22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerauhan Zaman Now dan Kesehatan Jiwa

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
August 28, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Sejak dulu kita ketahui bahwa kerauhan menjadi sebuah tradisi, bagian dari ritual keagamaan dalam masyarakat Hindu Bali. Hal ini menarik minat para wisatawan bahkan ilmuwan dari luar negeri untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada saat kerauhan dalam bingkai ritual keagamaan di Bali.

Akhir-akhir ini di Bali banyak sekali fenomena kerauhan yang makin unik, tidak biasa dan beragam yang diekspos di media sosial. Ada yang menganggap hal ini sebuah kemajuan, tapi tidak sedikit juga yang menganggap ini justru hal yang meboya, atau keluar dari esensi sebuah ritual. Kerauhan zaman now ini tak jarang menimbulkan gesekan sosial di masyarakat. Saya tidak akan mengulasnya dari sudut agama karena tidak mempunyai latar belakang akan hal itu. Saya ingin menyoroti apakah ada kaitan antara kesehatan mental dengan fenomena kerauhan zaman now.

Sebenarnya, fenomena kerauhan sebagai bagian dari ritual dan tradisi budaya Bali sudah menarik perhatian ilmuwan kesehatan mental di luar negeri, bahkan pada tahun 1972 sudah ada artikel jurnal ilmiah yakni American Journal of Psychiatry yang menyinggung tentang kerauhan. Kerauhan atau ketedunan adalah bagaimana seseorang dimasuki oleh kekuatan dewa, Bhatara atau roh tergantung dari apa yang dimunculkan saat kerauhan.

Saat kerauhan terjadi kesadaran seseorang berubah, bahkan ada yang disebut sebagai nadi yang mana perubahan kesadaran masih bisa terkontrol. Ada pandangan terowongan atau tunnel vision dan ia cukup bisa mengendalikan diri. Pada keadaan ini seseorang mempunyai kekuatan melebihi dari keadaan sadar dimana mempunyai kekuatan yang lebih kuat, persepsi sensasi di panca indranya meningkat sehingga menjadi kebal, tak merasakan panas oleh api maupun terlukai oleh senjata.

Pada proses ini sebagai bagian dari ritual tentu saja ia memiliki manfaat bagi umat di mana mereka bisa melihat sifat Maha Besar Tuhan yakni tidak terbakar oleh api, tidak terlukai oleh senjata dan sebagainya. Dan diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan dan keimanan umat terhadap kebesaran Tuhan. Kerauhan seperti ini jelas bukanlah sebuah gangguan kesehatan mental karena hanya terjadi sewaktu-waktu, hanya saat itu saja. Setelah selesai kerahuan pada sebuah ritual orang tersebut mampu untuk kembali bekerja, berkumpul kembali dengan keluarga dan tidak terjadi penurunan kualitas hidup.

Kerauhan sebagai bagian dari ritual ini hanya dialami di waktu-waktu tertentu dan tempat tertentu, misalnya saat ritual dan ada pada orang tertentu dalam hal ini mempunyai keadaan bisa, patut lan dadi. Hal ini tentu memancing keingintahuan banyak ilmuwan tentang apa yang terjadi saat kerauhan. Di sebuah jurnal ilmiah terdapat laporan penelitian yang dilakukan oleh Kawai N dan Honda M, peneliti asal Jepang di Bali yang menggunakan alat pendeteksi gelombang otak untuk membandingkan dan menemukan perbedaan antara orang yang kerauhan dan yang tidak.

Ternyata pada orang yang mengalami kerauhan memang terjadi perubahan gelombang otak bahkan setelah selesai kerauhan pun, beberapa menit kemudian, gelombang alfa dan theta-nya masih cukup tinggi. Jadi memang ada sesuatu yang terjadi di dalam otaknya, dan itu sementara saja an setelah itu tidak ada perubahan dalam kualitas hidupnya, tidak ada hendaya atau disabilitas sesudahnya. Belakangan ini, kata-kata kerauhan banyak sekali muncul di media massa untuk hal-hal yang tidak terkait dengan ritual keagamaan. Kalau kita lihat di kliping koran ada seorang pemuda “kerauhan” meminta sepeda motor Mio. Ada juga yang saat “kerauhan” menusuk kakeknya dan meminta rumah segera diselesaikan.

Menurut saya penggunaan kata-kata kerauhan ini tidak pada tempatnya dan membuat kerauhan menjadi sesuatu yang remeh. Kita tentu tahu, hal-hal di atas bukanlah bagian dari kerauhan karena tidak terkait dengan ritual tertentu dan tidak terjadi pada orang yang bisa, patut lan dadi. Patut dipertanyakan, apakah hal-hal ini sebagai kerauhan “tipe kedua” yaitu pura-pura kerauhan. Saya tidak akan banyak membahas hal ini dan segera beranjak pada kerauhan “tipe ketiga” yaitu keadaan dimana seseorang merasa yakin dirinya kerauhan padahal tidak. Pada keadaan ini ada latar belakang isu atau masalah kesehatan mental yang terjadi pada seseorang, misalnya ketidakmampuan mengekspresikan luapan emosi atau perasaan maupun permasalahan yang dialami.

Juga tentang riwayat kekerasan yang mungkin saja bisa terjadi tetapi sulit diungkapkan seseorang entah karena kondisi yang tidak memungkinkan atau situasi yang membelenggu dirinya. Ada beberapa gangguan mental yang berhubungan dan mirip seperti kerauhan yaitu gangguan konversi. Pada gangguan ini terjadi penurunan persepsi sensorik atau panca indera. Jadi sangat sulit dibedakan dengan kerauhan yang merupakan bagian dari ritual. Tetapi sebenarnya ada dasar masalah, ada latar belakang psikologis yang terganggu. Ada juga beberapa gejala yang mirip dengan hal ini, misalnya pada orang yang mengalami gangguan bipolar. Ketika berada pada tahaop manic dia merasa luar biasa, energinya berlebihan, banyak pikiran yang datang dan ramai di dalam otaknya tetapi tidak ada yang bisa dilakukan.

_____

BACA ESAI KESEHATAN JIWA LAINNYA:

  • Benci, Benar-benar Cinta
  • Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi
  • Berhenti Membicarakan Pandemi
  • Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi
  • Kecanduan di Masa Pandemi
  • TikTok Syndrome di Masa Pandemi
  • Orang Dengan Gangguan Jiwa, Siapa Bilang Kebal Corona?
  • Ingin Hilang Ingatan
  • Pandemi dan Gangguan Kecemasan Gelombang Kedua
  • Revolusi Tidur
  • Memaafkan 6000
  • Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa
  • Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis
  • Pandemi, Belajar Mendengar dari Sang Kresna
  • Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

____

Beberapa bisa saja muncul gejala seperti kerauhan. Ada juga yang sifatnya gangguan mental berat di mana ada perubahan isi pikir yang salah dan aneh, bisa jadi soal keagamaan, bisa jadi soal kebesaran atau rasa curiga tetapi berlangsung secara kontinyu. Pada kondisi seperti ini orang bisa mengalami gejala seperti kerauhan, tapi hingga berjam-jam dan berhari-hari tanpa bisa kembali lagi. Hati-hati, pada kondisi ini tentu membutuhkan penanganan atau terapi. Semua hal ini perlu dicermati untuk kemudian bisa mendapatkan penanganan. Saya menulis artikel ini bukan untuk menunjuk-nunjuk atau menghakimi seseorang; “Oh ini kerauhan, oh ini bukan kerauhan“  dan sebagainya. Tulisan ini adalah refleksi pada diri kita. Ketika kita belum bisa, patut, dan dadi dan mempunyai problem dalam kehidupan yang tidak mampu kita selesaikan, maka hal-hal ini secara bawah sadar bisa muncul sebagai sebuah fenomena seperti kerauhan.

Padahal ternyata itu merupakan bagian dari masalah psikologis kita. Kalau itu yang terjadi, maka sebaiknya segeralah mengenali diri, memahami diri. Apabila hal ini terjadi pada orang-orang terdekat kita, dukung mereka untuk mendapatkan pemeriksaan atau konsultasi sehingga kualitas hidup kita nantinya kembali baik. Ketika kita sudah merasa jernih kembali dan punya kualitas   hidup yang baik, keinginan untuk ngayah muncul dalam diri kita dan makin teguh. Tanpa proses kerauhan pun kita nantinya bisa berlatih, bisa meneguhkan diri melewati proses rmenjadi bagian pengayah ritual di Bali.

Dari ini semua saya ingin fenomena-fenomena kerauhan zaman now bisa dijernihkan dengan baik, sehingga tidak jatuh pada proses yang orang Bali bilang meboya, hanya untuk menarik perhatian atau mendapatkan follower yang banyak di media sosial dan sebagainya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini latar belakang psikologis banyak orang secara umum menurun, karena berbagai masalah apakah itu masalah ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Penting sekali untuk berlatih terus untuk menghadapi masalah kita dengan baik secara sadar sehingga tidak perlu semua hal kita selesaikan di bawah sadar. Mudah-mudahan kita semua berada dalam dalam keadaan mantap jiwa dan raga.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

[Kabar Minikino]: S-Express 2020 Indonesia dengan Deskripsi Audio Beri Akses Bagi Tuna Netra

Next Post

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Pada Malam-malam Pandemi, Anak-anak Mewarnai Langit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co