9 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 18, 2026
in Ulas Rupa
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepat pembukaan Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”, hujan jatuh pelan-pelan namun konsisten—hingga menjelang pameran yang akan berlangsung jam satu siang ini. Langit seakan tidak bernegosiasi; menariknya, justru langit seakan mengaminkan puisi dari Irvan Bisri yang berjudul “Kepada Rerintik Hujan”, puisi terpilih yang mendampingi salah satu gambar Ferdi untuk dipamerkan.

Menjelang jam satu siang, beberapa orang datang dengan baju lembab, seakan habis diguyur menggunakan shower. Sialnya, narator yang akan memandu jalannya diskusi di minggu pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” tak kunjung datang. Pikiranku merantau jauh ke belakang, mengingat satu film yang bergesekan dengan seni rupa yaitu Mencuri Raden Saleh. Aku curiga Asmaran Dani menjual gambar-gambar Ferdi di cafe-cafe sepanjang jalan ia menuju Roemah Tumbuh Kembang, tempat berlangsungnya pameran. Bukan tanpa sebab, tepat dua hari sebelumnya pertamax naik, sementara pameran mesti berjalan dengan lancar.

Pesanku lambat dibalas oleh Asmaran Dani, tentu menanyakan tujuh gambar asli yang dibawanya dan gambar replika untuk di-display ruang indoor Roemah Tumbuh Kembang yang telah siap sejak pagi tadi. Lampu sorot di ruangan hanya menyorot dinding kosong; selain dinding kosong, yang paling menonjol adalah cat yang luntur akibat hujan yang tak pernah absen membasahi bagian dinding itu, seakan puisi di baris terakhir Irvan Bisri telah terukir di dinding kosong;

digugurkan dan di lain waktu dari tanah
(penghujan) itu; benih-benih rindu
kembali dibangkitkan.

Dengan tiga baris puisi terakhir Irvan Bisri, kekhawatiran akan Asmaran Dani yang tak kunjung datang terobati. Seakan puisi Irvan menjadi pesan kecil yang menumbuh di dinding; bahwa di balik tanah penghujan itu, benih-benih rindu kembali dibangkitkan. Dalam beberapa typography puisi Irvan, ia menggunakan tanda kurung pada puisinya “Kepada Rerintik Hujan”, seakan mempertegas beberapa makna yang hendak disampaikannya. Kata (penghujan) dan setelah itu ia membubuhkan tanda (;); meyakinkan sekali lagi bahwa benih-benih rindu kembali dibangkitkan.

Benar saja, Asmaran Dani membalas pesanku dengan emoticon tertawa. Pesanku yang mengaitkan keterlambatannya seperti di film Mencuri Raden Saleh. Setelah menertawai pesan itu, kabarnya ia menerobos gerimis, dibungkusnya menggunakan map plastik ketujuh gambar itu. Meski jam pameran telah tergelincir jatuh, seolah pengunjung lainnya pun menerobos banjir yang menggenang beberapa titik vital di jalan Kota Palembang.

Setelah datang, Asmaran Dani membawa dua kabar dengan senyum kecilnya.

Pesan Pertama: Bahwa, sebelum datang ke Roemah Tumbuh Kembang ia mengunjungi kediaman Ferdi yang gambarnya dipamerkan untuk menjemputnya. Namun, Ferdi menitip pesan dengan adiknya bahwa ia sedang menanam pisang di Pulo Kerto, sebuah kelurahan di penghujung Kota Palembang. Ferdi menghaturkan terima kasih dan maaf tidak bisa hadir untuk diskusi minggu pertama ini. Namun ini tidak mengejutkan, mengingat Ferdian Semai sejak 2017 mendekatkan hidupnya dengan alam. Meski sejak tahun 90-an ia aktif berkegiatan dengan Teater Potlot sebagai arsitek artistik; Teater Potlot mengusung tema-tema ekologi pada panggung pertunjukannya, seperti lakon “Rawa Gambut”, “Pindang”, dan “Puyang”.

 Pada 2018, lakon “Rawa Gambut” yang ditulis oleh Conie Sema mendapat anugerah Rawayan Award 2017 dari Dewan Kesenian Jakarta. Ini menunjukkan Ferdi tidak langsung mengalami perubahan mendadak dalam hidupnya; dekat dengan alam sudah terjadi tiga dekade lalu melalui teks-teks Teater Potlot.

Menariknya, Ferdi tidak ingin fotonya dipajang, apalagi ia berada di tempat terang dan panggung tinggi. Menurut Asmaran Dani, Ferdi tidak ingin ia sebagai seniman yang diasuh dan disusui; cukuplah karyanya saja yang diasuh dan disusui. Ia terus merawat kebunnya, menanam pisang dan sayur. Meski karyanya hari ini dibahas dan dipamerkan, cukuplah karyanya saja, tutupnya.

Pesan kedua, datang dari Irvan Bisri, seorang penyair yang karyanya menjadi tema diskusi pertama “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”; ia sedang dirawat di rumah sakit. Pesan ini sontak saja membuat tersentuh. Karena, Irvan meluangkan waktunya untuk mengirimkan puisinya kepada Opus Sastra. Sejak awal, Opus Sastra membuka Open Submission untuk para penyair di mana pun berada agar terlibat dalam merespons gambar-gambar Ferdi. Menariknya, Opus Sastra dapat dijangkau oleh penyair-penyair dari luar Palembang; bahkan beberapa penyair yang mengirim karya berasal dari Pulau Jawa, termasuk Irvan Bisri.

Namun, dua pesan Asmaran Dani tadi belumlah cukup rasanya jika kita menelisik keseluruhan peristiwa pada Pameran Dialog Ferdi dan Opus Sastra. Sebab, ada banyak peristiwa pada diskusi di minggu pertama ini.

Salah satu penulis yang akan mengemban tugas menulis kegiatan pameran ini sebenarnya adalah Salman Alfarisy, bukan saya. Namun, ada peristiwa yang rasanya lebih penting. Adiknya di kampung halaman ingin daftar sekolah; alhasil penulis yang seharusnya menulis rangkuman pameran ini meninggalkan Kota Palembang tepat H-1 kegiatan ini berlangsung.

Tapi ini tidak jadi soal. Sebab masih banyak penulis yang dapat merangkum tulisan setelah pameran, jika ia benar-benar hadir dan khusyuk sejak awal. Menjadi titik permasalahan adalah ketika pameran akan segera berlangsung, hanya ada beberapa orang yang setia menunggu hingga hujan reda dan berdoa para pengunjung dan narator segera datang.

Salah satu pengunjung pameran yang setia sejak sebelum jam dimulai adalah Eko Saputra, seorang mahasiswa filsafat. Jam-jam telah berganti, dari angka satu ke lainnya. Tapi ia tetap setia, duduk dan membaca buku untuk membakar waktu. Benar saja, tidak hanya menempatkan diri sebagai pengunjung, Eko dengan sigap membantu Asmaran Dani ketika Dani baru datang dengan senyum tipisnya. Terlontar sebuah celetukan spontan dariku saat itu, “Ko, kamu ini seperti ibu.” Lalu, aku melanjutkan, “Merawat dan mengasuh, dan itu tidak dimiliki oleh kolektif hari ini. Dan orang seperti kamu yang memiliki sisi ibu, penting sekali untuk keberlangsungan kesenian dan budaya. Bukan merawat seniman, tapi merawat karya yang dibuat oleh seniman itu.”

Eko tersenyum saja, dan tangannya khusyuk membingkai replika gambar-gambar Ferdi yang hendak di-display.

Setelah semuanya selesai terpajang, sesi diskusi dibuka. Menjadi catatan penting adalah ketika penulis yang karyanya juga terpampang pada empat puisi terpilih menemani gambar Ferdi, juga telat dengan badan tidak basah sekalipun. Semua heran, dan alasan satu lainnya sama: hujan. Suasana diskusi pecah ketika sebuah lontaran menggelincir di lidahku, “Baru hujan air kita sudah begini, apalagi hujan peluru.” Semua tertawa, dan beberapa pengunjung memasang muka serius seperti tamparan atas keterlambatan mereka.

Menariknya, ini menjadi bahan bakar diskusi. Semua terpantik, termasuk pengunjung. Dialog terjadi begitu dekat; bahkan Asmaran Dani sebagai kurator saat itu membebaskan tafsir yang keluar dari imajinasi dan mulut siapa pun. Tidak ada yang jadi juru hakim; ia bersemayam di sana sejak diskusi berlangsung. Semuanya membebaskan pembicaraan; dari mengaitkan film, Pancasila, sosial, lingkungan, dan kartun.

Sampai diskusi berakhir, ditutup dengan muka cemas, semringah, ada juga yang termenung. Tidak ada yang pulang langsung ke rumah; pengunjung menempati tempat duduk dan melanjutkan diskusi, berdebat, dan termenung memilih sudut gelap di Roemah Tumbuh Kembang. [T]

Palembang, 16 Juni 2026.

Tags: PalembangPameran Seni RupaPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

Next Post

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails
Next Post
(Bukan) Demokrasi Kita

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa "Indonesia Bangkrut"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa
Ulas Rupa

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

by Sugi Lanus
July 7, 2026
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja
Esai

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

by Satria Aditya
July 7, 2026
Era Chatting Telah Berlalu
Esai

Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

by Angga Wijaya
July 7, 2026
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan
Esai

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar
Khas

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak...

by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co