23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Raksasa-Raksasa Sakral dalam Diri Suardana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 23, 2025
in Khas
Raksasa-Raksasa Sakral dalam Diri Suardana

Karya I Wayan Suardana yang lain | Foto: Angga

ADA raksasa di dalam diri I Wayan Suardana. Tapi jangan buru-buru takut. Raksasa itu bukan makhluk liar, melainkan metafora atas hasrat-hasrat kreatif yang terus tumbuh dari tubuh dan jiwa seorang lelaki kelahiran Petulu, Ubud, 31 Desember 1963 itu.

Raksasa itu tampak dalam karya-karyanya yang terbuat dari kayu, tempurung, tulang, hingga benda-benda tak terpakai yang disulap menjadi simbol-simbol sakral, seperti gada, lingga-yoni, bahkan trisula.

Karya terbarunya bertajuk “Metu-Manu-Urip”, yang dipamerkan dalam ajang Megarupa 2025, menandai konsistensinya sebagai seniman kriya yang tak hanya meramu bentuk, tetapi juga menyalurkan keyakinan hidup. Karya itu bukan sekadar instalasi kayu jati tua yang keras dan berat, melainkan pemikiran filosofis tentang kesuburan, kelahiran, dan kehidupan.

Tentang manusia yang lahir dari cinta, dari perpaduan antara purusa dan predana, antara ayah dan ibu, yang divisualisasikan sebagai lesung dan alu. “Metu adalah lahir, manu adalah manusia, dan urip adalah hidup,” ujar Suardana saat kami temui di ruang pameran Bali Megarupa, Kampus ISI Bali, Denpasar, Selasa siang, 22 Juli 2025.

I Wayan Suardana (kiri) sedang berbincang dengan dua pengunjung pameran yang melihat-lihat “Metu-Manu-Urip”—karya Suardana | Foto: Angga

Kisah Suardana sebagai seniman bermula dari masa kecilnya di desa. Sejak kelas 4 SD, tangannya sudah akrab dengan ukir-ukiran sederhana. “Saya mulai dari membuat pigura. Bapak saya juga tukang ukir. Jadi saya tumbuh di lingkungan itu,” katanya. Selepas SMP, ia melanjutkan ke SMSR Gianyar, dan di sanalah ia mengenal lukisan gaya Ubud, yang sarat nilai religius dan spiritual.

Cintanya pada kriya tak sekadar soal teknik. Ia melanjutkan kuliah ke STSRI Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta), mengambil jurusan Seni Kriya hingga menyelesaikan program S2 dan S3 di kampus yang sama. “Saya memang tertarik mengangkat cerita-cerita yang berhubungan dengan agama dan mitologi. Karena di situlah saya merasa sedang menciptakan sesuatu yang sakral,” katanya.

Hidup yang Sakral dan Kreatif

Menjadi seniman bagi Suardana bukan berarti harus mengasingkan diri dari kehidupan sosial dan spiritual. Ia justru aktif dalam adat dan agama, menjadi pengurus banjar, serta terlibat dalam ritual dan perayaan. “Saya tidak bisa jauh dari itu. Dari sana justru saya dapat energi untuk berkarya,” tuturnya.

Hal ini tampak dalam setiap detail karyanya. Ia tak asal memilih material. “Saya suka benda-benda lama yang sudah tidak terpakai. Lesung, lulu, tempurung, bulu burung, tulang. Itu semua punya sejarah dan kekuatan,” katanya.

Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, ia menanam gada —simbol Dewa Brahma—ke dalam lesung sebagai metafora penciptaan. Ada juga unsur rajah, yang ia anggap sebagai bentuk seni ekspresif yang sangat ‘Bali’, bahkan bisa disebut proto-surealis.

I Wayan Suardana berpose bersama karyanya, “Metu-Manu-Urip” | Foto: Angga

“Kita ini telat mewacanakan. Di Bali sudah ada bentuk seni ekspresif seperti itu jauh sebelum Eropa memproklamasikan surealisme,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Sejak tahun 1992, Suardana mengajar di ISI Denpasar (sekarang bernama ISI Bali). Ia termasuk generasi awal yang membangun pondasi pengajaran kriya di kampus tersebut. “Saya merasa jadi dosen itu juga memacu saya terus berkarya. Masa kita cuma bisa ngomong tanpa bisa menunjukkan karya?” katanya. Baginya, peran akademisi dan seniman adalah dua sisi dari mata uang yang sama, keduanya saling menyuburkan.

Namun, ia tak menutup mata bahwa minat anak muda terhadap kriya makin menyusut. “Sekarang hanya sedikit yang mau serius menekuni kriya. Tapi justru karena sedikit itu, mereka jadi terseleksi secara alamiah. Yang benar-benar mau, ya betul-betul tekun,” pungkasnya.

Suardana berharap, generasi muda bisa kembali mencintai kriya, khususnya kriya Bali. “Minimal mereka jadi pencinta. Kalau tidak jadi pelaku, ya jadi penonton yang menghargai. Itu penting,” katanya. Sebab kriya tak hanya bicara soal kerajinan, tapi juga jati diri budaya.

Suardana tidak pernah main-main dengan karya. Bahkan ketika menggunakan benda-benda mati—lesung, kayu tua, tulang, tempurung—ia ingin menghidupkannya kembali, bukan sebagai fungsi lama, tapi sebagai pengemban makna baru.

“Saya suka material bekas, karena mereka membawa sejarah. Tapi saya ubah fungsinya, saya kasih jiwa,” ujarnya. Dalam karya “Metu-Manu-Urip”, misalnya, bulu burung dari Papua disematkan untuk menambah kesan spiritual, dan lesung kayu tua dari Jawa menjadi representasi yoni, sebagai tempat benih kehidupan.

“Agni Kahuripan” Karya I Wayan Suardana | Foto: Angga

Ketika ditanya apakah karyanya cenderung simbolik, ia menjawab, “Simbolik, tapi tidak vulgar. Karena yang saya angkat itu bukan hanya bentuk, tapi nilai.”

Festival yang Mengayomi

Pameran Megarupa tahun ini—bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta)—adalah momentum penting bagi Suardana. Ia melihat Megarupa sebagai ruang ekspresi yang inklusif bagi seniman-seniman modern dan kontemporer di Bali, bukan hanya sekadar pelengkap di antara dominasi seni tradisi seperti di Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Dulu seni rupa kontemporer seperti tak punya panggung. Sekarang di Megarupa, kita tampil di galeri besar, diperlakukan serius. Itu luar biasa,” kata Suardana. Ia menyebut peran penting Ibu Putri Suastini Koster, penggagas Festival Bali Jani, sebagai langkah maju yang layak diapresiasi. “Beliau seorang seniwati juga. Maka paham betul, semua bentuk seni butuh ruang yang setara,” ucapnya.

Di usia 62 tahun, Suardana masih tampak segar. Ia masih aktif mengukir, melukis, dan membuat karya instalasi yang menggugah. Rumahnya di Celuk, Gianyar, bukan hanya tempat tinggal, tapi juga studio, laboratorium ide, dan museum pribadi. Di sana, segala yang sakral dan kreatif menyatu dalam ruang yang hidup.

“Saya hanya ingin karya-karya kriya tetap dihargai. Kalau bisa, makin banyak generasi muda yang ikut. Jangan biarkan seni lokal ini hanya jadi ornamen hotel,” ujarnya dengan nada prihatin.

“Egois” Karya I Wayan Suardana yang lain | Foto: Angga

Baginya, kriya bukan kerajinan, tapi perenungan dalam bentuk. Ia menutup obrolan kami dengan satu kalimat yang mengandung kesadaran spiritual sekaligus tanggung jawab budaya.

“Kalau karya saya bisa membuat orang berpikir tentang asal-usulnya, tentang makna hidup dan hubungan manusia dengan semesta, itu sudah cukup,” katanya. (*)

Catatan:

Tulisan ini dibuat berdasarkan wawancara langsung dengan I Wayan Suardana di ISI Bali, Selasa, 22 Juli 2025. Karya “Metu-Manu-Urip” ditampilkan dalam pameran seni rupa kontemporer Bali Megarupa 2025, bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII yang mengusung tema “Kara Bhuwana Kala” (Cipta Masa Samasta). Festival ini digagas oleh Ibu Putri Suastini Koster, seniwati sekaligus istri Gubernur Bali.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

I Wayan Reken, Sejarawan Bali yang Terlupakan
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: Festival Bali JaniFestival Bali Jani 2025I Wayan SuardanaPameran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tribute to I Gde Dharna”: Bara Seni dari Sukasada yang Tak Pernah Padam

Next Post

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo

Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku "Musik Akhir Zaman" karya Kiki Sulistyo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co