22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 20, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Bulan Ramadhan membawa nuansa spiritual yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan keragaman penduduk yang khas. Fenomena menarik yang sering muncul adalah keberadaan warung makan yang tetap buka di siang hari selama bulan suci, serta dinamika sosial yang menyertai keberagaman agama dan budaya di tengah masyarakat.

Di sisi lain, kasus razia dan larangan penjual daging babi di beberapa daerah Sumatra Utara khususnya selama bulan Ramadhan beberapa waktu lalu menjadi titik cerminan penting tentang bagaimana aturan agama, kebijakan lokal, dan kehidupan berbangsa saling berinteraksi.

Perspektif keislaman, baik dari sisi analisis ilmiah maupun tasawuf, menawarkan pandangan mendalam bahwa kekuatan puasa tidak terletak pada larangan eksternal terhadap hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan ibadah, melainkan pada kejernihan hati dan kesadaran diri yang membuahkan kekuatan iman yang kokoh.

Warung Makan yang Buka di Siang Hari: Antara Aturan dan Toleransi

Dalam ajaran Islam, ibadah puasa merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap muslim yang mampu, dengan batasan-batasan yang jelas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183-187: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa… Makan dan minumlah hingga terang jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai waktu matahari terbenam.” Namun, Islam juga mengajarkan tentang pentingnya toleransi terhadap perbedaan, terutama dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Secara hukum Islam (fiqh), tidak ada ketentuan yang mengharuskan usaha makanan milik non-muslim atau muslim yang tidak berpuasa untuk ditutup selama siang hari Ramadhan. Para ulama mazhab berbeda sepakat bahwa kebebasan beribadah dan menjalankan aktivitas ekonomi yang halal harus dihormati, selama tidak ada paksaan atau gangguan terhadap orang yang sedang berpuasa. Imam Al-Nawawi dalam Minhaj al-Talibin menjelaskan bahwa menjaga keharmonisan antarumat beragama adalah bagian dari ibadah yang memperkuat tali persaudaraan umat manusia.

Fenomena “tirai setengah tiang” yang sering ditemui di warung makan selama Ramadhan menjadi simbol toleransi yang indah. Banyak pedagang, baik muslim maupun non-muslim, sengaja memasang tirai atau memposisikan meja sedemikian rupa agar aktivitas makan mereka tidak terlihat langsung oleh orang yang berpuasa. Hal ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya menghormati ibadah orang lain tanpa harus menyamakan pola hidup. Dari sisi tasawuf, hal ini merupakan bentuk wujud cinta kasih (mahabbah) yang diajarkan oleh Islam terhadap seluruh makhluk Allah, tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Dalam konteks Indonesia, UU No. 1 tahun 1965 tentang Pengesahan Piagam Jakarta serta UU No. 20 tahun 2008 tentang Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi landasan hukum yang menjamin kebebasan beragama sekaligus mengharuskan penghormatan terhadap perbedaan. Oleh karena itu, keberadaan warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan bukanlah ancaman terhadap ibadah puasa, melainkan ujian kecil tentang sejauh mana umat Islam mampu menjalankan toleransi dan menguatkan iman dari dalam diri sendiri.

Razia Larangan Penjual Daging Babi di Sumatra Utara Selama Ramadhan

Kasus razia dan larangan penjual daging babi di beberapa daerah di Sumatra Utara yang dilakukan khususnya selama bulan Ramadhan menjadi contoh penting tentang bagaimana penerapan aturan agama dan kebijakan publik perlu disertai dengan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai toleransi dan keadilan dalam Islam.

Dalam ajaran Islam, konsumsi daging babi adalah haram bagi umat Islam, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 173: “Maka makanlah dari apa yang halal lagi baik yang diberikan Allah kepadamu, dan bersyukurlah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah-Nya.” Namun, Islam tidak menghendaki pemaksaan larangan ini kepada non-muslim, bahkan tidak menghalangi mereka untuk mengkonsumsi atau menjual makanan yang sesuai dengan keyakinan mereka.

Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 1-6 menyatakan dengan jelas: “Katakanlah: ‘Kamu punya agamamu dan aku punya agamaku’.” Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalankan agamanya sendiri, selama tidak merugikan orang lain. Dari sisi fiqh, ulama seperti Imam Syafi’i dalam Kitab al-Umm dan Imam Malik dalam Al-Muwatta’ menjelaskan bahwa larangan terhadap makanan tertentu hanya berlaku bagi umat Islam sendiri, dan tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menghalangi hak orang lain dalam menjalankan kepercayaan mereka. Bahkan, Imam Abu Hanifah menekankan bahwa negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak-hak setiap warga negara, tanpa memandang agama atau keyakinan mereka.

Ketentuan larangan penjualan daging babi selama Ramadhan yang diterapkan melalui razia di beberapa daerah Sumatra Utara perlu dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, ada kesadaran masyarakat lokal untuk menjaga nuansa spiritual bulan Ramadhan. Di sisi lain, tindakan razia yang tidak disertai dengan pendekatan dialogis berisiko menciptakan kesenjangan antarumat beragama dan melanggar prinsip kebebasan beragama yang dijamin oleh hukum negara.

Tasawuf mengajarkan bahwa kebenaran agama tidak dapat ditegakkan dengan kekerasan atau paksaan, melainkan dengan kebaikan dan teladan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa hati yang bersih dan penuh kasih akan mampu menyebarkan pesan kebaikan dengan lebih efektif daripada tindakan yang mengganggu keharmonisan masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga kemurnian ibadah seharusnya tidak berujung pada konflik antarumat beragama, melainkan pada upaya memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai yang menjadi dasar persatuan bangsa.

Kasus tersebut juga menjadi refleksi bahwa keberhasilan dalam menjalankan ajaran agama tidak terletak pada kemampuan untuk memberlakukan aturan kepada orang lain, melainkan pada kemampuan untuk mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi teladan yang baik bagi sesama. Sebagai contoh, banyak komunitas muslim di Sumatra Utara yang secara sukarela membantu usaha makanan non-muslim dengan memberikan solusi alternatif, seperti memindahkan lokasi penjualan sementara atau membantu memasang penutup yang menghindarkan pandangan langsung, sehingga nuansa Ramadhan tetap terjaga tanpa melanggar hak orang lain.

Kekuatan Puasa Berasal dari Kejernihan Hati, Bukan dari Larangan Eksternal

Dalam perspektif tasawuf, puasa bukan hanya tentang menahan makan dan minum secara fisik, melainkan lebih pada membersihkan hati dari segala bentuk kotoran spiritual seperti keserakahan, dengki, dan cinta duniawi yang berlebihan. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Kitab al-Ghunya li-Talibi Tariq al-Haqiqa menjelaskan bahwa puasa adalah sarana untuk mencapai kedekatan kepada Allah (qurb), yang hanya dapat dicapai melalui kejernihan hati dan kesadaran diri yang mendalam.

Ilmiahnya, penelitian dalam bidang psikologi spiritual yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat tahun 2025 menunjukkan bahwa kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan konsisten lebih banyak dipengaruhi oleh motivasi internal daripada tekanan eksternal. Ketika seseorang memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan puasa dan merasa hubungan yang erat dengan Sang Pencipta, maka tidak ada hal eksternal yang dapat mengganggu konsistensinya dalam menjalankan ibadah tersebut. Sebaliknya, jika ibadah hanya didasarkan pada larangan eksternal atau ketakutan akan sangsi, maka ketika larangan tersebut tidak ada, kemungkinan untuk menyimpang akan lebih besar.

Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 162 menyatakan bahwa ibadah hanya semata-mata untuk Allah: “Sesungguhnya telah lama aku menyembah Allah sejak dahulu; tidak ada sekutu bagi-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa dasar dari setiap ibadah adalah kesadaran diri sebagai hamba yang tunduk kepada Allah, bukan karena pengaruh dari luar. Oleh karena itu, warung makan yang buka atau penjual daging babi tidak akan mampu menggoyahkan iman seseorang yang memiliki kejernihan hati dan pemahaman yang benar tentang tujuan ibadahnya.

Dalam konteks razia di Sumatra Utara, hal ini berarti bahwa kekuatan untuk menjalankan puasa dengan baik tidak bergantung pada apakah penjual daging babi beroperasi atau tidak, melainkan pada sejauh mana seorang muslim mampu menjaga kemurnian hati dan fokus pada hubungan dirinya dengan Allah selama bulan Ramadhan.

Cara Pandang dan Kesadaran Diri sebagai Fondasi Iman yang Teguh

Dalam Islam, kesadaran diri (ma’rifah nafs) merupakan langkah awal untuk mencapai kesadaran akan keberadaan Allah (ma’rifahullah). Para ahli tasawuf seperti Ibn Arabi dalam Fusus al-Hikam mengajarkan bahwa seseorang yang mengenal dirinya sendiri akan mampu mengenal Tuhannya, sehingga akan memiliki kekuatan yang besar untuk menahan segala godaan dan tantangan eksternal.

Cara pandang yang benar tentang kehidupan dan ibadah akan membuat seseorang mampu melihat fenomena sekitarnya dengan bijak. Warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan dapat dilihat sebagai bagian dari keragaman yang harus dihormati, bukan sebagai ancaman. Demikian pula, keberadaan penjual daging babi selama bulan Ramadhan dapat dilihat sebagai bagian dari kebebasan beragama yang harus dijaga, selama tidak ada paksaan atau penyalahgunaan. Sebagai alternatif, upaya yang lebih konstruktif adalah membangun komunikasi antara pemerintah lokal, masyarakat muslim, dan komunitas non-muslim untuk menemukan titik temu yang menghormati kedua pihak.

Kesadaran diri juga meliputi kesadaran akan tujuan hidup sebagai makhluk Allah, yaitu untuk beribadah dan mencari ridho-Nya. Ketika kesadaran ini telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka segala bentuk godaan dan gangguan eksternal tidak akan mampu mengubah tekadnya dalam menjalankan ibadah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberikan pemahaman kepada dia tentang agama”.

Di Sumatra Utara, banyak contoh positif bagaimana masyarakat muslim dan non-muslim bekerja sama untuk menjaga keharmonisan selama Ramadhan. Beberapa pedagang daging babi secara sukarela tidak berjualan selama siang hari dan hanya membuka pada malam hari, sementara masyarakat muslim memberikan dukungan dengan cara membeli produk lain yang dijual oleh para pedagang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi dan kerja sama dapat terwujud tanpa harus mengorbankan prinsip agama atau hak orang lain.

Kesimpulan

Fenomena warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan dan kasus razia larangan penjual daging babi di Sumatra Utara selama bulan suci menjadi cermin penting tentang bagaimana umat Islam harus menghadapi keragaman dalam masyarakat. Perspektif keislaman, baik dari sisi analisis ilmiah maupun tasawuf, menunjukkan bahwa toleransi adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam, dan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa tidak terletak pada larangan eksternal, melainkan pada kejernihan hati dan kesadaran diri yang mendalam.

Kita sebagai umat Islam di Indonesia, khususnya di Sumatra Utara, memiliki tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama sambil tetap teguh dalam menjalankan ajaran agama. Hal ini dapat dicapai dengan memperkuat pemahaman tentang agama, meningkatkan kesadaran diri sebagai hamba Allah, dan melihat perbedaan sebagai anugerah yang harus dijaga. Solusi yang lebih baik daripada razia adalah pendekatan yang berbasis dialog, edukasi, dan kerja sama yang menghormati hak-hak semua pihak.

Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan hartamu, melainkan Allah melihat hati dan amalmu”. Oleh karena itu, yang paling penting adalah menjaga kemurnian hati dan keteguhan iman dari dalam diri sendiri, sambil tetap menjadi bagian yang konstruktif dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis. [T]

Referensi

1. Al-Qur’an dan Terjemahannya

2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

3. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya’ Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama). Cetakan Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2020.

4. Nawawi, Imam. Minhaj al-Talibin. Cetakan Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019.

5. Abdul Qadir Al-Jailani. Kitab al-Ghunya li-Talibi Tariq al-Haqiqa. Cetakan Bandung: Pustaka Islam, 2021.

6. UU No. 1 Tahun 1965 tentang Pengesahan Piagam Jakarta

7. UU No. 20 Tahun 2008 tentang Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

8. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol. 12, No. 2, “Toleransi Beragama dalam Konteks Masyarakat Majemuk Indonesia: Studi Kasus Sumatra Utara”, 2025.

9. Qutb, Sayyid. Fi Zilal al-Qur’an (Dalam Bayang-Bayang Al-Qur’an). Jakarta: Bulan Bintang, 2019.

10. Muzadi, A. Hasyim. Psikologi Spiritual dalam Ajaran Islam. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2023.

11. Syafi’i, Imam. Kitab al-Umm. Cetakan Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2021.

12. Malik bin Anas. Al-Muwatta’. Cetakan Bandung: Pustaka Darul Ulum, 2020.

13. Ibn Arabi. Fusus al-Hikam (Intisari Hikmah). Cetakan Yogyakarta: Pustaka Islam Nusantara, 2022.

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Jaswanto

Tags: bulan puasaIslamPuasaRamadanRamadhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co