2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raksasa-Raksasa Sakral dalam Diri Suardana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 23, 2025
in Khas
Raksasa-Raksasa Sakral dalam Diri Suardana

Karya I Wayan Suardana yang lain | Foto: Angga

ADA raksasa di dalam diri I Wayan Suardana. Tapi jangan buru-buru takut. Raksasa itu bukan makhluk liar, melainkan metafora atas hasrat-hasrat kreatif yang terus tumbuh dari tubuh dan jiwa seorang lelaki kelahiran Petulu, Ubud, 31 Desember 1963 itu.

Raksasa itu tampak dalam karya-karyanya yang terbuat dari kayu, tempurung, tulang, hingga benda-benda tak terpakai yang disulap menjadi simbol-simbol sakral, seperti gada, lingga-yoni, bahkan trisula.

Karya terbarunya bertajuk “Metu-Manu-Urip”, yang dipamerkan dalam ajang Megarupa 2025, menandai konsistensinya sebagai seniman kriya yang tak hanya meramu bentuk, tetapi juga menyalurkan keyakinan hidup. Karya itu bukan sekadar instalasi kayu jati tua yang keras dan berat, melainkan pemikiran filosofis tentang kesuburan, kelahiran, dan kehidupan.

Tentang manusia yang lahir dari cinta, dari perpaduan antara purusa dan predana, antara ayah dan ibu, yang divisualisasikan sebagai lesung dan alu. “Metu adalah lahir, manu adalah manusia, dan urip adalah hidup,” ujar Suardana saat kami temui di ruang pameran Bali Megarupa, Kampus ISI Bali, Denpasar, Selasa siang, 22 Juli 2025.

I Wayan Suardana (kiri) sedang berbincang dengan dua pengunjung pameran yang melihat-lihat “Metu-Manu-Urip”—karya Suardana | Foto: Angga

Kisah Suardana sebagai seniman bermula dari masa kecilnya di desa. Sejak kelas 4 SD, tangannya sudah akrab dengan ukir-ukiran sederhana. “Saya mulai dari membuat pigura. Bapak saya juga tukang ukir. Jadi saya tumbuh di lingkungan itu,” katanya. Selepas SMP, ia melanjutkan ke SMSR Gianyar, dan di sanalah ia mengenal lukisan gaya Ubud, yang sarat nilai religius dan spiritual.

Cintanya pada kriya tak sekadar soal teknik. Ia melanjutkan kuliah ke STSRI Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta), mengambil jurusan Seni Kriya hingga menyelesaikan program S2 dan S3 di kampus yang sama. “Saya memang tertarik mengangkat cerita-cerita yang berhubungan dengan agama dan mitologi. Karena di situlah saya merasa sedang menciptakan sesuatu yang sakral,” katanya.

Hidup yang Sakral dan Kreatif

Menjadi seniman bagi Suardana bukan berarti harus mengasingkan diri dari kehidupan sosial dan spiritual. Ia justru aktif dalam adat dan agama, menjadi pengurus banjar, serta terlibat dalam ritual dan perayaan. “Saya tidak bisa jauh dari itu. Dari sana justru saya dapat energi untuk berkarya,” tuturnya.

Hal ini tampak dalam setiap detail karyanya. Ia tak asal memilih material. “Saya suka benda-benda lama yang sudah tidak terpakai. Lesung, lulu, tempurung, bulu burung, tulang. Itu semua punya sejarah dan kekuatan,” katanya.

Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, ia menanam gada —simbol Dewa Brahma—ke dalam lesung sebagai metafora penciptaan. Ada juga unsur rajah, yang ia anggap sebagai bentuk seni ekspresif yang sangat ‘Bali’, bahkan bisa disebut proto-surealis.

I Wayan Suardana berpose bersama karyanya, “Metu-Manu-Urip” | Foto: Angga

“Kita ini telat mewacanakan. Di Bali sudah ada bentuk seni ekspresif seperti itu jauh sebelum Eropa memproklamasikan surealisme,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Sejak tahun 1992, Suardana mengajar di ISI Denpasar (sekarang bernama ISI Bali). Ia termasuk generasi awal yang membangun pondasi pengajaran kriya di kampus tersebut. “Saya merasa jadi dosen itu juga memacu saya terus berkarya. Masa kita cuma bisa ngomong tanpa bisa menunjukkan karya?” katanya. Baginya, peran akademisi dan seniman adalah dua sisi dari mata uang yang sama, keduanya saling menyuburkan.

Namun, ia tak menutup mata bahwa minat anak muda terhadap kriya makin menyusut. “Sekarang hanya sedikit yang mau serius menekuni kriya. Tapi justru karena sedikit itu, mereka jadi terseleksi secara alamiah. Yang benar-benar mau, ya betul-betul tekun,” pungkasnya.

Suardana berharap, generasi muda bisa kembali mencintai kriya, khususnya kriya Bali. “Minimal mereka jadi pencinta. Kalau tidak jadi pelaku, ya jadi penonton yang menghargai. Itu penting,” katanya. Sebab kriya tak hanya bicara soal kerajinan, tapi juga jati diri budaya.

Suardana tidak pernah main-main dengan karya. Bahkan ketika menggunakan benda-benda mati—lesung, kayu tua, tulang, tempurung—ia ingin menghidupkannya kembali, bukan sebagai fungsi lama, tapi sebagai pengemban makna baru.

“Saya suka material bekas, karena mereka membawa sejarah. Tapi saya ubah fungsinya, saya kasih jiwa,” ujarnya. Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, misalnya, bulu burung dari Papua disematkan untuk menambah kesan spiritual, dan lesung kayu tua dari Jawa menjadi representasi yoni, sebagai tempat benih kehidupan.

“Agni Kahuripan” Karya I Wayan Suardana | Foto: Angga

Ketika ditanya apakah karyanya cenderung simbolik, ia menjawab, “Simbolik, tapi tidak vulgar. Karena yang saya angkat itu bukan hanya bentuk, tapi nilai.”

Festival yang Mengayomi

Pameran Megarupa tahun ini—bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta)—adalah momentum penting bagi Suardana. Ia melihat Megarupa sebagai ruang ekspresi yang inklusif bagi seniman-seniman modern dan kontemporer di Bali, bukan hanya sekadar pelengkap di antara dominasi seni tradisi seperti di Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Dulu seni rupa kontemporer seperti tak punya panggung. Sekarang di Megarupa, kita tampil di galeri besar, diperlakukan serius. Itu luar biasa,” kata Suardana. Ia menyebut peran penting Ibu Putri Suastini Koster, penggagas Festival Bali Jani, sebagai langkah maju yang layak diapresiasi. “Beliau seorang seniwati juga. Maka paham betul, semua bentuk seni butuh ruang yang setara,” ucapnya.

Di usia 62 tahun, Suardana masih tampak segar. Ia masih aktif mengukir, melukis, dan membuat karya instalasi yang menggugah. Rumahnya di Celuk, Gianyar, bukan hanya tempat tinggal, tapi juga studio, laboratorium ide, dan museum pribadi. Di sana, segala yang sakral dan kreatif menyatu dalam ruang yang hidup.

“Saya hanya ingin karya-karya kriya tetap dihargai. Kalau bisa, makin banyak generasi muda yang ikut. Jangan biarkan seni lokal ini hanya jadi ornamen hotel,” ujarnya dengan nada prihatin.

“Egois” Karya I Wayan Suardana yang lain | Foto: Angga

Baginya, kriya bukan kerajinan, tapi perenungan dalam bentuk. Ia menutup obrolan kami dengan satu kalimat yang mengandung kesadaran spiritual sekaligus tanggung jawab budaya.

“Kalau karya saya bisa membuat orang berpikir tentang asal-usulnya, tentang makna hidup dan hubungan manusia dengan semesta, itu sudah cukup,” katanya. (*)

Catatan:

Tulisan ini dibuat berdasarkan wawancara langsung dengan I Wayan Suardana di ISI Bali, Selasa, 22 Juli 2025. Karya “Metu-Manu-Urip” ditampilkan dalam pameran seni rupa kontemporer Bali Megarupa 2025, bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta). Festival ini digagas oleh Ibu Putri Suastini Koster, seniwati sekaligus istri Gubernur Bali.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: Festival Bali JaniFestival Bali Jani 2025I Wayan SuardanaPameran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tribute to I Gde Dharna”: Bara Seni dari Sukasada yang Tak Pernah Padam

Next Post

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku "Musik Akhir Zaman" karya Kiki Sulistyo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co