3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyanyian Pelangi Arahmaiani: Lukisan, Agama, Huruf, Lingkungan…

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
December 25, 2022
in Pilihan Editor, Ulas Rupa
Nyanyian Pelangi Arahmaiani: Lukisan, Agama, Huruf, Lingkungan…

Arahmaiani | Foto: Jengki Sunarta

Selama ini Arahmaiani dikenal sebagai perupa yang banyak menggelar performance art berbasis komunitas. Sebagian besar karyanya berbicara tentang krisis lingkungan, kemanusiaan, kesetaraan gender, kebhinekaan, dan berbagai isu penting lainnnya. Yani—panggilan akrab Arahmaiani—menggunakan seni sebagai gerakan penyadaran masyarakat.

Di luar kegiatan performance art, Yani masih tekun melukis. Baginya, seni lukis juga menjadi salah satu medium gerakan penyadaran. Seri lukisan terbaru Yani yang dikerjakannya sejak tahun 2020 dipamerkan di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali. Pameran bertajuk “Song of The Rainbow” itu digelar sejak tanggal 26 Nopember 2022 hingga 26 Januari 2023.

Pameran ini menampilkan sejumlah seri lukisan ukuran besar. Bentuk-bentuk yang tertera pada lukisan diolah dari huruf Arab Pegon. Huruf-huruf pegon itu dilukis dan disusun sedemikian rupa dengan komposisi dan perwarnaan tertentu. Visual dari huruf-huruf yang telah distilisasi itu tampak melengkung, melingkar, vertikal, horizontal, atau saling tumpang tindih. Warna-warna dominan yang muncul dalam lukisan adalah merah, hijau, kuning, biru dengan berbagai gradasinya.

Namun, tentu saja Yani tidak sekadar melukiskan huruf Pegon. Dia sedang menyuguhkan seni kaligrafi kontemprer dengan dasar huruf Pegon. Susunan huruf-huruf dalam lukisannya membentuk kata dan mengandung makna-makna tertentu yang mengacu kepada perdamaian, cinta kasih, keharmonisan, kebhinekaan.

Song of the Rainbow karya Arahmaiani | Foto Wayan Jengki Sunarta

Huruf Arab Pegon berkembang di Jawa pada era penyebaran Agama Islam. Huruf ini termasuk nyleneh karena susunan dan tatanannya berbeda dengan aslinya. Arab bukan, Jawa juga bukan. Kata “pegon” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya menyimpang. Huruf ini menyimpang dari literatur Arab, sekaligus menyimpang dari literatur Jawa. Huruf ini dipakai untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, Sunda, Melayu.

Kecuali di pondok-pondok pesantren, tradisi menggunakan huruf Arab Pegon mulai hilang. Huruf Pegon merupakan warisan budaya Nusantara yang perlu dilestarikan. Pustaka-pustaka dan karya sastra yang ditulis oleh ulama dan kiai di masa lalu yang menyimpan banyak ajaran leluhur ditulis menggunakan huruf Arab Pegon.

Kenapa Yani mengangkat huruf Arab Pegon dalam lukisannya? Yani ingin menyampaikan pesan bahwa Islam di Nusantara berbeda dengan Islam di Arab. Islam di Nusantara adalah Islam yang aneka warna karena berbaur dengan tradisi dan budaya masing-masing daerah. Yani menekankan pentingnya menggali budaya sendiri, baik dalam menjalani kehidupan beragama maupun kehidupan sosial. Seperti pelangi, budaya Nusantara menyuguhkan aneka warna keindahan dan keharmonisan.

Pemajangan lukisan-lukisan Yani di ruang pameran pun tampak berbeda. Lukisan-lukisan dipajang di dinding kayu di antara patung dan benda-benda etnik dari berbagai daerah di Nusantara koleksi Tonyraka Gallery. Hal ini untuk mempertegas bahwa lukisan-lukisan Yani bagian dari representasi keanekaragaman budaya Nusantara.

Arahmaiani dengan latar lukisan Song of the Rainbow | Foto: Wayan Jengki Sunarta

Arahmaiani adalah perupa kontemporer kelahiran Bandung, 21 Mei 1961. Dia telah tertarik dengan seni rupa sejak remaja. Dia kuliah seni rupa di Institute Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1983. Ia juga menempuh pendidikan seni di Paddington Art School, Sydney, Australia (1985 – 1986) dan Academie voor Beeldende Kunst, Enschede, The Netherlands (1991 – 1992).

Ketika mahasiswa Yani pernah ditahan rezim Soeharto karena menggelar performance art di jalanan pada acara 17 Agustusan. Lewat seni pertunjukan itu, dia mempertanyakan kemerdekaan Indonesia terkait dengan kebebasan berpendapat dan berorganisasi. Gara-gara peristiwa itu dia dikeluarkan dari kampus.

Pada beberapa karyanya, Yani juga menampilkan isu-isu sensitif dan berbau agama. Lukisan Yani yang berjudul “Lingga Yoni” (1993) dan seni instalasi berjudul “Etalase” (1994) pernah mendapat protes dan kecaman dari kelompok Islam garis keras. Karya tersebut terpaksa disensor dan dikeluarkan dari ruang pameran.

Secara umum, karya-karya Yani banyak memaparkan gagasan yang berkaitan dengan tantangan kehidupan. Bagi Yani, penyadaran masyarakat sangat efektif dilakukan lewat seni. Sebab seni merupakan ekspresi batin yang mampu membangkitkan semangat dan perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik.

Yani sering bekerjasama dengan komunitas lokal untuk membuat gerakan-gerakan seni penyadaran yang bertujuan untuk kemanusiaan dan kehidupan di muka bumi. Pada tahun 2006 Yani bekerja dengan komunitas untuk gerakan penyadaran tentang pentingnya lingkungan hidup dan mewaspadai bencana. Gerakan itu dimulai dari Yogya ketika terjadi bencana gempa Yogya.

Arahmaiani bersama pengunjung pameran di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali | Foto: Wayan Jengki Sunarta

Yani juga melakukan gerakan penyadaran lewat “Flag Project” di Jerman, Kanada, Amerika, Australia, China, Tibet, Thailand bekerjasama dengan komunitas setempat. Di Tibet dia berkerja sama dengan komunitas biksu sekte “Topi Kuning” dari 2010 hingga sekarang.

Baru-baru ini, Yani juga terlibat dalam pameran kelompok “G20 of Arts” yang mengangkat isu lingkungan bersama sejumlah perupa internasional. Pameran tersebut berkaitan dengan G20 yang digelar di kawasan Nusa Dua, Bali, Nopember 2022. Dia bersama AD Piorus mewakili Indonesia. Saat itu, Yani menampilkan karya instalasi berjudul “Burned Trees” yang berbicara tentang kebakaran (pembakaran) hutan di Indonesia.

Hingga sekarang, isu lingkungan masih menjadi fokus perhatian Yani. Persoalan kemandirian pangan dan krisis sumber air menjadi hal yang sangat penting untuk diatasi bersama. Yani merasa terpanggil untuk ikut bergerak menyelamatkan kehidupan di muka bumi demi masa depan anak cucu. Sebab krisis lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. [T]

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih
”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar
Pameran TRIP – Jejak Perupa Muda di Medan Seni Rupa
Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik
Tags: ArahmaianiPameran Seni RupaSeni RupaTonyraka Art GalleryUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kulit Kopi Bisa Diolah Jadi Pupuk Hayati | Fakultas Pertanian Unwar Sosialisasi di Wanagiri

Next Post

Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co