21 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
June 21, 2026
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

“Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat menjadi arah baru pembangunan. Sebab kota ini sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah di Indonesia: sejarah yang kaya, warisan budaya yang hidup, dan tradisi pendidikan yang mengakar.

Selama puluhan tahun Singaraja dikenal sebagai Kota Pendidikan. Ribuan pelajar datang menuntut ilmu, sekolah-sekolah berkembang, perguruan tinggi bertumbuh, dan tradisi intelektual menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakatnya. Namun pada saat yang sama, Singaraja juga menyimpan identitas lain yang tidak kalah penting. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Bali, simpul perdagangan maritim di kawasan timur Nusantara, ruang perjumpaan berbagai etnis, serta saksi lahirnya berbagai peristiwa penting dalam perjalanan daerah maupun bangsa.

Ironisnya, dua identitas besar itu selama ini berjalan pada jalurnya masing-masing. Pendidikan berlangsung di ruang kelas, sementara sejarah berdiri dalam bentuk bangunan-bangunan tua yang hanya sesekali dikunjungi.

Padahal keduanya dapat dipertemukan.

Karena itu, langkah Pemerintah Kabupaten Buleleng menata Kawasan Titik Nol patut diapresiasi. Di tengah kecenderungan pembangunan yang sering kali berorientasi pada aspek fisik semata, penataan kawasan ini menunjukkan kesadaran bahwa sebuah kota tidak cukup dibangun melalui beton, jalan, dan ruang terbuka. Kota juga dibangun melalui sejarah, identitas, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Titik nol bukan sekadar penanda jarak.

Ia adalah penanda arah.

Sebuah kota yang memahami dari mana ia berasal akan lebih siap menentukan ke mana ia hendak melangkah.

Dalam konteks itu, saya juga mengapresiasi pandangan Gede Pasek Suardika yang mengingatkan agar revitalisasi tidak berhenti di kawasan Titik Nol semata. Gagasan untuk turut menata Gedong Kertya, Puri Buleleng, Rumah Bung Karno, serta berbagai bangunan dan simpul sejarah lainnya merupakan pandangan yang patut dipertimbangkan secara serius. Sebab kota pusaka tidak dibangun oleh satu monumen, melainkan oleh keterhubungan berbagai ruang yang bersama-sama membentuk narasi sejarah.

Namun menurut saya, Singaraja memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

Bukan sekadar membangun kawasan heritage.

Melainkan membangun ekosistem pembelajaran berbasis warisan budaya.

Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota.

Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.

Gagasan tersebut bukanlah sesuatu yang utopis. Di berbagai belahan dunia, kota-kota bersejarah justru berkembang melalui pendekatan seperti ini. UNESCO mendorong pemanfaatan warisan budaya sebagai media pendidikan agar generasi muda mengenal identitasnya melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui buku pelajaran. Ibukota makanan dan budaya, George Town, di Malaysia, mengembangkan Cultural Heritage Education Programme yang mengajak siswa belajar melalui heritage trail, lokakarya, dan pembelajaran berbasis proyek. Kyoto di Jepang memperlihatkan bagaimana modernitas dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian ruang-ruang bersejarah sehingga kota itu sendiri menjadi bagian dari proses pendidikan warganya. Kota Lama Semarang juga mulai menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan pusaka mampu menghidupkan kembali ruang publik, memperkuat identitas kota, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.

Singaraja memiliki modal yang tidak kalah besar.

Gedong Kertya menyimpan salah satu koleksi lontar terpenting di Indonesia. Puri Buleleng merekam perjalanan pemerintahan tradisional Bali Utara. Rumah Bung Karno menjadi simpul penting sejarah kebangsaan. Pelabuhan Buleleng menyimpan jejak perdagangan maritim yang pernah menghubungkan Bali Utara dengan dunia luar. Kampung-kampung tua, rumah ibadah lintas agama, bangunan kolonial, pasar tradisional, serta jejak masyarakat multikultural yang masih hidup hingga kini merupakan kekayaan yang jarang dimiliki kota lain.

Semua itu sesungguhnya bukan hanya objek sejarah.

Mereka adalah ruang belajar.

Karena itu, saya membayangkan lahirnya sebuah “Jejak Belajar Singaraja”—sebuah koridor pembelajaran yang menghubungkan seluruh simpul sejarah kota dalam satu pengalaman yang utuh. Titik Nol menjadi gerbangnya.

Namun berbeda dengan masa lalu, koridor ini tidak hanya mengandalkan kunjungan fisik. Ia dapat diperkuat dengan lapisan teknologi digital yang membuat sejarah menjadi lebih hidup dan mudah diakses generasi muda.

Setiap situs dapat dilengkapi dengan QR code, augmented storytelling, audio guide, hingga peta digital interaktif. Ketika seorang siswa atau pengunjung berdiri di Gedong Kertya, ia tidak hanya melihat koleksi lontar, tetapi juga dapat memindai kode untuk mendengar penjelasan, melihat transliterasi naskah, bahkan menyaksikan rekonstruksi visual proses penulisan lontar pada masa lampau. Di Pelabuhan Buleleng, teknologi dapat menghadirkan visualisasi perdagangan masa kolonial. Di Puri Buleleng, pengunjung dapat memahami struktur pemerintahan tradisional melalui animasi interaktif.

Dengan cara ini, warisan budaya tidak lagi bersifat statis.

Ia menjadi pengalaman multisensori.

Ia tidak hanya dilihat, tetapi juga didengar, dipahami, dan dialami.

Bayangkan apabila setiap anak di Buleleng, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, memiliki pengalaman rutin menapaki koridor tersebut. Mereka tidak hanya membaca sejarah, tetapi mengalaminya secara langsung. Mereka belajar filologi di Gedong Kertya, memahami pemerintahan tradisional di Puri Buleleng, memaknai nasionalisme di Rumah Bung Karno, mempelajari perdagangan maritim di Pelabuhan Buleleng, serta menyaksikan bagaimana keberagaman menjadi bagian dari identitas Singaraja.

Pembelajaran semacam ini bukan sekadar kunjungan wisata.

Ia adalah pendidikan karakter.

Ia adalah pendidikan kewargaan.

Ia adalah pendidikan kebudayaan.

Pada saat yang sama, ekosistem seperti ini akan melahirkan manfaat yang jauh lebih luas. Mahasiswa dapat menjadi pemandu interpretasi sejarah. Guru dan dosen mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman. Komunitas sejarah menjadi narator kota. Seniman menghidupkan ruang publik melalui pertunjukan budaya. UMKM berkembang melalui produk-produk lokal yang terhubung dengan narasi sejarah. Pariwisata pun tumbuh bukan karena mengejar keramaian, melainkan karena menawarkan pengalaman yang otentik.

Inilah yang dalam kajian tata kota modern dikenal sebagai place-making—membangun ruang yang hidup karena dipenuhi aktivitas, cerita, dan keterlibatan masyarakat, bukan semata-mata oleh bangunan fisiknya. Ketika dipadukan dengan konsep living heritage dan experiential learning, kawasan bersejarah tidak lagi menjadi museum yang membeku, melainkan laboratorium kehidupan yang terus berkembang.

Pembangunan yang meninggalkan ingatan akan melahirkan kota yang indah, tetapi asing bagi warganya.

Sebaliknya, pembangunan yang memuliakan ingatan akan melahirkan kota yang bukan hanya layak dihuni, melainkan juga layak diwariskan.

Karena itu, keberhasilan penataan Titik Nol kelak tidak semestinya diukur hanya dari indahnya lanskap, ramainya kunjungan, atau banyaknya swafoto yang beredar di media sosial. Keberhasilan sejatinya tampak ketika kawasan itu mampu menghidupkan kembali rasa memiliki masyarakat terhadap sejarahnya, memperkuat identitas kota, dan melahirkan generasi yang mengenal akar budayanya.

Titik nol, pada akhirnya, bukanlah sekadar penanda geografis.

Ia adalah penanda arah.

Arah bahwa Singaraja tidak sedang membangun sebuah kawasan semata.

Singaraja sedang mengingat siapa dirinya.

Dalam khazanah kearifan Bali, proses itu dapat dimaknai sebagai Atma Kerthi—ikhtiar memuliakan jati diri agar tetap hidup, bertumbuh, dan memberi makna lintas generasi. Bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikan nilai-nilai yang diwariskan leluhur sebagai energi untuk menata masa depan. Revitalisasi kawasan heritage, dengan demikian, bukan hanya pelestarian bangunan, tetapi juga pelestarian jiwa kota.

Mungkin kelak orang tidak hanya datang ke Singaraja untuk berwisata atau berkuliah.

Mereka datang untuk belajar.

Belajar tentang sejarah.

Belajar tentang kebangsaan.

Belajar tentang maritim.

Belajar tentang toleransi.

Belajar tentang sastra.

Belajar tentang kepemimpinan.

Belajar tentang kebudayaan.

Bukan hanya di ruang kelas, melainkan di jalan-jalan kota.

Saat itulah Singaraja tidak hanya dikenal sebagai Kota Pendidikan, tetapi juga sebagai Kota Pembelajaran Berbasis Warisan Budaya—sebuah living classroom tempat masa lalu dan masa depan saling berdialog.

Sebab kota yang paling maju bukanlah kota yang memiliki gedung paling tinggi.

Melainkan kota yang mampu mengubah masa lalunya menjadi pelajaran bagi masa depan.

Dan menjadikan setiap langkah merawat warisan budayanya sebagai wujud Atma Kerthi—memuliakan jiwa kota agar tetap hidup, berakar, dan memberi arah bagi generasi yang akan datang. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kota SingarajasejarahSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails

Bung Karno di Rumah Petani   

by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
0
Bung Karno di Rumah Petani   

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026
KLAKSON
Esai

KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

by Hartanto
June 20, 2026
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

by Chusmeru
June 20, 2026
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan
Ulas Pentas

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co