14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
November 8, 2021
in Ulasan
“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani:  Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

Arahmaiani di depan karyanya [[Foto: ICAD XI : Publik]

Arahmaiani  menampilkan karya performance art terbaru dalam acara ICAD XI : Publik. Sabtu 6 Nopember 2021 dan akan berlangsung sampai tanggal 28 November 2021 di Hotel Grand Kemang Jakarta, Kemang Jakarta Selatan.

 Arahmaiani adalah seniman performance art, lukis, dan penulis , yang sudah memamerkan karyanya di berbagai negara di dunia, pada event-event seni Internasional yang bergengsi, salah satunya event seni tingkat dunia di Venice Biennale ke-50 pada tahun 2003.

ICAD adalah platform yang dimaksudkan untuk menjembatani seni dan desain, dengan disiplin ilmu lain mulai dari dari fashion, film, perhotelan, teknologi, F&B dan banyak lagi lainnya, sejak tahun 2009 di bawah Yayasan Design+Art Indonesia.

ICAD juga telah bermitra dengan platform internasional bergengsi seperti Milan SuperDesign Show, La Biennale di Venice, dan London Design Biennale, dalam mengkurasi dan memamerkan seni dan desain Indonesia kepada dunia.

Karya performance art Arahmaiani kali ini diberi judul “Furious Mother Earth” dengan menggunakan media tanah liat, yang dikepal seperti bola dan dijejer di atas meja, mirip bola, yang jumlahnya mencapai ratusan biji.

Arahmaiani memulai performance [Foto: ICAD XI : Publik]

Suasana senyap ketika awal Arahmaiani memulai performance tersebut, ketika Arahmaiani mulai menggoreskan kuas dengan lumpur tanah dengan kata alam dan nature, di bidang putih yang besar layaknya tembok bangunan.

Arahmaiani menggunakan pakaian serba hitam, di dalam kepercayaan tertentu, simbul hitam tersebut melambangkan penguasa air dan sumber kehidupan.  Kuas besar yang digoresakan laksana tarian kosmik menari di atas lumpur yang membekas dalam bidang putih.

Sambil dilantunkannya  musik Darah Juang John Tobing dan dilanjutkan musik dengan judul  Jaman Edan karya Jogja Hip Hop Foundation, penonton masih tertegun bertanya tanya, entah apa maksud tulisan itu. Apalagi di samping kanan tulisan tersebut  digambar bentuk hati, seperti graffiti karya seniman jalanan yang dicorat-coret di tembok sudut kota, untuk menuangkan pesan seniman kepada publik

Seketika itu Arahmaiani seperti marah laksana kemurkaan Ibu Pertiwi, melempari tembok putih dengan gumpalan tanah liat, dan penonton syok dibuatnya.  Sambil mengepalkan tangannya Arahmaiani memberikan penonton kesempatan untuk ikut terlibat melempari tembok buatan tersebut. Sontak semua penonton yang menyaksikan performance art Arahmaiani itu ikut dalam aksi pelemparan gumpalan tanah, seperti perayaan dan luapan emosi penonton tersalurkan ikut melempari tembok itu.

Arahmaiani memberikan penonton kesempatan untuk ikut terlibat melempari tembok buatan itu. [Foto: ICAD XI : Publik]

Bahkan salah satu penonton dalam aksinya merasakan therapy baginya setelah hampir dua tahun berada dalam kondisi yang dibatasi akibat pandemi. Kesal dan stress-nya seakan diobati dengan melempar gumpalan tanah dan lebih merasa dekat dengan alam, dengan aroma dan tekstur tanah yang menyejukkan telapak tangan, seperti dekapan Ibu Pertiwi, yang selalu setia untuk kehidupan di dunia ini.

Performance art ini bukan sekadar aksi melempar tanah liat ke dinding tembok putih. Aksi itu punya makna penting untuk mengingatkan banyak orang pada kondisi alam saat ini. Di dinding putih itu ada warna Ibu Pertiwi yang bisa dimaknai sebagai sebuah  peringatan sekaligus penghormatan pada tanah yang biasa kita injak tanpa pernah merasa memiliki.

“Tembok tersebut merupakan simbol dari cara pikir modern yang melihat alam itu sebagai objek, dan tembok itu seperti membatas hubungan kita dengan alam,” kata Arahmaiani.

Ide performance art Arahmaiani muncul pada saat dirinya mempertanyakan mengenai modernisasi. Pikiran modern ini didorong dengan sistem kapitalis dan individualis, yang di dalam praktek membuat manusia terputus dari alam atau menganggap diri sebagai penguasa alam, sehingga dia merasa boleh mengeksploitasi alam. Itulah yang terjadi sekarang dengan adanya eksploitasi alam seperti pembabatan hutan, minyak bumi yang di sedot belum lagi mineral lainya.

Padahal dalam kenyataannya kita ini hidup dari alam, kita ini bagian dari alam itu. Tapi dengan sikap dan tingkah laku kita seperti menguasai alam, akhirnya merusak,  lama-lama menghancurkanya, yang mengakibatkan petaka banjir, longsor, kekeringan, tsunami, kebakaran hutan dan yang paling nyata sekarang sangat kritis adalah wabah corona. Dampak dari kerusakan lingkungan hidup, jadi alam memberikan reaksi tingkah laku manusia egois dan serakah.

Dalam performance art ini Arahmaiani menyelipkan pesan, mengingatkan dirinya dan penonton untuk kita sebagai manusia untuk memahami kembali, dan menghubungkan dirinya kembali dengan alam. Tentu dengan keseriusan kita bersama, tembok pembatas yang di lempari dengan gumpalan tanah itu akan runtuh, dalam artian, semua pihak harus terlibat di dalam penyelamatan lingkungan, supaya tidak ada lagi pembatas alam dengan kehidupan manusia, dan berkurangnya eksploitasi alam yang secara massif dilakukan

Karya tersebut mengingatkan karya Arahmaiani sebelumnya yang pernah dipamerkan di Jerman, Australia, Singapura, Malaysia, Macau, dan Museum Macam yang judulnya “Breaking Words”. Karya itu dengan bahan piring yang dituliskan dengan kata kunci olehnya dan penonton. Karya konseptual mengenai apa yang kita yakini yang diungkapkan dengan kata apakah itu memang mutlak, seperti penulisan money, love, juga pemikiran dogmatis mengenai religiusitas, piring tersebut juga dilempar sedemikian rupa.

Melibatkan penonton merupakan cara Arahmaiani selama ini dalam berkarya. Seperti karya sebelumnya yang dipamerkan di Australia, Jerman, dan beberapa negara lainya melibatkan mahasiswa dan masyarakat umum, begitu juga karya benderanya yang menuliskan kata kunci penting yang dipamerkan di Festival Pasar Rakyat Denpasar pada tahun 2019 yang digagas Komunitas Enam, yang melibatkan buruh tukang jinjing di pasar untuk mengibarkan benderanya.

Selain Arahmaiani, seluruhnya ada 40 partisipant undangan di acara ICAD XI : Publik. Mereka adalah Aditya Fachrizal Hafiz, Adrianto Sinaga, Arahmaiani, Arum Tresnaningtyas, Astari Rasjid , Aung Myat Htay, Awan Simatupang, B.J. Habibie, Festival Relics – Bagus Pandega, Coune, Randy Danistha , Nara Anindyaguna, Bo Wang , Budi Pradono, Budi Santoso, Bujangan Urban, Cakradara Andiani, Charles Lim , Dea Widya, Eddi Prabandono, Eldwin Pradipta, Fluxcup, Forum Sudut Pandang, Goran Despotovski , Gubuak Kopi (2 orang), Handoko Hendroyono,Hestu Setu Legi, Irvan A. Noe’man, Irwan Ahmett, Jatiwangi Art Factory, Jumaldi Alfi, Komikazer/Reza Mustar, Lea Vidakovic , Mark Salvatus , Naomi Samara, Nina Nuradiati, Nindityo Adipurnomo, Panji Wisesa, Ridwan Kamil, Sheila Rooswitha Putri, Taba Sanchabakhtiar, Takashi Makino, Vendy Methodos.

Di acara tersebut juga peserta dari Open Submission seperti  Angelita Nurhadi, Donna Angelina, Gusti Reynaldi Cakramurti, Nidiya Kusmaya, Sicovecas, Tommy Utomo.

Institusi yang ikut dalam acara tersebut  adalah ACMI – Aku Cinta Makanan Indonesia, ADPII-Asosiasi Design Produk Industri Indonesia, ASPAC – Asia Students Pakage Design Competition-ADGI, HDII-Himpunan Design Interior Indonesia.

Juga penampilan kusus dari  CASA x SAMSUNG, Institut Français d’Indonésie (IFI) – Artworks by Nicolas Champeaux  & Gilles Porte, Patrick Hartono. [T]

Tags: ArahmaianiPameran Seni Rupapeformance artSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lintasan Orkestrasi Kalangan | Catatan Pentas “Hero on the Way #1 Be.Kas”

Next Post

Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

Sejarah Panjang Kemunculan Wayang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co