25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerauhan Zaman Now dan Kesehatan Jiwa

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
August 28, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Sejak dulu kita ketahui bahwa kerauhan menjadi sebuah tradisi, bagian dari ritual keagamaan dalam masyarakat Hindu Bali. Hal ini menarik minat para wisatawan bahkan ilmuwan dari luar negeri untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada saat kerauhan dalam bingkai ritual keagamaan di Bali.

Akhir-akhir ini di Bali banyak sekali fenomena kerauhan yang makin unik, tidak biasa dan beragam yang diekspos di media sosial. Ada yang menganggap hal ini sebuah kemajuan, tapi tidak sedikit juga yang menganggap ini justru hal yang meboya, atau keluar dari esensi sebuah ritual. Kerauhan zaman now ini tak jarang menimbulkan gesekan sosial di masyarakat. Saya tidak akan mengulasnya dari sudut agama karena tidak mempunyai latar belakang akan hal itu. Saya ingin menyoroti apakah ada kaitan antara kesehatan mental dengan fenomena kerauhan zaman now.

Sebenarnya, fenomena kerauhan sebagai bagian dari ritual dan tradisi budaya Bali sudah menarik perhatian ilmuwan kesehatan mental di luar negeri, bahkan pada tahun 1972 sudah ada artikel jurnal ilmiah yakni American Journal of Psychiatry yang menyinggung tentang kerauhan. Kerauhan atau ketedunan adalah bagaimana seseorang dimasuki oleh kekuatan dewa, Bhatara atau roh tergantung dari apa yang dimunculkan saat kerauhan.

Saat kerauhan terjadi kesadaran seseorang berubah, bahkan ada yang disebut sebagai nadi yang mana perubahan kesadaran masih bisa terkontrol. Ada pandangan terowongan atau tunnel vision dan ia cukup bisa mengendalikan diri. Pada keadaan ini seseorang mempunyai kekuatan melebihi dari keadaan sadar dimana mempunyai kekuatan yang lebih kuat, persepsi sensasi di panca indranya meningkat sehingga menjadi kebal, tak merasakan panas oleh api maupun terlukai oleh senjata.

Pada proses ini sebagai bagian dari ritual tentu saja ia memiliki manfaat bagi umat di mana mereka bisa melihat sifat Maha Besar Tuhan yakni tidak terbakar oleh api, tidak terlukai oleh senjata dan sebagainya. Dan diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan dan keimanan umat terhadap kebesaran Tuhan. Kerauhan seperti ini jelas bukanlah sebuah gangguan kesehatan mental karena hanya terjadi sewaktu-waktu, hanya saat itu saja. Setelah selesai kerahuan pada sebuah ritual orang tersebut mampu untuk kembali bekerja, berkumpul kembali dengan keluarga dan tidak terjadi penurunan kualitas hidup.

Kerauhan sebagai bagian dari ritual ini hanya dialami di waktu-waktu tertentu dan tempat tertentu, misalnya saat ritual dan ada pada orang tertentu dalam hal ini mempunyai keadaan bisa, patut lan dadi. Hal ini tentu memancing keingintahuan banyak ilmuwan tentang apa yang terjadi saat kerauhan. Di sebuah jurnal ilmiah terdapat laporan penelitian yang dilakukan oleh Kawai N dan Honda M, peneliti asal Jepang di Bali yang menggunakan alat pendeteksi gelombang otak untuk membandingkan dan menemukan perbedaan antara orang yang kerauhan dan yang tidak.

Ternyata pada orang yang mengalami kerauhan memang terjadi perubahan gelombang otak bahkan setelah selesai kerauhan pun, beberapa menit kemudian, gelombang alfa dan theta-nya masih cukup tinggi. Jadi memang ada sesuatu yang terjadi di dalam otaknya, dan itu sementara saja an setelah itu tidak ada perubahan dalam kualitas hidupnya, tidak ada hendaya atau disabilitas sesudahnya. Belakangan ini, kata-kata kerauhan banyak sekali muncul di media massa untuk hal-hal yang tidak terkait dengan ritual keagamaan. Kalau kita lihat di kliping koran ada seorang pemuda “kerauhan” meminta sepeda motor Mio. Ada juga yang saat “kerauhan” menusuk kakeknya dan meminta rumah segera diselesaikan.

Menurut saya penggunaan kata-kata kerauhan ini tidak pada tempatnya dan membuat kerauhan menjadi sesuatu yang remeh. Kita tentu tahu, hal-hal di atas bukanlah bagian dari kerauhan karena tidak terkait dengan ritual tertentu dan tidak terjadi pada orang yang bisa, patut lan dadi. Patut dipertanyakan, apakah hal-hal ini sebagai kerauhan “tipe kedua” yaitu pura-pura kerauhan. Saya tidak akan banyak membahas hal ini dan segera beranjak pada kerauhan “tipe ketiga” yaitu keadaan dimana seseorang merasa yakin dirinya kerauhan padahal tidak. Pada keadaan ini ada latar belakang isu atau masalah kesehatan mental yang terjadi pada seseorang, misalnya ketidakmampuan mengekspresikan luapan emosi atau perasaan maupun permasalahan yang dialami.

Juga tentang riwayat kekerasan yang mungkin saja bisa terjadi tetapi sulit diungkapkan seseorang entah karena kondisi yang tidak memungkinkan atau situasi yang membelenggu dirinya. Ada beberapa gangguan mental yang berhubungan dan mirip seperti kerauhan yaitu gangguan konversi. Pada gangguan ini terjadi penurunan persepsi sensorik atau panca indera. Jadi sangat sulit dibedakan dengan kerauhan yang merupakan bagian dari ritual. Tetapi sebenarnya ada dasar masalah, ada latar belakang psikologis yang terganggu. Ada juga beberapa gejala yang mirip dengan hal ini, misalnya pada orang yang mengalami gangguan bipolar. Ketika berada pada tahaop manic dia merasa luar biasa, energinya berlebihan, banyak pikiran yang datang dan ramai di dalam otaknya tetapi tidak ada yang bisa dilakukan.

_____

BACA ESAI KESEHATAN JIWA LAINNYA:

  • Benci, Benar-benar Cinta
  • Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi
  • Berhenti Membicarakan Pandemi
  • Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi
  • Kecanduan di Masa Pandemi
  • TikTok Syndrome di Masa Pandemi
  • Orang Dengan Gangguan Jiwa, Siapa Bilang Kebal Corona?
  • Ingin Hilang Ingatan
  • Pandemi dan Gangguan Kecemasan Gelombang Kedua
  • Revolusi Tidur
  • Memaafkan 6000
  • Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa
  • Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis
  • Pandemi, Belajar Mendengar dari Sang Kresna
  • Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

____

Beberapa bisa saja muncul gejala seperti kerauhan. Ada juga yang sifatnya gangguan mental berat di mana ada perubahan isi pikir yang salah dan aneh, bisa jadi soal keagamaan, bisa jadi soal kebesaran atau rasa curiga tetapi berlangsung secara kontinyu. Pada kondisi seperti ini orang bisa mengalami gejala seperti kerauhan, tapi hingga berjam-jam dan berhari-hari tanpa bisa kembali lagi. Hati-hati, pada kondisi ini tentu membutuhkan penanganan atau terapi. Semua hal ini perlu dicermati untuk kemudian bisa mendapatkan penanganan. Saya menulis artikel ini bukan untuk menunjuk-nunjuk atau menghakimi seseorang; “Oh ini kerauhan, oh ini bukan kerauhan“  dan sebagainya. Tulisan ini adalah refleksi pada diri kita. Ketika kita belum bisa, patut, dan dadi dan mempunyai problem dalam kehidupan yang tidak mampu kita selesaikan, maka hal-hal ini secara bawah sadar bisa muncul sebagai sebuah fenomena seperti kerauhan.

Padahal ternyata itu merupakan bagian dari masalah psikologis kita. Kalau itu yang terjadi, maka sebaiknya segeralah mengenali diri, memahami diri. Apabila hal ini terjadi pada orang-orang terdekat kita, dukung mereka untuk mendapatkan pemeriksaan atau konsultasi sehingga kualitas hidup kita nantinya kembali baik. Ketika kita sudah merasa jernih kembali dan punya kualitas   hidup yang baik, keinginan untuk ngayah muncul dalam diri kita dan makin teguh. Tanpa proses kerauhan pun kita nantinya bisa berlatih, bisa meneguhkan diri melewati proses rmenjadi bagian pengayah ritual di Bali.

Dari ini semua saya ingin fenomena-fenomena kerauhan zaman now bisa dijernihkan dengan baik, sehingga tidak jatuh pada proses yang orang Bali bilang meboya, hanya untuk menarik perhatian atau mendapatkan follower yang banyak di media sosial dan sebagainya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini latar belakang psikologis banyak orang secara umum menurun, karena berbagai masalah apakah itu masalah ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Penting sekali untuk berlatih terus untuk menghadapi masalah kita dengan baik secara sadar sehingga tidak perlu semua hal kita selesaikan di bawah sadar. Mudah-mudahan kita semua berada dalam dalam keadaan mantap jiwa dan raga.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

Next Post

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co