23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana by Putu Fajar Arcana
July 24, 2025
in Esai
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana

UNGKAPAN “penyair yang berumah di angin” dari WS Rendra menciptakan jarak antara puisi dengan kenyataan jadi semakin jauh. Meskipun kalimat itu diucapkannya dalam konteks tugas-tugas para cendekia untuk menjamin obyektivitas, tetapi tanpa disadarinya telah mendorong penyair berada di menara gading. Begitu pula dengan karya-karyanya, lantaran ditulis dari atas angin, maka makin jauhlah ia dari kenyataan.

Frasa “berumah di angin” itu sendiri mengandung beberapa implikasi yang serius. Pertama, dengan berumah di angin para penyair merasa menjadi “setengah dewa”. Bisa jadi ada sebagian besar penyair merasa mendapat “wahyu” dari Pencipta, dan karena itu ia merasa mewakili “kemahaciptaan” di dunia. Oleh sebab itu, ia merasa karya-karya yang dihasilkannya adalah karya-karya “wahyu” yang mengandung kebenaran hakiki. Kedua, para penyair “memistifikasi” kehadirannya di tengah-tengah realitas. Dan karya-karyanya dianggap sebagai sebentuk mantra, yang harus dipahami dengan kening berkerut-kerut. Bukan tidak mungkin kita berhadapan dengan puisi-puisi gelap, yang maknanya sangat sulit diungkap. Otoritas “pemaknaan” yang hanya dipegang oleh penciptanya (penulis), menciptakan puisi yang kian menjauh dengan para pembacanya.

Lantaran pandangan itulah opini awam kemudian mengecap kehidupan berpuisi itu sebagai sesuatu yang eksklusif, hanya untuk para “anggotanya”. Apalagi ada ungkapan yang lebih keras seperti “yang bukan penyair dilarang masuk” atau “hanya penyair yang diterima”. Jika Anda orang awam atau biasa-biasa saja, maka Anda tidak berhak menulis puisi. Apalagi mengklaim diri sebagai penyair. Kalau toh Anda memaksa diri untuk menulis, karya-karyamu dianggap “sampah” yang mencemari dunia perpuisian.

Ketika orang-orang yang dicap “bukan penyair” turut menulis puisi, banyak sinisme yang diarahkan kepadanya. Begitulah cibiran yang didapat pelukis Made Wianta saat menerbitkan kumpulan puisi berjudul Korek Api Membakar Almari Es (1996), bahkan disusul dengan kumpulan puisi kedua “Dua Setengah Menit” (2000). Banyak penyair beranggapan Wianta sedang bergenit-genit, tidak puas menjadi perupa terkemuka, dunia puisi ia jajal dengan kemampuan seadanya. Meskipun buku itu diantar oleh penyair Afrizal Malna, tetap tidak menghentikan cibiran terhadap Made Wianta. Ia dianggap penumpang gelap, yang memanfaatkan popularitasnya di dunia seni rupa untuk dianggap ada di dunia kepenyairan.

Bohemian

Satu sisi para penyair merasa mengemban mission sacree atau misi suci dari Sang Pencipta, sisi lainnya keeksklusifan itu membuat para penyair asosial. Ia tidak lagi perduli pada kehidupan sosial, hidupnya hanyalah “penghambaan” terhadap kata. Di jalan-jalan mengigau sambil merekam suaranya sendiri. Dan karena itu menganggap dirinya tidak perlu “gaul” pada kehidupan sosial. Kondisi itulah yang terjadi pada abad ke-19 di daerah Montmartre, Perancis, ketika seniman-seniman seperti Charles Baudelaire dan Vincent van Gogh berkumpul.

Kehidupan “asosial” dan melawan arus pemikiran dan gaya hidup para borjoius waktu itu disebut dengan bohemia. Kata ini sesungguhnya berasal dari stigma terhadap orang-orang Rom atau gypsy, yang hidupnya melata di pinggiran Perancis. Para seniman ini secara sengaja menceburkan diri ke dalam kemiskinan atas nama melatih kemampuan artistik yang eksklusif dan di luar batas-batas konvensi.

Celakanya, kehidupan bohemian ini sangat dekat dengan prilaku mabuk-mabukan, berlarut-larut di komplek pelacuran, dan berumah di segala lokasi. Di Montmartre mereka hidup di rumah-rumah yang bersewa murah dan menghayati hidup melarat sampai berlarat-larat. Konon, itulah caranya menempa diri untuk melahirkan karya-karya besar, yang berada di luar arus kehidupan seni.

Kehidupan bohemian semacam ini di Indonesia terjadi ketika para penyair seperti Chairil Anwar dan atau pelukis Affandi hidup menggelandang. Dalam surat-surat Chairil kepada HB Jassin terlihat, betapa penyair ini mengabaikan tubuhnya sendiri untuk menghamba pada puisi. Bukankah itu pula yang terjadi pada penyair Umbu Landu Paranggi dan turunannya seperti penyair Warih Wisatana?

Bagi mereka puisi adalah semesta yang akan mengantarkannya meraih makna hidup. Puisi tidak sekadar medium ekspresi estetik, tetapi way of life, jalan hidup yang dibela sampai mati. Bukankah begitu ungkapan terkenal dari Chairil,”Sekali berarti sudah itu mati!”.

Sekali lagi, dalam sudut pandang berbeda, cara hidup bohemian ini justru membuat kehidupan para seniman menjadi eksklusif. Dan karya seni hanyalah untuk orang-orang di lingkungan mereka sendiri. Maka sesungguhnya, eksklusivitas itu telah membatasi aksesibilitas pembaca. Bahkan para penyair memegang otoritas pemaknaan terhadap karyanya, yang tidak bisa diganggu-gugat.

Sajak Cinta

Dalam lanskap kesenian semacam ini saya meluncurkan proyek pribadi yang dikerjakan selama dua tahun (2022-2024) dengan menulis puisi-puisi yang terjangkau. Puisi-puisi yang kemudian terkumpul dalam buku Sajak Cinta untuk Kekasih Senja (Penerbit Buku Kompas, 2024) itu, adalah puisi-puisi yang saya tulis dalam setiap kesempatan. Ia tersebar dari kertas tisu, nota belanja, telepon seluler, dan laptop. Setting peristiwa dan medium semacam itu, saya butuhkan untuk “melawan” kultur bohemian yang “mensakralkan” seni, terutama puisi.

Proyek ini ingin mengatakan bahwa puisi sama dengan benda sehari-hari yang juga diciptakan dengan mengandalkan imajinasi pencipta. Sebuah kursi yang kita pakai sehari-hari adalah buah konkret dari kekayaan imajinasi bernama idea, sebagaimana dalam terminologi penciptaan dari Aristoteles. Begitu jugalah sebuah puisi, ia tidak beranjak jauh dari sebuah kursi. Sama-sama lahir dari idea dan penjinakan terhadap imajinasi membuatnya menjadi benda yang berguna. Setujukah Anda, jika sebuah puisi diciptakan untuk sebuah kegunaan? Silakan diuraikan jawaban masing-masing.

Maka puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, merupakan puisi-puisi dengan kata, frasa, kalimat, baris, dan bait, yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada kata-kata yang rumit dan sulit ditelusuri maknanya. Sebab kekuatan puisi bukan pada kata, tetapi pada keindahan yang lahir dari nuansa yang diembannya. Puisi tidak pernah hanya tercipta lewat kata, tetapi lewat keutuhan antara pengertian dan nuansa.

Barangkali Anda berpikir bahwa puisi-puisi terjangkau semacam ini akan dengan mudah dilupakan. Tetapi cobalah lebih jujur melihat puisi penyair Joko Pinurbo ini:”Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”. Sampai sekarang puisi ini seolah mampu mewadahi ekspresi para pelancong yang menjadikannya latar berswafoto di kota Yogyakarta. Joko Pinurbo tidak hanya berhasil menderetkan kata, tetapi mendokumentasikannya di hati banyak orang.

Puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, diciptakan dengan keinginan yang kurang lebih serupa. Pertama, mudah ditangkap maknanya tanpa kehilangan sisi-sisi keindahannya. Kedua, kutip-able, bisa dikutip-kutip untuk berbagai kebutuhan para penyimaknya, termasuk mengirimkan surat cinta kepada calon pacar. Ketiga, ia layak dan istimewa jika dijadikan kado kepada mereka yang diharapkan berkenalan dengan dunia puisi.

Karakter puisi dan buku semacam ini, diharapkan membawa puisi kepada lebih banyak audiens. Puisi tidak lagi hanya milik para penyair, tetapi termasuk mereka yang awam dan baru pertama kali berkenalan dengan puisi.

Saya berharap penyair tidak lagi merasa membawa misi suci, tetapi membawa misi keindahan dan pesan-pesan hidup yang inklusif. Puisi tak lagi dianggap benda sakral, apalagi mistis, tetapi tak berbeda dengan kursi yang duduki sehari-hari di mana kita semua merasa aman dan nyaman. [T]

Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Fajar Arcana, jurnalis Kompas 1994-2022, sastrawan, sutradara teater, perupa, direktur Arcana Foundation, dan pengajar creative writing London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.

Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: sastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

(Bukan) Demokrasi Kita

Next Post

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Putu Fajar Arcana

Putu Fajar Arcana

Wartawan dan Sastrawan

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co