24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
February 20, 2026
in Cerpen
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan kecilnya. Buku itu selalu sama: sampul cokelat kusam, sudut-sudutnya melengkung seperti pernah diremas berkali-kali. Di tangannya ada pulpen biru yang kadang diketuk-ketukkan pelan ke permukaan meja.

Ia menulis sesuatu. Lalu berhenti. Menghela napas. Menghapusnya perlahan.

Kadang ia tersenyum sendiri, senyum tipis yang seperti muncul dari tempat yang jauh. Kadang ia tertawa kecil, hampir tak terdengar. Namun lebih sering ia membeku—tatapannya kosong, seolah sedang mendengar percakapan yang tak pernah kami dengar.

Kami, anak-anaknya, menganggap itu sekadar kebiasaan ganjil orang tua yang terlalu banyak waktu luang. Hingga suatu pagi Ibu berkata, tanpa menoleh dari wajan di dapur, “Ayahmu bukan sedang menulis. Ia sedang berusaha mengingat sesuatu yang takut ia lupakan.”

Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Kami tertawa. Tapi hari demi hari, suara-suara dari kepala Ayah makin keras. Ia mulai berbicara sendiri, menyebut nama-nama yang tak ada di keluarga kami: Pak Rudi, Bu Elok, Rara. Ia tertawa pada lelucon yang hanya dia tahu. Kadang menangis ketika mendengar lagu dari radio tua yang tak pernah kami nyalakan. Ibu bilang itu bukan gangguan jiwa. Ayah sedang dihuni terlalu banyak kenangan yang tidak pernah berhasil ia buang.

Kami baru benar-benar mengerti setelah Ayah menghilang sehari penuh. Ditemukan malam harinya duduk di halte, membawa koper berisi buku-buku dan surat-surat yang ia tulis untuk orang-orang yang tak pernah membalas.

Ketika Ayah tidur malam itu, kami nekat membuka koper itu. Isinya seperti museum dari hidup yang lain: foto-foto lama, surat cinta untuk seseorang bernama Anjani, puisi-puisi pendek tentang “kehilangan yang tidak punya nama”.

Keesokan harinya, Ayah bangun seperti biasa. Duduk di meja, menulis, menghapus. Kali ini, ia menoleh dan berkata, “Kalian sudah tahu, ya?”

Kami mengangguk pelan. “Tapi kalian masih tinggal di sini, ya?”

Kami tidak menjawab. Hanya duduk menemaninya. Untuk pertama kalinya, kami ikut menulis di kertas kosong itu. Menuliskan kenangan kami bersama Ayah dari suara sandal jepitnya sampai caranya membelah pisang goreng.

Ayah membacanya, lalu tersenyum. “Berarti aku belum gila. Cuma terlalu penuh.”

Di akhir cerita, Ayah berhenti menghapus. Ia menyimpan catatannya. Bukan karena kepala sudah tenang, tapi karena akhirnya, ia tidak menanggung suara-suara itu sendirian.

Sejak malam itu, suasana rumah jadi lebih hening, tapi bukan hening yang mengganggu. Hening yang mendengar. Kami mulai memperhatikan hal-hal kecil: cara Ayah mencuci gelas dengan telaten, cara ia menata sendok dan garpu seolah menyiapkan makan malam untuk tamu yang tak pernah datang. Kadang, ia duduk lama di ruang tamu, menghadap jendela, seolah menunggu seseorang dari masa lalu muncul membawa jawaban.

“Ibu tahu siapa Anjani?” tanyaku pada Ibu, ketika kami sedang melipat cucian. Ibu diam sejenak.

Tangannya berhenti bergerak. “Teman kuliah dulu,” jawabnya akhirnya. “Mereka pernah dekat, sebelum ayahmu memilih pulang kampung untuk menikahiku. Waktu itu, katanya ia takut terlalu banyak hal yang tak bisa ia kejar.”

Aku menatap Ibu. Tidak ada amarah dalam suaranya. Hanya sejenis pengertian yang lahir dari usia dan keikhlasan. “Berarti Ibu tahu tentang semua surat itu?”

Ibu mengangguk. “Ayahmu tak pernah kirim surat-surat itu. Tapi menuliskannya membuat ia tetap hidup. Aku biarkan saja.”

Sejak saat itu, kami tak lagi merasa perlu mencari makna dari suara-suara yang Ayah sebut. Ia mungkin sedang hidup di dua dunia: satu yang nyata, satu lagi yang tak kasat mata tapi menyala kuat di kepalanya.

Yang mengejutkan, sejak koper itu dibuka, Ayah seperti lebih ringan. Ia masih bicara sendiri, tapi mulai mengajak kami ikut tertawa. Suatu kali ia menatapku lama, lalu berkata, “Dulu kamu pernah jatuh dari sepeda, ingat?”

Aku mengangguk.

“Ayah menangis malam itu. Tapi diam-diam. Karena katanya, lelaki yang baik itu yang kuat.”

Ia mengucapkan kalimat itu seolah sedang membaca ulang dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, menjadi Ayah tidak pernah mudah. Ia bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga tempat menampung duka yang tak sempat ditunjukkan.

Hari demi hari, kami mulai menuliskan kenangan bersama. Setiap malam, satu anak akan duduk bersama Ayah, membawa satu lembar kertas dan menulis hal-hal kecil yang dulu luput: seperti cara Ayah meniup teh sebelum menyeruputnya, atau kebiasaannya mengecek pintu tiga kali sebelum tidur. Kertas-kertas itu disimpan Ayah di kotak kayu kecil, dan ia beri nama: “Hal-hal yang Membuktikan Aku Pernah Ada.”

Suatu sore, adikku yang paling kecil bertanya, “Yah, kalau kepala Ayah sudah tenang, kita masih boleh nulis, kan?”

Ayah tertawa. “Boleh. Nulis bukan buat kepala yang gaduh. Tapi buat hati yang ingin diingat.”

Malam-malam kami berubah menjadi ritual. Tak ada gawai, tak ada televisi. Hanya teh, selembar kertas, dan cerita-cerita kecil yang mengendap jadi cahaya. Ayah mulai membaca kembali puisi-puisi lamanya, lalu menuliskan yang baru, tentang hal-hal yang sebelumnya tak ia beri tempat: tentang Ibu yang selalu diam tapi tahu segalanya, tentang anak-anak yang ternyata tumbuh dengan luka-luka kecil yang tidak sempat ia lihat.

Dan pada suatu pagi yang cerah, Ayah berkata, “Kepala ini mungkin tak akan pernah benar-benar sunyi. Tapi sekarang, aku tahu aku tidak sendirian.”

Hari itu, Ayah menyimpan buku catatannya, lalu mengajak kami ke luar rumah. Ia ingin ke pasar, katanya, beli pisang untuk digoreng bersama. Kami tertawa, Ibu mengangguk, dan pagi itu, rumah kami tak lagi diisi suara-suara dari masa lalu.

Tapi tetap riuh. Riuh oleh tawa yang dibiarkan tumbuh, oleh cerita yang tak lagi dibisikkan pada kertas kosong, tapi dibagikan. Dan ketika Ayah duduk di beranda dengan wajah lelah tapi tenang, aku tahu: akhirnya, kami sudah jadi bagian dari suara di kepalanya. Bukan sebagai bayang-bayang, tapi sebagai gema yang menenangkan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Next Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co