4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
July 20, 2025
in Esai
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Putu Arya Nugraha

SANGAT menarik membahas konsep pengobatan dari era ke era. Apalagi saat konsep pengobatan yang telah berkembang di masa lampau, masih eksis keberadaannya di masa kini. Tentu saja menjadi sebuah isyarat, untuk kita tetap memberi rasa hormat kepada setiap ide yang telah membawa spirit penyembuhan umat manusia. Tidak begitu saja menafikan konsep lama yang tradisional lalu mendewa-dewakan konsep baru yang modern dan canggih. Meskipun tampak sangat jelas ada perbedaan konsep pengobatan dalam teks lama dan baru, namun sesungguhnya banyak sekali bukti-bukti kesamaan pada dimensinya yang lain.

Bukti-bukti arkeologi prasejarah bangsa Peru misalnya, ditemukan tengkorak manusia berlubang-lubang yang oleh para ahli dipercaya sebagai tindakan pengobatan yang di era modern ini dikenal sebagai trepanasi. Trepanasi, adalah prosedur medis–dulu mungkin mistis–dengan melubangi tulang tengkorak manusia, yang saat ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan di bawah tulang tengkorak yang sangat membahayakan otak. Tekanan tersebut mungkin disebabkan oleh penumpukan cairan seperti darah, biasanya pada pasien stroke atau cedera atau dapat juga penumpukan nanah bahkan udara.

Praktek trepanasi di masa lampau pun diketahui telah dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa, Afrika Utara, Asia, Tahiti, New Zealand, dan Amerika Selatan. Hal mendasar yang kemudian kita ketahui menjadi perbedaan dari tindakan trepanasi di masa lampau dan kedokteran modern saat ini adalah apa yang disebut sebagai patofisiologi.

Patofisiologi adalah lmu yang mempelajari tentang perubahan fungsi tubuh yang abnormal akibat penyakit, cedera, atau kondisi lain. Ini adalah gabungan dari patologi (studi tentang penyakit) dan fisiologi (studi tentang fungsi tubuh normal). Patofisiologi membantu memahami bagaimana penyakit berkembang, bagaimana tubuh bereaksi terhadapnya, dan bagaimana hal itu memengaruhi fungsi tubuh.

Konsep lama yang mendasari tindakan trepanasi di atas adalah adanya roh jahat yang masuk ke dalam tubuh manusia dan menyerang kepalanya. Sehingga timbul gejala-gejala seperi nyeri kepala, kejang-kejang bahkan penurunan kesadaran. Saat ini, gejala-gejala tersebut persis merupakan gejala pada pasien stroke. Maka dalam hal trepanasi, konsep lama dan baru sama pada cara namun berbeda pada konsep penyebab. Bagaimanapun juga, baik dari bukti-bukti arkelogis prasejarah tersebut maupun situasi pada saat ini, pasien telah banyak diselamatkan dengan tindakan trepanasi.

Dalam tradisi penyembuhan masyarakat Bali masa lampau, disebutkan dalam lontar, Budha Kecapi  adalah seorang balian yang sangat ahli dan bijaksana, memiliki pengetahuna yang sangat luas dalam pengobatan. Ia memperoleh pengetahuan dan keterampilannya tersebut, berkat usaha keras dan keteguhanya dalam menggelar tapa, brata, yoga, dan samadhi di kuburan. Sebuah perjuangan dan ketekunan yang juga di era modern ini harus dilalui oleh para calon dokter sebelum meraih sarjana profesi dokter, dokter ahli (spesialis) bahkan konsultan (subspesialis.)

Jika ingin meraih gelar dokter konsultan atau subspesialis, seorang peserta didik perlu waktu paling sedikit 12 tahun dengan berbagai tugas yang tak mudah. Maka jika kurun waktu 12 tahun tempaan kawah candradimuka itu dijalani dengan baik, maka seperti Budha Kecapi, seorang dokter pun layak mendapat anugerah dari Bhatara Hyang Dini Dalem atau Durga.

Budha Kecapi tak hanya ahli dan terampil dalam mengobati. Ia pun diketahui sangat menekankan aspek etik dalam melayani orang sakit. Hal mana yang di era modern ini pun kerap menjadi sorotan. Aspek etik telah mengangkat setinggi-tingginya harkat, baik praktisi penyembuhan di masa lampau maupun para dokter di masa kini, jauh di atas sembuh atau tidak dan selamat atau meninggal pasien yang dirawat.

Sangat menarik juga, dalam lontar yang sama, disinggung ramalan penyakit yang diderita oleh pasien. Apakah memiliki peluang yang besar untuk sembuh, kecil atau bahkan akan meninggal dalam waktu dekat. Dalam praktek kedokteran modern, konsep ini dikenal sebagai prognosis. Keduanya sangat menekankan aspek etik dalam hal ini. Sejauh mana upaya yang akan kita lakukan, seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan sesuai dengan prognosis penyakit yang diderita pasien.

Oleh karena konsep pengobatan di masa lampau lebih dipengaruhi oleh keyakinan para tabib, shaman atau balian, maka metode terapi yang diterapkan bentuknya unik dan praktisi penyembuh berperan dominan, sepenuhnya menentukan dalam praktek pengobatan tersebut. Kontras dengan konsep masa kini yang mengharuskan penerapan praktek kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine.)

Pengobatan atau tindakan medis apa pun yang akan diterapkan kepada para pasien wajib sudah melalui suatu penelitian klinis dengan berbagai tingkatan bukti. Semakin kuat dan luas bukti yang telah diverifikasi, maka semakin kuat rekomendasinya untuk pasien. Rekomendasi semakin lemah jika hanya berbasis pengalaman empirik, apalagi hanya atas keyakinan seorang ahli (expert opinion.) Dengan rekomendasi terkuat sekalipun, saat ini seorang pasien tetap memiliki otonomi untuk menentukan keputusan medisnya, ia berhak menolak, bahkan setelah dokter menjelaskan dengan benar terkait penyakit dan pengobatan yang ditawarkan (informed concent.)

Kini, pengobatan modern belum cukup didasarkan hanya pada kedokteran berbasis bukti. Semakin diketahui, setiap individu memiliki keunikan yang rupanya juga dapat memberi pengaruh kepada respon terapi yang diberikan. Dikenal sebagai sistem genomik. Setiap orang, keluarga, suku, ras atau bangsa memiliki untaian genetik atau pembawa sifat yang berbeda-beda. Secara rasional akan memengaruhi zat obat yang bekerja di dalam tubuhnya.

Maka pengetahuan genomik ini mengantarkan terapi modern akan semakin presisi. Jejak-jejak arkeologis di Peru, lontar Budha Kecapai adalah kebijaksanaan di masa lampau, dan sejarah yang dihormati sesungguhnya adalah penyembuh masa depan bumi. [T] 

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole

Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim
Tags: buda kecapidokterDokter Arya Nugrahamedispengobatanpengobatan tradisionalSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koruptor Apakah ODGJ?

Next Post

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

"Tarian Bumi" dan Kuasa Teori Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co