2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toleransi Tirai Setengah Tiang di Warung Makan: Perspektif Keislaman tentang Aturan, Keragaman, dan Kedalaman Iman dalam Bulan Ramadhan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 20, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Bulan Ramadhan membawa nuansa spiritual yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dengan keragaman penduduk yang khas. Fenomena menarik yang sering muncul adalah keberadaan warung makan yang tetap buka di siang hari selama bulan suci, serta dinamika sosial yang menyertai keberagaman agama dan budaya di tengah masyarakat.

Di sisi lain, kasus razia dan larangan penjual daging babi di beberapa daerah Sumatra Utara khususnya selama bulan Ramadhan beberapa waktu lalu menjadi titik cerminan penting tentang bagaimana aturan agama, kebijakan lokal, dan kehidupan berbangsa saling berinteraksi.

Perspektif keislaman, baik dari sisi analisis ilmiah maupun tasawuf, menawarkan pandangan mendalam bahwa kekuatan puasa tidak terletak pada larangan eksternal terhadap hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan ibadah, melainkan pada kejernihan hati dan kesadaran diri yang membuahkan kekuatan iman yang kokoh.

Warung Makan yang Buka di Siang Hari: Antara Aturan dan Toleransi

Dalam ajaran Islam, ibadah puasa merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap muslim yang mampu, dengan batasan-batasan yang jelas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183-187: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa… Makan dan minumlah hingga terang jelas bagi kamu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai waktu matahari terbenam.” Namun, Islam juga mengajarkan tentang pentingnya toleransi terhadap perbedaan, terutama dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Secara hukum Islam (fiqh), tidak ada ketentuan yang mengharuskan usaha makanan milik non-muslim atau muslim yang tidak berpuasa untuk ditutup selama siang hari Ramadhan. Para ulama mazhab berbeda sepakat bahwa kebebasan beribadah dan menjalankan aktivitas ekonomi yang halal harus dihormati, selama tidak ada paksaan atau gangguan terhadap orang yang sedang berpuasa. Imam Al-Nawawi dalam Minhaj al-Talibin menjelaskan bahwa menjaga keharmonisan antarumat beragama adalah bagian dari ibadah yang memperkuat tali persaudaraan umat manusia.

Fenomena “tirai setengah tiang” yang sering ditemui di warung makan selama Ramadhan menjadi simbol toleransi yang indah. Banyak pedagang, baik muslim maupun non-muslim, sengaja memasang tirai atau memposisikan meja sedemikian rupa agar aktivitas makan mereka tidak terlihat langsung oleh orang yang berpuasa. Hal ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya menghormati ibadah orang lain tanpa harus menyamakan pola hidup. Dari sisi tasawuf, hal ini merupakan bentuk wujud cinta kasih (mahabbah) yang diajarkan oleh Islam terhadap seluruh makhluk Allah, tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Dalam konteks Indonesia, UU No. 1 tahun 1965 tentang Pengesahan Piagam Jakarta serta UU No. 20 tahun 2008 tentang Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi landasan hukum yang menjamin kebebasan beragama sekaligus mengharuskan penghormatan terhadap perbedaan. Oleh karena itu, keberadaan warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan bukanlah ancaman terhadap ibadah puasa, melainkan ujian kecil tentang sejauh mana umat Islam mampu menjalankan toleransi dan menguatkan iman dari dalam diri sendiri.

Razia Larangan Penjual Daging Babi di Sumatra Utara Selama Ramadhan

Kasus razia dan larangan penjual daging babi di beberapa daerah di Sumatra Utara yang dilakukan khususnya selama bulan Ramadhan menjadi contoh penting tentang bagaimana penerapan aturan agama dan kebijakan publik perlu disertai dengan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai toleransi dan keadilan dalam Islam.

Dalam ajaran Islam, konsumsi daging babi adalah haram bagi umat Islam, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 173: “Maka makanlah dari apa yang halal lagi baik yang diberikan Allah kepadamu, dan bersyukurlah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah-Nya.” Namun, Islam tidak menghendaki pemaksaan larangan ini kepada non-muslim, bahkan tidak menghalangi mereka untuk mengkonsumsi atau menjual makanan yang sesuai dengan keyakinan mereka.

Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 1-6 menyatakan dengan jelas: “Katakanlah: ‘Kamu punya agamamu dan aku punya agamaku’.” Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalankan agamanya sendiri, selama tidak merugikan orang lain. Dari sisi fiqh, ulama seperti Imam Syafi’i dalam Kitab al-Umm dan Imam Malik dalam Al-Muwatta’ menjelaskan bahwa larangan terhadap makanan tertentu hanya berlaku bagi umat Islam sendiri, dan tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menghalangi hak orang lain dalam menjalankan kepercayaan mereka. Bahkan, Imam Abu Hanifah menekankan bahwa negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak-hak setiap warga negara, tanpa memandang agama atau keyakinan mereka.

Ketentuan larangan penjualan daging babi selama Ramadhan yang diterapkan melalui razia di beberapa daerah Sumatra Utara perlu dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, ada kesadaran masyarakat lokal untuk menjaga nuansa spiritual bulan Ramadhan. Di sisi lain, tindakan razia yang tidak disertai dengan pendekatan dialogis berisiko menciptakan kesenjangan antarumat beragama dan melanggar prinsip kebebasan beragama yang dijamin oleh hukum negara.

Tasawuf mengajarkan bahwa kebenaran agama tidak dapat ditegakkan dengan kekerasan atau paksaan, melainkan dengan kebaikan dan teladan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa hati yang bersih dan penuh kasih akan mampu menyebarkan pesan kebaikan dengan lebih efektif daripada tindakan yang mengganggu keharmonisan masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga kemurnian ibadah seharusnya tidak berujung pada konflik antarumat beragama, melainkan pada upaya memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai yang menjadi dasar persatuan bangsa.

Kasus tersebut juga menjadi refleksi bahwa keberhasilan dalam menjalankan ajaran agama tidak terletak pada kemampuan untuk memberlakukan aturan kepada orang lain, melainkan pada kemampuan untuk mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi teladan yang baik bagi sesama. Sebagai contoh, banyak komunitas muslim di Sumatra Utara yang secara sukarela membantu usaha makanan non-muslim dengan memberikan solusi alternatif, seperti memindahkan lokasi penjualan sementara atau membantu memasang penutup yang menghindarkan pandangan langsung, sehingga nuansa Ramadhan tetap terjaga tanpa melanggar hak orang lain.

Kekuatan Puasa Berasal dari Kejernihan Hati, Bukan dari Larangan Eksternal

Dalam perspektif tasawuf, puasa bukan hanya tentang menahan makan dan minum secara fisik, melainkan lebih pada membersihkan hati dari segala bentuk kotoran spiritual seperti keserakahan, dengki, dan cinta duniawi yang berlebihan. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Kitab al-Ghunya li-Talibi Tariq al-Haqiqa menjelaskan bahwa puasa adalah sarana untuk mencapai kedekatan kepada Allah (qurb), yang hanya dapat dicapai melalui kejernihan hati dan kesadaran diri yang mendalam.

Ilmiahnya, penelitian dalam bidang psikologi spiritual yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat tahun 2025 menunjukkan bahwa kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan konsisten lebih banyak dipengaruhi oleh motivasi internal daripada tekanan eksternal. Ketika seseorang memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan puasa dan merasa hubungan yang erat dengan Sang Pencipta, maka tidak ada hal eksternal yang dapat mengganggu konsistensinya dalam menjalankan ibadah tersebut. Sebaliknya, jika ibadah hanya didasarkan pada larangan eksternal atau ketakutan akan sangsi, maka ketika larangan tersebut tidak ada, kemungkinan untuk menyimpang akan lebih besar.

Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 162 menyatakan bahwa ibadah hanya semata-mata untuk Allah: “Sesungguhnya telah lama aku menyembah Allah sejak dahulu; tidak ada sekutu bagi-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa dasar dari setiap ibadah adalah kesadaran diri sebagai hamba yang tunduk kepada Allah, bukan karena pengaruh dari luar. Oleh karena itu, warung makan yang buka atau penjual daging babi tidak akan mampu menggoyahkan iman seseorang yang memiliki kejernihan hati dan pemahaman yang benar tentang tujuan ibadahnya.

Dalam konteks razia di Sumatra Utara, hal ini berarti bahwa kekuatan untuk menjalankan puasa dengan baik tidak bergantung pada apakah penjual daging babi beroperasi atau tidak, melainkan pada sejauh mana seorang muslim mampu menjaga kemurnian hati dan fokus pada hubungan dirinya dengan Allah selama bulan Ramadhan.

Cara Pandang dan Kesadaran Diri sebagai Fondasi Iman yang Teguh

Dalam Islam, kesadaran diri (ma’rifah nafs) merupakan langkah awal untuk mencapai kesadaran akan keberadaan Allah (ma’rifahullah). Para ahli tasawuf seperti Ibn Arabi dalam Fusus al-Hikam mengajarkan bahwa seseorang yang mengenal dirinya sendiri akan mampu mengenal Tuhannya, sehingga akan memiliki kekuatan yang besar untuk menahan segala godaan dan tantangan eksternal.

Cara pandang yang benar tentang kehidupan dan ibadah akan membuat seseorang mampu melihat fenomena sekitarnya dengan bijak. Warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan dapat dilihat sebagai bagian dari keragaman yang harus dihormati, bukan sebagai ancaman. Demikian pula, keberadaan penjual daging babi selama bulan Ramadhan dapat dilihat sebagai bagian dari kebebasan beragama yang harus dijaga, selama tidak ada paksaan atau penyalahgunaan. Sebagai alternatif, upaya yang lebih konstruktif adalah membangun komunikasi antara pemerintah lokal, masyarakat muslim, dan komunitas non-muslim untuk menemukan titik temu yang menghormati kedua pihak.

Kesadaran diri juga meliputi kesadaran akan tujuan hidup sebagai makhluk Allah, yaitu untuk beribadah dan mencari ridho-Nya. Ketika kesadaran ini telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka segala bentuk godaan dan gangguan eksternal tidak akan mampu mengubah tekadnya dalam menjalankan ibadah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberikan pemahaman kepada dia tentang agama”.

Di Sumatra Utara, banyak contoh positif bagaimana masyarakat muslim dan non-muslim bekerja sama untuk menjaga keharmonisan selama Ramadhan. Beberapa pedagang daging babi secara sukarela tidak berjualan selama siang hari dan hanya membuka pada malam hari, sementara masyarakat muslim memberikan dukungan dengan cara membeli produk lain yang dijual oleh para pedagang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi dan kerja sama dapat terwujud tanpa harus mengorbankan prinsip agama atau hak orang lain.

Kesimpulan

Fenomena warung makan yang buka selama siang hari Ramadhan dan kasus razia larangan penjual daging babi di Sumatra Utara selama bulan suci menjadi cermin penting tentang bagaimana umat Islam harus menghadapi keragaman dalam masyarakat. Perspektif keislaman, baik dari sisi analisis ilmiah maupun tasawuf, menunjukkan bahwa toleransi adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam, dan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa tidak terletak pada larangan eksternal, melainkan pada kejernihan hati dan kesadaran diri yang mendalam.

Kita sebagai umat Islam di Indonesia, khususnya di Sumatra Utara, memiliki tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama sambil tetap teguh dalam menjalankan ajaran agama. Hal ini dapat dicapai dengan memperkuat pemahaman tentang agama, meningkatkan kesadaran diri sebagai hamba Allah, dan melihat perbedaan sebagai anugerah yang harus dijaga. Solusi yang lebih baik daripada razia adalah pendekatan yang berbasis dialog, edukasi, dan kerja sama yang menghormati hak-hak semua pihak.

Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan hartamu, melainkan Allah melihat hati dan amalmu”. Oleh karena itu, yang paling penting adalah menjaga kemurnian hati dan keteguhan iman dari dalam diri sendiri, sambil tetap menjadi bagian yang konstruktif dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis. [T]

Referensi

1. Al-Qur’an dan Terjemahannya

2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

3. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya’ Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama). Cetakan Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2020.

4. Nawawi, Imam. Minhaj al-Talibin. Cetakan Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019.

5. Abdul Qadir Al-Jailani. Kitab al-Ghunya li-Talibi Tariq al-Haqiqa. Cetakan Bandung: Pustaka Islam, 2021.

6. UU No. 1 Tahun 1965 tentang Pengesahan Piagam Jakarta

7. UU No. 20 Tahun 2008 tentang Kemerdekaan Beragama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

8. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol. 12, No. 2, “Toleransi Beragama dalam Konteks Masyarakat Majemuk Indonesia: Studi Kasus Sumatra Utara”, 2025.

9. Qutb, Sayyid. Fi Zilal al-Qur’an (Dalam Bayang-Bayang Al-Qur’an). Jakarta: Bulan Bintang, 2019.

10. Muzadi, A. Hasyim. Psikologi Spiritual dalam Ajaran Islam. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2023.

11. Syafi’i, Imam. Kitab al-Umm. Cetakan Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2021.

12. Malik bin Anas. Al-Muwatta’. Cetakan Bandung: Pustaka Darul Ulum, 2020.

13. Ibn Arabi. Fusus al-Hikam (Intisari Hikmah). Cetakan Yogyakarta: Pustaka Islam Nusantara, 2022.

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Jaswanto

Tags: bulan puasaIslamPuasaRamadanRamadhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co