21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi

Jaswanto by Jaswanto
July 30, 2025
in Ulas Pentas
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi

Pertunjukan Tribute to Umbu Landu Paranggi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Oka Rusmini

SETELAH lampu padam, seorang perempuan muncul dari sayap panggung. Suara tambur terdengar. Perempuan muda itu mulai melantunkan sebuah tembang—atau kidung—Bali yang magis. Gemerincing lonceng berbunyi di sela-sela jeda napasnya. Selesai menampilkan suaranya, perempuan itu duduk di bale bambu panjang yang di samping kanan-kirinya beberapa orang juga duduk di sana membelakangi penonton. Panggung kembali gelap.

Lalu, sesaat setelah perempuan pelantun tembang itu duduk, lampu sorot tertuju pada sosok lelaki 60 tahun yang kini bergerak ke tengah panggung. Lelaki itu kemudian mulai membaca puisi Ronggeng Sumba (1984) karya Umbu Landu Paranggi dengan penghayatan yang dalam, seperti nyaris—seperti lelucon yang ia lontarkan setelah membaca puisi tersebut—kesurupan. Pada sebuah layar di bagian belakang panggung, Ronggeng Sumba ditampilkan sehingga penonton dapat membacanya dengan jelas.

Putu Fajar Arcana menjadi pemandu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Di atas adalah potongan dari pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi”, sebuah persembahan khusus untuk mengenang Maha Guru Umbu. Tribute to Umbu menampilkan pertunjukan gagasan dan pembacaan karya Umbu yang menggugah segala pertanyaan dan jawaban. Namun, selain itu, menurut pandangan awam saya, karya ini juga tentang hikayat puisi dan hidup Umbu Landu Paranggi—puisi dan Umbu adalah satu-kesatuan.

Dan lebih dari sekadar pertunjukan, Tribute to Umbu juga terlihat seperti jagongan sastra yang membedah dan mendedah riwayat Umbu Landu Paranggi melalui puisi-puisi (karya, pikiran) yang ia lahirkan alih-alih mitos atau dongeng yang melakat di balik laku hidupnya yang misterius.Lebih lanjut, pertunjukan ini tidak mengandalkan hafalan, tapi ekspresi dan interpretasi personal setiap aktor. Lihatlah, bebas saja aktor membaca naskah di depan penonton.

Made Adnyana Ole membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Tribute to Umbu disutradarai oleh Made Adnyana Ole, sastrawan, budayawan, cum wartawan senior. Dan diperankan oleh nama-nama besar yang tak asing dalam dunia sastra dan budaya seperti Putu Farjar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Adnyana Ole, Made Sujaya, Kadek Sonia Piscayanti, Putu Eka Guna Yasa, dan Yesi Candrika. Putu Fajar Arcana, selain sebagai pembaca puisi, juga berperan sebagai pemantik diskusi antara Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa. Keempat orang ini yang mengantar penonton menuju hikayat hidup dan alam pikiran Umbu Landu Paranggi.

Untuk pementasan, Tribute to Umbu Landu Paranggi pertama kali dipertunjukan di panggung Singaraja Literary Festival 2025 di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Sabtu (26/7/2025) malam.

Hikayat Puisi, Hikayat Maha Guru

Benar adanya jika karya Tribute to Umbu adalah semacam pembacaan kritis dan dalam atas perjalanan hidup (biografi puisi) Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Joga ke Bali—meski pernah singgah sebentar di Bandung sebelum akhirnya menetap di Bali. Hal ini tampak jelas, bukan saja oleh Putu Fajar Arcana dan Kadek Sonia Piscayanti yang menyampaikan selikas tentang biografi Umbu pada awal pertunjukan, tapi juga puisi-puisi Umbu yang dipilih dalam pertunjukan ini.

Wicaksono Adi (kiri) dan Arif B Prasetyo (kanan) membicarakan puisi Umbu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Sependek ingatan, ada enam puisi Umbu yang dibacakan dan dibedah dalam Tribute to Umbu. Pertama Ronggeng Sumba, lalu Percakapan Selat, Tiga Kuda, Tujuh Cemara, Upacara XXXVII, dan terakhir Ibunda Tercinta. Pemilihan keenam puisi ini saya kira bukan tanpa alasan, melainkan dalam enam puisi inilah kita dapat mengetahui fase hidup Umbu di tiga tempat berbeda: Sumba, Jogja, dan Bali. Dan itu yang disampaikan oleh Wicaksono Adi dan Arif B. Prasetyo selama hampir setengah durasi pertunjukan.

Puisi pertama, Ronggeng Sumba yang dibacakan oleh Fajar Arcana, menurut pembacaan Wicaksono Adi, dapat dilihat sebagai rahim kultural Umbu sebelum menginjakkan kaki di dunia ramai. Dalam Ronggeng Sumba, tampak Umbu sedang menulis kampung halamannya: Sumba, yang oleh Arif B. Prasetyo dinilai berbeda dengan puisi-puisi penyair lain saat menulis hal yang sama. Kata Arif, beberapa puisi penyair Indonesia yang bicara soal kampung halaman, misalkan puisi “Tanah Kelahiran” Ramadhan KH, “Madura” Abdul Hadi WM, dan “Cipasung” Acep Zamzam Noor, tanah kelahiran cenderung dilihat sebagai bentang alam, lebih sebagai lanskap fisik, meskipun juga mencerminkan lanskap batin. Sedangkan Umbu dalam “Ronggeng Sumba” memandang tanah kelahiran sebagai lanskap budaya.

Dari sinilah pertunjukan Tribute to Umbu perlahan mulai menampakkan wajah aslinya.

Yesi Candrika membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Sedari penonton memasuki arena pertunjukan, karya ini sudah menyita perhatian. Pasalnya dua instalasi—atau kerajinan-anyaman—bambu diletakkan di tengah-tengah panggung pertunjukan.`Itu membuat saya sebagai penonton bertanya-tanya akan jadi seperti apa pertunjukan ini? Ketika pertunjukan dimulai, instalasi itu ternyata difungsikan sebagai semacam bale atau cangkruk tempat nongkrong orang-orang desa sambil membincangkan banyak hal.

Ya, Putu Fajar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa, berusaha membincangkan puisi-puisi Umbu seolah-seolah mereka sedang duduk di bale bambu di sebuah warung kopi di suatu tempat. Namun sayang, tak ada rokok dan kopi atau hidangan macam pisang goreng atau kacang asin di sana. Hal itu mengakibatkan improvisasi para aktor menjadi terbatas. Dan pada titik tertentu membuat pertunjukan menjadi kaku, lambat, statis, seolah menjelma menjadi ruang seminar kritik sastra yang ilmiah, akademik, dan memusingkan.

Tribute to Umbu, sebagaimana telah disinggung di atas, berusaha mengungkap perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Jogja ke Bali. “Ronggeng Sumba” katakanlah sebagai fase saat Umbu masih di Sumba. Sedangkan puisi “Percakapan Selat”, yang dibaca Made Adnyana Ole, sebagaimana dikatakan Fajar Arcana, menggambarkan bagaimana sang penyair memulai petualangan setelah meninggalkan rahim kulturalnya di Sumba. Lalu “Tiga Kuda” yang dibacakan Candrika, sebagai simbol pengembaraan Umbu menuju Jogja—yang menurut Arif digelayuti nada muram dari kesunyian, kesendirian, keterpencilan, dan kemurungan yang mengiringi pengembaraan.

Selanjutnya, Sonia Piscayanti membacakan puisi “Tujuh Cemara” sebagai penanda Umbu telah di Yogyakarta. Dalam puisi ini, menurut Wicaksono Adi, pandangan Umbu tentang Yogyakarta ternyata tidak semuram penyair-penyair lainnya. Umbu memandang Jogja dalam gambaran yang kompleks, semacam “ibukota kata sendi kata” yang berlapis-lapis, sejarah tua, revolusi, percintaan anak muda di antara deretan cemara di kampus biru, rahasia dan rindu dendam, ada pula sang Jenderal Sudirman, biji asam Malioboro, dan sebagainya. “Yogya juga semacam medan pergolakan untuk pematangan diri,” kata Adi.

Tibalah Umbu di Bali—setelah sempat singgah di Bandung, Jawa Barat—sampai akhir hayatnya. Pada babak ini, Made Sujaya membacakan puisi “Upacara XXXVII”. Dari Sujaya penonton tahu bahwa Umbu menghabiskan lebih dari separuh usianya di Bali, kurang lebih 43 tahun (1978-2021). Melalui halaman “Apresiasi” di Bali Post, kata Sujaya, Umbu tidak hanya merangsang gairah kreatif anak-anak muda Bali untuk nyastra, tetapi juga tampaknya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali. Pemahamannya terhadap Bali sebagian kecil dituangkan dalam beberapa buah sajaknya yang secara eksplisit berbicara tentang Bali, namun sebagian besar lainnya disampaikannya secara lisan dalam berbagai kesempatan diskusi apresiasi sastra.

Made Sujaya membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Pada babak ini pula Putu Eka Guna Yasa tampil meyakinkan. Filolog muda itu melengkapi paparan Sujaya dan memberitahu penonton bahwa Umbu, disadarinya atau tidak, sejatinya telah mempraktikkan konsep anurat asing gon (menulis di semua ruang) dan menempatkan tanah Bali sebagai altar kesempatan untuk mayasa lacur (menjadikan kemiskinan material sebagai tapa) untuk melahirkan berbagai karya sastra. Dua konsep kepengarangan tersebut, kata Guna, adalah istilah yang diambil dari karya Ida Pedanda Made Sidemen berjudul “Geguritan Salampah Laku”.

Dan puisi terakhir, Ibunda Tercinta yang juga dibaca Fajar Arcana, menjadi penutup fase hidup Umbu Landu Paranggi. Menurut Wicaksono Adi, jika di awal pada sajak “Ronggeng Sumba” kampung halaman mengandung gambaran “rahim” dalam perspektif rumah kultural, maka sang Kuda Sumba yang telah jauh meninggalkan “rahim” asalnya, pada akhirnya pulang ke haribaan “Ibu”—yakni “Ibu” sebagai sosok manusia maupun “Ibu” sebagai sosok simbolik, sebagai rumah puisi. “Ia [Umbu] telah kembali pada haribaan puisi itu sendiri,” ujar Adi.

Berbicara Karya, Bukan Mitos-Legenda

Umbu adalah penyair dengan nama besar, kata Arif B. Prasetyo. Karena itulah ia diselubungi karisma tertentu yang membuatnya tampak lebih besar daripada kenyataan, menjelma jadi semacam mitos. Saat Umbu hijrah ke Bali sebagai penyair karismatik—yang legendanya dibangun dan dilestarikan melalui beragam cerita oleh kalangan penulis muda di sekitarnya pada periode ketika ia tinggal di Jogya—mitos itu terus berlanjut. Akibatnya, orang lebih banyak mengenal nama Umbu dan mendengar legenda-mitosnya ketimbang membaca puisinya.

Wicaksono Adi, Putu Eka Guna Yasa, Fajar Arcana, Made Sujaya dan Arif B Prasetyo membincangkan puisi-puisi Umbu ketika sedang berada di Bali | Foto: Oka Rusmini

Mitos Umbu, kata Arif, seperti halnya mitos Chairil Anwar, menenggelamkan namanya dalam kelisanan yang membuat orang tidak terlalu memperhatikan puisinya. Namun, lanjut Arif, mitos Umbu sebagai penyair legendaris misterius ternyata bekerja efektif mendukung kiprah sosialnya di luar kerja individual menulis puisi, yaitu menghidupkan nyala api gairah bersastra di Bali.

Benar. Jamak diketahui bahwa Umbu merupakan sosok motivator pilih-tanding dan sangat pandai dalam mencari bakat yang selalu punya cara unik untuk mendekati seseorang dan memperkenalkan kehidupan puisi. Ia, ujar Arif, tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih bergerilya ke berbagai pelosok Bali untuk menggerakkan kehidupan kesusastraan lewat kegiatan apresiasi puisi. Mitos Umbu terbukti bukan sekadar dongeng, melainkan kekuatan yang mampu membentuk kenyataan.

Yesi Candrika menutup perbincangan dengan menyanyikan sejumlah pupuh | Foto: Oka Rusmini

Sampai di sini, sekali lagi, jika disadari, pertunjukan ini berujung pada pesan bahwa karya-karya Umbu tidak kalah menarik untuk dibicarakan alih-alih legenda atau mitos yang melekat pada nama besarnya.

Di situlah Tribute to Umbu menurut saya memberikan perhatian lebih atas apa yang menurutnya penting untuk digarisbawahi. Dengan dramaturgi yang simpel tetapi tepat guna, karya ini berhasil menyampaikan pesan tersebut secara eksplisit dan dapat diterima ketika menyaksikannya.

Penutupan pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Kendati demikian, menurut hemat saya, interpretasi—Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa—atas puisi Umbu yang dipresentasikan terlalu “berat-berlarat” tanpa diselinggi, katakanlah, gegojekan (humor) sebagaimana obrolan di bale bambu di sebuah warung kopi pinggiran sehingga alur terasa lambat dan membosankan—meski beberapa kali Fajar Arcana sebagai pemantik berusaha mencairkan suasana.

Jika yang diinginkan adalah menstimulasi penonton—yang sudah mengetahui (atau setidaknya yang pernah mendengar nama) Umbu Landu Pranggi—untuk berpikir ulang maka hal tersebut berhasil, tetapi jika yang diinginkan adalah “membumikan” karya dan nama Umbu di kalangan anak muda pada umumnya maka gaya interpretasi semacam itu perlu dipertimbangkan.

Berfoto bersama Rambu Raina Paranggi (cucu tertua dari Umbu Landu Paranggi) usai pertunjukan | Foto: Oka Rusmini

Itulah yang dicapai Tribute to Umbu dalam menarasikan hikayat puisi dan Umbu Landu Paranggi dengan cara pembacaan kritis karya-karyanya yang dipresentasikan melalui seni pertunjukan. Karya ini seakan menjadi penerang atas sosok Umbu yang “misterius”—ia terkenal sulit ditemui, tempat tinggalnya tidak jelas, suka muncul di acara secara sembunyi-sembunyi, dsb, kata Arif.

Cukup dengan menyaksikan pertunjukan ini saya diajak menelusuri jalan hidup sang Maha Guru melalui puisi-puisinya yang selama ini jarang atau nyaris tak pernah dibicarakan meski sedang membahas tentang riwayatnya.[T]


Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: sastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Umbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?

Next Post

Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails
Next Post
Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”
Khas

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co