23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 14, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia memang masih lama, tanggal 9 Desember. Namun korupsi hampir terjadi setiap hari. Kegiatan satu ini memang rajin banget dilakukan. Yang terbaru adalah dugaan korupsi minyak mentah. Dalam kasus ini, angka sementara yang disebut kejaksaan sudah mencapai Rp 285 triliun. Yang bikin ngilu, ini melibatkan tersangka ayah anak, Mohammad Riza Chalid sang ayah dan anaknya Muhammad Kerry Adrianto Riza. Kalau tidak ketahuan sepertinya bisa turun temurun itu.

Belum lagi yang hitung-hitungan dari Kejagung tahun 2024 kemarin, yang mencapai Rp310 triliun. Itu bukan angka utang negara. Bukan juga target ekspor sawit. Itu adalah angka kerugian negara akibat korupsi tahun 2024. Belum termasuk USD 7,8 juta dan 58 kilogram emas. Yang bikin miris,  atau malah bikin iri  adalah kenyataan bahwa uang sebanyak itu diembat para oknum pejabat serta keluarga, dan banyak dari mereka masih hidup tenang, sejahtera, bahkan manggung di medsos.

Ya wajar saja kalau anak-anak muda hari ini malah pengennya jadi pejabat, bukannya bercita-cita jadi ilmuwan, seniman, apalagi guru honorer yang gajinya kalah sama tukang parkir liar. Terus terang jadi pejabat bukan buat ngurus rakyat. Tapi biar bisa ikutan  mencicipi gurihnya kuah APBN.  Dan herannya, kita semua tahu hal itu, tapi sepertinya  udah capek buat marah.

Dalam masyarakat kita hari ini, korupsi tidak lagi dipandang sebagai deviasi. Ia telah mengalami normalisasi. Istilah ini pernah dipopulerkan oleh Diane Vaughan, seorang sosiolog yang meneliti kecelakaan pesawat luar angkasa Challenger. Vaughan menyebut fenomena ini sebagai normalization of deviance, ketika pelanggaran terhadap aturan terjadi terus-menerus, sanksi hukum lemah, dan tidak mendapat sanksi sosial yang berarti, maka ia akan dianggap wajar,  bahkan dianggap sah.  Wajar lah,  bila pejabat suatu kali korupsi, kira-kira begitu. Menarik, ya.

Sekarang coba tanya ke anak-anak muda kita, kira-kira apa enaknya jadi pejabat. Kalau mereka jujur, jawabannya mungkin kira-kira begini, “Pengen juga jadi pejabat, soalnya enak. Gaji gede, bisa ngatur orang, bisa main proyek. Ya, asal pinter nutup jejak, sih.” Dan kita sebagai orang dewasa, kita juga tidak bisa sepenuhnya  menyalahkan mereka. Karena dari kecil mereka sudah disuguhi tontonan di mana oknum pejabat dan keluarganya yang hidup glamor, naik Alphard, anaknya sekolah ke Eropa,dan tampil keren di medsos.

Ketika ada yang ketahuan korupsi, paling ditahan sebentar, pakai rompi oranye, senyum ke kamera, lalu dipenjara di ruangan AC. Dan kalau beruntung, masih bisa mengatur bisnis juga di dalam penjara.  Sampai akhirnya ada sebagian kita sadar, bahwa di Indonesia korupsi bukan lagi kejahatan keji. Tapi semacam kelalaian administrasi belaka dalam karier seorang pejabat. Sepertinya ada sesuatu yang keblinger disini

Etika Publik yang Pingsan

Begini saja cara pikir sederhananya. Ada yang rela kerja keras, mengajar di pedalaman, gaji pas-pasan, ketika pensiun dikasih sertifikat kehormatan.  Satu sisi oknum pejabat yang ikut main anggaran bisa bangun vila, punya 4 mobil, dan beli saham tambang. Liburan selalu fasilitas kelas VIP.  Sudah jelas mana yang lebih masuk akal secara ekonomi.

Maka jadilah pejabat, bukan karena panggilan jiwa, tapi panggilan rekening keluarga.  Dan sistem bisa mendukung impian itu. Lihat saja pemilu transaksional, partai pragmatis, birokrasi manipulatif, mahkamah bisa diutik-utik dan banyak lagi.Hari ini kita menyaksikan di kanan-kiri, birokrasi yang sibuk mengejar predikat WTP, zona integritas, smart city, good governance.  Sepertinya itu mencerminkan jiwa birokrasi yang etis. Tapi kenyataannya tidak selalu.  Faktanya banyak pejabat tersangka korupsi tetap dilantik,  pelayanan publik tetap lamban dan manipulatif., pejabat  pelaku pelanggaran masih mendapat promosi.

Ini bukan soal keluhan tentang buruknya sistem, tapi hilangnya rasa malu dan tanggung jawab moral dalam birokrasi.  Jaman ini etika publik bukan hanya diabaikan, ia semacam makhluk pingsan yang kita tidak tahu bagaimana caranya agar bisa bangun kembali. Etika publik sebagaimana dijelaskan dalam teori Jean-Jacques Rousseau tentang kontrak sosial, adalah dasar kepercayaan antara rakyat dan negara. Rakyat membayar pajak, patuh terhadap hukum, dan menyerahkan sebagian haknya, dengan harapan negara akan menjamin keadilan dan pelayanan. Tapi, ketika itu dikhianati oleh korupsi dan manipulasi, kontrak sosial itu otomatis hancur. Negara kini tidak lagi dilihat sebagai pelindung, tapi sebagai predator yang menyamar.

Di tengah hiruk pikuk teknokrasi dan administrasi, etika telah ditinggalkan, good bye, digantikan oleh hitung-hitungan legal-formal dan permainan citra. Yang lebih tragis, korupsi, yang sebenarnya adalah kejahatan terhadap kepercayaan publik, justru makin hari makin diterima sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan, menjadi bagian dari kenormalan sosial. Betul-betul sial.

Jujur Itu Mahal

Di sisi lain, secara kultural, kita hidup dalam masyarakat yang sangat mementingkan pencitraan dan kemewahan. Thorstein Veblen menyebutnya sebagai conspicuous consumption, konsumsi untuk dipamerkan. Dalam budaya semacam ini, bukan integritas yang dihargai, tapi tampilan luar. Pejabat yang sederhana, saat ini tidak ada yang ingin meniru.  Pejabat yang glamor dipuja-puja. Maka jangan heran jika ASN muda yang memakai Alphard dianggap kesuksesan, bukannya mencurigakan.

Lebih dalam lagi, kita dihadapkan pada ilusi legalitas. Banyak pelaku korupsi merasa tak bersalah karena merasa tidak melanggar pasal hukum. Asal tidak tertulis jelas dalam undang-undang, maka itu sah-sah saja. Di sinilah muncul kecenderungan memanipulasi hukum untuk kepentingan diri sendiri. Mereka yang berada di dalam kekuasaan menggunakan celah hukum sebagai tameng, sambil terus menyatakan dengan gagah berani bahwa mereka tidak salah secara hukum.

Betul, secara hukum,  entah secara etika. Dan sementara guru honorer sibuk nawar harga telur yang hari ini naik 500 perak sekilonya, mantan menteri yang nyolong milyaran bisa plesiran ke luar negeri pakai paspor diplomatik. Kalau kita mau tanamkan ke anak muda bahwa kejujuran itu mulia,  tentu itu boleh-boleh saja. Tapi jangan marah kalau mereka merasa jujur itu sekarang mahal dan tak terbeli. 

Negara jangan Gagal Jadi Panutan

Maka jangan-jangan, hari ini orang berebut jadi pejabat bukan untuk melayani rakyat, tapi untuk punya akses ke ladang basah korupsi. Jabatan itu cuma bungkus, isinya adalah peta peluang untuk mengeruk uang negara tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Di negeri yang aturan bisa ditawar dan hukuman bisa dinegosiasi, jabatan publik jadi berubah fungsi. Bukan amanah, tapi akses ke peta harta karun bangsa. Kalau begini terus, yang kita hadapi bukan cuma krisis moral, tapi pembusukan sistemik. Dan yang paling menyedihkan, kita tahu, tapi membisu atau malah ingin meniru. Nah itu, penyakit.

Benedict Anderson pernah mengatakan bahwa bangsa hanya mungkin berdiri jika warganya membentuk imagined community, komunitas yang dibangun di atas kesadaran kolektif dan kepercayaan moral. Kalau kepercayaan itu dihancurkan oleh ketidakadilan, manipulasi, dan pementasan kekuasaan yang absurd, maka bangsa ini hanya tinggal sejarah di pelajaran sekolah.  Dan ini juga bukan sekadar soal hukum. Ini soal mental dan soal sistem.  Kalau anak muda kita lebih suka meniru gaya glamor pejabat korup ketimbang jadi orang jujur, itu artinya negara sudah gagal jadi panutan. 

Etika publik di Indonesia memang sedang pingsan, bisa jadi karena dihantam keras oleh sistem yang korup atau bisa jadi karena dibungkam oleh budaya yang permisif. Tapi bukan berarti ia tak bisa dibangunkan.  Bangsa ini masih punya harapan. Tapi itu hanya mungkin jika kita, dari ruang-ruang kampus, dari meja para ASN, dari ruang kelas, dari kolom opini, terus mengingatkan bahwa integritas bukan milik sang utopia. Ia harus diperjuangkan.

Salut kepada rekan-rekan mahasiswa yang hingga kini masih mau turun ke jalan membela rakyat. Mereka masih punya nurani. Etika publik harus kita bangunkan, dengan kata, dengan sikap, dan dengan keberanian untuk tidak ikut tertidur. Dan kalau semua sudah pingsan, maka curhatan ini, semoga bisa jadi gelitikan kecil buat membangunkan nurani yang tertidur. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
Tags: Anti KorupsiKorupsipejabat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Jimbarwangi dari Jembrana, Tari Lintas Selat yang Memikat di Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari “Tetamian” di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari “Tetamian” di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Gong Kebyar Karangasem Bawa Fragmentari "Tetamian" di Pesta Kesenian Bali 2025 : Mementaskan Ibu Pertiwi sebagai Simbol Kertaning Jagat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co