10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
June 21, 2026
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

“Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat menjadi arah baru pembangunan. Sebab kota ini sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah di Indonesia: sejarah yang kaya, warisan budaya yang hidup, dan tradisi pendidikan yang mengakar.

Selama puluhan tahun Singaraja dikenal sebagai Kota Pendidikan. Ribuan pelajar datang menuntut ilmu, sekolah-sekolah berkembang, perguruan tinggi bertumbuh, dan tradisi intelektual menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakatnya. Namun pada saat yang sama, Singaraja juga menyimpan identitas lain yang tidak kalah penting. Kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Bali, simpul perdagangan maritim di kawasan timur Nusantara, ruang perjumpaan berbagai etnis, serta saksi lahirnya berbagai peristiwa penting dalam perjalanan daerah maupun bangsa.

Ironisnya, dua identitas besar itu selama ini berjalan pada jalurnya masing-masing. Pendidikan berlangsung di ruang kelas, sementara sejarah berdiri dalam bentuk bangunan-bangunan tua yang hanya sesekali dikunjungi.

Padahal keduanya dapat dipertemukan.

Karena itu, langkah Pemerintah Kabupaten Buleleng menata Kawasan Titik Nol patut diapresiasi. Di tengah kecenderungan pembangunan yang sering kali berorientasi pada aspek fisik semata, penataan kawasan ini menunjukkan kesadaran bahwa sebuah kota tidak cukup dibangun melalui beton, jalan, dan ruang terbuka. Kota juga dibangun melalui sejarah, identitas, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Titik nol bukan sekadar penanda jarak.

Ia adalah penanda arah.

Sebuah kota yang memahami dari mana ia berasal akan lebih siap menentukan ke mana ia hendak melangkah.

Dalam konteks itu, saya juga mengapresiasi pandangan Gede Pasek Suardika yang mengingatkan agar revitalisasi tidak berhenti di kawasan Titik Nol semata. Gagasan untuk turut menata Gedong Kertya, Puri Buleleng, Rumah Bung Karno, serta berbagai bangunan dan simpul sejarah lainnya merupakan pandangan yang patut dipertimbangkan secara serius. Sebab kota pusaka tidak dibangun oleh satu monumen, melainkan oleh keterhubungan berbagai ruang yang bersama-sama membentuk narasi sejarah.

Namun menurut saya, Singaraja memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

Bukan sekadar membangun kawasan heritage.

Melainkan membangun ekosistem pembelajaran berbasis warisan budaya.

Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota.

Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah.

Gagasan tersebut bukanlah sesuatu yang utopis. Di berbagai belahan dunia, kota-kota bersejarah justru berkembang melalui pendekatan seperti ini. UNESCO mendorong pemanfaatan warisan budaya sebagai media pendidikan agar generasi muda mengenal identitasnya melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui buku pelajaran. Ibukota makanan dan budaya, George Town, di Malaysia, mengembangkan Cultural Heritage Education Programme yang mengajak siswa belajar melalui heritage trail, lokakarya, dan pembelajaran berbasis proyek. Kyoto di Jepang memperlihatkan bagaimana modernitas dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian ruang-ruang bersejarah sehingga kota itu sendiri menjadi bagian dari proses pendidikan warganya. Kota Lama Semarang juga mulai menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan pusaka mampu menghidupkan kembali ruang publik, memperkuat identitas kota, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.

Singaraja memiliki modal yang tidak kalah besar.

Gedong Kertya menyimpan salah satu koleksi lontar terpenting di Indonesia. Puri Buleleng merekam perjalanan pemerintahan tradisional Bali Utara. Rumah Bung Karno menjadi simpul penting sejarah kebangsaan. Pelabuhan Buleleng menyimpan jejak perdagangan maritim yang pernah menghubungkan Bali Utara dengan dunia luar. Kampung-kampung tua, rumah ibadah lintas agama, bangunan kolonial, pasar tradisional, serta jejak masyarakat multikultural yang masih hidup hingga kini merupakan kekayaan yang jarang dimiliki kota lain.

Semua itu sesungguhnya bukan hanya objek sejarah.

Mereka adalah ruang belajar.

Karena itu, saya membayangkan lahirnya sebuah “Jejak Belajar Singaraja”—sebuah koridor pembelajaran yang menghubungkan seluruh simpul sejarah kota dalam satu pengalaman yang utuh. Titik Nol menjadi gerbangnya.

Namun berbeda dengan masa lalu, koridor ini tidak hanya mengandalkan kunjungan fisik. Ia dapat diperkuat dengan lapisan teknologi digital yang membuat sejarah menjadi lebih hidup dan mudah diakses generasi muda.

Setiap situs dapat dilengkapi dengan QR code, augmented storytelling, audio guide, hingga peta digital interaktif. Ketika seorang siswa atau pengunjung berdiri di Gedong Kertya, ia tidak hanya melihat koleksi lontar, tetapi juga dapat memindai kode untuk mendengar penjelasan, melihat transliterasi naskah, bahkan menyaksikan rekonstruksi visual proses penulisan lontar pada masa lampau. Di Pelabuhan Buleleng, teknologi dapat menghadirkan visualisasi perdagangan masa kolonial. Di Puri Buleleng, pengunjung dapat memahami struktur pemerintahan tradisional melalui animasi interaktif.

Dengan cara ini, warisan budaya tidak lagi bersifat statis.

Ia menjadi pengalaman multisensori.

Ia tidak hanya dilihat, tetapi juga didengar, dipahami, dan dialami.

Bayangkan apabila setiap anak di Buleleng, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, memiliki pengalaman rutin menapaki koridor tersebut. Mereka tidak hanya membaca sejarah, tetapi mengalaminya secara langsung. Mereka belajar filologi di Gedong Kertya, memahami pemerintahan tradisional di Puri Buleleng, memaknai nasionalisme di Rumah Bung Karno, mempelajari perdagangan maritim di Pelabuhan Buleleng, serta menyaksikan bagaimana keberagaman menjadi bagian dari identitas Singaraja.

Pembelajaran semacam ini bukan sekadar kunjungan wisata.

Ia adalah pendidikan karakter.

Ia adalah pendidikan kewargaan.

Ia adalah pendidikan kebudayaan.

Pada saat yang sama, ekosistem seperti ini akan melahirkan manfaat yang jauh lebih luas. Mahasiswa dapat menjadi pemandu interpretasi sejarah. Guru dan dosen mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman. Komunitas sejarah menjadi narator kota. Seniman menghidupkan ruang publik melalui pertunjukan budaya. UMKM berkembang melalui produk-produk lokal yang terhubung dengan narasi sejarah. Pariwisata pun tumbuh bukan karena mengejar keramaian, melainkan karena menawarkan pengalaman yang otentik.

Inilah yang dalam kajian tata kota modern dikenal sebagai place-making—membangun ruang yang hidup karena dipenuhi aktivitas, cerita, dan keterlibatan masyarakat, bukan semata-mata oleh bangunan fisiknya. Ketika dipadukan dengan konsep living heritage dan experiential learning, kawasan bersejarah tidak lagi menjadi museum yang membeku, melainkan laboratorium kehidupan yang terus berkembang.

Pembangunan yang meninggalkan ingatan akan melahirkan kota yang indah, tetapi asing bagi warganya.

Sebaliknya, pembangunan yang memuliakan ingatan akan melahirkan kota yang bukan hanya layak dihuni, melainkan juga layak diwariskan.

Karena itu, keberhasilan penataan Titik Nol kelak tidak semestinya diukur hanya dari indahnya lanskap, ramainya kunjungan, atau banyaknya swafoto yang beredar di media sosial. Keberhasilan sejatinya tampak ketika kawasan itu mampu menghidupkan kembali rasa memiliki masyarakat terhadap sejarahnya, memperkuat identitas kota, dan melahirkan generasi yang mengenal akar budayanya.

Titik nol, pada akhirnya, bukanlah sekadar penanda geografis.

Ia adalah penanda arah.

Arah bahwa Singaraja tidak sedang membangun sebuah kawasan semata.

Singaraja sedang mengingat siapa dirinya.

Dalam khazanah kearifan Bali, proses itu dapat dimaknai sebagai Atma Kerthi—ikhtiar memuliakan jati diri agar tetap hidup, bertumbuh, dan memberi makna lintas generasi. Bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikan nilai-nilai yang diwariskan leluhur sebagai energi untuk menata masa depan. Revitalisasi kawasan heritage, dengan demikian, bukan hanya pelestarian bangunan, tetapi juga pelestarian jiwa kota.

Mungkin kelak orang tidak hanya datang ke Singaraja untuk berwisata atau berkuliah.

Mereka datang untuk belajar.

Belajar tentang sejarah.

Belajar tentang kebangsaan.

Belajar tentang maritim.

Belajar tentang toleransi.

Belajar tentang sastra.

Belajar tentang kepemimpinan.

Belajar tentang kebudayaan.

Bukan hanya di ruang kelas, melainkan di jalan-jalan kota.

Saat itulah Singaraja tidak hanya dikenal sebagai Kota Pendidikan, tetapi juga sebagai Kota Pembelajaran Berbasis Warisan Budaya—sebuah living classroom tempat masa lalu dan masa depan saling berdialog.

Sebab kota yang paling maju bukanlah kota yang memiliki gedung paling tinggi.

Melainkan kota yang mampu mengubah masa lalunya menjadi pelajaran bagi masa depan.

Dan menjadikan setiap langkah merawat warisan budayanya sebagai wujud Atma Kerthi—memuliakan jiwa kota agar tetap hidup, berakar, dan memberi arah bagi generasi yang akan datang. [T]

Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole

Tags: Kota SingarajasejarahSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

Next Post

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Dewa Rhadea

Dewa Rhadea

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co