3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KETAWANG-LEKHYA — Pengantar untuk Buku Puisi Hartanto

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
July 12, 2025
in Ulas Buku
KETAWANG-LEKHYA — Pengantar untuk Buku Puisi Hartanto

Buku "Ketawang, antologi puisi Hartanto"

POLA dan bentuk gending ketawang puspawarna bernuansa klasik, menjadi pemantik puisi-puisi Mas Hartanto yang bertajuk Ketawang. Namun demikian puisi-puisi berjumlah 34 tersebut setelah dibaca, saya diajak bertamasya ke tempat-tempat yang khas dan memunculkan Lekhya.

Momentum membaca Ketawang, antologi puisi Mas Hartanto, varalel dengan asosiasi kode visual pada ruang imajinasi saya. Bayangkan, menyingkap kata demi kata dan kemudian mengimajinasikan skuen visual menjadi proses yang paling saya nikmati. Menangkap esensi emosi dan citra yang terkandung dalam puisi tersebut, seperti terhubung dengan sesuatu yang hakiki, keindahan dan kebenaran yang terkandung dalam puisi.

Berhadapan dengan fenomena kode-kode verbal memicu respons emosional dan kognitif tertentu pada diri saya. Pengalaman kognitif inilah menjadi bekal untuk mengeksplorasi visual yang nantinya mendampingi verbal Ketawang. Simak misalnya bait puisi berjudul dari pesisir sanur;

kenapa bukan cinta yang tumbuh
dari sosok di sisimu
semata dahaga keindahan
atau dahaga kemasyuran
yang ia buru.

Saya menerka puisi di atas. Sanur kalau diibaratkan entitas memiliki daya pikat, kemudian berbagai ras datang mendekat. gundah-gulana menyesak dada, kerumunan manusia yang datang berniat memetik keindahan dan kemasyuranya, alih-alih menjaga kemurniannya malah mengeksplotasi dengan semena-mena. Hari ini Sanur dipadati hotel, villa, toko, restoran, dan mall serta bromocorah mengubah tata desa menjadi global village, juga tata nilai yang tak terhindarkan. Namun demikian, saya tetap menggunakan kata “cinta” dan kata “sosok” sebagai reka visual yakni sosok laki-perempuan, ditepian tebing diselimuti awan-awan.

Gambar 1. Desain breif lekhya Dari Pesisir Sanur

C.S Pierce menyebutkan tanda sebagai satu pegangan seseorang akibat keterikatannya dengan tanggapan atau kapasitasnya (Asa Berger: 2000). Menyimak puisi mengasosiasikan visual seperti Ongkara Adumuka. Peristiwa, ritus pertemuan dua Ongkara yang saling berhadap-hadapan muka. Saling mempertemukan ujung Nada, mengadu ketajaman atau keruncingan kedua ujung Nada. Dalam tradisi shastra di Bali dikenal dengan sebutan angadu tungtunging rwi (mengadu ujung duri). Dalam tradisi lisan disebut ngadu muncuk jarum (mengadu ujung jarum), mengadu muncuk taji (mengadu ujung taji) [Dharma Palguna: 2024].

Adumuka, pertemuan menyamakan frekwensi verbal-visual, hal tersebut merupakan proses penciptaan tahapan Making Art Blueprint of contemporary performance art based on community (membuat cetak biru seni rupa pertunjukan kontemporer berbasis masyarakat). Making blueprint ini adalah tahapan pertama metode mal, selanjutnya dijadikan acuan penciptaan karya dalam rangka mendampingi puisi-puisi Ketawang (Sujana: 2019). Tahapan kedua Accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam) dan yang ketiga Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horisontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi).

Saya berkehendak mewujudkan Lekhya (gambaran, lukisan) melengkapi puisi Ketawang, yang nantinya diharapkan dapat memperkuat makna dan memperluas pemahaman kita tentangnya (ketawang lekhya).

Menjangkar Ketawang, Adumuka, Lekhya, dan Mal

Saya berkeinginan ekspresi lukisan ini menjadi cerminan dari perasaan, gejolak emosional saat membaca puisi tersebut. Selanjutnya karya lukisan tersebut adalah upaya menangkap suasana hati dan perasaan yeng terkandung dalam puisi. Berulangkali saya membaca 34 puisi-puisi Ketawang, membiarkan kata-kata meresap ke dalam pikiran. Terus membaca dan menyimak, perangkat simbol-simbol dan metafora yang mengendap di kedalaman memori, ditarik ke dunia real berupa asoasiasi bentuk-bentuk ikonik.

Puisi menggunakan kata-kata esensial, melalui perenungan maka penentuan bahasi visual menggunakan sifat-sifat tersebut. Saya dapat terangkan beberapa kalimat dari puisi berjudul Maestoso Bening, menggugah ide-ide visual dalam pikiran sebagai berikut;

Kau, yang berhening di ruang bening
Memetik dawai rajutan rahasia jiwa,
Mengapa kau nyanyikan lagu purbani
tentang kelahiran dan kematian
ketika gerimis hadirkan tanda lewat pelangi.
Penuh cahaya dan warna
tanpa api
membakar tepi hati
Disana, tersimpan cahaya kebenaran,
Cerita matahari dan rembulan
Yang tak bisa kau sembunyikan.

Apa yang digambarkan secara verbal pada kata-kata tersebut di atas, langsung dapat diasosiasikan secara visual, saya tinggal menentukan icon untuk kebutuhan de-coding yang tepat dari kalimat Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran. Tahapan menjangkar kata/kalimat puisi (Ketawang) dan mempertemukan dengan asosiasi visual (Adumuka) maka kemudian mengasilkan keyword Lekhya (Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran). Keyword Lekhya adalahArt Blueprint yang dihasilkan dari proses riset ma tahapan m.

Metode mal Tahapan a

Kemudian dilanjutkan tahapan meng-creat komposisi, warna, bentuk, dan suasana pada bidang dwimatra yakni tahapan a (mal).

mal tahapan a, adalah langkah kedua dari metode mal yakni accomplish singularity contemporary performance art based on community with deep spirituality (menyelesaikan karya seni rupa pertunjukan kontemporer unik berbasis masyarakat melalui spiritualitas yang dalam). Langkah a dapat dilakukan berbekal keyword yang ditemukan pada tahapan m-making Art Blueprint yakni; Kau, yang berhening di ruang bening, Memetik dawai rajutan rahasia jiwa, Mengapa kau nyanyikan lagu purbani, dan Disana, tersimpan cahaya kebenaran.

Tahapan a, melalui beberapa langkah. Pertama menggali keyword verbal-visual, melakukan sketsa breif. Kemudian langkah kedua memilah-memilih sketsa breif menjadi visual-konsep visual. Ketiga langkah mematangkan konsep visual melalui visual-formating dan narasi. Tiga langkah saling membuncah, fleksibel dengan siklus spiral yang saling bertaut. Seperti menghancurkan visual yang tidak dihendaki, bisa juga menyulam dua visual untuk merangkai satu konsep visual. Aspek-asfek perupaan kemudian diorganisir seperti garis, warna, bentuk, dan komposisi sampai tercapai suasana dan keselarasan yang diinginkan.

Gambar 2, 3, 4. Visual, konsep visual, dan lekhya

Pembentukan visual selesai, proses selanjutnya adalah menuliskan narasi, sebagai bagian unsur ekstrinsik dari visual. Namun demikian karena ketawang-lekhya membuat visual didahului dengan pemantik verbal (ketawang), maka verbal menjadi unsur ekstrinsik dari visual (lekhya).

Peristiwa seperti di atas saya sebut sebagai adumuka materi, proses menikahkan verbal-puisi dengan visual-gambar. Penyelarasan antara kecerdasan memori, pikiran, dan intuisi untuk memutuskan verbal-visual ketawang-lekhya sudah mewakili apa yang dimajaskan.

Akhir dari tulisan saya, menunggu katawang berdampingan dengan lekhya ditata dalam lembar kitab. Berupa buku ontologi puisi yang di-layout dengan huruf, gambar, dan kertas serta bentuk buku yang punya sisi cover dan belakang. Tampilan buku ontologi puisi ketawang dengan pernak-perniknya adalah bagian dari l dari mal, Longitude and latitude make transfer point of deep feeling throughout presentation (garis bujur/horisontal dan garis lintang/vertikal membuat titik transfer rasa terdalam melalui presentasi). [T]

Referensi

  • Asa Berger, Athur. 2000. Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.
  • Dharma Palguna, IBM. 2024. 212 Ongkara Nama Tattwa Rupa Sastra. Sadampaty Aksara, Mataram.
  • Sujana, Wayan, dkk. 2019. Light Pattern, Labirin Ruang Masif. Mudra Jurnal Seni Budaya, Volume 34 No 3, September, Institut Seni Indonesia Denpasar.

Penulis: Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini
Jawa Tempo Doeloe: Wajah Jawa di Mata Orientalis Berkulit Pucat
Tags: buku puisiHartantoPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran “Тoba Bali Art Project 2025”: Kolaborasi Seniman Toba dan Bali di Santrian Art Gallery Sanur

Next Post

Tumpek Kandang, Manusia dan Alam Semesta

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Kandang, Manusia dan Alam Semesta

Tumpek Kandang, Manusia dan Alam Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co