8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 18, 2026
in Ulas Rupa
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepat pembukaan Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, hujan jatuh pelan-pelan namun konsisten—hingga menjelang pameran yang akan berlangsung jam satu siang ini. Langit seakan tidak bernegosiasi; menariknya, justru langit seakan mengaminkan puisi dari Irvan Bisri yang berjudul “Kepada Rerintik Hujan”, puisi terpilih yang mendampingi salah satu gambar Ferdi untuk dipamerkan.

Menjelang jam satu siang, beberapa orang datang dengan baju lembab, seakan habis diguyur menggunakan shower. Sialnya, narator yang akan memandu jalannya diskusi di minggu pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” tak kunjung datang. Pikiranku merantau jauh ke belakang, mengingat satu film yang bergesekan dengan seni rupa yaitu Mencuri Raden Saleh. Aku curiga Asmaran Dani menjual gambar-gambar Ferdi di cafe-cafe sepanjang jalan ia menuju Roemah Tumbuh Kembang, tempat berlangsungnya pameran. Bukan tanpa sebab, tepat dua hari sebelumnya pertamax naik, sementara pameran mesti berjalan dengan lancar.

Pesanku lambat dibalas oleh Asmaran Dani, tentu menanyakan tujuh gambar asli yang dibawanya dan gambar replika untuk di-display ruang indoor Roemah Tumbuh Kembang yang telah siap sejak pagi tadi. Lampu sorot di ruangan hanya menyorot dinding kosong; selain dinding kosong, yang paling menonjol adalah cat yang luntur akibat hujan yang tak pernah absen membasahi bagian dinding itu, seakan puisi di baris terakhir Irvan Bisri telah terukir di dinding kosong;

digugurkan dan di lain waktu dari tanah
(penghujan) itu; benih-benih rindu
kembali dibangkitkan.

Dengan tiga baris puisi terakhir Irvan Bisri, kekhawatiran akan Asmaran Dani yang tak kunjung datang terobati. Seakan puisi Irvan menjadi pesan kecil yang menumbuh di dinding; bahwa di balik tanah penghujan itu, benih-benih rindu kembali dibangkitkan. Dalam beberapa typography puisi Irvan, ia menggunakan tanda kurung pada puisinya “Kepada Rerintik Hujan”, seakan mempertegas beberapa makna yang hendak disampaikannya. Kata (penghujan) dan setelah itu ia membubuhkan tanda (;); meyakinkan sekali lagi bahwa benih-benih rindu kembali dibangkitkan.

Benar saja, Asmaran Dani membalas pesanku dengan emoticon tertawa. Pesanku yang mengaitkan keterlambatannya seperti di film Mencuri Raden Saleh. Setelah menertawai pesan itu, kabarnya ia menerobos gerimis, dibungkusnya menggunakan map plastik ketujuh gambar itu. Meski jam pameran telah tergelincir jatuh, seolah pengunjung lainnya pun menerobos banjir yang menggenang beberapa titik vital di jalan Kota Palembang.

Setelah datang, Asmaran Dani membawa dua kabar dengan senyum kecilnya.

Pesan Pertama: Bahwa, sebelum datang ke Roemah Tumbuh Kembang ia mengunjungi kediaman Ferdi yang gambarnya dipamerkan untuk menjemputnya. Namun, Ferdi menitip pesan dengan adiknya bahwa ia sedang menanam pisang di Pulo Kerto, sebuah kelurahan di penghujung Kota Palembang. Ferdi menghaturkan terima kasih dan maaf tidak bisa hadir untuk diskusi minggu pertama ini. Namun ini tidak mengejutkan, mengingat Ferdian Semai sejak 2017 mendekatkan hidupnya dengan alam. Meski sejak tahun 90-an ia aktif berkegiatan dengan Teater Potlot sebagai arsitek artistik; Teater Potlot mengusung tema-tema ekologi pada panggung pertunjukannya, seperti lakon “Rawa Gambut”, “Pindang”, dan “Puyang”.

 Pada 2018, lakon “Rawa Gambut” yang ditulis oleh Conie Sema mendapat anugerah Rawayan Award 2017 dari Dewan Kesenian Jakarta. Ini menunjukkan Ferdi tidak langsung mengalami perubahan mendadak dalam hidupnya; dekat dengan alam sudah terjadi tiga dekade lalu melalui teks-teks Teater Potlot.

Menariknya, Ferdi tidak ingin fotonya dipajang, apalagi ia berada di tempat terang dan panggung tinggi. Menurut Asmaran Dani, Ferdi tidak ingin ia sebagai seniman yang diasuh dan disusui; cukuplah karyanya saja yang diasuh dan disusui. Ia terus merawat kebunnya, menanam pisang dan sayur. Meski karyanya hari ini dibahas dan dipamerkan, cukuplah karyanya saja, tutupnya.

Pesan kedua, datang dari Irvan Bisri, seorang penyair yang karyanya menjadi tema diskusi pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”; ia sedang dirawat di rumah sakit. Pesan ini sontak saja membuat tersentuh. Karena, Irvan meluangkan waktunya untuk mengirimkan puisinya kepada Opus Sastra. Sejak awal, Opus Sastra membuka Open Submission untuk para penyair di mana pun berada agar terlibat dalam merespons gambar-gambar Ferdi. Menariknya, Opus Sastra dapat dijangkau oleh penyair-penyair dari luar Palembang; bahkan beberapa penyair yang mengirim karya berasal dari Pulau Jawa, termasuk Irvan Bisri.

Namun, dua pesan Asmaran Dani tadi belumlah cukup rasanya jika kita menelisik keseluruhan peristiwa pada Pameran Dialog Ferdi dan Opus Sastra. Sebab, ada banyak peristiwa pada diskusi di minggu pertama ini.

Salah satu penulis yang akan mengemban tugas menulis kegiatan pameran ini sebenarnya adalah Salman Alfarisy, bukan saya. Namun, ada peristiwa yang rasanya lebih penting. Adiknya di kampung halaman ingin daftar sekolah; alhasil penulis yang seharusnya menulis rangkuman pameran ini meninggalkan Kota Palembang tepat H-1 kegiatan ini berlangsung.

Tapi ini tidak jadi soal. Sebab masih banyak penulis yang dapat merangkum tulisan setelah pameran, jika ia benar-benar hadir dan khusyuk sejak awal. Menjadi titik permasalahan adalah ketika pameran akan segera berlangsung, hanya ada beberapa orang yang setia menunggu hingga hujan reda dan berdoa para pengunjung dan narator segera datang.

Salah satu pengunjung pameran yang setia sejak sebelum jam dimulai adalah Eko Saputra, seorang mahasiswa filsafat. Jam-jam telah berganti, dari angka satu ke lainnya. Tapi ia tetap setia, duduk dan membaca buku untuk membakar waktu. Benar saja, tidak hanya menempatkan diri sebagai pengunjung, Eko dengan sigap membantu Asmaran Dani ketika Dani baru datang dengan senyum tipisnya. Terlontar sebuah celetukan spontan dariku saat itu, “Ko, kamu ini seperti ibu.” Lalu, aku melanjutkan, “Merawat dan mengasuh, dan itu tidak dimiliki oleh kolektif hari ini. Dan orang seperti kamu yang memiliki sisi ibu, penting sekali untuk keberlangsungan kesenian dan budaya. Bukan merawat seniman, tapi merawat karya yang dibuat oleh seniman itu.”

Eko tersenyum saja, dan tangannya khusyuk membingkai replika gambar-gambar Ferdi yang hendak di-display.

Setelah semuanya selesai terpajang, sesi diskusi dibuka. Menjadi catatan penting adalah ketika penulis yang karyanya juga terpampang pada empat puisi terpilih menemani gambar Ferdi, juga telat dengan badan tidak basah sekalipun. Semua heran, dan alasan satu lainnya sama: hujan. Suasana diskusi pecah ketika sebuah lontaran menggelincir di lidahku, “Baru hujan air kita sudah begini, apalagi hujan peluru.” Semua tertawa, dan beberapa pengunjung memasang muka serius seperti tamparan atas keterlambatan mereka.

Menariknya, ini menjadi bahan bakar diskusi. Semua terpantik, termasuk pengunjung. Dialog terjadi begitu dekat; bahkan Asmaran Dani sebagai kurator saat itu membebaskan tafsir yang keluar dari imajinasi dan mulut siapa pun. Tidak ada yang jadi juru hakim; ia bersemayam di sana sejak diskusi berlangsung. Semuanya membebaskan pembicaraan; dari mengaitkan film, Pancasila, sosial, lingkungan, dan kartun.

Sampai diskusi berakhir, ditutup dengan muka cemas, semringah, ada juga yang termenung. Tidak ada yang pulang langsung ke rumah; pengunjung menempati tempat duduk dan melanjutkan diskusi, berdebat, dan termenung memilih sudut gelap di Roemah Tumbuh Kembang. [T]

Palembang, 16 Juni 2026.

Tags: PalembangPameran Seni RupaPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Next Post

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails
Next Post
(Bukan) Demokrasi Kita

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa "Indonesia Bangkrut"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co