11 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi

I Made Sujaya by I Made Sujaya
July 28, 2025
in Esai
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi

Made Sujaya

Sulit memungkiri betapa kuatnya kecintaan penyair Umbu Landu Paranggi kepada Bali. Dia menghabiskan separuh lebih usianya di Bali. Sejak tahun 1978 dia bermukim di Bali hingga akhir hayatnya pada 6 April 2021. Dengan setia, sejak tahun 1978, Umbu setia mengasuh halaman sastra di sebuah koran tertua di Bali, Bali Post. Melalui halaman bertajuk “Apresiasi” itu, Umbu merangsang gairah kreatif para penulis dan pengarang Bali. Dengan gaya gerilyanya Umbu mencari, menemukan, dan menempa bakat-bakat muda Bali hingga kemudian mampu tampil meramaikan arena sastra Indonesia.

Orang-orang pun mengakui peran besar Umbu membidani kelahiran para penyair dari Bali, kendati pun dia tak pernah mengajari cara-cara menulis puisi. Sastrawan Gde Aryantha Soethama menyebut Umbu sebagai leluhur penyair Bali. Dia menyejajarkan Umbu dengan para pengelana yang kemudian turut membentuk peradaban Bali, seperti Mpu Kuturan, Danghyang Nirartha hingga Walter Spies, Rudolph Bonnet maupun Arie Smith.

Selama di Bali, Umbu sepertinya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali, terutama yang bersumber dari karya-karya pangawi Bali. Pemahamannya terhadap Bali sebagian dituangkan dalam sejumlah kecil sajak-sajaknya tentang Bali, sebagian lagi kerap disampaikan dalam pertemuan-pertemuan atau diskusi sastra.

Meskipun menghabiskan separuh lebih usianya di Bali, tak banyak sajak Umbu yang merepresentasikan Bali. Sejauh ini kita menemukan sedikitnya tujuh sajak Umbu yang mengandung elemen-elemen budaya maupun lanskap Bali, di antaranyta “Upacara XXXVII” (1982), “Ni Reneng” (1984), “Syair Rajer Babat” (1992), “Dari Pura Tanah Lot” (1996), “Jagung Bakar Pantai Sanur” (1996), “Denpasar Selatan Dari Sebuah Lorong” (1997) dan “Pengantar Mantra Batur” (2019).

“Upacara XXXVII” tampaknya yang paling representatif menggambarkan pandangan Umbu tentang Bali. Kata-kata kunci dalam sajak ini berulang muncul dalam sajak-sajak Umbu lainnya tentang Bali, seperti upacara, mantra, purba, semadi, selain kata-kata sunyi, cinta, rindu, rahasia yang sebelumnya selalu muncul sejak periode Yogya. Dalam periode Bali, Umbu makin intens menggunakan kata upacara dalam sajak-sajaknya. Sajak-sajaknya tentang Bali masih mempertahankan kredo “ritual puisi”, puisi sebagai persembahan, seperti sejalan dengan falsafah hidup orang Bali bahwa seni, demikian pula sastra termasuk di dalamnya puisi, adalah sebentuk persembahan.

Puisi “Upacara XXXVII” merupakan semacam mantra, doa, atau liturgi puisi spiritual-modern, yang mengeksplorasi relasi antara manusia, alam, tradisi, dan semesta dalam konteks Bali sebagai ruang sakral sekaligus kultural. Penyair menyatukan elemen-elemen tradisi Bali (Dewi Sri, Besakih, tabuh, gamelan, banjar, pura) dengan kosmologi besar (galaksi, samudera, langit ilmu manusiawi), lalu meracik semuanya dalam bentuk puisi ritualistik-spiritualistik yang menyuarakan pentingnya percakapan ke dalam diri (percakapan sunyi, percintaan sunyi). Di dalamnya tidak hanya terdapat permainan bunyi dan simbol, tapi sebuah doa puitik, puja sastra, yang membaurkan lokalitas Bali dengan spiritualitas universal.

Bali dalam sajak-sajak Umbu adalah dunia magis yang tak mudah dipahami maknanya kecuali dengan kesediaan dan kesuntukan melakukan penjelajahan berlapis-lapis, menautkan dunia besar (makrokosmos) dengan dunia kecil (mikrokosmos), sebagaimana digambarkannya dalam larik: di luar teratai, di dalam semadi, di luar kepala, di dalam semesta. Apa yang terjadi dalam jagat besar (semesta) bertaut dengan apa yang dialami dalam jagat kecil (diri sendiri).

Lanskap magisme Bali juga terekam dalam sajak “Dari Pura Tanah Lot”. Umbu cukup tersentuh dengan keagungan Pura Tanah Lot, salah satu kosmologi spiritual ikonik Bali. Sampai-sampai dia ingin “menggapai puncak meru” bersama kesunyiannya: /beribu para aku sebrang sana datang/ mengabadikanmu pasang naik pasang surut /dan kini giliran asal bunyi sunyiku menggapai puncak meru/kegunung gunung agung tengadah mataku mengail ufuk/tak teduh mengairi kasihku//

Upaya Umbu memahami tanah Bali tempatnya berjejak ini dilandasi dengan kerendahan hati. Dengan mengambil peribahasa klasik “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”, Umbu mengungkapkan sikap kultural untuk berusaha memahami dan memaknai segala gerak di tanah tempatnya berjejak. “Rajer/ bukan ke mana bukan di mana/ bumi dipijak langit dijunjung/ Babat/ bukan di mana bukan ke mana/ langit dijunjung bumi dipijak//” (Sajak “Syair Rajer Babat”).

Selain suasana magis-spiritualnya, yang membuat Umbu tertarik tentu saja cara hidup manusia Bali yang tidak pernah lepas dari seni. Seperti pernah ditulis Subagyo Sastrowardoyo dalam esainya berjudul “Kembali ke Pola Hidup Bali” yang dimuat kembali dalam bukunya, Sekilas Soal Sastra dan Budaya (1992) di Bali kehidupan sehari-hari diresapi dan dikelilingi oleh kesenian. Daya kreasi orang Bali pun begitu liat dan tidak pernah padam, tidak pernah kehabisan angan.

Hal ini pun dirasakan Umbu. Dia mengambil personifikasi seorang maestro penari Bali, Ni Reneng sebagai representasi dari kehidupan yang kental dengan kesenian itu. Lahirlah kemudian sajak Umbu berjudul “Ni Reneng” yang ditulis antara bulan Oktober hingga November 1984. Sajak sepanjang 54 larik ini juga menunjukkan bagaimana hormatnya Umbu kepada sikap berkesenian seniman-seniman otodidak Bali khususnya Ni Reneng. Larik berikut ini membuktikan hal itu. “/Ibu, biar bersimpuh rohku/ pada kedua telapak tanganmu/ bekal ke sepi malam malam mantram/ memetik kidung cipratan bening embun/menyusuri jelajahan jejak aksara/ menjaga kemurnian rasa dahaga/ dan lapar gembala sukma kelana//”

Namun, seiring dengan perkembangan yang dialami Bali, Umbu pun ikut gundah memandang perubahan Bali. Kegundahan Umbu dapat dilihat pada tiga sajaknya yakni “Jagung Bakar Pantai Sanur”, “Dari Pura Tanah Lot” serta “Denpasar Selatan Dari Sebuah Lorong”.

Dalam sajak “Jagung Bakar Pantai Sanur”, Umbu menulis: /Suatu senja/dengus cinta seperti jagung muda dihembus bara purba/seraya pasir/sepasang nganga luka buatan eropa direndam laut sanur/belajar mengunyah berenang dan menyelami pesona timur/berpasang saksi bisu: perahu tembang jukung cakrawala/satu ransel senyum derita//

Pilihan kata Umbu seperti nganga luka, senyum derita dan kesepian moderna di akhir larik merupakan cerminan kegetiran yang mencengkeram begitu kuat batinnya. Sanur yang merupakan salah satu dari tempat eksotik yang dimiliki Bali telah dieskploitasi begitu keras. Karenanya, yang dirasakan Umbu di Sanur bukanlah kesunyian hakiki tetapi kesepian moderna, kesepian artifisial yang diakibatkan oleh eksploitasi tersebut.

Dalam sajak lainnya berjudul “Denpasar Selatan, Dari Sebuah Lorong…” nada getir juga terasa. /bibit cahaya rumpun perdu/inilah perjalanan penemuan siangmalammu/sabankali kau mengidung menembang/dan melabuh bara para kekasih dewata/terowongan penjor nun/didusun dusun jagatraya Bali/resah menanti lalu menyulingmu kembali/memasuki gerbang kotamu tergesa metropolitan// ada juga titipan jalan pasir/gubug ladang garam masa kecilmu/kaligrafi sungai payau, gaib aksara/terbungkus pujapujimu, mutlak laguan kawi/kembali kau menyuruk igauan/limbung menguruk tanah kuru dengan darah cinta/kesuir atau sipongang segara gunungkah itu/gagu merafal, mengeja eja mantra purba/

Sajak ini tampaknya merangkum duka gundah Umbu terhadap tanah dewata yang dijejakinya. Umbu sepertinya mengikuti perubahan yang dialami Bali sebagai akibat penetrasi industry pariwisata yang kian massif pada era tahun 1980-an hingga 1990-an. Pada masa-masa itu, Bali memang menghadapi masalah-masalah tanah, dekadensi moral, serta ketergerusan adat dan budaya.

Pada tahun 1990-an, isu sosial memang menjadi tema mayor sajak karya penyair Bali sejalan dengan dahsyatnya perubahan sosial yang dialami daerahnya. Guru besar sastra Indonesia Unud, I Nyoman Darma Putra melalui esainya yang berjudul “Sajak Protes Penyair Bali 1990-an” dalam buku Proses & Protes Budaya Persembahan untuk Ngurah Bagus (1998) mencatat, penyair yang sudah menulis tahun 1980-an, ikut mengubah fokus penulisannya. Pergeseran estetik penyair Bali ini terjadi berkoinsidensi dengan perubahan besar di bidang kebijakan pemerintah.

Umbu tampaknya ikut tergoda untuk turut merespons fenomena Bali pada masa itu. Namun, respons Umbu tetap dalam kerangka kesediaan berdialog ke dalam diri sebagai sebuah percakapan sunyi, sebuah percintaan sunyi.

Dalam berbagai kesempatan, Umbu memang kerap mengingatkan orang-orang di Bali untuk mensyukuri tradisi nyepi. Menurut Umbu, Bali sangat beruntung mewarisi tradisi nyepi. Bagi Umbu, nyepi bukan semata kesediaan menyelami sepi, tetapi sebuah cermin kearifan untuk memahami apa yang ada di luar diri melalui perjalanan ke dalam diri. Melalui tradisi nyepi, tradisi nyastra, orang akan diajak berkelana untuk menemukan sangkan paraning dumadi (dari mana manusia berasal). Tatkala pandemi Covid-19 menghantam, nyepi terbukti sebagai jalan keluar. Ketika manusia tak berdaya menghadapi dahsyatnya bahaya virus Covid-19, nyepi menjadi resolusi. Emha Ainun Najib menyebut “Resolusi Nyepi” sebagai ajakan untuk meneladani tradisi Nyepi masyarakat Hindu-Bali sebagai isolasi mandiri total nasional menghadapi pandemi Covid-19.

“Beruntunglah Bali karena mewarisi tradisi nyepi dan tradisi nyastra. Kelebihan nyepi di Bali karena dilakoni 24 jam penuh. Tapi kitalah yang menerjemahkannya dalam laku hidup sehari-hari sebagai upaya MERaih DEtik KArunia (MERDEKA/mer-DK)”. Begitu Umbu menulis dalam pengantarnya atas buku puisi “Luka Purnama” karya IBG Parwita.

Umbu juga kerap menyampaikan keterpesonaannya pada konsep-konsep sastrawan Ida Pedanda Made Sidemen, antara lain tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin (tidak memiliki tanah sawah, tanamilah tubuh sendiri). Umbu secara kreatif mengubah ungkapan itu menjadi karang awake tandurin aksara (KATA) sebagai caranya memotivasi para pengarang muda Bali untuk bersetia di jalan nyastra. Melalui jalan nyastra, menjalani salampah laku (perjalanan diri mencari ilmu pengetahuan), manusia akan menemukan kesejatian dirinya. Salampah laku merupakan judul salah satu karya Ida Pedanda Made Sidemen yang melukiskan perjalanan hidup sang kawi-wiku melakukan dharma yatra, mencari kesejatian ilmu pengetahuan.

Umbu tak sulit memasuki cara pandang dan falsafah hidup Bali semacam itu karena dia sendiri melakoni perjalanan menemukan kesejatian dirinya juga melalui jalan nyastra, jalan puisi. Yogya mungkin menjadi fase penempaan dan pematangan diri Umbu. Namun, di Bali Umbu menemukan kesejatian dirinya. [T]

Artikel disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Umbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Semesta Suara Pujangga” di Festival Seni Bali Jani 2025: Ketika Puisi Jadi Panggung Merawat Harmoni

Next Post

Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
0
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

Read moreDetails

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
0
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

Read moreDetails
Next Post
Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

Parade Monolog dengan Refleksi Mendalam Tentang Ekologi, Budaya dan Nurani Manusia di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co