25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang | Cerpen Pry S.

Pry S. by Pry S.
January 18, 2025
in Cerpen
Kami Hidup di Sepanjang Sungai Kalimalang  |  Cerpen Pry S.

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

KAMI HIDUP DI SEPANJANG SUNGAI KALIMALANG. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi.

Saat itu, hari masih sore saat seorang nenek tua sedang menyapu halaman rumahnya yang masih tanah. Gugur dedaunan dari pohon yang meranggas di depan rumahnya mulai terkumpul di satu titik untuk kemudian segera dibakar. Angin sore membawa bau lembut daun yang mulai mengering, bercampur dengan aroma tanah basah yang masih tertinggal dari hujan pagi tadi.

Nenek itu tinggal sendiri di sebuah rumah besar yang sudah dibangun sejak ia masih kecil. Almarhum ayahnya sendirilah yang mewariskan rumah itu dalam surat wasiat yang sampai sekarang masih tersimpan rapi bersama dokumen penting lainnya. Dahulu, rumah ini sering dipenuhi suara riuh anak-anaknya yang berlari di halaman, atau suaminya yang bersiul sambil menyiapkan perangkap ikan di sungai Kalimalang. Kini, semua itu hanya tinggal kenangan.

Tapi rumah di pinggiran Sungai Kalimalang itu tak seramai dulu lagi. Anaknya satu-persatu meninggalkan rumah, berkeluarga entah di mana dan mempunyai beberapa orang anak yang bahkan ia sendiri belum pernah melihatnya.

Tak tahukah mereka bahwa seorang cucu adalah salah satu syarat yang dapat menyempurnakan wujud setiap manusia berusia lanjut —seperti halnya ia sekarang? Mungkin suatu hari nanti ia akan pindah dari situ, dari rumah di pinggir sungai itu. Percakapan indah itu pun terjadi perlahan-lahan.

“Nenek sedang apa?” Suara seorang anak kecil tetangganya membuyarkan lamunan.

“Eh, Andin. Ini nenek lagi nyapu,” jawabnya singkat sambil tersenyum kecil.

“Nyapu apa, Nek?”

“Nyapuin daun-daun tua.”

“Kenapa daun-daun tua disapu, Nek?” Si kecil lalu jongkok tak jauh dari tumpukan daun yang disapu Nenek.

“Karena daun-daun tua ini jatuh dari pohonnya, dan hanya akan mengotori halaman kalau tidak dibersihkan.”

“Oo.. Jadi disapu biar bersih ya, Nek?!”

“Iya. Daun yang sudah tua akan rontok dari pohon, jatuh ke tanah, dan tidak berguna lagi. Nanti akan dibakar saja.”

“Nek, Ndin mau bantuin Nenek, nyapuin daun-daun tua. Boleh?”

“Boleh saja. Tapi nggak usah. Ini khan udah kerjaan nenek saban sore. Ndin main aja lagi sama Tiwul, sama Malik, dan sama temen-temen Ndin lainnya.”

“Enggak ah. Ndin mau di sini aja dulu. Ndin mau temenin nenek.”

Tanpa disuruh, anak kecil itu langsung saja duduk di beranda depan rumah itu. Api pelan-pelan mulai membakar tumpukan daun, melahirkan asap putih yang sesak–membumbung naik kemudian hilang dimakan langit sore. Sambil berdiri, nenek cuma bisa diam menyaksikan peristiwa yang ia ciptakan sendiri barusan. Apakah daun-daun tua itu pernah mengira sebelumnya bahwa suatu hari wujudnya akan musnah.

“Dan asap itu pun akan segera terlupakan,” bisik nenek pelan. Si kecil tak mendengar karena bola mata bulatnya memperhatikan pemandangan sederhana ini dengan takjub. Andin lalu berkata, “Nek, kalo Ndin udah gede nanti, Ndin mau nyapu halaman ini juga. Tapi Ndin nggak mau berhenti di situ. Ndin mau nyapu sungai juga, biar sungainya bersih lagi.”

Nenek tertawa kecil, matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana menyapu sungai, tapi ia memahami keinginan anak itu. Dipeluknya erat Andin, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak lagi sendirian. “Terima kasih, Ndin. Semoga mimpi kamu terwujud,” bisik nenek di telinga kecil itu.

Bertahun-tahun kemudian, Andin–yang beranjak dewasa, menikah, dan punya dua anak–tinggal di rumah besar milik nenek di samping sungai Kalimalang. Setelah menyapu pekarangan rumah, ia selalu menebar kembang melati di atas nisan nenek di dekat pohon besar depan rumah. Nisan itu menghadap ke sungai, seakan menjadi penjaga abadi tempat ini.

***

KAMI HIDUP DI SEPANJANG SUNGAI KALIMALANG. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi.

Sampai suatu hari ada dua orang pemuda yang sedang duduk-duduk di taman samping sungai Kalimalang sehabis hujan gerimis. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa sederhana. Dan segalanya seperti terasa menakjubkan. Seorang pemuda tampan berambut tebal hingga jatuh menutupi mata memulai percakapan.

PEMUDA 1:

“Adakah kau percaya padaku sekarang? Saat-saat ini adalah saat yang terbaik sejak 10 tahun persahabatan kita berjalan.”

PEMUDA 2:

“Ternyata kau betul. Untung kau mengajakku ke sini sekarang. Padahal tadinya kupikir akan lebih baik jika di rumah saja. Tidak kusangka sungai Kalimalang bisa sebagus ini sehabis hujan. Dan coba kau lihat di sana, aspal jalan raya seakan memantulkan cahaya keindahan sesungguhnya dari nyala lampu setiap kendaraan yang lewat. Begitu dekat dan nyata. Padahal baru malam ini aku tidak mabuk apa-apa.”

PEMUDA 1:

“Ha.. ha.. ha.. ha! Tidak hanya aku, tapi kau juga betul kawan. Aku bahkan pernah berpikir bahwa Tuhan sepertinya selalu tinggal tak jauh dari sini. Dan lalu.. bagaimana kabar orang tuamu di kampung? Apa-apa saja yang sudah kau bangun selama di sana?”

Untuk selanjutnya kedua pemuda ini bakal terus saling berbicara. Mereka memang teman lama, dan baru malam ini takdir kembali mempertemukan keduanya. Keindahan sungai Kalimalang memaksa kedua pasang mata itu terus menatap setiap sudut yang tersedia. Kelak di masa mendatang, kedua sahabat ini akan terus hidup bertetangga, beristri-anak-dan cucu di sebuah pemukiman sepanjang Sungai Kalimalang.

***

KAMI HIDUP DI SEPANJANG SUNGAI KALIMALANG. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi.

Tenangnya alam, segar bau tetumbuhan, udara yang memabukkan, kicau rindu nyanyian burung, lukisan awan di percikan langit; semuanya seperti melebur–berjalan tenang dan membaur seiring arus sungai imaji tanpa polusi yang diairi indahnya kecoklatan.

Jika anda memasuki daerah kami lewat jalan utama, anda dapat melihat barisan panjang dan teduhnya hijau pepohonan tua; bukti bahwa para leluhur kami sangat menghargai keserasian hidup antara manusia dengan alam.

Kenikmatan perjalanan anda menyimak pemandangan sekitar tentunya tak akan mengalami gangguan, sebab aspal yang melapisi jalan raya di bawahnya terbuat dari pasir alam dan kerikil-kerikil keselamatan dalam cairan sutera hitam yang telah mengeras dengan cara lembut.

Dan dapat dipastikan bahwa kami termasuk orang-orang yang berbahagia. Maka silahkan anda lihat sendiri bahwa anak-anak kami tumbuh riang dan subur dengan gizi sempurna yang mengalir di setiap jengkal darahnya.

Beranjak dewasa, generasi muda kami akan bekerja keras untuk menjadikan hidup ini lebih dari sekedar menggapai keinginan; karena bagi kami, hidup adalah sebuah rute berjalan yang tujuannya sudah hadir sejak saat sekarang.

Kami juga akan berbicara kepada siapa saja dengan sopan santun yang menyenangkan, layaknya setiap senyuman adalah lambang kebiasaan yang terlestarikan.

Lalu bagaimana dengan para orangtua? Para orangtua atau yang telah hidup di masa sebelumnya selalu meninggalkan tradisi, budaya, dan petuah bijak hasil pemikiran atas pengalaman selama ini–falsafah sederhana–yang kelak dijadikan bahan pertimbangan serta pembelajaran kami di kemudian hari.

Kami juga memperlakukan daerah pemukiman ini sebagai tempat tinggal yang nyaman untuk menghabiskan usia lanjut, demi menghadapi saat-saat perpindahan jiwa ke dunia selanjutnya dengan cara indah, halus, dan tenang.

Di sini, kematian merupakan pengalaman baru sebagai ritual suci yang mampu dimiliki setiap insan. Sebuah kematian yang menggairahkan, layaknya gairah akan kehidupan mereka itu sendiri.

Kami semua memang hidup di sepanjang sungai Kalimalang. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah ini untuk tak usah kemana-mana lagi. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo
Bercakap-Cakap dengan Pencuri
Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Berata  |  Cara Menghukum Pengkhianat

Next Post

Mencari Idealitas Baleganjur | Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Pry S.

Pry S.

Mantan jurnalis, aktif menulis esai dan resensi musik di Jakartabeat, Pop Hari Ini dan Serunai. Menggeluti dunia programming dan Agile Framework. Kini tinggal dan bekerja di Denpasar.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Mencari Idealitas Baleganjur  |  Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Mencari Idealitas Baleganjur | Ulasan Lomba Baleganjur Taksu Agung Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co