24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
July 20, 2025
in Esai
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Putu Arya Nugraha

SANGAT menarik membahas konsep pengobatan dari era ke era. Apalagi saat konsep pengobatan yang telah berkembang di masa lampau, masih eksis keberadaannya di masa kini. Tentu saja menjadi sebuah isyarat, untuk kita tetap memberi rasa hormat kepada setiap ide yang telah membawa spirit penyembuhan umat manusia. Tidak begitu saja menafikan konsep lama yang tradisional lalu mendewa-dewakan konsep baru yang modern dan canggih. Meskipun tampak sangat jelas ada perbedaan konsep pengobatan dalam teks lama dan baru, namun sesungguhnya banyak sekali bukti-bukti kesamaan pada dimensinya yang lain.

Bukti-bukti arkeologi prasejarah bangsa Peru misalnya, ditemukan tengkorak manusia berlubang-lubang yang oleh para ahli dipercaya sebagai tindakan pengobatan yang di era modern ini dikenal sebagai trepanasi. Trepanasi, adalah prosedur medis–dulu mungkin mistis–dengan melubangi tulang tengkorak manusia, yang saat ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan di bawah tulang tengkorak yang sangat membahayakan otak. Tekanan tersebut mungkin disebabkan oleh penumpukan cairan seperti darah, biasanya pada pasien stroke atau cedera atau dapat juga penumpukan nanah bahkan udara.

Praktek trepanasi di masa lampau pun diketahui telah dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa, Afrika Utara, Asia, Tahiti, New Zealand, dan Amerika Selatan. Hal mendasar yang kemudian kita ketahui menjadi perbedaan dari tindakan trepanasi di masa lampau dan kedokteran modern saat ini adalah apa yang disebut sebagai patofisiologi.

Patofisiologi adalah lmu yang mempelajari tentang perubahan fungsi tubuh yang abnormal akibat penyakit, cedera, atau kondisi lain. Ini adalah gabungan dari patologi (studi tentang penyakit) dan fisiologi (studi tentang fungsi tubuh normal). Patofisiologi membantu memahami bagaimana penyakit berkembang, bagaimana tubuh bereaksi terhadapnya, dan bagaimana hal itu memengaruhi fungsi tubuh.

Konsep lama yang mendasari tindakan trepanasi di atas adalah adanya roh jahat yang masuk ke dalam tubuh manusia dan menyerang kepalanya. Sehingga timbul gejala-gejala seperi nyeri kepala, kejang-kejang bahkan penurunan kesadaran. Saat ini, gejala-gejala tersebut persis merupakan gejala pada pasien stroke. Maka dalam hal trepanasi, konsep lama dan baru sama pada cara namun berbeda pada konsep penyebab. Bagaimanapun juga, baik dari bukti-bukti arkelogis prasejarah tersebut maupun situasi pada saat ini, pasien telah banyak diselamatkan dengan tindakan trepanasi.

Dalam tradisi penyembuhan masyarakat Bali masa lampau, disebutkan dalam lontar, Budha Kecapi  adalah seorang balian yang sangat ahli dan bijaksana, memiliki pengetahuna yang sangat luas dalam pengobatan. Ia memperoleh pengetahuan dan keterampilannya tersebut, berkat usaha keras dan keteguhanya dalam menggelar tapa, brata, yoga, dan samadhi di kuburan. Sebuah perjuangan dan ketekunan yang juga di era modern ini harus dilalui oleh para calon dokter sebelum meraih sarjana profesi dokter, dokter ahli (spesialis) bahkan konsultan (subspesialis.)

Jika ingin meraih gelar dokter konsultan atau subspesialis, seorang peserta didik perlu waktu paling sedikit 12 tahun dengan berbagai tugas yang tak mudah. Maka jika kurun waktu 12 tahun tempaan kawah candradimuka itu dijalani dengan baik, maka seperti Budha Kecapi, seorang dokter pun layak mendapat anugerah dari Bhatara Hyang Dini Dalem atau Durga.

Budha Kecapi tak hanya ahli dan terampil dalam mengobati. Ia pun diketahui sangat menekankan aspek etik dalam melayani orang sakit. Hal mana yang di era modern ini pun kerap menjadi sorotan. Aspek etik telah mengangkat setinggi-tingginya harkat, baik praktisi penyembuhan di masa lampau maupun para dokter di masa kini, jauh di atas sembuh atau tidak dan selamat atau meninggal pasien yang dirawat.

Sangat menarik juga, dalam lontar yang sama, disinggung ramalan penyakit yang diderita oleh pasien. Apakah memiliki peluang yang besar untuk sembuh, kecil atau bahkan akan meninggal dalam waktu dekat. Dalam praktek kedokteran modern, konsep ini dikenal sebagai prognosis. Keduanya sangat menekankan aspek etik dalam hal ini. Sejauh mana upaya yang akan kita lakukan, seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan sesuai dengan prognosis penyakit yang diderita pasien.

Oleh karena konsep pengobatan di masa lampau lebih dipengaruhi oleh keyakinan para tabib, shaman atau balian, maka metode terapi yang diterapkan bentuknya unik dan praktisi penyembuh berperan dominan, sepenuhnya menentukan dalam praktek pengobatan tersebut. Kontras dengan konsep masa kini yang mengharuskan penerapan praktek kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine.)

Pengobatan atau tindakan medis apa pun yang akan diterapkan kepada para pasien wajib sudah melalui suatu penelitian klinis dengan berbagai tingkatan bukti. Semakin kuat dan luas bukti yang telah diverifikasi, maka semakin kuat rekomendasinya untuk pasien. Rekomendasi semakin lemah jika hanya berbasis pengalaman empirik, apalagi hanya atas keyakinan seorang ahli (expert opinion.) Dengan rekomendasi terkuat sekalipun, saat ini seorang pasien tetap memiliki otonomi untuk menentukan keputusan medisnya, ia berhak menolak, bahkan setelah dokter menjelaskan dengan benar terkait penyakit dan pengobatan yang ditawarkan (informed concent.)

Kini, pengobatan modern belum cukup didasarkan hanya pada kedokteran berbasis bukti. Semakin diketahui, setiap individu memiliki keunikan yang rupanya juga dapat memberi pengaruh kepada respon terapi yang diberikan. Dikenal sebagai sistem genomik. Setiap orang, keluarga, suku, ras atau bangsa memiliki untaian genetik atau pembawa sifat yang berbeda-beda. Secara rasional akan memengaruhi zat obat yang bekerja di dalam tubuhnya.

Maka pengetahuan genomik ini mengantarkan terapi modern akan semakin presisi. Jejak-jejak arkeologis di Peru, lontar Budha Kecapai adalah kebijaksanaan di masa lampau, dan sejarah yang dihormati sesungguhnya adalah penyembuh masa depan bumi. [T] 

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole

Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim
Tags: buda kecapidokterDokter Arya Nugrahamedispengobatanpengobatan tradisionalSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koruptor Apakah ODGJ?

Next Post

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

"Tarian Bumi" dan Kuasa Teori Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co