4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
February 20, 2026
in Cerpen
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan kecilnya. Buku itu selalu sama: sampul cokelat kusam, sudut-sudutnya melengkung seperti pernah diremas berkali-kali. Di tangannya ada pulpen biru yang kadang diketuk-ketukkan pelan ke permukaan meja.

Ia menulis sesuatu. Lalu berhenti. Menghela napas. Menghapusnya perlahan.

Kadang ia tersenyum sendiri, senyum tipis yang seperti muncul dari tempat yang jauh. Kadang ia tertawa kecil, hampir tak terdengar. Namun lebih sering ia membeku—tatapannya kosong, seolah sedang mendengar percakapan yang tak pernah kami dengar.

Kami, anak-anaknya, menganggap itu sekadar kebiasaan ganjil orang tua yang terlalu banyak waktu luang. Hingga suatu pagi Ibu berkata, tanpa menoleh dari wajan di dapur, “Ayahmu bukan sedang menulis. Ia sedang berusaha mengingat sesuatu yang takut ia lupakan.”

Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Kami tertawa. Tapi hari demi hari, suara-suara dari kepala Ayah makin keras. Ia mulai berbicara sendiri, menyebut nama-nama yang tak ada di keluarga kami: Pak Rudi, Bu Elok, Rara. Ia tertawa pada lelucon yang hanya dia tahu. Kadang menangis ketika mendengar lagu dari radio tua yang tak pernah kami nyalakan. Ibu bilang itu bukan gangguan jiwa. Ayah sedang dihuni terlalu banyak kenangan yang tidak pernah berhasil ia buang.

Kami baru benar-benar mengerti setelah Ayah menghilang sehari penuh. Ditemukan malam harinya duduk di halte, membawa koper berisi buku-buku dan surat-surat yang ia tulis untuk orang-orang yang tak pernah membalas.

Ketika Ayah tidur malam itu, kami nekat membuka koper itu. Isinya seperti museum dari hidup yang lain: foto-foto lama, surat cinta untuk seseorang bernama Anjani, puisi-puisi pendek tentang “kehilangan yang tidak punya nama”.

Keesokan harinya, Ayah bangun seperti biasa. Duduk di meja, menulis, menghapus. Kali ini, ia menoleh dan berkata, “Kalian sudah tahu, ya?”

Kami mengangguk pelan. “Tapi kalian masih tinggal di sini, ya?”

Kami tidak menjawab. Hanya duduk menemaninya. Untuk pertama kalinya, kami ikut menulis di kertas kosong itu. Menuliskan kenangan kami bersama Ayah dari suara sandal jepitnya sampai caranya membelah pisang goreng.

Ayah membacanya, lalu tersenyum. “Berarti aku belum gila. Cuma terlalu penuh.”

Di akhir cerita, Ayah berhenti menghapus. Ia menyimpan catatannya. Bukan karena kepala sudah tenang, tapi karena akhirnya, ia tidak menanggung suara-suara itu sendirian.

Sejak malam itu, suasana rumah jadi lebih hening, tapi bukan hening yang mengganggu. Hening yang mendengar. Kami mulai memperhatikan hal-hal kecil: cara Ayah mencuci gelas dengan telaten, cara ia menata sendok dan garpu seolah menyiapkan makan malam untuk tamu yang tak pernah datang. Kadang, ia duduk lama di ruang tamu, menghadap jendela, seolah menunggu seseorang dari masa lalu muncul membawa jawaban.

“Ibu tahu siapa Anjani?” tanyaku pada Ibu, ketika kami sedang melipat cucian. Ibu diam sejenak.

Tangannya berhenti bergerak. “Teman kuliah dulu,” jawabnya akhirnya. “Mereka pernah dekat, sebelum ayahmu memilih pulang kampung untuk menikahiku. Waktu itu, katanya ia takut terlalu banyak hal yang tak bisa ia kejar.”

Aku menatap Ibu. Tidak ada amarah dalam suaranya. Hanya sejenis pengertian yang lahir dari usia dan keikhlasan. “Berarti Ibu tahu tentang semua surat itu?”

Ibu mengangguk. “Ayahmu tak pernah kirim surat-surat itu. Tapi menuliskannya membuat ia tetap hidup. Aku biarkan saja.”

Sejak saat itu, kami tak lagi merasa perlu mencari makna dari suara-suara yang Ayah sebut. Ia mungkin sedang hidup di dua dunia: satu yang nyata, satu lagi yang tak kasat mata tapi menyala kuat di kepalanya.

Yang mengejutkan, sejak koper itu dibuka, Ayah seperti lebih ringan. Ia masih bicara sendiri, tapi mulai mengajak kami ikut tertawa. Suatu kali ia menatapku lama, lalu berkata, “Dulu kamu pernah jatuh dari sepeda, ingat?”

Aku mengangguk.

“Ayah menangis malam itu. Tapi diam-diam. Karena katanya, lelaki yang baik itu yang kuat.”

Ia mengucapkan kalimat itu seolah sedang membaca ulang dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, menjadi Ayah tidak pernah mudah. Ia bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga tempat menampung duka yang tak sempat ditunjukkan.

Hari demi hari, kami mulai menuliskan kenangan bersama. Setiap malam, satu anak akan duduk bersama Ayah, membawa satu lembar kertas dan menulis hal-hal kecil yang dulu luput: seperti cara Ayah meniup teh sebelum menyeruputnya, atau kebiasaannya mengecek pintu tiga kali sebelum tidur. Kertas-kertas itu disimpan Ayah di kotak kayu kecil, dan ia beri nama: “Hal-hal yang Membuktikan Aku Pernah Ada.”

Suatu sore, adikku yang paling kecil bertanya, “Yah, kalau kepala Ayah sudah tenang, kita masih boleh nulis, kan?”

Ayah tertawa. “Boleh. Nulis bukan buat kepala yang gaduh. Tapi buat hati yang ingin diingat.”

Malam-malam kami berubah menjadi ritual. Tak ada gawai, tak ada televisi. Hanya teh, selembar kertas, dan cerita-cerita kecil yang mengendap jadi cahaya. Ayah mulai membaca kembali puisi-puisi lamanya, lalu menuliskan yang baru, tentang hal-hal yang sebelumnya tak ia beri tempat: tentang Ibu yang selalu diam tapi tahu segalanya, tentang anak-anak yang ternyata tumbuh dengan luka-luka kecil yang tidak sempat ia lihat.

Dan pada suatu pagi yang cerah, Ayah berkata, “Kepala ini mungkin tak akan pernah benar-benar sunyi. Tapi sekarang, aku tahu aku tidak sendirian.”

Hari itu, Ayah menyimpan buku catatannya, lalu mengajak kami ke luar rumah. Ia ingin ke pasar, katanya, beli pisang untuk digoreng bersama. Kami tertawa, Ibu mengangguk, dan pagi itu, rumah kami tak lagi diisi suara-suara dari masa lalu.

Tapi tetap riuh. Riuh oleh tawa yang dibiarkan tumbuh, oleh cerita yang tak lagi dibisikkan pada kertas kosong, tapi dibagikan. Dan ketika Ayah duduk di beranda dengan wajah lelah tapi tenang, aku tahu: akhirnya, kami sudah jadi bagian dari suara di kepalanya. Bukan sebagai bayang-bayang, tapi sebagai gema yang menenangkan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Next Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co