25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
in Ulas Buku
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Buku 'Lampah Sang Pragina'

  • Judul Buku: Lampah Sang Pragina
  • Penulis: Ketut Sugiartha
  • Penerbit: Pustaka Ekspresi
  • Cetakan: Pertama, November 2025
  • Tebal: 116 halaman
  • ISBN: 978-634-7225-31-3

BAGI saya, menceritakan tentang konflik kasta di Bali pada karya prosa sudah selesai di Oka Rusmini. Begitu juga ketika berbicara tradisi nyentana, ‘sudah habis’ pada karyanya I Made Sugianto. Dengan kata lain, tidak ada yang bisa menceritakan konflik tersebut sebaik dua sastrawan itu. Selanjutnya, karya-karya lain hanya membicarakan hal yang sama dengan cara yang sama. Hanya berbeda nama tempat dan tokoh. Sebetulnya banyak hal yang masih bisa ditafsirkan dari konflik kasta di Bali. Begitu juga dengan cara penceritaanya. Dalam sebuah obrolan singkat dengan cerpenis Gede Aries Pidrawan, tampak ia juga sepakat dengan kegelisahan saya. Ia mengatakan kasta tidak hanya berurusan tentang Anak Agung dan sudra, tetapi bisa dibawa pada konteks kelas sosial yang lain.

Dalam cerpen terbarunya yang bercerita tentang eksil di Bukares. Cerpen yang jadi juara 1 lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2026 bercerita tentang orang Bali dan pergolakan politik 1965 dibalut dengan sudut penceritaan baru. Dalam obrolan tersebut, kami seakan sepakat bahwa cerpen Bali modern hendaknya disajikan dengan cara modern, baik secara struktur maupun sudut pandang penceritaan. ‘Harusnya sudah tidak ada lagi koda atau petuah-petuah tersurat dalam cerpen,’ pungkasnya.

Dalam perkembangannya, sastra Bali modern masih menjadi anak tiri dibandingkan sastra tradisi. Sastra Bali modern seakan ada di pinggiran hingar bingar kesenian dan kebudayaan Bali. Bagi saya sastra Bali modern hari ini, belum banyak pembaruan pada struktur bentuk, serta perkembangan tema dan cara bercerita yang jauh dari segar. Terkait poin ini, masih bisa didebat panjang.

Baru-baru ini, Yayasan Kebudayaan Rancage mengumumkan Hadiah Sastera Rancage tahun 2026, termasuk untuk sastra Bali. Sejak tahun 1989, Hadiah Sastera Rancage diberikan kepada karya sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, dan Lampung. Isu yang digaungkan tahun ini terkait sastra daerah adalah regenerasi penulis. Beruntung Bali memiliki banyak penulis muda, hanya saja mengutip pernyataan Putu Supartika, pendiri majalah Suara Saking Bali dalam sebuah diskusi di Festival Sastra Bali Modern 2024, perkembangannya masih jalan di tempat.

Novel Lampah Sang Penari karya Ketut Sugiartha meraih Hadiah Sastera Rancage tahun 2026. Novel ini, lagi-lagi, mengangkat konflik kasta di Bali, dengan presmis kisah asmara beda kasta Gung Ayu dengan Putu. Cerita novel ini, memang khas penceritaan Ketut Sugiartha yang pelan namun tidak menjemukan karena diselipkan unsur komedi di sana sini. Jika Anda mengikuti karya Ketut Sugiartha, Anda pasti kenal betul tokoh dalam tiap karyanya, dengan napas yang selalu sama. Alih-alih menjadi ciri khas, bagi saya di sinilah titik lemahnya. Kisah Gung Ayu dan Putu pada novel ini seakan menebalkan hegemoni yang telah mengakar sejak lama dari masa kolonialisme.

Setelah memenangi Hadiah Sastera Rancage 2026, saya sangat penasaran seperti apa persoalan yang diangkat. Apakah akan ada perjuangan menegakkan hakikat cinta yang heroik, menggugat adat yang hari ini sudah tidak kontekstual, atau menganjurkan toleransi yang tiada henti. Persoalan utama yang diangkat tentu tentang konflik kasta. Persoalan lain yang muncul adalah tentang keberagaman. Konflik kasta yang diceritakan Lampah Sang Pragina, bahkan hanya sekilas lalu. Sebagian besar menceritakan perjalanan Putu yang hijrah ke Jakarta, namun ternyata situasi modern di sana sama sekali tidak mengubah apa-apa untuknya. Sebab ketika ia di Jakarta dan bertemu dengan gadis Bali juga, Laras yang tidak lain murid privat tarinya, manjadikan ia tetap orang yang sama seperti ketika saat di desa.

Sekian lama di Jakarta, bertemu beragam karakter, akhirnya Putu kembali harus pulang dan melanjutkan hidup dengan kondisi hampir sama yaitu mendirikan kembali sekaa sendratarinya. Apakah ini bisa ditafsirkan bahwa masyarakat Bali tidak mau berubah? Sama ketika mereka merawat hegemoni kasta hingga kini. Dengan alur maju, tampaknya novel ini hanya berniat untuk mengarsipkan konflik kasta yang ada di Bali.

Konflik antara Gung Ayu dengan Putu, setting waktu dan tempat yang puluhan tahun ke belakang dari masa sekarang membuat cerita dalam novel ini cukup membosankan. Alih-alih akan dibaca generasi sekarang, latar yang digunakan berpotensi melemahkan dan menjauhkannya dari pembaca masa kini. Jangan-jangan, penikmatnya adalam pembaca usia 50 tahun ke atas.

Menulis kembali hegemoni kasta di Bali tentu tidak salah. Anggaplah ini sebagai respons imajinatif terhadap fenomena, aturan norma, atau tata sosial ini. Sebab ia tetap hidup hingga detik ini. Seperti yang dilakukan Oka Rusmini misalnya yang menggunakan tokoh perempuan sebagai perjuangan terhadap feminisme. Saya membayangkan tokoh Putu Mastra dalam Lampah Sang Pragina, setelah di Jakarta bertemu dengan perempuan berkasta lagi dan berhasil memperjuangkan cintanya. Misalnya begitu, berarti Jakarta telah membuat orang-orangnya berpikir lebih terbuka. Akan tetapi, hal tersebut tentu hanya mimpi belaka.

Begitulah, sastra Bali modern masih berjalan di tempat. Selain bertebarannya koda di dalam cerita, kisah disajikan menggunakan kemasan yang lampau. Tidak ada eksplorasi struktur dan alur. Masih sangat terasa banyak petuah di sana sini dan seakan menggurui. Tema yang diangkat pun masih didominasi dengan kasta, mitos, mistis, dan hal-hal terkait kehidupan tradisional masyarakat Bali.

Dalam novel Lampah Sang Penari, saya malah lebih tertarik dengan relasi tokoh Putu dengan Pak Anes (Johanes si pemilik bengkel) yang berbeda latar belakang budaya, dipertemukan di Jakarta tentu banyak hal menarik bisa terjadi. Ada juga tokoh Gimin dan Sarman, mekanik di bengkelnya Pak Anes. Potensi cerita dan balutan konflik yang dibangun bisa jauh lebih mewah.

Tentu menulis tentang ini perlu riset yang cukup dan tidak hanya cukup dengan pengalaman pribadi saja. Apakah konflik tentang ini terlalu sensitif, misalnya, sehingga penulis Bali jarang mau mengambilnya? Yang pasti, kisah tentang hegemoni kasta, mitos, mistis, dan tradisi adat masih akan menjadi tema seksi sastra Bali modern yang entah sampai kapan diceritakan dengan cara yang sama. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuPustaka Ekspresisastra balisastra bali modernUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Next Post

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails
Next Post
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co