15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
in Ulas Buku
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Buku 'Lampah Sang Pragina'

  • Judul Buku: Lampah Sang Pragina
  • Penulis: Ketut Sugiartha
  • Penerbit: Pustaka Ekspresi
  • Cetakan: Pertama, November 2025
  • Tebal: 116 halaman
  • ISBN: 978-634-7225-31-3

BAGI saya, menceritakan tentang konflik kasta di Bali pada karya prosa sudah selesai di Oka Rusmini. Begitu juga ketika berbicara tradisi nyentana, ‘sudah habis’ pada karyanya I Made Sugianto. Dengan kata lain, tidak ada yang bisa menceritakan konflik tersebut sebaik dua sastrawan itu. Selanjutnya, karya-karya lain hanya membicarakan hal yang sama dengan cara yang sama. Hanya berbeda nama tempat dan tokoh. Sebetulnya banyak hal yang masih bisa ditafsirkan dari konflik kasta di Bali. Begitu juga dengan cara penceritaanya. Dalam sebuah obrolan singkat dengan cerpenis Gede Aries Pidrawan, tampak ia juga sepakat dengan kegelisahan saya. Ia mengatakan kasta tidak hanya berurusan tentang Anak Agung dan sudra, tetapi bisa dibawa pada konteks kelas sosial yang lain.

Dalam cerpen terbarunya yang bercerita tentang eksil di Bukares. Cerpen yang jadi juara 1 lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2026 bercerita tentang orang Bali dan pergolakan politik 1965 dibalut dengan sudut penceritaan baru. Dalam obrolan tersebut, kami seakan sepakat bahwa cerpen Bali modern hendaknya disajikan dengan cara modern, baik secara struktur maupun sudut pandang penceritaan. ‘Harusnya sudah tidak ada lagi koda atau petuah-petuah tersurat dalam cerpen,’ pungkasnya.

Dalam perkembangannya, sastra Bali modern masih menjadi anak tiri dibandingkan sastra tradisi. Sastra Bali modern seakan ada di pinggiran hingar bingar kesenian dan kebudayaan Bali. Bagi saya sastra Bali modern hari ini, belum banyak pembaruan pada struktur bentuk, serta perkembangan tema dan cara bercerita yang jauh dari segar. Terkait poin ini, masih bisa didebat panjang.

Baru-baru ini, Yayasan Kebudayaan Rancage mengumumkan Hadiah Sastera Rancage tahun 2026, termasuk untuk sastra Bali. Sejak tahun 1989, Hadiah Sastera Rancage diberikan kepada karya sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, dan Lampung. Isu yang digaungkan tahun ini terkait sastra daerah adalah regenerasi penulis. Beruntung Bali memiliki banyak penulis muda, hanya saja mengutip pernyataan Putu Supartika, pendiri majalah Suara Saking Bali dalam sebuah diskusi di Festival Sastra Bali Modern 2024, perkembangannya masih jalan di tempat.

Novel Lampah Sang Penari karya Ketut Sugiartha meraih Hadiah Sastera Rancage tahun 2026. Novel ini, lagi-lagi, mengangkat konflik kasta di Bali, dengan presmis kisah asmara beda kasta Gung Ayu dengan Putu. Cerita novel ini, memang khas penceritaan Ketut Sugiartha yang pelan namun tidak menjemukan karena diselipkan unsur komedi di sana sini. Jika Anda mengikuti karya Ketut Sugiartha, Anda pasti kenal betul tokoh dalam tiap karyanya, dengan napas yang selalu sama. Alih-alih menjadi ciri khas, bagi saya di sinilah titik lemahnya. Kisah Gung Ayu dan Putu pada novel ini seakan menebalkan hegemoni yang telah mengakar sejak lama dari masa kolonialisme.

Setelah memenangi Hadiah Sastera Rancage 2026, saya sangat penasaran seperti apa persoalan yang diangkat. Apakah akan ada perjuangan menegakkan hakikat cinta yang heroik, menggugat adat yang hari ini sudah tidak kontekstual, atau menganjurkan toleransi yang tiada henti. Persoalan utama yang diangkat tentu tentang konflik kasta. Persoalan lain yang muncul adalah tentang keberagaman. Konflik kasta yang diceritakan Lampah Sang Pragina, bahkan hanya sekilas lalu. Sebagian besar menceritakan perjalanan Putu yang hijrah ke Jakarta, namun ternyata situasi modern di sana sama sekali tidak mengubah apa-apa untuknya. Sebab ketika ia di Jakarta dan bertemu dengan gadis Bali juga, Laras yang tidak lain murid privat tarinya, manjadikan ia tetap orang yang sama seperti ketika saat di desa.

Sekian lama di Jakarta, bertemu beragam karakter, akhirnya Putu kembali harus pulang dan melanjutkan hidup dengan kondisi hampir sama yaitu mendirikan kembali sekaa sendratarinya. Apakah ini bisa ditafsirkan bahwa masyarakat Bali tidak mau berubah? Sama ketika mereka merawat hegemoni kasta hingga kini. Dengan alur maju, tampaknya novel ini hanya berniat untuk mengarsipkan konflik kasta yang ada di Bali.

Konflik antara Gung Ayu dengan Putu, setting waktu dan tempat yang puluhan tahun ke belakang dari masa sekarang membuat cerita dalam novel ini cukup membosankan. Alih-alih akan dibaca generasi sekarang, latar yang digunakan berpotensi melemahkan dan menjauhkannya dari pembaca masa kini. Jangan-jangan, penikmatnya adalam pembaca usia 50 tahun ke atas.

Menulis kembali hegemoni kasta di Bali tentu tidak salah. Anggaplah ini sebagai respons imajinatif terhadap fenomena, aturan norma, atau tata sosial ini. Sebab ia tetap hidup hingga detik ini. Seperti yang dilakukan Oka Rusmini misalnya yang menggunakan tokoh perempuan sebagai perjuangan terhadap feminisme. Saya membayangkan tokoh Putu Mastra dalam Lampah Sang Pragina, setelah di Jakarta bertemu dengan perempuan berkasta lagi dan berhasil memperjuangkan cintanya. Misalnya begitu, berarti Jakarta telah membuat orang-orangnya berpikir lebih terbuka. Akan tetapi, hal tersebut tentu hanya mimpi belaka.

Begitulah, sastra Bali modern masih berjalan di tempat. Selain bertebarannya koda di dalam cerita, kisah disajikan menggunakan kemasan yang lampau. Tidak ada eksplorasi struktur dan alur. Masih sangat terasa banyak petuah di sana sini dan seakan menggurui. Tema yang diangkat pun masih didominasi dengan kasta, mitos, mistis, dan hal-hal terkait kehidupan tradisional masyarakat Bali.

Dalam novel Lampah Sang Penari, saya malah lebih tertarik dengan relasi tokoh Putu dengan Pak Anes (Johanes si pemilik bengkel) yang berbeda latar belakang budaya, dipertemukan di Jakarta tentu banyak hal menarik bisa terjadi. Ada juga tokoh Gimin dan Sarman, mekanik di bengkelnya Pak Anes. Potensi cerita dan balutan konflik yang dibangun bisa jauh lebih mewah.

Tentu menulis tentang ini perlu riset yang cukup dan tidak hanya cukup dengan pengalaman pribadi saja. Apakah konflik tentang ini terlalu sensitif, misalnya, sehingga penulis Bali jarang mau mengambilnya? Yang pasti, kisah tentang hegemoni kasta, mitos, mistis, dan tradisi adat masih akan menjadi tema seksi sastra Bali modern yang entah sampai kapan diceritakan dengan cara yang sama. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuPustaka Ekspresisastra balisastra bali modernUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Next Post

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co