23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Yahya Umar by Yahya Umar
August 6, 2025
in Ulas Buku
Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Cover buku “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska

SEBELUM membuka dan membaca buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska, iseng-iseng saya bertanya kepada ChatGPT dan Meta AI, apa makna “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Ya, iseng-iseng ngikutin gen Z sih, biar tidak dibilang ketinggalan trend.
Di era digital masak gak kenal Chat GPT atau Meta AI? Masak nggak mau memanfaatkan aplikasi yang diklaim pinter dan serba bisa menjawab apa saja tersebut?

Saya tanya, apa makna “seperti orang mati yang hidup”? ChatGPT bilang: Kalimat “seperti orang mati yang hidup” adalah ungkapan atau majas yang biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara fisik masih hidup, tetapi secara emosional, mental, atau spiritual tampak hampa, tidak bersemangat, atau kehilangan arah. Ini bisa digunakan secara harfiah atau kiasan tergantung konteks.

Chat GPT memberikan rincian makna dari “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Makna umum: secara kiasan: menggambarkan seseorang yang hidup tanpa semangat, tujuan, atau harapan — seperti zombie hidup secara emosional.

Secara psikologis: Bisa merujuk pada kondisi depresi, trauma, atau kehilangan yang mendalam. Secara spiritual atau filosofis: Seseorang yang kehilangan nilai, iman, atau makna hidup, meskipun tubuhnya masih berjalan seperti biasa.

Bahkan Chat GPT memberikan contoh : “Sejak kehilangan anaknya, dia seperti orang mati yang hidup — ada, tapi kosong.” “Dia kerja setiap hari, tapi tanpa gairah. Seperti orang mati yang hidup saja.” Wiihh lengkap kan jawabannya?

Chat GPT memberikan makna yang disebutnya “Makna Lebih Dalam”. Kata Chat GPT: “Kalimat ini sering membawa nuansa kesedihan, kehampaan, atau keterasingan dari kehidupan itu sendiri. Kadang digunakan juga dalam karya sastra, puisi, atau lagu untuk menggambarkan krisis eksistensial.”

Sementara kalau ditanyakan hal yang sama ke Meta Al, ini jawabannya. “seperti orang mati yang hidup” biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat sangat lelah, lemah, atau tidak berenergi, seolah-olah mereka sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelelahan fisik, stres, depresi, atau masalah kesehatan lainnya.

Willy Fahmy Agiska (pegang mik) saat mendiskusi buku puisinya di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Dalam beberapa konteks, kata Meta AI, ungkapan ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kehilangan gairah hidup atau motivasi, sehingga mereka terlihat seperti “mati” secara mental atau emosional.

Tentu saja jawaban Chat GPT maupun Meta AI tidak untuk menjelaskan buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska. Apalagi menjelaskan puisi-puisi yang dimuat di dalamnya.

Lalu? “seperti orang mati yang hidup” adalah kontemplasi Willy Fahmy Agiska meredam amuk, membenamkan ludah, dan bukan tinju. Begitu kata pengantar dari redaktur Velodrom, penerbit buku ini.

masukkan
selera humormu
ke toples

lakban, lakban

Willy Fahmy Agiska dalam puisi “tutup” tersebut seperti bersuara ‘jengkel tapi tertahan’. Ia membiarkan, dan ia menunggu.

lihat, seberapa tahan
dunia menahan dirinya
tidak menyingkirkan

Suara ‘jengkel tapi tertahan’ bisa juga dirasakan pada puisi Willy Fahmy Agiska berjudul “bangun”.

bangun
aku perlu matamu
untuk menjelaskan
hari yang putih
di ventilasi

Willy Fahmy Agiska memendam ludah. Memendam kejengkelan agar tidak menjadi amuk. Dan buanglah kejengkelan itu karena akan menjadi racun yang menyakiti diri.

sekarang
waktunya minum segelas air
lalu pergi ke toilet

buang sejumlah orang
dan kebekuan kemarin
seperti urin

Racun harus dikeluarkan dari tubuh kita, agar kita bisa sehat. Sakit akan menjadi sembuh jika racun-racun tak bersarang lagi dalam tubuh.

kata-kata sudah banyak
untuk membikin kekosongan

menguap-menguap
seperti kekuasaan

(exit 1)

“seperti orang mati yang hidup” adalah kamar yang memulangkan ‘aku’ dari kecewa dan suntuk. Ini merupakan upaya penyembuhan. Menyembuhkan diri dari rasa sakit menghadapi praktik kekuasaan yang memangsa hidup kita, misalnya.

pintunya sengaja tak dikunci
silakan masuk, negara
sebagaimana nyamuk-nyamuk girang
dilepas-lepas senja

apakah ia masih berselera
dengan daging kita

yang
selamanya terselip
di bawah harga nasional

(toxic)

“seperti orang mati yang hidup” adalah penundaan kematian atas gairah hidup. Memensiunkan segala obsesi dan segenap kesibukan mengejar batas usia.

manusia baiknya mengalir saja
lewat, tak perlu kedalaman

(tanpa)

Toh, pada akhirnya siapa pun akan sampai pada batas. Namun, ….

tanpa iman
semua yang kau sentuh
membuatmu menggigil

tak ada gojek
yang bisa mengantarmu
dengan alamat kosong

(ketemu)

Setelah membaca buku “seperti orang mati yang hidup”, saya seperti ingin mengajak waktu untuk menidurkan puisi dan memensiunkan mimpi-mimpi.

Yahya Umar (penulis), Esha Tegar Putra dan Willy Fahmy Agiska saat mendiskusi buku puisi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Ya pada akhirnya kita mesti menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi. Inilah proses mengumpulkan energi kembali, untuk menyembuhkan tubuh, menyembuhkan diri.

Puisi-puisi (semangat, gairah) sekali waktu harus diistirahatkan, ditidurkan. Mimpi-mimpi (keinginan, obsesi, dan sejenisnya) harus dipensiunkan. Itulah yang menyakiti diri, menyakiti keseluruhan bagian tubuh. Menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi akan mengobati rasa sakit itu. Mengobati penyakit itu. (Yahya Umar)

Willy Fahmy Agiska lahir di Ciamis, 28 Agustus 1992. Ia aktif menulis puisi. Ia memenangi buku terbaik Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2019 dengan buku “Mencatat Demam” (2019).

Buku-buku puisinya yang telah terbit yakni “Mencatat Demam (Kentja Pres, 2018), dan “Unboxing”(Buruan & Co, 2023). Willy kini mengelola Toko Atelir, penerbit Velodrom, dan redaktur Buruan.co.

Data buku:

  • Judul : seperti orang mati yang hidup
  • Pengarang : Willy Fahmy Agiska
  • Penerbit : Velodrom

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Tags: buku puisiresensi bukuSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Willy Fahmy Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Next Post

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co