15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
July 20, 2025
in Esai
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Putu Arya Nugraha

SANGAT menarik membahas konsep pengobatan dari era ke era. Apalagi saat konsep pengobatan yang telah berkembang di masa lampau, masih eksis keberadaannya di masa kini. Tentu saja menjadi sebuah isyarat, untuk kita tetap memberi rasa hormat kepada setiap ide yang telah membawa spirit penyembuhan umat manusia. Tidak begitu saja menafikan konsep lama yang tradisional lalu mendewa-dewakan konsep baru yang modern dan canggih. Meskipun tampak sangat jelas ada perbedaan konsep pengobatan dalam teks lama dan baru, namun sesungguhnya banyak sekali bukti-bukti kesamaan pada dimensinya yang lain.

Bukti-bukti arkeologi prasejarah bangsa Peru misalnya, ditemukan tengkorak manusia berlubang-lubang yang oleh para ahli dipercaya sebagai tindakan pengobatan yang di era modern ini dikenal sebagai trepanasi. Trepanasi, adalah prosedur medis–dulu mungkin mistis–dengan melubangi tulang tengkorak manusia, yang saat ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan di bawah tulang tengkorak yang sangat membahayakan otak. Tekanan tersebut mungkin disebabkan oleh penumpukan cairan seperti darah, biasanya pada pasien stroke atau cedera atau dapat juga penumpukan nanah bahkan udara.

Praktek trepanasi di masa lampau pun diketahui telah dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa, Afrika Utara, Asia, Tahiti, New Zealand, dan Amerika Selatan. Hal mendasar yang kemudian kita ketahui menjadi perbedaan dari tindakan trepanasi di masa lampau dan kedokteran modern saat ini adalah apa yang disebut sebagai patofisiologi.

Patofisiologi adalah lmu yang mempelajari tentang perubahan fungsi tubuh yang abnormal akibat penyakit, cedera, atau kondisi lain. Ini adalah gabungan dari patologi (studi tentang penyakit) dan fisiologi (studi tentang fungsi tubuh normal). Patofisiologi membantu memahami bagaimana penyakit berkembang, bagaimana tubuh bereaksi terhadapnya, dan bagaimana hal itu memengaruhi fungsi tubuh.

Konsep lama yang mendasari tindakan trepanasi di atas adalah adanya roh jahat yang masuk ke dalam tubuh manusia dan menyerang kepalanya. Sehingga timbul gejala-gejala seperi nyeri kepala, kejang-kejang bahkan penurunan kesadaran. Saat ini, gejala-gejala tersebut persis merupakan gejala pada pasien stroke. Maka dalam hal trepanasi, konsep lama dan baru sama pada cara namun berbeda pada konsep penyebab. Bagaimanapun juga, baik dari bukti-bukti arkelogis prasejarah tersebut maupun situasi pada saat ini, pasien telah banyak diselamatkan dengan tindakan trepanasi.

Dalam tradisi penyembuhan masyarakat Bali masa lampau, disebutkan dalam lontar, Budha Kecapi  adalah seorang balian yang sangat ahli dan bijaksana, memiliki pengetahuna yang sangat luas dalam pengobatan. Ia memperoleh pengetahuan dan keterampilannya tersebut, berkat usaha keras dan keteguhanya dalam menggelar tapa, brata, yoga, dan samadhi di kuburan. Sebuah perjuangan dan ketekunan yang juga di era modern ini harus dilalui oleh para calon dokter sebelum meraih sarjana profesi dokter, dokter ahli (spesialis) bahkan konsultan (subspesialis.)

Jika ingin meraih gelar dokter konsultan atau subspesialis, seorang peserta didik perlu waktu paling sedikit 12 tahun dengan berbagai tugas yang tak mudah. Maka jika kurun waktu 12 tahun tempaan kawah candradimuka itu dijalani dengan baik, maka seperti Budha Kecapi, seorang dokter pun layak mendapat anugerah dari Bhatara Hyang Dini Dalem atau Durga.

Budha Kecapi tak hanya ahli dan terampil dalam mengobati. Ia pun diketahui sangat menekankan aspek etik dalam melayani orang sakit. Hal mana yang di era modern ini pun kerap menjadi sorotan. Aspek etik telah mengangkat setinggi-tingginya harkat, baik praktisi penyembuhan di masa lampau maupun para dokter di masa kini, jauh di atas sembuh atau tidak dan selamat atau meninggal pasien yang dirawat.

Sangat menarik juga, dalam lontar yang sama, disinggung ramalan penyakit yang diderita oleh pasien. Apakah memiliki peluang yang besar untuk sembuh, kecil atau bahkan akan meninggal dalam waktu dekat. Dalam praktek kedokteran modern, konsep ini dikenal sebagai prognosis. Keduanya sangat menekankan aspek etik dalam hal ini. Sejauh mana upaya yang akan kita lakukan, seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan sesuai dengan prognosis penyakit yang diderita pasien.

Oleh karena konsep pengobatan di masa lampau lebih dipengaruhi oleh keyakinan para tabib, shaman atau balian, maka metode terapi yang diterapkan bentuknya unik dan praktisi penyembuh berperan dominan, sepenuhnya menentukan dalam praktek pengobatan tersebut. Kontras dengan konsep masa kini yang mengharuskan penerapan praktek kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine.)

Pengobatan atau tindakan medis apa pun yang akan diterapkan kepada para pasien wajib sudah melalui suatu penelitian klinis dengan berbagai tingkatan bukti. Semakin kuat dan luas bukti yang telah diverifikasi, maka semakin kuat rekomendasinya untuk pasien. Rekomendasi semakin lemah jika hanya berbasis pengalaman empirik, apalagi hanya atas keyakinan seorang ahli (expert opinion.) Dengan rekomendasi terkuat sekalipun, saat ini seorang pasien tetap memiliki otonomi untuk menentukan keputusan medisnya, ia berhak menolak, bahkan setelah dokter menjelaskan dengan benar terkait penyakit dan pengobatan yang ditawarkan (informed concent.)

Kini, pengobatan modern belum cukup didasarkan hanya pada kedokteran berbasis bukti. Semakin diketahui, setiap individu memiliki keunikan yang rupanya juga dapat memberi pengaruh kepada respon terapi yang diberikan. Dikenal sebagai sistem genomik. Setiap orang, keluarga, suku, ras atau bangsa memiliki untaian genetik atau pembawa sifat yang berbeda-beda. Secara rasional akan memengaruhi zat obat yang bekerja di dalam tubuhnya.

Maka pengetahuan genomik ini mengantarkan terapi modern akan semakin presisi. Jejak-jejak arkeologis di Peru, lontar Budha Kecapai adalah kebijaksanaan di masa lampau, dan sejarah yang dihormati sesungguhnya adalah penyembuh masa depan bumi. [T] 

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole

Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim
Tags: buda kecapidokterDokter Arya Nugrahamedispengobatanpengobatan tradisionalSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koruptor Apakah ODGJ?

Next Post

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

"Tarian Bumi" dan Kuasa Teori Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co