1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
June 21, 2026
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

“Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat menjadi arah baru pembangunan. Sebab kota ini sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah di Indonesia: sejarah yang kaya, warisan budaya yang hidup, dan tradisi pendidikan yang mengakar.

Selama puluhan tahun Singaraja dikenal sebagai Kota Pendidikan. Ribuan pelajar datang menuntut ilmu, sekolah-sekolah berkembang, perguruan tinggi bertumbuh, dan tradisi intelektual menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakatnya. Namun pada saat yang sama, Singaraja juga menyimpan identitas lain yang tidak kalah penting. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Bali, simpul perdagangan maritim di kawasan timur Nusantara, ruang perjumpaan berbagai etnis, serta saksi lahirnya berbagai peristiwa penting dalam perjalanan daerah maupun bangsa.

Ironisnya, dua identitas besar itu selama ini berjalan pada jalurnya masing-masing. Pendidikan berlangsung di ruang kelas, sementara sejarah berdiri dalam bentuk bangunan-bangunan tua yang hanya sesekali dikunjungi.

Padahal keduanya dapat dipertemukan.

Karena itu, langkah Pemerintah Kabupaten Buleleng menata Kawasan Titik Nol patut diapresiasi. Di tengah kecenderungan pembangunan yang sering kali berorientasi pada aspek fisik semata, penataan kawasan ini menunjukkan kesadaran bahwa sebuah kota tidak cukup dibangun melalui beton, jalan, dan ruang terbuka. Kota juga dibangun melalui sejarah, identitas, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Titik nol bukan sekadar penanda jarak.

Ia adalah penanda arah.

Sebuah kota yang memahami dari mana ia berasal akan lebih siap menentukan ke mana ia hendak melangkah.

Dalam konteks itu, saya juga mengapresiasi pandangan Gede Pasek Suardika yang mengingatkan agar revitalisasi tidak berhenti di kawasan Titik Nol semata. Gagasan untuk turut menata Gedong Kertya, Puri Buleleng, Rumah Bung Karno, serta berbagai bangunan dan simpul sejarah lainnya merupakan pandangan yang patut dipertimbangkan secara serius. Sebab kota pusaka tidak dibangun oleh satu monumen, melainkan oleh keterhubungan berbagai ruang yang bersama-sama membentuk narasi sejarah.

Namun menurut saya, Singaraja memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

Bukan sekadar membangun kawasan heritage.

Melainkan membangun ekosistem pembelajaran berbasis warisan budaya.

Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota.

Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.

Gagasan tersebut bukanlah sesuatu yang utopis. Di berbagai belahan dunia, kota-kota bersejarah justru berkembang melalui pendekatan seperti ini. UNESCO mendorong pemanfaatan warisan budaya sebagai media pendidikan agar generasi muda mengenal identitasnya melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui buku pelajaran. Ibukota makanan dan budaya, George Town, di Malaysia, mengembangkan Cultural Heritage Education Programme yang mengajak siswa belajar melalui heritage trail, lokakarya, dan pembelajaran berbasis proyek. Kyoto di Jepang memperlihatkan bagaimana modernitas dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian ruang-ruang bersejarah sehingga kota itu sendiri menjadi bagian dari proses pendidikan warganya. Kota Lama Semarang juga mulai menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan pusaka mampu menghidupkan kembali ruang publik, memperkuat identitas kota, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.

Singaraja memiliki modal yang tidak kalah besar.

Gedong Kertya menyimpan salah satu koleksi lontar terpenting di Indonesia. Puri Buleleng merekam perjalanan pemerintahan tradisional Bali Utara. Rumah Bung Karno menjadi simpul penting sejarah kebangsaan. Pelabuhan Buleleng menyimpan jejak perdagangan maritim yang pernah menghubungkan Bali Utara dengan dunia luar. Kampung-kampung tua, rumah ibadah lintas agama, bangunan kolonial, pasar tradisional, serta jejak masyarakat multikultural yang masih hidup hingga kini merupakan kekayaan yang jarang dimiliki kota lain.

Semua itu sesungguhnya bukan hanya objek sejarah.

Mereka adalah ruang belajar.

Karena itu, saya membayangkan lahirnya sebuah “Jejak Belajar Singaraja”—sebuah koridor pembelajaran yang menghubungkan seluruh simpul sejarah kota dalam satu pengalaman yang utuh. Titik Nol menjadi gerbangnya.

Namun berbeda dengan masa lalu, koridor ini tidak hanya mengandalkan kunjungan fisik. Ia dapat diperkuat dengan lapisan teknologi digital yang membuat sejarah menjadi lebih hidup dan mudah diakses generasi muda.

Setiap situs dapat dilengkapi dengan QR code, augmented storytelling, audio guide, hingga peta digital interaktif. Ketika seorang siswa atau pengunjung berdiri di Gedong Kertya, ia tidak hanya melihat koleksi lontar, tetapi juga dapat memindai kode untuk mendengar penjelasan, melihat transliterasi naskah, bahkan menyaksikan rekonstruksi visual proses penulisan lontar pada masa lampau. Di Pelabuhan Buleleng, teknologi dapat menghadirkan visualisasi perdagangan masa kolonial. Di Puri Buleleng, pengunjung dapat memahami struktur pemerintahan tradisional melalui animasi interaktif.

Dengan cara ini, warisan budaya tidak lagi bersifat statis.

Ia menjadi pengalaman multisensori.

Ia tidak hanya dilihat, tetapi juga didengar, dipahami, dan dialami.

Bayangkan apabila setiap anak di Buleleng, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, memiliki pengalaman rutin menapaki koridor tersebut. Mereka tidak hanya membaca sejarah, tetapi mengalaminya secara langsung. Mereka belajar filologi di Gedong Kertya, memahami pemerintahan tradisional di Puri Buleleng, memaknai nasionalisme di Rumah Bung Karno, mempelajari perdagangan maritim di Pelabuhan Buleleng, serta menyaksikan bagaimana keberagaman menjadi bagian dari identitas Singaraja.

Pembelajaran semacam ini bukan sekadar kunjungan wisata.

Ia adalah pendidikan karakter.

Ia adalah pendidikan kewargaan.

Ia adalah pendidikan kebudayaan.

Pada saat yang sama, ekosistem seperti ini akan melahirkan manfaat yang jauh lebih luas. Mahasiswa dapat menjadi pemandu interpretasi sejarah. Guru dan dosen mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman. Komunitas sejarah menjadi narator kota. Seniman menghidupkan ruang publik melalui pertunjukan budaya. UMKM berkembang melalui produk-produk lokal yang terhubung dengan narasi sejarah. Pariwisata pun tumbuh bukan karena mengejar keramaian, melainkan karena menawarkan pengalaman yang otentik.

Inilah yang dalam kajian tata kota modern dikenal sebagai place-making—membangun ruang yang hidup karena dipenuhi aktivitas, cerita, dan keterlibatan masyarakat, bukan semata-mata oleh bangunan fisiknya. Ketika dipadukan dengan konsep living heritage dan experiential learning, kawasan bersejarah tidak lagi menjadi museum yang membeku, melainkan laboratorium kehidupan yang terus berkembang.

Pembangunan yang meninggalkan ingatan akan melahirkan kota yang indah, tetapi asing bagi warganya.

Sebaliknya, pembangunan yang memuliakan ingatan akan melahirkan kota yang bukan hanya layak dihuni, melainkan juga layak diwariskan.

Karena itu, keberhasilan penataan Titik Nol kelak tidak semestinya diukur hanya dari indahnya lanskap, ramainya kunjungan, atau banyaknya swafoto yang beredar di media sosial. Keberhasilan sejatinya tampak ketika kawasan itu mampu menghidupkan kembali rasa memiliki masyarakat terhadap sejarahnya, memperkuat identitas kota, dan melahirkan generasi yang mengenal akar budayanya.

Titik nol, pada akhirnya, bukanlah sekadar penanda geografis.

Ia adalah penanda arah.

Arah bahwa Singaraja tidak sedang membangun sebuah kawasan semata.

Singaraja sedang mengingat siapa dirinya.

Dalam khazanah kearifan Bali, proses itu dapat dimaknai sebagai Atma Kerthi—ikhtiar memuliakan jati diri agar tetap hidup, bertumbuh, dan memberi makna lintas generasi. Bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikan nilai-nilai yang diwariskan leluhur sebagai energi untuk menata masa depan. Revitalisasi kawasan heritage, dengan demikian, bukan hanya pelestarian bangunan, tetapi juga pelestarian jiwa kota.

Mungkin kelak orang tidak hanya datang ke Singaraja untuk berwisata atau berkuliah.

Mereka datang untuk belajar.

Belajar tentang sejarah.

Belajar tentang kebangsaan.

Belajar tentang maritim.

Belajar tentang toleransi.

Belajar tentang sastra.

Belajar tentang kepemimpinan.

Belajar tentang kebudayaan.

Bukan hanya di ruang kelas, melainkan di jalan-jalan kota.

Saat itulah Singaraja tidak hanya dikenal sebagai Kota Pendidikan, tetapi juga sebagai Kota Pembelajaran Berbasis Warisan Budaya—sebuah living classroom tempat masa lalu dan masa depan saling berdialog.

Sebab kota yang paling maju bukanlah kota yang memiliki gedung paling tinggi.

Melainkan kota yang mampu mengubah masa lalunya menjadi pelajaran bagi masa depan.

Dan menjadikan setiap langkah merawat warisan budayanya sebagai wujud Atma Kerthi—memuliakan jiwa kota agar tetap hidup, berakar, dan memberi arah bagi generasi yang akan datang. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kota SingarajasejarahSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

Next Post

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co