10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi

Jaswanto by Jaswanto
July 30, 2025
in Ulas Pentas
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi

Pertunjukan Tribute to Umbu Landu Paranggi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Oka Rusmini

SETELAH lampu padam, seorang perempuan muncul dari sayap panggung. Suara tambur terdengar. Perempuan muda itu mulai melantunkan sebuah tembang—atau kidung—Bali yang magis. Gemerincing lonceng berbunyi di sela-sela jeda napasnya. Selesai menampilkan suaranya, perempuan itu duduk di bale bambu panjang yang di samping kanan-kirinya beberapa orang juga duduk di sana membelakangi penonton. Panggung kembali gelap.

Lalu, sesaat setelah perempuan pelantun tembang itu duduk, lampu sorot tertuju pada sosok lelaki 60 tahun yang kini bergerak ke tengah panggung. Lelaki itu kemudian mulai membaca puisi Ronggeng Sumba (1984) karya Umbu Landu Paranggi dengan penghayatan yang dalam, seperti nyaris—seperti lelucon yang ia lontarkan setelah membaca puisi tersebut—kesurupan. Pada sebuah layar di bagian belakang panggung, Ronggeng Sumba ditampilkan sehingga penonton dapat membacanya dengan jelas.

Putu Fajar Arcana menjadi pemandu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Di atas adalah potongan dari pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi”, sebuah persembahan khusus untuk mengenang Maha Guru Umbu. Tribute to Umbu menampilkan pertunjukan gagasan dan pembacaan karya Umbu yang menggugah segala pertanyaan dan jawaban. Namun, selain itu, menurut pandangan awam saya, karya ini juga tentang hikayat puisi dan hidup Umbu Landu Paranggi—puisi dan Umbu adalah satu-kesatuan.

Dan lebih dari sekadar pertunjukan, Tribute to Umbu juga terlihat seperti jagongan sastra yang membedah dan mendedah riwayat Umbu Landu Paranggi melalui puisi-puisi (karya, pikiran) yang ia lahirkan alih-alih mitos atau dongeng yang melakat di balik laku hidupnya yang misterius.Lebih lanjut, pertunjukan ini tidak mengandalkan hafalan, tapi ekspresi dan interpretasi personal setiap aktor. Lihatlah, bebas saja aktor membaca naskah di depan penonton.

Made Adnyana Ole membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Tribute to Umbu disutradarai oleh Made Adnyana Ole, sastrawan, budayawan, cum wartawan senior. Dan diperankan oleh nama-nama besar yang tak asing dalam dunia sastra dan budaya seperti Putu Farjar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Adnyana Ole, Made Sujaya, Kadek Sonia Piscayanti, Putu Eka Guna Yasa, dan Yesi Candrika. Putu Fajar Arcana, selain sebagai pembaca puisi, juga berperan sebagai pemantik diskusi antara Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa. Keempat orang ini yang mengantar penonton menuju hikayat hidup dan alam pikiran Umbu Landu Paranggi.

Untuk pementasan, Tribute to Umbu Landu Paranggi pertama kali dipertunjukan di panggung Singaraja Literary Festival 2025 di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Sabtu (26/7/2025) malam.

Hikayat Puisi, Hikayat Maha Guru

Benar adanya jika karya Tribute to Umbu adalah semacam pembacaan kritis dan dalam atas perjalanan hidup (biografi puisi) Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Joga ke Bali—meski pernah singgah sebentar di Bandung sebelum akhirnya menetap di Bali. Hal ini tampak jelas, bukan saja oleh Putu Fajar Arcana dan Kadek Sonia Piscayanti yang menyampaikan selikas tentang biografi Umbu pada awal pertunjukan, tapi juga puisi-puisi Umbu yang dipilih dalam pertunjukan ini.

Wicaksono Adi (kiri) dan Arif B Prasetyo (kanan) membicarakan puisi Umbu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Sependek ingatan, ada enam puisi Umbu yang dibacakan dan dibedah dalam Tribute to Umbu. Pertama Ronggeng Sumba, lalu Percakapan Selat, Tiga Kuda, Tujuh Cemara, Upacara XXXVII, dan terakhir Ibunda Tercinta. Pemilihan keenam puisi ini saya kira bukan tanpa alasan, melainkan dalam enam puisi inilah kita dapat mengetahui fase hidup Umbu di tiga tempat berbeda: Sumba, Jogja, dan Bali. Dan itu yang disampaikan oleh Wicaksono Adi dan Arif B. Prasetyo selama hampir setengah durasi pertunjukan.

Puisi pertama, Ronggeng Sumba yang dibacakan oleh Fajar Arcana, menurut pembacaan Wicaksono Adi, dapat dilihat sebagai rahim kultural Umbu sebelum menginjakkan kaki di dunia ramai. Dalam Ronggeng Sumba, tampak Umbu sedang menulis kampung halamannya: Sumba, yang oleh Arif B. Prasetyo dinilai berbeda dengan puisi-puisi penyair lain saat menulis hal yang sama. Kata Arif, beberapa puisi penyair Indonesia yang bicara soal kampung halaman, misalkan puisi “Tanah Kelahiran” Ramadhan KH, “Madura” Abdul Hadi WM, dan “Cipasung” Acep Zamzam Noor, tanah kelahiran cenderung dilihat sebagai bentang alam, lebih sebagai lanskap fisik, meskipun juga mencerminkan lanskap batin. Sedangkan Umbu dalam “Ronggeng Sumba” memandang tanah kelahiran sebagai lanskap budaya.

Dari sinilah pertunjukan Tribute to Umbu perlahan mulai menampakkan wajah aslinya.

Yesi Candrika membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Sedari penonton memasuki arena pertunjukan, karya ini sudah menyita perhatian. Pasalnya dua instalasi—atau kerajinan-anyaman—bambu diletakkan di tengah-tengah panggung pertunjukan.`Itu membuat saya sebagai penonton bertanya-tanya akan jadi seperti apa pertunjukan ini? Ketika pertunjukan dimulai, instalasi itu ternyata difungsikan sebagai semacam bale atau cangkruk tempat nongkrong orang-orang desa sambil membincangkan banyak hal.

Ya, Putu Fajar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa, berusaha membincangkan puisi-puisi Umbu seolah-seolah mereka sedang duduk di bale bambu di sebuah warung kopi di suatu tempat. Namun sayang, tak ada rokok dan kopi atau hidangan macam pisang goreng atau kacang asin di sana. Hal itu mengakibatkan improvisasi para aktor menjadi terbatas. Dan pada titik tertentu membuat pertunjukan menjadi kaku, lambat, statis, seolah menjelma menjadi ruang seminar kritik sastra yang ilmiah, akademik, dan memusingkan.

Tribute to Umbu, sebagaimana telah disinggung di atas, berusaha mengungkap perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Jogja ke Bali. “Ronggeng Sumba” katakanlah sebagai fase saat Umbu masih di Sumba. Sedangkan puisi “Percakapan Selat”, yang dibaca Made Adnyana Ole, sebagaimana dikatakan Fajar Arcana, menggambarkan bagaimana sang penyair memulai petualangan setelah meninggalkan rahim kulturalnya di Sumba. Lalu “Tiga Kuda” yang dibacakan Candrika, sebagai simbol pengembaraan Umbu menuju Jogja—yang menurut Arif digelayuti nada muram dari kesunyian, kesendirian, keterpencilan, dan kemurungan yang mengiringi pengembaraan.

Selanjutnya, Sonia Piscayanti membacakan puisi “Tujuh Cemara” sebagai penanda Umbu telah di Yogyakarta. Dalam puisi ini, menurut Wicaksono Adi, pandangan Umbu tentang Yogyakarta ternyata tidak semuram penyair-penyair lainnya. Umbu memandang Jogja dalam gambaran yang kompleks, semacam “ibukota kata sendi kata” yang berlapis-lapis, sejarah tua, revolusi, percintaan anak muda di antara deretan cemara di kampus biru, rahasia dan rindu dendam, ada pula sang Jenderal Sudirman, biji asam Malioboro, dan sebagainya. “Yogya juga semacam medan pergolakan untuk pematangan diri,” kata Adi.

Tibalah Umbu di Bali—setelah sempat singgah di Bandung, Jawa Barat—sampai akhir hayatnya. Pada babak ini, Made Sujaya membacakan puisi “Upacara XXXVII”. Dari Sujaya penonton tahu bahwa Umbu menghabiskan lebih dari separuh usianya di Bali, kurang lebih 43 tahun (1978-2021). Melalui halaman “Apresiasi” di Bali Post, kata Sujaya, Umbu tidak hanya merangsang gairah kreatif anak-anak muda Bali untuk nyastra, tetapi juga tampaknya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali. Pemahamannya terhadap Bali sebagian kecil dituangkan dalam beberapa buah sajaknya yang secara eksplisit berbicara tentang Bali, namun sebagian besar lainnya disampaikannya secara lisan dalam berbagai kesempatan diskusi apresiasi sastra.

Made Sujaya membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Pada babak ini pula Putu Eka Guna Yasa tampil meyakinkan. Filolog muda itu melengkapi paparan Sujaya dan memberitahu penonton bahwa Umbu, disadarinya atau tidak, sejatinya telah mempraktikkan konsep anurat asing gon (menulis di semua ruang) dan menempatkan tanah Bali sebagai altar kesempatan untuk mayasa lacur (menjadikan kemiskinan material sebagai tapa) untuk melahirkan berbagai karya sastra. Dua konsep kepengarangan tersebut, kata Guna, adalah istilah yang diambil dari karya Ida Pedanda Made Sidemen berjudul “Geguritan Salampah Laku”.

Dan puisi terakhir, Ibunda Tercinta yang juga dibaca Fajar Arcana, menjadi penutup fase hidup Umbu Landu Paranggi. Menurut Wicaksono Adi, jika di awal pada sajak “Ronggeng Sumba” kampung halaman mengandung gambaran “rahim” dalam perspektif rumah kultural, maka sang Kuda Sumba yang telah jauh meninggalkan “rahim” asalnya, pada akhirnya pulang ke haribaan “Ibu”—yakni “Ibu” sebagai sosok manusia maupun “Ibu” sebagai sosok simbolik, sebagai rumah puisi. “Ia [Umbu] telah kembali pada haribaan puisi itu sendiri,” ujar Adi.

Berbicara Karya, Bukan Mitos-Legenda

Umbu adalah penyair dengan nama besar, kata Arif B. Prasetyo. Karena itulah ia diselubungi karisma tertentu yang membuatnya tampak lebih besar daripada kenyataan, menjelma jadi semacam mitos. Saat Umbu hijrah ke Bali sebagai penyair karismatik—yang legendanya dibangun dan dilestarikan melalui beragam cerita oleh kalangan penulis muda di sekitarnya pada periode ketika ia tinggal di Jogya—mitos itu terus berlanjut. Akibatnya, orang lebih banyak mengenal nama Umbu dan mendengar legenda-mitosnya ketimbang membaca puisinya.

Wicaksono Adi, Putu Eka Guna Yasa, Fajar Arcana, Made Sujaya dan Arif B Prasetyo membincangkan puisi-puisi Umbu ketika sedang berada di Bali | Foto: Oka Rusmini

Mitos Umbu, kata Arif, seperti halnya mitos Chairil Anwar, menenggelamkan namanya dalam kelisanan yang membuat orang tidak terlalu memperhatikan puisinya. Namun, lanjut Arif, mitos Umbu sebagai penyair legendaris misterius ternyata bekerja efektif mendukung kiprah sosialnya di luar kerja individual menulis puisi, yaitu menghidupkan nyala api gairah bersastra di Bali.

Benar. Jamak diketahui bahwa Umbu merupakan sosok motivator pilih-tanding dan sangat pandai dalam mencari bakat yang selalu punya cara unik untuk mendekati seseorang dan memperkenalkan kehidupan puisi. Ia, ujar Arif, tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih bergerilya ke berbagai pelosok Bali untuk menggerakkan kehidupan kesusastraan lewat kegiatan apresiasi puisi. Mitos Umbu terbukti bukan sekadar dongeng, melainkan kekuatan yang mampu membentuk kenyataan.

Yesi Candrika menutup perbincangan dengan menyanyikan sejumlah pupuh | Foto: Oka Rusmini

Sampai di sini, sekali lagi, jika disadari, pertunjukan ini berujung pada pesan bahwa karya-karya Umbu tidak kalah menarik untuk dibicarakan alih-alih legenda atau mitos yang melekat pada nama besarnya.

Di situlah Tribute to Umbu menurut saya memberikan perhatian lebih atas apa yang menurutnya penting untuk digarisbawahi. Dengan dramaturgi yang simpel tetapi tepat guna, karya ini berhasil menyampaikan pesan tersebut secara eksplisit dan dapat diterima ketika menyaksikannya.

Penutupan pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Kendati demikian, menurut hemat saya, interpretasi—Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa—atas puisi Umbu yang dipresentasikan terlalu “berat-berlarat” tanpa diselinggi, katakanlah, gegojekan (humor) sebagaimana obrolan di bale bambu di sebuah warung kopi pinggiran sehingga alur terasa lambat dan membosankan—meski beberapa kali Fajar Arcana sebagai pemantik berusaha mencairkan suasana.

Jika yang diinginkan adalah menstimulasi penonton—yang sudah mengetahui (atau setidaknya yang pernah mendengar nama) Umbu Landu Pranggi—untuk berpikir ulang maka hal tersebut berhasil, tetapi jika yang diinginkan adalah “membumikan” karya dan nama Umbu di kalangan anak muda pada umumnya maka gaya interpretasi semacam itu perlu dipertimbangkan.

Berfoto bersama Rambu Raina Paranggi (cucu tertua dari Umbu Landu Paranggi) usai pertunjukan | Foto: Oka Rusmini

Itulah yang dicapai Tribute to Umbu dalam menarasikan hikayat puisi dan Umbu Landu Paranggi dengan cara pembacaan kritis karya-karyanya yang dipresentasikan melalui seni pertunjukan. Karya ini seakan menjadi penerang atas sosok Umbu yang “misterius”—ia terkenal sulit ditemui, tempat tinggalnya tidak jelas, suka muncul di acara secara sembunyi-sembunyi, dsb, kata Arif.

Cukup dengan menyaksikan pertunjukan ini saya diajak menelusuri jalan hidup sang Maha Guru melalui puisi-puisinya yang selama ini jarang atau nyaris tak pernah dibicarakan meski sedang membahas tentang riwayatnya.[T]


Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: sastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Umbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?

Next Post

Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co