23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana by Putu Fajar Arcana
July 24, 2025
in Esai
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana

UNGKAPAN “penyair yang berumah di angin” dari WS Rendra menciptakan jarak antara puisi dengan kenyataan jadi semakin jauh. Meskipun kalimat itu diucapkannya dalam konteks tugas-tugas para cendekia untuk menjamin obyektivitas, tetapi tanpa disadarinya telah mendorong penyair berada di menara gading. Begitu pula dengan karya-karyanya, lantaran ditulis dari atas angin, maka makin jauhlah ia dari kenyataan.

Frasa “berumah di angin” itu sendiri mengandung beberapa implikasi yang serius. Pertama, dengan berumah di angin para penyair merasa menjadi “setengah dewa”. Bisa jadi ada sebagian besar penyair merasa mendapat “wahyu” dari Pencipta, dan karena itu ia merasa mewakili “kemahaciptaan” di dunia. Oleh sebab itu, ia merasa karya-karya yang dihasilkannya adalah karya-karya “wahyu” yang mengandung kebenaran hakiki. Kedua, para penyair “memistifikasi” kehadirannya di tengah-tengah realitas. Dan karya-karyanya dianggap sebagai sebentuk mantra, yang harus dipahami dengan kening berkerut-kerut. Bukan tidak mungkin kita berhadapan dengan puisi-puisi gelap, yang maknanya sangat sulit diungkap. Otoritas “pemaknaan” yang hanya dipegang oleh penciptanya (penulis), menciptakan puisi yang kian menjauh dengan para pembacanya.

Lantaran pandangan itulah opini awam kemudian mengecap kehidupan berpuisi itu sebagai sesuatu yang eksklusif, hanya untuk para “anggotanya”. Apalagi ada ungkapan yang lebih keras seperti “yang bukan penyair dilarang masuk” atau “hanya penyair yang diterima”. Jika Anda orang awam atau biasa-biasa saja, maka Anda tidak berhak menulis puisi. Apalagi mengklaim diri sebagai penyair. Kalau toh Anda memaksa diri untuk menulis, karya-karyamu dianggap “sampah” yang mencemari dunia perpuisian.

Ketika orang-orang yang dicap “bukan penyair” turut menulis puisi, banyak sinisme yang diarahkan kepadanya. Begitulah cibiran yang didapat pelukis Made Wianta saat menerbitkan kumpulan puisi berjudul Korek Api Membakar Almari Es (1996), bahkan disusul dengan kumpulan puisi kedua “Dua Setengah Menit” (2000). Banyak penyair beranggapan Wianta sedang bergenit-genit, tidak puas menjadi perupa terkemuka, dunia puisi ia jajal dengan kemampuan seadanya. Meskipun buku itu diantar oleh penyair Afrizal Malna, tetap tidak menghentikan cibiran terhadap Made Wianta. Ia dianggap penumpang gelap, yang memanfaatkan popularitasnya di dunia seni rupa untuk dianggap ada di dunia kepenyairan.

Bohemian

Satu sisi para penyair merasa mengemban mission sacree atau misi suci dari Sang Pencipta, sisi lainnya keeksklusifan itu membuat para penyair asosial. Ia tidak lagi perduli pada kehidupan sosial, hidupnya hanyalah “penghambaan” terhadap kata. Di jalan-jalan mengigau sambil merekam suaranya sendiri. Dan karena itu menganggap dirinya tidak perlu “gaul” pada kehidupan sosial. Kondisi itulah yang terjadi pada abad ke-19 di daerah Montmartre, Perancis, ketika seniman-seniman seperti Charles Baudelaire dan Vincent van Gogh berkumpul.

Kehidupan “asosial” dan melawan arus pemikiran dan gaya hidup para borjoius waktu itu disebut dengan bohemia. Kata ini sesungguhnya berasal dari stigma terhadap orang-orang Rom atau gypsy, yang hidupnya melata di pinggiran Perancis. Para seniman ini secara sengaja menceburkan diri ke dalam kemiskinan atas nama melatih kemampuan artistik yang eksklusif dan di luar batas-batas konvensi.

Celakanya, kehidupan bohemian ini sangat dekat dengan prilaku mabuk-mabukan, berlarut-larut di komplek pelacuran, dan berumah di segala lokasi. Di Montmartre mereka hidup di rumah-rumah yang bersewa murah dan menghayati hidup melarat sampai berlarat-larat. Konon, itulah caranya menempa diri untuk melahirkan karya-karya besar, yang berada di luar arus kehidupan seni.

Kehidupan bohemian semacam ini di Indonesia terjadi ketika para penyair seperti Chairil Anwar dan atau pelukis Affandi hidup menggelandang. Dalam surat-surat Chairil kepada HB Jassin terlihat, betapa penyair ini mengabaikan tubuhnya sendiri untuk menghamba pada puisi. Bukankah itu pula yang terjadi pada penyair Umbu Landu Paranggi dan turunannya seperti penyair Warih Wisatana?

Bagi mereka puisi adalah semesta yang akan mengantarkannya meraih makna hidup. Puisi tidak sekadar medium ekspresi estetik, tetapi way of life, jalan hidup yang dibela sampai mati. Bukankah begitu ungkapan terkenal dari Chairil,”Sekali berarti sudah itu mati!”.

Sekali lagi, dalam sudut pandang berbeda, cara hidup bohemian ini justru membuat kehidupan para seniman menjadi eksklusif. Dan karya seni hanyalah untuk orang-orang di lingkungan mereka sendiri. Maka sesungguhnya, eksklusivitas itu telah membatasi aksesibilitas pembaca. Bahkan para penyair memegang otoritas pemaknaan terhadap karyanya, yang tidak bisa diganggu-gugat.

Sajak Cinta

Dalam lanskap kesenian semacam ini saya meluncurkan proyek pribadi yang dikerjakan selama dua tahun (2022-2024) dengan menulis puisi-puisi yang terjangkau. Puisi-puisi yang kemudian terkumpul dalam buku Sajak Cinta untuk Kekasih Senja (Penerbit Buku Kompas, 2024) itu, adalah puisi-puisi yang saya tulis dalam setiap kesempatan. Ia tersebar dari kertas tisu, nota belanja, telepon seluler, dan laptop. Setting peristiwa dan medium semacam itu, saya butuhkan untuk “melawan” kultur bohemian yang “mensakralkan” seni, terutama puisi.

Proyek ini ingin mengatakan bahwa puisi sama dengan benda sehari-hari yang juga diciptakan dengan mengandalkan imajinasi pencipta. Sebuah kursi yang kita pakai sehari-hari adalah buah konkret dari kekayaan imajinasi bernama idea, sebagaimana dalam terminologi penciptaan dari Aristoteles. Begitu jugalah sebuah puisi, ia tidak beranjak jauh dari sebuah kursi. Sama-sama lahir dari idea dan penjinakan terhadap imajinasi membuatnya menjadi benda yang berguna. Setujukah Anda, jika sebuah puisi diciptakan untuk sebuah kegunaan? Silakan diuraikan jawaban masing-masing.

Maka puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, merupakan puisi-puisi dengan kata, frasa, kalimat, baris, dan bait, yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada kata-kata yang rumit dan sulit ditelusuri maknanya. Sebab kekuatan puisi bukan pada kata, tetapi pada keindahan yang lahir dari nuansa yang diembannya. Puisi tidak pernah hanya tercipta lewat kata, tetapi lewat keutuhan antara pengertian dan nuansa.

Barangkali Anda berpikir bahwa puisi-puisi terjangkau semacam ini akan dengan mudah dilupakan. Tetapi cobalah lebih jujur melihat puisi penyair Joko Pinurbo ini:”Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”. Sampai sekarang puisi ini seolah mampu mewadahi ekspresi para pelancong yang menjadikannya latar berswafoto di kota Yogyakarta. Joko Pinurbo tidak hanya berhasil menderetkan kata, tetapi mendokumentasikannya di hati banyak orang.

Puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, diciptakan dengan keinginan yang kurang lebih serupa. Pertama, mudah ditangkap maknanya tanpa kehilangan sisi-sisi keindahannya. Kedua, kutip-able, bisa dikutip-kutip untuk berbagai kebutuhan para penyimaknya, termasuk mengirimkan surat cinta kepada calon pacar. Ketiga, ia layak dan istimewa jika dijadikan kado kepada mereka yang diharapkan berkenalan dengan dunia puisi.

Karakter puisi dan buku semacam ini, diharapkan membawa puisi kepada lebih banyak audiens. Puisi tidak lagi hanya milik para penyair, tetapi termasuk mereka yang awam dan baru pertama kali berkenalan dengan puisi.

Saya berharap penyair tidak lagi merasa membawa misi suci, tetapi membawa misi keindahan dan pesan-pesan hidup yang inklusif. Puisi tak lagi dianggap benda sakral, apalagi mistis, tetapi tak berbeda dengan kursi yang duduki sehari-hari di mana kita semua merasa aman dan nyaman. [T]

Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Fajar Arcana, jurnalis Kompas 1994-2022, sastrawan, sutradara teater, perupa, direktur Arcana Foundation, dan pengajar creative writing London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.

Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: sastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

(Bukan) Demokrasi Kita

Next Post

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Putu Fajar Arcana

Putu Fajar Arcana

Wartawan dan Sastrawan

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co