POLA dan bentuk gending ketawang puspawarna bernuansa klasik, menjadi pemantik puisi-puisi Mas Hartanto yang bertajuk Ketawang. Namun demikian puisi-puisi berjumlah 34 tersebut setelah dibaca, saya diajak bertamasya ke tempat-tempat yang khas dan memunculkan Lekhya.
Momentum membaca Ketawang, antologi puisi Mas Hartanto, varalel dengan asosiasi kode visual pada ruang imajinasi saya. Bayangkan, menyingkap kata demi kata dan kemudian mengimajinasikan skuen visual menjadi proses yang paling saya nikmati. Menangkap esensi emosi dan citra yang terkandung dalam puisi tersebut, seperti terhubung dengan sesuatu yang hakiki, keindahan dan kebenaran yang terkandung dalam puisi.
Berhadapan dengan fenomena kode-kode verbal memicu respons emosional dan kognitif tertentu pada diri saya. Pengalaman kognitif inilah menjadi bekal untuk mengeksplorasi visual yang nantinya mendampingi verbal Ketawang. Simak misalnya bait puisi berjudul dari pesisir sanur;
kenapa bukan cinta yang tumbuh
dari sosok di sisimu
semata dahaga keindahan
atau dahaga kemasyuran
yang ia buru.
Saya menerka puisi di atas. Sanur kalau diibaratkan entitas memiliki daya pikat, kemudian berbagai ras datang mendekat. gundah-gulana menyesak dada, kerumunan manusia yang datang berniat memetik keindahan dan kemasyuranya, alih-alih menjaga kemurniannya malah mengeksplotasi dengan semena-mena. Hari ini Sanur dipadati hotel, villa, toko, restoran, dan mall serta bromocorah mengubah tata desa menjadi global village, juga tata nilai yang tak terhindarkan. Namun demikian, saya tetap menggunakan kata “cinta” dan kata “sosok” sebagai reka visual yakni sosok laki-perempuan, ditepian tebing diselimuti awan-awan.

Gambar 1. Desain breif lekhya Dari Pesisir Sanur
C.S Pierce menyebutkan tanda sebagai satu pegangan seseorang akibat keterikatannya dengan tanggapan atau kapasitasnya (Asa Berger: 2000). Menyimak puisi mengasosiasikan visual seperti Ongkara Adumuka. Peristiwa, ritus pertemuan dua Ongkara yang saling berhadap-hadapan muka. Saling mempertemukan ujung Nada, mengadu ketajaman atau keruncingan kedua ujung Nada. Dalam tradisi shastra di Bali dikenal dengan sebutan angadu tungtunging rwi (mengadu ujung duri). Dalam tradisi lisan disebut ngadu muncuk jarum (mengadu ujung jarum), mengadu muncuk taji (mengadu ujung taji) [Dharma Palguna: 2024].
Adumuka, pertemuan menyamakan frekwensi verbal-visual, hal tersebut merupakan proses penciptaan tahapan Making Art Blueprint of contemporary performance art based on community (membuat cetak biru seni rupa pertunjukan kontemporer berbasis masyarakat). Making blueprint ini adalah tahapan pertama metode mal, selanjutnya dijadikan acuan penciptaan karya dalam rangka mendampingi puisi-puisi Ketawang (Sujana: 2019). Tahapan kedua Accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam) dan yang ketiga Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horisontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi).
Saya berkehendak mewujudkan Lekhya (gambaran, lukisan) melengkapi puisi Ketawang, yang nantinya diharapkan dapat memperkuat makna dan memperluas pemahaman kita tentangnya (ketawang lekhya).
Menjangkar Ketawang, Adumuka, Lekhya, dan Mal
Saya berkeinginan ekspresi lukisan ini menjadi cerminan dari perasaan, gejolak emosional saat membaca puisi tersebut. Selanjutnya karya lukisan tersebut adalah upaya menangkap suasana hati dan perasaan yeng terkandung dalam puisi. Berulangkali saya membaca 34 puisi-puisi Ketawang, membiarkan kata-kata meresap ke dalam pikiran. Terus membaca dan menyimak, perangkat simbol-simbol dan metafora yang mengendap di kedalaman memori, ditarik ke dunia real berupa asoasiasi bentuk-bentuk ikonik.
Puisi menggunakan kata-kata esensial, melalui perenungan maka penentuan bahasi visual menggunakan sifat-sifat tersebut. Saya dapat terangkan beberapa kalimat dari puisi berjudul Maestoso Bening, menggugah ide-ide visual dalam pikiran sebagai berikut;
Kau, yang berhening di ruang bening
Memetik dawai rajutan rahasia jiwa,
Mengapa kau nyanyikan lagu purbani
tentang kelahiran dan kematian
ketika gerimis hadirkan tanda lewat pelangi.
Penuh cahaya dan warna
tanpa api
membakar tepi hati
Disana, tersimpan cahaya kebenaran,
Cerita matahari dan rembulan
Yang tak bisa kau sembunyikan.
Apa yang digambarkan secara verbal pada kata-kata tersebut di atas, langsung dapat diasosiasikan secara visual, saya tinggal menentukan icon untuk kebutuhan de-coding yang tepat dari kalimat Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran. Tahapan menjangkar kata/kalimat puisi (Ketawang) dan mempertemukan dengan asosiasi visual (Adumuka) maka kemudian mengasilkan keyword Lekhya (Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran). Keyword Lekhya adalahArt Blueprint yang dihasilkan dari proses riset ma tahapan m.
Metode mal Tahapan a
Kemudian dilanjutkan tahapan meng-creat komposisi, warna, bentuk, dan suasana pada bidang dwimatra yakni tahapan a (mal).
mal tahapan a, adalah langkah kedua dari metode mal yakni accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam). Langkah a dapat dilakukan berbekal keyword yang ditemukan pada tahapan m-making Art Blueprint yakni; Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran.
Tahapan a, melalui beberapa langkah. Pertama menggali keyword verbal-visual, melakukan sketsa breif. Kemudian langkah kedua memilah-memilih sketsa breif menjadi visual-konsep visual. Ketiga langkah mematangkan konsep visual melalui visual-formating dan narasi. Tiga langkah saling membuncah, fleksibel dengan siklus spiral yang saling bertaut. Seperti menghancurkan visual yang tidak dihendaki, bisa juga menyulam dua visual untuk merangkai satu konsep visual. Aspek-asfek perupaan kemudian diorganisir seperti garis, warna, bentuk, dan komposisi sampai tercapai suasana dan keselarasan yang diinginkan.



Gambar 2, 3, 4. Visual, konsep visual, dan lekhya
Pembentukan visual selesai, proses selanjutnya adalah menuliskan narasi, sebagai bagian unsur ekstrinsik dari visual. Namun demikian karena ketawang-lekhya membuat visual didahului dengan pemantik verbal (ketawang), maka verbal menjadi unsur ekstrinsik dari visual (lekhya).
Peristiwa seperti di atas saya sebut sebagai adumuka materi, proses menikahkan verbal-puisi dengan visual-gambar. Penyelarasan antara kecerdasan memori, pikiran, dan intuisi untuk memutuskan verbal-visual ketawang-lekhya sudah mewakili apa yang dimajaskan.
Akhir dari tulisan saya, menunggu katawang berdampingan dengan lekhya ditata dalam lembar kitab. Berupa buku ontologi puisi yang di-layout dengan huruf, gambar, dan kertas serta bentuk buku yang punya sisi cover dan belakang. Tampilan buku ontologi puisi ketawang dengan pernak-perniknya adalah bagian dari l dari mal, Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horisontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi). [T]
Referensi
- Asa Berger, Athur. 2000. Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.
- Dharma Palguna, IBM. 2024. 212 Ongkara Nama Tattwa Rupa Sastra. Sadampaty Aksara, Mataram.
- Sujana, Wayan, dkk. 2019. Light Pattern, Labirin Ruang Masif. Mudra Jurnal Seni Budaya, Volume 34 No 3, September, Institut Seni Indonesia Denpasar.
Penulis: Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























