2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana by Putu Fajar Arcana
July 24, 2025
in Esai
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana

UNGKAPAN “penyair yang berumah di angin” dari WS Rendra menciptakan jarak antara puisi dengan kenyataan jadi semakin jauh. Meskipun kalimat itu diucapkannya dalam konteks tugas-tugas para cendekia untuk menjamin obyektivitas, tetapi tanpa disadarinya telah mendorong penyair berada di menara gading. Begitu pula dengan karya-karyanya, lantaran ditulis dari atas angin, maka makin jauhlah ia dari kenyataan.

Frasa “berumah di angin” itu sendiri mengandung beberapa implikasi yang serius. Pertama, dengan berumah di angin para penyair merasa menjadi “setengah dewa”. Bisa jadi ada sebagian besar penyair merasa mendapat “wahyu” dari Pencipta, dan karena itu ia merasa mewakili “kemahaciptaan” di dunia. Oleh sebab itu, ia merasa karya-karya yang dihasilkannya adalah karya-karya “wahyu” yang mengandung kebenaran hakiki. Kedua, para penyair “memistifikasi” kehadirannya di tengah-tengah realitas. Dan karya-karyanya dianggap sebagai sebentuk mantra, yang harus dipahami dengan kening berkerut-kerut. Bukan tidak mungkin kita berhadapan dengan puisi-puisi gelap, yang maknanya sangat sulit diungkap. Otoritas “pemaknaan” yang hanya dipegang oleh penciptanya (penulis), menciptakan puisi yang kian menjauh dengan para pembacanya.

Lantaran pandangan itulah opini awam kemudian mengecap kehidupan berpuisi itu sebagai sesuatu yang eksklusif, hanya untuk para “anggotanya”. Apalagi ada ungkapan yang lebih keras seperti “yang bukan penyair dilarang masuk” atau “hanya penyair yang diterima”. Jika Anda orang awam atau biasa-biasa saja, maka Anda tidak berhak menulis puisi. Apalagi mengklaim diri sebagai penyair. Kalau toh Anda memaksa diri untuk menulis, karya-karyamu dianggap “sampah” yang mencemari dunia perpuisian.

Ketika orang-orang yang dicap “bukan penyair” turut menulis puisi, banyak sinisme yang diarahkan kepadanya. Begitulah cibiran yang didapat pelukis Made Wianta saat menerbitkan kumpulan puisi berjudul Korek Api Membakar Almari Es (1996), bahkan disusul dengan kumpulan puisi kedua “Dua Setengah Menit” (2000). Banyak penyair beranggapan Wianta sedang bergenit-genit, tidak puas menjadi perupa terkemuka, dunia puisi ia jajal dengan kemampuan seadanya. Meskipun buku itu diantar oleh penyair Afrizal Malna, tetap tidak menghentikan cibiran terhadap Made Wianta. Ia dianggap penumpang gelap, yang memanfaatkan popularitasnya di dunia seni rupa untuk dianggap ada di dunia kepenyairan.

Bohemian

Satu sisi para penyair merasa mengemban mission sacree atau misi suci dari Sang Pencipta, sisi lainnya keeksklusifan itu membuat para penyair asosial. Ia tidak lagi perduli pada kehidupan sosial, hidupnya hanyalah “penghambaan” terhadap kata. Di jalan-jalan mengigau sambil merekam suaranya sendiri. Dan karena itu menganggap dirinya tidak perlu “gaul” pada kehidupan sosial. Kondisi itulah yang terjadi pada abad ke-19 di daerah Montmartre, Perancis, ketika seniman-seniman seperti Charles Baudelaire dan Vincent van Gogh berkumpul.

Kehidupan “asosial” dan melawan arus pemikiran dan gaya hidup para borjoius waktu itu disebut dengan bohemia. Kata ini sesungguhnya berasal dari stigma terhadap orang-orang Rom atau gypsy, yang hidupnya melata di pinggiran Perancis. Para seniman ini secara sengaja menceburkan diri ke dalam kemiskinan atas nama melatih kemampuan artistik yang eksklusif dan di luar batas-batas konvensi.

Celakanya, kehidupan bohemian ini sangat dekat dengan prilaku mabuk-mabukan, berlarut-larut di komplek pelacuran, dan berumah di segala lokasi. Di Montmartre mereka hidup di rumah-rumah yang bersewa murah dan menghayati hidup melarat sampai berlarat-larat. Konon, itulah caranya menempa diri untuk melahirkan karya-karya besar, yang berada di luar arus kehidupan seni.

Kehidupan bohemian semacam ini di Indonesia terjadi ketika para penyair seperti Chairil Anwar dan atau pelukis Affandi hidup menggelandang. Dalam surat-surat Chairil kepada HB Jassin terlihat, betapa penyair ini mengabaikan tubuhnya sendiri untuk menghamba pada puisi. Bukankah itu pula yang terjadi pada penyair Umbu Landu Paranggi dan turunannya seperti penyair Warih Wisatana?

Bagi mereka puisi adalah semesta yang akan mengantarkannya meraih makna hidup. Puisi tidak sekadar medium ekspresi estetik, tetapi way of life, jalan hidup yang dibela sampai mati. Bukankah begitu ungkapan terkenal dari Chairil,”Sekali berarti sudah itu mati!”.

Sekali lagi, dalam sudut pandang berbeda, cara hidup bohemian ini justru membuat kehidupan para seniman menjadi eksklusif. Dan karya seni hanyalah untuk orang-orang di lingkungan mereka sendiri. Maka sesungguhnya, eksklusivitas itu telah membatasi aksesibilitas pembaca. Bahkan para penyair memegang otoritas pemaknaan terhadap karyanya, yang tidak bisa diganggu-gugat.

Sajak Cinta

Dalam lanskap kesenian semacam ini saya meluncurkan proyek pribadi yang dikerjakan selama dua tahun (2022-2024) dengan menulis puisi-puisi yang terjangkau. Puisi-puisi yang kemudian terkumpul dalam buku Sajak Cinta untuk Kekasih Senja (Penerbit Buku Kompas, 2024) itu, adalah puisi-puisi yang saya tulis dalam setiap kesempatan. Ia tersebar dari kertas tisu, nota belanja, telepon seluler, dan laptop. Setting peristiwa dan medium semacam itu, saya butuhkan untuk “melawan” kultur bohemian yang “mensakralkan” seni, terutama puisi.

Proyek ini ingin mengatakan bahwa puisi sama dengan benda sehari-hari yang juga diciptakan dengan mengandalkan imajinasi pencipta. Sebuah kursi yang kita pakai sehari-hari adalah buah konkret dari kekayaan imajinasi bernama idea, sebagaimana dalam terminologi penciptaan dari Aristoteles. Begitu jugalah sebuah puisi, ia tidak beranjak jauh dari sebuah kursi. Sama-sama lahir dari idea dan penjinakan terhadap imajinasi membuatnya menjadi benda yang berguna. Setujukah Anda, jika sebuah puisi diciptakan untuk sebuah kegunaan? Silakan diuraikan jawaban masing-masing.

Maka puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, merupakan puisi-puisi dengan kata, frasa, kalimat, baris, dan bait, yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada kata-kata yang rumit dan sulit ditelusuri maknanya. Sebab kekuatan puisi bukan pada kata, tetapi pada keindahan yang lahir dari nuansa yang diembannya. Puisi tidak pernah hanya tercipta lewat kata, tetapi lewat keutuhan antara pengertian dan nuansa.

Barangkali Anda berpikir bahwa puisi-puisi terjangkau semacam ini akan dengan mudah dilupakan. Tetapi cobalah lebih jujur melihat puisi penyair Joko Pinurbo ini:”Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”. Sampai sekarang puisi ini seolah mampu mewadahi ekspresi para pelancong yang menjadikannya latar berswafoto di kota Yogyakarta. Joko Pinurbo tidak hanya berhasil menderetkan kata, tetapi mendokumentasikannya di hati banyak orang.

Puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, diciptakan dengan keinginan yang kurang lebih serupa. Pertama, mudah ditangkap maknanya tanpa kehilangan sisi-sisi keindahannya. Kedua, kutip-able, bisa dikutip-kutip untuk berbagai kebutuhan para penyimaknya, termasuk mengirimkan surat cinta kepada calon pacar. Ketiga, ia layak dan istimewa jika dijadikan kado kepada mereka yang diharapkan berkenalan dengan dunia puisi.

Karakter puisi dan buku semacam ini, diharapkan membawa puisi kepada lebih banyak audiens. Puisi tidak lagi hanya milik para penyair, tetapi termasuk mereka yang awam dan baru pertama kali berkenalan dengan puisi.

Saya berharap penyair tidak lagi merasa membawa misi suci, tetapi membawa misi keindahan dan pesan-pesan hidup yang inklusif. Puisi tak lagi dianggap benda sakral, apalagi mistis, tetapi tak berbeda dengan kursi yang duduki sehari-hari di mana kita semua merasa aman dan nyaman. [T]

Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Fajar Arcana, jurnalis Kompas 1994-2022, sastrawan, sutradara teater, perupa, direktur Arcana Foundation, dan pengajar creative writing London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.

Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: sastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

(Bukan) Demokrasi Kita

Next Post

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Putu Fajar Arcana

Putu Fajar Arcana

Wartawan dan Sastrawan

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co