18 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
July 23, 2025
in Esai
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo

SAYA tidak pernah bertemu dengan Kakek dari pihak Bapak. Setiap kali saya bertanya, setiap kali pula Bapak berkata: “ Kakekmu orang Jepang.”

Tentu saja saya tidak percaya. Namun, saat mulai mendapat pelajaran sejarah, saya jadi tahu bahwa Jepang memang pernah menguasai wilayah-wilayah di Nusantara. Pengetahuan itu membuat saya bertemu dengan istilah lain: Jugun Ianfu. Tidak ada bukti nyata bahwa saya terhubung dengan istilah itu, tapi sejumlah data lain membuat saya mulai membayangkan suatu kisah: Nenek saya mungkin adalah salah seorang perempuan yang menjadi mangsa serdadu Jepang, dan dari sana lahir bapak saya. Atau barangkali kisahnya tak seseram itu, barangkali ada romansa antara nenek saya dengan seorang serdadu Nippon, dan dari sana lahir bapak saya. Saya kemudian tahu bahwa Jepang kalah dalam Perang Dunia II, setelah dua bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Serdadu-serdadu Jepang pulang kampung, termasuk kakek saya. 

Sewaktu SMP, di perpustakaan sekolah, saya membaca sebuah buku: Tuan dan Hamba, kumpulan cerpen karangan Leo Tolstoy. Dalam buku itu ada sebuah cerpen, yakni “Dua Laki-Laki Tua”, yang gemanya tak hilang-hilang dari benak saya. Kisahnya demikian mengesankan, tentang iman dan perbuatan baik. Namun, lebih daripada itu, yang bergema terus dalam benak saya sesungguhnya adalah secarik adegan.

“Dua Laki-Laki Tua” berkisah tentang Efim dan Elisha, dua sahabat yang melakukan perjalanan jauh untuk berziarah ke kota suci Yerusalem. Mereka beristirahat di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyakit serta dibekap kemiskinan. Elisha kasihan kepada penduduk desa itu, sehingga ia bertahan di sana sementara rekannya melanjutkan perjalanan. Elisha berjanji kepada Efim bahwa ia akan menyusul rekannya itu. Setelah Efim melanjutkan perjalanan, Elisha membantu penduduk desa supaya bisa bangkit dari kesusahan. Ia bahkan menghabiskan uang bekalnya. Akibatnya, ia tak mungkin bisa menyusul Efim untuk melanjutkan perjalanan ke kota suci. Ketika Efim selesai berziarah, ia pulang dan kembali melewati desa tadi; desa yang penduduknya saat itu sudah hidup dengan lebih baik. Efim tidak ingat akan desa itu, penduduk desa juga tidak mengingat Efim. Namun, para penduduk menyambut Efim dengan jamuan berlimpah. Ketika Efim bertanya kenapa ia disambut sedemikian rupa, warga menjelaskan bahwa dulu ada seorang peziarah yang membantu mereka sehingga bisa lepas dari kesusahan. Efim tidak terpikir bahwa peziarah yang dimaksud warga itu adalah Elisha.   

Elisha memang tak sampai ke kota suci, tapi sosoknya tertampakkan di sana, di barisan jemaat paling depan. Di sinilah adegan yang saya maksud terjadi. Efim selalu melihat kepala Elisha, yang botak dan berkilau-kilau terkena sinar matahari, di antara para jemaat di barisan depan. Namun, setiap kali ia berusaha menghampirinya, sosok Elisha menghilang begitu saja. Elisha sendiri tak mengetahui soal itu. Di akhir cerita, ketika keduanya bertemu kembali di kampung halaman, Elisha selalu menghindar dari percakapan tentang ziarah itu, sebab ia takut Efim tahu bahwa ia tak jadi ke kota suci. Sementara Efim menyangka Elisha sampai di kota suci dan ia ingin bercerita kepada Elisha bahwa ia selalu melihat sosok Elisha di antara para jemaat yang berbaris paling depan.

Motif penggandaan yang diamalkan Tolstoy dalam karangannya itu membuat “Dua Laki-Laki Tua” hadir sebagai cerpen, suatu genre yang setaraf dengan novel, novela, atau puisi, dan tak sekadar mengacu kepada pengertian harafiahnya, yakni cerita yang pendek. Di antara semua bagian dalam “Dua Laki-Laki Tua”, adegan itulah yang paling personal, sebab ia hanya dialami oleh Efim. Realitas peristiwanya tak bisa dipercaya oleh siapa pun, tapi ia tak bisa ditampik sebagai realitas. Apalagi narator cerita, dengan meminjam mata Efim, telah turut melibatkan pembaca, sehingga pembaca seolah-olah melihat pula kepala botak Elisha berkilau-kilau terkena sinar matahari. 

Motif penggandaan Tolstoy menghantui saya terus menerus. Setiap saya menulis cerpen, motif itu selalu datang. Hasrat untuk menggandakan tak tertahankan, seakan ada pemaknaan lain yang bekerja di inti sebuah cerpen, bahwa realitas fiksional akan selalu merupakan pantulan dari realitas faktual. Namun, pantulan tersebut selalu menghindar dari bentuk “sebenarnya”, yang telah diyakini secara umum. Akan tetapi, dengan begitu, yang terjadi bisa sebaliknya, bahwa pantulan tersebut sesungguhnya tidak menghindar dari bentuk “sebenarnya”, tapi justru menampakkan bentuk yang “sebenarnya”. Apa yang “sebenarnya” jadi tak pernah tunggal, ia berganda, dan berganda-ganda. Seseorang adalah kumpulan orang-orang; suatu peristiwa adalah kumpulan peristiwa-peristiwa. Realitas fiksional berada dalam tegangan antara tak berartinya pengalaman seseorang di hadapan pengalaman banyak orang dan tak berartinya pengalaman banyak orang di hadapan pengalaman seseorang.  

Motif penggandaan Tolstoy mengalami internalisasi ke dalam kenyataan faktual yang saya alami sehari-hari. Pernah saat saya nongkrong sambil minum-minum bersama kawan-kawan di emperan toko yang sudah tutup, saya melihat di seberang jalan seorang bocah menatap saya dengan mata bertanya-tanya. Peristiwa itu tak lain adalah penggandaan dari peristiwa yang saya alami di masa kecil, di mana dari seberang jalan saya menatap para abang-abangan yang nongkrong sambil minum-minum di emperan toko yang sudah tutup. Begitu pula saat saya duduk di pinggir jalan dan menatap bus yang melintas pelan, dari jendela bus seseorang menatap ke luar. Pandangan kami bersirobok. Itu penggandaan dari peristiwa saat saya naik bus dan menatap keluar melalui jendela dan pandangan saya bersirobok dengan pandangan seseorang yang sedang duduk di penggir jalan.   

Alhasil, saya sering membayangkan suatu peristiwa dengan cara sebaliknya; meletakkan satu tokoh sebagai tokoh lainnya; membuat si aku sebagai aku lainnya. Dunia ini (ternyata) penuh aku, meski aku cuma satu jumlahnya.

Pada titik tertentu saya merasa itulah artikulasi dari “pengalaman kolektif”. Jika si aku mengalami suatu peristiwa, dan orang lain juga mengalami peristiwa yang sama, maka orang lain itu tak lain adalah aku, dan aku tak lain adalah orang itu. Namun, “pengalaman kolektif” bukanlah suatu pengalaman, “pengalaman kolektif” adalah aneka pengalaman, yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa dan dialami bersama-sama—dan yang mengalami peristiwa secara bersama-sama itu bisa jadi bukan orang-orang, melainkan seseorang.

Melalui jawabannya, bapak saya telah melihat kepala botak kakek saya berkilau-kilau terkena sinar matahari. Namun, kakek saya sendiri tidak tahu, sebagaimana saya tidak tahu siapa kakek saya sebenarnya. Di sini telah berlangsung penggandaan: saya-yang-tidak-tahu  bukanlah saya-yang-kakeknya-adalah-serdadu Jepang. Mereka adalah dua saya yang berbeda, yang juga bukan saya yang berkata bahwa kedua saya itu berbeda. Dalam situasi seperti itu yang fiksional dan yang faktual sama-sama merupakan variasi penggandaan.

Kadang-kadang saya mencoba memahami kenapa saya berpikir seperti itu. Adakah saya sedang menyembuhkan diri dari kengerian pada yang tunggal, yang pasti, yang mutlak? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Namun, yang jelas, dengan (gangguan) pikiran semacam itu saya mengerjakan cerpen-cerpen saya, sekaligus memberi makna kepada istilah cerpen itu sendiri sebagai sebuah genre.[T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Kiki Sulistyo
Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Tags: buda kecapiCerpenLeo TolstoysastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Film “Sore” Melalui Kacamata Tradisi Komunikasi Sosio-Psikologis

Next Post

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara
Pameran

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

by tatkala
September 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co