9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
July 23, 2025
in Esai
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan

Kiki Sulistyo

SAYA tidak pernah bertemu dengan Kakek dari pihak Bapak. Setiap kali saya bertanya, setiap kali pula Bapak berkata: “ Kakekmu orang Jepang.”

Tentu saja saya tidak percaya. Namun, saat mulai mendapat pelajaran sejarah, saya jadi tahu bahwa Jepang memang pernah menguasai wilayah-wilayah di Nusantara. Pengetahuan itu membuat saya bertemu dengan istilah lain: Jugun Ianfu. Tidak ada bukti nyata bahwa saya terhubung dengan istilah itu, tapi sejumlah data lain membuat saya mulai membayangkan suatu kisah: Nenek saya mungkin adalah salah seorang perempuan yang menjadi mangsa serdadu Jepang, dan dari sana lahir bapak saya. Atau barangkali kisahnya tak seseram itu, barangkali ada romansa antara nenek saya dengan seorang serdadu Nippon, dan dari sana lahir bapak saya. Saya kemudian tahu bahwa Jepang kalah dalam Perang Dunia II, setelah dua bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Serdadu-serdadu Jepang pulang kampung, termasuk kakek saya. 

Sewaktu SMP, di perpustakaan sekolah, saya membaca sebuah buku: Tuan dan Hamba, kumpulan cerpen karangan Leo Tolstoy. Dalam buku itu ada sebuah cerpen, yakni “Dua Laki-Laki Tua”, yang gemanya tak hilang-hilang dari benak saya. Kisahnya demikian mengesankan, tentang iman dan perbuatan baik. Namun, lebih daripada itu, yang bergema terus dalam benak saya sesungguhnya adalah secarik adegan.

“Dua Laki-Laki Tua” berkisah tentang Efim dan Elisha, dua sahabat yang melakukan perjalanan jauh untuk berziarah ke kota suci Yerusalem. Mereka beristirahat di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyakit serta dibekap kemiskinan. Elisha kasihan kepada penduduk desa itu, sehingga ia bertahan di sana sementara rekannya melanjutkan perjalanan. Elisha berjanji kepada Efim bahwa ia akan menyusul rekannya itu. Setelah Efim melanjutkan perjalanan, Elisha membantu penduduk desa supaya bisa bangkit dari kesusahan. Ia bahkan menghabiskan uang bekalnya. Akibatnya, ia tak mungkin bisa menyusul Efim untuk melanjutkan perjalanan ke kota suci. Ketika Efim selesai berziarah, ia pulang dan kembali melewati desa tadi; desa yang penduduknya saat itu sudah hidup dengan lebih baik. Efim tidak ingat akan desa itu, penduduk desa juga tidak mengingat Efim. Namun, para penduduk menyambut Efim dengan jamuan berlimpah. Ketika Efim bertanya kenapa ia disambut sedemikian rupa, warga menjelaskan bahwa dulu ada seorang peziarah yang membantu mereka sehingga bisa lepas dari kesusahan. Efim tidak terpikir bahwa peziarah yang dimaksud warga itu adalah Elisha.   

Elisha memang tak sampai ke kota suci, tapi sosoknya tertampakkan di sana, di barisan jemaat paling depan. Di sinilah adegan yang saya maksud terjadi. Efim selalu melihat kepala Elisha, yang botak dan berkilau-kilau terkena sinar matahari, di antara para jemaat di barisan depan. Namun, setiap kali ia berusaha menghampirinya, sosok Elisha menghilang begitu saja. Elisha sendiri tak mengetahui soal itu. Di akhir cerita, ketika keduanya bertemu kembali di kampung halaman, Elisha selalu menghindar dari percakapan tentang ziarah itu, sebab ia takut Efim tahu bahwa ia tak jadi ke kota suci. Sementara Efim menyangka Elisha sampai di kota suci dan ia ingin bercerita kepada Elisha bahwa ia selalu melihat sosok Elisha di antara para jemaat yang berbaris paling depan.

Motif penggandaan yang diamalkan Tolstoy dalam karangannya itu membuat “Dua Laki-Laki Tua” hadir sebagai cerpen, suatu genre yang setaraf dengan novel, novela, atau puisi, dan tak sekadar mengacu kepada pengertian harafiahnya, yakni cerita yang pendek. Di antara semua bagian dalam “Dua Laki-Laki Tua”, adegan itulah yang paling personal, sebab ia hanya dialami oleh Efim. Realitas peristiwanya tak bisa dipercaya oleh siapa pun, tapi ia tak bisa ditampik sebagai realitas. Apalagi narator cerita, dengan meminjam mata Efim, telah turut melibatkan pembaca, sehingga pembaca seolah-olah melihat pula kepala botak Elisha berkilau-kilau terkena sinar matahari. 

Motif penggandaan Tolstoy menghantui saya terus menerus. Setiap saya menulis cerpen, motif itu selalu datang. Hasrat untuk menggandakan tak tertahankan, seakan ada pemaknaan lain yang bekerja di inti sebuah cerpen, bahwa realitas fiksional akan selalu merupakan pantulan dari realitas faktual. Namun, pantulan tersebut selalu menghindar dari bentuk “sebenarnya”, yang telah diyakini secara umum. Akan tetapi, dengan begitu, yang terjadi bisa sebaliknya, bahwa pantulan tersebut sesungguhnya tidak menghindar dari bentuk “sebenarnya”, tapi justru menampakkan bentuk yang “sebenarnya”. Apa yang “sebenarnya” jadi tak pernah tunggal, ia berganda, dan berganda-ganda. Seseorang adalah kumpulan orang-orang; suatu peristiwa adalah kumpulan peristiwa-peristiwa. Realitas fiksional berada dalam tegangan antara tak berartinya pengalaman seseorang di hadapan pengalaman banyak orang dan tak berartinya pengalaman banyak orang di hadapan pengalaman seseorang.  

Motif penggandaan Tolstoy mengalami internalisasi ke dalam kenyataan faktual yang saya alami sehari-hari. Pernah saat saya nongkrong sambil minum-minum bersama kawan-kawan di emperan toko yang sudah tutup, saya melihat di seberang jalan seorang bocah menatap saya dengan mata bertanya-tanya. Peristiwa itu tak lain adalah penggandaan dari peristiwa yang saya alami di masa kecil, di mana dari seberang jalan saya menatap para abang-abangan yang nongkrong sambil minum-minum di emperan toko yang sudah tutup. Begitu pula saat saya duduk di pinggir jalan dan menatap bus yang melintas pelan, dari jendela bus seseorang menatap ke luar. Pandangan kami bersirobok. Itu penggandaan dari peristiwa saat saya naik bus dan menatap keluar melalui jendela dan pandangan saya bersirobok dengan pandangan seseorang yang sedang duduk di penggir jalan.   

Alhasil, saya sering membayangkan suatu peristiwa dengan cara sebaliknya; meletakkan satu tokoh sebagai tokoh lainnya; membuat si aku sebagai aku lainnya. Dunia ini (ternyata) penuh aku, meski aku cuma satu jumlahnya.

Pada titik tertentu saya merasa itulah artikulasi dari “pengalaman kolektif”. Jika si aku mengalami suatu peristiwa, dan orang lain juga mengalami peristiwa yang sama, maka orang lain itu tak lain adalah aku, dan aku tak lain adalah orang itu. Namun, “pengalaman kolektif” bukanlah suatu pengalaman, “pengalaman kolektif” adalah aneka pengalaman, yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa dan dialami bersama-sama—dan yang mengalami peristiwa secara bersama-sama itu bisa jadi bukan orang-orang, melainkan seseorang.

Melalui jawabannya, bapak saya telah melihat kepala botak kakek saya berkilau-kilau terkena sinar matahari. Namun, kakek saya sendiri tidak tahu, sebagaimana saya tidak tahu siapa kakek saya sebenarnya. Di sini telah berlangsung penggandaan: saya-yang-tidak-tahu  bukanlah saya-yang-kakeknya-adalah-serdadu Jepang. Mereka adalah dua saya yang berbeda, yang juga bukan saya yang berkata bahwa kedua saya itu berbeda. Dalam situasi seperti itu yang fiksional dan yang faktual sama-sama merupakan variasi penggandaan.

Kadang-kadang saya mencoba memahami kenapa saya berpikir seperti itu. Adakah saya sedang menyembuhkan diri dari kengerian pada yang tunggal, yang pasti, yang mutlak? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Namun, yang jelas, dengan (gangguan) pikiran semacam itu saya mengerjakan cerpen-cerpen saya, sekaligus memberi makna kepada istilah cerpen itu sendiri sebagai sebuah genre.[T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Kiki Sulistyo
Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Tags: buda kecapiCerpenLeo TolstoysastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menilik Film “Sore” Melalui Kacamata Tradisi Komunikasi Sosio-Psikologis

Next Post

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co