24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti by Ni Wayan Wijayanti
April 8, 2023
in Cerpen
Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Ilustrasi tatkala.co

TERDENGAR TAWA ANAK-ANAK yang bermain dengan riang, pada sejengkal tanah kosong di depan rumah ini. Anak laki-laki sbermain layangan. Suara mereka riuh bergembira.

Anak-anak perempuan bermain di bawah pohon singapur yang berbuah merah lebat. Mereka sedang bermain masak-masakan dengan bahan dedaunan dan buah-buah yang gugur.

Beberapa anak memandang ke arah rumah ini. Rumah yang seolah kosong, seperti tidak berpenghuni. Mereka tidak menyadari ada aku, berdiam dalam rumah.

Cat tembok rumah telah pudar berlumut, kusam. Seolah menyerukan rasa kesepian. Tapi tak mengapa, aku memang telah terbiasa.

Sudah sepuluh tahun aku menjalani hidup berpindah-pindah. Bekerja serabutan. Tak ubahnya wanita jalang. Bernyanyi kedinginan.

***

Sepuluh tahun lalu, aku hanyalah gadis desa biasa, yang tak bercita-cita apapun dalam hidupnya. Bagaimana bisa memiliki cita-cita tinggi, sementara aku hanya terlahir dari delapan bersaudara di sebuah keluarga petani kecil. Keseharian kami ialah menggarap sepetak sawah peninggalan leluhur, turun temurun.

Tanah leluhur yang terletak di desa terpencil, sehingga membuat akses pendidikan pada waktu itu masih sangat sulit kami jangkau. Meski pemerintah giat menyuarakan pemerataan pendidikan, namun hal itu tidak berarti banyak bagi kami.

Untuk melanjutkan sekolah ke tingkat lanjut, kami harus menempuh jarak puluhan kilometer ke pusat kota. Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mudah bagi kaum seperti kami.

“Terimalah lamaran Pak Banyu menjadi istri kesembilannya!” Suara bapak masih terdengar jelas di kepala. Kadang suara-suara itu suka sekali muncul tiba-tiba dalam benak. Rasa sakit oleh kenangan itu pun tidak pernah hilang barang setitik, meski telah berlalu bertahun-tahun.

“Kapan lagi ada laki-laki kaya yang mau melamarmu? Dengan menikahinya, kau angkat derajat keluarga ini.”Suara itu kembali merongrong. Tubuhku bergetar oleh rasa benci yang entah bagaimana bisa aku ungkap, dan entah kepada siapa.

“Tapi pak, usia Pak Banyu sudah 50 tahun. Lebih pantas dia kupanggil paman,”teriak hatiku. Namun nyatanya, aku hanya mengangguk tanpa suara.

Suara? Kami perempuan bahkan tak memiliki hak melakukannya. Mulut kami dibungkam oleh patriarki, dan saat itu aku masih berusia 16 tahun. Usia di mana aku belum mengerti banyak hal. Usia di mana seharusnya diriku bisa menghirup rasa kebebasan sebebas-bebasnya.

Meski begitu, toh pernikahan kami akhirnya berjalan, dalam pesta meriah yang bagiku amat sangat lama dan membosankan.

Menjelang sore, akhirnya acara selesai. Aku menghela napas lega. Gelungan hiasan kepala yang berat ini, akhirnya bisa dilepas. Aku bersuka-cita seolah merayakan berakhirnya segala penderitaan. Berakhir, hanya sementara.

Bapak memandangku dengan mata berbinar-binar. Seolah dia telah berhasil menggenggam bongkahan emas. Mahar tiga ekor sapi itu mungkin dirasa lebih dari cukup untuk menukar aku. Setidaknya dia bisa menjual sapi itu dan mendapatkan uang banyak kelak dikemudian hari.

Melihat sorot mata bapak, aku baru paham makna ungkapan yang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Kalimat yang sering dilontarkan orang-orang untuk mengajak pasangan pengantin baru agar memiliki banyak anak.

Toh, memang benar kenyataanya, yang terjadi pada hidup orang tuaku sendiri. Bahwa makin banyak anak (perempuan) yang kau punya, makin banyak mahar yang kau terima.

Bagi mereka, menikah adalah solusi dari kemiskinan. Solusi atas ketidakmampuan orang tua dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya. Menganggap kami sebagai barang yang harus cepat-cepat ditukar dengan beberapa ekor sapi, sebagai imbal hasil atas jasa telah melahirkan kami.

Orang tua ingin cepat-cepat menikahkan anak perempuan mereka, berharap agar anak-anak perempuan itu tidak perlu lagi mereka biayai. Orang tua itu berpikir bahwa dengan menikahkan anak perempuan, tanggungan nasi dan lauk-pauk dapur akan berkurang.

Jangan salahkan kami berdiam. Kami hanya pengikut, sebagaimana mahar beberapa ekor sapi yang telah dicocok hidungnya, tidak berdaya.

Bukankah selepas acara pernikahan ini, yang perlu aku lakukan hanyalah mengangkang? Untuk kemudian beranak pinak menghasilkan keturunan jantan dan betina seperti halnya hewan ternak.

Keturunan, yang jika anak itu terlahir laki-laki, akan kami peras keringatnya untuk dijadikan tabungan hari tua. Sedangkan jika dia terlahir perempuan, akan dinikahkan sedini mungkin agar bisa ditukar dengan mahar hadiah barang secuil.

Meski rupa Pak Banyu – suamiku itu amat buruk, tapi siapa yang peduli? Meski setelah ini seumur hidup aku akan merasa hina atas diriku sendiri, karena telah disetubuhinya secara sah, tapi siapa yang peduli?

Di mataku, pria tua itu tak ubah seorang penjahat yang mencari gadis-gadis muda perawan desa untuk dinikahi. Kemudian nantinya akan dibuang jika sudah busuk lubangnya, tak berguna lagi. Selanjutnya mereka akan diganti dengan tunas baru yang bahkan belum sepenuhnya ranum.

Pada malam pertama saat tiba waktu harus melayaninya, aku berusaha menghibur diri sendiri dengan membayangkan hal-hal indah. Tapi hal indah yang aku bayangkan malah membuatku menangis.

Seringai pria itu tajam menatapku. Sebagaimana iblis kelaparan yang hendak memangsa hidup-hidup buruannya. Malam itu tengah mendung seperti saat ini. Petir menyambar beberapa kali, pertanda gerimis datang. Membuat aliran listrik padam dan semua gelap.

Aku ingat, pria tua itu tertawa terkekeh-kekeh.“Makin gelap, makin menantang.”Begitu ucapnya di sela-sela tawa. Siluet tubuh dengan perutnya yang buncit itu, samar-samar tampak membuka pakaiannya dengan ganas. Aku pun telah bersiap menerima pelukannya. Bersiap dengan sehunus pisau belati dalam genggaman tangan.

Saat tubuh besar itu hendak menindihku, bagai ada yang merasuki sukma, tiba-tiba tanganku menghujaminya dengan belati. Sembarang hujam saja, kulakukan berkali-kali pada tubuhnya yang berlemak. Dia memang iblis, tapi kini aku telah berubah menjadi setan.

Terdengar raungan Pak Banyu mengerang kesakitan. Cairan lengket darahnya membanjiri tangan kananku.“Keparat!” teriak Pak Banyu memaki. Sebelum akhirnya ia tumbang tanpa suara.

Saat lampu menyala kembali, tampak mayat lelaki tua itu tersungkur di bawah kakiku. Aku sangat puas, mendapati kenyataan bahwa dia tersungkur di kaki seorang perempuan. Pisau itu aku buang jauh, dan bergegas lari sekencang-kencangnya. Berpasrah ke mana takdir yang mengalun membawaku pada nasib.

Melibas hutan, menyeberang sungai. Ternyata kaki-kaki ini berlari menuju pusat kota nun jauh di balik bukit. Aku harap kota bisa mengubur masa lalu. Aku harap diriku ini pergi menghilang dan kemudian dilupakan seolah tak pernah ada.

***

Langit sore yang mendung menjadi semakin gelap. Gerimis merintik. Anak-anak yang sedari tadi asyik bermain di sepetak tanah kosong di depan rumah ini, sudah tak tampak lagi batang hidungnya. Mungkin mereka takut gerimis menjadi hujan lebat, sebagaimana aku yang takut akan badai tentang masa lalu.

Sebuah mobil berhenti di depan pagar yang berkarat. Tiba-tiba pintu didobrak. Tampak beberapa laki-laki berseragam coklat menodongkan pistol bergerak mendekatiku. Aku tanpa perlawanan dengan patuh mengikuti mereka.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain hanya diam, karena kini aku memang seorang (buronan) perempuan. Bagaimana bisa perempuan lemah sepertiku mampu melawan laki-laki bersenjata?

Namun bibirku menyunggingkan senyum bangga. Sepuluh tahun sudah mereka baru menemukanku. Betapa lihai aku sembunyi. Bersandiwara menjadi orang gila. Menggelandang di luar sana. Sendirian, lapar.

Andai pun mereka mengurungku di balik jeruji besi, toh tiada yang bisa menghidupkan kembali laki-laki tua itu lagi. Laki-laki itu telah mati, sehingga tak perlu lagi dia mencari gadis-gadis muda untuk dinikahi. Laki-laki itu telah mati, bersama suara kami para perempuan yang bisu dibungkam.

 “Tangkap wanita gila ini!” Sesosok letnan memerintah anak buahnya memborgolku. Namun aku tetap tak bisa berhenti tertawa. “Hahahaa…!” Tawaku lepas, menggema bersama gemuruh hujan yang coba kutepis. Borgol itu terasa dingin, namun rasa itu sudah tidak asing bagiku. Aku telah terbiasa. [T]

Bali, 3 Maret 2023

BACA cerpen-cerpen lainnya

Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani
Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Foot Note”, Merayakan Kertas, Membicarakan Wayan Teher, Maestro Lukis dari Tabanan

Next Post

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Ni Wayan Wijayanti

Ni Wayan Wijayanti

lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Cerpen karya-karyanya telah beberapa kali dimuat di berbagai media seperti Kompas, Ceritanet, Indonesiana.Id, Cerano, dan lain-lain. Saat ini aktif sebagai seorang SEO Content Writer untuk beberapa media dan sales marketing di salah satu penginapan wilayah Ubud.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Pandan Berduri dan Ketajaman Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co