22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hardiman Selesaikan 120 Lukisan Saat Pandemi, Siap-siap Pameran Tunggal di Bandung

tatkala by tatkala
October 3, 2022
in Pameran, Pilihan Editor
Hardiman Selesaikan 120 Lukisan Saat Pandemi, Siap-siap Pameran Tunggal di Bandung

Hardiman | Foto: Vincent Candra

Saat pandemi, dalam rentang 2019 hingga 2022 ini, Hardiman berhasil menyelesaikan 120 lukisan. Sungguh produktif.

“Lumayan produktif memang, karena selama pandemi semua dikerjakan di rumah. Ngajar online. Istirahat, lalu melukis,” kata Hardiman, Jumat 30 September 2022 di sela-sela persiapan menggelar pameran tunggal di Bandung.   

Ya. Hardiman akan menggelar pameran tunggal dengan tajuk “Harakat Warna Hardiman” di Griya Seni Popo Iskandar Bandung, Jawa barat. Pameran akan dibuka 19 Oktober dan berakhir 7 November 2022.

Dari 120 lukisan terbaru yang diselesaikan saat pandemi itu, hanya sebagian atau sebanyak 50 lukisan yang dipamerkan di Griya Seni Popo Iskandar itu. Kurator dalam pameran itu adalah Rizki A. Zaelani yang dikenal sebagai kurator Galeri Nasional.

Hardiman lahir 7 Mei 1957 di Garut, Jawa Barat. Lulusan Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP (kini UPI) Bandung dan program Doktor (S3) Kajian Budaya Unud Denpasar. Ia menjadi staf Pengajar Program Studi Pendidikan Seni Rupa di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, dan pensiun 2022. Setelah pension rupanya ia punya banyak rencana, antara lain rencana pameran di sejumlah tempat, selain di Bandung.

Selain sebagai pelukis dan dosen, Hardiman juga dikenal sebagai penulis seni rupa dan kurator independen.  Tulisannya dipublikasikan di Kompas, Visual Art, Media Indonesia, Gatra, dan sejumlah jurnal.

Ia adalah salah seorang penulis buku Modern Indonesian Art: From Raden Saleh to the Present Day (2010), dan Wacana Khatulistiwa: Bunga Rampai Kuratorial Galeri Nasional Indonesia 1999-2011(2011).

Poster pameran di Bandung

Buku lain yang ditulisnya, Dialek Visual: Perbincangan Seni Rupa Bali dan Yang Lainnya (2017), Becoming: 20 Tahun Galang Kangin (2017), Perlawanan Tubuh Seksual Perempuan Perupa Bali (2020), Erotika dan Ideologi Patriarki: Sekumpulan Esai, Resensi dan Profil Seni Rupa (2021). Buku puisinya Yang Tujuh Ini dan Peta Lintas Batas.

Selain sebagai penulis dan kurator seni rupa, Hardiman pernah menekuni fotografi, teater, seni lukis, dan penulisan puisi. Pamerannya antara lain Pameran Seniman Muda Indonesia di TIM Jakarta, Pameran Berdua di Aliance Prancaise Bandung, dan Pameran Bertiga di Andi’s Gallery Jakarta.

Sebelumnya ia juga pernah Pameran Tunggal di Galeri Bandung, Jogya International Miniprint Biennale Jogyakarta, International Printmakin and Paper Art Jakarta, Pameran Bienale Manifesto, Galeri Nasional Indonesia, Pameran Bali Jani, dan lain-lain.

Karya drawingnya digunakan sebagai gambar sampul dan ilustrasi sejumlah buku sastra, sosial, dan politik oleh sejumlah  penerbit, beberapa buah dimuat di Kompas sebagai ilustrasi cerpen.

Hardiman menerima penghargaan Wijaya Kusuma dari Pemda Buleleng Bali sebagai pelukis, Penghargaan Widya Pataka dari Cubernur Bali sebagai penulis buku, Penghargaan Karya terbaik paper art dari International Printmaking and Peper Art Show (IPASS) Jakarta kategori paper art, dan menerima penghargaan Bali Jani Nugraha senagai kritikus seni rupa dari Gubernur Bali, 2022.

Jalak Bali

Sejak mukim di Bali, sekitar tahun 1980-an, Hardiman konsitsen melukis obyek jalak bali, salah satu jenis burung yang hidup di Taman Nasional Bali Barat,

Kenapa burung jalak bali?

“Setiap seniman mempunyai obsesi. Seniman selalu punya obsesi terhadap sesuatu atau apa yang dijadikannya sebagai karya seni. Saya terobsesi oleh jalak bali,” sahut Hardiman.

Tentu saja obsesinya itu punya riwayat. Dulu, sekitar tahun 1980-an, Hardiman terlibat dalam satu penelitian jalak bali di Pulau Menjangan, sebuah pulau di utara Bali bagian barat.

“Yang menarik dari jalak bali adalah ketakutan terhadap manusia. Ia mempunyai rasa curiga yang amat besar terhadap makhluk yang lain,” kata Hardiman.

Sejak itu ia punya obsesi untuk melukis jalak bali. Pada mulanya ia melukis jalak bali secara nyata, atak katakanlah secara realis. Ia menangkap dan melukis jalak bali itu dalam proporsi dan anatomi yang mendekati senyata-nyatanya jalak bali.

Namun, berangsur-angsur kemudian terjadi gubahan pada pencarian bentuk. Hardiman mencari bentuk dan kemudian menemukan  sari-patinya atau esensi dari perwujudan jalak bali itu.

Hardiman justru tidak mempersoalkan kemisterian jalak bali atau tidak mengungkapkan kecantikan jalak Bali. “Tetapi, saya malah menjadikan jalak bali sebagai titik berangkat untuk menuju ke persoalan visual.

Konsep Seni Modern

Nah, lukisan yang dipamerkan di Bandung kali ini juga masih menjadi bagian besar pencariannya terhadap obyek jalak bali yang ditekuninya sejak tahun 1980-am.

Dalam pameran kali ini, menurut Hardiman, ia ingin memperlihatkan karya terbarunya, dengan konsep yang masih lama. Yakni konsep seni modern.

“Seni modern itu kan percaya kepada aspek visual saja. Garis untuk garis. Bidang untuk bidang. Warna untuk warna. Kalau seni kontemporer, garis, bidang, warna dan seterusnya merupakan alat untuk mengatakan sesuatu,”  ujar Hardiman.

Studio sekaligus rumah Hardiman di Singaraja

Hardiman lebih lanjut meyakini bahwa garis, bidang, warna, ya untuk garis, bidang, dan warna saja. Dengan keyakinan seperti itu, Hardiman tetap menganggap dirinya sebagai penganut formalism, penganut modernism, penganut masa lalu, kuno. “Ya, seni rupa tahun 1970-1980-an,” katanya.

Hardiman mengatakan, paham seni rupa modernisme itu sampai sekarang masih dia anut. Walaupun dalam kritik seninya, Hardiman justru mengarahkan atau membongkar seniman dari aspek seni kontemporer.

“Tapi dalam praktik berkarya, saya tidak punya alat atau bahasa untuk mengatakan kekontemporeran saya. Jadi ketika saya menggambar warna, ya warna sebagai warna saja. Hijau sebagai hijau saja. Tidak dimaknai apa-apa. Merah ya merah saja. Jadi murni visual,” tegasnya.

Harakat Warna

Hardiman menjelaskan, dari 50 lukisan yang akan dipamerkan, tidak ada lukisan yang diistimewakan atau ditonjolkan. Semua karya sama saja. Tetapi, ia mengakui, ada karya tertentu yang pencapaian estetiknya melebihi yang lain.

Ada, misalnya lukisan yang mengalami proses lebih panjang dan berisi sejumlah temuan-temuan baru, antara lain dalam hal pengolahan warna, pengolahan tekstur, pengolah garis atau pengolahan bidang.

Dan tak pesan-pesan khusus yang ingin ia sampaikan dalam pameran itu. “Pesan visual saja,” kata Hardiman.

Artinya, kata dia, bahwa lukisan itu mengandung unsur visual. Garis, bidang, warna, tekstur. “Saya ingin mengapresiasikan empat unsur tadi kepada publik untuk dinikmati. Menikmati garis, menikmati bidang, menikmati tekstur dan menikmati warna,” kata Hardiman.

Dari empat unsur visual itu, Hardiman mengakui pada pameran kali ini ada penonjolan di bidang warna. Karena itulah pameran ini bertajuk “Harakat Warna Hardiman”.

Karya Hardiman

Kurator pameran, Rizki A. Zaelani atau Kiki, setelah melihat-lihatnya lukisan Hardiman, mengatakan, bahwa dalam hal mengembangkan warna, Hardiman sudah sampai pada tingkat harakat. Harakat warna.

“Hijau misalnya, dikasih warna apa lagi akan menjadi hijau yang lain. Dikasih warna lain menjadi hijau yang berbeda lagi. Jadi saya dalam hal warna mengolahnya menjadi harakat,” kata Hardiman.

Atau dalam istilah kritikus seni dari Perancis, Jean Couteau, Hardiman merupakan seniman colourist. Pandai memainkan warna.

Hardiman juga mengaku, dalam melukis, betul-betul murni menyampaikan pesan visual. Tidak seperti pelukis kontemporer yang dalam karya-karya berisi pesan politik, pesan sosial. Karya-karya pelukis kontemporer diberi muatan.

“Jadi saya itu seperti Sutardji Calsum Bachri di puisi. Ia mengembalikan kata pada kata. Tidak ada makna di balik kata itu. Misalnya puisinya Pat Pit Put. Tidak ada makna apa-apa,” jelasnya.

Kenapa tidak tertarik memberi muatan dalam karya-karyanya? Menurut pelukis yang telah menerbitkan sejumlah buku ini, bahasanya untuk seni lukis tidak sampai untuk memberi muatan.

“Kalau drawing (gambar) atau grafis atau fotografi itu nyampe. Ada pesan. Tapi untuk lukis, saya tidak sanggup. Saya pernah mencoba, tapi tidak bagus ungkapannya. Verbal sekali. Terlalu murah jadinya. Jadi, ya sudah, saya kembalikan ke hakikat seni lukis tadi,” katanya.

Selain itu, kata dia, bagi penganut prinsip seni modern, muatan itu mengotori seni. “Saya seorang modernis. Modernis total,” tegasnya.

Kenapa memilih pameran tunggal di Bandung? Hardiman mengatakan, dirinya pertama kali melukis ya di kota kembang tersebut, kemudian menyerap dialek Bandung. Menurutnya, pada tahun 70-an akhir hingga pertengahan 80-an, ia tinggal dan studi di IKIP Bandung (UPI sekarang). Lingkungan Bandung ini sangat mengepung pilihan bahasa visual Hardiman.

“Itulah dialek Bandung yang saya rasakan dari guru saya Popo Iskandar, Oho Garha,Hidayat, Nanna Banna, dan Bambang Sapto. Juga dari lingkungan Bandung lainnya seperti Ahmad Sadali, AD Pirous, Syamsudin Bimbo, Ummi Dahlan, Heyi Mamun, dan lain-lain,” katanya.

Seni rupa Bandung tahun 70, 80-an itu bagi Hardiman adalah dialek visual yang menurunkan ikon-ikonnya dalam daya serap visualnya. Karena itulah lukisan bagi Hardiman adalah persoalan visual belaka. Hal lain di luar itu hanyalan bumbu yang menghilangkan unsur pokok.

“Saya mungkin seorang formalis yang hanya percaya pada persoalan visual saja. Tak masalah bagi saya. Ini mungkin masa lalu dalam konsep seni rupa kontemporer. Tak masalah. Bukankah prinsip “apapun boleh” dalam seni rupa kontemporer yang artinya formalis pun boleh?” ujarnya.

Menurut Hardiman, kali ini ia menggelar pameran tunggal di Badung ingin memperlihatkan, apakah dirinya punya ideolek. Apa hanya pemakai dialek Bandung saja. “Tapi saya yakin saya punya idiolek,” tambahnya.

Karya Hardiman

Hardiman yakin ia punya idiolek yang khas dirinya. Terutama dalam hal warna. Warna tidak ditemukan di pelukis lain di Badung. Karena itu, kata dia, perlu semacam pertunjukan kepada publik Bandung bahwa ia adalah pelukis yang mengembangkan ke-Bandung-annya di Bali dan menemukan idioleknya sendiri.

Ketika Hardiman masih di Bandung, ia mengaku tidak tertarik mempersoalkan warna. Tekstur juga tidak. Lukisan ya lukisan saja. Tekanannya tidak penting, pokoknya lukisan.

Tapi setelah di Bali, karena ia bergaul secara budaya di Bali, melihat kuliner Bali, melihat fashion Bali, pakaian Bali, itu semuanya warna full. Dan tidak harus harmonis. Bisa disharmonis. Komplementer. Bisa tabrakan. “Itu mempengaruhi pikiran saya tentang warna,” kata Hardiman. [T]Ado/*]

Harakat Warna Hardiman
Tags: bandungHardimanPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monyet Pintar Karena Pandai Panjat Pohon | Apakah Ikan Bodoh Karena Tak Bisa Memanjat?

Next Post

Alih Aksara dan Alih Bahasa Jejak Ki Pasek Badeg dalam Naskah Lontar

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Alih Aksara dan Alih Bahasa Jejak Ki Pasek Badeg dalam Naskah Lontar

Alih Aksara dan Alih Bahasa Jejak Ki Pasek Badeg dalam Naskah Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co