4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 20, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, mungkin tak banyak dari kita yang tahu, bahwa tanggal 20 Februari diperingati sebagai Hari Pekerja di Indonesia. Bukan 1 Mei, yang sarat dengan sejarah gerakan buruh global itu.

Hari Pekerja adalah sebuah momentum domestik yang seolah ingin mengajak kita untuk bicara tentang kerja dengan bahasa kita sendiri. Sebagai mantan pengangguran, dan jika Anda juga pernah mengalaminya, tentu akan paham bahwa mendapatkan suatu pekerjaan memiliki dimensi yang kompleks.

Tidak sekadar mendapatkan uang, namun juga menyangkut harga diri dan cara kita memandang dunia.  Nah, dalam dunia yang saat ini dipenuhi gejolak tidak pasti soal ketersediaan lapangan pekerjaan, masihkah dewasa ini kerja kita pahami sebagai sesuatu yang luhur? Atau ia sudah menyempit menjadi sekadar cara agar asal tidak mati?

Dimensi Kerja Ala Nusantara

Di tengah gelombang PHK, ekonomi gig, target Key Performance Indicator, dan hustle culture alias kerja gila-gilaan yang dipamerkan di media sosial, kerja sering tampak seperti medan kompetisi tanpa ada habisnya. Orang bekerja bukan lagi untuk hidup yang bermakna, melainkan untuk bertahan hidup.

Bahkan lebih jauh, kadang cuma untuk mengejar gaya hidup. Kita mengukur nilai diri dari jabatan, slip gaji, atau jumlah proyek. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang salah. Jika tidak produktif, kita merasa bersalah, jika tidak sibuk, kita merasa ada yang gagal.

Kita hidup di Nusantara yang kaya dengan berbagai budaya yang setelah saya rasa-rasa, luar biasa arifnya.

Dalam banyak tradisi Nusantara, kerja bukanlah sekadar alat survival. Ia adalah laku hidup.  Mari kita tengok beberapa. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, mengandung makna aktif bekerja, giat berkontribusi namun tidak egois, dan tidak bekerja semata demi kepentingan diri sendiri. Kerja dilihat sebagai pengabdian, bukan sekadar ambisi. Bekerja bukan hanya demi diri sendiri, tetapi demi keseimbangan sosial. Ada etika, ada rasa cukup, ada harmoni. Kerja bukan hanya soal hasil, tetapi tentang cara.

Ungkapan lain, “jer basuki mawa bea”. Meski ini dapat diterapkan secara beragam, namun dalam konteks bekerja, pepatah ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan menuntut pengorbanan. Artinya, kerja bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan proses pembentukan watak. Orang ditempa melalui kesungguhan.

Keluhuran kerja terletak pada kesediaan menanggung beban dengan tanggung jawab moral.  Bahkan konsep gotong royong, yang pernah ditegaskan sebagai dasar kebangsaan oleh Soekarno, menempatkan kerja dalam bingkai kolektif. Kerja bukan kompetisi brutal, melainkan partisipasi bersama. Ada kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian. Dengan dan melalui pekerjaan itulah manusia saling menempatkan tanggung jawabnya satu sama lain.

Namun modernitas tanpa bisa dihindari membawa pergeseran halus. Kerja lalu menjadi bersifat individual. Pasar menggantikan komunitas. Solidaritas berubah menjadi persaingan. Kita hidup dalam masyarakat yang memuja produktivitas. Filsuf Jerman Hannah Arendt membedakan antara labor yaitu kerja untuk bertahan hidup, work yaitu menciptakan dunia buatan manusia, dan action yang merupakan tindakan politik sebagai warga.

Dalam masyarakat modern, kata Arendt, manusia direduksi menjadi animal laborans, istilah yang menggambarkan makhluk yang terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Hidup menjadi siklus tanpa akhir, dari kerja, lanjut konsumsi, kerja lagi. Demikian saja terus-menerus.  Kita mungkin menjalaninya, namun tidak menyadarinya.  Tetapi ketika manusia hanya diukur dari produktivitas, ia kehilangan ruang untuk berpikir, untuk berpolitik, untuk bertindak sebagai warga. Yang terjadi adalah menusia menjadi mesin biologis yang efisien, yang bukan untuk dirinya sendiri. 

Kini dalam zaman yang disebut Byung-Chul Han sebagai achievement society, manusia tidak lagi ditindas oleh kekuasaan eksternal. Kini manusia menindas dirinya sendiri. Kita memaksa diri untuk terus naik level, terus berkembang, terus produktif. Dengan demikian burnout bukan suatu kecelakaan, melainkan konsekuensi logis. Ironisnya, kita merasa bebas padahal sedang mengeksploitasi diri.

Apakah ini berarti bekerja demi bertahan hidup itu rendah? Tidak sesederhana itu.  Kita pikir logis dan realistis saja. Secara biologis, manusia memang harus makan, harus bertahan hidup. Petani, nelayan, buruh, tukang, montir apa pun itu, mereka semua bekerja keras demi kebutuhan dasar. Namun dalam budaya Nusantara, kerja untuk hidup tidak pernah dianggap hina. Ia tetap luhur karena ada kesadaran etis dan spiritual.

Ungkapan “Gusti ora sare” yang berarti Tuhan tidak tidur, selalu mengingatkan bahwa kerja adalah ruang integritas. Bahkan ketika tak ada yang melihat, ada dimensi moral yang menyertai. Kerja menjadi ibadah, bukan sekadar produksi. Masalah muncul ketika kerja kehilangan dimensi itu. Ketika nilai diganti angka. Ketika martabat diganti performa. Ketika manusia kemudian direduksi menjadi sumber daya.

Di titik ini, jika ada kritik bahwa manusia kemudian seolah menjadi seperti binatang karena hanya mengejar kelangsungan hidup perlu diluruskan. Hewan memang hidup berdasarkan insting. Tetapi manusia tidak berhenti pada insting. Ia memiliki refleksi, kesadaran, etika. Yang membuat manusia bukan sekadar fakta bahwa ia butuh makan, melainkan kemampuannya memberi makna pada aktivitasnya.  Jika makna itu hilang, yang terjadi bukan manusia lantas menjadi hewan, melainkan manusia kehilangan kemanusiaannya.

Kita bisa melihatnya dalam fenomena pekerja yang merasa hampa meski bergaji tinggi. Atau generasi muda kita yang cemas karena merasa tertinggal dalam perlombaan karier. Atau rekan-rekan pegawai yang terjebak rutinitas birokrasi tanpa adanya sruang kreativitas. Mereka semua bukan malas, bukan juga tidak bersyukur. Mereka mungkin sedang mengalami krisis makna.

Di sinilah saya yakin kearifan Nusantara menjadi relevan. Kerja harus bisa dipahami sebagai bagian dari harmoni kosmis. Coba kita perhatikan baik-baik, bagaimana dalam masyarakat agraris, orang bekerja bersama alam, bukan melawannya. Dalam semangat gotong royong, orang akan bekerja bersama sesamanya, bukan saling menjatuhkan. Di sinilah, dalam laku spiritual, kerja adalah suatu pembentukan diri.

Menghidupkan Makna kerja

Modernitas memang tidak bisa ditolak. Kita tidak mungkin kembali sepenuhnya ke pola agraris komunal seperti jaman kakek nenek kita. Namun kita bisa menghidupkan kembali ruhnya. Pertama, kita bisa memulihkan dimensi kolektif kerja. Bahwa keberhasilan individu selalu ditopang oleh struktur sosial. Bahwa solidaritas bukan sekedar romantisme, melainkan kebutuhan.

Yang kedua, memulihkan dimensi etis kerja. Menekankan kembali bahwa cara lebih penting daripada sekadar hasil. Bahwa integritas tidak bisa ditukar dengan target.  Kemudian yang ketiga, memulihkan dimensi makna kerja. Bahwa manusia tidak hidup hanya untuk produksi dan konsumsi, seperti apa yang di depan disebut sebagai animal laborans. Bekerja merupakan sisi kehidupan untuk relasi, untuk kontribusi, untuk pertumbuhan batin.

Dari omong-omong tadi, bisa kita tarik kesepakatan bahwa tanggal 20 Februari seharusnya tidak berhenti sekadar sebagai peringatan. Ia bisa menjadi momen refleksi untuk siapa kita bekerja? Untuk apa kita bekerja? Lalu apakah kerja kita bisa memanusiakan diri dan orang lain, atau malah justru mengerdilkan?

Kerja yang luhur bukan kerja yang glamor. Ia bisa jadi sangat sederhana. Seorang guru yang mengajar dengan hati. Seorang petani yang setia merawat tanah garapannya. Seorang pegawai yang meski rendahan, namun tetap jujur dalam tugasnya. Seorang pengusaha yang tidak menindas pekerjanya, dan sebagainya. Karena apa yang disebut keluhuran kerja, terletak pada kesadaran bahwa manusia adalah subjek, bukan alat.

Bekerja dengan Harapan

Indonesia tercinta kita ini dibangun oleh kerja, dari sawah hingga pabrik, dari kantor desa hingga ruang sidang. Tetapi tidak itu saja, Indonesia juga dibangun oleh nilai yang menyertai kerja itu, seperti gotong royong, rasa syukur, pengabdian, dan integritas.  Mungkin kita tidak bisa mengubah sistem global yang kompetitif dalam sekejap. Namun kita bisa memulai dari cara kita memaknai kerja. 

Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan zaman ini, semoga saja kita tidak kehilangan jiwa dalam bekerja. Semoga juga, kita tidak terjebak menjadi sekadar mesin produktif. Semoga lagi, kita tetap ingat bahwa kerja bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang membangun martabat.

Dan masih semoga, bagaimana pun keadaan kita masing-masing di Indonesia ini, pada setiap tanggal 20 Februari kita dapat memahami kembali bahwa kerja adalah sesuatu yang luhur, sesuatu yang memanusiakan manusia. Memang kalau bicara soal kondisi kerja di Indonesia, banyak sekali kata semoganya. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dunia KerjaHari Pekerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Membaca 'Lampah Sang Pragina', Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co