23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyanyian Pelangi Arahmaiani: Lukisan, Agama, Huruf, Lingkungan…

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
December 25, 2022
in Pilihan Editor, Ulas Rupa
Nyanyian Pelangi Arahmaiani: Lukisan, Agama, Huruf, Lingkungan…

Arahmaiani | Foto: Jengki Sunarta

Selama ini Arahmaiani dikenal sebagai perupa yang banyak menggelar performance art berbasis komunitas. Sebagian besar karyanya berbicara tentang krisis lingkungan, kemanusiaan, kesetaraan gender, kebhinekaan, dan berbagai isu penting lainnnya. Yani—panggilan akrab Arahmaiani—menggunakan seni sebagai gerakan penyadaran masyarakat.

Di luar kegiatan performance art, Yani masih tekun melukis. Baginya, seni lukis juga menjadi salah satu medium gerakan penyadaran. Seri lukisan terbaru Yani yang dikerjakannya sejak tahun 2020 dipamerkan di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali. Pameran bertajuk “Song of The Rainbow” itu digelar sejak tanggal 26 Nopember 2022 hingga 26 Januari 2023.

Pameran ini menampilkan sejumlah seri lukisan ukuran besar. Bentuk-bentuk yang tertera pada lukisan diolah dari huruf Arab Pegon. Huruf-huruf pegon itu dilukis dan disusun sedemikian rupa dengan komposisi dan perwarnaan tertentu. Visual dari huruf-huruf yang telah distilisasi itu tampak melengkung, melingkar, vertikal, horizontal, atau saling tumpang tindih. Warna-warna dominan yang muncul dalam lukisan adalah merah, hijau, kuning, biru dengan berbagai gradasinya.

Namun, tentu saja Yani tidak sekadar melukiskan huruf Pegon. Dia sedang menyuguhkan seni kaligrafi kontemprer dengan dasar huruf Pegon. Susunan huruf-huruf dalam lukisannya membentuk kata dan mengandung makna-makna tertentu yang mengacu kepada perdamaian, cinta kasih, keharmonisan, kebhinekaan.

Song of the Rainbow karya Arahmaiani | Foto Wayan Jengki Sunarta

Huruf Arab Pegon berkembang di Jawa pada era penyebaran Agama Islam. Huruf ini termasuk nyleneh karena susunan dan tatanannya berbeda dengan aslinya. Arab bukan, Jawa juga bukan. Kata “pegon” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya menyimpang. Huruf ini menyimpang dari literatur Arab, sekaligus menyimpang dari literatur Jawa. Huruf ini dipakai untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, Sunda, Melayu.

Kecuali di pondok-pondok pesantren, tradisi menggunakan huruf Arab Pegon mulai hilang. Huruf Pegon merupakan warisan budaya Nusantara yang perlu dilestarikan. Pustaka-pustaka dan karya sastra yang ditulis oleh ulama dan kiai di masa lalu yang menyimpan banyak ajaran leluhur ditulis menggunakan huruf Arab Pegon.

Kenapa Yani mengangkat huruf Arab Pegon dalam lukisannya? Yani ingin menyampaikan pesan bahwa Islam di Nusantara berbeda dengan Islam di Arab. Islam di Nusantara adalah Islam yang aneka warna karena berbaur dengan tradisi dan budaya masing-masing daerah. Yani menekankan pentingnya menggali budaya sendiri, baik dalam menjalani kehidupan beragama maupun kehidupan sosial. Seperti pelangi, budaya Nusantara menyuguhkan aneka warna keindahan dan keharmonisan.

Pemajangan lukisan-lukisan Yani di ruang pameran pun tampak berbeda. Lukisan-lukisan dipajang di dinding kayu di antara patung dan benda-benda etnik dari berbagai daerah di Nusantara koleksi Tonyraka Gallery. Hal ini untuk mempertegas bahwa lukisan-lukisan Yani bagian dari representasi keanekaragaman budaya Nusantara.

Arahmaiani dengan latar lukisan Song of the Rainbow | Foto: Wayan Jengki Sunarta

Arahmaiani adalah perupa kontemporer kelahiran Bandung, 21 Mei 1961. Dia telah tertarik dengan seni rupa sejak remaja. Dia kuliah seni rupa di Institute Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1983. Ia juga menempuh pendidikan seni di Paddington Art School, Sydney, Australia (1985 – 1986) dan Academie voor Beeldende Kunst, Enschede, The Netherlands (1991 – 1992).

Ketika mahasiswa Yani pernah ditahan rezim Soeharto karena menggelar performance art di jalanan pada acara 17 Agustusan. Lewat seni pertunjukan itu, dia mempertanyakan kemerdekaan Indonesia terkait dengan kebebasan berpendapat dan berorganisasi. Gara-gara peristiwa itu dia dikeluarkan dari kampus.

Pada beberapa karyanya, Yani juga menampilkan isu-isu sensitif dan berbau agama. Lukisan Yani yang berjudul “Lingga Yoni” (1993) dan seni instalasi berjudul “Etalase” (1994) pernah mendapat protes dan kecaman dari kelompok Islam garis keras. Karya tersebut terpaksa disensor dan dikeluarkan dari ruang pameran.

Secara umum, karya-karya Yani banyak memaparkan gagasan yang berkaitan dengan tantangan kehidupan. Bagi Yani, penyadaran masyarakat sangat efektif dilakukan lewat seni. Sebab seni merupakan ekspresi batin yang mampu membangkitkan semangat dan perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik.

Yani sering bekerjasama dengan komunitas lokal untuk membuat gerakan-gerakan seni penyadaran yang bertujuan untuk kemanusiaan dan kehidupan di muka bumi. Pada tahun 2006 Yani bekerja dengan komunitas untuk gerakan penyadaran tentang pentingnya lingkungan hidup dan mewaspadai bencana. Gerakan itu dimulai dari Yogya ketika terjadi bencana gempa Yogya.

Arahmaiani bersama pengunjung pameran di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali | Foto: Wayan Jengki Sunarta

Yani juga melakukan gerakan penyadaran lewat “Flag Project” di Jerman, Kanada, Amerika, Australia, China, Tibet, Thailand bekerjasama dengan komunitas setempat. Di Tibet dia berkerja sama dengan komunitas biksu sekte “Topi Kuning” dari 2010 hingga sekarang.

Baru-baru ini, Yani juga terlibat dalam pameran kelompok “G20 of Arts” yang mengangkat isu lingkungan bersama sejumlah perupa internasional. Pameran tersebut berkaitan dengan G20 yang digelar di kawasan Nusa Dua, Bali, Nopember 2022. Dia bersama AD Piorus mewakili Indonesia. Saat itu, Yani menampilkan karya instalasi berjudul “Burned Trees” yang berbicara tentang kebakaran (pembakaran) hutan di Indonesia.

Hingga sekarang, isu lingkungan masih menjadi fokus perhatian Yani. Persoalan kemandirian pangan dan krisis sumber air menjadi hal yang sangat penting untuk diatasi bersama. Yani merasa terpanggil untuk ikut bergerak menyelamatkan kehidupan di muka bumi demi masa depan anak cucu. Sebab krisis lingkungan merupakan tanggung jawab kita bersama. [T]

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih
”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar
Pameran TRIP – Jejak Perupa Muda di Medan Seni Rupa
Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik
Tags: ArahmaianiPameran Seni RupaSeni RupaTonyraka Art GalleryUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kulit Kopi Bisa Diolah Jadi Pupuk Hayati | Fakultas Pertanian Unwar Sosialisasi di Wanagiri

Next Post

Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Hakikat Pengendalian Diri dalam Kumpulan Cerpen “Petarung Jambul” Karya Gde Artawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co