7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
July 24, 2025
in Esai
(Bukan) Demokrasi Kita

Afgan Fadilla

NORMALISASI Deviasi, yakni sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Diane Vaughan – seorang sosiolog Amerika Serikat – tentang bagaimana fenomena di mana perilaku, tindakan, atau kondisi yang awalnya dianggap tidak sesuai standar, berisiko, atau abnormal secara bertahap menjadi diterima sebagai sesuatu yang normal oleh kelompok atau organisasi, karena sudah sering terjadi tanpa menimbulkan konsekuensi langsung yang serius.

Penulis khawatir bahwa situasi yang digambarkan oleh konsep tersebut terepresentasi dalam situasi ekonomi dan politik nasional saat ini. Aksi-aksi penyalahgunaan kekuasaan secara terus menerus ditampilkan dan dikonsumsi secara massal oleh warga. Mereka gusar, marah dan dendam, tetapi semuanya diekspresikan terbatas dalam sosial media, obrolan warung kopi, doa ataupun sumpah serapah. Entah mereka sudah terlalu nyaman atau menganggap tidak lagi berguna, turun ke jalan bukanlah pilihan. Akibatnya, deviasi atau penyimpangan yang terjadi menjadi sesuatu yang biasa, ternormalisasi.

Menjadi prihatin tidaklah cukup sebagai sikap dalam menghadapi fenomena ini, diperlukan keluasan berpikir dan keberanian untuk mengingat, menampung dan mengejewantahkan tindakan-tindakan demokratis yang substansial dan bermoral. Bagi penulis, kemegahan atas demokrasi yang seperti itu dapat ditemui dalam pemikiran Muhammad Hatta, sang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Hatta, bukan orang biasa. Ia adalah seseorang yang berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka, yang menikahi kekasihnya dengan mahar sebuah buku. Seorang pemimpin negara yang tidak pernah punya cukup uang untuk membeli sepatu impiannya. Tetapi, segala kesederhanaannya itu tidak dapat menutup kecemerlangan dan kemajuan pemikirannnya akan demokrasi sejati. Pemikiran mulia ini dituangkannya ke dalam tulisan-tulisan yang menjadi karya akbar, yang salah satu diantaranya adalah karyanya yang berjudul Demokrasi Kita.

Demokrasi kita adalah sebuah tulisan yang pertama kali terbit tahun 1960 di Majalah Pandji Masyarakat yang dipimpin oleh Buya Hamka, yang kemudian dibuat menjadi buku oleh Hamka pada tahun 1966 pasca keluarnya ia dari penjara. Menurut penulis, ada 2 anasir besar dalam tulisan ini yang sangat relevan untuk dijadikan muatan refleksi warga.

Pertama, tentang kegelisahannya terhadap arah demokrasi di Indonesia yang mulai menyimpang dari prinsip-prinsip dasar demokrasi dan yang kedua, tentang demokrasi Indonesia yang ideal. Dalam anasir pertama, Hatta mengkritik kecenderungan otoritarianisme dan dominasi kekuasaan eksekutif yang mengabaikan fungsi parlemen dan partisipasi rakyat dalam demokrasi terpimpin yang diawali dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Atas dekrit itu, konstituante dibubarkan dan tak lama berselang DPR juga dibubarkan lalu dibentuk lagi dengan anggota yang ditunjuk oleh Presiden.

Titik berat pemerintahan dan perundang-undangan tidak lagi pada parlemen, melainkan pada dua badan baru, yaitu Dewan Pertimbangan Agung dan Dewan Perancang Nasional yang keanggotaannya ditunjuk oleh Presiden. Dalam sistem ini, Dewan Perwakilan Rakyat tugasnya hanya memberikan dasar-dasar hukum kepada keputusan-keputusan yang ditetapkan pemerintah, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan atau usul dari dua badan tersebut.

                                                                        ***

Otoritarianisme ini dianggap Hatta adalah muara dari krisis demokrasi yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Belum matangnya demokrasi yang diadopsi membuat penyalahgunaan kekuasaan massif terjadi. Partai politik yang bergabung ke pemerintahan disebut Hatta sebagai “Membagi Rejeki” yang artinya golongan sendiri diutamakan, masyarakat dilupakan.

Seorang menteri ditugaskan partainya untuk melakukan tindakan-tindakan yang memberi keuntungan bagi partainya. Seorang menteri perekonomian, misalnya, menjalankan tugasnya sebagai menteri dengan memberikan lisensi dengan bayaran tertentu untuk dia setorkan ke kas partainya. Atau dalam pembagian lisensi itu kepada pedagang dan importir atau eksportir, yang didahulukan adalah orang separtai dengan dia. Keperluan uang untuk biaya pemilihan umum menjadi sebab kecurangan itu.

Begitu juga dalam penempatan pejabat publik yang tidak berdasarkan the right man in the right place atau yang disebut juga sistem merit. Juga dalam penempatan pegawai di jabatan publik di dalam dan luar negeri, orang lupa akan dasar tanggung jawab dan toleransi dalam demokrasi. Seringkali keanggotaan partai menjadi  ukuran, bukan berdasarkan prinsip the right man in the right place.

Pegawai yang tidak berpartai atau partainya duduk di bangku oposisi merasa kehilangan pegangan dan patah hati. Hal itu merusak ketentraman bekerja, mendorong orang untuk melakukan kecurangan, dan korupsi mental. Dengan politik kepartaian itu, alih-alih untuk memperkuat budi pekerti dan karakter pegawai, malah mengasuh orang luntur karakter. Akhirnya, orang masuk partai bukan karena keyakinan, tetapi untuk memperoleh jaminan.

Suasana politik tersebutlah yang menurut Hatta membuka jalan untuk diktator dan berdasarkan pandangan Hatta ini lah menurut penulis para warga harus bercermin. Karena sepertinya apa yang dilihat Hatta tidak jauh berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang ini. Chauvis yang sama, lobak yang sama. Dan apakah kita telah sampai di muara itu? Jawaban dari pertanyaan ini penulis serahkan kepada pembaca yang penulis yakin dapat membaca gejala dalam jelaga.

Begeser ke anasir kedua dari Hatta tentang gagasannya terkait demokrasi ideal bagi Indonesia. Hatta membawa kita menyelami falsafah negara – yang tertuang dalam pembukaan – yang harusnya menjadi landasan demokrasi Indonesia. Ada 3 hal yang digarisbawahi Hatta terkait ini, pertama, demokrasi Indonesia yang diarahkan untuk bebas dari penjajahan baik penjajahan ke negeri sendiri maupun negara lain. Kedua, demokrasi yang tidak dapat dilepaskan dengan karunia Tuhan. Ketiga, demokrasi yang berlandaskan Pancasila. Di dalam poin ketiga ini penulis beranggapan Hatta menjelaskan suatu hal yang fundamental, di mana ia membedakan 2 fondasi dalam Pancasila, yakni fondasi moral yang diwakili oleh sila pertama dan fondasi politik yang diwakili oleh sila kedua hingga kelima.

Dengan meletakan dasar moral di atas, mereka yang membuat pedoman negara ini berharap supaya negara dan pemerintahnya memiliki dasar yang kokoh, yang memerintahkan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran, serta persaudaraan ke luar dan ke dalam. Dengan politik pemerintahan yang berdasarkan kepada moral yang tinggi, diharapkan tercapainya—seperti yang tertulis dalam Pembukaan itu—“suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

Inilah bentuk demokrasi yang ideal menurut Hatta. Demokrasi yang berlandaskan moral. Seluruh elemen bangsa bebas melakukan aktivitas politiknya asalkan tetap berlandaskan moral. Dan tidak hanya itu, Hatta secara gamblang menyerukan bahwa demokrasi Indonesia bukanlah berprinsip kedaulatan rakyat secara individualistik yang digaungkan oleh Rosseau, tapi kedaulatan rakyat yang kolektif yang dalam konteks penguasaan alat produksi dikenal sebagai koperasi, perekonomian yang disusun berdasarkan asas kekeluargaan.

Pemikiran Hatta ini sekiranya bisa “menyibukkan” kembali pemikiran penulis serta warga yang berada dalam kondisi yang ditegaskan oleh Diane Vaughan. Menjadi harapan-harapan baru dalam pertarungan paradigma dan ideologis yang amat layak untuk dimenangkan. Bagi penulis, Hatta adalah seorang pemikir besar yang idenya tetap hidup di sekitar kita, berharap untuk ditemukan, dibawa dan diperjuangkan. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie
Militerisasi Pendidikan dan Ancaman Terhadap Demokrasi
Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Parade Lagu Pop Bali di Festival Seni Bali Jani 2025: Nada-nada yang Bertutur

Next Post

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

“Mission Sacree” dan Puisi yang Terjangkau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co