14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
October 13, 2022
in Pameran, Pilihan Editor
Catatan Hitam Putih Boping Suryadi dalam Bali Megarupa: Gejolak Batin, Sosial Politik dan Republik

I Ketut Boping Suryadi dengan latar lukisan yang dipamerkan dalam Bali Megarupa 2022 di Museum ARMA

I Ketut Suryadi, atau lebih terkenal dengan nama Boping Suryadi, turut serta dalam pameran Bali Megarupa  tahun 2022 bersama lebih dari seratus pelukis lainnya. Boping memamerkan karya lukisan dengan gaya dekoratif primitive sebagaimana gaya yang ditekuni sejak masih kuliah di tahun 1980-an.

Yang menarik dibicarakan dari Boping Suryadi adalah perjalanannya dalam dunia kesenian. Dunia seni yang disukainya itu, sejak tahun 1990-an tidak berjalan sendirian. Dunia yang digeluti harus beriring jalan dengan dunia  politik yang kemudian juga ia tekuni dengan serius.

Ia tercatat sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pernah menjadi Ketua DPRD Tabanan dan kini duduk di kursi DPRD Bali. Ia punya pencapaian di bidang seni, punya prestasi juga di bidang politik.

Namanya juga jalan beriringan. Kadang memang dunia politik berada di depan, kadang dunia seni yang memimpin di depan. Namun, di depan atau di belakang, dua-duanya ditekuninya dengan cara yang khas. Dalam dunia politik ia tak kehilangan keaslian dirinya, kritis dan tak segan bilang hitam jika itu memang hitam. Putih jika putih.

Dalam dunia seni ia tak kehilangan ciri. Karya-karyanya mencerminkan pencarian terus-menerus, pada garis maupun bentuk. Ia seakan tak sudi ikut-ikutan, apalagi ikut trend dan selera pasar. Dekoratif primitive adalah pencariannya, dan ia ngotot untuk tetap berada di tempat itu dan menemukan hal-hal baru.

Saya membaca tulisan I Wayan Suardika di sebuah majalah bertahun-tahun lalu tentang Boping Suryadi dan karya-karyanya. Judul tulisannya, saya ingat, “Boping Suryadi: Pemberontakan Bangku Sekolah”.

Wayan Suardika menulis:  

Boping Suryadi percaya, sebagai mahasiswa grafis di Program Studi Seni Rupa Unud, ia merasa harus mencari sendiri berbagai kemungkinan teknik, gagasan, wawasan seni rupa dan kematangan batin, selain mendengar segepok teori dari dosen. Tetapi ketika kebebasan pencarian kreatif itu terbentur pada kekakuan kartu administrasi, serta sikap kebebasan tak menemukan bentuknya, ia memberontak dari bangku sekolah. Ia keluar dari almamater padahal ia nyaris menjadisarjana.  “Aku tak mendapatkan apa-apa di kampus,” kata pelukis kelahiran Bajera, Tabanan, ini.

Boping Suryadi memang keluar dari kampus, tetapi tetap melukis. Untuk menerapkan pencariannya pada gaya dekoratif primitive ia sempat menekuni bisnis kaos dengan brand Rock Art. Kaos yang diproduksi Rock Art berisi lukisan-lukisan dekoratif primitive khas Boping. Rock Art sempat terkenal, namun kemudian surut setelah banjirnya kaos-kaos produksi dari luar yang kemudian jadi kegemaran anak muda Bali saat itu.

Lukisan Boping Suryadi, “Catatan Hitam Putih”, 140X120, akrilik di atas kanvas, yang dipamerkan pada Pameran Bali Megarupa 2022 di Museum ARMA

Boping Suryadi sempat berpameran dengan tajuk Sketsa Hitam Putih bersama pelukis lain seperti Made Budiana dan I Made Dijirna. Lukisan hitam putih memang menjadi ladang pencarian Boping sejak lama. Karena meurutnya, melukis hitam putih itu lebih sulit dari melukis warna. “Hitam putih itu asli, tak tertutup warna-warna,” kata Boping saat diajak ngobrol, Senin (10/10/2022).

Kapan ia masuk dunia politik? “Aku sejak SMA sudah masuk politik. Rumahku (di Bajera) sejak dulu sudah jadi rumah politik,” kata Boping.

Jiwa politik memang tak jua pernah hilang dari diri Boping, meski jiwa seni juga tetap bercokol dalam dirinya. Ia berpolitik aktif sejak sekitar tahun 1992. Tentu ia masuk dengan idealisme seorang seniman. Di sela kesibukan kerjanya di meja parlemen, ia mengurus anak-anak muda di Tabanan yang suka musik dan puisi.

Ia menggagas Komunitas Anak Angin yang di dalamnya berisi anak-anak muda suka musik dan menciptakan pergaulan kreatif. Ia juga menggagas acara Kemah Budaya dengan materi-materi workshop seni semacam workshop musik, teater dan sastra. Sawung Jabo, musisi Indonesia yang  berkarakter itu, hampir selalu berhasil ia gaet untuk mau memberi workshop musik bagi anak-anak muda di Tabanan dalam acara Kemah Budaya itu.

Boping, di sela-sela berpusingnya ia dalam pusaran politik, juga tetap menjalin pergaulan dengan teman-temannya yang seniman, baik seniman lukis, sastra maupun musik. Untuk tetap melekatkan pergaulan dalam dunia kesenian sekaligus mengukuhkan jiwa berkeseniannya, ia turut serta dalam pameran Bali Magarupa tahun 2022 ini.  

Catatan Hitam Putih

Pameran Bali Megarupa adalah pameran seni rupa kolosal, bagian utuh dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ)  IV tahun 2022. Pameran mengangkat tajuk “Ranu-Wiku-Waktu” (Semesta Cipta Sastra Rupa) dengan kurator Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, Anak Agung Gde Rai dan Prof. Adrian Vickers.

Pameran ini diikuti 117 seniman berbagai aliran, gaya, dan medium; seni lukis, patung, fotografi, kriya, keramik, instalasi, media campuran, dan seni rupa video. Perupa termuda berusia 20 tahun dan yang paling sepuh 69 tahun. Tidak sedikit diantaranya merupakan seniman bereputasi nasional dan internasional.

Ada empat venue pameran terpilih yang memajang karya-karya rupa para seniman itu, yakni Gedung Kriya Taman Budaya Provinsi Bali, Museum Puri Lukisan, Museum Seni Neka dan Museum ARMA.

Karya Boping Suryadi dipamerkan di Museum ARMA bersama sejumlah perupa lainnya. Lukisan yang dipamerkan Boping berjudul Catatan Hitam Putih, acrylic di atas kanvas dengan ukuran 140×120. Lukisan yang dipamerkan, ya seperti disebut di awal, tetap dengan gaya dekoratif primitive. Hitam putih.

“Yang dipajang di pameran satu saja. Lumayan masih banyak (lukisan) di rumah,” kata Boping.

Lukisan yang dipajang di pameran Bali Megarupa itu adalah hasil dari proses melukis di sela-sela kesibukannya menjadi wakil rakyat. Selain melukis, ia juga tetap menulis puisi sebagaimana ia lakukan sejak mahasiswa.

Asal tahu saja, Boping adalah penulis puisi yang handal. Karya-karya puisinya beberapa kali dimuat di media massa, seperti Bali Post Minggu. Oh ya, dia juga salah satu pendiri Sanggar Minum Kopi, sebuah sanggar sastra yang terkenal pada tahun 1980-an dan 1990-an.

“Saya masih sempat melukis dan bikin puisi, kalau tidak di laptop atau di kertas dan di kanvas, saya biasa corat-coret di HP. Corat-coret sket, spontan. Lukisan hasil spontan banyak,” ujar Boping.

Boping mengaku masih setia melukis hitam putih. “Hitam putih itu sukar. Harus berani dengan goresan. Itu asli,” katanya.

Lukisan Catatan Hitam Putih sepertinya memang karya Boping yang dibuatkan dengan begitu sungguh-sungguh. Pada lahan kanvas bertebaran sketsa bentuk dan wajah primitive yang seakan-akan diatur secara rapi, tetapi mengesankan ruang liar tanpa batas.

Ada sketsa wajah, sketsa binatang, bentuk-bentuk pohon, benda-benda tak dikenal. Dengan melihat sketsa-sketsa yang amat dekoratif itu bisa dibayangkan sebuah dunia primitive di masa lalu, sekaligus juga bisa dipadankan pada dunia masa kini, terutama tentang kegelisahan-kegelisahan batin manusia masa kini yang  kadang terperangkap pada kotak nasib, namun di sisi lain punya ambisi untuk selalu berada di tengah kotak itu.

Salah satu lukisan berwarna karya Boping Suryadi

Masa lalu dalam lukisan Boping barangkali disuguhkan oleh bentuk. Namun masa kini dibentuk oleh pikiran sendiri, citaraan sendiri, dan kesan sendiri yang ditangkap dari lukisan itu.  

Sketsa atau lukisan, atau puisi yang dibuat Boping memang mengandung tema tentang kegelisahan batinnya sebagai manusia, sebagai seniman sekaligus sebagai politis di Republik Indonesia ini. Ia menyimpan kegelisahan itu, lalu menuangkannya dalam bentuk sketsa dan lukisan.

“Ya biasalah, karya saya cerminan dari gejolak batin, gejolak politik dan sosial, juga gejolak republik ini,” kata Boping.

Ngomong-ngomong, apa tak ingin menggelar pameran tunggal?

“Lukisan saya banyak. Itu bertumpuk-tumpuk di rumah. Untuk sementara saya ikut pameran bersama dulu,” sahut Boping.

Namun, nanti mungkin lukisan yang dibuat sejak ia masih remaja itu dikumpulkan, dikurasi dengan cermat, lalu bisa digelar pameran tunggal sebagai presentasi perjalanan Boping sebagai pelukis. Mari ditunggu saja. [T]

“Komensal” di Kulidan: Refleksi Kekaryaan Seni Rupa Unckle Joy dan Siji
Hardiman Selesaikan 120 Lukisan Saat Pandemi, Siap-siap Pameran Tunggal di Bandung
Tags: Boping SuryadiPameran Seni RupaPolitikSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

Next Post

Piala Penjor, Sentuhan Tangan Kreatif Ketut Putrayasa pada Balimakãrya Film Festival 2022

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

Read moreDetails

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Adwan SA
July 6, 2026
0
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

Read moreDetails

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

Read moreDetails

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
0
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

Read moreDetails

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
0
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

Read moreDetails

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

Read moreDetails

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
0
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

Read moreDetails

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

by Nyoman Budarsana
March 9, 2026
0
Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Enam perupa dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar pameran bertajuk “Togetherness” di Artspace, ARTOTEL Sanur Bali. Pameran lukisan dan patung...

Read moreDetails
Next Post
Piala Penjor, Sentuhan Tangan Kreatif Ketut  Putrayasa pada Balimakãrya Film Festival 2022

Piala Penjor, Sentuhan Tangan Kreatif Ketut Putrayasa pada Balimakãrya Film Festival 2022

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co