2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi

I Made Sujaya by I Made Sujaya
July 28, 2025
in Esai
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi

Made Sujaya

Sulit memungkiri betapa kuatnya kecintaan penyair Umbu Landu Paranggi kepada Bali. Dia menghabiskan separuh lebih usianya di Bali. Sejak tahun 1978 dia bermukim di Bali hingga akhir hayatnya pada 6 April 2021. Dengan setia, sejak tahun 1978, Umbu setia mengasuh halaman sastra di sebuah koran tertua di Bali, Bali Post. Melalui halaman bertajuk “Apresiasi” itu, Umbu merangsang gairah kreatif para penulis dan pengarang Bali. Dengan gaya gerilyanya Umbu mencari, menemukan, dan menempa bakat-bakat muda Bali hingga kemudian mampu tampil meramaikan arena sastra Indonesia.

Orang-orang pun mengakui peran besar Umbu membidani kelahiran para penyair dari Bali, kendati pun dia tak pernah mengajari cara-cara menulis puisi. Sastrawan Gde Aryantha Soethama menyebut Umbu sebagai leluhur penyair Bali. Dia menyejajarkan Umbu dengan para pengelana yang kemudian turut membentuk peradaban Bali, seperti Mpu Kuturan, Danghyang Nirartha hingga Walter Spies, Rudolph Bonnet maupun Arie Smith.

Selama di Bali, Umbu sepertinya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali, terutama yang bersumber dari karya-karya pangawi Bali. Pemahamannya terhadap Bali sebagian dituangkan dalam sejumlah kecil sajak-sajaknya tentang Bali, sebagian lagi kerap disampaikan dalam pertemuan-pertemuan atau diskusi sastra.

Meskipun menghabiskan separuh lebih usianya di Bali, tak banyak sajak Umbu yang merepresentasikan Bali. Sejauh ini kita menemukan sedikitnya tujuh sajak Umbu yang mengandung elemen-elemen budaya maupun lanskap Bali, di antaranyta “Upacara XXXVII” (1982), “Ni Reneng” (1984), “Syair Rajer Babat” (1992), “Dari Pura Tanah Lot” (1996), “Jagung Bakar Pantai Sanur” (1996), “Denpasar Selatan Dari Sebuah Lorong” (1997) dan “Pengantar Mantra Batur” (2019).

“Upacara XXXVII” tampaknya yang paling representatif menggambarkan pandangan Umbu tentang Bali. Kata-kata kunci dalam sajak ini berulang muncul dalam sajak-sajak Umbu lainnya tentang Bali, seperti upacara, mantra, purba, semadi, selain kata-kata sunyi, cinta, rindu, rahasia yang sebelumnya selalu muncul sejak periode Yogya. Dalam periode Bali, Umbu makin intens menggunakan kata upacara dalam sajak-sajaknya. Sajak-sajaknya tentang Bali masih mempertahankan kredo “ritual puisi”, puisi sebagai persembahan, seperti sejalan dengan falsafah hidup orang Bali bahwa seni, demikian pula sastra termasuk di dalamnya puisi, adalah sebentuk persembahan.

Puisi “Upacara XXXVII” merupakan semacam mantra, doa, atau liturgi puisi spiritual-modern, yang mengeksplorasi relasi antara manusia, alam, tradisi, dan semesta dalam konteks Bali sebagai ruang sakral sekaligus kultural. Penyair menyatukan elemen-elemen tradisi Bali (Dewi Sri, Besakih, tabuh, gamelan, banjar, pura) dengan kosmologi besar (galaksi, samudera, langit ilmu manusiawi), lalu meracik semuanya dalam bentuk puisi ritualistik-spiritualistik yang menyuarakan pentingnya percakapan ke dalam diri (percakapan sunyi, percintaan sunyi). Di dalamnya tidak hanya terdapat permainan bunyi dan simbol, tapi sebuah doa puitik, puja sastra, yang membaurkan lokalitas Bali dengan spiritualitas universal.

Bali dalam sajak-sajak Umbu adalah dunia magis yang tak mudah dipahami maknanya kecuali dengan kesediaan dan kesuntukan melakukan penjelajahan berlapis-lapis, menautkan dunia besar (makrokosmos) dengan dunia kecil (mikrokosmos), sebagaimana digambarkannya dalam larik: di luar teratai, di dalam semadi, di luar kepala, di dalam semesta. Apa yang terjadi dalam jagat besar (semesta) bertaut dengan apa yang dialami dalam jagat kecil (diri sendiri).

Lanskap magisme Bali juga terekam dalam sajak “Dari Pura Tanah Lot”. Umbu cukup tersentuh dengan keagungan Pura Tanah Lot, salah satu kosmologi spiritual ikonik Bali. Sampai-sampai dia ingin “menggapai puncak meru” bersama kesunyiannya: /beribu para aku sebrang sana datang/ mengabadikanmu pasang naik pasang surut /dan kini giliran asal bunyi sunyiku menggapai puncak meru/kegunung gunung agung tengadah mataku mengail ufuk/tak teduh mengairi kasihku//

Upaya Umbu memahami tanah Bali tempatnya berjejak ini dilandasi dengan kerendahan hati. Dengan mengambil peribahasa klasik “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”, Umbu mengungkapkan sikap kultural untuk berusaha memahami dan memaknai segala gerak di tanah tempatnya berjejak. “Rajer/ bukan ke mana bukan di mana/ bumi dipijak langit dijunjung/ Babat/ bukan di mana bukan ke mana/ langit dijunjung bumi dipijak//” (Sajak “Syair Rajer Babat”).

Selain suasana magis-spiritualnya, yang membuat Umbu tertarik tentu saja cara hidup manusia Bali yang tidak pernah lepas dari seni. Seperti pernah ditulis Subagyo Sastrowardoyo dalam esainya berjudul “Kembali ke Pola Hidup Bali” yang dimuat kembali dalam bukunya, Sekilas Soal Sastra dan Budaya (1992) di Bali kehidupan sehari-hari diresapi dan dikelilingi oleh kesenian. Daya kreasi orang Bali pun begitu liat dan tidak pernah padam, tidak pernah kehabisan angan.

Hal ini pun dirasakan Umbu. Dia mengambil personifikasi seorang maestro penari Bali, Ni Reneng sebagai representasi dari kehidupan yang kental dengan kesenian itu. Lahirlah kemudian sajak Umbu berjudul “Ni Reneng” yang ditulis antara bulan Oktober hingga November 1984. Sajak sepanjang 54 larik ini juga menunjukkan bagaimana hormatnya Umbu kepada sikap berkesenian seniman-seniman otodidak Bali khususnya Ni Reneng. Larik berikut ini membuktikan hal itu. “/Ibu, biar bersimpuh rohku/ pada kedua telapak tanganmu/ bekal ke sepi malam malam mantram/ memetik kidung cipratan bening embun/menyusuri jelajahan jejak aksara/ menjaga kemurnian rasa dahaga/ dan lapar gembala sukma kelana//”

Namun, seiring dengan perkembangan yang dialami Bali, Umbu pun ikut gundah memandang perubahan Bali. Kegundahan Umbu dapat dilihat pada tiga sajaknya yakni “Jagung Bakar Pantai Sanur”, “Dari Pura Tanah Lot” serta “Denpasar Selatan Dari Sebuah Lorong”.

Dalam sajak “Jagung Bakar Pantai Sanur”, Umbu menulis: /Suatu senja/dengus cinta seperti jagung muda dihembus bara purba/seraya pasir/sepasang nganga luka buatan eropa direndam laut sanur/belajar mengunyah berenang dan menyelami pesona timur/berpasang saksi bisu: perahu tembang jukung cakrawala/satu ransel senyum derita//

Pilihan kata Umbu seperti nganga luka, senyum derita dan kesepian moderna di akhir larik merupakan cerminan kegetiran yang mencengkeram begitu kuat batinnya. Sanur yang merupakan salah satu dari tempat eksotik yang dimiliki Bali telah dieskploitasi begitu keras. Karenanya, yang dirasakan Umbu di Sanur bukanlah kesunyian hakiki tetapi kesepian moderna, kesepian artifisial yang diakibatkan oleh eksploitasi tersebut.

Dalam sajak lainnya berjudul “Denpasar Selatan, Dari Sebuah Lorong…” nada getir juga terasa. /bibit cahaya rumpun perdu/inilah perjalanan penemuan siangmalammu/sabankali kau mengidung menembang/dan melabuh bara para kekasih dewata/terowongan penjor nun/didusun dusun jagatraya Bali/resah menanti lalu menyulingmu kembali/memasuki gerbang kotamu tergesa metropolitan// ada juga titipan jalan pasir/gubug ladang garam masa kecilmu/kaligrafi sungai payau, gaib aksara/terbungkus pujapujimu, mutlak laguan kawi/kembali kau menyuruk igauan/limbung menguruk tanah kuru dengan darah cinta/kesuir atau sipongang segara gunungkah itu/gagu merafal, mengeja eja mantra purba/

Sajak ini tampaknya merangkum duka gundah Umbu terhadap tanah dewata yang dijejakinya. Umbu sepertinya mengikuti perubahan yang dialami Bali sebagai akibat penetrasi industry pariwisata yang kian massif pada era tahun 1980-an hingga 1990-an. Pada masa-masa itu, Bali memang menghadapi masalah-masalah tanah, dekadensi moral, serta ketergerusan adat dan budaya.

Pada tahun 1990-an, isu sosial memang menjadi tema mayor sajak karya penyair Bali sejalan dengan dahsyatnya perubahan sosial yang dialami daerahnya. Guru besar sastra Indonesia Unud, I Nyoman Darma Putra melalui esainya yang berjudul “Sajak Protes Penyair Bali 1990-an” dalam buku Proses & Protes Budaya Persembahan untuk Ngurah Bagus (1998) mencatat, penyair yang sudah menulis tahun 1980-an, ikut mengubah fokus penulisannya. Pergeseran estetik penyair Bali ini terjadi berkoinsidensi dengan perubahan besar di bidang kebijakan pemerintah.

Umbu tampaknya ikut tergoda untuk turut merespons fenomena Bali pada masa itu. Namun, respons Umbu tetap dalam kerangka kesediaan berdialog ke dalam diri sebagai sebuah percakapan sunyi, sebuah percintaan sunyi.

Dalam berbagai kesempatan, Umbu memang kerap mengingatkan orang-orang di Bali untuk mensyukuri tradisi nyepi. Menurut Umbu, Bali sangat beruntung mewarisi tradisi nyepi. Bagi Umbu, nyepi bukan semata kesediaan menyelami sepi, tetapi sebuah cermin kearifan untuk memahami apa yang ada di luar diri melalui perjalanan ke dalam diri. Melalui tradisi nyepi, tradisi nyastra, orang akan diajak berkelana untuk menemukan sangkan paraning dumadi (dari mana manusia berasal). Tatkala pandemi Covid-19 menghantam, nyepi terbukti sebagai jalan keluar. Ketika manusia tak berdaya menghadapi dahsyatnya bahaya virus Covid-19, nyepi menjadi resolusi. Emha Ainun Najib menyebut “Resolusi Nyepi” sebagai ajakan untuk meneladani tradisi Nyepi masyarakat Hindu-Bali sebagai isolasi mandiri total nasional menghadapi pandemi Covid-19.

“Beruntunglah Bali karena mewarisi tradisi nyepi dan tradisi nyastra. Kelebihan nyepi di Bali karena dilakoni 24 jam penuh. Tapi kitalah yang menerjemahkannya dalam laku hidup sehari-hari sebagai upaya MERaih DEtik KArunia (MERDEKA/mer-DK)”. Begitu Umbu menulis dalam pengantarnya atas buku puisi “Luka Purnama” karya IBG Parwita.

Umbu juga kerap menyampaikan keterpesonaannya pada konsep-konsep sastrawan Ida Pedanda Made Sidemen, antara lain tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin (tidak memiliki tanah sawah, tanamilah tubuh sendiri). Umbu secara kreatif mengubah ungkapan itu menjadi karang awake tandurin aksara (KATA) sebagai caranya memotivasi para pengarang muda Bali untuk bersetia di jalan nyastra. Melalui jalan nyastra, menjalani salampah laku (perjalanan diri mencari ilmu pengetahuan), manusia akan menemukan kesejatian dirinya. Salampah laku merupakan judul salah satu karya Ida Pedanda Made Sidemen yang melukiskan perjalanan hidup sang kawi-wiku melakukan dharma yatra, mencari kesejatian ilmu pengetahuan.

Umbu tak sulit memasuki cara pandang dan falsafah hidup Bali semacam itu karena dia sendiri melakoni perjalanan menemukan kesejatian dirinya juga melalui jalan nyastra, jalan puisi. Yogya mungkin menjadi fase penempaan dan pematangan diri Umbu. Namun, di Bali Umbu menemukan kesejatian dirinya. [T]

Artikel disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Umbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Semesta Suara Pujangga” di Festival Seni Bali Jani 2025: Ketika Puisi Jadi Panggung Merawat Harmoni

Next Post

Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co