12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 14, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia memang masih lama, tanggal 9 Desember. Namun korupsi hampir terjadi setiap hari. Kegiatan satu ini memang rajin banget dilakukan. Yang terbaru adalah dugaan korupsi minyak mentah. Dalam kasus ini, angka sementara yang disebut kejaksaan sudah mencapai Rp 285 triliun. Yang bikin ngilu, ini melibatkan tersangka ayah anak, Mohammad Riza Chalid sang ayah dan anaknya Muhammad Kerry Adrianto Riza. Kalau tidak ketahuan sepertinya bisa turun temurun itu.

Belum lagi yang hitung-hitungan dari Kejagung tahun 2024 kemarin, yang mencapai Rp310 triliun. Itu bukan angka utang negara. Bukan juga target ekspor sawit. Itu adalah angka kerugian negara akibat korupsi tahun 2024. Belum termasuk USD 7,8 juta dan 58 kilogram emas. Yang bikin miris,  atau malah bikin iri  adalah kenyataan bahwa uang sebanyak itu diembat para oknum pejabat serta keluarga, dan banyak dari mereka masih hidup tenang, sejahtera, bahkan manggung di medsos.

Ya wajar saja kalau anak-anak muda hari ini malah pengennya jadi pejabat, bukannya bercita-cita jadi ilmuwan, seniman, apalagi guru honorer yang gajinya kalah sama tukang parkir liar. Terus terang jadi pejabat bukan buat ngurus rakyat. Tapi biar bisa ikutan  mencicipi gurihnya kuah APBN.  Dan herannya, kita semua tahu hal itu, tapi sepertinya  udah capek buat marah.

Dalam masyarakat kita hari ini, korupsi tidak lagi dipandang sebagai deviasi. Ia telah mengalami normalisasi. Istilah ini pernah dipopulerkan oleh Diane Vaughan, seorang sosiolog yang meneliti kecelakaan pesawat luar angkasa Challenger. Vaughan menyebut fenomena ini sebagai normalization of deviance, ketika pelanggaran terhadap aturan terjadi terus-menerus, sanksi hukum lemah, dan tidak mendapat sanksi sosial yang berarti, maka ia akan dianggap wajar,  bahkan dianggap sah.  Wajar lah,  bila pejabat suatu kali korupsi, kira-kira begitu. Menarik, ya.

Sekarang coba tanya ke anak-anak muda kita, kira-kira apa enaknya jadi pejabat. Kalau mereka jujur, jawabannya mungkin kira-kira begini, “Pengen juga jadi pejabat, soalnya enak. Gaji gede, bisa ngatur orang, bisa main proyek. Ya, asal pinter nutup jejak, sih.” Dan kita sebagai orang dewasa, kita juga tidak bisa sepenuhnya  menyalahkan mereka. Karena dari kecil mereka sudah disuguhi tontonan di mana oknum pejabat dan keluarganya yang hidup glamor, naik Alphard, anaknya sekolah ke Eropa,dan tampil keren di medsos.

Ketika ada yang ketahuan korupsi, paling ditahan sebentar, pakai rompi oranye, senyum ke kamera, lalu dipenjara di ruangan AC. Dan kalau beruntung, masih bisa mengatur bisnis juga di dalam penjara.  Sampai akhirnya ada sebagian kita sadar, bahwa di Indonesia korupsi bukan lagi kejahatan keji. Tapi semacam kelalaian administrasi belaka dalam karier seorang pejabat. Sepertinya ada sesuatu yang keblinger disini

Etika Publik yang Pingsan

Begini saja cara pikir sederhananya. Ada yang rela kerja keras, mengajar di pedalaman, gaji pas-pasan, ketika pensiun dikasih sertifikat kehormatan.  Satu sisi oknum pejabat yang ikut main anggaran bisa bangun vila, punya 4 mobil, dan beli saham tambang. Liburan selalu fasilitas kelas VIP.  Sudah jelas mana yang lebih masuk akal secara ekonomi.

Maka jadilah pejabat, bukan karena panggilan jiwa, tapi panggilan rekening keluarga.  Dan sistem bisa mendukung impian itu. Lihat saja pemilu transaksional, partai pragmatis, birokrasi manipulatif, mahkamah bisa diutik-utik dan banyak lagi.Hari ini kita menyaksikan di kanan-kiri, birokrasi yang sibuk mengejar predikat WTP, zona integritas, smart city, good governance.  Sepertinya itu mencerminkan jiwa birokrasi yang etis. Tapi kenyataannya tidak selalu.  Faktanya banyak pejabat tersangka korupsi tetap dilantik,  pelayanan publik tetap lamban dan manipulatif., pejabat  pelaku pelanggaran masih mendapat promosi.

Ini bukan soal keluhan tentang buruknya sistem, tapi hilangnya rasa malu dan tanggung jawab moral dalam birokrasi.  Jaman ini etika publik bukan hanya diabaikan, ia semacam makhluk pingsan yang kita tidak tahu bagaimana caranya agar bisa bangun kembali. Etika publik sebagaimana dijelaskan dalam teori Jean-Jacques Rousseau tentang kontrak sosial, adalah dasar kepercayaan antara rakyat dan negara. Rakyat membayar pajak, patuh terhadap hukum, dan menyerahkan sebagian haknya, dengan harapan negara akan menjamin keadilan dan pelayanan. Tapi, ketika itu dikhianati oleh korupsi dan manipulasi, kontrak sosial itu otomatis hancur. Negara kini tidak lagi dilihat sebagai pelindung, tapi sebagai predator yang menyamar.

Di tengah hiruk pikuk teknokrasi dan administrasi, etika telah ditinggalkan, good bye, digantikan oleh hitung-hitungan legal-formal dan permainan citra. Yang lebih tragis, korupsi, yang sebenarnya adalah kejahatan terhadap kepercayaan publik, justru makin hari makin diterima sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan, menjadi bagian dari kenormalan sosial. Betul-betul sial.

Jujur Itu Mahal

Di sisi lain, secara kultural, kita hidup dalam masyarakat yang sangat mementingkan pencitraan dan kemewahan. Thorstein Veblen menyebutnya sebagai conspicuous consumption, konsumsi untuk dipamerkan. Dalam budaya semacam ini, bukan integritas yang dihargai, tapi tampilan luar. Pejabat yang sederhana, saat ini tidak ada yang ingin meniru.  Pejabat yang glamor dipuja-puja. Maka jangan heran jika ASN muda yang memakai Alphard dianggap kesuksesan, bukannya mencurigakan.

Lebih dalam lagi, kita dihadapkan pada ilusi legalitas. Banyak pelaku korupsi merasa tak bersalah karena merasa tidak melanggar pasal hukum. Asal tidak tertulis jelas dalam undang-undang, maka itu sah-sah saja. Di sinilah muncul kecenderungan memanipulasi hukum untuk kepentingan diri sendiri. Mereka yang berada di dalam kekuasaan menggunakan celah hukum sebagai tameng, sambil terus menyatakan dengan gagah berani bahwa mereka tidak salah secara hukum.

Betul, secara hukum,  entah secara etika. Dan sementara guru honorer sibuk nawar harga telur yang hari ini naik 500 perak sekilonya, mantan menteri yang nyolong milyaran bisa plesiran ke luar negeri pakai paspor diplomatik. Kalau kita mau tanamkan ke anak muda bahwa kejujuran itu mulia,  tentu itu boleh-boleh saja. Tapi jangan marah kalau mereka merasa jujur itu sekarang mahal dan tak terbeli. 

Negara jangan Gagal Jadi Panutan

Maka jangan-jangan, hari ini orang berebut jadi pejabat bukan untuk melayani rakyat, tapi untuk punya akses ke ladang basah korupsi. Jabatan itu cuma bungkus, isinya adalah peta peluang untuk mengeruk uang negara tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Di negeri yang aturan bisa ditawar dan hukuman bisa dinegosiasi, jabatan publik jadi berubah fungsi. Bukan amanah, tapi akses ke peta harta karun bangsa. Kalau begini terus, yang kita hadapi bukan cuma krisis moral, tapi pembusukan sistemik. Dan yang paling menyedihkan, kita tahu, tapi membisu atau malah ingin meniru. Nah itu, penyakit.

Benedict Anderson pernah mengatakan bahwa bangsa hanya mungkin berdiri jika warganya membentuk imagined community, komunitas yang dibangun di atas kesadaran kolektif dan kepercayaan moral. Kalau kepercayaan itu dihancurkan oleh ketidakadilan, manipulasi, dan pementasan kekuasaan yang absurd, maka bangsa ini hanya tinggal sejarah di pelajaran sekolah.  Dan ini juga bukan sekadar soal hukum. Ini soal mental dan soal sistem.  Kalau anak muda kita lebih suka meniru gaya glamor pejabat korup ketimbang jadi orang jujur, itu artinya negara sudah gagal jadi panutan. 

Etika publik di Indonesia memang sedang pingsan, bisa jadi karena dihantam keras oleh sistem yang korup atau bisa jadi karena dibungkam oleh budaya yang permisif. Tapi bukan berarti ia tak bisa dibangunkan.  Bangsa ini masih punya harapan. Tapi itu hanya mungkin jika kita, dari ruang-ruang kampus, dari meja para ASN, dari ruang kelas, dari kolom opini, terus mengingatkan bahwa integritas bukan milik sang utopia. Ia harus diperjuangkan.

Salut kepada rekan-rekan mahasiswa yang hingga kini masih mau turun ke jalan membela rakyat. Mereka masih punya nurani. Etika publik harus kita bangunkan, dengan kata, dengan sikap, dan dengan keberanian untuk tidak ikut tertidur. Dan kalau semua sudah pingsan, maka curhatan ini, semoga bisa jadi gelitikan kecil buat membangunkan nurani yang tertidur. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: Anti KorupsiKorupsipejabat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari “Tetamian” di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari “Tetamian” di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari "Tetamian" di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co