25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid by AS Rosyid
July 21, 2025
in Esai
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid

I

Buku saya, “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”, adalah tesis magister yang saya garap dalam kurun 2017-2019. Remah-remah tesis ini terbit lebih dulu pada tahun 2022, dengan judul “Melawan Nafsu Merusak Bumi”. Dibandingkan dengan remah-remahnya, buku saya kali ini lebih metodologis dan bobotnya lebih serius (kendati sudah dipoles dalam gaya bahasa yang ringan). Sebab, buku ini adalah fondasi awal dari bangunan wacana yang panjang.

Saya tidak pernah bermaksud untuk mengulik wacana Islam dan lingkungan hidup terlalu lama. Bisa saja ide-ide normatif tentang agama yang memihak lingkungan diperkaya sampai tak terhingga, tapi saya memilih untuk cukup menulis satu karya fondasional yang membidik masalah-masalah mendasar dengan tanpa basa-basi. Isu fondasional yang saya bidik dalam buku saya, salah duanya, adalah ekosentrisme Islam dan modernitas berbasis kapitalisme.

Pertama, dalam Islam, keutuhan alam merupakan isu sentral. Dari sana tauhid dibangun dan kebutuhan dasar manusia dipenuhi: pangan, obat, keadilan sosial, kekerabatan, hingga spiritualitas. Saya bahkan meletakkan hak-hak bumi untuk lestari di atas hak-hak manusia untuk menyembah Tuhan. Sebab, al-Qur’an sendiri menyatakan dalam banyak ayat bahwa iman pada Tuhan dibangun dengan intensitas pengamatan dan dialog antara manusia dan alam lantaran tanda kekuasan-Nya terpampang di sana. Bila alam dihancurkan, jembatan penghubung antara manusia dan Tuhan terputus, sehingga esensi penyembahan menjadi pudar. Menurut saya, lisensi manusia untuk berbuat berdasarkan kepentingannya baru bisa dibicarakan setelah diskursus tentang hakikat dan hak-hak bumi terpenuhi.

Kedua, Islam menentang cara-cara kapitalis bekerja menggalang uang hingga ke akar-akarnya. Ini bukan saja tentang mode produksi dan mode konsumsi yang saling menciptakan kehancuran di bentang alam, melainkan juga corak berpikir positivistik yang menghasilkan pendekatan tunggal dalam melihat alam, yakni pendekatan lahiriah (dari kata Arab zhâhir, “tampak”; semakna dengan nazhara atau “melihat”), sehingga meminggirkan pendekatan batiniyah (dari kata Arab bathn, “isi di dalam perut”, tidak diketahui sampai keluar), yang sebetulnya lebih cocok secara sosiologis, antropologis, dan spiritual dengan corak asli masyarakat kita: realisme magis. Islam melihat bumi sebagai entitas hidup, berkesadaran, dan mampu bertindak dalam motif, bukan barang mati seperti diproyeksikan saintis.

Dua fondasi itu penting saya letakkan karena saya hendak bergerak dari Islam dengan tradisi politik menuju Islam dengan tradisi kearifan lokal. Saya (ingin) menamainya: Islam Noah.

II

Sebagai Orang Sasak, saya melihat sebuah keunikan dalam kajian budaya dan sejarah suku penghuni Pulau Lombok ini. Mereka punya prinsip: gumi Sasak gumi selam (bumi Sasak bumi Islam; kata “gumi” mengacu pada ruang fisik dan budaya sekaligus). Klaim semacam ini tidak unik; ia muncul di banyak suku di Nusantara. Namun, terdapat diskursus yang berkembang di sementara Orang Sasak, yang melampaui batas-batas imajinasi tentang Islam, yakni tesis bahwa komunitas pertama Suku Sasak adalah keturunan dan pengikut Nabi Nuh.

Babad Lombok sendiri menceritakan awal mula kedatangan komunitas genealogis pertama ini dalam salah satu pupuhnya:

“Mung sajodo wong kang hurup, hikang mati, ponan kadamepa katah, tumiba hing pulo Lombok …… Wus lepasa kang samudera, mayit wong ngiku, kang gawe humah hing kana, lang ngulati pamangani lan wargi, yata hamanggiha toya.”

(Hanya sepasang manusia yang hidup, yang lainnya mati, tercerai-berai semuanya, tiba di Pulau Lombok …… Sesudah lepas dari samudera, mayat-mayat tertinggal. Yang selamat membuat pondok di sana, mencari makanan serta penduduk, kemudian menemukan air).

Pupuh-pupuh selanjutnya mengisahkan bahwa sepasang penyintas dari samudera yang terdampar di Pulau Lombok adalah seorang perempuan dengan kekasihnya (yang berarti, tokoh utamanya adalah si perempuan), berikut kisah-kisah tentang pembentukan struktur sosial awal Suku Sasak yang sangat sederhana dan pengangkatan penghulu pertama, yakni seorang alim dari garis keturunan Nabi Nuh.

Tesis ini memiliki penentang yang cukup banyak, tapi kelompok pengaju tesis ini pun telah bekerja menafsirkan babad itu dan mengumpulkan data sejak medio 70-an. Sumber mereka tidak terbatas pada lontar dan jejak artefak seperti penandoq (tapak penanda bekas bangunan) di hutan-hutan rahasia Rinjani, kode kuno di balik corak arsitektur (lumbung alang, misalnya), dan bahkan temuan-teman terbaru seperti di situs Gunung Piring, Mertak. Mereka melangkah lebih jauh: sumber-sumber mentifak digali langsung dari perut kebudayaan Sasak seperti senepe (siloka) dalam mantra dan ritual, wawasan, tradisi, dan memori kolektif para lokaq-mangku tua yang “lidahnya masih bersih”, nama-nama dan sejarah desa tua, bahasa-bahasa arkais, bahkan penelusuran khazanah mistisme asli Sasak yang begitu berbeda bila dibandingkan dengan khazanah mistisme dari jalur Pengeran Guru Ali Batu.

Tentu saja perdebatan dua kubu di wacana sasak-selam (sasak-islam) itu terlalu panjang dan tidak relevan untuk diuraikan di sini. Namun saya, yang telah lama mempelajari argumentasi kubu pengaju, melihat satu kepentingan besar untuk meneguhkan suatu “Islam-lain”; Islam yang secara sosiologis amat berbeda dengan Islam-mainstream hari ini.

Tradisi Islam yang dibawa Nuh dan Ibrahim memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Islam-Abrahamik (sementara ini, begitu saja kita menyebutnya) berorientasi pada politik pembebasan dan perlawanan pada kekuasaan yang korup. Ibrahim dan para nabi dari keturunan Ishaq berhadapan dengan raja-raja yang zalim, atau malah menjadi raja yang bijak. Kecuali Muhammad, sebagai keturunan Ismail yang bergulat dengan tradisi kedatuan. Namun, kendati Muhammad tidak melawan rezim politik, melainkan rezim masyarakat, kerja-kerja dakwah Muhammad lekat dengan aktivisme politik, banyak terinspirasi oleh leluhurnya dari pihak Ishaq, dan merencanakan Islam sebagai suatu rezim politik di masa depan.

Sementara itu, tradisi Nuh sepertinya bertitik tekan pada penyadaran masyarakat dan penyelamatan lingkungan. Yang ia perjuangkan adalah meluruskan teologi yang menyimpang dan penyimpangan itu berdampak fatal pada lingkungan. Ada indikasi bahwa kerja-kerja Nuh adalah kerja-kerja mengembalikan “realisme magis khas Islam”, dengan mengajak masyarakat melihat dunia alam sebagai dunia sakral tajalli Tuhan, dan “penyimpangan” yang dilawan Nuh adalah reduksi nilai alam menjadi nilai ekonomis yang membuat hutan-hutan dihancurkan demi keuntungan jangka pendek. Puncaknya, Nuh menerima kabar hujan deras akan datang, sedang aktivitas manusia telah memandulkan fungsi ekosistem untuk mengikat air di tanah. Banjir menjadi tak terelakkan. Nuh diperintahkan untuk membuat bahtera, dan itu bukan untuk menyelamatkan manusia yang bebal, melainkan untuk melindungi satwa dan puspa.

Kisah Nuh, seperti halnya kisah keturunannya di Lombok dalam Babad Lombok, tentu harus dikonfirmasi dan diinterpretasikan kembali berdasarkan temuan-temuan ilmiah terbaru. Namun, dengan mengangkat Nuh sebagai akar kebudayaannya, Suku Sasak telah menegaskan arah Islam yang diinginkan, yakni (1) Islam dalam sistem politik kedatuan yang pengaturannya berskala kecil tapi dapat dikontrol baik, (2) Islam dengan tatakan adat dan kearifan lokal yang sakral sehingga tidak bisa dianggap enteng penegakan nilai-nilainya, serta (3) Islam yang orientasinya adalah melindungi alam dan mengembangkan kualitas kemanusiaan. Hal itulah yang tampak, misalnya, dalam sistem politik wetu telu di Bayan yang membagi pemerintahan berdasarkan tiga kementerian besar: lokaq-mangku (urusan spritual dan sumber daya alam), kiai-pengulu (urusan keberagamaan dan dakwah) dan pembekel (urusan kemasyarakatan). Ketiganya berdiri setara dan mengatur diri dalam protokol super ketat (dan bahkan bernuansa magis), dengan dijembatani musyawarah super sakral bernama gundem.

Kira-kira, “Islam” yang “seperti itu”-lah yang akan saya eksplorasi ke depannya.

III

Salah satu isu yang menarik untuk dieksplorasi, dan saya syukuri menjadi tema Singaraja Literary Festival (SLF) tahun ini, adalah tradisi pengobatan khas masyarakat realisme-magis: usada atau husada. SLF mengangkat lontar pengobatan tradisional, Usada Budha Kecapi, yang menjadikan fiksi sebagai medium penyampainya.

Kalimat terakhir dalam Babad Lombok yang terkutip di atas, yaitu yata hamanggiha toya (“kemudian mereka menemukan air”), menunjukkan bahwa sepasang penyintas yang tiba di Pulau Lombok telah menelusuri hutan dan menemukan sumber air paling sejati di Lombok, yang berlokasi di Rinjani. Sebab, kata toya dalam bahasa Kawi biasanya merujuk pada air suci (sedangkan air pada umumnya akan menggunakan kata banyu). Statemen ini penting karena dalam husada Sasak, air menjadi medium penyembuhan yang paling dasar dan umum. Asal-usul semua aliran air biasa (banyu) yang ada di Lombok adalah air suci di (toya) di Rinjani, sehingga air biasa pun bisa digunakan sebagai medium penyembuhan, asalkan ia “dibuka” terlebih dahulu dengan suatu mantra pembuka.

Saya pernah dibukakan sebuah lontar husada, tanpa judul, yang isinya tidak menggunakan cerita sebagai medium penyampai. Itu adalah lontar yang diterima oleh guru saya dari seorang tuan guru terkenal di Lombok Timur, bergelar Guru Isah. Di dalam lontar itu ditulis tiga jenis pengobatan Sasak lama: pengobatan murni ramuan, pengobatan ramuan dengan mantra, dan pengobatan murni mantra. Jenis pengobatan terakhir menggunakan air sebagai medium, dan air itulah yang harus “dibuka” kesuciannya dengan mantra yang diawali dengan shalawat pada Muhammad dan Khidir, kemudian diikuti dengan mantra dalam bahasa Sasak arkais (yang saya tidak bisa tulis di sini lantaran etika kerahasiaan). Mantra selanjutnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Bila pasien sakit di bagian tengkuk, maka mantra akan disisipi dengan nama ruh dari bagian yang sakit. Ruh dari bagian tyang sakit itu disapa baik-baik dan

Mungkin, sistem pengobatan yang seperti ini akan dianggap mengada-ada bahkan oleh orang Islam sendiri. Namun, pembagian nama ruh berdasarkan anggota badan bukanlah barang asing dalam tradisi mistisme Islam (tasawuf). Setiap benda punya nama, dan begitu manusia dan benda saling mengenal, dari sana hal-hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Itu cerminan dari intimnya relasi antara manusia Sasak (selam)dan alam gumi-nya. Dan dalam husada Sasak, nama-nama ruh itu pada mulanya menggunakan bahasa Sasak arkais, dan pewarisnya memilih untuk tidak menggantinya ke dalam bahasa Arab. Itu adalah cerminan rasa percaya diri Orang Sasak bahwa tradisi tua mereka adalah tradisi Islam.

Sebuah hadis riwayat ad-Darimi menjelaskan bahwa menjelang kematiannya, Muhammad menderita demam luar biasa tinggi sampai-sampai ia memerintahkan istrinya untuk “menyiramkan ke tubuhnya (shubbû ‘alayya) tujuh ember air (sab’a qirabin) yang berasal dari tujuh sumur berbeda (min sab’i âbârin syattâ) agar dirinya merasa sedikit lebih segar dan bisa beraktivitas seperti biasa. Kenapa tujuh? Dan kenapa dari sumur yang berbeda? Seumpama riwayat itu berhenti pada perintah memandikan saja, itu masih cukup logis (air mendinginkan panas). Namun, tujuh air dari tujuh sumur adalah bentuk nalar yang khas realisme magis. Husada Islam (dan, dengan demikian pula, husada Sasak) berakar pada satu tradisi, yaitu realisme magis.

Inilah hal-hal yang tidak diketahui oleh umat Islam hari ini (yang menyebabkan mereka jauh dari memahami arti dari Islam berbasis masyarakat adat). Inilah juga hal-hal yang bersiap saya garap ke depannya. Dan saya akan berangkat dari fondasi yang telah saya letakkan dalam buku kecil yang kelihatan tidak penting itu: “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”. [T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: AS Rosyid
Editor: Adnyana Ole

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim
Tags: IslamLombokSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

Next Post

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

AS Rosyid

AS Rosyid

Penulis dan peneliti yang berminat pada isu agama, lingkungan hidup, dan kearifan lokal. Saya telah menerbitkan tiga buku, yang terakhir berjudul “Melawan Nafsu Merusak Bumi” (EA Books, 2022). Sehari-hari saya mengajar literasi, riset dan ilmu sosial di Pesantren Alam Sayang Ibu, Lombok Barat.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co