2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi

Son Lomri by Son Lomri
July 31, 2025
in Khas
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi

Moderator Putu Putik Padi (kiri) dan Mandy Fessenden Brauer, penulis buku Cerita Made | Foto: Dok. SLF 2025

TERASA hangat diskusi anak-anak pada acara peluncuran buku cerita anak berjudul Cerita Made karya Mandy Fessenden Brauer” serangkaian Singaraja Literary Festival 2025 di Museum Buleleng, Bali, Sabtu, 26 Juli.

Saat mengenalkan bukunya, Mandy Fessenden Brauer atau biasa dipanggil Mandy, tampak sangat senang karena anak-anak yang hadir dalam diskusi itu begitu antusias mendengarkan. Peserta yang datang sebagian besar adalah anak-anak bersama orang tua mereka.

Anak-anak itu duduk di kursi, ada juga lesehan di gundukan berumput di bawah teduh daun-daun pepohonan. Mereka menyimak dengan baik tentang bagaimana buku cerita anak Cerita Made itu dibuat.

Anak-anak antusias mengikuti acara peluncuran buku Cerita Made di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

“Saya mengerjakan buku itu dengan banyak orang, terutama dalam proses ilustrasi dan terjemahan,” kata Mandy bercerita tentang proses pengerjaan bukunya.

Mandy dibantu Desi Wulandari untuk ilustrasinya, dan Anak Agung Anitya Dewi, Dewa Gede Agung Oka Sukawati dan Sheena Monaghan untuk terjemahannya.

Dalam proses pengerjaan ilustrasinya, pertama, Mandy memberikan (semacam) draft naskah ceritanya per bagian kepada Desi. Kemudian Desi membuatkan ilustrasinya sesuai bagian-bagian cerita yang sudah dikirim.

“Terus dibuat sketnya dulu, lalu didiskusikan dengan Mandy. Jika tidak cocok, kembali dibuat ulang dan didiskusikan dan terus begitu. Sampai jadi,” kata Desi Wulandari ilustrator buku cerita anak Cerita Made.

Pada proses pembuatan ilustrasi itu dengan diskusi terbuka, Mandy merasa bebas dan lebih nyaman karena ia tahu di penerbit lain tidak bisa seintens itu, tidak bisa berdiskusi lebih dekat dan lebih lama.

“Karena jika di perusahaan, hal semacam itu sangat kaku,” kata Mandy Ia mengaku senang bukunya diilustrasikan Desi Wulandari dengan cara dilukis langsung.

Dalam ilustrasi, Mandy menghindarkan diri pada cerita dengan ilustrasi yang tak masuk akal, misalnya, seorang anak menunggangi buaya di sebuah sungai. Karena imajinasi semacam itu lebih berisiko untuk mengajarkan si anak berimajinasi liar yang tak masuk akal.

Sebab, buaya bisa makan orang, buaya bisa makan anak-anak jika mereka menirukannya pergi ke sungai lalu mencari buaya untuk ditunggangi.

Di buku Cerita Made, itu berbeda, tokoh Made berenang di pantai, dan ia ditemani oleh orang tuanya sebagai pengawasan. Hal itu penting menurut Mandy, anak-anak mesti diawasi agar tidak celaka.

Sehingga ilustrasi dan cerita (teks), tidak ngawang-ngawang. Cerita itu memberikan edukasi, bukan yang liar tak masuk akal.

Sekilas tentang buku itu, ada dua cerita dari dua tokoh yang memiliki kehidupan berbeda—sebagai perbandingan sosial dan kultur, yang memperkaya buku Cerita Made menjadi unik untuk dikonsumsi anak-anak, juga para orang tua untuk anaknya.

Yaitu Cerita Made dan Putu. Made tinggal di kota, dan Putu tinggal di desa.

Kisah Made membawa kita ke kehidupan seorang anak perempuan Bali yang memiliki seorang kakak laki-laki bernama Wayan, dan tinggal di Denpasar.

Moderator Putu Putik Padi (kiri) dan Mandy Fessenden Brauer, penulis buku Cerita Made | Foto: Dok. SLF 2025

Cerita Made dikuatkan secara ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari anak perempuan Bali yang tinggal di sebuah kota, mengunjungi kakek-neneknya yang tinggal di pegunungan dan memulai bisnis kecilnya sambil tetap bersenang-senang.

Sedang pada kisah (tokoh) Putu, memperkenalkan seorang anak laki-laki Bali yang tinggal di pedesaan, tempat padi ditanam dan membagikan dunianya kepada kita dan adik laki-lakinya yang bernama Kadek.

Di Balik (Proses) Pembuatan Cerita Made

“Ketika saya pertama datang ke Bali, saya bertemu dengan teman yang sudah punya anak berusia dua tahun, dan si anak itu gak pernah melihat bule seperti saya. Dia ketakutan hingga menjerit sangat kencang,” kata Mandy.

Agar anak itu tidak merasa ketakutan atas kehadirannya karena kulit berserat dan rambut yang dibiarkan bebas, Mandy, memberikan pemahaman sangat halus, bahwa hewan memiliki banyak macam bentuk dan warna, begitupun dengan manusia. Ia ada banyak jenis soal warna kulit dengan ras berbeda-beda pula.

Lebih tegas Mandy menjelaskan pada para peserta yang dihadiri anak-anak itu, bahwa manusia itu beragam. Tak mestilah takut perbedaan rupa atau warna. Manusia adalah makhluk yang unik. Harus saling mengenal untuk memperindah kehidupan.

Dan itu, buku pertamanya Mandy yang dibuat sekaligus dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan gambar-gambar yang kuat sebagai ilustrasi cerita.

Setelah diskusi, Mandy mengajak penonton untuk mendengar pembacaan cerita oleh moderator Putu Putik Padi (bahasa Indonesia) dan Made Puspa (Bahasa Inggris).

Putik Padi :

Namaku Made. Aku Tinggal di sebuah pulau di Indonesia yang bernama Bali. Aku tinggal bersama ayah, ibu, dan kakak laki-lakiku, Wayan.

Made Puspa :

My Name is Made. I live in Indonesia on the island of Bali with my father, mother, and older brother, Wayan.

Putik Padi :

Dari rumahku di Denpasar, ibu kota provinsi Bali, aku bisa melihat banyak bangunan tinggi, beberapa ekor sapi, sekumpulan ayam, dan banyak anjing. Kami punya seekor anjing yang kami beri nama Doggie dan seekor kucing yang kami panggil Dida yang baru saja melahirkan empat anaknya.

Made Puspa :

From our home in Denpasar, the capitol Bali, I See big buildings, a few cows, chikens, and many dogs. We have a dog named Doggie and a cat named Dida. Dida has four kittens.

Di sela pembacaan itu, Mandy berdiri dan terus mengangkat halaman buku Cerita Made sesuai pembacaan Putik dan Made ke arah peserta agar bisa dinikmati ilustrasinya.

Setelah pembacaan itu selesai, di akhir sesi, Mandy ingin menunjukkan kepada anak-anak Bali, bahwa mereka bisa berimajinasi dengan mengambil sisi unik kehidupan sehari-hari, atau yang biasa ditemukan di sekitar rumah.

Bercecer Cerita-cerita kecil di Bali

Ada banyak cerita unik yang didapatkan Mandy ketika datang ke Bali lima belas tahun lalu. Ya, ia asalnya dari Amerika, dan melalui buku pertamanya itu, Mandy ingin menunjukkan ke semua orang yang berlayar ke Bali, bahwa ada banyak hewan-hewan di Bali.

Juga dia ingin menunjukkan ke orang-orang itu, maksudnya para turis seperti dia, bahwa Bali sangat indah dan masyarakat lokal begitu indah hidup di Bali. Ada keramahan. Ada kesejukan.

Cerita Putu dan Made, misalnya, sama-sama memiliki orang tua kakek nenek dan saudara masing-masing.

Dia juga pengen anak-anak di Bali membaca buku tentang anak-anak Bali, tentang dirinya sendiri.

Moderator Putu Putik Padi (kiri) dan Mandy Fessenden Brauer, penulis buku Cerita Made | Foto: Dok. SLF 2025

Cerita Putu di buku itu, seorang anak yang tinggal di daerah persawahan. Sedang Made dengan suasana rumah yang lebih kompleks di perkotaan dengan kemacetan jalan luar biasa. Kedua orang tua mereka dua-duanya bekerja. Keluarga mereka memiliki keunikannya tersendiri.

Mandy tinggal di Bali sudah cukup lama, cerita itu sangat terekam jelas diingatannya walaupun umurnya sudah 84 tahun.

Dia juga mengingat betul bagaimana teman-temannya di Bali, memiliki gaun-gaun banyak sekali. Dia juga mengingat, bahwa dunia anak kecil di Bali, sangatlah ceria, dan ada banyak cerita.

Mandy berharap, semua anak-anak bisa bercerita seperti dirinya di buku itu, tentang Bali, dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris menceritakan hal-hal apa saja dan mendiskusikannya dengan teman yang akrab.

Ia juga berpesan pada orang tua yang hadir ketika itu, untuk menuangkan idenya tentang imajinasi cerita anak atau apa saja untuk menuliskannya dalam bentuk buku, karena di Bali sangat kaya akan cerita-cerita unik yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

Satu waktu, Mandy pernah pergi berjalan-jalan dan ia melihat segerombolan anak-anak melakukan gerak jalan untuk acara kemerdekaan di bulan Agustus.

Di salah satu mereka, satu anak dengan sepatunya lebih besar dari ukuran kakinya, dan ketika berjalan itu, ia terlihat sangat kesulitan saat melangkah. Mandy tertawa. Lantas ia bertanya pada temannya, apakah anak itu membutuhkan ukuran sepatu lebih besar dari kakinya, untuk bisa bergerak? [T]

Reporter/Penerjemah: Putu Putik Padi
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Bukucerita anakSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Bincang Buku “Lolohin Malu”: Pahit, Getir, Tapi Menyembuhkan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Bincang Buku “Lolohin Malu”: Pahit, Getir, Tapi Menyembuhkan

Bincang Buku "Lolohin Malu": Pahit, Getir, Tapi Menyembuhkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co