2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana by Putu Fajar Arcana
July 24, 2025
in Esai
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Putu Fajar Arcana

UNGKAPAN “penyair yang berumah di angin” dari WS Rendra menciptakan jarak antara puisi dengan kenyataan jadi semakin jauh. Meskipun kalimat itu diucapkannya dalam konteks tugas-tugas para cendekia untuk menjamin obyektivitas, tetapi tanpa disadarinya telah mendorong penyair berada di menara gading. Begitu pula dengan karya-karyanya, lantaran ditulis dari atas angin, maka makin jauhlah ia dari kenyataan.

Frasa “berumah di angin” itu sendiri mengandung beberapa implikasi yang serius. Pertama, dengan berumah di angin para penyair merasa menjadi “setengah dewa”. Bisa jadi ada sebagian besar penyair merasa mendapat “wahyu” dari Pencipta, dan karena itu ia merasa mewakili “kemahaciptaan” di dunia. Oleh sebab itu, ia merasa karya-karya yang dihasilkannya adalah karya-karya “wahyu” yang mengandung kebenaran hakiki. Kedua, para penyair “memistifikasi” kehadirannya di tengah-tengah realitas. Dan karya-karyanya dianggap sebagai sebentuk mantra, yang harus dipahami dengan kening berkerut-kerut. Bukan tidak mungkin kita berhadapan dengan puisi-puisi gelap, yang maknanya sangat sulit diungkap. Otoritas “pemaknaan” yang hanya dipegang oleh penciptanya (penulis), menciptakan puisi yang kian menjauh dengan para pembacanya.

Lantaran pandangan itulah opini awam kemudian mengecap kehidupan berpuisi itu sebagai sesuatu yang eksklusif, hanya untuk para “anggotanya”. Apalagi ada ungkapan yang lebih keras seperti “yang bukan penyair dilarang masuk” atau “hanya penyair yang diterima”. Jika Anda orang awam atau biasa-biasa saja, maka Anda tidak berhak menulis puisi. Apalagi mengklaim diri sebagai penyair. Kalau toh Anda memaksa diri untuk menulis, karya-karyamu dianggap “sampah” yang mencemari dunia perpuisian.

Ketika orang-orang yang dicap “bukan penyair” turut menulis puisi, banyak sinisme yang diarahkan kepadanya. Begitulah cibiran yang didapat pelukis Made Wianta saat menerbitkan kumpulan puisi berjudul Korek Api Membakar Almari Es (1996), bahkan disusul dengan kumpulan puisi kedua “Dua Setengah Menit” (2000). Banyak penyair beranggapan Wianta sedang bergenit-genit, tidak puas menjadi perupa terkemuka, dunia puisi ia jajal dengan kemampuan seadanya. Meskipun buku itu diantar oleh penyair Afrizal Malna, tetap tidak menghentikan cibiran terhadap Made Wianta. Ia dianggap penumpang gelap, yang memanfaatkan popularitasnya di dunia seni rupa untuk dianggap ada di dunia kepenyairan.

Bohemian

Satu sisi para penyair merasa mengemban mission sacree atau misi suci dari Sang Pencipta, sisi lainnya keeksklusifan itu membuat para penyair asosial. Ia tidak lagi perduli pada kehidupan sosial, hidupnya hanyalah “penghambaan” terhadap kata. Di jalan-jalan mengigau sambil merekam suaranya sendiri. Dan karena itu menganggap dirinya tidak perlu “gaul” pada kehidupan sosial. Kondisi itulah yang terjadi pada abad ke-19 di daerah Montmartre, Perancis, ketika seniman-seniman seperti Charles Baudelaire dan Vincent van Gogh berkumpul.

Kehidupan “asosial” dan melawan arus pemikiran dan gaya hidup para borjoius waktu itu disebut dengan bohemia. Kata ini sesungguhnya berasal dari stigma terhadap orang-orang Rom atau gypsy, yang hidupnya melata di pinggiran Perancis. Para seniman ini secara sengaja menceburkan diri ke dalam kemiskinan atas nama melatih kemampuan artistik yang eksklusif dan di luar batas-batas konvensi.

Celakanya, kehidupan bohemian ini sangat dekat dengan prilaku mabuk-mabukan, berlarut-larut di komplek pelacuran, dan berumah di segala lokasi. Di Montmartre mereka hidup di rumah-rumah yang bersewa murah dan menghayati hidup melarat sampai berlarat-larat. Konon, itulah caranya menempa diri untuk melahirkan karya-karya besar, yang berada di luar arus kehidupan seni.

Kehidupan bohemian semacam ini di Indonesia terjadi ketika para penyair seperti Chairil Anwar dan atau pelukis Affandi hidup menggelandang. Dalam surat-surat Chairil kepada HB Jassin terlihat, betapa penyair ini mengabaikan tubuhnya sendiri untuk menghamba pada puisi. Bukankah itu pula yang terjadi pada penyair Umbu Landu Paranggi dan turunannya seperti penyair Warih Wisatana?

Bagi mereka puisi adalah semesta yang akan mengantarkannya meraih makna hidup. Puisi tidak sekadar medium ekspresi estetik, tetapi way of life, jalan hidup yang dibela sampai mati. Bukankah begitu ungkapan terkenal dari Chairil,”Sekali berarti sudah itu mati!”.

Sekali lagi, dalam sudut pandang berbeda, cara hidup bohemian ini justru membuat kehidupan para seniman menjadi eksklusif. Dan karya seni hanyalah untuk orang-orang di lingkungan mereka sendiri. Maka sesungguhnya, eksklusivitas itu telah membatasi aksesibilitas pembaca. Bahkan para penyair memegang otoritas pemaknaan terhadap karyanya, yang tidak bisa diganggu-gugat.

Sajak Cinta

Dalam lanskap kesenian semacam ini saya meluncurkan proyek pribadi yang dikerjakan selama dua tahun (2022-2024) dengan menulis puisi-puisi yang terjangkau. Puisi-puisi yang kemudian terkumpul dalam buku Sajak Cinta untuk Kekasih Senja (Penerbit Buku Kompas, 2024) itu, adalah puisi-puisi yang saya tulis dalam setiap kesempatan. Ia tersebar dari kertas tisu, nota belanja, telepon seluler, dan laptop. Setting peristiwa dan medium semacam itu, saya butuhkan untuk “melawan” kultur bohemian yang “mensakralkan” seni, terutama puisi.

Proyek ini ingin mengatakan bahwa puisi sama dengan benda sehari-hari yang juga diciptakan dengan mengandalkan imajinasi pencipta. Sebuah kursi yang kita pakai sehari-hari adalah buah konkret dari kekayaan imajinasi bernama idea, sebagaimana dalam terminologi penciptaan dari Aristoteles. Begitu jugalah sebuah puisi, ia tidak beranjak jauh dari sebuah kursi. Sama-sama lahir dari idea dan penjinakan terhadap imajinasi membuatnya menjadi benda yang berguna. Setujukah Anda, jika sebuah puisi diciptakan untuk sebuah kegunaan? Silakan diuraikan jawaban masing-masing.

Maka puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, merupakan puisi-puisi dengan kata, frasa, kalimat, baris, dan bait, yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada kata-kata yang rumit dan sulit ditelusuri maknanya. Sebab kekuatan puisi bukan pada kata, tetapi pada keindahan yang lahir dari nuansa yang diembannya. Puisi tidak pernah hanya tercipta lewat kata, tetapi lewat keutuhan antara pengertian dan nuansa.

Barangkali Anda berpikir bahwa puisi-puisi terjangkau semacam ini akan dengan mudah dilupakan. Tetapi cobalah lebih jujur melihat puisi penyair Joko Pinurbo ini:”Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”. Sampai sekarang puisi ini seolah mampu mewadahi ekspresi para pelancong yang menjadikannya latar berswafoto di kota Yogyakarta. Joko Pinurbo tidak hanya berhasil menderetkan kata, tetapi mendokumentasikannya di hati banyak orang.

Puisi-puisi dalam Sajak Cinta untuk Kekasih Senja, diciptakan dengan keinginan yang kurang lebih serupa. Pertama, mudah ditangkap maknanya tanpa kehilangan sisi-sisi keindahannya. Kedua, kutip-able, bisa dikutip-kutip untuk berbagai kebutuhan para penyimaknya, termasuk mengirimkan surat cinta kepada calon pacar. Ketiga, ia layak dan istimewa jika dijadikan kado kepada mereka yang diharapkan berkenalan dengan dunia puisi.

Karakter puisi dan buku semacam ini, diharapkan membawa puisi kepada lebih banyak audiens. Puisi tidak lagi hanya milik para penyair, tetapi termasuk mereka yang awam dan baru pertama kali berkenalan dengan puisi.

Saya berharap penyair tidak lagi merasa membawa misi suci, tetapi membawa misi keindahan dan pesan-pesan hidup yang inklusif. Puisi tak lagi dianggap benda sakral, apalagi mistis, tetapi tak berbeda dengan kursi yang duduki sehari-hari di mana kita semua merasa aman dan nyaman. [T]

Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Putu Fajar Arcana, jurnalis Kompas 1994-2022, sastrawan, sutradara teater, perupa, direktur Arcana Foundation, dan pengajar creative writing London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.

Editor: Adnyana Ole

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
(Gangguan) Pikiran dan Motif Penggandaan
Tags: sastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

(Bukan) Demokrasi Kita

Next Post

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Putu Fajar Arcana

Putu Fajar Arcana

Wartawan dan Sastrawan

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Klasik dan Modern dalam Kisah Epik Maha Senapati Drona di Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co