16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
July 23, 2025
in Esai
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo

SAYA tidak pernah bertemu dengan Kakek dari pihak Bapak. Setiap kali saya bertanya, setiap kali pula Bapak berkata: “ Kakekmu orang Jepang.”

Tentu saja saya tidak percaya. Namun, saat mulai mendapat pelajaran sejarah, saya jadi tahu bahwa Jepang memang pernah menguasai wilayah-wilayah di Nusantara. Pengetahuan itu membuat saya bertemu dengan istilah lain: Jugun Ianfu. Tidak ada bukti nyata bahwa saya terhubung dengan istilah itu, tapi sejumlah data lain membuat saya mulai membayangkan suatu kisah: Nenek saya mungkin adalah salah seorang perempuan yang menjadi mangsa serdadu Jepang, dan dari sana lahir bapak saya. Atau barangkali kisahnya tak seseram itu, barangkali ada romansa antara nenek saya dengan seorang serdadu Nippon, dan dari sana lahir bapak saya. Saya kemudian tahu bahwa Jepang kalah dalam Perang Dunia II, setelah dua bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Serdadu-serdadu Jepang pulang kampung, termasuk kakek saya. 

Sewaktu SMP, di perpustakaan sekolah, saya membaca sebuah buku: Tuan dan Hamba, kumpulan cerpen karangan Leo Tolstoy. Dalam buku itu ada sebuah cerpen, yakni “Dua Laki-Laki Tua”, yang gemanya tak hilang-hilang dari benak saya. Kisahnya demikian mengesankan, tentang iman dan perbuatan baik. Namun, lebih daripada itu, yang bergema terus dalam benak saya sesungguhnya adalah secarik adegan.

“Dua Laki-Laki Tua” berkisah tentang Efim dan Elisha, dua sahabat yang melakukan perjalanan jauh untuk berziarah ke kota suci Yerusalem. Mereka beristirahat di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyakit serta dibekap kemiskinan. Elisha kasihan kepada penduduk desa itu, sehingga ia bertahan di sana sementara rekannya melanjutkan perjalanan. Elisha berjanji kepada Efim bahwa ia akan menyusul rekannya itu. Setelah Efim melanjutkan perjalanan, Elisha membantu penduduk desa supaya bisa bangkit dari kesusahan. Ia bahkan menghabiskan uang bekalnya. Akibatnya, ia tak mungkin bisa menyusul Efim untuk melanjutkan perjalanan ke kota suci. Ketika Efim selesai berziarah, ia pulang dan kembali melewati desa tadi; desa yang penduduknya saat itu sudah hidup dengan lebih baik. Efim tidak ingat akan desa itu, penduduk desa juga tidak mengingat Efim. Namun, para penduduk menyambut Efim dengan jamuan berlimpah. Ketika Efim bertanya kenapa ia disambut sedemikian rupa, warga menjelaskan bahwa dulu ada seorang peziarah yang membantu mereka sehingga bisa lepas dari kesusahan. Efim tidak terpikir bahwa peziarah yang dimaksud warga itu adalah Elisha.   

Elisha memang tak sampai ke kota suci, tapi sosoknya tertampakkan di sana, di barisan jemaat paling depan. Di sinilah adegan yang saya maksud terjadi. Efim selalu melihat kepala Elisha, yang botak dan berkilau-kilau terkena sinar matahari, di antara para jemaat di barisan depan. Namun, setiap kali ia berusaha menghampirinya, sosok Elisha menghilang begitu saja. Elisha sendiri tak mengetahui soal itu. Di akhir cerita, ketika keduanya bertemu kembali di kampung halaman, Elisha selalu menghindar dari percakapan tentang ziarah itu, sebab ia takut Efim tahu bahwa ia tak jadi ke kota suci. Sementara Efim menyangka Elisha sampai di kota suci dan ia ingin bercerita kepada Elisha bahwa ia selalu melihat sosok Elisha di antara para jemaat yang berbaris paling depan.

Motif penggandaan yang diamalkan Tolstoy dalam karangannya itu membuat “Dua Laki-Laki Tua” hadir sebagai cerpen, suatu genre yang setaraf dengan novel, novela, atau puisi, dan tak sekadar mengacu kepada pengertian harafiahnya, yakni cerita yang pendek. Di antara semua bagian dalam “Dua Laki-Laki Tua”, adegan itulah yang paling personal, sebab ia hanya dialami oleh Efim. Realitas peristiwanya tak bisa dipercaya oleh siapa pun, tapi ia tak bisa ditampik sebagai realitas. Apalagi narator cerita, dengan meminjam mata Efim, telah turut melibatkan pembaca, sehingga pembaca seolah-olah melihat pula kepala botak Elisha berkilau-kilau terkena sinar matahari. 

Motif penggandaan Tolstoy menghantui saya terus menerus. Setiap saya menulis cerpen, motif itu selalu datang. Hasrat untuk menggandakan tak tertahankan, seakan ada pemaknaan lain yang bekerja di inti sebuah cerpen, bahwa realitas fiksional akan selalu merupakan pantulan dari realitas faktual. Namun, pantulan tersebut selalu menghindar dari bentuk “sebenarnya”, yang telah diyakini secara umum. Akan tetapi, dengan begitu, yang terjadi bisa sebaliknya, bahwa pantulan tersebut sesungguhnya tidak menghindar dari bentuk “sebenarnya”, tapi justru menampakkan bentuk yang “sebenarnya”. Apa yang “sebenarnya” jadi tak pernah tunggal, ia berganda, dan berganda-ganda. Seseorang adalah kumpulan orang-orang; suatu peristiwa adalah kumpulan peristiwa-peristiwa. Realitas fiksional berada dalam tegangan antara tak berartinya pengalaman seseorang di hadapan pengalaman banyak orang dan tak berartinya pengalaman banyak orang di hadapan pengalaman seseorang.  

Motif penggandaan Tolstoy mengalami internalisasi ke dalam kenyataan faktual yang saya alami sehari-hari. Pernah saat saya nongkrong sambil minum-minum bersama kawan-kawan di emperan toko yang sudah tutup, saya melihat di seberang jalan seorang bocah menatap saya dengan mata bertanya-tanya. Peristiwa itu tak lain adalah penggandaan dari peristiwa yang saya alami di masa kecil, di mana dari seberang jalan saya menatap para abang-abangan yang nongkrong sambil minum-minum di emperan toko yang sudah tutup. Begitu pula saat saya duduk di pinggir jalan dan menatap bus yang melintas pelan, dari jendela bus seseorang menatap ke luar. Pandangan kami bersirobok. Itu penggandaan dari peristiwa saat saya naik bus dan menatap keluar melalui jendela dan pandangan saya bersirobok dengan pandangan seseorang yang sedang duduk di penggir jalan.   

Alhasil, saya sering membayangkan suatu peristiwa dengan cara sebaliknya; meletakkan satu tokoh sebagai tokoh lainnya; membuat si aku sebagai aku lainnya. Dunia ini (ternyata) penuh aku, meski aku cuma satu jumlahnya.

Pada titik tertentu saya merasa itulah artikulasi dari “pengalaman kolektif”. Jika si aku mengalami suatu peristiwa, dan orang lain juga mengalami peristiwa yang sama, maka orang lain itu tak lain adalah aku, dan aku tak lain adalah orang itu. Namun, “pengalaman kolektif” bukanlah suatu pengalaman, “pengalaman kolektif” adalah aneka pengalaman, yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa dan dialami bersama-sama—dan yang mengalami peristiwa secara bersama-sama itu bisa jadi bukan orang-orang, melainkan seseorang.

Melalui jawabannya, bapak saya telah melihat kepala botak kakek saya berkilau-kilau terkena sinar matahari. Namun, kakek saya sendiri tidak tahu, sebagaimana saya tidak tahu siapa kakek saya sebenarnya. Di sini telah berlangsung penggandaan: saya-yang-tidak-tahu  bukanlah saya-yang-kakeknya-adalah-serdadu Jepang. Mereka adalah dua saya yang berbeda, yang juga bukan saya yang berkata bahwa kedua saya itu berbeda. Dalam situasi seperti itu yang fiksional dan yang faktual sama-sama merupakan variasi penggandaan.

Kadang-kadang saya mencoba memahami kenapa saya berpikir seperti itu. Adakah saya sedang menyembuhkan diri dari kengerian pada yang tunggal, yang pasti, yang mutlak? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Namun, yang jelas, dengan (gangguan) pikiran semacam itu saya mengerjakan cerpen-cerpen saya, sekaligus memberi makna kepada istilah cerpen itu sendiri sebagai sebuah genre.[T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Kiki Sulistyo
Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Tags: buda kecapiCerpenLeo TolstoysastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Film “Sore” Melalui Kacamata Tradisi Komunikasi Sosio-Psikologis

Next Post

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co