2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 14, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia memang masih lama, tanggal 9 Desember. Namun korupsi hampir terjadi setiap hari. Kegiatan satu ini memang rajin banget dilakukan. Yang terbaru adalah dugaan korupsi minyak mentah. Dalam kasus ini, angka sementara yang disebut kejaksaan sudah mencapai Rp 285 triliun. Yang bikin ngilu, ini melibatkan tersangka ayah anak, Mohammad Riza Chalid sang ayah dan anaknya Muhammad Kerry Adrianto Riza. Kalau tidak ketahuan sepertinya bisa turun temurun itu.

Belum lagi yang hitung-hitungan dari Kejagung tahun 2024 kemarin, yang mencapai Rp310 triliun. Itu bukan angka utang negara. Bukan juga target ekspor sawit. Itu adalah angka kerugian negara akibat korupsi tahun 2024. Belum termasuk USD 7,8 juta dan 58 kilogram emas. Yang bikin miris,  atau malah bikin iri  adalah kenyataan bahwa uang sebanyak itu diembat para oknum pejabat serta keluarga, dan banyak dari mereka masih hidup tenang, sejahtera, bahkan manggung di medsos.

Ya wajar saja kalau anak-anak muda hari ini malah pengennya jadi pejabat, bukannya bercita-cita jadi ilmuwan, seniman, apalagi guru honorer yang gajinya kalah sama tukang parkir liar. Terus terang jadi pejabat bukan buat ngurus rakyat. Tapi biar bisa ikutan  mencicipi gurihnya kuah APBN.  Dan herannya, kita semua tahu hal itu, tapi sepertinya  udah capek buat marah.

Dalam masyarakat kita hari ini, korupsi tidak lagi dipandang sebagai deviasi. Ia telah mengalami normalisasi. Istilah ini pernah dipopulerkan oleh Diane Vaughan, seorang sosiolog yang meneliti kecelakaan pesawat luar angkasa Challenger. Vaughan menyebut fenomena ini sebagai normalization of deviance, ketika pelanggaran terhadap aturan terjadi terus-menerus, sanksi hukum lemah, dan tidak mendapat sanksi sosial yang berarti, maka ia akan dianggap wajar,  bahkan dianggap sah.  Wajar lah,  bila pejabat suatu kali korupsi, kira-kira begitu. Menarik, ya.

Sekarang coba tanya ke anak-anak muda kita, kira-kira apa enaknya jadi pejabat. Kalau mereka jujur, jawabannya mungkin kira-kira begini, “Pengen juga jadi pejabat, soalnya enak. Gaji gede, bisa ngatur orang, bisa main proyek. Ya, asal pinter nutup jejak, sih.” Dan kita sebagai orang dewasa, kita juga tidak bisa sepenuhnya  menyalahkan mereka. Karena dari kecil mereka sudah disuguhi tontonan di mana oknum pejabat dan keluarganya yang hidup glamor, naik Alphard, anaknya sekolah ke Eropa,dan tampil keren di medsos.

Ketika ada yang ketahuan korupsi, paling ditahan sebentar, pakai rompi oranye, senyum ke kamera, lalu dipenjara di ruangan AC. Dan kalau beruntung, masih bisa mengatur bisnis juga di dalam penjara.  Sampai akhirnya ada sebagian kita sadar, bahwa di Indonesia korupsi bukan lagi kejahatan keji. Tapi semacam kelalaian administrasi belaka dalam karier seorang pejabat. Sepertinya ada sesuatu yang keblinger disini

Etika Publik yang Pingsan

Begini saja cara pikir sederhananya. Ada yang rela kerja keras, mengajar di pedalaman, gaji pas-pasan, ketika pensiun dikasih sertifikat kehormatan.  Satu sisi oknum pejabat yang ikut main anggaran bisa bangun vila, punya 4 mobil, dan beli saham tambang. Liburan selalu fasilitas kelas VIP.  Sudah jelas mana yang lebih masuk akal secara ekonomi.

Maka jadilah pejabat, bukan karena panggilan jiwa, tapi panggilan rekening keluarga.  Dan sistem bisa mendukung impian itu. Lihat saja pemilu transaksional, partai pragmatis, birokrasi manipulatif, mahkamah bisa diutik-utik dan banyak lagi.Hari ini kita menyaksikan di kanan-kiri, birokrasi yang sibuk mengejar predikat WTP, zona integritas, smart city, good governance.  Sepertinya itu mencerminkan jiwa birokrasi yang etis. Tapi kenyataannya tidak selalu.  Faktanya banyak pejabat tersangka korupsi tetap dilantik,  pelayanan publik tetap lamban dan manipulatif., pejabat  pelaku pelanggaran masih mendapat promosi.

Ini bukan soal keluhan tentang buruknya sistem, tapi hilangnya rasa malu dan tanggung jawab moral dalam birokrasi.  Jaman ini etika publik bukan hanya diabaikan, ia semacam makhluk pingsan yang kita tidak tahu bagaimana caranya agar bisa bangun kembali. Etika publik sebagaimana dijelaskan dalam teori Jean-Jacques Rousseau tentang kontrak sosial, adalah dasar kepercayaan antara rakyat dan negara. Rakyat membayar pajak, patuh terhadap hukum, dan menyerahkan sebagian haknya, dengan harapan negara akan menjamin keadilan dan pelayanan. Tapi, ketika itu dikhianati oleh korupsi dan manipulasi, kontrak sosial itu otomatis hancur. Negara kini tidak lagi dilihat sebagai pelindung, tapi sebagai predator yang menyamar.

Di tengah hiruk pikuk teknokrasi dan administrasi, etika telah ditinggalkan, good bye, digantikan oleh hitung-hitungan legal-formal dan permainan citra. Yang lebih tragis, korupsi, yang sebenarnya adalah kejahatan terhadap kepercayaan publik, justru makin hari makin diterima sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan, menjadi bagian dari kenormalan sosial. Betul-betul sial.

Jujur Itu Mahal

Di sisi lain, secara kultural, kita hidup dalam masyarakat yang sangat mementingkan pencitraan dan kemewahan. Thorstein Veblen menyebutnya sebagai conspicuous consumption, konsumsi untuk dipamerkan. Dalam budaya semacam ini, bukan integritas yang dihargai, tapi tampilan luar. Pejabat yang sederhana, saat ini tidak ada yang ingin meniru.  Pejabat yang glamor dipuja-puja. Maka jangan heran jika ASN muda yang memakai Alphard dianggap kesuksesan, bukannya mencurigakan.

Lebih dalam lagi, kita dihadapkan pada ilusi legalitas. Banyak pelaku korupsi merasa tak bersalah karena merasa tidak melanggar pasal hukum. Asal tidak tertulis jelas dalam undang-undang, maka itu sah-sah saja. Di sinilah muncul kecenderungan memanipulasi hukum untuk kepentingan diri sendiri. Mereka yang berada di dalam kekuasaan menggunakan celah hukum sebagai tameng, sambil terus menyatakan dengan gagah berani bahwa mereka tidak salah secara hukum.

Betul, secara hukum,  entah secara etika. Dan sementara guru honorer sibuk nawar harga telur yang hari ini naik 500 perak sekilonya, mantan menteri yang nyolong milyaran bisa plesiran ke luar negeri pakai paspor diplomatik. Kalau kita mau tanamkan ke anak muda bahwa kejujuran itu mulia,  tentu itu boleh-boleh saja. Tapi jangan marah kalau mereka merasa jujur itu sekarang mahal dan tak terbeli. 

Negara jangan Gagal Jadi Panutan

Maka jangan-jangan, hari ini orang berebut jadi pejabat bukan untuk melayani rakyat, tapi untuk punya akses ke ladang basah korupsi. Jabatan itu cuma bungkus, isinya adalah peta peluang untuk mengeruk uang negara tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Di negeri yang aturan bisa ditawar dan hukuman bisa dinegosiasi, jabatan publik jadi berubah fungsi. Bukan amanah, tapi akses ke peta harta karun bangsa. Kalau begini terus, yang kita hadapi bukan cuma krisis moral, tapi pembusukan sistemik. Dan yang paling menyedihkan, kita tahu, tapi membisu atau malah ingin meniru. Nah itu, penyakit.

Benedict Anderson pernah mengatakan bahwa bangsa hanya mungkin berdiri jika warganya membentuk imagined community, komunitas yang dibangun di atas kesadaran kolektif dan kepercayaan moral. Kalau kepercayaan itu dihancurkan oleh ketidakadilan, manipulasi, dan pementasan kekuasaan yang absurd, maka bangsa ini hanya tinggal sejarah di pelajaran sekolah.  Dan ini juga bukan sekadar soal hukum. Ini soal mental dan soal sistem.  Kalau anak muda kita lebih suka meniru gaya glamor pejabat korup ketimbang jadi orang jujur, itu artinya negara sudah gagal jadi panutan. 

Etika publik di Indonesia memang sedang pingsan, bisa jadi karena dihantam keras oleh sistem yang korup atau bisa jadi karena dibungkam oleh budaya yang permisif. Tapi bukan berarti ia tak bisa dibangunkan.  Bangsa ini masih punya harapan. Tapi itu hanya mungkin jika kita, dari ruang-ruang kampus, dari meja para ASN, dari ruang kelas, dari kolom opini, terus mengingatkan bahwa integritas bukan milik sang utopia. Ia harus diperjuangkan.

Salut kepada rekan-rekan mahasiswa yang hingga kini masih mau turun ke jalan membela rakyat. Mereka masih punya nurani. Etika publik harus kita bangunkan, dengan kata, dengan sikap, dan dengan keberanian untuk tidak ikut tertidur. Dan kalau semua sudah pingsan, maka curhatan ini, semoga bisa jadi gelitikan kecil buat membangunkan nurani yang tertidur. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: Anti KorupsiKorupsipejabat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari “Tetamian” di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari “Tetamian” di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari "Tetamian" di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co