2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Utang Perbincangan Dua Abad Pada Putu Juli Sastrawan Setelah Membaca Novel “Menuai Badai”

Wayan Paing by Wayan Paing
August 3, 2025
in Ulas Buku
Utang Perbincangan Dua Abad Pada Putu Juli Sastrawan Setelah Membaca Novel “Menuai Badai”

Novel Menuai Badai

SETIDAKNYA ada tiga hal yang membuat saya spontan berjanji pada Putu Juli Sastrawan setelah membaca novel Menuai Badai. Kekaguman pada penulis yang di masa kecilnya penikmat “cerita susu (kaleng?)” ini membuat saya tidak ragu berjanji. Apalagi, “cerita susu (kaleng)” itulah yang mengantarnya menjadi penulis bukan kaleng-kaleng saat ini.

Saat di-tag pada sebuah WAG, sepontan saya mengumbar janji akan berbincang selama dua abad dengannya. Janji yang akhirnya saya ingkari dengan selaksa alasan klasik. (Persis janji politikus yang tampaknya selalu dirancang berlebih-lebihan untuk kemudian diingkari).

Tentu saja saya akan berbincang tentang novel terbarunya, “Menuai Badai”. Hal pertama, setelah membaca ayahnya Kandar dihabisi akibat memiliki tato macan di lengannya, tentu akan membuka diskusi yang tidak singkat. Apalagi di awal novelnya tertulis: untuk kakek saya.

Peristiwa 1965 yang menjadi pokok pembahasan dalam novel ini tentu tidak terlepas dari sosok seorang kakek, setidaknya buat saya. Bagi saya, sosok kakek adalah penutur utama peristiwa kelam enam puluh tahun lalu itu. Peristiwa serius yang selalu dibawakan dalam mode serius membuatnya lumayan melekat dalam ingatan. Diawali pertanyaan yang harus dijawab dengan tepat saat itu, cerita kakek kemudian mengalir.

“Kambing apa macan?” Itulah pertanyaan sekaligus pilihan yang harus dipilih dengan tepat. Apabila salah menjawabnya, nyawa menjadi taruhan. Andai saja waktu itu dijawab macan, maka “para kambing” akan menggeruduknya seketika itu juga. Orang yang bertanya bukan orang yang kita kenal. Berasal dari beberapa desa yang jauh dari tempat kita. Mereka datang dengan tujuan untuk menyerbu “macan” yang melarikan diri. Cerita kuno yang mengisahkan kambing yang ditakuti macan tampak nyata pada tahun itu. di sini, bukan masalah berani atau takut, melainkan “kambing” yang berburu “macan”.

Macan-macan pada tahun itu tidak ada yang takut, bahkan menjelang hari-hari terakhirnya, mereka yang dicap macan berpamitan kepada rekan-rekan lekatnya di masyarakat. Biasanya dalam pertemuan di tajen, misalnya. Berpamitan dengan baik-baik serta meminta maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah mereka buat. Tidak ada ketakutan di mata mereka, tidak pula kepasrahan. Mereka terlihat tegar. Peristiwa berpamitan tersebut kemudian disusul dengan rombongan yang bertanya kambing atau macan tadi. Beruntungnya sudah ada yang memberi komando untuk menjawab kambing. Selamatlah kita dan ada kewajiban bagi masyarakat tertentu untuk ikut rombongan tersebut memburu macan ke tempat yang sudah diidentifikasi.

Pertanyaannya kemudian, apakah cerita kambing dan macan tersebut merupakan cerita yang merata tersebar di seluruh Bali sehingga diambil sebagai simbol tato macan oleh Juli Sastrawan dalam novel Menuai Badai? Seperti permintaan maaf oleh orang yang tertuduh di dalam novel juga diceritakan oleh kakek saya tentang peristiwa 1965 itu.

Hal kedua, untuk mencari jawaban penyebab awal Kandar mengalami trauma berkepanjangan selama sisa-sisa hidupnya. Beberapa pembaca mungkin berusaha mencari sebab utamanya. Di dalam novel sekilas diceritakan kondisi itu akibat Kandar harus membuat keputusan pada parang yang tertambat di lehernya. Keputusan yang jawabannya pasti: putus. Akan tetapi dua pilihannya, diputus atau memutus. Sebuah situasi yang membuat Kandar menjawab “iya”, yang artinya dia memilih memutus. Keputusan yang membuat parang itu tidak memutus bagian tubuhnya. Kilasan tersebut tentu belum memberi gambaran yang jelas bagi pembaca (setidaknya saya).

Juli dengan apiknya menggiring pembaca menikmati lembar demi lembar novelnya sampai akhir untuk menemukan situasi kompleks yang membuat Kandar mengambil keputusan itu. Kebersamaan Kandar dan Jimakir, adiknya,  saat melihat ayah mereka ditemukan sudah tidak bernafas lalu ibunya yang pergi meninggalkan mereka, seolah memberi sedikit peluang.  Akan tetapi, ternyata tidak demikian. Seolah sengaja memberi jamuan lain bagi pembaca untuk mencarinya dibagian lain.

Tanpa terasa halaman demi halaman berlalu dengan hidangan bergizi pengetahuan tinggi tentang peristiwa  mencekam tersebut. Bukan hanya cerita, namun petikan-petikan berita yang dimuat menjadikan novel ini terasa bukan sebuah karya fiksi melainkan kisah nonfiksi. Kondisi yang membuat pembaca perlahan melupakan tujuan awal karena tenggelam dalam pengetahuan yang disajikan.

Pada bagian Kandar berada di puskesmas dan mendengarkan perbincangan antara supir mobil yang menabraknya dengan seorang ibu bernama Tarmini, harapan itu sedikit muncul. Munculnya ketika Ibu Tarmini menceritakan empat anaknya. Berharap salah satu dari anaknya itu adalah Kandar dan mungkin menyinggung mengapa kandar menjadi tameng. Ternyata sampai akhir percakapan belum memberi jawaban sebab tidak ada cerita tentang anaknya yang menjadi tameng.

Jika dalam sebuah situasi Kandar dan Jimakir tertangkap dan ibunya bisa melarikan diri, kenapa Kandar saja yang dipaksa memilih menjadi tameng? Apakah Jimakir masih terlalu kecil sehingga terbebas dari pilihan itu? Keberadaan dua bersaudara yang menjalani kehidupan menua bersama tanpa keluarga lain sebenarnya sudah mempertegas bahwa secara sosial mereka dihukum dengan tidak ada yang mau menikah dengan mereka. Usaha mencari alasan kompleks Kandar menjadi tameng seolah hanya upaya untuk membuat ulasan yang sedikit panjang. Tentu itu bagian dari cara penulis menggiring pembaca menelan habis karyanya. Satu yang terlihat jelas kemudian adalah novel setebal 158 halaman ini sangat berpotensi untuk dipertebal lagi.

Hal ketiga, mempertanyakan ketegaan penulis menghukum Kandar dengan peristiwa yang dialami Jimakir. Penderitaan kompleks Kandar sepertinya sudah setimpal dengan perbuatan masa lalunya. Dihantui dan dikejar-kejar tanpa henti oleh para korbannya, mengharuskan memakai pakaian dalaman loreng, baret yang tidak boleh dicuci, dan helm tempur, membuatnya tampak seperti orang gila.

Rasa bersalah karena merasa memberatkan adiknya yang harus membiayai pengobatan dan merawatnya, serta upaya menyiksa diri untuk tidak meminta pertolongan orang lain. Sebuah penderitaan yang sempurna maksimal bagi seorang tokoh dengan perbuatan kelamnya. Kesempurnaan itu dilengkapi dengan penolakan perwakilan korban untuk memberi kesempatan meminta maaf kepada korban sebagai tujuan dari novel ini. Sampai di sini, Juli sepertinya ingin memperberatnya lagi dengan cara membuat Kandar menyelesaikan prosesi pemandian mayat dan penguburan adiknya, satu-satunya orang yang menjaganya selama ini.

Sebagai pembaca, ingin rasanya protes pada keputusan penulis untuk membunuh Jimakir dalam novel Menuai Badai ini. Keputusan yang tidak hanya membuat Kandar makin menderita tapi juga membuat pembaca syok. Sebuah twist yang benar-benar mencengangkan. Twist yang membuat saluran lakrimal bereaksi dengan kiriman mendadak cairan ke kornea.

Tiga hal itu tampak layak untuk diperbincangkan lama-lama kalau bertemu sekaligus mencicil utang percakapan dua abad yang terlontar dengan sembrononya. Selain itu, novel menuai badai tampak layak menjadi pedoman penulisan novel bagi para pemula. Upaya menampilkan data secara akurat dalam novel ini seolah memberitahu kita bahwa pendalaman terhadap cerita yang dibangun sangat penting dilakukan.

Riset yang baik akan menghidupkan cerita yang dibangun. Demikian pula, cerita-cerita yang ada dalam masyarakat tentang sejarah masa lalu walau tidak akurat dengan angka tanggal, tahun, maupun statistik sangat layak dirangkum dan diarsipkan dalam berbagai media. Berjibunnya konflik dalam novel seolah memberi bimbingan membangun konflik cerita dapat begitu mudahnya dilakukan (tentu diasah dengan latihan dan latihan)

Hal tambahan yang mungkin bisa dijadikan topik adalah protes pada Juli Sastrawan. Betapa susahnya mendapatkan novel ini secara fisik. Susahnya di sini ditinjau dari keberadaannya dalam toko buku. Masalahnya bukan ada atau tidak ada dalam toko buku, tapi keberadaan toko buku itu sendiri. Beberapa waktu lalu sempat berusaha mendapatkannya di sebuah toko pakaian besar di Denpasar, di atas pintu masuk jelas masih terlihat tulisan Gramedia. Biasanya masuk ke sana di lantai dua atau tiga (lupa juga posisi pasnya) hamparan buku terpajang dengan rapi di sepanjang ruangan. Akan tetapi, waktu dicari di lantai dua hanya hamparan pakaian. Mencoba naik ke lantai tiga juga sama.

Akhirnya turun dan bergumam, “mungkin di lantai empat,” lalu pergi tanpa berusaha bertanya ada atau tidak lantai empat atau di bagian bangunan lainnya letak toko buku tersebut. Meninggalkan tempat tersebut, mencoba singgah di toko buku besar di Jalan Hayam Wuruk. Eh, ternyata sama. Bangunan yang dulunya toko buku tersebut ternyata sudah dibongkar. “Mau dijadikan hotel.” Itu kata penjaga yang ada di sana. Situasi yang kemudian membuat hati merasa bersalah menyalahkan penulisnya. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole

Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”
Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid
Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Tags: novelPutu Juli Sastrawansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Next Post

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Panen Perdana Padi "Semeton Buleleng", Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co