4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 20, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, mungkin tak banyak dari kita yang tahu, bahwa tanggal 20 Februari diperingati sebagai Hari Pekerja di Indonesia. Bukan 1 Mei, yang sarat dengan sejarah gerakan buruh global itu.

Hari Pekerja adalah sebuah momentum domestik yang seolah ingin mengajak kita untuk bicara tentang kerja dengan bahasa kita sendiri. Sebagai mantan pengangguran, dan jika Anda juga pernah mengalaminya, tentu akan paham bahwa mendapatkan suatu pekerjaan memiliki dimensi yang kompleks.

Tidak sekadar mendapatkan uang, namun juga menyangkut harga diri dan cara kita memandang dunia.  Nah, dalam dunia yang saat ini dipenuhi gejolak tidak pasti soal ketersediaan lapangan pekerjaan, masihkah dewasa ini kerja kita pahami sebagai sesuatu yang luhur? Atau ia sudah menyempit menjadi sekadar cara agar asal tidak mati?

Dimensi Kerja Ala Nusantara

Di tengah gelombang PHK, ekonomi gig, target Key Performance Indicator, dan hustle culture alias kerja gila-gilaan yang dipamerkan di media sosial, kerja sering tampak seperti medan kompetisi tanpa ada habisnya. Orang bekerja bukan lagi untuk hidup yang bermakna, melainkan untuk bertahan hidup.

Bahkan lebih jauh, kadang cuma untuk mengejar gaya hidup. Kita mengukur nilai diri dari jabatan, slip gaji, atau jumlah proyek. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang salah. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang gagal.

Kita hidup di Nusantara yang kaya dengan berbagai budaya yang setelah saya rasa-rasa, luar biasa arifnya.

Dalam banyak tradisi Nusantara, kerja bukanlah sekadar alat survival. Ia adalah laku hidup.  Mari kita tengok beberapa. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, mengandung makna aktif bekerja, giat berkontribusi namun tidak egois, dan tidak bekerja semata demi kepentingan diri sendiri. Kerja dilihat sebagai pengabdian, bukan sekadar ambisi. Bekerja bukan hanya demi diri sendiri, tetapi demi keseimbangan sosial. Ada etika, ada rasa cukup, ada harmoni. Kerja bukan hanya soal hasil, tetapi tentang cara.

Ungkapan lain, “jer basuki mawa bea”. Meski ini dapat diterapkan secara beragam, namun dalam konteks bekerja, pepatah ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan menuntut pengorbanan. Artinya, kerja bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan proses pembentukan watak. Orang ditempa melalui kesungguhan.

Keluhuran kerja terletak pada kesediaan menanggung beban dengan tanggung jawab moral.  Bahkan konsep gotong royong, yang pernah ditegaskan sebagai dasar kebangsaan oleh Soekarno, menempatkan kerja dalam bingkai kolektif. Kerja bukan kompetisi brutal, melainkan partisipasi bersama. Ada kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian. Dengan dan melalui pekerjaan itulah manusia saling menempatkan tanggung jawabnya satu sama lain.

Namun modernitas tanpa bisa dihindari membawa pergeseran halus. Kerja lalu menjadi bersifat individual. Pasar menggantikan komunitas. Solidaritas berubah menjadi persaingan. Kita hidup dalam masyarakat yang memuja produktivitas. Filsuf Jerman Hannah Arendt membedakan antara labor yaitu kerja untuk bertahan hidup, work yaitu menciptakan dunia buatan manusia, dan action yang merupakan tindakan politik sebagai warga.

Dalam masyarakat modern, kata Arendt, manusia direduksi menjadi animal laborans, istilah yang menggambarkan makhluk yang terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Hidup menjadi siklus tanpa akhir, dari kerja, lanjut konsumsi, kerja lagi. Demikian saja terus-menerus.  Kita mungkin menjalaninya, namun tidak menyadarinya.  Tetapi ketika manusia hanya diukur dari produktivitas, ia kehilangan ruang untuk berpikir, untuk berpolitik, untuk bertindak sebagai warga. Yang terjadi adalah menusia menjadi mesin biologis yang efisien, yang bukan untuk dirinya sendiri. 

Kini dalam zaman yang disebut Byung-Chul Han sebagai achievement society, manusia tidak lagi ditindas oleh kekuasaan eksternal. Kini manusia menindas dirinya sendiri. Kita memaksa diri untuk terus naik level, terus berkembang, terus produktif. Dengan demikian burnout bukan suatu kecelakaan, melainkan konsekuensi logis. Ironisnya, kita merasa bebas padahal sedang mengeksploitasi diri.

Apakah ini berarti bekerja demi bertahan hidup itu rendah? Tidak sesederhana itu.  Kita pikir logis dan realistis saja. Secara biologis, manusia memang harus makan, harus bertahan hidup. Petani, nelayan, buruh, tukang, montir apa pun itu, mereka semua bekerja keras demi kebutuhan dasar. Namun dalam budaya Nusantara, kerja untuk hidup tidak pernah dianggap hina. Ia tetap luhur karena ada kesadaran etis dan spiritual.

Ungkapan “Gusti ora sare” yang berarti Tuhan tidak tidur, selalu mengingatkan bahwa kerja adalah ruang integritas. Bahkan ketika tak ada yang melihat, ada dimensi moral yang menyertai. Kerja menjadi ibadah, bukan sekadar produksi. Masalah muncul ketika kerja kehilangan dimensi itu. Ketika nilai diganti angka. Ketika martabat diganti performa. Ketika manusia kemudian direduksi menjadi sumber daya.

Di titik ini, jika ada kritik bahwa manusia kemudian seolah menjadi seperti binatang karena hanya mengejar kelangsungan hidup perlu diluruskan. Hewan memang hidup berdasarkan insting. Tetapi manusia tidak berhenti pada insting. Ia memiliki refleksi, kesadaran, etika. Yang membuat manusia bukan sekadar fakta bahwa ia butuh makan, melainkan kemampuannya memberi makna pada aktivitasnya.  Jika makna itu hilang, yang terjadi bukan manusia lantas menjadi hewan, melainkan manusia kehilangan kemanusiaannya.

Kita bisa melihatnya dalam fenomena pekerja yang merasa hampa meski bergaji tinggi. Atau generasi muda kita yang cemas karena merasa tertinggal dalam perlombaan karier. Atau rekan-rekan pegawai yang terjebak rutinitas birokrasi tanpa adanya sruang kreativitas. Mereka semua bukan malas, bukan juga tidak bersyukur. Mereka mungkin sedang mengalami krisis makna.

Di sinilah saya yakin kearifan Nusantara menjadi relevan. Kerja harus bisa dipahami sebagai bagian dari harmoni kosmis. Coba kita perhatikan baik-baik, bagaimana dalam masyarakat agraris, orang bekerja bersama alam, bukan melawannya. Dalam semangat gotong royong, orang akan bekerja bersama sesamanya, bukan saling menjatuhkan. Di sinilah, dalam laku spiritual, kerja adalah suatu pembentukan diri.

Menghidupkan Makna kerja

Modernitas memang tidak bisa ditolak. Kita tidak mungkin kembali sepenuhnya ke pola agraris komunal seperti jaman kakek nenek kita. Namun kita bisa menghidupkan kembali ruhnya. Pertama, kita bisa memulihkan dimensi kolektif kerja. Bahwa keberhasilan individu selalu ditopang oleh struktur sosial. Bahwa solidaritas bukan sekedar romantisme, melainkan kebutuhan.

Yang kedua, memulihkan dimensi etis kerja. Menekankan kembali bahwa cara lebih penting daripada sekadar hasil. Bahwa integritas tidak bisa ditukar dengan target.  Kemudian yang ketiga, memulihkan dimensi makna kerja. Bahwa manusia tidak hidup hanya untuk produksi dan konsumsi, seperti apa yang di depan disebut sebagai animal laborans. Bekerja merupakan sisi kehidupan untuk relasi, untuk kontribusi, untuk pertumbuhan batin.

Dari omong-omong tadi, bisa kita tarik kesepakatan bahwa tanggal 20 Februari seharusnya tidak berhenti sekadar sebagai peringatan. Ia bisa menjadi momen refleksi untuk siapa kita bekerja? Untuk apa kita bekerja? Lalu apakah kerja kita bisa memanusiakan diri dan orang lain, atau malah justru mengerdilkan?

Kerja yang luhur bukan kerja yang glamor. Ia bisa jadi sangat sederhana. Seorang guru yang mengajar dengan hati. Seorang petani yang setia merawat tanah garapannya. Seorang pegawai yang meski rendahan, namun tetap jujur dalam tugasnya. Seorang pengusaha yang tidak menindas pekerjanya, dan sebagainya. Karena apa yang disebut keluhuran kerja, terletak pada kesadaran bahwa manusia adalah subjek, bukan alat.

Bekerja dengan Harapan

Indonesia tercinta kita ini dibangun oleh kerja, dari sawah hingga pabrik, dari kantor desa hingga ruang sidang. Tetapi tidak itu saja, Indonesia juga dibangun oleh nilai yang menyertai kerja itu, seperti gotong royong, rasa syukur, pengabdian, dan integritas.  Mungkin kita tidak bisa mengubah sistem global yang kompetitif dalam sekejap. Namun kita bisa memulai dari cara kita memaknai kerja. 

Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan zaman ini, semoga saja kita tidak kehilangan jiwa dalam bekerja. Semoga juga, kita tidak terjebak menjadi sekadar mesin produktif. Semoga lagi, kita tetap ingat bahwa kerja bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang membangun martabat.

Dan masih semoga, bagaimana pun keadaan kita masing-masing di Indonesia ini, pada setiap tanggal 20 Februari kita dapat memahami kembali bahwa kerja adalah sesuatu yang luhur, sesuatu yang memanusiakan manusia. Memang kalau bicara soal kondisi kerja di Indonesia, banyak sekali kata semoganya. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dunia KerjaHari Pekerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Membaca 'Lampah Sang Pragina', Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co