18 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 18, 2026
in Ulas Rupa
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepat pembukaan Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, hujan jatuh pelan-pelan namun konsisten—hingga menjelang pameran yang akan berlangsung jam satu siang ini. Langit seakan tidak bernegosiasi; menariknya, justru langit seakan mengaminkan puisi dari Irvan Bisri yang berjudul “Kepada Rerintik Hujan”, puisi terpilih yang mendampingi salah satu gambar Ferdi untuk dipamerkan.

Menjelang jam satu siang, beberapa orang datang dengan baju lembab, seakan habis diguyur menggunakan shower. Sialnya, narator yang akan memandu jalannya diskusi di minggu pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” tak kunjung datang. Pikiranku merantau jauh ke belakang, mengingat satu film yang bergesekan dengan seni rupa yaitu Mencuri Raden Saleh. Aku curiga Asmaran Dani menjual gambar-gambar Ferdi di cafe-cafe sepanjang jalan ia menuju Roemah Tumbuh Kembang, tempat berlangsungnya pameran. Bukan tanpa sebab, tepat dua hari sebelumnya pertamax naik, sementara pameran mesti berjalan dengan lancar.

Pesanku lambat dibalas oleh Asmaran Dani, tentu menanyakan tujuh gambar asli yang dibawanya dan gambar replika untuk di-display ruang indoor Roemah Tumbuh Kembang yang telah siap sejak pagi tadi. Lampu sorot di ruangan hanya menyorot dinding kosong; selain dinding kosong, yang paling menonjol adalah cat yang luntur akibat hujan yang tak pernah absen membasahi bagian dinding itu, seakan puisi di baris terakhir Irvan Bisri telah terukir di dinding kosong;

digugurkan dan di lain waktu dari tanah
(penghujan) itu; benih-benih rindu
kembali dibangkitkan.

Dengan tiga baris puisi terakhir Irvan Bisri, kekhawatiran akan Asmaran Dani yang tak kunjung datang terobati. Seakan puisi Irvan menjadi pesan kecil yang menumbuh di dinding; bahwa di balik tanah penghujan itu, benih-benih rindu kembali dibangkitkan. Dalam beberapa typography puisi Irvan, ia menggunakan tanda kurung pada puisinya “Kepada Rerintik Hujan”, seakan mempertegas beberapa makna yang hendak disampaikannya. Kata (penghujan) dan setelah itu ia membubuhkan tanda (;); meyakinkan sekali lagi bahwa benih-benih rindu kembali dibangkitkan.

Benar saja, Asmaran Dani membalas pesanku dengan emoticon tertawa. Pesanku yang mengaitkan keterlambatannya seperti di film Mencuri Raden Saleh. Setelah menertawai pesan itu, kabarnya ia menerobos gerimis, dibungkusnya menggunakan map plastik ketujuh gambar itu. Meski jam pameran telah tergelincir jatuh, seolah pengunjung lainnya pun menerobos banjir yang menggenang beberapa titik vital di jalan Kota Palembang.

Setelah datang, Asmaran Dani membawa dua kabar dengan senyum kecilnya.

Pesan Pertama: Bahwa, sebelum datang ke Roemah Tumbuh Kembang ia mengunjungi kediaman Ferdi yang gambarnya dipamerkan untuk menjemputnya. Namun, Ferdi menitip pesan dengan adiknya bahwa ia sedang menanam pisang di Pulo Kerto, sebuah kelurahan di penghujung Kota Palembang. Ferdi menghaturkan terima kasih dan maaf tidak bisa hadir untuk diskusi minggu pertama ini. Namun ini tidak mengejutkan, mengingat Ferdian Semai sejak 2017 mendekatkan hidupnya dengan alam. Meski sejak tahun 90-an ia aktif berkegiatan dengan Teater Potlot sebagai arsitek artistik; Teater Potlot mengusung tema-tema ekologi pada panggung pertunjukannya, seperti lakon “Rawa Gambut”, “Pindang”, dan “Puyang”.

 Pada 2018, lakon “Rawa Gambut” yang ditulis oleh Conie Sema mendapat anugerah Rawayan Award 2017 dari Dewan Kesenian Jakarta. Ini menunjukkan Ferdi tidak langsung mengalami perubahan mendadak dalam hidupnya; dekat dengan alam sudah terjadi tiga dekade lalu melalui teks-teks Teater Potlot.

Menariknya, Ferdi tidak ingin fotonya dipajang, apalagi ia berada di tempat terang dan panggung tinggi. Menurut Asmaran Dani, Ferdi tidak ingin ia sebagai seniman yang diasuh dan disusui; cukuplah karyanya saja yang diasuh dan disusui. Ia terus merawat kebunnya, menanam pisang dan sayur. Meski karyanya hari ini dibahas dan dipamerkan, cukuplah karyanya saja, tutupnya.

Pesan kedua, datang dari Irvan Bisri, seorang penyair yang karyanya menjadi tema diskusi pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”; ia sedang dirawat di rumah sakit. Pesan ini sontak saja membuat tersentuh. Karena, Irvan meluangkan waktunya untuk mengirimkan puisinya kepada Opus Sastra. Sejak awal, Opus Sastra membuka Open Submission untuk para penyair di mana pun berada agar terlibat dalam merespons gambar-gambar Ferdi. Menariknya, Opus Sastra dapat dijangkau oleh penyair-penyair dari luar Palembang; bahkan beberapa penyair yang mengirim karya berasal dari Pulau Jawa, termasuk Irvan Bisri.

Namun, dua pesan Asmaran Dani tadi belumlah cukup rasanya jika kita menelisik keseluruhan peristiwa pada Pameran Dialog Ferdi dan Opus Sastra. Sebab, ada banyak peristiwa pada diskusi di minggu pertama ini.

Salah satu penulis yang akan mengemban tugas menulis kegiatan pameran ini sebenarnya adalah Salman Alfarisy, bukan saya. Namun, ada peristiwa yang rasanya lebih penting. Adiknya di kampung halaman ingin daftar sekolah; alhasil penulis yang seharusnya menulis rangkuman pameran ini meninggalkan Kota Palembang tepat H-1 kegiatan ini berlangsung.

Tapi ini tidak jadi soal. Sebab masih banyak penulis yang dapat merangkum tulisan setelah pameran, jika ia benar-benar hadir dan khusyuk sejak awal. Menjadi titik permasalahan adalah ketika pameran akan segera berlangsung, hanya ada beberapa orang yang setia menunggu hingga hujan reda dan berdoa para pengunjung dan narator segera datang.

Salah satu pengunjung pameran yang setia sejak sebelum jam dimulai adalah Eko Saputra, seorang mahasiswa filsafat. Jam-jam telah berganti, dari angka satu ke lainnya. Tapi ia tetap setia, duduk dan membaca buku untuk membakar waktu. Benar saja, tidak hanya menempatkan diri sebagai pengunjung, Eko dengan sigap membantu Asmaran Dani ketika Dani baru datang dengan senyum tipisnya. Terlontar sebuah celetukan spontan dariku saat itu, “Ko, kamu ini seperti ibu.” Lalu, aku melanjutkan, “Merawat dan mengasuh, dan itu tidak dimiliki oleh kolektif hari ini. Dan orang seperti kamu yang memiliki sisi ibu, penting sekali untuk keberlangsungan kesenian dan budaya. Bukan merawat seniman, tapi merawat karya yang dibuat oleh seniman itu.”

Eko tersenyum saja, dan tangannya khusyuk membingkai replika gambar-gambar Ferdi yang hendak di-display.

Setelah semuanya selesai terpajang, sesi diskusi dibuka. Menjadi catatan penting adalah ketika penulis yang karyanya juga terpampang pada empat puisi terpilih menemani gambar Ferdi, juga telat dengan badan tidak basah sekalipun. Semua heran, dan alasan satu lainnya sama: hujan. Suasana diskusi pecah ketika sebuah lontaran menggelincir di lidahku, “Baru hujan air kita sudah begini, apalagi hujan peluru.” Semua tertawa, dan beberapa pengunjung memasang muka serius seperti tamparan atas keterlambatan mereka.

Menariknya, ini menjadi bahan bakar diskusi. Semua terpantik, termasuk pengunjung. Dialog terjadi begitu dekat; bahkan Asmaran Dani sebagai kurator saat itu membebaskan tafsir yang keluar dari imajinasi dan mulut siapa pun. Tidak ada yang jadi juru hakim; ia bersemayam di sana sejak diskusi berlangsung. Semuanya membebaskan pembicaraan; dari mengaitkan film, Pancasila, sosial, lingkungan, dan kartun.

Sampai diskusi berakhir, ditutup dengan muka cemas, semringah, ada juga yang termenung. Tidak ada yang pulang langsung ke rumah; pengunjung menempati tempat duduk dan melanjutkan diskusi, berdebat, dan termenung memilih sudut gelap di Roemah Tumbuh Kembang. [T]

Palembang, 16 Juni 2026.

Tags: PalembangPameran Seni RupaPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Next Post

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails
Next Post
(Bukan) Demokrasi Kita

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa "Indonesia Bangkrut"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang
Ulas Rupa

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

by Mahesa Putra
June 18, 2026
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda
Panggung

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas
Esai

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

by Pande Susan
June 18, 2026
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain
Esai

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

by Angga Wijaya
June 18, 2026
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’
Pop

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang...

by Dede Putra Wiguna
June 18, 2026
Bung Karno di Rumah Petani   
Esai

Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar
Kuliner

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

by Jaswanto
June 17, 2026
Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Penjor Kesadaran di Tengah Gemerlap Bali: Galungan, Pariwisata, dan Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang...

by Agung Sudarsa
June 17, 2026
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co