang tanduk. 

Perempuan tersebut membawa tanduk binatang ke tengah-tengah masyarakat. Tapi akibat perbuatannya perempuan tersebut mendapat hukuman, dan juga pasangannya.

Keduanya dihukum dengan dibuang secara terpisah ke luar pulau. Perempuan ke barat dan pasangannya ke barat. Mereka berjuang untuk bertemu lagi. Dan saat mereka bertemu gunung-gunung akan diangkat, lalu dibenturkan hingga hancur. Beberapa saat sebelum itu terdengar bunyi terompet. Perpaduan bunyi terompet dan suara gunung yang dibenturkan melahirkan musik yang luar biasa indah. Itulah musik akhir zaman.

Dalam cerpen ini, sang pencerita berdialog dengan dirinya sendiri. Dengan menciptakan lawan dialog yang bernama Hililyah. Ia menggumamkan beberapa hal (dalam cerita agama) yang tak masuk logika. Mungkin ia ragu atau mungkin ia ingin menegaskan bahwa tak semua hal bisa dilogikakan.  

“Menurutmu apakah masuk akal suara terompet bisa membuat semua manusia mati?”

Akhir zaman itu kiamat. Kiamat itu cerita tentang kehancuran. Yang menghancurkan adalah terompet. Alat yang terbuat dari tanduk binatang yang dibunuh. Jadi, ‘menyakiti’, atau apalagi membunuh, satu makhluk hidup saja, bisa menyebabkan kerusakan atawa kehancuran pada bumi dan makhluk lain di dalamnya.

Ya, cerpen “Musik Akhir Zaman” boleh dibilang cerita tentang bagaimana pentingnya manusia memperhatikan lingkungan, dengan tak membunuh atau sekadar menyakiti makhluk hidup. Juga cerpen “Sang Khalifah”. 

Dalam cerpen “Sang Khalifah”, seorang perempuan yang mengandung bayi didatangi burung-burung, ikan-ikan, dan makhluk bercahaya yang sama-sama menginginkan bayi dalam kandungan perempuan tersebut. Burung-burung ingin bayi itu lahir sebagai burung. Karena burung tidak berdosa. Demikian juga ikan-ikan, mereka ingin bayi tersebut lahir sebagai ikan, karena ikan tidak berdosa. Demikian juga malaikat.

Barangkali burung-burung dan ikan-ikan itu khawatir jika bayi itu lahir sebagai manusia akan bergelimang dosa dengan melakukan perusakan di bumi. Seperti yang pernah dikhawatirkan malaikat ketika Tuhan ingin menjadikan manusia sebagai khalifah di atas bumi.

Kekerasan oleh ‘kekuasaan’ (bisa negara, tokoh, atau klaim kebenaran) juga menjadi tema cukup dominan dalam buku “Musik Akhir Zaman”. Baru membuka daftar isinya saja, saya terantuk pada simbol-simbol kekerasan atau pada kata-kata yang dekat dengan kekerasan. “Hulk Gang Melayu”, “Pelor di Tembok Gudang”, “Anjing Mustain”, “Pemeran Utama Langsung Mati pada Menit Pertama”, “Hukum Chekhov”, “Lubang”, “Lubang Cacing”, dan “Tombak Leluhur”.

Sembilan judul dari 16 cerpen yang dimuat dalam buku ini ‘berbau’ kekerasan. Kata ‘hulk’, ‘pelor’, ‘anjing’, ‘mati’, ‘hukum’, ‘lubang’, dan ‘tombak’ sudah mengesankan dan ‘memamerkan’ kekerasan. Apalagi kalau kita baca isi masing-masing cerita pendek dalam buku tersebut.

Nama-nama tokoh dalam cerpen-cerpen Kiki Sulistyo ini juga berdekatan dengan kekerasan bahkan identik dengan kekerasan. Seperti Harto, Horta, Van Ham, Kurt Cobain, Anton Chekhov, Kusni Kasdut, Amrozi, Thalib, Riziq, dan lain-lain. Harto panggilan untuk Soeharto (mantan Presiden RI), Horta panggilan untuk Ramos Horta, Presiden Timor Leste. Van Ham, jenderal Belanda yang tewas dalam peperangan di Lombok dengan Kerajaan Mataram tahun 1890-an.  

Kurt Cobain adalah penyanyi rock yang identik dengan kebebasan dan pemberontakan. Beberapa kali dipenjara karena narkoba dan pernah melarikan diri dari penjara. Pada akhirnya ia menembak kepalanya sendiri.

Anton Chekhov merupakan penulis asal Rusia yang cerpen-cerpennya juga dekat dengan ‘kekerasan’, dekat dengan kematian. Dalam cerpen “Matinya Seorang Buruh Kecil”, misalnya, Chekhov mengisahkan kematian seorang buruh secara parodis. 

Kusni Kasdut atau Ignatius Waluyo kita kenal sebagai mantan pejuang kemerdekaan yang kemudian menjadi penjahat. Ia dijuluki Robin Hood, yang membagikan hasil kejahatannya kepada kaum miskin.

Amrozi kita tahu identik dengan kekerasan. Ia pelaku bom Bali yang akhirnya dihukum mati. Sementara Thalib adalah sebutan lain Munir (Thalib), pejuang hak asasi manusia, pembela warga yang mengalami kekerasan, yang kemudian diracun di pesawat dalam perjalanan ke Belanda.

Namun, nama-nama ‘besar dan bersejarah’ dalam cerpen-cerpen Kiki Sulistyo tersebut tidak memerankan sebagaimana peran aslinya. Tokoh ‘Hulk’ dalam cerpen “Hulk Gang Melayu”, misalnya. Julukan ‘Hulk’ diberikan kepada seorang anak bernama Ismael, hanya karena ketika ia marah, ia menarik bajunya ke kiri atau ke kanan sehingga kancing-kancing bajunya lepas, seperti adegan Hulk di film. Namun, jika di film-film Hulk selalu menang dalam pertarungan, dalam cerpen Kiki Sulistyo ‘Hulk Ismael’ selalu kalah.

Kalau sudah begitu, ia akan melapor ke bapaknya, Om Nahar, pria tinggi besar, bertato, dan brewokan. Bisa kita bayangkan karakter Om Nahar. Sikap ‘hulk’ menghilang seketika sejak bapaknya menghilang secara misterius. Diduga Om Nahar diculik atau dihabisi Hantu Petrus.

Dalam cerpen “Farida Sudah Pulang”, dilukiskan sosok Amrozi yang sejak SD tergila-gila memandang wajah Farida, pemilik warung dan istri dari Tuan Kasdut. Sementara Kasdut digambarkan sebagai sosok dengan banyak istri, dan panuan. Jumlah istrinya bersaing dengan jumlah panu di tubuhnya.

Amrozi suka Farida, dan benci Tuan Kasdut. Tuan Kasdut dinilai tidak adil terhadap Farida. Amrozi juga benci Tuan Kusni, teman Tuan Kasdut. Keduanya sering memarahi Amrozi karena hal sepele. Hanya karena membeli kembang gula atau jipang kacang, atau karena tidak mengucap salam.

Farida kemudian menghilang, warungnya tutup. Setelah remaja, Amrozi membuka warung seperti warung Farida dulu. Salah seorang yang sering belanja kembang gula atau jipang kacang yakni Riziq, cucu Tuan Kasdut. Entah dari istri yang mana, tapi bukan dari Farida.

Riziq tidak suka bergaul dengan anak-anak sebayanya. Ia justru sering ke warung dan tak jarang masuk ke kamar Amrozi. Dari Riziq, Amrozi tahu Farida sudah datang. Tapi beda dengan Farida yang dulu. Tak ada kain yang menutup rambutnya, kini Farida sering tak pakai kutang dan celana dalam. Rambutnya pendek seperti celana yang sering dipakainya.

Farida tak lagi penuh pesona, melainkan seperti monster. Tapi Tuan Kasdut menerimanya. Warga merasa jijik dengan kelakuan Farida dan membayangkan azab menimpa kampung mereka. Tapi, mereka takut kepada Tuan Kasdut dan Tuan Kusni yang biasa saja dengan perubahan Farida.

Sampai akhirnya, warga mengadili Tuan Kusni karena kepergok melakukan adegan wik wik dengan Farida. Tuan Kusni diseret warga ke Kepala Lingkungan, sementara Farida tertawa-tawa. Ibu Riziq memarahi Tuan Kasdut karena membiarkan Tuan Kusni selingkuh dengan Farida. 

Jadi, lihatlah peran-peran ‘nama-nama besar dan bersejarah’ seperti Hulk, Amrozi, Kusni Kasdut, dan Riziq dalam cerpen-cerpen Kiki Sulistyo tersebut. Menggelitik bukan?

Tentang kekerasan oleh kekuasaan yang membuat suara-suara yang berbeda menggelepar tak berdaya dan memikul trauma sepanjang masa dapat dibaca pada cerpen berjudul “Surau Kecil di Kaki Gunung”. Adam yang tinggal di ibukota mengalami kekerasan disponsori kekuasaan. Tokonya dibakar dan istrinya, Siti, hilang dalam kejadian tersebut.

Adam mencari istrinya selama berminggu-minggu. Tapi tak ditemukan. Hidup Adam hancur, hatinya remuk. Ia luka dan memikul trauma. Ia pergi ke dusun, menyembuhkan hidupnya. Membangun semangat baru, memulai hidup baru. Agar lukanya sembuh, dan traumanya sirna.

Pada cerpen “Lubang”, samar-samar terbaca seperti peristiwa di tahun 1965. Seorang kakak melindungi adiknya dari kejaran kekuasaan karena jadi pengikut partai terlarang. Pengikut partai ini harus dihabisi. Demikian juga sang adik. Dikejar orang-orang berpakaian hijau dengan bercak-bercak dan menumpang truk-truk.

Namun, kakaknya tak tega adiknya mati. Ia menyembunyikan adiknya di dalam sebuah lubang di kebun yang digalinya sendiri bersama adiknya. Namun, adiknya terus dikejar untuk dibunuh. Dan, akhirnya lubang persembunyian adiknya kosong, dengan bercak-bercak darah di tanah.

Pada cerpen “Pelor di Tembok Gudang”, “Hukum Chekov” atau “Pemeran Utama Langsung Mati pada Menit Pertama”, pencerita bermain-main dan membolak-balik kata-kata dan kalimat. Mungkin agar logika pembaca juga terbolak-balik dan menerbangkan imajinasi-imajinasi liar. Itu yang saya rasakan.

Pada cerpen “Pelor di Tembok Gudang”, terjadi perdebatan tentang sebuah pelor. Pelor yang bersarang di gudang bawang. Dua lelaki berdebat, yang satu mengaku bahwa pelor yang ia tembakkan ke orang Belanda karena selalu bilang ia monyet.

Sementara temannya menyatakan pelor bukan yang ditembakkannya. Pelor itu bekas pelor Van Ham. Pelor itu juga jadi perdebatan antara Lin Munru dan pacarnya Marlon. Kata Marlon, benda kecil itu adalah permata. Lin Munru membantah, ia mengatakan benda itu pelor. Pelor Van Ham seperti kata lelaki yang didengar Lin Munru.

Saya jadi penasaran karena dalam cerita membiarkan pelor jadi perdebatan, apakah itu pelor Van Ham, atau pelor lelaki yang dihina seperti monyet oleh Tuan Belanda. Tapi imajinasi liar saya ingin mengatakan begini, ”Setiap kekerasan (disimbolkan oleh pelor) merupakan permata (benda yang sangat berharga) bagi kekuasaan dan diperlukan untuk menyingkirkan lawan-lawannya. Tapi bagi yang lain (rakyat, korban), kekerasan (pelor) simbol penderitaan dan rasa sakit”. 

Pada cerpen “Hukum Chekhov”, pembaca diingatkan bahwa cita-cita memiliki pistol itu berbahaya. Sebab, pistol itu harus digunakan. Kalau pistol tak digunakan sebaiknya jangan dimunculkan. Orang mau menyingkirkan semua orang karena trauma masa kecil sering disingkirkan semua orang. Cita-cita atau keinginan yang sama akan saling menyingkirkan, yang lain tampak lebih berbahaya. Imajinasi liar saya mencatat pesan moralnya, bahwa dua orang atau lebih yang sama-sama ingin berkuasa akan saling menyingkirkan.

Sungguh, membaca cerpen-cerpen dalam buku “Musik Akhir Zaman” imajinasi dan dugaan-dugaan saya banyak yang tersesat. Misalnya ketika membaca cerpen “Pemeran Utama Langsung Mati pada Menit Pertama”, saya yakin bisa menebak alur cerita dan endingnya. Tapi eh ternyata saya diajak berputar-putar, dengan logika kebalik-balik yang membuat saya tambah bingung dan salah tebak. Dugaan-dugaan saya pun tersesat.

Inilah salah satu kelihaian Kiki Sulistyo memandu pembaca menyusuri ketidaklaziman-ketidaklaziman. Tak jarang juga diselipkan humor-humor, ironi-ironi, dan parodi-parodi.

Tapi, sebaiknya Anda tidak percaya dengan catatan-catatan saya tentang buku ini. Anda harus membaca sendiri buku ini, agar bisa menikmati gaya bercerita Kiki Sulistyo dalam cerpen-cerpennya di buku ini. Agar bisa merasakan: apakah sakit atau senang.[T]

Tentang Penulis Buku:

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok, NTB. Menulis puisi, fiksi, dan nonfiksi. Tahun 2017 meraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kumpulan puisinya Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Tahun 2018 meraih penghargaan buku puisi terbaik dari Majalah Tempo untuk kumpulan puisinya Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Tuhan Padi (Akarpohon dan Halindo, 2021) menerima Penghargaan Sastra 2023 dari Kemendikbud untuk kategori kumpulan puisi. Kumpulan cerpennya yang sudah terbit adalah Belfegor dan Para Penambang (Basabasi, 2018) dan Bedil Penebusan (Marjin Kiri, 2021).

Data Buku:

Judul Buku : Musik Akhir Zaman
Penulis : Kiki Sulistyo
Cetakan Pertama : Januari 2024
Penerbit : Indonesia Tera
Jumlah halaman : 183
Ukuran : 3x 19 cm

  • Ulasan buku ini akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025

Penulis: Yahya Umar
Editor: Jaswanto

Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Tags: BukuCerpenKiki SulistyoMusik Akhir ZamanSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Raksasa-Raksasa Sakral dalam Diri Suardana

Next Post

Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid

Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur'an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co