15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
in Ulas Buku
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Buku 'Lampah Sang Pragina'

  • Judul Buku: Lampah Sang Pragina
  • Penulis: Ketut Sugiartha
  • Penerbit: Pustaka Ekspresi
  • Cetakan: Pertama, November 2025
  • Tebal: 116 halaman
  • ISBN: 978-634-7225-31-3

BAGI saya, menceritakan tentang konflik kasta di Bali pada karya prosa sudah selesai di Oka Rusmini. Begitu juga ketika berbicara tradisi nyentana, ‘sudah habis’ pada karyanya I Made Sugianto. Dengan kata lain, tidak ada yang bisa menceritakan konflik tersebut sebaik dua sastrawan itu. Selanjutnya, karya-karya lain hanya membicarakan hal yang sama dengan cara yang sama. Hanya berbeda nama tempat dan tokoh. Sebetulnya banyak hal yang masih bisa ditafsirkan dari konflik kasta di Bali. Begitu juga dengan cara penceritaanya. Dalam sebuah obrolan singkat dengan cerpenis Gede Aries Pidrawan, tampak ia juga sepakat dengan kegelisahan saya. Ia mengatakan kasta tidak hanya berurusan tentang Anak Agung dan sudra, tetapi bisa dibawa pada konteks kelas sosial yang lain.

Dalam cerpen terbarunya yang bercerita tentang eksil di Bukares. Cerpen yang jadi juara 1 lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2026 bercerita tentang orang Bali dan pergolakan politik 1965 dibalut dengan sudut penceritaan baru. Dalam obrolan tersebut, kami seakan sepakat bahwa cerpen Bali modern hendaknya disajikan dengan cara modern, baik secara struktur maupun sudut pandang penceritaan. ‘Harusnya sudah tidak ada lagi koda atau petuah-petuah tersurat dalam cerpen,’ pungkasnya.

Dalam perkembangannya, sastra Bali modern masih menjadi anak tiri dibandingkan sastra tradisi. Sastra Bali modern seakan ada di pinggiran hingar bingar kesenian dan kebudayaan Bali. Bagi saya sastra Bali modern hari ini, belum banyak pembaruan pada struktur bentuk, serta perkembangan tema dan cara bercerita yang jauh dari segar. Terkait poin ini, masih bisa didebat panjang.

Baru-baru ini, Yayasan Kebudayaan Rancage mengumumkan Hadiah Sastera Rancage tahun 2026, termasuk untuk sastra Bali. Sejak tahun 1989, Hadiah Sastera Rancage diberikan kepada karya sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, dan Lampung. Isu yang digaungkan tahun ini terkait sastra daerah adalah regenerasi penulis. Beruntung Bali memiliki banyak penulis muda, hanya saja mengutip pernyataan Putu Supartika, pendiri majalah Suara Saking Bali dalam sebuah diskusi di Festival Sastra Bali Modern 2024, perkembangannya masih jalan di tempat.

Novel Lampah Sang Penari karya Ketut Sugiartha meraih Hadiah Sastera Rancage tahun 2026. Novel ini, lagi-lagi, mengangkat konflik kasta di Bali, dengan presmis kisah asmara beda kasta Gung Ayu dengan Putu. Cerita novel ini, memang khas penceritaan Ketut Sugiartha yang pelan namun tidak menjemukan karena diselipkan unsur komedi di sana sini. Jika Anda mengikuti karya Ketut Sugiartha, Anda pasti kenal betul tokoh dalam tiap karyanya, dengan napas yang selalu sama. Alih-alih menjadi ciri khas, bagi saya di sinilah titik lemahnya. Kisah Gung Ayu dan Putu pada novel ini seakan menebalkan hegemoni yang telah mengakar sejak lama dari masa kolonialisme.

Setelah memenangi Hadiah Sastera Rancage 2026, saya sangat penasaran seperti apa persoalan yang diangkat. Apakah akan ada perjuangan menegakkan hakikat cinta yang heroik, menggugat adat yang hari ini sudah tidak kontekstual, atau menganjurkan toleransi yang tiada henti. Persoalan utama yang diangkat tentu tentang konflik kasta. Persoalan lain yang muncul adalah tentang keberagaman. Konflik kasta yang diceritakan Lampah Sang Pragina, bahkan hanya sekilas lalu. Sebagian besar menceritakan perjalanan Putu yang hijrah ke Jakarta, namun ternyata situasi modern di sana sama sekali tidak mengubah apa-apa untuknya. Sebab ketika ia di Jakarta dan bertemu dengan gadis Bali juga, Laras yang tidak lain murid privat tarinya, manjadikan ia tetap orang yang sama seperti ketika saat di desa.

Sekian lama di Jakarta, bertemu beragam karakter, akhirnya Putu kembali harus pulang dan melanjutkan hidup dengan kondisi hampir sama yaitu mendirikan kembali sekaa sendratarinya. Apakah ini bisa ditafsirkan bahwa masyarakat Bali tidak mau berubah? Sama ketika mereka merawat hegemoni kasta hingga kini. Dengan alur maju, tampaknya novel ini hanya berniat untuk mengarsipkan konflik kasta yang ada di Bali.

Konflik antara Gung Ayu dengan Putu, setting waktu dan tempat yang puluhan tahun ke belakang dari masa sekarang membuat cerita dalam novel ini cukup membosankan. Alih-alih akan dibaca generasi sekarang, latar yang digunakan berpotensi melemahkan dan menjauhkannya dari pembaca masa kini. Jangan-jangan, penikmatnya adalam pembaca usia 50 tahun ke atas.

Menulis kembali hegemoni kasta di Bali tentu tidak salah. Anggaplah ini sebagai respons imajinatif terhadap fenomena, aturan norma, atau tata sosial ini. Sebab ia tetap hidup hingga detik ini. Seperti yang dilakukan Oka Rusmini misalnya yang menggunakan tokoh perempuan sebagai perjuangan terhadap feminisme. Saya membayangkan tokoh Putu Mastra dalam Lampah Sang Pragina, setelah di Jakarta bertemu dengan perempuan berkasta lagi dan berhasil memperjuangkan cintanya. Misalnya begitu, berarti Jakarta telah membuat orang-orangnya berpikir lebih terbuka. Akan tetapi, hal tersebut tentu hanya mimpi belaka.

Begitulah, sastra Bali modern masih berjalan di tempat. Selain bertebarannya koda di dalam cerita, kisah disajikan menggunakan kemasan yang lampau. Tidak ada eksplorasi struktur dan alur. Masih sangat terasa banyak petuah di sana sini dan seakan menggurui. Tema yang diangkat pun masih didominasi dengan kasta, mitos, mistis, dan hal-hal terkait kehidupan tradisional masyarakat Bali.

Dalam novel Lampah Sang Penari, saya malah lebih tertarik dengan relasi tokoh Putu dengan Pak Anes (Johanes si pemilik bengkel) yang berbeda latar belakang budaya, dipertemukan di Jakarta tentu banyak hal menarik bisa terjadi. Ada juga tokoh Gimin dan Sarman, mekanik di bengkelnya Pak Anes. Potensi cerita dan balutan konflik yang dibangun bisa jauh lebih mewah.

Tentu menulis tentang ini perlu riset yang cukup dan tidak hanya cukup dengan pengalaman pribadi saja. Apakah konflik tentang ini terlalu sensitif, misalnya, sehingga penulis Bali jarang mau mengambilnya? Yang pasti, kisah tentang hegemoni kasta, mitos, mistis, dan tradisi adat masih akan menjadi tema seksi sastra Bali modern yang entah sampai kapan diceritakan dengan cara yang sama. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuPustaka Ekspresisastra balisastra bali modernUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Next Post

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails
Next Post
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co