13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengagumi Mobil Mini

Jaswanto by Jaswanto
June 22, 2026
in Khas
Mengagumi Mobil Mini

Tomica Limited Vintage Neo Daihatsu Delta Van's yang dipamerkan di lapak Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (IAM) 2026 di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya, Sabtu, 20 Juni 2026. Beberapa jam sebelumnya kami memang sudah berjanji untuk bertemu. “Ridwan,” katanya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum ramah, sebelum ia menawarkan beberapa pilihan tempat untuk melakukan wawancara. Ridwan bernama lengkap Akhmad Muhajir Ridwan, Ketua Komunitas Pemburu Diecast Surabaya. Ia sudah mengemban tanggung jawab itu selama empat tahun. Sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan swasta di industri ekspor-impor kayu.

Sebelum menjawab tawaran Ridwan, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lokasi pameran dan kompetisi modifikasi serta gaya hidup otomotif terbesar di Asia Tenggara—yang kini kian merambah panggung global—itu dipadati pengunjung. Di berbagai sudut, mobil-mobil dengan modifikasi bergaya street racing, JDM, VIP Style, audio ekstrem, hingga show car berkonsep nyentrik memamerkan pesonanya masing-masing.

Namun, perhatian saya justru tertambat pada sebuah meja kayu yang disulap menjadi parkiran mini bergaya urban itu. Di atasnya, puluhan mobil mungil berjajar rapi. Ada Mini GT Nissan Silvia S15 LBWK, Tomica Limited Vintage Neo Daihatsu Delta Van, hingga berbagai model Ferrari. Ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan, tetapi benda-benda kecil itu seperti menjadi pusat percakapan yang tak kalah serius dibanding mobil sungguhan yang sama-sama dipamerkan.

Mini-GT Silvia S15 LBWK yang dipamerkan Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lihatlah, di sudut kanan saya, orang-orang itu menunduk, menunjuk detail bodi, warna cat, jenis velg, keaslian kemasan, memperdebatkan kelangkaan seri tertentu. Di hadapan deretan miniatur itu, skala tampaknya mengecil, tetapi gairah para penggemarnya tetap sama besarnya. Sebagian dari mereka sibuk memotretnya dengan latar diorama jalan raya mini. Dan sesekali terdengar tawa riang layaknya kanak-kanak.

“Ini namanya die-cast dan miniscale, Mas,” kata Ridwan, memperkenalkan deretan mobil mungil yang memenuhi meja itu. “Koleksi teman-teman,” sambungnya.

Saya hanya mengangguk. Entah kenapa, di hadapan benda-benda berukuran mini itu, rasa kagum bisa muncul begitu saja. Sulit membayangkan bahwa mobil yang panjangnya hanya beberapa sentimeter ini mampu memikat begitu banyak perhatian―kebanyakan orang dewasa malah. Setiap unit―orang-orang menyebutnya item―tampak dikerjakan dengan ketelitian luar biasa: lekuk bodi, desain velg, warna cat, hingga detail lampu dibuat menyerupai kendaraan aslinya―beberapa replika lampu utama miniatur mobil terbuat dari mika, sementara lainnya cukup dipoles dengan cat warna.

Bagi mata awam seperti saya, ini semua mungkin hanya mainan anak-anak. Namun bagi para kolektornya, benda-benda kecil itu mungkin saja dianggap representasi dari dunia otomotif yang dipadatkan ke dalam genggaman tangan. Pun barang-barang berharga yang memiliki kisahnya sendiri.

***

RIDWAN mengajak saya duduk di deretan kursi di dekat lapaknya. Di tengah riuh pengunjung yang hilir-mudik menikmati pameran dan berbelanja, kami mencari sedikit ruang untuk berbincang lebih dalam. Percakapan itu turut ditemani Mochammad Alifudin Firmansyah, yang akrab dipanggil Alif, salah satu sosok yang selama ini membantu Ridwan mengelola komunitas Pemburu Diecast Surabaya, atau yang lebih dikenal dengan singkatan PDS.

Mobil-mobil mini berbagai merek koleksi anggota Komunitas Pemburu Diecast di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dari tempat kami duduk, deretan mobil mini yang dipajang anggota komunitas masih terlihat jelas. Sesekali beberapa pengunjung berhenti, mengamati koleksi yang dipamerkan, lalu mengajukan pertanyaan. Ridwan dan Alif tampak sudah terbiasa melayani rasa ingin tahu semacam itu. Bagi mereka, lapak tersebut bukan sekadar tempat memamerkan koleksi, melainkan juga ruang untuk memperkenalkan dunia die-cast dan miniscale―miniatur kendaraan atau diorama yang dibuat dengan tingkat detail, akurasi dimensi, dan presisi yang sangat tinggi―kepada orang-orang yang baru pertama kali bersentuhan dengannya.

Pemburu Diecast Surabaya, Ridwan bercerita, berawal dari kelompok kecil yang lahir pada 17 Desember 2019. Awalnya merupakan bagian dari jaringan komunitas di Jakarta sebelum kemudian berdiri mandiri sekitar tahun 2020. “Awalnya cuma lima sampai enam orang,” kata Ridwan. Tetapi kini, jumlah anggota grup telah melampaui 200 orang, dengan sekitar 60 hingga 70 anggota aktif yang rutin mengikuti kegiatan komunitas. Mereka datang dari berbagai latar belakang pekerjaan dan usia, tetapi dipersatukan oleh kecintaan yang sama terhadap mobil mini berbahan logam itu.

“PDS tidak sekadar menjadi tempat jual-beli atau pamer koleksi saja, Mas,” kata Ridwan kepada saya, “komunitas ini juga berfungsi sebagai ‘rumah bersama’ bagi para pecinta die-cast dan miniscale di Surabaya.” Ya, saya meyaksikannya sendiri bagaimana para anggota PDS saling bertukar informasi mengenai produk baru, berbagi pengetahuan tentang keaslian barang, hingga belajar menghindari berbagai modus penipuan yang kerap muncul dalam dunia koleksi.

Akhmad Muhajir Ridwan, Ketua Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ridwan sendiri masuk ke dunia die-cast pada dekade 2018 secara tidak sengaja. Awalnya, anaknya mendapatkan hadiah sekardus Hot Wheels dari teman yang datang dari Bali. Dari satu mobil kecil itulah rasa penasarannya tumbuh. Ia mulai belajar melalui grup Facebook, mengenali berbagai merek, memahami kondisi barang, hingga mengenal dunia jual-beli koleksi. Kini ia mengoleksi berbagai merek seperti Mini GT, Tarmac Works, Inno64, Tomica, Kyosho, dan tentu saja Hot Wheels. Menurutnya, perkembangan industri die-cast terus menghadirkan inovasi baru dengan detail kendaraan semakin realistis, kualitas produksi yang meningkat, dan variasi model semakin beragam.

“Kalau miniscale lebih detail desainnya daripada die-cast,” kata Ridwan. Perbedaan itulah yang membuat sebagian kolektor kemudian beralih dari sekadar mengoleksi mainan menuju koleksi miniscale yang lebih serius. Jika Hot Wheels sering dianggap pintu masuk karena harganya relatif terjangkau, maka miniscale menawarkan reproduksi kendaraan dengan tingkat detail yang jauh lebih tinggi.

Die-cast―atau sebut saja mobil-mobilan untuk anak-anak tiga tahun ke atas―memiliki sejarah yang panjang daripada yang dibayangkan banyak orang. Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, salah satu pelopor mobil mini berbahan logam yang paling populer adalah Tootsietoy, sebuah perusahaan mainan asal Chicago yang didirikan Theodore S. Dowst. Produk-produknya berupa miniatur kendaraan cor logam yang meniru berbagai jenama otomotif ternama pada masanya, mulai dari La Salle, Ford coupe dan sedan, Graham coupe, hingga truk Mack.

Bagi anak-anak era itu, Tootsietoy merupakan mainan yang sangat digemari. Namun seiring berjalannya waktu, benda-benda kecil tersebut bertransformasi menjadi barang koleksi yang diburu para penggemar otomotif dan sejarah mainan. Kehadiran Tootsietoy menandai salah satu babak awal perkembangan die-cast, jauh sebelum mobil-mobil mini menjadi bagian dari budaya koleksi global seperti yang dikenal saat ini.

Koleksi anggota komunitas Pemburu Diecast Surabaya yang dipamerkan di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada awal abad 20, mobil mini berbahan logam juga populer di Eropa. Salah satu pelopornya adalah perusahaan mainan asal Inggris bernama Meccano Ltd yang mengeluarkan merek mainan Dinky Toys, yang sejak dekade 1930-an memproduksi kendaraan mini dengan teknik die-cas zamak—yakni proses pembuatan komponen atau miniatur dengan cara melelehkan paduan logam zamak (campuran seng, aluminium, magnesium, dan tembaga), lalu menyuntikkannya ke dalam cetakan baja bertekanan tinggi.

Setelah Perang Dunia II, industri ini berkembang pesat. Nama-nama seperti Matchbox, Corgi, dan kemudian Hot Wheels menjadi ikon global. Pada akhir 1960-an, Hot Wheels hadir dengan desain lebih sporty, warna mencolok, dan roda cepat bernama “Redline Wheels”. Mobil-mobilnya dibuat lebih liar dan futuristik (imajinatif) dibanding Matchbox yang cenderung realistis. Sejak saat itu, Hot Wheels berkembang menjadi salah satu brand diecast paling populer di dunia dengan ribuan casting yang terus dirilis setiap tahun.

Mochammad Alifudin Firmansyah, admin Komunitas Pemburu Diecast Surabaya di IAM 2026 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Indonesia, die-cast mulai dikenal luas melalui produk Matchbox dan Hot Wheels yang masuk sejak dekade 1980-an dan 2000-an. Pada 2002, Hot Wheels masuk ke Indonesia dengan cara yang sensasional. Jenama yang diproduksi oleh Mattel dari Amerika Serikat itu, membuat lintasan permainan mobil mini terpanjang se-Asia, yakni 200 meter.

Namun ledakan komunitas kolektor baru benar-benar terjadi pada era internet dan media sosial. Forum daring, Facebook, Instagram, hingga marketplace memungkinkan para penggemar bertemu, bertukar informasi, dan berburu barang langka lintas kota bahkan lintas negara. Dari sinilah muncul istilah-istilah yang hanya dipahami para kolektor: reguler, premium, chase, treasure hunt, hingga super treasure hunt—varian langka yang sering menjadi incaran dan memiliki nilai jual tinggi.

Dan di balik dunia yang tampak seperti “mainan kecil”, ada pasar koleksi global yang nilainya terus tumbuh. Industri die-cast kini menjadi bagian dari pasar “collectible toys” bernilai miliaran dolar, didorong oleh fenomena “kidult”—orang dewasa yang kembali membeli mainan sebagai bentuk nostalgia dan koleksi serius. Tren ini makin menguat sejak era media sosial, ketika komunitas kolektor tumbuh melalui Instagram, Facebook, hingga marketplace global.

Dalam dunia lelang, beberapa unit diecast bahkan mencapai harga yang mengejutkan. Hot Wheels “Beach Bomb Rear-Loader” prototipe keluaran 1969, misalnya, pernah dilaporkan terjual hingga lebih dari 100.000 dolar AS karena kelangkaannya. Beberapa model pre-pro dan prototype dari era Redline juga kerap mencapai puluhan ribu dolar. Di kelas miniscale, produk high-end seperti Autoart, GMP, hingga Kyosho Ferrari atau Porsche bisa diperdagangkan ratusan hingga ribuan dolar, tergantung edisi dan kelangkaannya. Bahkan, Corgi Toys edisi James Bond Aston Martin DB5 original keluaran 1960-an kini menjadi buruan kolektor dengan harga yang terus meroket di pasar sekunder.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa die-cast bukan lagi sekadar benda nostalgia, tetapi juga aset koleksi dengan nilai ekonomi yang nyata—terutama pada varian langka, produksi terbatas, atau edisi khusus pameran.

***

BAGI para kolektor, berburu die-cast sering kali menyerupai perburuan harta karun. Tidak semua model tersedia dalam jumlah yang sama. Beberapa diproduksi terbatas. Sebagian hanya beredar di negara tertentu. Ada pula yang sengaja disisipkan sebagai varian langka di antara produk reguler. “Karena itu, unsur keberuntungan juga menjadi bagian penting dari hobi ini,” kata Alif sambil tersenyum ketika saya tanya tentang pengalamannya berburu koleksi.

Pria berusia 27 tahun itu mulai menekuni dunia die-cast pada 2017. Awalnya ia mengoleksi secara acak, sebelum akhirnya menemukan tema yang benar-benar disukai. “Pertama ya ngawur, Mas. Apa saja dibeli. Tapi sekarang hanya ngoleksi die-cast khusus mobil-mobil dalam film Fast and Furious dan JDM―mobil-mobil khusus Jepang gitulah,” ujar pemuda yang bekerja di bidang IT dan desainer program itu. Saya menduga, ketertarikannya pada mobil-mobil Jepang berakar dari budaya populer, terutama film dan dunia modifikasi. Dari sana koleksinya berkembang menjadi representasi kecintaan terhadap otomotif Jepang.

Mobil yang dipamerkan di IAM 2026 yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Fenomena semacam ini umum ditemukan di kalangan kolektor. Sebagian mengoleksi berdasarkan merek mobil, sebagian berdasarkan film, sebagian lagi berdasarkan era tertentu. Koleksi akhirnya menjadi cara untuk menceritakan identitas dan minat pribadi. Lantas, mengapa begitu banyak orang dewasa rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang untuk mengoleksi mobil mini?

Menurut Alif, bagi sebagian orang, diecast bukan sekadar benda koleksi, melainkan mesin waktu yang mampu membawa mereka kembali ke masa kanak-kanak. Banyak kolektor dewasa pernah bermain mobil-mobilan ketika kecil, lalu menemukan kembali kegembiraan yang sama saat mereka telah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

“Kalau aku sendiri berkaitan dengan inner child, sih, Mas. Dulu kan agak susah beli mainan, sedangkan sekarang sudah punya kerjaan sendiri. Jadi menyisihkan beberapa untuk memenuhi inner child itu tadi,” terang Alif sembari tertawa.

Pengakuan itu terdengar biasa saja, tetapi barangkali mewakili pengalaman banyak kolektor. Mobil-mobil mini yang kini tersimpan rapi di rak pajangan sering kali bukan sekadar miniatur kendaraan semata, bisa saja itu adalah kepingan kenangan—tentang masa ketika sebuah mainan menjadi barang yang diidam-idamkan, tetapi belum tentu dapat dimiliki. Ketika kesempatan itu akhirnya datang di usia dewasa, membeli sebuah die-cast bukan hanya soal memperoleh benda, melainkan juga cara berdamai dengan kerinduan yang lama tersimpan.

Selain berkaitan dengan inner child seperti yang dialami Alif, ada pula mereka yang memandang diecast sebagai bentuk apresiasi terhadap desain otomotif. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengendarai, apalagi memiliki, Ferrari, Porsche, atau Nissan GT-R asli. Namun, melalui miniatur yang dibuat dengan tingkat presisi tinggi, nyaris menyerupai aslinya—mulai dari lekuk bodi, detail interior, hingga warna cat—mereka tetap dapat menikmati keindahan kendaraan-kendaraan impian itu dari jarak yang sangat dekat.

Sebagian kolektor lainnya justru menikmati sensasi perburuan. Dalam dunia die-cast, menemukan model yang sudah lama diincar, terlebih yang diproduksi terbatas atau telah lama habis di pasaran, menghadirkan kepuasan tersendiri. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan ketika pencarian berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, akhirnya berujung pada sebuah kotak kecil yang berhasil dibawa pulang. Perasaan itu tidak jauh berbeda dengan kepuasan seorang pemburu yang akhirnya menemukan target yang selama ini ia kejar.

Namun, muara daya tarik die-cast tidak selalu terletak pada benda yang dikoleksi. Sering kali yang membuat seseorang bertahan dalam hobi ini justru orang-orang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Dari sebuah mobil mini berukuran beberapa sentimeter, lahir ruang pertemanan yang melampaui profesi, usia, dan latar belakang sosial. Di dalam komunitas, seorang mahasiswa dapat berbincang akrab dengan pengusaha, pegawai kantor bertukar cerita dengan mekanik, sementara kolektor senior dan pemula duduk berdampingan membahas model yang sama dengan antusiasme yang setara.

Die-cast mungkin menjadi alasan mereka berkumpul, tetapi kebersamaanlah yang membuat mereka terus kembali. Seperti di PDS, misalnya, yang rutin mengadakan kopi darat atau kopdar setiap bulan. Pada momen-momen tertentu mereka juga menyelenggarakan perayaan ulang tahun komunitas, lomba fotografi die-cast, kompetisi modifikasi (custom), balapan die-cast, hingga acara bakti sosial. “Semua merek boleh join komunitas,” kata Alif, menegaskan bahwa komunitas mereka terbuka bagi siapa saja.

Mobil yang dipamerkan di IAM 2026 yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di tengah dunia yang semakin digital dan serba cepat, aktivitas mengoleksi benda fisik justru menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada kesenangan ketika membuka kemasan baru, merasakan berat logam di telapak tangan, menata koleksi di rak, atau memotretnya di atas diorama buatan sendiri. Barangkali karena itulah die-cast tetap bertahan, bahkan terus berkembang, di tengah gempuran gim video dan hiburan digital.

Benda kecil itu memang tidak bisa dikendarai. Mesinnya tidak menyala. Rodanya hanya berputar beberapa sentimeter di atas meja. Namun di tangan para kolektor, mobil-mobil mini tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada ukurannya: cerita tentang kenangan masa kecil, kegembiraan berburu, kecintaan pada otomotif, dan persaudaraan yang tumbuh dari hobi yang sama. Di rak-rak koleksi para anggota Pemburu Diecast Surabaya, setiap mobil mungil sesungguhnya adalah sebuah kisah yang diparkir dengan rapi.

Menjelang malam, saya berpamitan. Sebelum berpisah, Ridwan menyelipkan sebuah oleh-oleh ke tangan saya—hadiah perkenalan yang tak saya duga. Sebuah Matchbox 1984 Toyota MR2, lengkap dengan detail eksterior retro khas mobil sport Jepang era 1980-an dan lampu depan pop-up dalam posisi terbuka, seolah siap membelah jalanan seperti dalam sebuah film lawas.

Mobil mini itu saya pajang di dekat rak buku. Ukurannya kecil, nyaris tenggelam di antara deretan buku yang lebih besar. Namun entah mengapa, mata saya berkali-kali kembali kepadanya. Lalu, tanpa disadari, saya merasakan sesuatu yang akrab. Bukan sekadar rasa senang karena menerima hadiah, melainkan perasaan yang pernah saya kenal jauh sebelum mengenal istilah tenggat pekerjaan, tagihan, dan cicilan bulanan. Perasaan ketika sebuah benda kecil mampu menghadirkan kegembiraan yang utuh, tanpa syarat, dan tanpa perhitungan.

Saya kembali menatap Toyota MR2 mungil itu beberapa saat. Ah, apakah ini yang dinamakan inner child? [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: otomotifSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Next Post

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co