22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lintasan Orkestrasi Kalangan | Catatan Pentas “Hero on the Way #1 Be.Kas”

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
November 8, 2021
in Ulasan
Lintasan Orkestrasi Kalangan | Catatan Pentas “Hero on the Way #1 Be.Kas”

Pementasan Hero on The Way edisi #1 pada Festival Bali Jani di Taman Budaya Denpasar, Bali, Selasa 2 November 2021, bagai sebuah orkestrasi yang disuguhkan Teater Kalangan. [Foto Teater Kalangan]

Pementasan Hero on The Way edisi #1  pada Festival Bali Jani di Taman Budaya Denpasar, Bali, Selasa 2 November 2021, bagai sebuah orkestrasi yang disuguhkan Teater Kalangan. Segalanya tumpah ruah dalam bentuk pilihan pemanggungan teater yang menyentuh sejarah dan persoalan sosial. Penonton disiapkan untuk mengetuk pintu masa lalu tentang biografi pahlawan, konteks kolonial, serta kenyataan era kini. Eksplorasi diawali dengan mendedah skema lampau Jalan Veteran, Denpasar.

Jalan Veteran diusung pertama kali sebagai situs pertunjukan mengingat badan jalan ini terpahat sekelumit cerita. Mulai dari bentang jalan Hotel Inna, perempatan pusat kota, hingga perempatan Tain Siat yang menjadi ruang Puputan Badung. Bila melewati lajur satu arah ini, akan banyak ditemui warisan arsitektur sejarah yang masih dipertahankan, barisan café kekinian, hingga interaksi sosial di pasar burung. Kini, Teater Kalangan berupaya menyerap makna narasi Jalan Veteran secara verbal dan visual ke ruang pertunjukkan.

Kepingan-Kepingan Ingatan

Saya yakin ada banyak studi yang telah dilakukan oleh sutradara, juga perajut naskah. Hal-hal yang diulik adalah romantisme masa silam dan kaitannya dengan keriuhan saat ini. Riset yang tak sekadar riset. Kerja riset yang dilakukan adalah aset sejarah dan kebudayaan yang patut diingat dalam ranah pemanggungan teater.

Penonton disuguhkan oleh rentangan fakta sejarah dan data yang berarak-arakan diucapkan aktor. Orientasi semacam ini adalah pilihan yang relatif baru di Bali. Retorika-retorika pemain dikemas dengan oratoris. Di sinilah, ruang waktu diciptakan oleh Teater Kalangan. Kepingan-kepingan data tidak hanya menjadi kepatuhan dalam kerja riset teater, tapi mampu mengetuk dimensi lampau, melipat jarak antar generasi, dan studi historis yang efisien.

Teater Kalangan mementaskan Hero on the Way #1 dalam Festival Bali Jani III [Foto Teater Kalangan]

Siklus-siklus semacam ini adalah hasil dari sutradara menyadarkan aktornya. Aktor diberikan ruang untuk merespon fakta dan data yang telah diberikan. Respon berupa dialog atau idiom gerak tubuh yang akan menjadi piranti dalam kontruksi alur dan arah presepsi. Presepsi-presepsi itu kemudian disulam menjadi pertunjukan yang riuh dan padat informasi. Di sini juga sutradara perlu mengukur ketahanan penonton menguyah informasi-informasi tersebut.

Terdapat orator yang serupa raja membeberkan fakta-fakta sejarah di setiap adegan. Kemudian disusul aktor yang bermonolog menjelaskan pentingnya ‘burung’ dan kaitannya dengan pasar burung di Jalan Veteran. Selain itu, adegan yang paling mengesankan adalah ketika Jalan Veteran dikaitkan dengan masakan ibu. Aktor yang kehilangan peran domestik ibu mempu memberi ruang ekspresi baru pada pementasan ini, sehingga pementasan tidak hanya menyoal fakta sejarah, melainkan mampu menyentuh memori keseharian keluarga. Namun sayang, pada adegan ini tidak dipoles dengan lebih dalam, atau secara tersirat dikaitkan dengan Jalan Vetran. Justru saat puncak emosi yang berhasil dibangun sang aktor, pilihan sutradara justru menghancurkan adegan ini.

Jalur yang Dihancurkan

Sebenarnya, pementasan Kalangan kali ini terlepas dari konsep ‘kacau’. Di sini tidak ada tendensi untuk membuat hal-hal yang berantakan. Segala keriuhan masih terukur.  Konflik yang hadir dijelaskan dengan narator yang bermonolog ditemani idiom-idiom gerakan sebagai ilustrasi. Transisi demi transisi yang terjaga membentuk jalur emosi yang utuh. Namun, di saat jalur emosi terbangun, sutradara merobohkannya. Dekonstruksi yang disebuat Jacques Derrida sebagai pembuka kemungkinan tafsiran melalui pembongkaran. Sutradara memilih membongkar ruang pemanggungan agar memungkinkan tafsir penonton dapat masuk dan menjadi upaya dalam mengisi kekosongan sosial.

Foto: Teater Kalangan

Bukan Teater Kalangan bila tidak memobilisasi penonton. Hal ini sudah menjadi signature pementasan. Semacam sudah menjadi format atau mungkin sudah menjadi kebakuan idealisme pemanggungan. Pilihaan-pilihan semacam ini tidak baru, semisal Teater Kalanari juga memilih konsep ini. Berinteraksi dengan penonton seperti ini adalah bentuk adaptasi dari drama gong yang lebih banyak menggunakan konsep impromptu atau improvisasi dialog. Penonton adalah bagian dari pemanggungan. Maka berisiaplah saat Teater Kalangan tampil, penonton tidak bisa pasif, kejutan-kejutan akan menggetarkan nalar kritis. Meski tidak banyak juga penonton yang siap dengan kejutan semacam ini.

Bagi Teater Kalangan, ini adalah strategi untuk mencairkan pikiran penonton yang terbiasa pasif saat menonton pertunjukan. Kini kehadiran mozaik-mozaik sejarah dan opini penonton menjadi sebuah jalur yang mencari kesimpulannya sendiri. Adanya forum diskusi di tengah pementasan sebagai ruang melebarkan batas penonton dengaan pemain, memperluas batas-batas pemanggungan, menyehatkan pikiran penonton, dan membangkitkan kesadaran publik.

Hal ini juga bisa dikatakan sebagai bentuk pemikiran postmodern yang sebagaimana dikatakan oleh Benny Yohanes adalah paradigma berpikir yang menyangkut pentingnya dekonstruksi terhadap teks. Adanya forum diskusi di tengah pementasan sebagai ruang mendobrak batas penonton dengan pemain. Yang dikhawatirkan pada proses dekonstruksi ini adalah tempo yang mengendur. Namun hal itu terbantahkan dengan gerakan penutup yang khusyuk.

Manisfestasi Pergerakan

Pergerakan-pergerakan panggung didekatkan pada penonton memang ciri khas Teater Kalangan, artistik yang langsung adalah tawaran dari skema-skema yang terencana dan terukur. Teater Kalangan sudah meremajakan format artistiknya. Kesukesan artistik muncul saat publik secara mental dan konseptual mendapatkan nilai-nilai. Jadi teater tidak hanya dipandangan sebagai hal-hal teknis belaka.

Skema artistik itu telah diupayakan Teater Kalangan melalui kehadiran tubuh yang menjadi mimesis dari dialog. Pengejawantahan kursi yang menjadi sarang burung, patung, jalan, dan hal-hal penguat ilustrasi. Kehadiran camera live yang ditampilkan di layar, membuka ruang pergerakannya tersendiri. Meski saya masih tidak tahu fungsi utama kehadiran camera live ini, karena tidak memperkuat pemanggungan, hanya sebagai bentuk tawaran baru.

Hal yang menarik sesungguhnya adalah pilihan membentangkan lakban marka jalan. Mulanya dibentangkan di muka panggung, kemudian dibentangkan di tengah bangku penonton. Relasi penggunaan benda seperti ini mendekatkan penonton dengan konteks narasi Jalan Veteran. Teater Kalangan tidak lagi terjebak pada konfrontasi ide. Namun sudah menyentuh replikasi yang eksploratif.

Selain itu bentuk penataan cahaya yang meningkatkan atmosfir pertunjukkan, serta gaya musikalitas yang konsisten. Segala unit-unit pertunjukan bergerak dengan jalur yang senada, satu jalur serupa Jalan Veteran. Pertanggung jawaban moral, sosial, dan sejarah dimunculkan dengan patriotisme.

Penataan artistik ini sangat berpotensi dipertahankan sehingga menjadi kehalusan emosi di tengah derasnya arus idelogi yang dipentaskan. Upaya mengajak penontonya berpikir krtisis bisa diimbangi dengan menggali stuktur batin, sehingga penonton diketuk kedalaman nuraninya untuk tergerak secara sadar.

Pementasan Hero on The Way edisi #1 adalah upaya menumbuhkan iklim intelektualitas yang kreatif. Masalah-masalah sosial diaktualisasi dengan fakta sejarah sehingga memantik respon aktif penontonya. Publik perlu membaca pementasan Teater Kalangan sebagai seni pertunjukkan yang historis dan menyegarkan. Nampaknya, tidak salah bila kita menempatkan Teater Kalangan sebagai harapan dan proyeksi teater yang menjanjikan di masa mendatang. Benar-benar work in pro-gress. [T]

Tags: Festival Bali JaniTeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hadiah Nobel Sastra 2021, Apresiasi Terhadap Sastra Kontekstual

Next Post

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani:  Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co