23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KETAWANG-LEKHYA — Pengantar untuk Buku Puisi Hartanto

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
July 12, 2025
in Ulas Buku
KETAWANG-LEKHYA — Pengantar untuk Buku Puisi Hartanto

Buku "Ketawang, antologi puisi Hartanto"

POLA dan bentuk gending ketawang puspawarna bernuansa klasik, menjadi pemantik puisi-puisi Mas Hartanto yang bertajuk Ketawang. Namun demikian puisi-puisi berjumlah 34 tersebut setelah dibaca, saya diajak bertamasya ke tempat-tempat yang khas dan memunculkan Lekhya.

Momentum membaca Ketawang, antologi puisi Mas Hartanto, varalel dengan asosiasi kode visual pada ruang imajinasi saya. Bayangkan, menyingkap kata demi kata dan kemudian mengimajinasikan skuen visual menjadi proses yang paling saya nikmati. Menangkap esensi emosi dan citra yang terkandung dalam puisi tersebut, seperti terhubung dengan sesuatu yang hakiki, keindahan dan kebenaran yang terkandung dalam puisi.

Berhadapan dengan fenomena kode-kode verbal memicu respons emosional dan kognitif tertentu pada diri saya. Pengalaman kognitif inilah menjadi bekal untuk mengeksplorasi visual yang nantinya mendampingi verbal Ketawang. Simak misalnya bait puisi berjudul dari pesisir sanur;

kenapa bukan cinta yang tumbuh
dari sosok di sisimu
semata dahaga keindahan
atau dahaga kemasyuran
yang ia buru.

Saya menerka puisi di atas. Sanur kalau diibaratkan entitas memiliki daya pikat, kemudian berbagai ras datang mendekat. gundah-gulana menyesak dada, kerumunan manusia yang datang berniat memetik keindahan dan kemasyuranya, alih-alih menjaga kemurniannya malah mengeksplotasi dengan semena-mena. Hari ini Sanur dipadati hotel, villa, toko, restoran, dan mall serta bromocorah mengubah tata desa menjadi global village, juga tata nilai yang tak terhindarkan. Namun demikian, saya tetap menggunakan kata “cinta” dan kata “sosok” sebagai reka visual yakni sosok laki-perempuan, ditepian tebing diselimuti awan-awan.

Gambar 1. Desain breif lekhya Dari Pesisir Sanur

C.S Pierce menyebutkan tanda sebagai satu pegangan seseorang akibat keterikatannya dengan tanggapan atau kapasitasnya (Asa Berger: 2000). Menyimak puisi mengasosiasikan visual seperti Ongkara Adumuka. Peristiwa, ritus pertemuan dua Ongkara yang saling berhadap-hadapan muka. Saling mempertemukan ujung Nada, mengadu ketajaman atau keruncingan kedua ujung Nada. Dalam tradisi shastra di Bali dikenal dengan sebutan angadu tungtunging rwi (mengadu ujung duri). Dalam tradisi lisan disebut ngadu muncuk jarum (mengadu ujung jarum), mengadu muncuk taji (mengadu ujung taji) [Dharma Palguna: 2024].

Adumuka, pertemuan menyamakan frekwensi verbal-visual, hal tersebut merupakan proses penciptaan tahapan Making Art Blueprint of contemporary performance art based on community (membuat cetak biru seni rupa pertunjukan kontemporer berbasis masyarakat). Making blueprint ini adalah tahapan pertama metode mal, selanjutnya dijadikan acuan penciptaan karya dalam rangka mendampingi puisi-puisi Ketawang (Sujana: 2019). Tahapan kedua Accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam) dan yang ketiga Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horisontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi).

Saya berkehendak mewujudkan Lekhya (gambaran, lukisan) melengkapi puisi Ketawang, yang nantinya diharapkan dapat memperkuat makna dan memperluas pemahaman kita tentangnya (ketawang lekhya).

Menjangkar Ketawang, Adumuka, Lekhya, dan Mal

Saya berkeinginan ekspresi lukisan ini menjadi cerminan dari perasaan, gejolak emosional saat membaca puisi tersebut. Selanjutnya karya lukisan tersebut adalah upaya menangkap suasana hati dan perasaan yeng terkandung dalam puisi. Berulangkali saya membaca 34 puisi-puisi Ketawang, membiarkan kata-kata meresap ke dalam pikiran. Terus membaca dan menyimak, perangkat simbol-simbol dan metafora yang mengendap di kedalaman memori, ditarik ke dunia real berupa asoasiasi bentuk-bentuk ikonik.

Puisi menggunakan kata-kata esensial, melalui perenungan maka penentuan bahasi visual menggunakan sifat-sifat tersebut. Saya dapat terangkan beberapa kalimat dari puisi berjudul Maestoso Bening, menggugah ide-ide visual dalam pikiran sebagai berikut;

Kau, yang berhening di ruang bening
Memetik dawai rajutan rahasia jiwa,
Mengapa kau nyanyikan lagu purbani
tentang kelahiran dan kematian
ketika gerimis hadirkan tanda lewat pelangi.
Penuh cahaya dan warna
tanpa api
membakar tepi hati
Disana, tersimpan cahaya kebenaran,
Cerita matahari dan rembulan
Yang tak bisa kau sembunyikan.

Apa yang digambarkan secara verbal pada kata-kata tersebut di atas, langsung dapat diasosiasikan secara visual, saya tinggal menentukan icon untuk kebutuhan de-coding yang tepat dari kalimat Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran. Tahapan menjangkar kata/kalimat puisi (Ketawang) dan mempertemukan dengan asosiasi visual (Adumuka) maka kemudian mengasilkan keyword Lekhya (Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran). Keyword Lekhya adalahArt Blueprint yang dihasilkan dari proses riset ma tahapan m.

Metode mal Tahapan a

Kemudian dilanjutkan tahapan meng-creat komposisi, warna, bentuk, dan suasana pada bidang dwimatra yakni tahapan a (mal).

mal tahapan a, adalah langkah kedua dari metode mal yakni accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam). Langkah a dapat dilakukan berbekal keyword yang ditemukan pada tahapan m-making Art Blueprint yakni; Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran.

Tahapan a, melalui beberapa langkah. Pertama menggali keyword verbal-visual, melakukan sketsa breif. Kemudian langkah kedua memilah-memilih sketsa breif menjadi visual-konsep visual. Ketiga langkah mematangkan konsep visual melalui visual-formating dan narasi. Tiga langkah saling membuncah, fleksibel dengan siklus spiral yang saling bertaut. Seperti menghancurkan visual yang tidak dihendaki, bisa juga menyulam dua visual untuk merangkai satu konsep visual. Aspek-asfek perupaan kemudian diorganisir seperti garis, warna, bentuk, dan komposisi sampai tercapai suasana dan keselarasan yang diinginkan.

Gambar 2, 3, 4. Visual, konsep visual, dan lekhya

Pembentukan visual selesai, proses selanjutnya adalah menuliskan narasi, sebagai bagian unsur ekstrinsik dari visual. Namun demikian karena ketawang-lekhya membuat visual didahului dengan pemantik verbal (ketawang), maka verbal menjadi unsur ekstrinsik dari visual (lekhya).

Peristiwa seperti di atas saya sebut sebagai adumuka materi, proses menikahkan verbal-puisi dengan visual-gambar. Penyelarasan antara kecerdasan memori, pikiran, dan intuisi untuk memutuskan verbal-visual ketawang-lekhya sudah mewakili apa yang dimajaskan.

Akhir dari tulisan saya, menunggu katawang berdampingan dengan lekhya ditata dalam lembar kitab. Berupa buku ontologi puisi yang di-layout dengan huruf, gambar, dan kertas serta bentuk buku yang punya sisi cover dan belakang. Tampilan buku ontologi puisi ketawang dengan pernak-perniknya adalah bagian dari l dari mal, Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horisontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi). [T]

Referensi

  • Asa Berger, Athur. 2000. Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.
  • Dharma Palguna, IBM. 2024. 212 Ongkara Nama Tattwa Rupa Sastra. Sadampaty Aksara, Mataram.
  • Sujana, Wayan, dkk. 2019. Light Pattern, Labirin Ruang Masif. Mudra Jurnal Seni Budaya, Volume 34 No 3, September, Institut Seni Indonesia Denpasar.

Penulis: Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini
Jawa Tempo Doeloe: Wajah Jawa di Mata Orientalis Berkulit Pucat
Tags: buku puisiHartantoPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran “Тoba Bali Art Project 2025”: Kolaborasi Seniman Toba dan Bali di Santrian Art Gallery Sanur

Next Post

Tumpek Kandang, Manusia dan Alam Semesta

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Kandang, Manusia dan Alam Semesta

Tumpek Kandang, Manusia dan Alam Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co