26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
in Ulas Buku
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Buku 'Lampah Sang Pragina'

  • Judul Buku: Lampah Sang Pragina
  • Penulis: Ketut Sugiartha
  • Penerbit: Pustaka Ekspresi
  • Cetakan: Pertama, November 2025
  • Tebal: 116 halaman
  • ISBN: 978-634-7225-31-3

BAGI saya, menceritakan tentang konflik kasta di Bali pada karya prosa sudah selesai di Oka Rusmini. Begitu juga ketika berbicara tradisi nyentana, ‘sudah habis’ pada karyanya I Made Sugianto. Dengan kata lain, tidak ada yang bisa menceritakan konflik tersebut sebaik dua sastrawan itu. Selanjutnya, karya-karya lain hanya membicarakan hal yang sama dengan cara yang sama. Hanya berbeda nama tempat dan tokoh. Sebetulnya banyak hal yang masih bisa ditafsirkan dari konflik kasta di Bali. Begitu juga dengan cara penceritaanya. Dalam sebuah obrolan singkat dengan cerpenis Gede Aries Pidrawan, tampak ia juga sepakat dengan kegelisahan saya. Ia mengatakan kasta tidak hanya berurusan tentang Anak Agung dan sudra, tetapi bisa dibawa pada konteks kelas sosial yang lain.

Dalam cerpen terbarunya yang bercerita tentang eksil di Bukares. Cerpen yang jadi juara 1 lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2026 bercerita tentang orang Bali dan pergolakan politik 1965 dibalut dengan sudut penceritaan baru. Dalam obrolan tersebut, kami seakan sepakat bahwa cerpen Bali modern hendaknya disajikan dengan cara modern, baik secara struktur maupun sudut pandang penceritaan. ‘Harusnya sudah tidak ada lagi koda atau petuah-petuah tersurat dalam cerpen,’ pungkasnya.

Dalam perkembangannya, sastra Bali modern masih menjadi anak tiri dibandingkan sastra tradisi. Sastra Bali modern seakan ada di pinggiran hingar bingar kesenian dan kebudayaan Bali. Bagi saya sastra Bali modern hari ini, belum banyak pembaruan pada struktur bentuk, serta perkembangan tema dan cara bercerita yang jauh dari segar. Terkait poin ini, masih bisa didebat panjang.

Baru-baru ini, Yayasan Kebudayaan Rancage mengumumkan Hadiah Sastera Rancage tahun 2026, termasuk untuk sastra Bali. Sejak tahun 1989, Hadiah Sastera Rancage diberikan kepada karya sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, dan Lampung. Isu yang digaungkan tahun ini terkait sastra daerah adalah regenerasi penulis. Beruntung Bali memiliki banyak penulis muda, hanya saja mengutip pernyataan Putu Supartika, pendiri majalah Suara Saking Bali dalam sebuah diskusi di Festival Sastra Bali Modern 2024, perkembangannya masih jalan di tempat.

Novel Lampah Sang Penari karya Ketut Sugiartha meraih Hadiah Sastera Rancage tahun 2026. Novel ini, lagi-lagi, mengangkat konflik kasta di Bali, dengan presmis kisah asmara beda kasta Gung Ayu dengan Putu. Cerita novel ini, memang khas penceritaan Ketut Sugiartha yang pelan namun tidak menjemukan karena diselipkan unsur komedi di sana sini. Jika Anda mengikuti karya Ketut Sugiartha, Anda pasti kenal betul tokoh dalam tiap karyanya, dengan napas yang selalu sama. Alih-alih menjadi ciri khas, bagi saya di sinilah titik lemahnya. Kisah Gung Ayu dan Putu pada novel ini seakan menebalkan hegemoni yang telah mengakar sejak lama dari masa kolonialisme.

Setelah memenangi Hadiah Sastera Rancage 2026, saya sangat penasaran seperti apa persoalan yang diangkat. Apakah akan ada perjuangan menegakkan hakikat cinta yang heroik, menggugat adat yang hari ini sudah tidak kontekstual, atau menganjurkan toleransi yang tiada henti. Persoalan utama yang diangkat tentu tentang konflik kasta. Persoalan lain yang muncul adalah tentang keberagaman. Konflik kasta yang diceritakan Lampah Sang Pragina, bahkan hanya sekilas lalu. Sebagian besar menceritakan perjalanan Putu yang hijrah ke Jakarta, namun ternyata situasi modern di sana sama sekali tidak mengubah apa-apa untuknya. Sebab ketika ia di Jakarta dan bertemu dengan gadis Bali juga, Laras yang tidak lain murid privat tarinya, manjadikan ia tetap orang yang sama seperti ketika saat di desa.

Sekian lama di Jakarta, bertemu beragam karakter, akhirnya Putu kembali harus pulang dan melanjutkan hidup dengan kondisi hampir sama yaitu mendirikan kembali sekaa sendratarinya. Apakah ini bisa ditafsirkan bahwa masyarakat Bali tidak mau berubah? Sama ketika mereka merawat hegemoni kasta hingga kini. Dengan alur maju, tampaknya novel ini hanya berniat untuk mengarsipkan konflik kasta yang ada di Bali.

Konflik antara Gung Ayu dengan Putu, setting waktu dan tempat yang puluhan tahun ke belakang dari masa sekarang membuat cerita dalam novel ini cukup membosankan. Alih-alih akan dibaca generasi sekarang, latar yang digunakan berpotensi melemahkan dan menjauhkannya dari pembaca masa kini. Jangan-jangan, penikmatnya adalam pembaca usia 50 tahun ke atas.

Menulis kembali hegemoni kasta di Bali tentu tidak salah. Anggaplah ini sebagai respons imajinatif terhadap fenomena, aturan norma, atau tata sosial ini. Sebab ia tetap hidup hingga detik ini. Seperti yang dilakukan Oka Rusmini misalnya yang menggunakan tokoh perempuan sebagai perjuangan terhadap feminisme. Saya membayangkan tokoh Putu Mastra dalam Lampah Sang Pragina, setelah di Jakarta bertemu dengan perempuan berkasta lagi dan berhasil memperjuangkan cintanya. Misalnya begitu, berarti Jakarta telah membuat orang-orangnya berpikir lebih terbuka. Akan tetapi, hal tersebut tentu hanya mimpi belaka.

Begitulah, sastra Bali modern masih berjalan di tempat. Selain bertebarannya koda di dalam cerita, kisah disajikan menggunakan kemasan yang lampau. Tidak ada eksplorasi struktur dan alur. Masih sangat terasa banyak petuah di sana sini dan seakan menggurui. Tema yang diangkat pun masih didominasi dengan kasta, mitos, mistis, dan hal-hal terkait kehidupan tradisional masyarakat Bali.

Dalam novel Lampah Sang Penari, saya malah lebih tertarik dengan relasi tokoh Putu dengan Pak Anes (Johanes si pemilik bengkel) yang berbeda latar belakang budaya, dipertemukan di Jakarta tentu banyak hal menarik bisa terjadi. Ada juga tokoh Gimin dan Sarman, mekanik di bengkelnya Pak Anes. Potensi cerita dan balutan konflik yang dibangun bisa jauh lebih mewah.

Tentu menulis tentang ini perlu riset yang cukup dan tidak hanya cukup dengan pengalaman pribadi saja. Apakah konflik tentang ini terlalu sensitif, misalnya, sehingga penulis Bali jarang mau mengambilnya? Yang pasti, kisah tentang hegemoni kasta, mitos, mistis, dan tradisi adat masih akan menjadi tema seksi sastra Bali modern yang entah sampai kapan diceritakan dengan cara yang sama. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuPustaka Ekspresisastra balisastra bali modernUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Next Post

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co