14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyanyian Pelangi Arahmaiani: Lukisan, Agama, Huruf, Lingkungan…

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
December 25, 2022
in Pilihan Editor, Ulas Rupa
Nyanyian Pelangi Arahmaiani: Lukisan, Agama, Huruf, Lingkungan…

Arahmaiani | Foto: Jengki Sunarta

Selama ini Arahmaiani dikenal sebagai perupa yang banyak menggelar performance art berbasis komunitas. Sebagian besar karyanya berbicara tentang krisis lingkungan, kemanusiaan, kesetaraan gender, kebhinekaan, dan berbagai isu penting lainnnya. Yani—panggilan akrab Arahmaiani—menggunakan seni sebagai gerakan penyadaran masyarakat.

Di luar kegiatan performance art, Yani masih tekun melukis. Baginya, seni lukis juga menjadi salah satu medium gerakan penyadaran. Seri lukisan terbaru Yani yang dikerjakannya sejak tahun 2020 dipamerkan di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali. Pameran bertajuk “Song of The Rainbow” itu digelar sejak tanggal 26 Nopember 2022 hingga 26 Januari 2023.

Pameran ini menampilkan sejumlah seri lukisan ukuran besar. Bentuk-bentuk yang tertera pada lukisan diolah dari huruf Arab Pegon. Huruf-huruf pegon itu dilukis dan disusun sedemikian rupa dengan komposisi dan perwarnaan tertentu. Visual dari huruf-huruf yang telah distilisasi itu tampak melengkung, melingkar, vertikal, horizontal, atau saling tumpang tindih. Warna-warna dominan yang muncul dalam lukisan adalah merah, hijau, kuning, biru dengan berbagai gradasinya.

Namun, tentu saja Yani tidak sekadar melukiskan huruf Pegon. Dia sedang menyuguhkan seni kaligrafi kontemprer dengan dasar huruf Pegon. Susunan huruf-huruf dalam lukisannya membentuk kata dan mengandung makna-makna tertentu yang mengacu kepada perdamaian, cinta kasih, keharmonisan, kebhinekaan.

Song of the Rainbow karya Arahmaiani | Foto Wayan Jengki Sunarta

Huruf Arab Pegon berkembang di Jawa pada era penyebaran Agama Islam. Huruf ini termasuk nyleneh karena susunan dan tatanannya berbeda dengan aslinya. Arab bukan, Jawa juga bukan. Kata “pegon” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya menyimpang. Huruf ini menyimpang dari literatur Arab, sekaligus menyimpang dari literatur Jawa. Huruf ini dipakai untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, Sunda, Melayu.

Kecuali di pondok-pondok pesantren, tradisi menggunakan huruf Arab Pegon mulai hilang. Huruf Pegon merupakan warisan budaya Nusantara yang perlu dilestarikan. Pustaka-pustaka dan karya sastra yang ditulis oleh ulama dan kiai di masa lalu yang menyimpan banyak ajaran leluhur ditulis menggunakan huruf Arab Pegon.

Kenapa Yani mengangkat huruf Arab Pegon dalam lukisannya? Yani ingin menyampaikan pesan bahwa Islam di Nusantara berbeda dengan Islam di Arab. Islam di Nusantara adalah Islam yang aneka warna karena berbaur dengan tradisi dan budaya masing-masing daerah. Yani menekankan pentingnya menggali budaya sendiri, baik dalam menjalani kehidupan beragama maupun kehidupan sosial. Seperti pelangi, budaya Nusantara menyuguhkan aneka warna keindahan dan keharmonisan.

Pemajangan lukisan-lukisan Yani di ruang pameran pun tampak berbeda. Lukisan-lukisan dipajang di dinding kayu di antara patung dan benda-benda etnik dari berbagai daerah di Nusantara koleksi Tonyraka Gallery. Hal ini untuk mempertegas bahwa lukisan-lukisan Yani bagian dari representasi keanekaragaman budaya Nusantara.

Arahmaiani dengan latar lukisan Song of the Rainbow | Foto: Wayan Jengki Sunarta

Arahmaiani adalah perupa kontemporer kelahiran Bandung, 21 Mei 1961. Dia telah tertarik dengan seni rupa sejak remaja. Dia kuliah seni rupa di Institute Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1983. Ia juga menempuh pendidikan seni di Paddington Art School, Sydney, Australia (1985 – 1986) dan Academie voor Beeldende Kunst, Enschede, The Netherlands (1991 – 1992).

Ketika mahasiswa Yani pernah ditahan rezim Soeharto karena menggelar performance art di jalanan pada acara 17 Agustusan. Lewat seni pertunjukan itu, dia mempertanyakan kemerdekaan Indonesia terkait dengan kebebasan berpendapat dan berorganisasi. Gara-gara peristiwa itu dia dikeluarkan dari kampus.

Pada beberapa karyanya, Yani juga menampilkan isu-isu sensitif dan berbau agama. Lukisan Yani yang berjudul “Lingga Yoni” (1993) dan seni instalasi berjudul “Etalase” (1994) pernah mendapat protes dan kecaman dari kelompok Islam garis keras. Karya tersebut terpaksa disensor dan dikeluarkan dari ruang pameran.

Secara umum, karya-karya Yani banyak memaparkan gagasan yang berkaitan dengan tantangan kehidupan. Bagi Yani, penyadaran masyarakat sangat efektif dilakukan lewat seni. Sebab seni merupakan ekspresi batin yang mampu membangkitkan semangat dan perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik.

Yani sering bekerjasama dengan komunitas lokal untuk membuat gerakan-gerakan seni penyadaran yang bertujuan untuk kemanusiaan dan kehidupan di muka bumi. Pada tahun 2006 Yani bekerja dengan komunitas untuk gerakan penyadaran tentang pentingnya lingkungan hidup dan mewaspadai bencana. Gerakan itu dimulai dari Yogya ketika terjadi bencana gempa Yogya.

Arahmaiani bersama pengunjung pameran di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali | Foto: Wayan Jengki Sunarta

Yani juga melakukan gerakan penyadaran lewat “Flag Project” di Jerman, Kanada, Amerika, Australia, China, Tibet, Thailand bekerjasama dengan komunitas setempat. Di Tibet dia berkerja sama dengan komunitas biksu sekte “Topi Kuning” dari 2010 hingga sekarang.

Baru-baru ini, Yani juga terlibat dalam pameran kelompok “G20 of Arts” yang mengangkat isu lingkungan bersama sejumlah perupa internasional. Pameran tersebut berkaitan dengan G20 yang digelar di kawasan Nusa Dua, Bali, Nopember 2022. Dia bersama AD Piorus mewakili Indonesia. Saat itu, Yani menampilkan karya instalasi berjudul “Burned Trees” yang berbicara tentang kebakaran (pembakaran) hutan di Indonesia.

Hingga sekarang, isu lingkungan masih menjadi fokus perhatian Yani. Persoalan kemandirian pangan dan krisis sumber air menjadi hal yang sangat penting untuk diatasi bersama. Yani merasa terpanggil untuk ikut bergerak menyelamatkan kehidupan di muka bumi demi masa depan anak cucu. Sebab krisis lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. [T]

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih
”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar
Pameran TRIP – Jejak Perupa Muda di Medan Seni Rupa
Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik
Tags: ArahmaianiPameran Seni RupaSeni RupaTonyraka Art GalleryUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kulit Kopi Bisa Diolah Jadi Pupuk Hayati | Fakultas Pertanian Unwar Sosialisasi di Wanagiri

Next Post

Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co