23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
November 8, 2021
in Ulasan
“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani:  Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

Arahmaiani di depan karyanya [[Foto: ICAD XI : Publik]

Arahmaiani  menampilkan karya performance art terbaru dalam acara ICAD XI : Publik. Sabtu 6 Nopember 2021 dan akan berlangsung sampai tanggal 28 November 2021 di Hotel Grand Kemang Jakarta, Kemang Jakarta Selatan.

 Arahmaiani adalah seniman performance art, lukis, dan penulis , yang sudah memamerkan karyanya di berbagai negara di dunia, pada event-event seni Internasional yang bergengsi, salah satunya event seni tingkat dunia di Venice Biennale ke-50 pada tahun 2003.

ICAD adalah platform yang dimaksudkan untuk menjembatani seni dan desain, dengan disiplin ilmu lain mulai dari dari fashion, film, perhotelan, teknologi, F&B dan banyak lagi lainnya, sejak tahun 2009 di bawah Yayasan Design+Art Indonesia.

ICAD juga telah bermitra dengan platform internasional bergengsi seperti Milan SuperDesign Show, La Biennale di Venice, dan London Design Biennale, dalam mengkurasi dan memamerkan seni dan desain Indonesia kepada dunia.

Karya performance art Arahmaiani kali ini diberi judul “Furious Mother Earth” dengan menggunakan media tanah liat, yang dikepal seperti bola dan dijejer di atas meja, mirip bola, yang jumlahnya mencapai ratusan biji.

Arahmaiani memulai performance [Foto: ICAD XI : Publik]

Suasana senyap ketika awal Arahmaiani memulai performance tersebut, ketika Arahmaiani mulai menggoreskan kuas dengan lumpur tanah dengan kata alam dan nature, di bidang putih yang besar layaknya tembok bangunan.

Arahmaiani menggunakan pakaian serba hitam, di dalam kepercayaan tertentu, simbul hitam tersebut melambangkan penguasa air dan sumber kehidupan.  Kuas besar yang digoresakan laksana tarian kosmik menari di atas lumpur yang membekas dalam bidang putih.

Sambil dilantunkannya  musik Darah Juang John Tobing dan dilanjutkan musik dengan judul  Jaman Edan karya Jogja Hip Hop Foundation, penonton masih tertegun bertanya tanya, entah apa maksud tulisan itu. Apalagi di samping kanan tulisan tersebut  digambar bentuk hati, seperti graffiti karya seniman jalanan yang dicorat-coret di tembok sudut kota, untuk menuangkan pesan seniman kepada publik

Seketika itu Arahmaiani seperti marah laksana kemurkaan Ibu Pertiwi, melempari tembok putih dengan gumpalan tanah liat, dan penonton syok dibuatnya.  Sambil mengepalkan tangannya Arahmaiani memberikan penonton kesempatan untuk ikut terlibat melempari tembok buatan tersebut. Sontak semua penonton yang menyaksikan performance art Arahmaiani itu ikut dalam aksi pelemparan gumpalan tanah, seperti perayaan dan luapan emosi penonton tersalurkan ikut melempari tembok itu.

Arahmaiani memberikan penonton kesempatan untuk ikut terlibat melempari tembok buatan itu. [Foto: ICAD XI : Publik]

Bahkan salah satu penonton dalam aksinya merasakan therapy baginya setelah hampir dua tahun berada dalam kondisi yang dibatasi akibat pandemi. Kesal dan stress-nya seakan diobati dengan melempar gumpalan tanah dan lebih merasa dekat dengan alam, dengan aroma dan tekstur tanah yang menyejukkan telapak tangan, seperti dekapan Ibu Pertiwi, yang selalu setia untuk kehidupan di dunia ini.

Performance art ini bukan sekadar aksi melempar tanah liat ke dinding tembok putih. Aksi itu punya makna penting untuk mengingatkan banyak orang pada kondisi alam saat ini. Di dinding putih itu ada warna Ibu Pertiwi yang bisa dimaknai sebagai sebuah  peringatan sekaligus penghormatan pada tanah yang biasa kita injak tanpa pernah merasa memiliki.

“Tembok tersebut merupakan simbol dari cara pikir modern yang melihat alam itu sebagai objek, dan tembok itu seperti membatas hubungan kita dengan alam,” kata Arahmaiani.

Ide performance art Arahmaiani muncul pada saat dirinya mempertanyakan mengenai modernisasi. Pikiran modern ini didorong dengan sistem kapitalis dan individualis, yang di dalam praktek membuat manusia terputus dari alam atau menganggap diri sebagai penguasa alam, sehingga dia merasa boleh mengeksploitasi alam. Itulah yang terjadi sekarang dengan adanya eksploitasi alam seperti pembabatan hutan, minyak bumi yang di sedot belum lagi mineral lainya.

Padahal dalam kenyataannya kita ini hidup dari alam, kita ini bagian dari alam itu. Tapi dengan sikap dan tingkah laku kita seperti menguasai alam, akhirnya merusak,  lama-lama menghancurkanya, yang mengakibatkan petaka banjir, longsor, kekeringan, tsunami, kebakaran hutan dan yang paling nyata sekarang sangat kritis adalah wabah corona. Dampak dari kerusakan lingkungan hidup, jadi alam memberikan reaksi tingkah laku manusia egois dan serakah.

Dalam performance art ini Arahmaiani menyelipkan pesan, mengingatkan dirinya dan penonton untuk kita sebagai manusia untuk memahami kembali, dan menghubungkan dirinya kembali dengan alam. Tentu dengan keseriusan kita bersama, tembok pembatas yang di lempari dengan gumpalan tanah itu akan runtuh, dalam artian, semua pihak harus terlibat di dalam penyelamatan lingkungan, supaya tidak ada lagi pembatas alam dengan kehidupan manusia, dan berkurangnya eksploitasi alam yang secara massif dilakukan

Karya tersebut mengingatkan karya Arahmaiani sebelumnya yang pernah dipamerkan di Jerman, Australia, Singapura, Malaysia, Macau, dan Museum Macam yang judulnya “Breaking Words”. Karya itu dengan bahan piring yang dituliskan dengan kata kunci olehnya dan penonton. Karya konseptual mengenai apa yang kita yakini yang diungkapkan dengan kata apakah itu memang mutlak, seperti penulisan money, love, juga pemikiran dogmatis mengenai religiusitas, piring tersebut juga dilempar sedemikian rupa.

Melibatkan penonton merupakan cara Arahmaiani selama ini dalam berkarya. Seperti karya sebelumnya yang dipamerkan di Australia, Jerman, dan beberapa negara lainya melibatkan mahasiswa dan masyarakat umum, begitu juga karya benderanya yang menuliskan kata kunci penting yang dipamerkan di Festival Pasar Rakyat Denpasar pada tahun 2019 yang digagas Komunitas Enam, yang melibatkan buruh tukang jinjing di pasar untuk mengibarkan benderanya.

Selain Arahmaiani, seluruhnya ada 40 partisipant undangan di acara ICAD XI : Publik. Mereka adalah Aditya Fachrizal Hafiz, Adrianto Sinaga, Arahmaiani, Arum Tresnaningtyas, Astari Rasjid , Aung Myat Htay, Awan Simatupang, B.J. Habibie, Festival Relics – Bagus Pandega, Coune, Randy Danistha , Nara Anindyaguna, Bo Wang , Budi Pradono, Budi Santoso, Bujangan Urban, Cakradara Andiani, Charles Lim , Dea Widya, Eddi Prabandono, Eldwin Pradipta, Fluxcup, Forum Sudut Pandang, Goran Despotovski , Gubuak Kopi (2 orang), Handoko Hendroyono,Hestu Setu Legi, Irvan A. Noe’man, Irwan Ahmett, Jatiwangi Art Factory, Jumaldi Alfi, Komikazer/Reza Mustar, Lea Vidakovic , Mark Salvatus , Naomi Samara, Nina Nuradiati, Nindityo Adipurnomo, Panji Wisesa, Ridwan Kamil, Sheila Rooswitha Putri, Taba Sanchabakhtiar, Takashi Makino, Vendy Methodos.

Di acara tersebut juga peserta dari Open Submission seperti  Angelita Nurhadi, Donna Angelina, Gusti Reynaldi Cakramurti, Nidiya Kusmaya, Sicovecas, Tommy Utomo.

Institusi yang ikut dalam acara tersebut  adalah ACMI – Aku Cinta Makanan Indonesia, ADPII-Asosiasi Design Produk Industri Indonesia, ASPAC – Asia Students Pakage Design Competition-ADGI, HDII-Himpunan Design Interior Indonesia.

Juga penampilan kusus dari  CASA x SAMSUNG, Institut Français d’Indonésie (IFI) – Artworks by Nicolas Champeaux  & Gilles Porte, Patrick Hartono. [T]

Tags: ArahmaianiPameran Seni Rupapeformance artSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lintasan Orkestrasi Kalangan | Catatan Pentas “Hero on the Way #1 Be.Kas”

Next Post

Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co