23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satire Visual Wayan Setem

Hartanto by Hartanto
May 11, 2025
in Ulas Rupa
Satire Visual Wayan Setem

I Wayan Setem, "Kapitalosen 2", Mix Media, Sampah Plastik dan Bubur Kertas

KARYA patung Wayan Setem bertajuk Kapitalosen. Istilah ini dicetuskan oleh sejarawan lingkungan Jason W. Moore yang mengkritik Antroposen dengan mengalihkan fokus dari manusia secara keseluruhan ke kapitalisme sebagai sistem historis yang mendorong kerusakan lingkungan. Jika Antroposen menunjukkan jejak lingkungan manusia, Kapitalosen menggarisbawahi premis ekonomi dan politik dari krisis iklim saat ini, yang terkait dengan perampasan kolonial jangka panjang dan eksploitasi ‘alam murah’.

Perspektif ini, merupakan pengejaran keuntungan dan pertumbuhan kapitalisme yang tiada henti. Selain itu, mengharuskan eksploitasi sumber daya alam, tenaga kerja murah, dan tanah. Pada sisi lain, perluasan industri, ekstraksi bahan bakar fosil yang tak terkendali, dan komodifikasi alam bukan sekadar aktivitas manusia, tetapi keharusan ekonomi menurut logika kapitalis. Kerangka pikir Kapitalosen, menyoroti bagaimana struktur kapitalisme melanggengkan kerusakan lingkungan melalui ketidaksetaraan ekonomi dan kekuatan perusahaan.

Persoalan kerusakan ekologi di Bali, tandas Wayan Setem. tidak hanya terjadi atas reaksi aktivitas perubahan alam, melainkan juga disajikan dengan desakan kapitalisme. Hal ini menunjukkan titik utama kerusakan lingkungan bukanlah suatu yang terjadi begitu saja atau sebuah kecelakaan belaka, melainkan kesengajaan kapitalisme. 

Karya  Setem, “Patung 2 Babi,” ini memang dapat dianalisis melalui lensa Kapitalosen, yang menyoroti kapitalisme sebagai pendorong utama kerusakan lingkungan. Patung ini, dengan detail yang rumit dan pola-pola kecil di seluruh permukaannya, mencerminkan kompleksitas dampak kapitalisme terhadap lingkungan.

Pola-pola tersebut dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari jaringan eksploitasi sumber daya alam, tenaga kerja murah, dan tanah yang saling terkait. Babi dengan fitur yang dilebih-lebihkan, seperti mata besar dan moncong yang menonjol, mungkin mengkritik sifat kapitalisme yang serakah dan tidak terkendali.

I Wayan Setem, “Mengeringkan Tradisi”, Instalasi Mix Media

Dalam konteks Bali, patung ini juga dapat merefleksikan bagaimana kapitalisme telah memengaruhi ekologi lokal. Desakan kapitalisme, seperti pembangunan pariwisata yang masif dan eksploitasi sumber daya alam, sering kali mengabaikan keseimbangan ekologi dan budaya lokal. Dengan demikian, karya ini tidak hanya menjadi kritik terhadap kapitalisme global tetapi juga terhadap dampaknya yang spesifik di Bali.

Melalui perspektif Kapitalosen, “Patung 2 Babi” dapat dilihat sebagai pengingat visual akan bagaimana struktur kapitalisme melanggengkan kerusakan lingkungan, baik secara global maupun lokal. Karya ini mengundang kita untuk merenungkan hubungan antara kerakusan ekonomi dan kehancuran ekologi.

Seperti kita ketahui, dalam seni rupa, estetika berfokus pada keindahan dan pengalaman visual. “Patung 2 Babi” dapat dianalisis dari segi bentuk, tekstur, dan komposisi. Misalnya, apakah patung ini menggunakan teknik cor bahan barang bekas? Bagaimana penggunaan ruang dan volume dalam karya ini? Apakah patung ini memiliki elemen yang menarik perhatian, seperti proporsi yang dilebih-lebihkan atau detail yang rumit? Semua ini berkontribusi pada pengalaman estetis penikmat

Sementara itu, pendekatan Semiotika mempelajari tanda dan simbol pada karya seni. Dalam konteks ini, babi dapat dilihat sebagai simbol kerakusan atau konsumsi berlebihan. Detail pada patung, seperti ekspresi wajah atau posisi tubuh, mungkin menyampaikan pesan tertentu tentang sifat manusia atau kritik terhadap kapitalisme. Interpretasi ini bergantung pada hubungan antara bentuk visual dan makna yang ingin disampaikan oleh perupanya.

Seni rupa, juga dapat dianalisis berdasarkan konteks sosial, budaya, dan sejarah. “Patung 2 Babi” mungkin mencerminkan kondisi lingkungan atau ekonomi di Bali, seperti dampak kapitalisme terhadap ekologi lokal. Dalam hal ini, karya seni menjadi medium untuk menyampaikan kritik sosial atau refleksi budaya. Misal kita menggabungkan beberapa pendekatan ini, kita dapat memahami “Patung 2 Babi” sebagai karya seni, tidak hanya memiliki nilai estetika – tetapi juga makna simbolis dan relevansi kontekstual. Oleh karenanya, perkenankan saya memberi istilah ‘satire visual’ pada karya tri matra Wayan Setem ini.

I Wayan Setem, “Kapitalosen 2”, Mix Media, Sampah Plastik dan Bubur Kertas

Yang cukup menarik perhatian saya, adalah karya trimatra Wayan Setem yang bertajuk “Mengeringkan Tradisi”. Karya trimatra ini menonjolkan esensi seni tiga dimensi, dimensi panjang, lebar, dan tinggi – yang memungkinkan penikmat mengapresiasi bentuk dari berbagai sudut pandang. Sebagai karya trimatra, objek tersebut tidak hanya berdiri sebagai gambar datar, melainkan mengukir ruang dan volume yang membuat interaksi visual menjadi lebih intens dan mendalam.

Karya “Mengeringkan Tradisi”  ini memadukan objek-objek tradisional dan modern yang dihadirkan dalam format trimatra, yakni sebuah instalasi tiga dimensi yang mengajak penikmat untuk menyaksikan dan mengeksplorasi ruang dari berbagai sudut. Secara visual, karya ini menampilkan beberapa elemen utama: Hanger (gantungan baju) dan topeng tradisional yang berwarna putih dan dari hidung ke bawah berwarna lain, serta helai rambut hitam panjang yang tergantung pada gantungan baju tersebut.

Topeng-topeng dengan aneka ragam ekspresi itu, menjadi simbol dari kekayaan budaya serta dinamika upacara atau ritual masa lalu. Sedangkan rambut yang panjang dan hitam melambangkan keberlangsungan, kenangan, atau bahkan penanda waktu yang terus berjalan, dan menghadirkan suasana magis. Sedangkan objek ‘hanger’, yang lazim terlihat dalam lingkungan urban dan rumah tangga modern, berperan sebagai ikon modern yang sangat kontras dengan nilai-nilai dan elemen tradisional yang diusung oleh karya tersebut

Penempatan hanger dalam karya ini seakan mengkritik dominasi budaya konsumer dan industrialisasi yang cenderung “mengeringkan” tradisi — yaitu mengikis keaslian, kedalaman spiritual, dan keramah-tamahan nilai-nilai lokal yang pernah hidup melalui ritual, kesenian, dan ekspresi budaya yang lebih alamiah. Dengan demikian, hanger muncul sebagai representasi visual dari penjajahan modernitas yang menekan dan mengubah tradisi menjadi sesuatu yang datar dan terstandardisasi.


Karya ini terdiri atas 23 unit sculptural yang masing-masing memiliki bentuk hitam melengkung dengan tekstur yang kuat, menyerupai rambut atau bulu. Tekstur semacam ini memberikan nuansa alamiah dan dinamis, seolah-olah setiap unit memiliki “kehidupan” tersendiri. Aksen emas berupa band yang menghiasi basis silinder tiap unit menambahkan elemen kemewahan dan keagungan. Warna emas sering diasosiasikan dengan nilai-nilai spiritual dan simbolisme keabadian dalam berbagai tradisi. Hingga, hadirnya elemen tersebut bisa menimbulkan ‘pembacaan’ mendalam mengenai identitas budaya (yang sedang di keringkan) atau mistisisme absurd dalam karya tersebut. Bentuk yang bersifat elongasi memberikan kesan gerakan yang terhenti, menciptakan ketegangan antara kekakuan dan fluiditas. Ini bisa mengundang penafsiran bahwa Wayan Setem ingin menyajikan persoalan ‘mengeringkan tradisi’ lewat ‘satire visual’.

Menurut interpretasi saya, karya Mengeringkan Tradisi ini mengundang kita untuk merenungi bagaimana nilai-nilai serta ekspresi budaya yang telah lama hidup dan berkembang kini tampak mengalami “pengeringan” atau penurunan esensi. Secara konseptual, istilah “mengeringkan” bisa dilihat sebagai metafora yang tajam—menggambarkan proses di mana tradisi yang dulu kaya warna, ritual, dan dinamika kini tersaji dalam bentuk yang tampak tereduksi, terfragmentasi, atau kehilangan taksunya. Karya ini sedang mengkritisi arus modernisasi yang sering kali mengikis dan mengubah nilai-nilai budaya tanpa memberikan ruang bagi upaya regenerasi dalam pemahaman makna.

Saya yakin, karya ini tidak hanya sebuah pameran estetis untuk konsumsi visual di era modern – namun masih ada kemungkinan untuk menghidupkan kembali kenangan dan makna tersebut secara autentik. Dengan demikian, karya yang bisa dikategorikan eco art  ini tidak hanya bersifat dekoratif, melainkan juga merupakan undangan untuk dialog mendalam mengenai relevansi budaya di tengah globalisasi dan modernitas .

Jika hendak memadankan kreatifitas ‘eco art’ Wayan Setem, maka saya anggap kekaryaan dan gagasan Setem berdekatan dengan pematung Inggris, Michelle Reader. Kreatifitasnya juga berorientasi ke ekologi. Ia acap berkarya dengan bahan-bahan yang didaur ulang dalam menciptakan patung-patung figuratif yang unik. Tema utama karya Michel adalah alam dan manusia. Sama seperti Setem, selain mengedepankan proses kreatif yang inovatif, karya-karya Michelle Reader juga kerap mengangkat narasi tentang kritik sosial terhadap kebiasaan konsumtif, pemborosan dan kerusakan alam oleh ulah manusia.

Michelle, dengan menggunakan bahan yang berasal dari limbah industri dan everyday waste – tidak hanya menciptakan objek estetis, namun juga menyisipkan pesan penting. Pesannya, mengenai bagaimana setiap material memiliki potensi untuk diubah menjadi karya seni yang bernilai. Sama dengan karya Setem, patung-patung Michell juga memberikan pandangan kritis tentang bagaimana masyarakat modern melakukan perusakan pada alam, serta menghasilkan limbah dalam jumlah besar.

I Wayan Setem, “Kapitalosen” 1, Mix Media, Sampah Plastik dan Bubur Kertas

Pendekatan kontekstual dalam karya Setem maupun Michelle juga menarik untuk diperhatikan. Sering kali, material yang dipilih memiliki hubungan langsung dengan subjek atau klien yang diwakili, menambahkan lapisan personalisasi dan kultural pada patung-patung mereka. Hal ini membuat setiap karya, tidak hanya sebagai pernyataan estetika, tetapi juga sebagai refleksi dari identitas dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Karya Michelle Reader maupun Setem, dengan demikian, menjadi jembatan antara keindahan visual dan pesan-pesan mendalam tentang tanggung jawab kita terhadap alam dan sumber daya yang semakin terbatas.

Lebih lanjut, saya tertarik menilik karya dwi matra Wayan Setem, yakni karya lukisnya yang bertajuk Tetes air kehidupan. Karya lukis berukuran 160 x 140 cm berbahan Akrilik di atas kanvas ini merupakan karyanya yang dibuat tahun 2023. Karya Setem ini, menurut saya  memiliki beberapa kemiripan dengan karya-karya Marc Chagall, terutama dalam hal penggunaan warna yang intens dan elemen simbolik yang kaya. Berikut beberapa poin perbandingan antara keduanya: Seperti Chagall, Setem menggunakan palet warna yang vibran untuk menciptakan atmosfer yang mendalam dan emosional pada karyanya. Misalnya, dalam karya Setem terdapat figur yang meneteskan cairan biru dan elemen api yang mengandung nuansa mistis.

Chagall juga terkenal dengan paduan warna cerah yang menciptakan dunia surealis, sekaligus menyampaikan kehangatan dan keajaiban yang terasa hampir seperti mimpi. Kedua seniman sangat mengandalkan simbolisme untuk menghadirkan narasi yang lebih dari sekadar visual. Pada karya Setem, elemen air seringkali menjadi metafora untuk kehidupan, transformasi, dan keseimbangan antara dinamika dan ketenangan. Marc Chagall, di sisi lain, menggabungkan elemen-elemen dari cerita rakyat, kenangan masa kecil, dan identitas kultural—sebagaimana terlihat dalam lukisan-lukisannya yang memadukan figur terbang, hewan, dan latar surealis. Meskipun keduanya mengusung unsur spiritual, Chagall lebih kental dengan nuansa nostalgia dan warisan budaya, sementara Setem menawarkan pendekatan yang lebih kontemporer dan filosofis.


Teknik ekspresif yang diterapkan oleh keduanya juga menambah dimensi emosional dalam karya mereka. Setem dengan sapuan kuas yang kuat dan lapisan tekstur memberikan kesan dinamis dan penuh gerakan, sedangkan Chagall dikenal dengan goresan lembut yang membangkitkan rasa khayalan dan keajaiban. Perbedaan teknik ini mencerminkan latar belakang budaya dan periode yang berbeda, namun sama-sama mengajak penikmat seni merasakan emosi melalui visual.

Pada intinya, meskipun terdapat beberapa kesamaan dalam penggunaan warna, simbolisme, dan penciptaan suasana magis, karya Setem dan Marc Chagall tetap berkembang dari konteks dan pengalaman yang berbeda. Karya Chagall sangat dipengaruhi oleh identitas budaya, kenangan masa kecil, serta cerita rakyat yang kental, sedangkan karya Setem cenderung mengangkat tema-tema kehidupan modern dengan sentuhan filsafat mendalam tentang dualitas dan transformasi.

Pada karya ini, Setem menggunakan teknik ekspresif dengan sapuan kuas yang tegas dan lapisan tekstur yang bervariasi, sehingga menghadirkan kesan gerak dan hidup. Teknik impasto – pengaplikasian cat secara tebal pada kanvas, memberikan dimensi yang nyata dan menonjolkan kekhasan setiap detail tetesan. Pendekatan ini tidak hanya menambah kedalaman visual, tetapi juga mencerminkan dinamika alam yang terus berubah, mengingatkan kita bahwa hidup adalah rangkaian momen yang saling terhubung melalui ritme waktu dan pergerakan.

Dalam konteks budaya dan filosofis, Tetes Air Kehidupan menyarankan gagasan bahwa sumber kehidupan tidak hanya hadir secara fisik melalui air, melainkan juga identik dengan perjalanan pencarian makna dan keseimbangan batin. Karya ini sejalan dengan tradisi pemikiran Timur yang menekankan keharmonisan antara alam dan manusia. Dengan menggabungkan unsur alam dan teknik modern, Setem berhasil menyampaikan pesan kritis tentang pentingnya menjaga keseimbangan – baik dalam konteks lingkungan maupun dalam kehidupan spiritual dan emosional manusia.

Lantas apa itu pesan kritis Setem? Air dalam karya ini tidak hanya mewakili vitalitas dan pembaruan, tetapi juga dapat dilihat sebagai metafora dari sumber daya yang sangat berharga namun kerap dieksploitasi. Di banyak destinasi pariwisata, terutama yang kaya akan keindahan alam, air sering kali menjadi komoditas yang dikelola secara intensif, kadang hingga pada titik kelangkaan. Dengan menghadirkan tetes air sebagai pusat simbolik, Setem mungkin mengajak penikmat untuk merenungkan bagaimana sumber-sumber alam—yang seharusnya menopang kehidupan—bisa tergerus oleh praktik industri (akomodasi?) yang tidak berkelanjutan.

I Wayan Setem “Tetes Air Kehidupan”, 2023, Acrylic on Canvas, 140 x 160

Mari kita perhatikan dengan baik, teknik penggunaan warna dan tekstur dalam karya ini menonjolkan dualitas antara keindahan alam yang alami dan tekanan komersial yang mencoba mengambil alih. Latar belakang dengan nuansa hangat dapat mewakili dinamika modernitas serta eksploitasi ekonomi, sedangkan tetesan air yang murni dan berkilau berfungsi sebagai pengingat akan esensi kehidupan yang seharusnya dilestarikan. Interpretasi ini menyiratkan bahwa di balik gemerlap industri pariwisata, terdapat realitas yang harus diwaspadai—yakni kerusakan terhadap lingkungan dan hilangnya keseimbangan alam, atau kelangkaan air dikemudian hari.

Melalui simbol dan komposisi visual yang kaya, karya ini juga dapat diartikan sebagai sindiran terhadap industri pariwisata yang kerap mengutamakan keuntungan ekonomi di atas keberlanjutan ekologis. Pemanfaatan sumber daya alam, seperti air, hanya sebatas simulakrum jika dibandingkan dengan betapa esensialnya alam tersebut bagi kehidupan. Dengan demikian, kritik yang dilontarkan tidak hanya menyoroti masalah lingkungan, tetapi juga kecenderungan konsumerisme berlebihan yang sering tampak dalam pembangunan dan pengelolaan akomodasi pariwisata yang kurang bijak.

Setem mungkin juga mengajak penikmatnya merenungkan berbagai aspek kehidupan modern, seperti hubungan manusia dengan alam, tantangan keberlanjutan, dan nilai-nilai spiritual yang seringkali terpinggirkan oleh kemajuan ekonomi. Dengan demikian, membaca karya Tetes Air Kehidupan sebagai suatu bentuk kritik halus terhadap industri pariwisata, khususnya pada dunia akomodasi, adalah salah satu pendekatan interpretatif yang valid. Pendekatan ini menawarkan wawasan tentang bagaimana eksploitasi sumber daya alam demi keuntungan komersial bisa mengeringkan “tetes air kehidupan” yang esensial bagi keberlangsungan hidup dan lingkungan. Wayan Setem, memang piawai menggagas ‘satire visual’. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
Tags: I Wayan SetemKomunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diskusi dan Pameran Seni dalam Peluncuran Fasilitas Black Soldier Fly di Kulidan Kitchen and Space

Next Post

Enggan Jadi Wartawan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Hari Pers Nasional Ke-79: Tak Semata Soal Teknologi

Enggan Jadi Wartawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co