28 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 20, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Bulan Ramadhan membawa nuansa spiritual yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan keragaman penduduk yang khas. Fenomena menarik yang sering muncul adalah keberadaan warung makan yang tetap buka di siang hari selama bulan suci, serta dinamika sosial yang menyertai keberagaman agama dan budaya di tengah masyarakat.

Di sisi lain, kasus razia dan larangan penjual daging babi di beberapa daerah Sumatra Utara khususnya selama bulan Ramadhan beberapa waktu lalu menjadi titik cerminan penting tentang bagaimana aturan agama, kebijakan lokal, dan kehidupan berbangsa saling berinteraksi.

Perspektif keislaman, baik dari sisi analisis ilmiah maupun tasawuf, menawarkan pandangan mendalam bahwa kekuatan puasa tidak terletak pada larangan eksternal terhadap hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan ibadah, melainkan pada kejernihan hati dan kesadaran diri yang membuahkan kekuatan iman yang kokoh.

Warung Makan yang Buka di Siang Hari: Antara Aturan dan Toleransi

Dalam ajaran Islam, ibadah puasa merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap muslim yang mampu, dengan batasan-batasan yang jelas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183-187: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa… Makan dan minumlah hingga terang jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai waktu matahari terbenam.” Namun, Islam juga mengajarkan tentang pentingnya toleransi terhadap perbedaan, terutama dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Secara hukum Islam (fiqh), tidak ada ketentuan yang mengharuskan usaha makanan milik non-muslim atau muslim yang tidak berpuasa untuk ditutup selama siang hari Ramadhan. Para ulama mazhab berbeda sepakat bahwa kebebasan beribadah dan menjalankan aktivitas ekonomi yang halal harus dihormati, selama tidak ada paksaan atau gangguan terhadap orang yang sedang berpuasa. Imam Al-Nawawi dalam Minhaj al-Talibin menjelaskan bahwa menjaga keharmonisan antarumat beragama adalah bagian dari ibadah yang memperkuat tali persaudaraan umat manusia.

Fenomena “tirai setengah tiang” yang sering ditemui di warung makan selama Ramadhan menjadi simbol toleransi yang indah. Banyak pedagang, baik muslim maupun non-muslim, sengaja memasang tirai atau memposisikan meja sedemikian rupa agar aktivitas makan mereka tidak terlihat langsung oleh orang yang berpuasa. Hal ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya menghormati ibadah orang lain tanpa harus menyamakan pola hidup. Dari sisi tasawuf, hal ini merupakan bentuk wujud cinta kasih (mahabbah) yang diajarkan oleh Islam terhadap seluruh makhluk Allah, tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Dalam konteks Indonesia, UU No. 1 tahun 1965 tentang Pengesahan Piagam Jakarta serta UU No. 20 tahun 2008 tentang Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi landasan hukum yang menjamin kebebasan beragama sekaligus mengharuskan penghormatan terhadap perbedaan. Oleh karena itu, keberadaan warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan bukanlah ancaman terhadap ibadah puasa, melainkan ujian kecil tentang sejauh mana umat Islam mampu menjalankan toleransi dan menguatkan iman dari dalam diri sendiri.

Razia Larangan Penjual Daging Babi di Sumatra Utara Selama Ramadhan

Kasus razia dan larangan penjual daging babi di beberapa daerah di Sumatra Utara yang dilakukan khususnya selama bulan Ramadhan menjadi contoh penting tentang bagaimana penerapan aturan agama dan kebijakan publik perlu disertai dengan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai toleransi dan keadilan dalam Islam.

Dalam ajaran Islam, konsumsi daging babi adalah haram bagi umat Islam, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 173: “Maka makanlah dari apa yang halal lagi baik yang diberikan Allah kepadamu, dan bersyukurlah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah-Nya.” Namun, Islam tidak menghendaki pemaksaan larangan ini kepada non-muslim, bahkan tidak menghalangi mereka untuk mengkonsumsi atau menjual makanan yang sesuai dengan keyakinan mereka.

Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 1-6 menyatakan dengan jelas: “Katakanlah: ‘Kamu punya agamamu dan aku punya agamaku’.” Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalankan agamanya sendiri, selama tidak merugikan orang lain. Dari sisi fiqh, ulama seperti Imam Syafi’i dalam Kitab al-Umm dan Imam Malik dalam Al-Muwatta’ menjelaskan bahwa larangan terhadap makanan tertentu hanya berlaku bagi umat Islam sendiri, dan tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menghalangi hak orang lain dalam menjalankan kepercayaan mereka. Bahkan, Imam Abu Hanifah menekankan bahwa negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak-hak setiap warga negara, tanpa memandang agama atau keyakinan mereka.

Ketentuan larangan penjualan daging babi selama Ramadhan yang diterapkan melalui razia di beberapa daerah Sumatra Utara perlu dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, ada kesadaran masyarakat lokal untuk menjaga nuansa spiritual bulan Ramadhan. Di sisi lain, tindakan razia yang tidak disertai dengan pendekatan dialogis berisiko menciptakan kesenjangan antarumat beragama dan melanggar prinsip kebebasan beragama yang dijamin oleh hukum negara.

Tasawuf mengajarkan bahwa kebenaran agama tidak dapat ditegakkan dengan kekerasan atau paksaan, melainkan dengan kebaikan dan teladan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa hati yang bersih dan penuh kasih akan mampu menyebarkan pesan kebaikan dengan lebih efektif daripada tindakan yang mengganggu keharmonisan masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga kemurnian ibadah seharusnya tidak berujung pada konflik antarumat beragama, melainkan pada upaya memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai yang menjadi dasar persatuan bangsa.

Kasus tersebut juga menjadi refleksi bahwa keberhasilan dalam menjalankan ajaran agama tidak terletak pada kemampuan untuk memberlakukan aturan kepada orang lain, melainkan pada kemampuan untuk mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi teladan yang baik bagi sesama. Sebagai contoh, banyak komunitas muslim di Sumatra Utara yang secara sukarela membantu usaha makanan non-muslim dengan memberikan solusi alternatif, seperti memindahkan lokasi penjualan sementara atau membantu memasang penutup yang menghindarkan pandangan langsung, sehingga nuansa Ramadhan tetap terjaga tanpa melanggar hak orang lain.

Kekuatan Puasa Berasal dari Kejernihan Hati, Bukan dari Larangan Eksternal

Dalam perspektif tasawuf, puasa bukan hanya tentang menahan makan dan minum secara fisik, melainkan lebih pada membersihkan hati dari segala bentuk kotoran spiritual seperti keserakahan, dengki, dan cinta duniawi yang berlebihan. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Kitab al-Ghunya li-Talibi Tariq al-Haqiqa menjelaskan bahwa puasa adalah sarana untuk mencapai kedekatan kepada Allah (qurb), yang hanya dapat dicapai melalui kejernihan hati dan kesadaran diri yang mendalam.

Ilmiahnya, penelitian dalam bidang psikologi spiritual yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat tahun 2025 menunjukkan bahwa kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan konsisten lebih banyak dipengaruhi oleh motivasi internal daripada tekanan eksternal. Ketika seseorang memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan puasa dan merasa hubungan yang erat dengan Sang Pencipta, maka tidak ada hal eksternal yang dapat mengganggu konsistensinya dalam menjalankan ibadah tersebut. Sebaliknya, jika ibadah hanya didasarkan pada larangan eksternal atau ketakutan akan sangsi, maka ketika larangan tersebut tidak ada, kemungkinan untuk menyimpang akan lebih besar.

Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 162 menyatakan bahwa ibadah hanya semata-mata untuk Allah: “Sesungguhnya telah lama aku menyembah Allah sejak dahulu; tidak ada sekutu bagi-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa dasar dari setiap ibadah adalah kesadaran diri sebagai hamba yang tunduk kepada Allah, bukan karena pengaruh dari luar. Oleh karena itu, warung makan yang buka atau penjual daging babi tidak akan mampu menggoyahkan iman seseorang yang memiliki kejernihan hati dan pemahaman yang benar tentang tujuan ibadahnya.

Dalam konteks razia di Sumatra Utara, hal ini berarti bahwa kekuatan untuk menjalankan puasa dengan baik tidak bergantung pada apakah penjual daging babi beroperasi atau tidak, melainkan pada sejauh mana seorang muslim mampu menjaga kemurnian hati dan fokus pada hubungan dirinya dengan Allah selama bulan Ramadhan.

Cara Pandang dan Kesadaran Diri sebagai Fondasi Iman yang Teguh

Dalam Islam, kesadaran diri (ma’rifah nafs) merupakan langkah awal untuk mencapai kesadaran akan keberadaan Allah (ma’rifahullah). Para ahli tasawuf seperti Ibn Arabi dalam Fusus al-Hikam mengajarkan bahwa seseorang yang mengenal dirinya sendiri akan mampu mengenal Tuhannya, sehingga akan memiliki kekuatan yang besar untuk menahan segala godaan dan tantangan eksternal.

Cara pandang yang benar tentang kehidupan dan ibadah akan membuat seseorang mampu melihat fenomena sekitarnya dengan bijak. Warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan dapat dilihat sebagai bagian dari keragaman yang harus dihormati, bukan sebagai ancaman. Demikian pula, keberadaan penjual daging babi selama bulan Ramadhan dapat dilihat sebagai bagian dari kebebasan beragama yang harus dijaga, selama tidak ada paksaan atau penyalahgunaan. Sebagai alternatif, upaya yang lebih konstruktif adalah membangun komunikasi antara pemerintah lokal, masyarakat muslim, dan komunitas non-muslim untuk menemukan titik temu yang menghormati kedua pihak.

Kesadaran diri juga meliputi kesadaran akan tujuan hidup sebagai makhluk Allah, yaitu untuk beribadah dan mencari ridho-Nya. Ketika kesadaran ini telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka segala bentuk godaan dan gangguan eksternal tidak akan mampu mengubah tekadnya dalam menjalankan ibadah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberikan pemahaman kepada dia tentang agama”.

Di Sumatra Utara, banyak contoh positif bagaimana masyarakat muslim dan non-muslim bekerja sama untuk menjaga keharmonisan selama Ramadhan. Beberapa pedagang daging babi secara sukarela tidak berjualan selama siang hari dan hanya membuka pada malam hari, sementara masyarakat muslim memberikan dukungan dengan cara membeli produk lain yang dijual oleh para pedagang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi dan kerja sama dapat terwujud tanpa harus mengorbankan prinsip agama atau hak orang lain.

Kesimpulan

Fenomena warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan dan kasus razia larangan penjual daging babi di Sumatra Utara selama bulan suci menjadi cermin penting tentang bagaimana umat Islam harus menghadapi keragaman dalam masyarakat. Perspektif keislaman, baik dari sisi analisis ilmiah maupun tasawuf, menunjukkan bahwa toleransi adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam, dan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa tidak terletak pada larangan eksternal, melainkan pada kejernihan hati dan kesadaran diri yang mendalam.

Kita sebagai umat Islam di Indonesia, khususnya di Sumatra Utara, memiliki tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama sambil tetap teguh dalam menjalankan ajaran agama. Hal ini dapat dicapai dengan memperkuat pemahaman tentang agama, meningkatkan kesadaran diri sebagai hamba Allah, dan melihat perbedaan sebagai anugerah yang harus dijaga. Solusi yang lebih baik daripada razia adalah pendekatan yang berbasis dialog, edukasi, dan kerja sama yang menghormati hak-hak semua pihak.

Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan hartamu, melainkan Allah melihat hati dan amalmu”. Oleh karena itu, yang paling penting adalah menjaga kemurnian hati dan keteguhan iman dari dalam diri sendiri, sambil tetap menjadi bagian yang konstruktif dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis. [T]

Referensi

1. Al-Qur’an dan Terjemahannya

2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

3. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya’ Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama). Cetakan Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2020.

4. Nawawi, Imam. Minhaj al-Talibin. Cetakan Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019.

5. Abdul Qadir Al-Jailani. Kitab al-Ghunya li-Talibi Tariq al-Haqiqa. Cetakan Bandung: Pustaka Islam, 2021.

6. UU No. 1 Tahun 1965 tentang Pengesahan Piagam Jakarta

7. UU No. 20 Tahun 2008 tentang Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

8. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol. 12, No. 2, “Toleransi Beragama dalam Konteks Masyarakat Majemuk Indonesia: Studi Kasus Sumatra Utara”, 2025.

9. Qutb, Sayyid. Fi Zilal al-Qur’an (Dalam Bayang-Bayang Al-Qur’an). Jakarta: Bulan Bintang, 2019.

10. Muzadi, A. Hasyim. Psikologi Spiritual dalam Ajaran Islam. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2023.

11. Syafi’i, Imam. Kitab al-Umm. Cetakan Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2021.

12. Malik bin Anas. Al-Muwatta’. Cetakan Bandung: Pustaka Darul Ulum, 2020.

13. Ibn Arabi. Fusus al-Hikam (Intisari Hikmah). Cetakan Yogyakarta: Pustaka Islam Nusantara, 2022.

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Jaswanto

Tags: bulan puasaIslamPuasaRamadanRamadhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

by Isran Kamal
April 27, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

by Sugi Lanus
April 27, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co