23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Yahya Umar by Yahya Umar
August 6, 2025
in Ulas Buku
Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Cover buku “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska

SEBELUM membuka dan membaca buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska, iseng-iseng saya bertanya kepada ChatGPT dan Meta AI, apa makna “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Ya, iseng-iseng ngikutin gen Z sih, biar tidak dibilang ketinggalan trend.
Di era digital masak gak kenal Chat GPT atau Meta AI? Masak nggak mau memanfaatkan aplikasi yang diklaim pinter dan serba bisa menjawab apa saja tersebut?

Saya tanya, apa makna “seperti orang mati yang hidup”? ChatGPT bilang: Kalimat “seperti orang mati yang hidup” adalah ungkapan atau majas yang biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara fisik masih hidup, tetapi secara emosional, mental, atau spiritual tampak hampa, tidak bersemangat, atau kehilangan arah. Ini bisa digunakan secara harfiah atau kiasan tergantung konteks.

Chat GPT memberikan rincian makna dari “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Makna umum: secara kiasan: menggambarkan seseorang yang hidup tanpa semangat, tujuan, atau harapan — seperti zombie hidup secara emosional.

Secara psikologis: Bisa merujuk pada kondisi depresi, trauma, atau kehilangan yang mendalam. Secara spiritual atau filosofis: Seseorang yang kehilangan nilai, iman, atau makna hidup, meskipun tubuhnya masih berjalan seperti biasa.

Bahkan Chat GPT memberikan contoh : “Sejak kehilangan anaknya, dia seperti orang mati yang hidup — ada, tapi kosong.” “Dia kerja setiap hari, tapi tanpa gairah. Seperti orang mati yang hidup saja.” Wiihh lengkap kan jawabannya?

Chat GPT memberikan makna yang disebutnya “Makna Lebih Dalam”. Kata Chat GPT: “Kalimat ini sering membawa nuansa kesedihan, kehampaan, atau keterasingan dari kehidupan itu sendiri. Kadang digunakan juga dalam karya sastra, puisi, atau lagu untuk menggambarkan krisis eksistensial.”

Sementara kalau ditanyakan hal yang sama ke Meta Al, ini jawabannya. “seperti orang mati yang hidup” biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat sangat lelah, lemah, atau tidak berenergi, seolah-olah mereka sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelelahan fisik, stres, depresi, atau masalah kesehatan lainnya.

Willy Fahmy Agiska (pegang mik) saat mendiskusi buku puisinya di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Dalam beberapa konteks, kata Meta AI, ungkapan ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kehilangan gairah hidup atau motivasi, sehingga mereka terlihat seperti “mati” secara mental atau emosional.

Tentu saja jawaban Chat GPT maupun Meta AI tidak untuk menjelaskan buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska. Apalagi menjelaskan puisi-puisi yang dimuat di dalamnya.

Lalu? “seperti orang mati yang hidup” adalah kontemplasi Willy Fahmy Agiska meredam amuk, membenamkan ludah, dan bukan tinju. Begitu kata pengantar dari redaktur Velodrom, penerbit buku ini.

masukkan
selera humormu
ke toples

lakban, lakban

Willy Fahmy Agiska dalam puisi “tutup” tersebut seperti bersuara ‘jengkel tapi tertahan’. Ia membiarkan, dan ia menunggu.

lihat, seberapa tahan
dunia menahan dirinya
tidak menyingkirkan

Suara ‘jengkel tapi tertahan’ bisa juga dirasakan pada puisi Willy Fahmy Agiska berjudul “bangun”.

bangun
aku perlu matamu
untuk menjelaskan
hari yang putih
di ventilasi

Willy Fahmy Agiska memendam ludah. Memendam kejengkelan agar tidak menjadi amuk. Dan buanglah kejengkelan itu karena akan menjadi racun yang menyakiti diri.

sekarang
waktunya minum segelas air
lalu pergi ke toilet

buang sejumlah orang
dan kebekuan kemarin
seperti urin

Racun harus dikeluarkan dari tubuh kita, agar kita bisa sehat. Sakit akan menjadi sembuh jika racun-racun tak bersarang lagi dalam tubuh.

kata-kata sudah banyak
untuk membikin kekosongan

menguap-menguap
seperti kekuasaan

(exit 1)

“seperti orang mati yang hidup” adalah kamar yang memulangkan ‘aku’ dari kecewa dan suntuk. Ini merupakan upaya penyembuhan. Menyembuhkan diri dari rasa sakit menghadapi praktik kekuasaan yang memangsa hidup kita, misalnya.

pintunya sengaja tak dikunci
silakan masuk, negara
sebagaimana nyamuk-nyamuk girang
dilepas-lepas senja

apakah ia masih berselera
dengan daging kita

yang
selamanya terselip
di bawah harga nasional

(toxic)

“seperti orang mati yang hidup” adalah penundaan kematian atas gairah hidup. Memensiunkan segala obsesi dan segenap kesibukan mengejar batas usia.

manusia baiknya mengalir saja
lewat, tak perlu kedalaman

(tanpa)

Toh, pada akhirnya siapa pun akan sampai pada batas. Namun, ….

tanpa iman
semua yang kau sentuh
membuatmu menggigil

tak ada gojek
yang bisa mengantarmu
dengan alamat kosong

(ketemu)

Setelah membaca buku “seperti orang mati yang hidup”, saya seperti ingin mengajak waktu untuk menidurkan puisi dan memensiunkan mimpi-mimpi.

Yahya Umar (penulis), Esha Tegar Putra dan Willy Fahmy Agiska saat mendiskusi buku puisi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Ya pada akhirnya kita mesti menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi. Inilah proses mengumpulkan energi kembali, untuk menyembuhkan tubuh, menyembuhkan diri.

Puisi-puisi (semangat, gairah) sekali waktu harus diistirahatkan, ditidurkan. Mimpi-mimpi (keinginan, obsesi, dan sejenisnya) harus dipensiunkan. Itulah yang menyakiti diri, menyakiti keseluruhan bagian tubuh. Menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi akan mengobati rasa sakit itu. Mengobati penyakit itu. (Yahya Umar)

Willy Fahmy Agiska lahir di Ciamis, 28 Agustus 1992. Ia aktif menulis puisi. Ia memenangi buku terbaik Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2019 dengan buku “Mencatat Demam” (2019).

Buku-buku puisinya yang telah terbit yakni “Mencatat Demam (Kentja Pres, 2018), dan “Unboxing”(Buruan & Co, 2023). Willy kini mengelola Toko Atelir, penerbit Velodrom, dan redaktur Buruan.co.

Data buku:

  • Judul : seperti orang mati yang hidup
  • Pengarang : Willy Fahmy Agiska
  • Penerbit : Velodrom

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Tags: buku puisiresensi bukuSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Willy Fahmy Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Next Post

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co