22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Foot Note”, Merayakan Kertas, Membicarakan Wayan Teher, Maestro Lukis dari Tabanan

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 7, 2023
in Ulas Rupa
“Foot Note”, Merayakan Kertas, Membicarakan Wayan Teher, Maestro Lukis dari Tabanan

Pameran Foot Note di Wayan Teher Art Space (WTAS), sebelah timur Pura Tanah Lot, Tabanan

BUKAN TANPA sebab panitia sekaligus inisiator pameran “Foot Note”, Bli Yusa, Pak Man Aptika dkk, secara partikular memilih karya-karya kertas sebagai materi utama pameran.

Pilihan ini berkaitan erat dengan aspek historis ruang pamer itu sendiri, Studio Nirwana (1975) milik pelukis Wayan Teher (b.1940) yang sejak bulan Oktober 2022 lalu telah diperkenalkan kembali oleh keluarganya dalam bentuk wajah baru sebagai Wayan Teher Art Space (WTAS) berlokasi di sebelah timur Pura Tanah Lot, Tabanan.

Ide pameran ini berangkat dari semangat dan memori atas perjalanan hidup maestro seni lukis kelahiran Berembeng-Tabanan, Wayan Teher (alm). Sejak awal tahun 70-an Wayan Teher dikenal telah bermukim dan berkesenian di pesisir Tanah Lot, jauh sebelum kawasan daya tarik wisata Tanah Lot resmi dibuka pemerintah ke dunia internasional.

Jauh sebelum Tanah Lot dibanjiri oleh hilir mudik para wisatawan asing yang seolah tak pernah habis rasa rindunya pada pesona panorama Tanah Lot. Katakanlah gulungan ombaknya yang silih berganti dikoyak oleh indahnya bongkahan batu karang, terlebih juga sunsetnya yang seringkali menyihir mata sampai kalap. Ahhh..

Wayan Teher memang dikenal sebagai sosok yang nyentrik dan visioner. Saya tahu itu dari mendengar sepotong demi sepotong kesaksian ketokohan Wayan Teher langsung lewat anak-cucunya yang secara tidak langsung juga memberi impresi yang sama seperti ketika pertama saya mendengar kisah almarhum maestro lukis Denpasar I Gusti Made Deblog beberapa tahun lalu lewat sebuah project riset bersama kawan-kawan Gurat Institute.

Keduanya inspiratif dan memberi gelombang positif yang luar biasa. Meskipun persoalan yang dihadapi keduanya boleh jadi lain-lain, namun mereka tampak seperti individu yang tidak jauh berbeda. Keduanya adalah pengembara, visioner dengan karakter yang sederhana, sama-sama mencintai dunia seni lukis, dan mengabdikan seluruh hidupnya pada seni lukis.

Apabila semasa hidup Deblog punya tandem karib Rai Regug atau Ida Bagus Tugur misalnya, maka Wayan Teher punya sahabat pelukis yang bernama I Gusti Nyoman Nodia. Rumahnya berada persis di sebelah timur rumah Wayan Teher, hanya dibatasi oleh tembok setinggi bahu orang dewasa.

Bersama I Gusti Nyoman Nodia, Wayan Teher melewati tahun-tahun sulit di Tanah Lot. Terlebih mereka terkenal dengan sikap idealisnya terutama dalam menghargai karya sendiri, lagi-lagi seperti sikap yang dimiliki oleh Deblog atau katakanlah Ida Bagus Made dari Tebesaya yang sering menyerukan “lukisan saya bukan barang artshop”.

Berkat sikap tersebut hingga kini kita masih bisa menikmati sebagian besar lukisan dan arsip-arsip Wayan Teher (1975-1992) yang masih tersimpan dan terawat dengan baik dalam bale gedong sebelah selatan ruang WTAS.

Pada satu waktu, cucu Wayan Teher atau yang saya dkk akrab panggil Bli Yusa tengah mengarsip karya-karya kakeknya Wayan Teher. Pada momen ini ia menemukan sekumpulan lukisan berukuran kecil yang cukup berbeda dari lukisan yang biasa kakeknya kerjakan.

Dalam lukisan kanvasnya, Wayan Teher lebih sering mengangkat tema religius-teologis Bali, kritik sosial, hingga narasi yang sifatnya lebih personal, lukisan-lukisan kecil ini jauh dari tema tersebut. Mereka digarap di atas kertas yang seluruh permukaannya terpasang tekstur pasir pantai dan penuh dengan warna-warna tajam.

Sebagian besar objek dari kumpulan lukisan diatas kertas ini menggambarkan pemandangan seputar pesisir Tanah Lot, pegunungan, laut, dan sejenisnya. Ini memantik Yusa untuk mendiskusikan temuannya bersama ayahnya, Nyoman Aptika.

Bli Yusa memang mengaku tidak punya banyak memori tentang kakek dan aktivitasnya karena Wayan Teher meninggal ketika Bli Yusa masih berumur sekitar 2 tahun. Ia kemudian baru sejak beberapa tahun lalu setelah memilih untuk menjadi pelukis memiliki kesadaran untuk menggali tentang sosok kakeknya itu, lalu menafsir pemikiran-pemikiran kakeknya lewat lukisan, memori, serta cerita tentang kakeknya yang bertebaran di masyarakat.

Maka usut demi usut diketahuilah bahwa lukisan-lukisan kecil ini adalah karya-karya yang dibuat khusus sebagai cara atau strategi Wayan Teher bertahan hidup dan menghidupi dapur keluarganya dengan tetap setia pada profesinya. Sembari tetap melukis di atas kanvas, mereka terus memproduksi lukisan serupa postcard tersebut sebagai souvenir yang bisa ditawarkan pada para wisatawan—saat itu mereka sering bolak-balik ke Nusa Dua untuk menjajakannya.

Secara tidak langsung karya-karya kertas Wayan Teher yang cukup eksploratif inilah yang juga turut melanggengkan nafas ruang atau studio tempat ia bekerja sejak awal menginjakkan kaki di Tanah Lot.

Pameran Foot Note ini sederhananya adalah perayaan atas semangat Wayan Teher, Gusti Nyoman Nodia, dan para sahabat perupa yang mencintai profesinya. Sekaligus program kedua setelah pada Oktober 2022 lalu sukses memamerkan 9 karya koleksi pribadi alm Wayan Teher dalam rangka meresmikan ruang presentasi baru untuk seni rupa Bali.

Program kedua yang terinspirasi dari jejak Wayan Teher melalui ruang Wayan Teher Art Space pada tanggal 2 April 2023  memamerkan 25 karya (lukis, drawing, dan cetak fotografi) yang dikerjakan oleh 18 perupa dari lintas generasi diatas medium kertas.

Diantaranya alm Wayan Teher, I Gst Nyoman Nodia, Putu Sutawijaya, Nyoman Aptika, Ketut Widana, Wayan Suja, Wayan Yusa Dirgantara, Nugi Ketut, Surya Subratha, Didin Jirot, Wayan Piki S, I Gede Sukarya, I Gede Haryonoto, SRFHTH, Gilang Gelantara, Gusti Kade, Ade Ahimsa, Caesar Dwi Mahesa dan saya sendiri.

Sebagian besar karya disepakati berukuran sama yakni 210×297 mm, semua dibingkai senada dengan kaca akrilik, dan ditata dengan sistim grouping demi mengoptimalkan flow ruang berukuran manis sekitar 5×5 m persegi tersebut.

Karya-karya kertas dipilih selain berdasarkan narasi historis ruang, juga berangkat dari pertimbangan karakteristik medium itu sendiri yang serap mesra, sederhana namun penuh personalitas.

Artinya meskipun digarap diatas medium yang serupa, masing-masing karya tetap menghadirkan kisahnya sendiri.

“Masing-masing melukis realitas yang mereka hadapi,” kata Mas Syarif dalam tulisan pengantarnya.

Demikian tulisan memoar ini saya tulis untuk mengapresiasi dan mengenang momen-momen penuh kehangatan di pesisir Tanah Lot, satu lagi tempat di Bali yang ingin saya kunjungi terus bila ada kesempatan. [T]

Exposition: Melihat Karya-Karya Terkini Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Pameran Flowers On Paper: Penyatuan Kertas Daur Ulang dan Bunga-Bunga Kecintaan
Nyanyian Pelangi Arahmaiani: Lukisan, Agama, Huruf, Lingkungan…
Tags: Pameran Seni RupaSeni RupatabananTanah Lot
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selonding: The Sound of Healing

Next Post

Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Perempuan Dalam Bejana | Cerpen Ni Wayan Wijayanti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co