2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Yahya Umar by Yahya Umar
August 6, 2025
in Ulas Buku
Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Cover buku “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska

SEBELUM membuka dan membaca buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska, iseng-iseng saya bertanya kepada ChatGPT dan Meta AI, apa makna “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Ya, iseng-iseng ngikutin gen Z sih, biar tidak dibilang ketinggalan trend.
Di era digital masak gak kenal Chat GPT atau Meta AI? Masak nggak mau memanfaatkan aplikasi yang diklaim pinter dan serba bisa menjawab apa saja tersebut?

Saya tanya, apa makna “seperti orang mati yang hidup”? ChatGPT bilang: Kalimat “seperti orang mati yang hidup” adalah ungkapan atau majas yang biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara fisik masih hidup, tetapi secara emosional, mental, atau spiritual tampak hampa, tidak bersemangat, atau kehilangan arah. Ini bisa digunakan secara harfiah atau kiasan tergantung konteks.

Chat GPT memberikan rincian makna dari “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Makna umum: secara kiasan: menggambarkan seseorang yang hidup tanpa semangat, tujuan, atau harapan — seperti zombie hidup secara emosional.

Secara psikologis: Bisa merujuk pada kondisi depresi, trauma, atau kehilangan yang mendalam. Secara spiritual atau filosofis: Seseorang yang kehilangan nilai, iman, atau makna hidup, meskipun tubuhnya masih berjalan seperti biasa.

Bahkan Chat GPT memberikan contoh : “Sejak kehilangan anaknya, dia seperti orang mati yang hidup — ada, tapi kosong.” “Dia kerja setiap hari, tapi tanpa gairah. Seperti orang mati yang hidup saja.” Wiihh lengkap kan jawabannya?

Chat GPT memberikan makna yang disebutnya “Makna Lebih Dalam”. Kata Chat GPT: “Kalimat ini sering membawa nuansa kesedihan, kehampaan, atau keterasingan dari kehidupan itu sendiri. Kadang digunakan juga dalam karya sastra, puisi, atau lagu untuk menggambarkan krisis eksistensial.”

Sementara kalau ditanyakan hal yang sama ke Meta Al, ini jawabannya. “seperti orang mati yang hidup” biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat sangat lelah, lemah, atau tidak berenergi, seolah-olah mereka sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelelahan fisik, stres, depresi, atau masalah kesehatan lainnya.

Willy Fahmy Agiska (pegang mik) saat mendiskusi buku puisinya di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Dalam beberapa konteks, kata Meta AI, ungkapan ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kehilangan gairah hidup atau motivasi, sehingga mereka terlihat seperti “mati” secara mental atau emosional.

Tentu saja jawaban Chat GPT maupun Meta AI tidak untuk menjelaskan buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska. Apalagi menjelaskan puisi-puisi yang dimuat di dalamnya.

Lalu? “seperti orang mati yang hidup” adalah kontemplasi Willy Fahmy Agiska meredam amuk, membenamkan ludah, dan bukan tinju. Begitu kata pengantar dari redaktur Velodrom, penerbit buku ini.

masukkan
selera humormu
ke toples

lakban, lakban

Willy Fahmy Agiska dalam puisi “tutup” tersebut seperti bersuara ‘jengkel tapi tertahan’. Ia membiarkan, dan ia menunggu.

lihat, seberapa tahan
dunia menahan dirinya
tidak menyingkirkan

Suara ‘jengkel tapi tertahan’ bisa juga dirasakan pada puisi Willy Fahmy Agiska berjudul “bangun”.

bangun
aku perlu matamu
untuk menjelaskan
hari yang putih
di ventilasi

Willy Fahmy Agiska memendam ludah. Memendam kejengkelan agar tidak menjadi amuk. Dan buanglah kejengkelan itu karena akan menjadi racun yang menyakiti diri.

sekarang
waktunya minum segelas air
lalu pergi ke toilet

buang sejumlah orang
dan kebekuan kemarin
seperti urin

Racun harus dikeluarkan dari tubuh kita, agar kita bisa sehat. Sakit akan menjadi sembuh jika racun-racun tak bersarang lagi dalam tubuh.

kata-kata sudah banyak
untuk membikin kekosongan

menguap-menguap
seperti kekuasaan

(exit 1)

“seperti orang mati yang hidup” adalah kamar yang memulangkan ‘aku’ dari kecewa dan suntuk. Ini merupakan upaya penyembuhan. Menyembuhkan diri dari rasa sakit menghadapi praktik kekuasaan yang memangsa hidup kita, misalnya.

pintunya sengaja tak dikunci
silakan masuk, negara
sebagaimana nyamuk-nyamuk girang
dilepas-lepas senja

apakah ia masih berselera
dengan daging kita

yang
selamanya terselip
di bawah harga nasional

(toxic)

“seperti orang mati yang hidup” adalah penundaan kematian atas gairah hidup. Memensiunkan segala obsesi dan segenap kesibukan mengejar batas usia.

manusia baiknya mengalir saja
lewat, tak perlu kedalaman

(tanpa)

Toh, pada akhirnya siapa pun akan sampai pada batas. Namun, ….

tanpa iman
semua yang kau sentuh
membuatmu menggigil

tak ada gojek
yang bisa mengantarmu
dengan alamat kosong

(ketemu)

Setelah membaca buku “seperti orang mati yang hidup”, saya seperti ingin mengajak waktu untuk menidurkan puisi dan memensiunkan mimpi-mimpi.

Yahya Umar (penulis), Esha Tegar Putra dan Willy Fahmy Agiska saat mendiskusi buku puisi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Ya pada akhirnya kita mesti menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi. Inilah proses mengumpulkan energi kembali, untuk menyembuhkan tubuh, menyembuhkan diri.

Puisi-puisi (semangat, gairah) sekali waktu harus diistirahatkan, ditidurkan. Mimpi-mimpi (keinginan, obsesi, dan sejenisnya) harus dipensiunkan. Itulah yang menyakiti diri, menyakiti keseluruhan bagian tubuh. Menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi akan mengobati rasa sakit itu. Mengobati penyakit itu. (Yahya Umar)

Willy Fahmy Agiska lahir di Ciamis, 28 Agustus 1992. Ia aktif menulis puisi. Ia memenangi buku terbaik Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2019 dengan buku “Mencatat Demam” (2019).

Buku-buku puisinya yang telah terbit yakni “Mencatat Demam (Kentja Pres, 2018), dan “Unboxing”(Buruan & Co, 2023). Willy kini mengelola Toko Atelir, penerbit Velodrom, dan redaktur Buruan.co.

Data buku:

  • Judul : seperti orang mati yang hidup
  • Pengarang : Willy Fahmy Agiska
  • Penerbit : Velodrom

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Tags: buku puisiresensi bukuSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Willy Fahmy Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Next Post

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co