25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
February 20, 2026
in Cerpen
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan kecilnya. Buku itu selalu sama: sampul cokelat kusam, sudut-sudutnya melengkung seperti pernah diremas berkali-kali. Di tangannya ada pulpen biru yang kadang diketuk-ketukkan pelan ke permukaan meja.

Ia menulis sesuatu. Lalu berhenti. Menghela napas. Menghapusnya perlahan.

Kadang ia tersenyum sendiri, senyum tipis yang seperti muncul dari tempat yang jauh. Kadang ia tertawa kecil, hampir tak terdengar. Namun lebih sering ia membeku—tatapannya kosong, seolah sedang mendengar percakapan yang tak pernah kami dengar.

Kami, anak-anaknya, menganggap itu sekadar kebiasaan ganjil orang tua yang terlalu banyak waktu luang. Hingga suatu pagi Ibu berkata, tanpa menoleh dari wajan di dapur, “Ayahmu bukan sedang menulis. Ia sedang berusaha mengingat sesuatu yang takut ia lupakan.”

Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Kami tertawa. Tapi hari demi hari, suara-suara dari kepala Ayah makin keras. Ia mulai berbicara sendiri, menyebut nama-nama yang tak ada di keluarga kami: Pak Rudi, Bu Elok, Rara. Ia tertawa pada lelucon yang hanya dia tahu. Kadang menangis ketika mendengar lagu dari radio tua yang tak pernah kami nyalakan. Ibu bilang itu bukan gangguan jiwa. Ayah sedang dihuni terlalu banyak kenangan yang tidak pernah berhasil ia buang.

Kami baru benar-benar mengerti setelah Ayah menghilang sehari penuh. Ditemukan malam harinya duduk di halte, membawa koper berisi buku-buku dan surat-surat yang ia tulis untuk orang-orang yang tak pernah membalas.

Ketika Ayah tidur malam itu, kami nekat membuka koper itu. Isinya seperti museum dari hidup yang lain: foto-foto lama, surat cinta untuk seseorang bernama Anjani, puisi-puisi pendek tentang “kehilangan yang tidak punya nama”.

Keesokan harinya, Ayah bangun seperti biasa. Duduk di meja, menulis, menghapus. Kali ini, ia menoleh dan berkata, “Kalian sudah tahu, ya?”

Kami mengangguk pelan. “Tapi kalian masih tinggal di sini, ya?”

Kami tidak menjawab. Hanya duduk menemaninya. Untuk pertama kalinya, kami ikut menulis di kertas kosong itu. Menuliskan kenangan kami bersama Ayah dari suara sandal jepitnya sampai caranya membelah pisang goreng.

Ayah membacanya, lalu tersenyum. “Berarti aku belum gila. Cuma terlalu penuh.”

Di akhir cerita, Ayah berhenti menghapus. Ia menyimpan catatannya. Bukan karena kepala sudah tenang, tapi karena akhirnya, ia tidak menanggung suara-suara itu sendirian.

Sejak malam itu, suasana rumah jadi lebih hening, tapi bukan hening yang mengganggu. Hening yang mendengar. Kami mulai memperhatikan hal-hal kecil: cara Ayah mencuci gelas dengan telaten, cara ia menata sendok dan garpu seolah menyiapkan makan malam untuk tamu yang tak pernah datang. Kadang, ia duduk lama di ruang tamu, menghadap jendela, seolah menunggu seseorang dari masa lalu muncul membawa jawaban.

“Ibu tahu siapa Anjani?” tanyaku pada Ibu, ketika kami sedang melipat cucian. Ibu diam sejenak.

Tangannya berhenti bergerak. “Teman kuliah dulu,” jawabnya akhirnya. “Mereka pernah dekat, sebelum ayahmu memilih pulang kampung untuk menikahiku. Waktu itu, katanya ia takut terlalu banyak hal yang tak bisa ia kejar.”

Aku menatap Ibu. Tidak ada amarah dalam suaranya. Hanya sejenis pengertian yang lahir dari usia dan keikhlasan. “Berarti Ibu tahu tentang semua surat itu?”

Ibu mengangguk. “Ayahmu tak pernah kirim surat-surat itu. Tapi menuliskannya membuat ia tetap hidup. Aku biarkan saja.”

Sejak saat itu, kami tak lagi merasa perlu mencari makna dari suara-suara yang Ayah sebut. Ia mungkin sedang hidup di dua dunia: satu yang nyata, satu lagi yang tak kasat mata tapi menyala kuat di kepalanya.

Yang mengejutkan, sejak koper itu dibuka, Ayah seperti lebih ringan. Ia masih bicara sendiri, tapi mulai mengajak kami ikut tertawa. Suatu kali ia menatapku lama, lalu berkata, “Dulu kamu pernah jatuh dari sepeda, ingat?”

Aku mengangguk.

“Ayah menangis malam itu. Tapi diam-diam. Karena katanya, lelaki yang baik itu yang kuat.”

Ia mengucapkan kalimat itu seolah sedang membaca ulang dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, menjadi Ayah tidak pernah mudah. Ia bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga tempat menampung duka yang tak sempat ditunjukkan.

Hari demi hari, kami mulai menuliskan kenangan bersama. Setiap malam, satu anak akan duduk bersama Ayah, membawa satu lembar kertas dan menulis hal-hal kecil yang dulu luput: seperti cara Ayah meniup teh sebelum menyeruputnya, atau kebiasaannya mengecek pintu tiga kali sebelum tidur. Kertas-kertas itu disimpan Ayah di kotak kayu kecil, dan ia beri nama: “Hal-hal yang Membuktikan Aku Pernah Ada.”

Suatu sore, adikku yang paling kecil bertanya, “Yah, kalau kepala Ayah sudah tenang, kita masih boleh nulis, kan?”

Ayah tertawa. “Boleh. Nulis bukan buat kepala yang gaduh. Tapi buat hati yang ingin diingat.”

Malam-malam kami berubah menjadi ritual. Tak ada gawai, tak ada televisi. Hanya teh, selembar kertas, dan cerita-cerita kecil yang mengendap jadi cahaya. Ayah mulai membaca kembali puisi-puisi lamanya, lalu menuliskan yang baru, tentang hal-hal yang sebelumnya tak ia beri tempat: tentang Ibu yang selalu diam tapi tahu segalanya, tentang anak-anak yang ternyata tumbuh dengan luka-luka kecil yang tidak sempat ia lihat.

Dan pada suatu pagi yang cerah, Ayah berkata, “Kepala ini mungkin tak akan pernah benar-benar sunyi. Tapi sekarang, aku tahu aku tidak sendirian.”

Hari itu, Ayah menyimpan buku catatannya, lalu mengajak kami ke luar rumah. Ia ingin ke pasar, katanya, beli pisang untuk digoreng bersama. Kami tertawa, Ibu mengangguk, dan pagi itu, rumah kami tak lagi diisi suara-suara dari masa lalu.

Tapi tetap riuh. Riuh oleh tawa yang dibiarkan tumbuh, oleh cerita yang tak lagi dibisikkan pada kertas kosong, tapi dibagikan. Dan ketika Ayah duduk di beranda dengan wajah lelah tapi tenang, aku tahu: akhirnya, kami sudah jadi bagian dari suara di kepalanya. Bukan sebagai bayang-bayang, tapi sebagai gema yang menenangkan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Next Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co