4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid by AS Rosyid
July 21, 2025
in Esai
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid

I

Buku saya, “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”, adalah tesis magister yang saya garap dalam kurun 2017-2019. Remah-remah tesis ini terbit lebih dulu pada tahun 2022, dengan judul “Melawan Nafsu Merusak Bumi”. Dibandingkan dengan remah-remahnya, buku saya kali ini lebih metodologis dan bobotnya lebih serius (kendati sudah dipoles dalam gaya bahasa yang ringan). Sebab, buku ini adalah fondasi awal dari bangunan wacana yang panjang.

Saya tidak pernah bermaksud untuk mengulik wacana Islam dan lingkungan hidup terlalu lama. Bisa saja ide-ide normatif tentang agama yang memihak lingkungan diperkaya sampai tak terhingga, tapi saya memilih untuk cukup menulis satu karya fondasional yang membidik masalah-masalah mendasar dengan tanpa basa-basi. Isu fondasional yang saya bidik dalam buku saya, salah duanya, adalah ekosentrisme Islam dan modernitas berbasis kapitalisme.

Pertama, dalam Islam, keutuhan alam merupakan isu sentral. Dari sana tauhid dibangun dan kebutuhan dasar manusia dipenuhi: pangan, obat, keadilan sosial, kekerabatan, hingga spiritualitas. Saya bahkan meletakkan hak-hak bumi untuk lestari di atas hak-hak manusia untuk menyembah Tuhan. Sebab, al-Qur’an sendiri menyatakan dalam banyak ayat bahwa iman pada Tuhan dibangun dengan intensitas pengamatan dan dialog antara manusia dan alam lantaran tanda kekuasan-Nya terpampang di sana. Bila alam dihancurkan, jembatan penghubung antara manusia dan Tuhan terputus, sehingga esensi penyembahan menjadi pudar. Menurut saya, lisensi manusia untuk berbuat berdasarkan kepentingannya baru bisa dibicarakan setelah diskursus tentang hakikat dan hak-hak bumi terpenuhi.

Kedua, Islam menentang cara-cara kapitalis bekerja menggalang uang hingga ke akar-akarnya. Ini bukan saja tentang mode produksi dan mode konsumsi yang saling menciptakan kehancuran di bentang alam, melainkan juga corak berpikir positivistik yang menghasilkan pendekatan tunggal dalam melihat alam, yakni pendekatan lahiriah (dari kata Arab zhâhir, “tampak”; semakna dengan nazhara atau “melihat”), sehingga meminggirkan pendekatan batiniyah (dari kata Arab bathn, “isi di dalam perut”, tidak diketahui sampai keluar), yang sebetulnya lebih cocok secara sosiologis, antropologis, dan spiritual dengan corak asli masyarakat kita: realisme magis. Islam melihat bumi sebagai entitas hidup, berkesadaran, dan mampu bertindak dalam motif, bukan barang mati seperti diproyeksikan saintis.

Dua fondasi itu penting saya letakkan karena saya hendak bergerak dari Islam dengan tradisi politik menuju Islam dengan tradisi kearifan lokal. Saya (ingin) menamainya: Islam Noah.

II

Sebagai Orang Sasak, saya melihat sebuah keunikan dalam kajian budaya dan sejarah suku penghuni Pulau Lombok ini. Mereka punya prinsip: gumi Sasak gumi selam (bumi Sasak bumi Islam; kata “gumi” mengacu pada ruang fisik dan budaya sekaligus). Klaim semacam ini tidak unik; ia muncul di banyak suku di Nusantara. Namun, terdapat diskursus yang berkembang di sementara Orang Sasak, yang melampaui batas-batas imajinasi tentang Islam, yakni tesis bahwa komunitas pertama Suku Sasak adalah keturunan dan pengikut Nabi Nuh.

Babad Lombok sendiri menceritakan awal mula kedatangan komunitas genealogis pertama ini dalam salah satu pupuhnya:

“Mung sajodo wong kang hurup, hikang mati, ponan kadamepa katah, tumiba hing pulo Lombok …… Wus lepasa kang samudera, mayit wong ngiku, kang gawe humah hing kana, lang ngulati pamangani lan wargi, yata hamanggiha toya.”

(Hanya sepasang manusia yang hidup, yang lainnya mati, tercerai-berai semuanya, tiba di Pulau Lombok …… Sesudah lepas dari samudera, mayat-mayat tertinggal. Yang selamat membuat pondok di sana, mencari makanan serta penduduk, kemudian menemukan air).

Pupuh-pupuh selanjutnya mengisahkan bahwa sepasang penyintas dari samudera yang terdampar di Pulau Lombok adalah seorang perempuan dengan kekasihnya (yang berarti, tokoh utamanya adalah si perempuan), berikut kisah-kisah tentang pembentukan struktur sosial awal Suku Sasak yang sangat sederhana dan pengangkatan penghulu pertama, yakni seorang alim dari garis keturunan Nabi Nuh.

Tesis ini memiliki penentang yang cukup banyak, tapi kelompok pengaju tesis ini pun telah bekerja menafsirkan babad itu dan mengumpulkan data sejak medio 70-an. Sumber mereka tidak terbatas pada lontar dan jejak artefak seperti penandoq (tapak penanda bekas bangunan) di hutan-hutan rahasia Rinjani, kode kuno di balik corak arsitektur (lumbung alang, misalnya), dan bahkan temuan-teman terbaru seperti di situs Gunung Piring, Mertak. Mereka melangkah lebih jauh: sumber-sumber mentifak digali langsung dari perut kebudayaan Sasak seperti senepe (siloka) dalam mantra dan ritual, wawasan, tradisi, dan memori kolektif para lokaq-mangku tua yang “lidahnya masih bersih”, nama-nama dan sejarah desa tua, bahasa-bahasa arkais, bahkan penelusuran khazanah mistisme asli Sasak yang begitu berbeda bila dibandingkan dengan khazanah mistisme dari jalur Pengeran Guru Ali Batu.

Tentu saja perdebatan dua kubu di wacana sasak-selam (sasak-islam) itu terlalu panjang dan tidak relevan untuk diuraikan di sini. Namun saya, yang telah lama mempelajari argumentasi kubu pengaju, melihat satu kepentingan besar untuk meneguhkan suatu “Islam-lain”; Islam yang secara sosiologis amat berbeda dengan Islam-mainstream hari ini.

Tradisi Islam yang dibawa Nuh dan Ibrahim memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Islam-Abrahamik (sementara ini, begitu saja kita menyebutnya) berorientasi pada politik pembebasan dan perlawanan pada kekuasaan yang korup. Ibrahim dan para nabi dari keturunan Ishaq berhadapan dengan raja-raja yang zalim, atau malah menjadi raja yang bijak. Kecuali Muhammad, sebagai keturunan Ismail yang bergulat dengan tradisi kedatuan. Namun, kendati Muhammad tidak melawan rezim politik, melainkan rezim masyarakat, kerja-kerja dakwah Muhammad lekat dengan aktivisme politik, banyak terinspirasi oleh leluhurnya dari pihak Ishaq, dan merencanakan Islam sebagai suatu rezim politik di masa depan.

Sementara itu, tradisi Nuh sepertinya bertitik tekan pada penyadaran masyarakat dan penyelamatan lingkungan. Yang ia perjuangkan adalah meluruskan teologi yang menyimpang dan penyimpangan itu berdampak fatal pada lingkungan. Ada indikasi bahwa kerja-kerja Nuh adalah kerja-kerja mengembalikan “realisme magis khas Islam”, dengan mengajak masyarakat melihat dunia alam sebagai dunia sakral tajalli Tuhan, dan “penyimpangan” yang dilawan Nuh adalah reduksi nilai alam menjadi nilai ekonomis yang membuat hutan-hutan dihancurkan demi keuntungan jangka pendek. Puncaknya, Nuh menerima kabar hujan deras akan datang, sedang aktivitas manusia telah memandulkan fungsi ekosistem untuk mengikat air di tanah. Banjir menjadi tak terelakkan. Nuh diperintahkan untuk membuat bahtera, dan itu bukan untuk menyelamatkan manusia yang bebal, melainkan untuk melindungi satwa dan puspa.

Kisah Nuh, seperti halnya kisah keturunannya di Lombok dalam Babad Lombok, tentu harus dikonfirmasi dan diinterpretasikan kembali berdasarkan temuan-temuan ilmiah terbaru. Namun, dengan mengangkat Nuh sebagai akar kebudayaannya, Suku Sasak telah menegaskan arah Islam yang diinginkan, yakni (1) Islam dalam sistem politik kedatuan yang pengaturannya berskala kecil tapi dapat dikontrol baik, (2) Islam dengan tatakan adat dan kearifan lokal yang sakral sehingga tidak bisa dianggap enteng penegakan nilai-nilainya, serta (3) Islam yang orientasinya adalah melindungi alam dan mengembangkan kualitas kemanusiaan. Hal itulah yang tampak, misalnya, dalam sistem politik wetu telu di Bayan yang membagi pemerintahan berdasarkan tiga kementerian besar: lokaq-mangku (urusan spritual dan sumber daya alam), kiai-pengulu (urusan keberagamaan dan dakwah) dan pembekel (urusan kemasyarakatan). Ketiganya berdiri setara dan mengatur diri dalam protokol super ketat (dan bahkan bernuansa magis), dengan dijembatani musyawarah super sakral bernama gundem.

Kira-kira, “Islam” yang “seperti itu”-lah yang akan saya eksplorasi ke depannya.

III

Salah satu isu yang menarik untuk dieksplorasi, dan saya syukuri menjadi tema Singaraja Literary Festival (SLF) tahun ini, adalah tradisi pengobatan khas masyarakat realisme-magis: usada atau husada. SLF mengangkat lontar pengobatan tradisional, Usada Budha Kecapi, yang menjadikan fiksi sebagai medium penyampainya.

Kalimat terakhir dalam Babad Lombok yang terkutip di atas, yaitu yata hamanggiha toya (“kemudian mereka menemukan air”), menunjukkan bahwa sepasang penyintas yang tiba di Pulau Lombok telah menelusuri hutan dan menemukan sumber air paling sejati di Lombok, yang berlokasi di Rinjani. Sebab, kata toya dalam bahasa Kawi biasanya merujuk pada air suci (sedangkan air pada umumnya akan menggunakan kata banyu). Statemen ini penting karena dalam husada Sasak, air menjadi medium penyembuhan yang paling dasar dan umum. Asal-usul semua aliran air biasa (banyu) yang ada di Lombok adalah air suci di (toya) di Rinjani, sehingga air biasa pun bisa digunakan sebagai medium penyembuhan, asalkan ia “dibuka” terlebih dahulu dengan suatu mantra pembuka.

Saya pernah dibukakan sebuah lontar husada, tanpa judul, yang isinya tidak menggunakan cerita sebagai medium penyampai. Itu adalah lontar yang diterima oleh guru saya dari seorang tuan guru terkenal di Lombok Timur, bergelar Guru Isah. Di dalam lontar itu ditulis tiga jenis pengobatan Sasak lama: pengobatan murni ramuan, pengobatan ramuan dengan mantra, dan pengobatan murni mantra. Jenis pengobatan terakhir menggunakan air sebagai medium, dan air itulah yang harus “dibuka” kesuciannya dengan mantra yang diawali dengan shalawat pada Muhammad dan Khidir, kemudian diikuti dengan mantra dalam bahasa Sasak arkais (yang saya tidak bisa tulis di sini lantaran etika kerahasiaan). Mantra selanjutnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Bila pasien sakit di bagian tengkuk, maka mantra akan disisipi dengan nama ruh dari bagian yang sakit. Ruh dari bagian tyang sakit itu disapa baik-baik dan

Mungkin, sistem pengobatan yang seperti ini akan dianggap mengada-ada bahkan oleh orang Islam sendiri. Namun, pembagian nama ruh berdasarkan anggota badan bukanlah barang asing dalam tradisi mistisme Islam (tasawuf). Setiap benda punya nama, dan begitu manusia dan benda saling mengenal, dari sana hal-hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Itu cerminan dari intimnya relasi antara manusia Sasak (selam)dan alam gumi-nya. Dan dalam husada Sasak, nama-nama ruh itu pada mulanya menggunakan bahasa Sasak arkais, dan pewarisnya memilih untuk tidak menggantinya ke dalam bahasa Arab. Itu adalah cerminan rasa percaya diri Orang Sasak bahwa tradisi tua mereka adalah tradisi Islam.

Sebuah hadis riwayat ad-Darimi menjelaskan bahwa menjelang kematiannya, Muhammad menderita demam luar biasa tinggi sampai-sampai ia memerintahkan istrinya untuk “menyiramkan ke tubuhnya (shubbû ‘alayya) tujuh ember air (sab’a qirabin) yang berasal dari tujuh sumur berbeda (min sab’i âbârin syattâ) agar dirinya merasa sedikit lebih segar dan bisa beraktivitas seperti biasa. Kenapa tujuh? Dan kenapa dari sumur yang berbeda? Seumpama riwayat itu berhenti pada perintah memandikan saja, itu masih cukup logis (air mendinginkan panas). Namun, tujuh air dari tujuh sumur adalah bentuk nalar yang khas realisme magis. Husada Islam (dan, dengan demikian pula, husada Sasak) berakar pada satu tradisi, yaitu realisme magis.

Inilah hal-hal yang tidak diketahui oleh umat Islam hari ini (yang menyebabkan mereka jauh dari memahami arti dari Islam berbasis masyarakat adat). Inilah juga hal-hal yang bersiap saya garap ke depannya. Dan saya akan berangkat dari fondasi yang telah saya letakkan dalam buku kecil yang kelihatan tidak penting itu: “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”. [T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: AS Rosyid
Editor: Adnyana Ole

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim
Tags: IslamLombokSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

Next Post

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

AS Rosyid

AS Rosyid

Penulis dan peneliti yang berminat pada isu agama, lingkungan hidup, dan kearifan lokal. Saya telah menerbitkan tiga buku, yang terakhir berjudul “Melawan Nafsu Merusak Bumi” (EA Books, 2022). Sehari-hari saya mengajar literasi, riset dan ilmu sosial di Pesantren Alam Sayang Ibu, Lombok Barat.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co