12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koruptor Apakah ODGJ?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 20, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu saya membaca berita kecil, di mana Pemda di daerah menertibkan beberapa orang yang berkeliaran diduga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), karena dirasa mengganggu ketertiban umum dan mengganggu rasa nyaman masyarakat. 

Ini menarik dan menggelitik, karena tetiba kok saya , sebagai masyarakat jelata, merasa sensitif saat ada kata-kata ketertiban umum dan rasa nyaman ini.  Karena ada yang lebih mengganggu dan menggelisahkan jika dikaikan dengan kedua hal tersebut. ODGJ itu memang sering kali kita kucilkan. Tapi kenapa yang mabuk kekuasaan, yang mengisap negara habis-habisan memperkaya diri, justru kita muliakan atau malah kita cita-citakan rekam jejaknya.

Di negeri ini, “waras” seolah adalah perkara siapa yang memegang mikrofon. Orang yang mencuri demi bisa makan sehari dihajar ramai-ramai. Tapi orang yang mencuri ratusan miliar disebut dermawan, visioner, dan calon pemimpin masa depan. Ironisnya, mereka yang benar-benar mengalami gangguan jiwa dalam hal ini ODGJ,  malah disingkirkan dari ruang sosial, seolah beban masyarakat.

Padahal, jika dilihat dari kacamata tanggung jawab sosial dan nurani, bisa jadi ODGJ lebih manusiawi dibanding mereka yang mabuk kuasa. Mari kita bedah ini dari dua sudut, yaitu sisi neuropsikologi kekuasaan dan sisi psikopolitik narsistik. Biar kita di sini tidak dianggap sekadar njeplak saja, tapi juga berdasar riset, meski kecil-kecilan.

Neurosains Membuktikan Kekuasaan Itu Candu

Sesuai Permenkes No. 54 Tahun 2017, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah individu yang mengalami gangguan dalam pikiran, emosi, perilaku, atau fungsi sosial secara signifikan. Mereka bisa mengalami halusinasi, delusi, gangguan suasana hati, atau kehilangan kendali diri.  Namun, perlu ditekankan bahwa ODGJ tidak selalu berbahaya.

Dalam banyak kasus, mereka justru menjadi korban stigma, diskriminasi, bahkan banyak kasus kita lihat mereka dikurung secara tidak manusiawi. Ironisnya, ODGJ jarang punya peluang menyakiti sistem. Sementara mereka yang kelihatan rapi, berdasi, terlihat waras, mereka itulah yang merancang dengan cermat kerusakan sistematis terhadap bangsa kita ini.

Dengan pengertian ini, anak kecil saja bisa bertanya, kok para pejabat atau elite bisa tega menyalahgunakan kekuasaan padahal pintar dan berpendidikan? Jawabannya, mungkin karena kekuasaan bisa bikin otak tumpul. Ya memang agak ngawur dan subyektif. Tapi biarin, wajar kan, kalau rakyat jelata komen sambil emosi. Kan, pendidikannya tidak setinggi para oknum pejabat itu.

Tapi sebenarnya jawaban ngawur tadi memang ada dasarnya. Psikolog sosial Dacher Keltner dari UC Berkeley menyebutkan, bahwa kekuasaan menurunkan empati dan meningkatkan perilaku impulsif, katanya ini mirip efek keracunan dopamin. Pemegang kekuasaan yang terlalu lama berada di puncak cenderung merasa diri paling benar, sulit menerima kritik, dan cenderung memperalat orang lain untuk mempertahankan statusnya.

Fenomena ini dikenal dengan nama Hubris Syndrome (Owen & Davidson, 2008), yaitu kondisi psikologis para pemimpin yang mulai kehilangan sense of reality karena terlalu lama dielu-elukan. Di titik ini, mereka mungkin masih “waras” secara medis, tapi mati rasa secara moral. Kalau saudara kita yang ODGJ bisa disembuhkan dengan terapi dan obat, korban Sindrom Hubris ini hanya bisa “sembuh” kalau ditarik dari kursi kekuasaannya. Itupun belum tentu bisa sadar.

Indonesia dan Narsisme Kolektif

Filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, dalam bukunya Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power (2017) menyebut era modern sebagai era psikopolitik, di mana kekuasaan tak lagi menghukum tubuh, tapi mengontrol kesadaran. Orang modern kini tidak perlu dibungkam dengan senjata, cukup dialihkan saja dengan narasi, slogan, atau promo pembangunan. Di negara-negara yang pernah trauma entah karena penjajahan, krisis, atau pengkhianatan elite, masyarakat cenderung lebih mudah memuja pemimpin yang tampak kuat, meski licik, manipulatif, atau bengis. Mereka mencari simbol penyelamat, bukan sistem yang sehat.  

Apakah ini menimpa negara kita, tentu jawabannya kembali ke masing-masing kita.  Dan ketika pemimpin dianggap sebagai figur bapak bangsa, kritik yang dilontarkan terhadap figur ini akan direspons seolah-olah seperti menghina keluarga sendiri.  Contoh seperti ungkapan, “ Kok tega-teganya kamu nyinyirin dia, padahal dia yang bangun jalan tol di mana-mana, lho”. Padahal jalan tol itu ya, memang tugas negara. Bukan sedekah pribadi.

Mari kita coba berkaca ke dalam negeri. Dari pemimpin lokal yang naik motor sambil senyum-senyum di TikTok, sampai elite yang mengatur proyek sambil omon-omon soal kesejahteraan rakyat, semuanya bagian dari narasi yang akan mengalihkan kritik jadi sorai tepuk tangan. Padahal di belakang layar, banyak dari mereka yang kita tahu terlibat dalam penguasaan sumber daya, pencucian uang, dan dinasti politik. Lebih menggelikan lagi, ketika pelaku korupsi kelas kakap tertangkap, banyak yang komentar semi membela, “Tapi setahuku, dia banyak bantu orang kecil lho, baik kok orangnya”.

 Ini bukan sekadar kebodohan massal, tapi bentuk narsisme kolektif, seperti yang diungkapkan Golec de Zavala, yaitu kondisi psikologis di mana masyarakat merasa identitasnya lekat dengan tokoh tertentu, sehingga kritik terhadap tokoh diangap ancaman terhadap harga diri kelompok. Konsekuensi dari hal ini terlihat ketika skandal hanya dijadikan gosip, bukan pemicu kesadaran. Konsekuensi lain adalah ketika korupsi jadi sekedar risiko jabatan, bukan pengkhianatan, lalu mereka yang ambil sikap oposisi lantas dibilang “baperan”, bukan sebagai penyeimbang demokrasi.

Siapa Sebenarnya yang Terganggu Jiwanya

Kita coba kembali ke perbincangan awal soal ketertiban umum. Dari banyaknya gangguan ketertiban umum ini, siapa yang sebenarnya bikin onar? ODGJ yang duduk diam di pinggir jalan, atau mereka yang duduk manis di kursi jabatan sambil mengabaikan penderitaan rakyat? Yang satu kehilangan realitas karena gangguan biokimia. Satunya lagi memilih kehilangan empati demi kenyamanan dan kekuasaan. Jelasnya, yang satu tidak bisa memilih, yang satu sengaja memilih untuk menutup mata, telinga dan bahkan nurani. Komplet.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menyebut “gila” pada mereka yang sakit jiwa, dan mulai mempertanyakan kewarasan mereka yang mencuri terang-terangan tapi dijadikan pujaan.  Karena di negeri yang mabuk kekuasaan, orang waras jelas sering dikira aneh, dan orang yang gila harta, malah diberi predikat mulia sebagai penyelamat bangsa. 

Jadi, jika di antara para pembaca yang budiman pernah merasa muak, tapi bingung harus mulai dari mana, mulailah dengan tidak sekali-kali menertawakan ODGJ, dan segera berhenti memuja penguasa hanya karena mereka telihat glamour bergelimang kemewahan. Karena jika kita waras, kita pasti paham dan bisa merasakan sendiri bahwa dalam hal ini waras itu bukan soal tampang dan penampilan. Tapi soal sikap mental berani menanggung amanah dan akibat dari setiap kuasa yang dipegang. Kalau jadi pejabat tetap nekat dengan niat korup, ya emang edan kronis mereka. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Tags: KorupsikoruptorODGJ
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Next Post

Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co