5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
October 13, 2022
in Pameran, Pilihan Editor
Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik

I Ketut Boping Suryadi dengan latar lukisan yang dipamerkan dalam Bali Megarupa 2022 di Museum ARMA

I Ketut Suryadi, atau lebih terkenal dengan nama Boping Suryadi, turut serta dalam pameran Bali Megarupa  tahun 2022 bersama lebih dari seratus pelukis lainnya. Boping memamerkan karya lukisan dengan gaya dekoratif primitive sebagaimana gaya yang ditekuni sejak masih kuliah di tahun 1980-an.

Yang menarik dibicarakan dari Boping Suryadi adalah perjalanannya dalam dunia kesenian. Dunia seni yang disukainya itu, sejak tahun 1990-an tidak berjalan sendirian. Dunia yang digeluti harus beriring jalan dengan dunia  politik yang kemudian juga ia tekuni dengan serius.

Ia tercatat sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pernah menjadi Ketua DPRD Tabanan dan kini duduk di kursi DPRD Bali. Ia punya pencapaian di bidang seni, punya prestasi juga di bidang politik.

Namanya juga jalan beriringan. Kadang memang dunia politik berada di depan, kadang dunia seni yang memimpin di depan. Namun, di depan atau di belakang, dua-duanya ditekuninya dengan cara yang khas. Dalam dunia politik ia tak kehilangan keaslian dirinya, kritis dan tak segan bilang hitam jika itu memang hitam. Putih jika putih.

Dalam dunia seni ia tak kehilangan ciri. Karya-karyanya mencerminkan pencarian terus-menerus, pada garis maupun bentuk. Ia seakan tak sudi ikut-ikutan, apalagi ikut trend dan selera pasar. Dekoratif primitive adalah pencariannya, dan ia ngotot untuk tetap berada di tempat itu dan menemukan hal-hal baru.

Saya membaca tulisan I Wayan Suardika di sebuah majalah bertahun-tahun lalu tentang Boping Suryadi dan karya-karyanya. Judul tulisannya, saya ingat, “Boping Suryadi: Pemberontakan Bangku Sekolah”.

Wayan Suardika menulis:  

Boping Suryadi percaya, sebagai mahasiswa grafis di Program Studi Seni Rupa Unud, ia merasa harus mencari sendiri berbagai kemungkinan teknik, gagasan, wawasan seni rupa dan kematangan batin, selain mendengar segepok teori dari dosen. Tetapi ketika kebebasan pencarian kreatif itu terbentur pada kekakuan kartu administrasi, serta sikap kebebasan tak menemukan bentuknya, ia memberontak dari bangku sekolah. Ia keluar dari almamater padahal ia nyaris menjadisarjana.  “Aku tak mendapatkan apa-apa di kampus,” kata pelukis kelahiran Bajera, Tabanan, ini.

Boping Suryadi memang keluar dari kampus, tetapi tetap melukis. Untuk menerapkan pencariannya pada gaya dekoratif primitive ia sempat menekuni bisnis kaos dengan brand Rock Art. Kaos yang diproduksi Rock Art berisi lukisan-lukisan dekoratif primitive khas Boping. Rock Art sempat terkenal, namun kemudian surut setelah banjirnya kaos-kaos produksi dari luar yang kemudian jadi kegemaran anak muda Bali saat itu.

Lukisan Boping Suryadi, “Catatan Hitam Putih”, 140X120, akrilik di atas kanvas, yang dipamerkan pada Pameran Bali Megarupa 2022 di Museum ARMA

Boping Suryadi sempat berpameran dengan tajuk Sketsa Hitam Putih bersama pelukis lain seperti Made Budiana dan I Made Dijirna. Lukisan hitam putih memang menjadi ladang pencarian Boping sejak lama. Karena meurutnya, melukis hitam putih itu lebih sulit dari melukis warna. “Hitam putih itu asli, tak tertutup warna-warna,” kata Boping saat diajak ngobrol, Senin (10/10/2022).

Kapan ia masuk dunia politik? “Aku sejak SMA sudah masuk politik. Rumahku (di Bajera) sejak dulu sudah jadi rumah politik,” kata Boping.

Jiwa politik memang tak jua pernah hilang dari diri Boping, meski jiwa seni juga tetap bercokol dalam dirinya. Ia berpolitik aktif sejak sekitar tahun 1992. Tentu ia masuk dengan idealisme seorang seniman. Di sela kesibukan kerjanya di meja parlemen, ia mengurus anak-anak muda di Tabanan yang suka musik dan puisi.

Ia menggagas Komunitas Anak Angin yang di dalamnya berisi anak-anak muda suka musik dan menciptakan pergaulan kreatif. Ia juga menggagas acara Kemah Budaya dengan materi-materi workshop seni semacam workshop musik, teater dan sastra. Sawung Jabo, musisi Indonesia yang  berkarakter itu, hampir selalu berhasil ia gaet untuk mau memberi workshop musik bagi anak-anak muda di Tabanan dalam acara Kemah Budaya itu.

Boping, di sela-sela berpusingnya ia dalam pusaran politik, juga tetap menjalin pergaulan dengan teman-temannya yang seniman, baik seniman lukis, sastra maupun musik. Untuk tetap melekatkan pergaulan dalam dunia kesenian sekaligus mengukuhkan jiwa berkeseniannya, ia turut serta dalam pameran Bali Magarupa tahun 2022 ini.  

Catatan Hitam Putih

Pameran Bali Megarupa adalah pameran seni rupa kolosal, bagian utuh dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ)  IV tahun 2022. Pameran mengangkat tajuk “Ranu-Wiku-Waktu” (Semesta Cipta Sastra Rupa) dengan kurator Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, Anak Agung Gde Rai dan Prof. Adrian Vickers.

Pameran ini diikuti 117 seniman berbagai aliran, gaya, dan medium; seni lukis, patung, fotografi, kriya, keramik, instalasi, media campuran, dan seni rupa video. Perupa termuda berusia 20 tahun dan yang paling sepuh 69 tahun. Tidak sedikit diantaranya merupakan seniman bereputasi nasional dan internasional.

Ada empat venue pameran terpilih yang memajang karya-karya rupa para seniman itu, yakni Gedung Kriya Taman Budaya Provinsi Bali, Museum Puri Lukisan, Museum Seni Neka dan Museum ARMA.

Karya Boping Suryadi dipamerkan di Museum ARMA bersama sejumlah perupa lainnya. Lukisan yang dipamerkan Boping berjudul Catatan Hitam Putih, acrylic di atas kanvas dengan ukuran 140×120. Lukisan yang dipamerkan, ya seperti disebut di awal, tetap dengan gaya dekoratif primitive. Hitam putih.

“Yang dipajang di pameran satu saja. Lumayan masih banyak (lukisan) di rumah,” kata Boping.

Lukisan yang dipajang di pameran Bali Megarupa itu adalah hasil dari proses melukis di sela-sela kesibukannya menjadi wakil rakyat. Selain melukis, ia juga tetap menulis puisi sebagaimana ia lakukan sejak mahasiswa.

Asal tahu saja, Boping adalah penulis puisi yang handal. Karya-karya puisinya beberapa kali dimuat di media massa, seperti Bali Post Minggu. Oh ya, dia juga salah satu pendiri Sanggar Minum Kopi, sebuah sanggar sastra yang terkenal pada tahun 1980-an dan 1990-an.

“Saya masih sempat melukis dan bikin puisi, kalau tidak di laptop atau di kertas dan di kanvas, saya biasa corat-coret di HP. Corat-coret sket, spontan. Lukisan hasil spontan banyak,” ujar Boping.

Boping mengaku masih setia melukis hitam putih. “Hitam putih itu sukar. Harus berani dengan goresan. Itu asli,” katanya.

Lukisan Catatan Hitam Putih sepertinya memang karya Boping yang dibuatkan dengan begitu sungguh-sungguh. Pada lahan kanvas bertebaran sketsa bentuk dan wajah primitive yang seakan-akan diatur secara rapi, tetapi mengesankan ruang liar tanpa batas.

Ada sketsa wajah, sketsa binatang, bentuk-bentuk pohon, benda-benda tak dikenal. Dengan melihat sketsa-sketsa yang amat dekoratif itu bisa dibayangkan sebuah dunia primitive di masa lalu, sekaligus juga bisa dipadankan pada dunia masa kini, terutama tentang kegelisahan-kegelisahan batin manusia masa kini yang  kadang terperangkap pada kotak nasib, namun di sisi lain punya ambisi untuk selalu berada di tengah kotak itu.

Salah satu lukisan berwarna karya Boping Suryadi

Masa lalu dalam lukisan Boping barangkali disuguhkan oleh bentuk. Namun masa kini dibentuk oleh pikiran sendiri, citaraan sendiri, dan kesan sendiri yang ditangkap dari lukisan itu.  

Sketsa atau lukisan, atau puisi yang dibuat Boping memang mengandung tema tentang kegelisahan batinnya sebagai manusia, sebagai seniman sekaligus sebagai politis di Republik Indonesia ini. Ia menyimpan kegelisahan itu, lalu menuangkannya dalam bentuk sketsa dan lukisan.

“Ya biasalah, karya saya cerminan dari gejolak batin, gejolak politik dan sosial, juga gejolak republik ini,” kata Boping.

Ngomong-ngomong, apa tak ingin menggelar pameran tunggal?

“Lukisan saya banyak. Itu bertumpuk-tumpuk di rumah. Untuk sementara saya ikut pameran bersama dulu,” sahut Boping.

Namun, nanti mungkin lukisan yang dibuat sejak ia masih remaja itu dikumpulkan, dikurasi dengan cermat, lalu bisa digelar pameran tunggal sebagai presentasi perjalanan Boping sebagai pelukis. Mari ditunggu saja. [T]

“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Hardiman Selesaikan 120 Lukisan Saat Pandemi, Siap-siap Pameran Tunggal di Bandung
Tags: Boping SuryadiPameran Seni RupaPolitikSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

Next Post

Piala Penjor, Sentuhan Tangan Kreatif Ketut Putrayasa pada Balimakãrya Film Festival 2022

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Piala Penjor, Sentuhan Tangan Kreatif Ketut  Putrayasa pada Balimakãrya Film Festival 2022

Piala Penjor, Sentuhan Tangan Kreatif Ketut Putrayasa pada Balimakãrya Film Festival 2022

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co