15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid by AS Rosyid
July 21, 2025
in Esai
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid

I

Buku saya, “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”, adalah tesis magister yang saya garap dalam kurun 2017-2019. Remah-remah tesis ini terbit lebih dulu pada tahun 2022, dengan judul “Melawan Nafsu Merusak Bumi”. Dibandingkan dengan remah-remahnya, buku saya kali ini lebih metodologis dan bobotnya lebih serius (kendati sudah dipoles dalam gaya bahasa yang ringan). Sebab, buku ini adalah fondasi awal dari bangunan wacana yang panjang.

Saya tidak pernah bermaksud untuk mengulik wacana Islam dan lingkungan hidup terlalu lama. Bisa saja ide-ide normatif tentang agama yang memihak lingkungan diperkaya sampai tak terhingga, tapi saya memilih untuk cukup menulis satu karya fondasional yang membidik masalah-masalah mendasar dengan tanpa basa-basi. Isu fondasional yang saya bidik dalam buku saya, salah duanya, adalah ekosentrisme Islam dan modernitas berbasis kapitalisme.

Pertama, dalam Islam, keutuhan alam merupakan isu sentral. Dari sana tauhid dibangun dan kebutuhan dasar manusia dipenuhi: pangan, obat, keadilan sosial, kekerabatan, hingga spiritualitas. Saya bahkan meletakkan hak-hak bumi untuk lestari di atas hak-hak manusia untuk menyembah Tuhan. Sebab, al-Qur’an sendiri menyatakan dalam banyak ayat bahwa iman pada Tuhan dibangun dengan intensitas pengamatan dan dialog antara manusia dan alam lantaran tanda kekuasan-Nya terpampang di sana. Bila alam dihancurkan, jembatan penghubung antara manusia dan Tuhan terputus, sehingga esensi penyembahan menjadi pudar. Menurut saya, lisensi manusia untuk berbuat berdasarkan kepentingannya baru bisa dibicarakan setelah diskursus tentang hakikat dan hak-hak bumi terpenuhi.

Kedua, Islam menentang cara-cara kapitalis bekerja menggalang uang hingga ke akar-akarnya. Ini bukan saja tentang mode produksi dan mode konsumsi yang saling menciptakan kehancuran di bentang alam, melainkan juga corak berpikir positivistik yang menghasilkan pendekatan tunggal dalam melihat alam, yakni pendekatan lahiriah (dari kata Arab zhâhir, “tampak”; semakna dengan nazhara atau “melihat”), sehingga meminggirkan pendekatan batiniyah (dari kata Arab bathn, “isi di dalam perut”, tidak diketahui sampai keluar), yang sebetulnya lebih cocok secara sosiologis, antropologis, dan spiritual dengan corak asli masyarakat kita: realisme magis. Islam melihat bumi sebagai entitas hidup, berkesadaran, dan mampu bertindak dalam motif, bukan barang mati seperti diproyeksikan saintis.

Dua fondasi itu penting saya letakkan karena saya hendak bergerak dari Islam dengan tradisi politik menuju Islam dengan tradisi kearifan lokal. Saya (ingin) menamainya: Islam Noah.

II

Sebagai Orang Sasak, saya melihat sebuah keunikan dalam kajian budaya dan sejarah suku penghuni Pulau Lombok ini. Mereka punya prinsip: gumi Sasak gumi selam (bumi Sasak bumi Islam; kata “gumi” mengacu pada ruang fisik dan budaya sekaligus). Klaim semacam ini tidak unik; ia muncul di banyak suku di Nusantara. Namun, terdapat diskursus yang berkembang di sementara Orang Sasak, yang melampaui batas-batas imajinasi tentang Islam, yakni tesis bahwa komunitas pertama Suku Sasak adalah keturunan dan pengikut Nabi Nuh.

Babad Lombok sendiri menceritakan awal mula kedatangan komunitas genealogis pertama ini dalam salah satu pupuhnya:

“Mung sajodo wong kang hurup, hikang mati, ponan kadamepa katah, tumiba hing pulo Lombok …… Wus lepasa kang samudera, mayit wong ngiku, kang gawe humah hing kana, lang ngulati pamangani lan wargi, yata hamanggiha toya.”

(Hanya sepasang manusia yang hidup, yang lainnya mati, tercerai-berai semuanya, tiba di Pulau Lombok …… Sesudah lepas dari samudera, mayat-mayat tertinggal. Yang selamat membuat pondok di sana, mencari makanan serta penduduk, kemudian menemukan air).

Pupuh-pupuh selanjutnya mengisahkan bahwa sepasang penyintas dari samudera yang terdampar di Pulau Lombok adalah seorang perempuan dengan kekasihnya (yang berarti, tokoh utamanya adalah si perempuan), berikut kisah-kisah tentang pembentukan struktur sosial awal Suku Sasak yang sangat sederhana dan pengangkatan penghulu pertama, yakni seorang alim dari garis keturunan Nabi Nuh.

Tesis ini memiliki penentang yang cukup banyak, tapi kelompok pengaju tesis ini pun telah bekerja menafsirkan babad itu dan mengumpulkan data sejak medio 70-an. Sumber mereka tidak terbatas pada lontar dan jejak artefak seperti penandoq (tapak penanda bekas bangunan) di hutan-hutan rahasia Rinjani, kode kuno di balik corak arsitektur (lumbung alang, misalnya), dan bahkan temuan-teman terbaru seperti di situs Gunung Piring, Mertak. Mereka melangkah lebih jauh: sumber-sumber mentifak digali langsung dari perut kebudayaan Sasak seperti senepe (siloka) dalam mantra dan ritual, wawasan, tradisi, dan memori kolektif para lokaq-mangku tua yang “lidahnya masih bersih”, nama-nama dan sejarah desa tua, bahasa-bahasa arkais, bahkan penelusuran khazanah mistisme asli Sasak yang begitu berbeda bila dibandingkan dengan khazanah mistisme dari jalur Pengeran Guru Ali Batu.

Tentu saja perdebatan dua kubu di wacana sasak-selam (sasak-islam) itu terlalu panjang dan tidak relevan untuk diuraikan di sini. Namun saya, yang telah lama mempelajari argumentasi kubu pengaju, melihat satu kepentingan besar untuk meneguhkan suatu “Islam-lain”; Islam yang secara sosiologis amat berbeda dengan Islam-mainstream hari ini.

Tradisi Islam yang dibawa Nuh dan Ibrahim memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Islam-Abrahamik (sementara ini, begitu saja kita menyebutnya) berorientasi pada politik pembebasan dan perlawanan pada kekuasaan yang korup. Ibrahim dan para nabi dari keturunan Ishaq berhadapan dengan raja-raja yang zalim, atau malah menjadi raja yang bijak. Kecuali Muhammad, sebagai keturunan Ismail yang bergulat dengan tradisi kedatuan. Namun, kendati Muhammad tidak melawan rezim politik, melainkan rezim masyarakat, kerja-kerja dakwah Muhammad lekat dengan aktivisme politik, banyak terinspirasi oleh leluhurnya dari pihak Ishaq, dan merencanakan Islam sebagai suatu rezim politik di masa depan.

Sementara itu, tradisi Nuh sepertinya bertitik tekan pada penyadaran masyarakat dan penyelamatan lingkungan. Yang ia perjuangkan adalah meluruskan teologi yang menyimpang dan penyimpangan itu berdampak fatal pada lingkungan. Ada indikasi bahwa kerja-kerja Nuh adalah kerja-kerja mengembalikan “realisme magis khas Islam”, dengan mengajak masyarakat melihat dunia alam sebagai dunia sakral tajalli Tuhan, dan “penyimpangan” yang dilawan Nuh adalah reduksi nilai alam menjadi nilai ekonomis yang membuat hutan-hutan dihancurkan demi keuntungan jangka pendek. Puncaknya, Nuh menerima kabar hujan deras akan datang, sedang aktivitas manusia telah memandulkan fungsi ekosistem untuk mengikat air di tanah. Banjir menjadi tak terelakkan. Nuh diperintahkan untuk membuat bahtera, dan itu bukan untuk menyelamatkan manusia yang bebal, melainkan untuk melindungi satwa dan puspa.

Kisah Nuh, seperti halnya kisah keturunannya di Lombok dalam Babad Lombok, tentu harus dikonfirmasi dan diinterpretasikan kembali berdasarkan temuan-temuan ilmiah terbaru. Namun, dengan mengangkat Nuh sebagai akar kebudayaannya, Suku Sasak telah menegaskan arah Islam yang diinginkan, yakni (1) Islam dalam sistem politik kedatuan yang pengaturannya berskala kecil tapi dapat dikontrol baik, (2) Islam dengan tatakan adat dan kearifan lokal yang sakral sehingga tidak bisa dianggap enteng penegakan nilai-nilainya, serta (3) Islam yang orientasinya adalah melindungi alam dan mengembangkan kualitas kemanusiaan. Hal itulah yang tampak, misalnya, dalam sistem politik wetu telu di Bayan yang membagi pemerintahan berdasarkan tiga kementerian besar: lokaq-mangku (urusan spritual dan sumber daya alam), kiai-pengulu (urusan keberagamaan dan dakwah) dan pembekel (urusan kemasyarakatan). Ketiganya berdiri setara dan mengatur diri dalam protokol super ketat (dan bahkan bernuansa magis), dengan dijembatani musyawarah super sakral bernama gundem.

Kira-kira, “Islam” yang “seperti itu”-lah yang akan saya eksplorasi ke depannya.

III

Salah satu isu yang menarik untuk dieksplorasi, dan saya syukuri menjadi tema Singaraja Literary Festival (SLF) tahun ini, adalah tradisi pengobatan khas masyarakat realisme-magis: usada atau husada. SLF mengangkat lontar pengobatan tradisional, Usada Budha Kecapi, yang menjadikan fiksi sebagai medium penyampainya.

Kalimat terakhir dalam Babad Lombok yang terkutip di atas, yaitu yata hamanggiha toya (“kemudian mereka menemukan air”), menunjukkan bahwa sepasang penyintas yang tiba di Pulau Lombok telah menelusuri hutan dan menemukan sumber air paling sejati di Lombok, yang berlokasi di Rinjani. Sebab, kata toya dalam bahasa Kawi biasanya merujuk pada air suci (sedangkan air pada umumnya akan menggunakan kata banyu). Statemen ini penting karena dalam husada Sasak, air menjadi medium penyembuhan yang paling dasar dan umum. Asal-usul semua aliran air biasa (banyu) yang ada di Lombok adalah air suci di (toya) di Rinjani, sehingga air biasa pun bisa digunakan sebagai medium penyembuhan, asalkan ia “dibuka” terlebih dahulu dengan suatu mantra pembuka.

Saya pernah dibukakan sebuah lontar husada, tanpa judul, yang isinya tidak menggunakan cerita sebagai medium penyampai. Itu adalah lontar yang diterima oleh guru saya dari seorang tuan guru terkenal di Lombok Timur, bergelar Guru Isah. Di dalam lontar itu ditulis tiga jenis pengobatan Sasak lama: pengobatan murni ramuan, pengobatan ramuan dengan mantra, dan pengobatan murni mantra. Jenis pengobatan terakhir menggunakan air sebagai medium, dan air itulah yang harus “dibuka” kesuciannya dengan mantra yang diawali dengan shalawat pada Muhammad dan Khidir, kemudian diikuti dengan mantra dalam bahasa Sasak arkais (yang saya tidak bisa tulis di sini lantaran etika kerahasiaan). Mantra selanjutnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Bila pasien sakit di bagian tengkuk, maka mantra akan disisipi dengan nama ruh dari bagian yang sakit. Ruh dari bagian tyang sakit itu disapa baik-baik dan

Mungkin, sistem pengobatan yang seperti ini akan dianggap mengada-ada bahkan oleh orang Islam sendiri. Namun, pembagian nama ruh berdasarkan anggota badan bukanlah barang asing dalam tradisi mistisme Islam (tasawuf). Setiap benda punya nama, dan begitu manusia dan benda saling mengenal, dari sana hal-hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Itu cerminan dari intimnya relasi antara manusia Sasak (selam)dan alam gumi-nya. Dan dalam husada Sasak, nama-nama ruh itu pada mulanya menggunakan bahasa Sasak arkais, dan pewarisnya memilih untuk tidak menggantinya ke dalam bahasa Arab. Itu adalah cerminan rasa percaya diri Orang Sasak bahwa tradisi tua mereka adalah tradisi Islam.

Sebuah hadis riwayat ad-Darimi menjelaskan bahwa menjelang kematiannya, Muhammad menderita demam luar biasa tinggi sampai-sampai ia memerintahkan istrinya untuk “menyiramkan ke tubuhnya (shubbû ‘alayya) tujuh ember air (sab’a qirabin) yang berasal dari tujuh sumur berbeda (min sab’i âbârin syattâ) agar dirinya merasa sedikit lebih segar dan bisa beraktivitas seperti biasa. Kenapa tujuh? Dan kenapa dari sumur yang berbeda? Seumpama riwayat itu berhenti pada perintah memandikan saja, itu masih cukup logis (air mendinginkan panas). Namun, tujuh air dari tujuh sumur adalah bentuk nalar yang khas realisme magis. Husada Islam (dan, dengan demikian pula, husada Sasak) berakar pada satu tradisi, yaitu realisme magis.

Inilah hal-hal yang tidak diketahui oleh umat Islam hari ini (yang menyebabkan mereka jauh dari memahami arti dari Islam berbasis masyarakat adat). Inilah juga hal-hal yang bersiap saya garap ke depannya. Dan saya akan berangkat dari fondasi yang telah saya letakkan dalam buku kecil yang kelihatan tidak penting itu: “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”. [T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: AS Rosyid
Editor: Adnyana Ole

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim
Tags: IslamLombokSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

Next Post

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

AS Rosyid

AS Rosyid

Penulis dan peneliti yang berminat pada isu agama, lingkungan hidup, dan kearifan lokal. Saya telah menerbitkan tiga buku, yang terakhir berjudul “Melawan Nafsu Merusak Bumi” (EA Books, 2022). Sehari-hari saya mengajar literasi, riset dan ilmu sosial di Pesantren Alam Sayang Ibu, Lombok Barat.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co