6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti by Ni Wayan Wijayanti
April 8, 2023
in Cerpen
Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ilustrasi tatkala.co

TERDENGAR TAWA ANAK-ANAK yang bermain dengan riang, pada sejengkal tanah kosong di depan rumah ini. Anak laki-laki sbermain layangan. Suara mereka riuh bergembira.

Anak-anak perempuan bermain di bawah pohon singapur yang berbuah merah lebat. Mereka sedang bermain masak-masakan dengan bahan dedaunan dan buah-buah yang gugur.

Beberapa anak memandang ke arah rumah ini. Rumah yang seolah kosong, seperti tidak berpenghuni. Mereka tidak menyadari ada aku, berdiam dalam rumah.

Cat tembok rumah telah pudar berlumut, kusam. Seolah menyerukan rasa kesepian. Tapi tak mengapa, aku memang telah terbiasa.

Sudah sepuluh tahun aku menjalani hidup berpindah-pindah. Bekerja serabutan. Tak ubahnya wanita jalang. Bernyanyi kedinginan.

***

Sepuluh tahun lalu, aku hanyalah gadis desa biasa, yang tak bercita-cita apapun dalam hidupnya. Bagaimana bisa memiliki cita-cita tinggi, sementara aku hanya terlahir dari delapan bersaudara di sebuah keluarga petani kecil. Keseharian kami ialah menggarap sepetak sawah peninggalan leluhur, turun temurun.

Tanah leluhur yang terletak di desa terpencil, sehingga membuat akses pendidikan pada waktu itu masih sangat sulit kami jangkau. Meski pemerintah giat menyuarakan pemerataan pendidikan, namun hal itu tidak berarti banyak bagi kami.

Untuk melanjutkan sekolah ke tingkat lanjut, kami harus menempuh jarak puluhan kilometer ke pusat kota. Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mudah bagi kaum seperti kami.

“Terimalah lamaran Pak Banyu menjadi istri kesembilannya!” Suara bapak masih terdengar jelas di kepala. Kadang suara-suara itu suka sekali muncul tiba-tiba dalam benak. Rasa sakit oleh kenangan itu pun tidak pernah hilang barang setitik, meski telah berlalu bertahun-tahun.

“Kapan lagi ada laki-laki kaya yang mau melamarmu? Dengan menikahinya, kau angkat derajat keluarga ini.”Suara itu kembali merongrong. Tubuhku bergetar oleh rasa benci yang entah bagaimana bisa aku ungkap, dan entah kepada siapa.

“Tapi pak, usia Pak Banyu sudah 50 tahun. Lebih pantas dia kupanggil paman,”teriak hatiku. Namun nyatanya, aku hanya mengangguk tanpa suara.

Suara? Kami perempuan bahkan tak memiliki hak melakukannya. Mulut kami dibungkam oleh patriarki, dan saat itu aku masih berusia 16 tahun. Usia di mana aku belum mengerti banyak hal. Usia di mana seharusnya diriku bisa menghirup rasa kebebasan sebebas-bebasnya.

Meski begitu, toh pernikahan kami akhirnya berjalan, dalam pesta meriah yang bagiku amat sangat lama dan membosankan.

Menjelang sore, akhirnya acara selesai. Aku menghela napas lega. Gelungan hiasan kepala yang berat ini, akhirnya bisa dilepas. Aku bersuka-cita seolah merayakan berakhirnya segala penderitaan. Berakhir, hanya sementara.

Bapak memandangku dengan mata berbinar-binar. Seolah dia telah berhasil menggenggam bongkahan emas. Mahar tiga ekor sapi itu mungkin dirasa lebih dari cukup untuk menukar aku. Setidaknya dia bisa menjual sapi itu dan mendapatkan uang banyak kelak dikemudian hari.

Melihat sorot mata bapak, aku baru paham makna ungkapan yang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Kalimat yang sering dilontarkan orang-orang untuk mengajak pasangan pengantin baru agar memiliki banyak anak.

Toh, memang benar kenyataanya, yang terjadi pada hidup orang tuaku sendiri. Bahwa makin banyak anak (perempuan) yang kau punya, makin banyak mahar yang kau terima.

Bagi mereka, menikah adalah solusi dari kemiskinan. Solusi atas ketidakmampuan orang tua dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya. Menganggap kami sebagai barang yang harus cepat-cepat ditukar dengan beberapa ekor sapi, sebagai imbal hasil atas jasa telah melahirkan kami.

Orang tua ingin cepat-cepat menikahkan anak perempuan mereka, berharap agar anak-anak perempuan itu tidak perlu lagi mereka biayai. Orang tua itu berpikir bahwa dengan menikahkan anak perempuan, tanggungan nasi dan lauk-pauk dapur akan berkurang.

Jangan salahkan kami berdiam. Kami hanya pengikut, sebagaimana mahar beberapa ekor sapi yang telah dicocok hidungnya, tidak berdaya.

Bukankah selepas acara pernikahan ini, yang perlu aku lakukan hanyalah mengangkang? Untuk kemudian beranak pinak menghasilkan keturunan jantan dan betina seperti halnya hewan ternak.

Keturunan, yang jika anak itu terlahir laki-laki, akan kami peras keringatnya untuk dijadikan tabungan hari tua. Sedangkan jika dia terlahir perempuan, akan dinikahkan sedini mungkin agar bisa ditukar dengan mahar hadiah barang secuil.

Meski rupa Pak Banyu – suamiku itu amat buruk, tapi siapa yang peduli? Meski setelah ini seumur hidup aku akan merasa hina atas diriku sendiri, karena telah disetubuhinya secara sah, tapi siapa yang peduli?

Di mataku, pria tua itu tak ubah seorang penjahat yang mencari gadis-gadis muda perawan desa untuk dinikahi. Kemudian nantinya akan dibuang jika sudah busuk lubangnya, tak berguna lagi. Selanjutnya mereka akan diganti dengan tunas baru yang bahkan belum sepenuhnya ranum.

Pada malam pertama saat tiba waktu harus melayaninya, aku berusaha menghibur diri sendiri dengan membayangkan hal-hal indah. Tapi hal indah yang aku bayangkan malah membuatku menangis.

Seringai pria itu tajam menatapku. Sebagaimana iblis kelaparan yang hendak memangsa hidup-hidup buruannya. Malam itu tengah mendung seperti saat ini. Petir menyambar beberapa kali, pertanda gerimis datang. Membuat aliran listrik padam dan semua gelap.

Aku ingat, pria tua itu tertawa terkekeh-kekeh.“Makin gelap, makin menantang.”Begitu ucapnya di sela-sela tawa. Siluet tubuh dengan perutnya yang buncit itu, samar-samar tampak membuka pakaiannya dengan ganas. Aku pun telah bersiap menerima pelukannya. Bersiap dengan sehunus pisau belati dalam genggaman tangan.

Saat tubuh besar itu hendak menindihku, bagai ada yang merasuki sukma, tiba-tiba tanganku menghujaminya dengan belati. Sembarang hujam saja, kulakukan berkali-kali pada tubuhnya yang berlemak. Dia memang iblis, tapi kini aku telah berubah menjadi setan.

Terdengar raungan Pak Banyu mengerang kesakitan. Cairan lengket darahnya membanjiri tangan kananku.“Keparat!” teriak Pak Banyu memaki. Sebelum akhirnya ia tumbang tanpa suara.

Saat lampu menyala kembali, tampak mayat lelaki tua itu tersungkur di bawah kakiku. Aku sangat puas, mendapati kenyataan bahwa dia tersungkur di kaki seorang perempuan. Pisau itu aku buang jauh, dan bergegas lari sekencang-kencangnya. Berpasrah ke mana takdir yang mengalun membawaku pada nasib.

Melibas hutan, menyeberang sungai. Ternyata kaki-kaki ini berlari menuju pusat kota nun jauh di balik bukit. Aku harap kota bisa mengubur masa lalu. Aku harap diriku ini pergi menghilang dan kemudian dilupakan seolah tak pernah ada.

***

Langit sore yang mendung menjadi semakin gelap. Gerimis merintik. Anak-anak yang sedari tadi asyik bermain di sepetak tanah kosong di depan rumah ini, sudah tak tampak lagi batang hidungnya. Mungkin mereka takut gerimis menjadi hujan lebat, sebagaimana aku yang takut akan badai tentang masa lalu.

Sebuah mobil berhenti di depan pagar yang berkarat. Tiba-tiba pintu didobrak. Tampak beberapa laki-laki berseragam coklat menodongkan pistol bergerak mendekatiku. Aku tanpa perlawanan dengan patuh mengikuti mereka.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain hanya diam, karena kini aku memang seorang (buronan) perempuan. Bagaimana bisa perempuan lemah sepertiku mampu melawan laki-laki bersenjata?

Namun bibirku menyunggingkan senyum bangga. Sepuluh tahun sudah mereka baru menemukanku. Betapa lihai aku sembunyi. Bersandiwara menjadi orang gila. Menggelandang di luar sana. Sendirian, lapar.

Andai pun mereka mengurungku di balik jeruji besi, toh tiada yang bisa menghidupkan kembali laki-laki tua itu lagi. Laki-laki itu telah mati, sehingga tak perlu lagi dia mencari gadis-gadis muda untuk dinikahi. Laki-laki itu telah mati, bersama suara kami para perempuan yang bisu dibungkam.

 “Tangkap wanita gila ini!” Sesosok letnan memerintah anak buahnya memborgolku. Namun aku tetap tak bisa berhenti tertawa. “Hahahaa…!” Tawaku lepas, menggema bersama gemuruh hujan yang coba kutepis. Borgol itu terasa dingin, namun rasa itu sudah tidak asing bagiku. Aku telah terbiasa. [T]

Bali, 3 Maret 2023

BACA cerpen-cerpen lainnya

Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani
Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Foot Note”, Merayakan Kertas, Membicarakan Wayan Teher, Maestro Lukis dari Tabanan

Next Post

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti

lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Cerpen karya-karyanya telah beberapa kali dimuat di berbagai media seperti Kompas, Ceritanet, Indonesiana.Id, Cerano, dan lain-lain. Saat ini aktif sebagai seorang SEO Content Writer untuk beberapa media dan sales marketing di salah satu penginapan wilayah Ubud.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co