24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
January 4, 2025
in Cerpen
Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SUMUR tua yang ada di desaku tiba-tiba viral di medsos. Silih berganti paranormal mendatangi desaku. Ada yang membawa anak didiknya. Ada yang datang sendirian. Virallah desaku disebut-sebut di media sosial. Bahkan beberapa media cetak dan televisi mengangkatnya menjadi berita utama bahwa sumur tua yang ada di desaku dihuni oleh seorang perempuan. Aku tidak begitu percaya. Sumur memberi air tanpa pernah dibayar. Sumur ya sumur. Pemberi air kehidupan. Yang kuketahui  bahwa sumur yang sudah tidak difungsikan oleh warga desaku itu memberikan kesejukan pada warga kami pada masanya.

Saat itu, kami memang suka bersama-sama mandi ke sumur. Ada canda tawa. Ada guyonan. Ada kesepakatan ada pembagian tugas. Jika akan mandi, ada yang bertugas menimba air. Tugas yang kami jalani tanpa ada tekanan. Semenjak PAM merambah desa kami, perlahan-lahan, tapi pasti kekeluargaan di desa kami mulai menurun. Tidak ada canda tawa. Tidak ada kesepakatan. Kami mandi dalam sekat-sekat sebuah kamar. Kami pun menjadi manusia yang tersekat. Buka keran air lantas bernyanyi di kamar mandi. Tanpa pernah tahu entah dari mana datangnya air. Pernah air PAM tak nyala. Kami ramai-ramai memprotes sampai ke medsos. Turunlah petugas memperbaiki pipa yang putus karena terjangan banjir yang amat deras. Kulihat di medsos, para pekerja sibuk memperbaikinya. Ternyata air menjadi nilai amat tinggi saat dibutuhkan. Dilupakan saat tak ada yang macet. Ah, dasar ingin mudah saja.

Aku tanggapi biasa saja cerita orang-orang yang mengaku sebagai paranormal itu. Tapi itulah manusia, ada saja yang ingin diketahuinya. Sebagai warga yang dilahirkan di desa, terusik juga aku. Kuberanikan menanyakan pada orang-orang yang mengaku sebagai peramal masa depan itu.

“Benar ada perempuan di dalam sumur?” tanyaku.

Ia tidak cepat-cepat menjawab. Ia pejamkan mata. Ia komat-kamit seperti orang gila yang tidak memiliki kepastian dalam hidup. “Benar,” jawabnya pelan. “Perempuan itu tampak marah. Matanya mendelik. Wajahnya menegang. Jika tidak ada yang mengasihinya, akan timbul bencana di desa ini.”

  “Ah, jangan menakut-nakuti kami. Kami tak pernah berbuat salah kok dimarahi.”

“Boleh saja tidak percaya. Tapi, ini hasil penerawanganku. Banyak yang tidak percaya padaku. Dan aku sendiri tak usah dipercayai. Yang penting sebagai paranormal yang dikasihi Tuhan, tiang sudah menyampaikan sesuatu pada Made. Itu saja. Titik!”

Giliranku yang terbelenggu terhadap kata-kataku. Dasar lidah. Kenapa tidak kukatakan bahwa aku percaya saja setiap yang dikatakannya. Kan selesai masalahnya? Aku takut karena ulah mulutku ini.

Semakin hari ada saja orang kesurupan di desaku yang menyatakan bahwa memang benar ada perempuan yang tinggal di dalam sumur. Perempuan muda yang memendam kemarahan. Perempuan muda yang tidak mendapatkan kasih sayang.

“Perempuan muda?’ tanyaku dalam batin. “Kenapa mesti perempuan muda? Biasanya yang tinggal di tempat yang tidak digunakan lagi adalah perempuan tua. Kenapa ini perempuan muda?”

“Jika tidak dibuatkan banten pangulap dan pecaruan akan grubug datang di desa ini.” Orang-orang desa yang kesurupan itupun tidak mau diajak kompromi lagi. “Mau apa tidak?”

Aku melihat kanan-kiri. “Gimana ini mau melakukan yang diminta?” tanyaku pada warga desa kami.

“Kalau demi kebaikan, tiang setuju saja. Tidak ada salahnya berbuat baik demi kenyamanan.”

“Gimana yang lainnya?”

“Tiang setuju!”

“Terus biayanya dari mana?” tanyaku.

“Inilah yang menjadi masalah sekarang.” Tidak ada yang menjawab. Ternyata berjanji amat cepat. Akan tetapi, menepati janji ternyata susah.

“Kita bagi tugas saja.”

“Baiklah kalau begitu.”

Rasa persaudaraan yang sudah terkikis bisa mekar kembali. Sesuatu yang berat terasa lebih ringan dengan kebersamaan. Ada yang menyumbangkan kelapa. Ada yang menyumbangkan ayam untuk pecaruan. Ada yang menyumbangkan jejahitan. Alam kesadaran masih ada di desa kami. Kebangggaan dan kebahagiaan sebagai anak desa bisa kunikmati.

 Kami meminta bantuan pemangku Pura Dalem untuk menghaturkan sesajen kami. Suara genta dan puja-puji pemangku Pura Dalem mengalir seperti air kehidupan. Upakara dan upacara berjalan amat indah. Tembang-tembang dan alunan wargasari dilantunkan meretas simpul-simpul jiwaku.

”Perempuan yang ada di sumur ini menangis. Ia telah dihinakan. Wadagnya sudah tak dikenali lagi. Ruhnya minta tempat yang wajar. Tolong diabenkan.”

Aku mendelik. “Diabenkan? Mana mungkin bisa? Siapa yang akan menyumbahnya nanti? Siapa yang membunuhnya? Siapa orangnya? Keluarganya dari mana? Masak warga desa ini yang tidak tahu apa-apa harus menanggung perbuatan orang lain? Ini tidak adil.” Aku tiba-tiba berkata keras seperti itu. Setelah kusadari bahwa kata-kataku tak pantas. Aku meminta maaf pada Mangku Dalem. “Maaf Jro, tidak maksud tiang marah sama Jro.”

“Tidak masalah. Tapi itu hanya permintaan saja. Jika tidak, sumur tua di desa kita akan leteh. Air yang ada di tanah ini juga leteh karena air merambat ke pori-pori bumi. Air leteh, artinya kita juga leteh karena air yang kita minum leteh. Gimana?”

“Terima kasih Jro. Tiang akan berusaha menjadikan desa ini tidak leteh lagi.”

“Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, asalkan didasari dengan ketulusan.”

“Terima kasih Jro.”

Suara genta penutup telah dibunyikan. Aku bersama dengan warga desa berkumpul kembali. Merembukkan yang akan kami lakukan.

Pengabenan sederhana kami lakukan. Cukup dengan tingkatan nista. Banten suci  untuk Dewa Surya, banten suci untuk Dewa Prajapati, banten suci di ruh yang diabenkan, dan banten suci pada Ida Pedanda pengantar ruh ke Sunyaloka. Tentu yang utama adalah bubur pirata. Bubur persembahan pada pirata.

Aku tersentak. Terdengar tangisan nyaring sekali. “Tolong sembah tiang. Tiang perempuan yang hilang beberapa tahun lalu. Perempuan yang dihinakan kepala desa. Perempuan yang dipersalahkan. Tolong saudaraku.” Perempuan yang kesurupan itu memeluk salah seorang warga desa kami. “Tolong berikan jalan pada tiang. Tiang berjanji akan membalas kebaikan saudara-saudara.”

Aku mau mengangkat tanganku tiba-tiba dipegang dari belakang. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah


Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” (Bagian 3-Habis): Jenis dan Fungsi “Kolenjer”

Next Post

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co