14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Yahya Umar by Yahya Umar
August 6, 2025
in Ulas Buku
Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Cover buku “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska

SEBELUM membuka dan membaca buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska, iseng-iseng saya bertanya kepada ChatGPT dan Meta AI, apa makna “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Ya, iseng-iseng ngikutin gen Z sih, biar tidak dibilang ketinggalan trend.
Di era digital masak gak kenal Chat GPT atau Meta AI? Masak nggak mau memanfaatkan aplikasi yang diklaim pinter dan serba bisa menjawab apa saja tersebut?

Saya tanya, apa makna “seperti orang mati yang hidup”? ChatGPT bilang: Kalimat “seperti orang mati yang hidup” adalah ungkapan atau majas yang biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara fisik masih hidup, tetapi secara emosional, mental, atau spiritual tampak hampa, tidak bersemangat, atau kehilangan arah. Ini bisa digunakan secara harfiah atau kiasan tergantung konteks.

Chat GPT memberikan rincian makna dari “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Makna umum: secara kiasan: menggambarkan seseorang yang hidup tanpa semangat, tujuan, atau harapan — seperti zombie hidup secara emosional.

Secara psikologis: Bisa merujuk pada kondisi depresi, trauma, atau kehilangan yang mendalam. Secara spiritual atau filosofis: Seseorang yang kehilangan nilai, iman, atau makna hidup, meskipun tubuhnya masih berjalan seperti biasa.

Bahkan Chat GPT memberikan contoh : “Sejak kehilangan anaknya, dia seperti orang mati yang hidup — ada, tapi kosong.” “Dia kerja setiap hari, tapi tanpa gairah. Seperti orang mati yang hidup saja.” Wiihh lengkap kan jawabannya?

Chat GPT memberikan makna yang disebutnya “Makna Lebih Dalam”. Kata Chat GPT: “Kalimat ini sering membawa nuansa kesedihan, kehampaan, atau keterasingan dari kehidupan itu sendiri. Kadang digunakan juga dalam karya sastra, puisi, atau lagu untuk menggambarkan krisis eksistensial.”

Sementara kalau ditanyakan hal yang sama ke Meta Al, ini jawabannya. “seperti orang mati yang hidup” biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat sangat lelah, lemah, atau tidak berenergi, seolah-olah mereka sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelelahan fisik, stres, depresi, atau masalah kesehatan lainnya.

Willy Fahmy Agiska (pegang mik) saat mendiskusi buku puisinya di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Dalam beberapa konteks, kata Meta AI, ungkapan ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kehilangan gairah hidup atau motivasi, sehingga mereka terlihat seperti “mati” secara mental atau emosional.

Tentu saja jawaban Chat GPT maupun Meta AI tidak untuk menjelaskan buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska. Apalagi menjelaskan puisi-puisi yang dimuat di dalamnya.

Lalu? “seperti orang mati yang hidup” adalah kontemplasi Willy Fahmy Agiska meredam amuk, membenamkan ludah, dan bukan tinju. Begitu kata pengantar dari redaktur Velodrom, penerbit buku ini.

masukkan
selera humormu
ke toples

lakban, lakban

Willy Fahmy Agiska dalam puisi “tutup” tersebut seperti bersuara ‘jengkel tapi tertahan’. Ia membiarkan, dan ia menunggu.

lihat, seberapa tahan
dunia menahan dirinya
tidak menyingkirkan

Suara ‘jengkel tapi tertahan’ bisa juga dirasakan pada puisi Willy Fahmy Agiska berjudul “bangun”.

bangun
aku perlu matamu
untuk menjelaskan
hari yang putih
di ventilasi

Willy Fahmy Agiska memendam ludah. Memendam kejengkelan agar tidak menjadi amuk. Dan buanglah kejengkelan itu karena akan menjadi racun yang menyakiti diri.

sekarang
waktunya minum segelas air
lalu pergi ke toilet

buang sejumlah orang
dan kebekuan kemarin
seperti urin

Racun harus dikeluarkan dari tubuh kita, agar kita bisa sehat. Sakit akan menjadi sembuh jika racun-racun tak bersarang lagi dalam tubuh.

kata-kata sudah banyak
untuk membikin kekosongan

menguap-menguap
seperti kekuasaan

(exit 1)

“seperti orang mati yang hidup” adalah kamar yang memulangkan ‘aku’ dari kecewa dan suntuk. Ini merupakan upaya penyembuhan. Menyembuhkan diri dari rasa sakit menghadapi praktik kekuasaan yang memangsa hidup kita, misalnya.

pintunya sengaja tak dikunci
silakan masuk, negara
sebagaimana nyamuk-nyamuk girang
dilepas-lepas senja

apakah ia masih berselera
dengan daging kita

yang
selamanya terselip
di bawah harga nasional

(toxic)

“seperti orang mati yang hidup” adalah penundaan kematian atas gairah hidup. Memensiunkan segala obsesi dan segenap kesibukan mengejar batas usia.

manusia baiknya mengalir saja
lewat, tak perlu kedalaman

(tanpa)

Toh, pada akhirnya siapa pun akan sampai pada batas. Namun, ….

tanpa iman
semua yang kau sentuh
membuatmu menggigil

tak ada gojek
yang bisa mengantarmu
dengan alamat kosong

(ketemu)

Setelah membaca buku “seperti orang mati yang hidup”, saya seperti ingin mengajak waktu untuk menidurkan puisi dan memensiunkan mimpi-mimpi.

Yahya Umar (penulis), Esha Tegar Putra dan Willy Fahmy Agiska saat mendiskusi buku puisi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Ya pada akhirnya kita mesti menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi. Inilah proses mengumpulkan energi kembali, untuk menyembuhkan tubuh, menyembuhkan diri.

Puisi-puisi (semangat, gairah) sekali waktu harus diistirahatkan, ditidurkan. Mimpi-mimpi (keinginan, obsesi, dan sejenisnya) harus dipensiunkan. Itulah yang menyakiti diri, menyakiti keseluruhan bagian tubuh. Menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi akan mengobati rasa sakit itu. Mengobati penyakit itu. (Yahya Umar)

Willy Fahmy Agiska lahir di Ciamis, 28 Agustus 1992. Ia aktif menulis puisi. Ia memenangi buku terbaik Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2019 dengan buku “Mencatat Demam” (2019).

Buku-buku puisinya yang telah terbit yakni “Mencatat Demam (Kentja Pres, 2018), dan “Unboxing”(Buruan & Co, 2023). Willy kini mengelola Toko Atelir, penerbit Velodrom, dan redaktur Buruan.co.

Data buku:

  • Judul : seperti orang mati yang hidup
  • Pengarang : Willy Fahmy Agiska
  • Penerbit : Velodrom

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Tags: buku puisiresensi bukuSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Willy Fahmy Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Next Post

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co