24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
in Ulas Buku
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Buku 'Lampah Sang Pragina'

  • Judul Buku: Lampah Sang Pragina
  • Penulis: Ketut Sugiartha
  • Penerbit: Pustaka Ekspresi
  • Cetakan: Pertama, November 2025
  • Tebal: 116 halaman
  • ISBN: 978-634-7225-31-3

BAGI saya, menceritakan tentang konflik kasta di Bali pada karya prosa sudah selesai di Oka Rusmini. Begitu juga ketika berbicara tradisi nyentana, ‘sudah habis’ pada karyanya I Made Sugianto. Dengan kata lain, tidak ada yang bisa menceritakan konflik tersebut sebaik dua sastrawan itu. Selanjutnya, karya-karya lain hanya membicarakan hal yang sama dengan cara yang sama. Hanya berbeda nama tempat dan tokoh. Sebetulnya banyak hal yang masih bisa ditafsirkan dari konflik kasta di Bali. Begitu juga dengan cara penceritaanya. Dalam sebuah obrolan singkat dengan cerpenis Gede Aries Pidrawan, tampak ia juga sepakat dengan kegelisahan saya. Ia mengatakan kasta tidak hanya berurusan tentang Anak Agung dan sudra, tetapi bisa dibawa pada konteks kelas sosial yang lain.

Dalam cerpen terbarunya yang bercerita tentang eksil di Bukares. Cerpen yang jadi juara 1 lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2026 bercerita tentang orang Bali dan pergolakan politik 1965 dibalut dengan sudut penceritaan baru. Dalam obrolan tersebut, kami seakan sepakat bahwa cerpen Bali modern hendaknya disajikan dengan cara modern, baik secara struktur maupun sudut pandang penceritaan. ‘Harusnya sudah tidak ada lagi koda atau petuah-petuah tersurat dalam cerpen,’ pungkasnya.

Dalam perkembangannya, sastra Bali modern masih menjadi anak tiri dibandingkan sastra tradisi. Sastra Bali modern seakan ada di pinggiran hingar bingar kesenian dan kebudayaan Bali. Bagi saya sastra Bali modern hari ini, belum banyak pembaruan pada struktur bentuk, serta perkembangan tema dan cara bercerita yang jauh dari segar. Terkait poin ini, masih bisa didebat panjang.

Baru-baru ini, Yayasan Kebudayaan Rancage mengumumkan Hadiah Sastera Rancage tahun 2026, termasuk untuk sastra Bali. Sejak tahun 1989, Hadiah Sastera Rancage diberikan kepada karya sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, dan Lampung. Isu yang digaungkan tahun ini terkait sastra daerah adalah regenerasi penulis. Beruntung Bali memiliki banyak penulis muda, hanya saja mengutip pernyataan Putu Supartika, pendiri majalah Suara Saking Bali dalam sebuah diskusi di Festival Sastra Bali Modern 2024, perkembangannya masih jalan di tempat.

Novel Lampah Sang Penari karya Ketut Sugiartha meraih Hadiah Sastera Rancage tahun 2026. Novel ini, lagi-lagi, mengangkat konflik kasta di Bali, dengan presmis kisah asmara beda kasta Gung Ayu dengan Putu. Cerita novel ini, memang khas penceritaan Ketut Sugiartha yang pelan namun tidak menjemukan karena diselipkan unsur komedi di sana sini. Jika Anda mengikuti karya Ketut Sugiartha, Anda pasti kenal betul tokoh dalam tiap karyanya, dengan napas yang selalu sama. Alih-alih menjadi ciri khas, bagi saya di sinilah titik lemahnya. Kisah Gung Ayu dan Putu pada novel ini seakan menebalkan hegemoni yang telah mengakar sejak lama dari masa kolonialisme.

Setelah memenangi Hadiah Sastera Rancage 2026, saya sangat penasaran seperti apa persoalan yang diangkat. Apakah akan ada perjuangan menegakkan hakikat cinta yang heroik, menggugat adat yang hari ini sudah tidak kontekstual, atau menganjurkan toleransi yang tiada henti. Persoalan utama yang diangkat tentu tentang konflik kasta. Persoalan lain yang muncul adalah tentang keberagaman. Konflik kasta yang diceritakan Lampah Sang Pragina, bahkan hanya sekilas lalu. Sebagian besar menceritakan perjalanan Putu yang hijrah ke Jakarta, namun ternyata situasi modern di sana sama sekali tidak mengubah apa-apa untuknya. Sebab ketika ia di Jakarta dan bertemu dengan gadis Bali juga, Laras yang tidak lain murid privat tarinya, manjadikan ia tetap orang yang sama seperti ketika saat di desa.

Sekian lama di Jakarta, bertemu beragam karakter, akhirnya Putu kembali harus pulang dan melanjutkan hidup dengan kondisi hampir sama yaitu mendirikan kembali sekaa sendratarinya. Apakah ini bisa ditafsirkan bahwa masyarakat Bali tidak mau berubah? Sama ketika mereka merawat hegemoni kasta hingga kini. Dengan alur maju, tampaknya novel ini hanya berniat untuk mengarsipkan konflik kasta yang ada di Bali.

Konflik antara Gung Ayu dengan Putu, setting waktu dan tempat yang puluhan tahun ke belakang dari masa sekarang membuat cerita dalam novel ini cukup membosankan. Alih-alih akan dibaca generasi sekarang, latar yang digunakan berpotensi melemahkan dan menjauhkannya dari pembaca masa kini. Jangan-jangan, penikmatnya adalam pembaca usia 50 tahun ke atas.

Menulis kembali hegemoni kasta di Bali tentu tidak salah. Anggaplah ini sebagai respons imajinatif terhadap fenomena, aturan norma, atau tata sosial ini. Sebab ia tetap hidup hingga detik ini. Seperti yang dilakukan Oka Rusmini misalnya yang menggunakan tokoh perempuan sebagai perjuangan terhadap feminisme. Saya membayangkan tokoh Putu Mastra dalam Lampah Sang Pragina, setelah di Jakarta bertemu dengan perempuan berkasta lagi dan berhasil memperjuangkan cintanya. Misalnya begitu, berarti Jakarta telah membuat orang-orangnya berpikir lebih terbuka. Akan tetapi, hal tersebut tentu hanya mimpi belaka.

Begitulah, sastra Bali modern masih berjalan di tempat. Selain bertebarannya koda di dalam cerita, kisah disajikan menggunakan kemasan yang lampau. Tidak ada eksplorasi struktur dan alur. Masih sangat terasa banyak petuah di sana sini dan seakan menggurui. Tema yang diangkat pun masih didominasi dengan kasta, mitos, mistis, dan hal-hal terkait kehidupan tradisional masyarakat Bali.

Dalam novel Lampah Sang Penari, saya malah lebih tertarik dengan relasi tokoh Putu dengan Pak Anes (Johanes si pemilik bengkel) yang berbeda latar belakang budaya, dipertemukan di Jakarta tentu banyak hal menarik bisa terjadi. Ada juga tokoh Gimin dan Sarman, mekanik di bengkelnya Pak Anes. Potensi cerita dan balutan konflik yang dibangun bisa jauh lebih mewah.

Tentu menulis tentang ini perlu riset yang cukup dan tidak hanya cukup dengan pengalaman pribadi saja. Apakah konflik tentang ini terlalu sensitif, misalnya, sehingga penulis Bali jarang mau mengambilnya? Yang pasti, kisah tentang hegemoni kasta, mitos, mistis, dan tradisi adat masih akan menjadi tema seksi sastra Bali modern yang entah sampai kapan diceritakan dengan cara yang sama. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuPustaka Ekspresisastra balisastra bali modernUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Next Post

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co