25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
February 20, 2026
in Cerpen
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan kecilnya. Buku itu selalu sama: sampul cokelat kusam, sudut-sudutnya melengkung seperti pernah diremas berkali-kali. Di tangannya ada pulpen biru yang kadang diketuk-ketukkan pelan ke permukaan meja.

Ia menulis sesuatu. Lalu berhenti. Menghela napas. Menghapusnya perlahan.

Kadang ia tersenyum sendiri, senyum tipis yang seperti muncul dari tempat yang jauh. Kadang ia tertawa kecil, hampir tak terdengar. Namun lebih sering ia membeku—tatapannya kosong, seolah sedang mendengar percakapan yang tak pernah kami dengar.

Kami, anak-anaknya, menganggap itu sekadar kebiasaan ganjil orang tua yang terlalu banyak waktu luang. Hingga suatu pagi Ibu berkata, tanpa menoleh dari wajan di dapur, “Ayahmu bukan sedang menulis. Ia sedang berusaha mengingat sesuatu yang takut ia lupakan.”

Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Kami tertawa. Tapi hari demi hari, suara-suara dari kepala Ayah makin keras. Ia mulai berbicara sendiri, menyebut nama-nama yang tak ada di keluarga kami: Pak Rudi, Bu Elok, Rara. Ia tertawa pada lelucon yang hanya dia tahu. Kadang menangis ketika mendengar lagu dari radio tua yang tak pernah kami nyalakan. Ibu bilang itu bukan gangguan jiwa. Ayah sedang dihuni terlalu banyak kenangan yang tidak pernah berhasil ia buang.

Kami baru benar-benar mengerti setelah Ayah menghilang sehari penuh. Ditemukan malam harinya duduk di halte, membawa koper berisi buku-buku dan surat-surat yang ia tulis untuk orang-orang yang tak pernah membalas.

Ketika Ayah tidur malam itu, kami nekat membuka koper itu. Isinya seperti museum dari hidup yang lain: foto-foto lama, surat cinta untuk seseorang bernama Anjani, puisi-puisi pendek tentang “kehilangan yang tidak punya nama”.

Keesokan harinya, Ayah bangun seperti biasa. Duduk di meja, menulis, menghapus. Kali ini, ia menoleh dan berkata, “Kalian sudah tahu, ya?”

Kami mengangguk pelan. “Tapi kalian masih tinggal di sini, ya?”

Kami tidak menjawab. Hanya duduk menemaninya. Untuk pertama kalinya, kami ikut menulis di kertas kosong itu. Menuliskan kenangan kami bersama Ayah dari suara sandal jepitnya sampai caranya membelah pisang goreng.

Ayah membacanya, lalu tersenyum. “Berarti aku belum gila. Cuma terlalu penuh.”

Di akhir cerita, Ayah berhenti menghapus. Ia menyimpan catatannya. Bukan karena kepala sudah tenang, tapi karena akhirnya, ia tidak menanggung suara-suara itu sendirian.

Sejak malam itu, suasana rumah jadi lebih hening, tapi bukan hening yang mengganggu. Hening yang mendengar. Kami mulai memperhatikan hal-hal kecil: cara Ayah mencuci gelas dengan telaten, cara ia menata sendok dan garpu seolah menyiapkan makan malam untuk tamu yang tak pernah datang. Kadang, ia duduk lama di ruang tamu, menghadap jendela, seolah menunggu seseorang dari masa lalu muncul membawa jawaban.

“Ibu tahu siapa Anjani?” tanyaku pada Ibu, ketika kami sedang melipat cucian. Ibu diam sejenak.

Tangannya berhenti bergerak. “Teman kuliah dulu,” jawabnya akhirnya. “Mereka pernah dekat, sebelum ayahmu memilih pulang kampung untuk menikahiku. Waktu itu, katanya ia takut terlalu banyak hal yang tak bisa ia kejar.”

Aku menatap Ibu. Tidak ada amarah dalam suaranya. Hanya sejenis pengertian yang lahir dari usia dan keikhlasan. “Berarti Ibu tahu tentang semua surat itu?”

Ibu mengangguk. “Ayahmu tak pernah kirim surat-surat itu. Tapi menuliskannya membuat ia tetap hidup. Aku biarkan saja.”

Sejak saat itu, kami tak lagi merasa perlu mencari makna dari suara-suara yang Ayah sebut. Ia mungkin sedang hidup di dua dunia: satu yang nyata, satu lagi yang tak kasat mata tapi menyala kuat di kepalanya.

Yang mengejutkan, sejak koper itu dibuka, Ayah seperti lebih ringan. Ia masih bicara sendiri, tapi mulai mengajak kami ikut tertawa. Suatu kali ia menatapku lama, lalu berkata, “Dulu kamu pernah jatuh dari sepeda, ingat?”

Aku mengangguk.

“Ayah menangis malam itu. Tapi diam-diam. Karena katanya, lelaki yang baik itu yang kuat.”

Ia mengucapkan kalimat itu seolah sedang membaca ulang dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, menjadi Ayah tidak pernah mudah. Ia bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga tempat menampung duka yang tak sempat ditunjukkan.

Hari demi hari, kami mulai menuliskan kenangan bersama. Setiap malam, satu anak akan duduk bersama Ayah, membawa satu lembar kertas dan menulis hal-hal kecil yang dulu luput: seperti cara Ayah meniup teh sebelum menyeruputnya, atau kebiasaannya mengecek pintu tiga kali sebelum tidur. Kertas-kertas itu disimpan Ayah di kotak kayu kecil, dan ia beri nama: “Hal-hal yang Membuktikan Aku Pernah Ada.”

Suatu sore, adikku yang paling kecil bertanya, “Yah, kalau kepala Ayah sudah tenang, kita masih boleh nulis, kan?”

Ayah tertawa. “Boleh. Nulis bukan buat kepala yang gaduh. Tapi buat hati yang ingin diingat.”

Malam-malam kami berubah menjadi ritual. Tak ada gawai, tak ada televisi. Hanya teh, selembar kertas, dan cerita-cerita kecil yang mengendap jadi cahaya. Ayah mulai membaca kembali puisi-puisi lamanya, lalu menuliskan yang baru, tentang hal-hal yang sebelumnya tak ia beri tempat: tentang Ibu yang selalu diam tapi tahu segalanya, tentang anak-anak yang ternyata tumbuh dengan luka-luka kecil yang tidak sempat ia lihat.

Dan pada suatu pagi yang cerah, Ayah berkata, “Kepala ini mungkin tak akan pernah benar-benar sunyi. Tapi sekarang, aku tahu aku tidak sendirian.”

Hari itu, Ayah menyimpan buku catatannya, lalu mengajak kami ke luar rumah. Ia ingin ke pasar, katanya, beli pisang untuk digoreng bersama. Kami tertawa, Ibu mengangguk, dan pagi itu, rumah kami tak lagi diisi suara-suara dari masa lalu.

Tapi tetap riuh. Riuh oleh tawa yang dibiarkan tumbuh, oleh cerita yang tak lagi dibisikkan pada kertas kosong, tapi dibagikan. Dan ketika Ayah duduk di beranda dengan wajah lelah tapi tenang, aku tahu: akhirnya, kami sudah jadi bagian dari suara di kepalanya. Bukan sebagai bayang-bayang, tapi sebagai gema yang menenangkan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Next Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co