25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
May 31, 2025
in Cerpen
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

AKU mengenal burung gagak sebagai burung pengabar kematian. Mungkin suara burung gagak yang terdengar di atas rumah seperti memanggil arwah seseorang untuk segera pulang. Saudara-saudara dan teman-temanku biasanya akan bergegas masuk kamar saat mendengar suara burung gagak, katanya mereka takut. Aku tak tahu apa yang ditakutkan. Tapi aku berusaha mengikuti arah suara burung itu. Aku ingin sekali melihat burung gagak hitam, tapi sampai dewasa aku tak pernah melihatnya secara langsung.

Di Pura Pangrebongan, Kesiman, saat ada upacara, palawatan (yang dipakai untuk membayangkan) Dewa berupa barong (berbentuk singa) dan rangda dihadirkan untuk berupacara. Sebelum prosesi acara dimulai, barong akan ditempatkan di sebuah balai di sebelah utara. Di bale itulah aku bisa dengan puas memandang barong dari Banjar Singgi Sanur yang bulu-bulunya terbuat dari bulu burung gagak hitam.

“Kalau barong dari Singgi sudah datang, barulah acara pengrebongan bisa dimulai, ” jelas seorang lelaki kepada perempuan disampingnya yang mengangguk pelan.

“Singgi itu kan tempat orang sakti-sakti kan?” bisik si perempuan.

Si lelaki mengganguk dan tersenyum. Aku tak mengerti apa yang di percakapan kedua orang itu. Yang aku kenal hanya satu barong di pengrebongan yang berwarna hitam yaitu barong dari Banjar Singgi, Sanur, yang katanya tempat orang-orang sakti.

Aku tak pernah tahu apa hubungan barong hitam, Singgi Sanur dan bulu gagak hitam, dan orang sakti.

Yang kutahu sampai saat ini aku suka warna hitam yang membuatku nyaman dan damai. Warna hitam yang sama dengan bulu bulu gagak hitam itu.

Saat mengantar Buda, seorang wartawan, aku berkesempatan mendengar cerita tentang asal muasal bulu barong hitam itu.

“Bulu-bulu burung gagak hitam untuk barong itu, didapat dengan memohon di sebuah pura dari sekitar  Mengwi, Badung. Kami memohon bulu gagak hitam kepada Bhatara di sana. Entah dari mana datangnya gagak-gagak hitam itu, tiba-tiba bulu-bulu gagak hitam telah memenuhi halaman pura,” cerita seorang lelaki yang dipanggil Jro Klian itu.

“Wah, merinding bulu tenggkuk tiang, Jro, “kata Buda sambil sambil meraba-raba tenggkuknya dan menunjukkan bulu-bulu tangannya yang berdiri.

Wawancara terhenti, Jro Klian diam, kemudian mengambil dupa dan menyalakannya. Buda melirik ke arahku, “Apakah kau tak merasakan energi dingin yang halus menyusup,” bisiknya.

Aku menggeleng, karena memang tak merasakan apa-apa.

“Beliau hadir dan menyapa kalian,” kata Jro Kelian serius. Buda langsung mencakupkan tangan,  menoleh padaku, memberi isyarat agar aku ikut mencakupkan tangan.

Buda melanjutkan wawancara, tetapi aku lebih tertarik melihat dari dekat Barong berbulu hitam yang tampak sangat dalam dan gagah itu.

Dalam perjalanan pulang Buda kembali memastikan kenapa aku tidak merasakan kehadiran “beliau” yang membuat bulu kuduk dan bulu tangannya berdiri.

“Mungkin karena tubuhku dominan air, sehingga kurang peka dengan energi dingin lainnya,” jawabku sekenanya.

Buda manggut-manggut, tapi tampaknya ia masih penasaran.

Di lain waktu, Buda kembali menggugatku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab sekenanya, yang akhirnya juga membuatku bertanya-tanya, dan terus bertanya.

Saat itu Buda mengajakku meliput acara upacara di sebuah pura dan mewancarai seorang pimpinan pemangku. Aku tak terlalu perhatian dengan pertanyaan Buda, mataku lebih tertuju pada adegan penari-penari tua yang menari gemulai, seperti daun dihembus angin.

Entah apa yang ditanya oleh Buda pada pimpinan pemangku, sehingga membuat Buda tegang seperti berusaha mengunci tubuhnya agar tidak kerasukan. Aku mendekatinya memeluk pinggangnya, berusaha menyentuh dan mengelus tulang belakang dan tengkuknya. Sentuhan dan belaianku, rupanya membuat Buda menjadi lebih tenang. Sementara para pemangku dan orang-orang mulai kerasukan, aku berhasil mengajak Buda keluar dari keriuhan orang-orang yang kerasukan.

Di luar pura, kami menenangkan diri, sebotol air dingin menyegarkan kembali ingatan Buda, sebelum aku mengantarnya pulang.

Keesokannya Buda ke rumahku  kembali dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab.

“Waktu itu aku rasakan ada hawa panas yang berusaha masuk ke tulang belakang dan tengkuk, aku berusaha menahannya, saat kau memegangku, hawa panas itu mendingin. Kenapa kau tidak kena hawa panas itu, Bagaimana kau melakukannya, dan kenapa aku bisa hampir kerasukan?” tanya Buda panjang lebar.

“Mungkin karena aku sakti, ” jawabku sombong sambil tertawa terbahak.

Mendengar jawabanku Buda hanya nyengir kuda. Kemudian bertanya serius dan bagiku sangat serius.

“Katamu, mungkin tubuhmu dominan air, kenapa tubuhmu tidak peka pada api, lalu kenapa hanya aku yang bisa merasakan, dan bisa melihat hal-hal yang tak bisa kau lihat,” tanya Buda lebih pada dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu juga kutanyakan pada diriku sendiri.

Walaupun kami sama-sama belum mendapat jawabannya. Buda masih sering bercerita padaku tentang pengalaman-pengalaman serunya sebagai wartawan. Juga tentang penglihatan-penglihatannya. Aku percaya padanya, karena apa yang dia lihat kadang bisa juga kurasakan, dan bisa kutemukan  logika-logikanya.

Sudah lama aku melihat bayangan-bayangan burung gagak hitam yang melintas-lintas di atas atap rumahku. Tak seperti pengalaman masa kecilku, aku tak mendengar suara gagak yang menjadi pengabar kematian.

Belakangan aku juga mendengar cicit anak burung-burung di atap rumahku. Bisa kurasakan suara dua cicit anak burung yang bersahutan.

Saat Buda ke rumahku, dia kaget dan ketakutan.

“Ada burung gagak hitam jahat bersarang di atap rumahmu, dengan dua anaknya,” kata Buda sambil cepat-cepat pergi dari rumahku. Anehnya walapun Buda mengatakan burung gagak dan dua anaknya adalah burung yang jahat, aku tak merasa takut. Mungkin karena kesukaanku pada warna hitam yang merupakan ciri khas bulu burung gagak.

Sejak itu Buda tak pernah mau lagi berkunjung ke rumahku. Buda memilih ketemu dan ngobrol bersamaku di warung atau di tempat-tempat umum, katanya biar obrolan kami tidak disadap.

Banyak hal yang terjadi sejak kehadiran dua anak burung itu, tapi kupahami semua itu adalah bagian dari pembelajaranku.

Kini tak kudengar lagi suara cicit dua anak burung.

Mungkin dia telah besar dan bisa terbang bebas.

Belakangan kudengar lagi suara burung gagak yang melintas-lintas di atas atap rumahku. Kali ini lengkingannya begitu keras, dan sangat keras, ia berputar- putar, seperti ada yang dicarinya. Aku penasaran, merusaha melihatnya dari sela rimbunan daun-daun kamboja.

Astaga, tubuh burung gagak hitam itu tinggi dan besar, menyerupai manusia hitam bersayap.

” Gaaak Gaaak Gaaak…..Di mana dia, di mana dia, ” suara paraunya melengking-lengking. Tumben aku merasa sedikit takut, sebelum hujan turun dengan deras dan suara petir menyambar-nyambar.

“Duaar!”

Terdengar ledakan, dan lengkingan parau suara gagak itu menghilang dan makin menghilang. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Leaaaaakkk | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Mimpi-mimpi Dewi Sri | Cerpen Mas Ruscitadewi
Gosip Apsara-Apsari | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Stasiun, Lorong, Diam

Next Post

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co