6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kode Gurita di Pantai Berawa

I Wayan Westa by I Wayan Westa
November 30, 2024
in Ulas Rupa
Kode Gurita di Pantai Berawa

Instalasi "Gurita" karya Ketut Putrayasa di Pantai Berawa, Kuta, Badung

PERLAHAN matahari menyelinap ke tepian laut ─ ke ujung jauh Pantai Berawa, Kuta.  Deburan ombak, sorak pantai, suara gaduh orang-orang pesisir kian ramai. Turis-turis mendongak  bengong.

Kali ini mereka tak sedang menonton matahari terbenam, atau sekadar menikmati Pantai  Berawa yang landai. Mereka tengah menonton “gurita raksasa” yang “terdampar” di pantai.

Para penyaksi  itu seperti  tengah diteror sekaligus dihibur penampakan ajaib. Satu pemandangan  tak lazim tersaji di depan laut ─ instalasi gurita raksasa  anyaman bambu dengan berat kurang  lebih 60 ton.

Namun tak banyak yang paham, alih-alih mau mengerti, instalasi gurita  yang dipajang nyaris lima tahun itu [tepatnya medio Mei 2019]  sungguh tak sekadar pajangan  hendak meramaikan Berawa Beach Arts Festival II.

Akan tetapi ada satire simbolik yang abai dibaca orang awam, terutama bagaimana pulau ini sedang digarap dalam pesta para pemodal. Dan gurita raksasa itu, menurut  penggagasnya, jadi sejenis alarm  bagi penentu kebijakan, supaya berhati-hati mengelola pulau kecil ini.

Karena jelas  “gurita”  itu perlahan-lahan telah melahap Bali  dari tepian ─   mencengkramkan kaki-kakinya dari desa-desa pesisir. Dan  Pantai Berawa cuma simpul kecil dari apa yang terjadi di pesisir Bali kini ─  pantai yang hampir rapat dikepung infrastruktur turistik, modal-modal yang menggurita menguasai, mencengkram tanah Bali.

Sama seperti di Kuta, dan wilayah pesisir Bali selatan lainnya, tak ada batas siang dan malam di Berawa ─ tanah-tanah pertanian yang dulu merupakan hamparan subak  nan subur kini berubah jadi pesisir yang berdenyar, turis-turis  berbikini dengan kulit-kulit merah dibakar matahari tropis. Ini sudah menjadi pemandangan yang lazim ─ demikian keramaian turistik ini kian melajur ke utara, merangsek desa-desa.

Iya, itulah  instalasi gurita raksasa yang dipajang seniman  I Ketut Putrayasa, pematung kelahiran  Desa Tibubeneng, Bali. Melibatkan tak kurang dari tiga ratus seniman desa, dua puluh truk bambu yang  telah “disisit” masyarakat Desa Payangan. Tali-tali bambu ini telah dianyam  dalam wujud potongan-potongan gurita raksasa, sebelum kemudian dirakit di tepi Pantai Berawa.

Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, saat memberi sambutan pembuka Festival Berawa Beach Arts Festival II   nyaris tak menyadari, bahwa gurita raksasa itu satire kritis yang dihujamkan seorang seniman, mengkritisi tata kelola pembangunan Bali, ambruknya budaya pesisir oleh denyar kemakmuran baru.

Kenapa harus gurita? Secara biologis gurita adalah hewan moluska  kelas sefalopoda bertubuh bulat, pendek, dan fleksibel, memiliki delapan tentakel yang dilengkapi selaput renang, berwarna abu-abu pucat dan putih, dapat berkamuflase, tersebar di seluruh lautan.

Gurita memilik karakter melilit sesuatu dengan kuat, hingga yang dililit tak mudah melepaskan diri. Lalu sebagai satire simbolik nan dingin, Ketut Putrayasa menghadirkan gurita itu lebih besar, bahkan amat besar, mungkin tak ada yang menyamai di abad ini, kecuali ia akan penjadi efigon kreatif.

Maka dalam praktik bisnis yang menyebar dan mencengkram kuat itu dianggap memiliki kesamaan  karakter dengan sefalopoda gurita. Gambaran semacam inilah yang dihadirkan sang seniman, di sebuah desa pesisir  Tibubeneng yang pelan-pelan poranda oleh gurita bisnis. Pantai-pantai diserung hotel, villa-villa, restoran, dan tempat-tempat hiburan malam yang gemerlap ─ tempat di mana libido hedonisme dirayakan dengan sempurna,  dalam musik malam  mengharu, menyentak, yang pelan-pelan “mengusir” anak-anak  pesisir totok, merangsek kultur agraris  mereka yang damai, meninggalkan  ladang uma  hijau.

Di Desa kelahiran itu, di wilayah Kuta, Canggu, Tibubeneng, Putrayasa menyaksikan dengan perih tanah-tanah yang “hilang”, payau yang diuruk rata, tanah ulayat yang diperebutkan investor, pantai yang diblokade hotel dan restoran. Burung-burung sawah dan petani harus terbang, minggir  tak kuat menghadapi kultur beton dan lampu merkuri.

Dunia baru  telah merangseknya. Penduduk lokal  yang tanpa modal, tak paham bisnis turistik  tumbang sendiri. Anak-anak desa terkena obat psikotropika, hiburan malam yang panas, yang di zaman kakek buyutnya tak pernah terpikirkan. Surga baru diciptakan di sini, di mana setiap orang kadang rela “dibunuh” setidaknya dibuat lupa dengan nikmat.

Penghadiran gurita raksasa di Pantai Berawa, tak cuma mengingatkan;  betapa sungguh tak berbelas kasihnya kekuatan modal itu, ia seperti pedang bermata dua, meraup untung berlimpah, dan pajak besar bagi negara. Sumber hidup baru di dunia glamor.  Akan tetapi, dia sedemikian keras memporanda  kultur pesisir, mengubah rimbun pantai menjadi hutan beton. Semua demi satu kata : pendapatan. Pencari kerja, pengais rezeki bergumul ke wilayah ini dengan keahlian masing-masing ─ bertarung hidup mati, dengan segenap labirin dunia turistik; glamor, gelap, dan asing.

Gurita raksasa itu, seperti mununjukkan sinyal, memberi kita gambaran historis, apa yang terjadi di Kerajaan Majapahit  lima abad silam. Sebuah kerajaan agraris yang kuat, dengan angkatan bersenjata tangguh, toh  tumbang juga akhirnya karena masyarakat belum pintar berdagang, atau kemungkinan tidak memiliki gen  bisnis. Dan ketika pedagang-pedagang Gujarat berlabuh di Pantai Pesisir Jawa, mereka membuka bisnis sembari menyebar agama baru, berlahan-lahan mendoktrin penduduk pesisir, yang secara pelan-pelan merangsek Majapahit. Raden Patah, putra mahkota yang memeluk keyakinan baru lalu membakar kraton leluhurnya sembari bersorak.

Kesimpulanya; gurita daganglah yang menumbangkan  kerajaan itu di samping  perseteruan politik dari dalam. Tanpa hendak berlebihan, atau fanatik memuja tradisi silam, Bali perlu belajar pada ketidak-awasan Majapahit.

Namun Ketut Putrayasa, tak hendak bercermin pada tumbangnya Majapahit karena  rakyatnya tak pintar berbisnis. Lebih dari itu ditengarai ada “pangreh praja”  pulau ini yang  gampang diajak bekerjasama.  Pengaruhnya juga  seperti gurita, mencengkram para birokrat, preman, tetua adat demi memuluskan modal bergulir di pulau kecil ini.

Instalasi “Gurita” karya Ketut Putrayasa di Pantai Berawa, Kuta, Badung

Ada sejenis koorporasi senyap pada pulau ini ─ sementara penduduknya asyik berupacara dengan dana besar, mengambil resiko menafikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga.

Maka jadilah pulau ini benteng terbuka ─ di mana arus barang, arus modal, dan arus orang dengan nyaman barkamuflase, seakan budaya turistik itu ikut merawat kebudayaan. Padahal yang terjadi adalah sesuatu yang paradok, pantai-pantai amblas terkena abrasi, payau-payau diuruk, subak-subak beralih fungsi, kemacetan  yang mengular, pabrik sabu yang terciduk, kriminaliasi,  bukit,  jurang, dan tebing dikeruk tanpa perasaan dosa pada anak cucu.

Bila dulu di zaman Dang Hyang Nirartha semua patilasan dan jejak kaki orang suci ini dibangun pura,  boleh jadi ada kode pesan;  di sepanjang pantai itu Dang Hyang Nirartha tengah membangun benteng-benteng spiritual. Dan para nelayan kemudian pembangun Pura Sagara, sebagai pusat pengintegrasi sosia-religius para nelayan,  di mana pantai dan laut  harus dijaga kesuciaannya.

Namun pelan-pelan pulau ini rapuh menghadapi dinamika zaman. Kultur turistik menyapu peradaban pesisir. Kita tak bisa membayangkan, di tengah gempuran modal, orang-orang menyemut berbisnis di Bali, kita malah dengan bangga mengirim pahlawan devisa  ke luar negeri. Bila pun situasi ini tak bisa disalahkan begitu saja, karena  setiap orang berhak bertaruh hidup di mana saja. Kendati di pulau kelahiran sendiri  ada banyak generasi merasa tak mendapat martabat  mulia ─ lalu bekerja keluar hanya untuk uang dan materi. Tragis, memang.

Sebagai pulau yang terus berdiaspora, tanah di mana nyaris penduduk dunia ada  di sini, pulau ini telah dan sedang mengalami  sejumlah orientasi hidup. Pertama di zaman Bali Kuna, orientasi mereka hidup di pinggiran-pinggiran empat danau. Di sebuah peradaban yang di zaman Bali Kuna bernama catur baga. Baru kemudian di zaman Bali madya, saat Bali dikuasai Majapahit, orientasi hidup mereka bercokol di pesisir. Lalu berubah di era budaya turistik, orientasi itu selain ke pesisir juga ke jalan raya.

Dari era ini sesungguhnya gurita investasi telah dimulai di Bali, hotel-hotel besar di Nusa Dua , Jimbaran, Kuta menunjukkan betapa tangguhnya kekuatan modal itu. Mungkin sebentar lagi, bila kereta bawah tanah di Bali  jadi, yang tujuan awalnya mengurai kemacetan di darat, orientasi massa akan tertuju ke bawah tanah. Mall, pusat perbelanjaan, pusat hiburan dipastikan segara terbangun di bawah tanah Bali. Entah, itulah kemajuan bagi orang-orang modern.

Sampai di titik ini “alarm” Gurita Raksasa karya  Ketut Putrayasa itu seperti menemu janjinya ─ ramalan  bahasa rupa ini tak meleset, kekuatan modal akan mengubah wajah Bali ─ sebagaimana juga  lebih awal disuratkan Ida Pedanda Ngurah, pengarang besar Bali abad -19.  Dalam visi ramalan itu, pengarang  besar ini menyuratkan; daksina huluning  jagat, selatan hulunya jagat.

Kata ‘daksina’ bukan hanya berarti arah teben atau arah laut,  atau arah kaki bagi orientasi kosmos orang Bali. Dari titik  selatan-lah Bali diatur pemodal, yang boleh jadi dalam setiap keputusan penting pembangunan pulau ini diatur dalam orientasi gurita bisnis. Agenda reklamasi adalah sinyal  nyata itu. Dan Bali akan betul-betul “berkepala” di kaki. Bali tidak lagi dikendalikan  spirit pulau, dikendalikan dari kearifan yang dimiliki, tapi disetir kemauan pemodal dalam hitungan untung-rugi. Dan mereka yang berintlegensi  reptil hidup penuh pestapora.

Ketut Putrayasa tak cuma menghadirkan karya dalam ukuran besar, tak juga  dalam tampilan keindahan  halus.  Namun di dalam karya itu ia seperti menitipkan mesiu, yang kerap bisa ditembakkan sebagai kode zaman. Itulah tugas seniman selayaknya, kerap mengganggu sejawatnya gagal tidur siang. Ia pemali menjadi efigon, atau sekadar menerus-neruskan keunikan tradisi. Ia memilih jadi pemberotak  santun, mengingatkan  zaman tanpa merendahkan.

Demikianlah arti gurita di tangan seniman Ketut Putrayasa, kerap ia amat jujur mengkritisi keadaan. Sebagai seniman, ia tak bisa mengelak peradaban pesisir berubah, tapi di situ ia  berharap tak ada orang-orang yang dikalahkan ─ alih-alih menjadi tumbal  atas alasan   kemajuan, yang sesungguhnya adalah; kemerdekaan  kepenuhan lahir batin. [T]

Kusa Agra, Sabtu, 30 Nov 2024

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN WESTA
Satire “Sisyphus Game” Ketut Putrayasa
“Proyek Mengeringkan Air” Ketut Putrayasa: Sebuah Cibiran Sekaligus Pesan untuk Masa Depan
“Tajen”:  Dari I Pudak, Marakata, hingga  Geertz
Gelombang Penerjemahan Tantri di Bali
Sastra Bali dan Kebangkitan Daya Budi
Kumbhakarņa Tattwa
Ketika Mata Bajak Menengadah Langit : Pemberontakan Estetik Ketut Putrayasa
Tags: Ketut PutrayasaPantai Berawapariwisata baliSeni InstalasiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Poem by Kadek Sonia Piscayanti | A Cursed Poet

Next Post

Menggemakan Kabar Baik dari Sekolah Penggerak  

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Menggemakan Kabar Baik dari Sekolah Penggerak  

Menggemakan Kabar Baik dari Sekolah Penggerak  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co