13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raksasa-Raksasa Sakral dalam Diri Suardana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 23, 2025
in Khas
Raksasa-Raksasa Sakral dalam Diri Suardana

Karya I Wayan Suardana yang lain | Foto: Angga

ADA raksasa di dalam diri I Wayan Suardana. Tapi jangan buru-buru takut. Raksasa itu bukan makhluk liar, melainkan metafora atas hasrat-hasrat kreatif yang terus tumbuh dari tubuh dan jiwa seorang lelaki kelahiran Petulu, Ubud, 31 Desember 1963 itu.

Raksasa itu tampak dalam karya-karyanya yang terbuat dari kayu, tempurung, tulang, hingga benda-benda tak terpakai yang disulap menjadi simbol-simbol sakral, seperti gada, lingga-yoni, bahkan trisula.

Karya terbarunya bertajuk “Metu-Manu-Urip”, yang dipamerkan dalam ajang Megarupa 2025, menandai konsistensinya sebagai seniman kriya yang tak hanya meramu bentuk, tetapi juga menyalurkan keyakinan hidup. Karya itu bukan sekadar instalasi kayu jati tua yang keras dan berat, melainkan pemikiran filosofis tentang kesuburan, kelahiran, dan kehidupan.

Tentang manusia yang lahir dari cinta, dari perpaduan antara purusa dan predana, antara ayah dan ibu, yang divisualisasikan sebagai lesung dan alu. “Metu adalah lahir, manu adalah manusia, dan urip adalah hidup,” ujar Suardana saat kami temui di ruang pameran Bali Megarupa, Kampus ISI Bali, Denpasar, Selasa siang, 22 Juli 2025.

I Wayan Suardana (kiri) sedang berbincang dengan dua pengunjung pameran yang melihat-lihat “Metu-Manu-Urip”—karya Suardana | Foto: Angga

Kisah Suardana sebagai seniman bermula dari masa kecilnya di desa. Sejak kelas 4 SD, tangannya sudah akrab dengan ukir-ukiran sederhana. “Saya mulai dari membuat pigura. Bapak saya juga tukang ukir. Jadi saya tumbuh di lingkungan itu,” katanya. Selepas SMP, ia melanjutkan ke SMSR Gianyar, dan di sanalah ia mengenal lukisan gaya Ubud, yang sarat nilai religius dan spiritual.

Cintanya pada kriya tak sekadar soal teknik. Ia melanjutkan kuliah ke STSRI Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta), mengambil jurusan Seni Kriya hingga menyelesaikan program S2 dan S3 di kampus yang sama. “Saya memang tertarik mengangkat cerita-cerita yang berhubungan dengan agama dan mitologi. Karena di situlah saya merasa sedang menciptakan sesuatu yang sakral,” katanya.

Hidup yang Sakral dan Kreatif

Menjadi seniman bagi Suardana bukan berarti harus mengasingkan diri dari kehidupan sosial dan spiritual. Ia justru aktif dalam adat dan agama, menjadi pengurus banjar, serta terlibat dalam ritual dan perayaan. “Saya tidak bisa jauh dari itu. Dari sana justru saya dapat energi untuk berkarya,” tuturnya.

Hal ini tampak dalam setiap detail karyanya. Ia tak asal memilih material. “Saya suka benda-benda lama yang sudah tidak terpakai. Lesung, lulu, tempurung, bulu burung, tulang. Itu semua punya sejarah dan kekuatan,” katanya.

Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, ia menanam gada —simbol Dewa Brahma—ke dalam lesung sebagai metafora penciptaan. Ada juga unsur rajah, yang ia anggap sebagai bentuk seni ekspresif yang sangat ‘Bali’, bahkan bisa disebut proto-surealis.

I Wayan Suardana berpose bersama karyanya, “Metu-Manu-Urip” | Foto: Angga

“Kita ini telat mewacanakan. Di Bali sudah ada bentuk seni ekspresif seperti itu jauh sebelum Eropa memproklamasikan surealisme,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Sejak tahun 1992, Suardana mengajar di ISI Denpasar (sekarang bernama ISI Bali). Ia termasuk generasi awal yang membangun pondasi pengajaran kriya di kampus tersebut. “Saya merasa jadi dosen itu juga memacu saya terus berkarya. Masa kita cuma bisa ngomong tanpa bisa menunjukkan karya?” katanya. Baginya, peran akademisi dan seniman adalah dua sisi dari mata uang yang sama, keduanya saling menyuburkan.

Namun, ia tak menutup mata bahwa minat anak muda terhadap kriya makin menyusut. “Sekarang hanya sedikit yang mau serius menekuni kriya. Tapi justru karena sedikit itu, mereka jadi terseleksi secara alamiah. Yang benar-benar mau, ya betul-betul tekun,” pungkasnya.

Suardana berharap, generasi muda bisa kembali mencintai kriya, khususnya kriya Bali. “Minimal mereka jadi pencinta. Kalau tidak jadi pelaku, ya jadi penonton yang menghargai. Itu penting,” katanya. Sebab kriya tak hanya bicara soal kerajinan, tapi juga jati diri budaya.

Suardana tidak pernah main-main dengan karya. Bahkan ketika menggunakan benda-benda mati—lesung, kayu tua, tulang, tempurung—ia ingin menghidupkannya kembali, bukan sebagai fungsi lama, tapi sebagai pengemban makna baru.

“Saya suka material bekas, karena mereka membawa sejarah. Tapi saya ubah fungsinya, saya kasih jiwa,” ujarnya. Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, misalnya, bulu burung dari Papua disematkan untuk menambah kesan spiritual, dan lesung kayu tua dari Jawa menjadi representasi yoni, sebagai tempat benih kehidupan.

“Agni Kahuripan” Karya I Wayan Suardana | Foto: Angga

Ketika ditanya apakah karyanya cenderung simbolik, ia menjawab, “Simbolik, tapi tidak vulgar. Karena yang saya angkat itu bukan hanya bentuk, tapi nilai.”

Festival yang Mengayomi

Pameran Megarupa tahun ini—bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta)—adalah momentum penting bagi Suardana. Ia melihat Megarupa sebagai ruang ekspresi yang inklusif bagi seniman-seniman modern dan kontemporer di Bali, bukan hanya sekadar pelengkap di antara dominasi seni tradisi seperti di Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Dulu seni rupa kontemporer seperti tak punya panggung. Sekarang di Megarupa, kita tampil di galeri besar, diperlakukan serius. Itu luar biasa,” kata Suardana. Ia menyebut peran penting Ibu Putri Suastini Koster, penggagas Festival Bali Jani, sebagai langkah maju yang layak diapresiasi. “Beliau seorang seniwati juga. Maka paham betul, semua bentuk seni butuh ruang yang setara,” ucapnya.

Di usia 62 tahun, Suardana masih tampak segar. Ia masih aktif mengukir, melukis, dan membuat karya instalasi yang menggugah. Rumahnya di Celuk, Gianyar, bukan hanya tempat tinggal, tapi juga studio, laboratorium ide, dan museum pribadi. Di sana, segala yang sakral dan kreatif menyatu dalam ruang yang hidup.

“Saya hanya ingin karya-karya kriya tetap dihargai. Kalau bisa, makin banyak generasi muda yang ikut. Jangan biarkan seni lokal ini hanya jadi ornamen hotel,” ujarnya dengan nada prihatin.

“Egois” Karya I Wayan Suardana yang lain | Foto: Angga

Baginya, kriya bukan kerajinan, tapi perenungan dalam bentuk. Ia menutup obrolan kami dengan satu kalimat yang mengandung kesadaran spiritual sekaligus tanggung jawab budaya.

“Kalau karya saya bisa membuat orang berpikir tentang asal-usulnya, tentang makna hidup dan hubungan manusia dengan semesta, itu sudah cukup,” katanya. (*)

Catatan:

Tulisan ini dibuat berdasarkan wawancara langsung dengan I Wayan Suardana di ISI Bali, Selasa, 22 Juli 2025. Karya “Metu-Manu-Urip” ditampilkan dalam pameran seni rupa kontemporer Bali Megarupa 2025, bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta). Festival ini digagas oleh Ibu Putri Suastini Koster, seniwati sekaligus istri Gubernur Bali.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: Festival Bali JaniFestival Bali Jani 2025I Wayan SuardanaPameran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tribute to I Gde Dharna”: Bara Seni dari Sukasada yang Tak Pernah Padam

Next Post

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku "Musik Akhir Zaman" karya Kiki Sulistyo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co