30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
July 23, 2025
in Esai
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo

SAYA tidak pernah bertemu dengan Kakek dari pihak Bapak. Setiap kali saya bertanya, setiap kali pula Bapak berkata: “ Kakekmu orang Jepang.”

Tentu saja saya tidak percaya. Namun, saat mulai mendapat pelajaran sejarah, saya jadi tahu bahwa Jepang memang pernah menguasai wilayah-wilayah di Nusantara. Pengetahuan itu membuat saya bertemu dengan istilah lain: Jugun Ianfu. Tidak ada bukti nyata bahwa saya terhubung dengan istilah itu, tapi sejumlah data lain membuat saya mulai membayangkan suatu kisah: Nenek saya mungkin adalah salah seorang perempuan yang menjadi mangsa serdadu Jepang, dan dari sana lahir bapak saya. Atau barangkali kisahnya tak seseram itu, barangkali ada romansa antara nenek saya dengan seorang serdadu Nippon, dan dari sana lahir bapak saya. Saya kemudian tahu bahwa Jepang kalah dalam Perang Dunia II, setelah dua bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Serdadu-serdadu Jepang pulang kampung, termasuk kakek saya. 

Sewaktu SMP, di perpustakaan sekolah, saya membaca sebuah buku: Tuan dan Hamba, kumpulan cerpen karangan Leo Tolstoy. Dalam buku itu ada sebuah cerpen, yakni “Dua Laki-Laki Tua”, yang gemanya tak hilang-hilang dari benak saya. Kisahnya demikian mengesankan, tentang iman dan perbuatan baik. Namun, lebih daripada itu, yang bergema terus dalam benak saya sesungguhnya adalah secarik adegan.

“Dua Laki-Laki Tua” berkisah tentang Efim dan Elisha, dua sahabat yang melakukan perjalanan jauh untuk berziarah ke kota suci Yerusalem. Mereka beristirahat di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyakit serta dibekap kemiskinan. Elisha kasihan kepada penduduk desa itu, sehingga ia bertahan di sana sementara rekannya melanjutkan perjalanan. Elisha berjanji kepada Efim bahwa ia akan menyusul rekannya itu. Setelah Efim melanjutkan perjalanan, Elisha membantu penduduk desa supaya bisa bangkit dari kesusahan. Ia bahkan menghabiskan uang bekalnya. Akibatnya, ia tak mungkin bisa menyusul Efim untuk melanjutkan perjalanan ke kota suci. Ketika Efim selesai berziarah, ia pulang dan kembali melewati desa tadi; desa yang penduduknya saat itu sudah hidup dengan lebih baik. Efim tidak ingat akan desa itu, penduduk desa juga tidak mengingat Efim. Namun, para penduduk menyambut Efim dengan jamuan berlimpah. Ketika Efim bertanya kenapa ia disambut sedemikian rupa, warga menjelaskan bahwa dulu ada seorang peziarah yang membantu mereka sehingga bisa lepas dari kesusahan. Efim tidak terpikir bahwa peziarah yang dimaksud warga itu adalah Elisha.   

Elisha memang tak sampai ke kota suci, tapi sosoknya tertampakkan di sana, di barisan jemaat paling depan. Di sinilah adegan yang saya maksud terjadi. Efim selalu melihat kepala Elisha, yang botak dan berkilau-kilau terkena sinar matahari, di antara para jemaat di barisan depan. Namun, setiap kali ia berusaha menghampirinya, sosok Elisha menghilang begitu saja. Elisha sendiri tak mengetahui soal itu. Di akhir cerita, ketika keduanya bertemu kembali di kampung halaman, Elisha selalu menghindar dari percakapan tentang ziarah itu, sebab ia takut Efim tahu bahwa ia tak jadi ke kota suci. Sementara Efim menyangka Elisha sampai di kota suci dan ia ingin bercerita kepada Elisha bahwa ia selalu melihat sosok Elisha di antara para jemaat yang berbaris paling depan.

Motif penggandaan yang diamalkan Tolstoy dalam karangannya itu membuat “Dua Laki-Laki Tua” hadir sebagai cerpen, suatu genre yang setaraf dengan novel, novela, atau puisi, dan tak sekadar mengacu kepada pengertian harafiahnya, yakni cerita yang pendek. Di antara semua bagian dalam “Dua Laki-Laki Tua”, adegan itulah yang paling personal, sebab ia hanya dialami oleh Efim. Realitas peristiwanya tak bisa dipercaya oleh siapa pun, tapi ia tak bisa ditampik sebagai realitas. Apalagi narator cerita, dengan meminjam mata Efim, telah turut melibatkan pembaca, sehingga pembaca seolah-olah melihat pula kepala botak Elisha berkilau-kilau terkena sinar matahari. 

Motif penggandaan Tolstoy menghantui saya terus menerus. Setiap saya menulis cerpen, motif itu selalu datang. Hasrat untuk menggandakan tak tertahankan, seakan ada pemaknaan lain yang bekerja di inti sebuah cerpen, bahwa realitas fiksional akan selalu merupakan pantulan dari realitas faktual. Namun, pantulan tersebut selalu menghindar dari bentuk “sebenarnya”, yang telah diyakini secara umum. Akan tetapi, dengan begitu, yang terjadi bisa sebaliknya, bahwa pantulan tersebut sesungguhnya tidak menghindar dari bentuk “sebenarnya”, tapi justru menampakkan bentuk yang “sebenarnya”. Apa yang “sebenarnya” jadi tak pernah tunggal, ia berganda, dan berganda-ganda. Seseorang adalah kumpulan orang-orang; suatu peristiwa adalah kumpulan peristiwa-peristiwa. Realitas fiksional berada dalam tegangan antara tak berartinya pengalaman seseorang di hadapan pengalaman banyak orang dan tak berartinya pengalaman banyak orang di hadapan pengalaman seseorang.  

Motif penggandaan Tolstoy mengalami internalisasi ke dalam kenyataan faktual yang saya alami sehari-hari. Pernah saat saya nongkrong sambil minum-minum bersama kawan-kawan di emperan toko yang sudah tutup, saya melihat di seberang jalan seorang bocah menatap saya dengan mata bertanya-tanya. Peristiwa itu tak lain adalah penggandaan dari peristiwa yang saya alami di masa kecil, di mana dari seberang jalan saya menatap para abang-abangan yang nongkrong sambil minum-minum di emperan toko yang sudah tutup. Begitu pula saat saya duduk di pinggir jalan dan menatap bus yang melintas pelan, dari jendela bus seseorang menatap ke luar. Pandangan kami bersirobok. Itu penggandaan dari peristiwa saat saya naik bus dan menatap keluar melalui jendela dan pandangan saya bersirobok dengan pandangan seseorang yang sedang duduk di penggir jalan.   

Alhasil, saya sering membayangkan suatu peristiwa dengan cara sebaliknya; meletakkan satu tokoh sebagai tokoh lainnya; membuat si aku sebagai aku lainnya. Dunia ini (ternyata) penuh aku, meski aku cuma satu jumlahnya.

Pada titik tertentu saya merasa itulah artikulasi dari “pengalaman kolektif”. Jika si aku mengalami suatu peristiwa, dan orang lain juga mengalami peristiwa yang sama, maka orang lain itu tak lain adalah aku, dan aku tak lain adalah orang itu. Namun, “pengalaman kolektif” bukanlah suatu pengalaman, “pengalaman kolektif” adalah aneka pengalaman, yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa dan dialami bersama-sama—dan yang mengalami peristiwa secara bersama-sama itu bisa jadi bukan orang-orang, melainkan seseorang.

Melalui jawabannya, bapak saya telah melihat kepala botak kakek saya berkilau-kilau terkena sinar matahari. Namun, kakek saya sendiri tidak tahu, sebagaimana saya tidak tahu siapa kakek saya sebenarnya. Di sini telah berlangsung penggandaan: saya-yang-tidak-tahu  bukanlah saya-yang-kakeknya-adalah-serdadu Jepang. Mereka adalah dua saya yang berbeda, yang juga bukan saya yang berkata bahwa kedua saya itu berbeda. Dalam situasi seperti itu yang fiksional dan yang faktual sama-sama merupakan variasi penggandaan.

Kadang-kadang saya mencoba memahami kenapa saya berpikir seperti itu. Adakah saya sedang menyembuhkan diri dari kengerian pada yang tunggal, yang pasti, yang mutlak? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Namun, yang jelas, dengan (gangguan) pikiran semacam itu saya mengerjakan cerpen-cerpen saya, sekaligus memberi makna kepada istilah cerpen itu sendiri sebagai sebuah genre.[T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Kiki Sulistyo
Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Tags: buda kecapiCerpenLeo TolstoysastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Film “Sore” Melalui Kacamata Tradisi Komunikasi Sosio-Psikologis

Next Post

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co