24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti by Ni Wayan Wijayanti
April 8, 2023
in Cerpen
Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ilustrasi tatkala.co

TERDENGAR TAWA ANAK-ANAK yang bermain dengan riang, pada sejengkal tanah kosong di depan rumah ini. Anak laki-laki sbermain layangan. Suara mereka riuh bergembira.

Anak-anak perempuan bermain di bawah pohon singapur yang berbuah merah lebat. Mereka sedang bermain masak-masakan dengan bahan dedaunan dan buah-buah yang gugur.

Beberapa anak memandang ke arah rumah ini. Rumah yang seolah kosong, seperti tidak berpenghuni. Mereka tidak menyadari ada aku, berdiam dalam rumah.

Cat tembok rumah telah pudar berlumut, kusam. Seolah menyerukan rasa kesepian. Tapi tak mengapa, aku memang telah terbiasa.

Sudah sepuluh tahun aku menjalani hidup berpindah-pindah. Bekerja serabutan. Tak ubahnya wanita jalang. Bernyanyi kedinginan.

***

Sepuluh tahun lalu, aku hanyalah gadis desa biasa, yang tak bercita-cita apapun dalam hidupnya. Bagaimana bisa memiliki cita-cita tinggi, sementara aku hanya terlahir dari delapan bersaudara di sebuah keluarga petani kecil. Keseharian kami ialah menggarap sepetak sawah peninggalan leluhur, turun temurun.

Tanah leluhur yang terletak di desa terpencil, sehingga membuat akses pendidikan pada waktu itu masih sangat sulit kami jangkau. Meski pemerintah giat menyuarakan pemerataan pendidikan, namun hal itu tidak berarti banyak bagi kami.

Untuk melanjutkan sekolah ke tingkat lanjut, kami harus menempuh jarak puluhan kilometer ke pusat kota. Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mudah bagi kaum seperti kami.

“Terimalah lamaran Pak Banyu menjadi istri kesembilannya!” Suara bapak masih terdengar jelas di kepala. Kadang suara-suara itu suka sekali muncul tiba-tiba dalam benak. Rasa sakit oleh kenangan itu pun tidak pernah hilang barang setitik, meski telah berlalu bertahun-tahun.

“Kapan lagi ada laki-laki kaya yang mau melamarmu? Dengan menikahinya, kau angkat derajat keluarga ini.”Suara itu kembali merongrong. Tubuhku bergetar oleh rasa benci yang entah bagaimana bisa aku ungkap, dan entah kepada siapa.

“Tapi pak, usia Pak Banyu sudah 50 tahun. Lebih pantas dia kupanggil paman,”teriak hatiku. Namun nyatanya, aku hanya mengangguk tanpa suara.

Suara? Kami perempuan bahkan tak memiliki hak melakukannya. Mulut kami dibungkam oleh patriarki, dan saat itu aku masih berusia 16 tahun. Usia di mana aku belum mengerti banyak hal. Usia di mana seharusnya diriku bisa menghirup rasa kebebasan sebebas-bebasnya.

Meski begitu, toh pernikahan kami akhirnya berjalan, dalam pesta meriah yang bagiku amat sangat lama dan membosankan.

Menjelang sore, akhirnya acara selesai. Aku menghela napas lega. Gelungan hiasan kepala yang berat ini, akhirnya bisa dilepas. Aku bersuka-cita seolah merayakan berakhirnya segala penderitaan. Berakhir, hanya sementara.

Bapak memandangku dengan mata berbinar-binar. Seolah dia telah berhasil menggenggam bongkahan emas. Mahar tiga ekor sapi itu mungkin dirasa lebih dari cukup untuk menukar aku. Setidaknya dia bisa menjual sapi itu dan mendapatkan uang banyak kelak dikemudian hari.

Melihat sorot mata bapak, aku baru paham makna ungkapan yang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Kalimat yang sering dilontarkan orang-orang untuk mengajak pasangan pengantin baru agar memiliki banyak anak.

Toh, memang benar kenyataanya, yang terjadi pada hidup orang tuaku sendiri. Bahwa makin banyak anak (perempuan) yang kau punya, makin banyak mahar yang kau terima.

Bagi mereka, menikah adalah solusi dari kemiskinan. Solusi atas ketidakmampuan orang tua dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya. Menganggap kami sebagai barang yang harus cepat-cepat ditukar dengan beberapa ekor sapi, sebagai imbal hasil atas jasa telah melahirkan kami.

Orang tua ingin cepat-cepat menikahkan anak perempuan mereka, berharap agar anak-anak perempuan itu tidak perlu lagi mereka biayai. Orang tua itu berpikir bahwa dengan menikahkan anak perempuan, tanggungan nasi dan lauk-pauk dapur akan berkurang.

Jangan salahkan kami berdiam. Kami hanya pengikut, sebagaimana mahar beberapa ekor sapi yang telah dicocok hidungnya, tidak berdaya.

Bukankah selepas acara pernikahan ini, yang perlu aku lakukan hanyalah mengangkang? Untuk kemudian beranak pinak menghasilkan keturunan jantan dan betina seperti halnya hewan ternak.

Keturunan, yang jika anak itu terlahir laki-laki, akan kami peras keringatnya untuk dijadikan tabungan hari tua. Sedangkan jika dia terlahir perempuan, akan dinikahkan sedini mungkin agar bisa ditukar dengan mahar hadiah barang secuil.

Meski rupa Pak Banyu – suamiku itu amat buruk, tapi siapa yang peduli? Meski setelah ini seumur hidup aku akan merasa hina atas diriku sendiri, karena telah disetubuhinya secara sah, tapi siapa yang peduli?

Di mataku, pria tua itu tak ubah seorang penjahat yang mencari gadis-gadis muda perawan desa untuk dinikahi. Kemudian nantinya akan dibuang jika sudah busuk lubangnya, tak berguna lagi. Selanjutnya mereka akan diganti dengan tunas baru yang bahkan belum sepenuhnya ranum.

Pada malam pertama saat tiba waktu harus melayaninya, aku berusaha menghibur diri sendiri dengan membayangkan hal-hal indah. Tapi hal indah yang aku bayangkan malah membuatku menangis.

Seringai pria itu tajam menatapku. Sebagaimana iblis kelaparan yang hendak memangsa hidup-hidup buruannya. Malam itu tengah mendung seperti saat ini. Petir menyambar beberapa kali, pertanda gerimis datang. Membuat aliran listrik padam dan semua gelap.

Aku ingat, pria tua itu tertawa terkekeh-kekeh.“Makin gelap, makin menantang.”Begitu ucapnya di sela-sela tawa. Siluet tubuh dengan perutnya yang buncit itu, samar-samar tampak membuka pakaiannya dengan ganas. Aku pun telah bersiap menerima pelukannya. Bersiap dengan sehunus pisau belati dalam genggaman tangan.

Saat tubuh besar itu hendak menindihku, bagai ada yang merasuki sukma, tiba-tiba tanganku menghujaminya dengan belati. Sembarang hujam saja, kulakukan berkali-kali pada tubuhnya yang berlemak. Dia memang iblis, tapi kini aku telah berubah menjadi setan.

Terdengar raungan Pak Banyu mengerang kesakitan. Cairan lengket darahnya membanjiri tangan kananku.“Keparat!” teriak Pak Banyu memaki. Sebelum akhirnya ia tumbang tanpa suara.

Saat lampu menyala kembali, tampak mayat lelaki tua itu tersungkur di bawah kakiku. Aku sangat puas, mendapati kenyataan bahwa dia tersungkur di kaki seorang perempuan. Pisau itu aku buang jauh, dan bergegas lari sekencang-kencangnya. Berpasrah ke mana takdir yang mengalun membawaku pada nasib.

Melibas hutan, menyeberang sungai. Ternyata kaki-kaki ini berlari menuju pusat kota nun jauh di balik bukit. Aku harap kota bisa mengubur masa lalu. Aku harap diriku ini pergi menghilang dan kemudian dilupakan seolah tak pernah ada.

***

Langit sore yang mendung menjadi semakin gelap. Gerimis merintik. Anak-anak yang sedari tadi asyik bermain di sepetak tanah kosong di depan rumah ini, sudah tak tampak lagi batang hidungnya. Mungkin mereka takut gerimis menjadi hujan lebat, sebagaimana aku yang takut akan badai tentang masa lalu.

Sebuah mobil berhenti di depan pagar yang berkarat. Tiba-tiba pintu didobrak. Tampak beberapa laki-laki berseragam coklat menodongkan pistol bergerak mendekatiku. Aku tanpa perlawanan dengan patuh mengikuti mereka.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain hanya diam, karena kini aku memang seorang (buronan) perempuan. Bagaimana bisa perempuan lemah sepertiku mampu melawan laki-laki bersenjata?

Namun bibirku menyunggingkan senyum bangga. Sepuluh tahun sudah mereka baru menemukanku. Betapa lihai aku sembunyi. Bersandiwara menjadi orang gila. Menggelandang di luar sana. Sendirian, lapar.

Andai pun mereka mengurungku di balik jeruji besi, toh tiada yang bisa menghidupkan kembali laki-laki tua itu lagi. Laki-laki itu telah mati, sehingga tak perlu lagi dia mencari gadis-gadis muda untuk dinikahi. Laki-laki itu telah mati, bersama suara kami para perempuan yang bisu dibungkam.

 “Tangkap wanita gila ini!” Sesosok letnan memerintah anak buahnya memborgolku. Namun aku tetap tak bisa berhenti tertawa. “Hahahaa…!” Tawaku lepas, menggema bersama gemuruh hujan yang coba kutepis. Borgol itu terasa dingin, namun rasa itu sudah tidak asing bagiku. Aku telah terbiasa. [T]

Bali, 3 Maret 2023

BACA cerpen-cerpen lainnya

Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani
Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Foot Note”, Merayakan Kertas, Membicarakan Wayan Teher, Maestro Lukis dari Tabanan

Next Post

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti

lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Cerpen karya-karyanya telah beberapa kali dimuat di berbagai media seperti Kompas, Ceritanet, Indonesiana.Id, Cerano, dan lain-lain. Saat ini aktif sebagai seorang SEO Content Writer untuk beberapa media dan sales marketing di salah satu penginapan wilayah Ubud.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co