“Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat menjadi arah baru pembangunan. Sebab kota ini sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah di Indonesia: sejarah yang kaya, warisan budaya yang hidup, dan tradisi pendidikan yang mengakar.
Selama puluhan tahun Singaraja dikenal sebagai Kota Pendidikan. Ribuan pelajar datang menuntut ilmu, sekolah-sekolah berkembang, perguruan tinggi bertumbuh, dan tradisi intelektual menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakatnya. Namun pada saat yang sama, Singaraja juga menyimpan identitas lain yang tidak kalah penting. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Bali, simpul perdagangan maritim di kawasan timur Nusantara, ruang perjumpaan berbagai etnis, serta saksi lahirnya berbagai peristiwa penting dalam perjalanan daerah maupun bangsa.
Ironisnya, dua identitas besar itu selama ini berjalan pada jalurnya masing-masing. Pendidikan berlangsung di ruang kelas, sementara sejarah berdiri dalam bentuk bangunan-bangunan tua yang hanya sesekali dikunjungi.
Padahal keduanya dapat dipertemukan.
Karena itu, langkah Pemerintah Kabupaten Buleleng menata Kawasan Titik Nol patut diapresiasi. Di tengah kecenderungan pembangunan yang sering kali berorientasi pada aspek fisik semata, penataan kawasan ini menunjukkan kesadaran bahwa sebuah kota tidak cukup dibangun melalui beton, jalan, dan ruang terbuka. Kota juga dibangun melalui sejarah, identitas, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Titik nol bukan sekadar penanda jarak.
Ia adalah penanda arah.
Sebuah kota yang memahami dari mana ia berasal akan lebih siap menentukan ke mana ia hendak melangkah.
Dalam konteks itu, saya juga mengapresiasi pandangan Gede Pasek Suardika yang mengingatkan agar revitalisasi tidak berhenti di kawasan Titik Nol semata. Gagasan untuk turut menata Gedong Kertya, Puri Buleleng, Rumah Bung Karno, serta berbagai bangunan dan simpul sejarah lainnya merupakan pandangan yang patut dipertimbangkan secara serius. Sebab kota pusaka tidak dibangun oleh satu monumen, melainkan oleh keterhubungan berbagai ruang yang bersama-sama membentuk narasi sejarah.
Namun menurut saya, Singaraja memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
Bukan sekadar membangun kawasan heritage.
Melainkan membangun ekosistem pembelajaran berbasis warisan budaya.
Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota.
Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.
Gagasan tersebut bukanlah sesuatu yang utopis. Di berbagai belahan dunia, kota-kota bersejarah justru berkembang melalui pendekatan seperti ini. UNESCO mendorong pemanfaatan warisan budaya sebagai media pendidikan agar generasi muda mengenal identitasnya melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui buku pelajaran. Ibukota makanan dan budaya, George Town, di Malaysia, mengembangkan Cultural Heritage Education Programme yang mengajak siswa belajar melalui heritage trail, lokakarya, dan pembelajaran berbasis proyek. Kyoto di Jepang memperlihatkan bagaimana modernitas dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian ruang-ruang bersejarah sehingga kota itu sendiri menjadi bagian dari proses pendidikan warganya. Kota Lama Semarang juga mulai menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan pusaka mampu menghidupkan kembali ruang publik, memperkuat identitas kota, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.
Singaraja memiliki modal yang tidak kalah besar.
Gedong Kertya menyimpan salah satu koleksi lontar terpenting di Indonesia. Puri Buleleng merekam perjalanan pemerintahan tradisional Bali Utara. Rumah Bung Karno menjadi simpul penting sejarah kebangsaan. Pelabuhan Buleleng menyimpan jejak perdagangan maritim yang pernah menghubungkan Bali Utara dengan dunia luar. Kampung-kampung tua, rumah ibadah lintas agama, bangunan kolonial, pasar tradisional, serta jejak masyarakat multikultural yang masih hidup hingga kini merupakan kekayaan yang jarang dimiliki kota lain.
Semua itu sesungguhnya bukan hanya objek sejarah.
Mereka adalah ruang belajar.
Karena itu, saya membayangkan lahirnya sebuah “Jejak Belajar Singaraja”—sebuah koridor pembelajaran yang menghubungkan seluruh simpul sejarah kota dalam satu pengalaman yang utuh. Titik Nol menjadi gerbangnya.
Namun berbeda dengan masa lalu, koridor ini tidak hanya mengandalkan kunjungan fisik. Ia dapat diperkuat dengan lapisan teknologi digital yang membuat sejarah menjadi lebih hidup dan mudah diakses generasi muda.
Setiap situs dapat dilengkapi dengan QR code, augmented storytelling, audio guide, hingga peta digital interaktif. Ketika seorang siswa atau pengunjung berdiri di Gedong Kertya, ia tidak hanya melihat koleksi lontar, tetapi juga dapat memindai kode untuk mendengar penjelasan, melihat transliterasi naskah, bahkan menyaksikan rekonstruksi visual proses penulisan lontar pada masa lampau. Di Pelabuhan Buleleng, teknologi dapat menghadirkan visualisasi perdagangan masa kolonial. Di Puri Buleleng, pengunjung dapat memahami struktur pemerintahan tradisional melalui animasi interaktif.
Dengan cara ini, warisan budaya tidak lagi bersifat statis.
Ia menjadi pengalaman multisensori.
Ia tidak hanya dilihat, tetapi juga didengar, dipahami, dan dialami.
Bayangkan apabila setiap anak di Buleleng, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, memiliki pengalaman rutin menapaki koridor tersebut. Mereka tidak hanya membaca sejarah, tetapi mengalaminya secara langsung. Mereka belajar filologi di Gedong Kertya, memahami pemerintahan tradisional di Puri Buleleng, memaknai nasionalisme di Rumah Bung Karno, mempelajari perdagangan maritim di Pelabuhan Buleleng, serta menyaksikan bagaimana keberagaman menjadi bagian dari identitas Singaraja.
Pembelajaran semacam ini bukan sekadar kunjungan wisata.
Ia adalah pendidikan karakter.
Ia adalah pendidikan kewargaan.
Ia adalah pendidikan kebudayaan.
Pada saat yang sama, ekosistem seperti ini akan melahirkan manfaat yang jauh lebih luas. Mahasiswa dapat menjadi pemandu interpretasi sejarah. Guru dan dosen mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman. Komunitas sejarah menjadi narator kota. Seniman menghidupkan ruang publik melalui pertunjukan budaya. UMKM berkembang melalui produk-produk lokal yang terhubung dengan narasi sejarah. Pariwisata pun tumbuh bukan karena mengejar keramaian, melainkan karena menawarkan pengalaman yang otentik.
Inilah yang dalam kajian tata kota modern dikenal sebagai place-making—membangun ruang yang hidup karena dipenuhi aktivitas, cerita, dan keterlibatan masyarakat, bukan semata-mata oleh bangunan fisiknya. Ketika dipadukan dengan konsep living heritage dan experiential learning, kawasan bersejarah tidak lagi menjadi museum yang membeku, melainkan laboratorium kehidupan yang terus berkembang.
Pembangunan yang meninggalkan ingatan akan melahirkan kota yang indah, tetapi asing bagi warganya.
Sebaliknya, pembangunan yang memuliakan ingatan akan melahirkan kota yang bukan hanya layak dihuni, melainkan juga layak diwariskan.
Karena itu, keberhasilan penataan Titik Nol kelak tidak semestinya diukur hanya dari indahnya lanskap, ramainya kunjungan, atau banyaknya swafoto yang beredar di media sosial. Keberhasilan sejatinya tampak ketika kawasan itu mampu menghidupkan kembali rasa memiliki masyarakat terhadap sejarahnya, memperkuat identitas kota, dan melahirkan generasi yang mengenal akar budayanya.
Titik nol, pada akhirnya, bukanlah sekadar penanda geografis.
Ia adalah penanda arah.
Arah bahwa Singaraja tidak sedang membangun sebuah kawasan semata.
Singaraja sedang mengingat siapa dirinya.
Dalam khazanah kearifan Bali, proses itu dapat dimaknai sebagai Atma Kerthi—ikhtiar memuliakan jati diri agar tetap hidup, bertumbuh, dan memberi makna lintas generasi. Bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikan nilai-nilai yang diwariskan leluhur sebagai energi untuk menata masa depan. Revitalisasi kawasan heritage, dengan demikian, bukan hanya pelestarian bangunan, tetapi juga pelestarian jiwa kota.
Mungkin kelak orang tidak hanya datang ke Singaraja untuk berwisata atau berkuliah.
Mereka datang untuk belajar.
Belajar tentang sejarah.
Belajar tentang kebangsaan.
Belajar tentang maritim.
Belajar tentang toleransi.
Belajar tentang sastra.
Belajar tentang kepemimpinan.
Belajar tentang kebudayaan.
Bukan hanya di ruang kelas, melainkan di jalan-jalan kota.
Saat itulah Singaraja tidak hanya dikenal sebagai Kota Pendidikan, tetapi juga sebagai Kota Pembelajaran Berbasis Warisan Budaya—sebuah living classroom tempat masa lalu dan masa depan saling berdialog.
Sebab kota yang paling maju bukanlah kota yang memiliki gedung paling tinggi.
Melainkan kota yang mampu mengubah masa lalunya menjadi pelajaran bagi masa depan.
Dan menjadikan setiap langkah merawat warisan budayanya sebagai wujud Atma Kerthi—memuliakan jiwa kota agar tetap hidup, berakar, dan memberi arah bagi generasi yang akan datang. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole





























