14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti by Ni Wayan Wijayanti
April 8, 2023
in Cerpen
Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ilustrasi tatkala.co

TERDENGAR TAWA ANAK-ANAK yang bermain dengan riang, pada sejengkal tanah kosong di depan rumah ini. Anak laki-laki sbermain layangan. Suara mereka riuh bergembira.

Anak-anak perempuan bermain di bawah pohon singapur yang berbuah merah lebat. Mereka sedang bermain masak-masakan dengan bahan dedaunan dan buah-buah yang gugur.

Beberapa anak memandang ke arah rumah ini. Rumah yang seolah kosong, seperti tidak berpenghuni. Mereka tidak menyadari ada aku, berdiam dalam rumah.

Cat tembok rumah telah pudar berlumut, kusam. Seolah menyerukan rasa kesepian. Tapi tak mengapa, aku memang telah terbiasa.

Sudah sepuluh tahun aku menjalani hidup berpindah-pindah. Bekerja serabutan. Tak ubahnya wanita jalang. Bernyanyi kedinginan.

***

Sepuluh tahun lalu, aku hanyalah gadis desa biasa, yang tak bercita-cita apapun dalam hidupnya. Bagaimana bisa memiliki cita-cita tinggi, sementara aku hanya terlahir dari delapan bersaudara di sebuah keluarga petani kecil. Keseharian kami ialah menggarap sepetak sawah peninggalan leluhur, turun temurun.

Tanah leluhur yang terletak di desa terpencil, sehingga membuat akses pendidikan pada waktu itu masih sangat sulit kami jangkau. Meski pemerintah giat menyuarakan pemerataan pendidikan, namun hal itu tidak berarti banyak bagi kami.

Untuk melanjutkan sekolah ke tingkat lanjut, kami harus menempuh jarak puluhan kilometer ke pusat kota. Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mudah bagi kaum seperti kami.

“Terimalah lamaran Pak Banyu menjadi istri kesembilannya!” Suara bapak masih terdengar jelas di kepala. Kadang suara-suara itu suka sekali muncul tiba-tiba dalam benak. Rasa sakit oleh kenangan itu pun tidak pernah hilang barang setitik, meski telah berlalu bertahun-tahun.

“Kapan lagi ada laki-laki kaya yang mau melamarmu? Dengan menikahinya, kau angkat derajat keluarga ini.”Suara itu kembali merongrong. Tubuhku bergetar oleh rasa benci yang entah bagaimana bisa aku ungkap, dan entah kepada siapa.

“Tapi pak, usia Pak Banyu sudah 50 tahun. Lebih pantas dia kupanggil paman,”teriak hatiku. Namun nyatanya, aku hanya mengangguk tanpa suara.

Suara? Kami perempuan bahkan tak memiliki hak melakukannya. Mulut kami dibungkam oleh patriarki, dan saat itu aku masih berusia 16 tahun. Usia di mana aku belum mengerti banyak hal. Usia di mana seharusnya diriku bisa menghirup rasa kebebasan sebebas-bebasnya.

Meski begitu, toh pernikahan kami akhirnya berjalan, dalam pesta meriah yang bagiku amat sangat lama dan membosankan.

Menjelang sore, akhirnya acara selesai. Aku menghela napas lega. Gelungan hiasan kepala yang berat ini, akhirnya bisa dilepas. Aku bersuka-cita seolah merayakan berakhirnya segala penderitaan. Berakhir, hanya sementara.

Bapak memandangku dengan mata berbinar-binar. Seolah dia telah berhasil menggenggam bongkahan emas. Mahar tiga ekor sapi itu mungkin dirasa lebih dari cukup untuk menukar aku. Setidaknya dia bisa menjual sapi itu dan mendapatkan uang banyak kelak dikemudian hari.

Melihat sorot mata bapak, aku baru paham makna ungkapan yang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Kalimat yang sering dilontarkan orang-orang untuk mengajak pasangan pengantin baru agar memiliki banyak anak.

Toh, memang benar kenyataanya, yang terjadi pada hidup orang tuaku sendiri. Bahwa makin banyak anak (perempuan) yang kau punya, makin banyak mahar yang kau terima.

Bagi mereka, menikah adalah solusi dari kemiskinan. Solusi atas ketidakmampuan orang tua dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya. Menganggap kami sebagai barang yang harus cepat-cepat ditukar dengan beberapa ekor sapi, sebagai imbal hasil atas jasa telah melahirkan kami.

Orang tua ingin cepat-cepat menikahkan anak perempuan mereka, berharap agar anak-anak perempuan itu tidak perlu lagi mereka biayai. Orang tua itu berpikir bahwa dengan menikahkan anak perempuan, tanggungan nasi dan lauk-pauk dapur akan berkurang.

Jangan salahkan kami berdiam. Kami hanya pengikut, sebagaimana mahar beberapa ekor sapi yang telah dicocok hidungnya, tidak berdaya.

Bukankah selepas acara pernikahan ini, yang perlu aku lakukan hanyalah mengangkang? Untuk kemudian beranak pinak menghasilkan keturunan jantan dan betina seperti halnya hewan ternak.

Keturunan, yang jika anak itu terlahir laki-laki, akan kami peras keringatnya untuk dijadikan tabungan hari tua. Sedangkan jika dia terlahir perempuan, akan dinikahkan sedini mungkin agar bisa ditukar dengan mahar hadiah barang secuil.

Meski rupa Pak Banyu – suamiku itu amat buruk, tapi siapa yang peduli? Meski setelah ini seumur hidup aku akan merasa hina atas diriku sendiri, karena telah disetubuhinya secara sah, tapi siapa yang peduli?

Di mataku, pria tua itu tak ubah seorang penjahat yang mencari gadis-gadis muda perawan desa untuk dinikahi. Kemudian nantinya akan dibuang jika sudah busuk lubangnya, tak berguna lagi. Selanjutnya mereka akan diganti dengan tunas baru yang bahkan belum sepenuhnya ranum.

Pada malam pertama saat tiba waktu harus melayaninya, aku berusaha menghibur diri sendiri dengan membayangkan hal-hal indah. Tapi hal indah yang aku bayangkan malah membuatku menangis.

Seringai pria itu tajam menatapku. Sebagaimana iblis kelaparan yang hendak memangsa hidup-hidup buruannya. Malam itu tengah mendung seperti saat ini. Petir menyambar beberapa kali, pertanda gerimis datang. Membuat aliran listrik padam dan semua gelap.

Aku ingat, pria tua itu tertawa terkekeh-kekeh.“Makin gelap, makin menantang.”Begitu ucapnya di sela-sela tawa. Siluet tubuh dengan perutnya yang buncit itu, samar-samar tampak membuka pakaiannya dengan ganas. Aku pun telah bersiap menerima pelukannya. Bersiap dengan sehunus pisau belati dalam genggaman tangan.

Saat tubuh besar itu hendak menindihku, bagai ada yang merasuki sukma, tiba-tiba tanganku menghujaminya dengan belati. Sembarang hujam saja, kulakukan berkali-kali pada tubuhnya yang berlemak. Dia memang iblis, tapi kini aku telah berubah menjadi setan.

Terdengar raungan Pak Banyu mengerang kesakitan. Cairan lengket darahnya membanjiri tangan kananku.“Keparat!” teriak Pak Banyu memaki. Sebelum akhirnya ia tumbang tanpa suara.

Saat lampu menyala kembali, tampak mayat lelaki tua itu tersungkur di bawah kakiku. Aku sangat puas, mendapati kenyataan bahwa dia tersungkur di kaki seorang perempuan. Pisau itu aku buang jauh, dan bergegas lari sekencang-kencangnya. Berpasrah ke mana takdir yang mengalun membawaku pada nasib.

Melibas hutan, menyeberang sungai. Ternyata kaki-kaki ini berlari menuju pusat kota nun jauh di balik bukit. Aku harap kota bisa mengubur masa lalu. Aku harap diriku ini pergi menghilang dan kemudian dilupakan seolah tak pernah ada.

***

Langit sore yang mendung menjadi semakin gelap. Gerimis merintik. Anak-anak yang sedari tadi asyik bermain di sepetak tanah kosong di depan rumah ini, sudah tak tampak lagi batang hidungnya. Mungkin mereka takut gerimis menjadi hujan lebat, sebagaimana aku yang takut akan badai tentang masa lalu.

Sebuah mobil berhenti di depan pagar yang berkarat. Tiba-tiba pintu didobrak. Tampak beberapa laki-laki berseragam coklat menodongkan pistol bergerak mendekatiku. Aku tanpa perlawanan dengan patuh mengikuti mereka.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain hanya diam, karena kini aku memang seorang (buronan) perempuan. Bagaimana bisa perempuan lemah sepertiku mampu melawan laki-laki bersenjata?

Namun bibirku menyunggingkan senyum bangga. Sepuluh tahun sudah mereka baru menemukanku. Betapa lihai aku sembunyi. Bersandiwara menjadi orang gila. Menggelandang di luar sana. Sendirian, lapar.

Andai pun mereka mengurungku di balik jeruji besi, toh tiada yang bisa menghidupkan kembali laki-laki tua itu lagi. Laki-laki itu telah mati, sehingga tak perlu lagi dia mencari gadis-gadis muda untuk dinikahi. Laki-laki itu telah mati, bersama suara kami para perempuan yang bisu dibungkam.

 “Tangkap wanita gila ini!” Sesosok letnan memerintah anak buahnya memborgolku. Namun aku tetap tak bisa berhenti tertawa. “Hahahaa…!” Tawaku lepas, menggema bersama gemuruh hujan yang coba kutepis. Borgol itu terasa dingin, namun rasa itu sudah tidak asing bagiku. Aku telah terbiasa. [T]

Bali, 3 Maret 2023

BACA cerpen-cerpen lainnya

Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani
Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Foot Note”, Merayakan Kertas, Membicarakan Wayan Teher, Maestro Lukis dari Tabanan

Next Post

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti

lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Cerpen karya-karyanya telah beberapa kali dimuat di berbagai media seperti Kompas, Ceritanet, Indonesiana.Id, Cerano, dan lain-lain. Saat ini aktif sebagai seorang SEO Content Writer untuk beberapa media dan sales marketing di salah satu penginapan wilayah Ubud.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co