12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

Made Chandra by Made Chandra
June 21, 2026
in Esai
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar | Gambar: Credit screenshot @mantapfunny

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. 

Satu kolom pada sudut sebuah koran, magazine, atau zine independen, benar-benar didedikasikan untuk kenyamanan pembaca yang ingin lebih clear saat membaca barisan kalimat dari sang penulis. 

Kamu bisa membayangkan, bagaimana 500-800 atau bisa sampai 1000 lebih kata dibubuhkan secara lengkap pada penampang media cetak, di masa itu. 

Bagaimana jika kita, tarik pada praktiknya hari ini? Akses terhadap informasi, kejadian, dan hiburan bisa dengan mudah ditelan oleh mata dalam sekali gerak ujung ibu jari. Scrolling. Sebuah kata yang teradopsi ulang untuk mewakili aktivitas tersebut.

Tumbuhnya internet dan percepatan teknologi, yang kian berakselerasi seperti kencangnya letupan peluru. Adalah faktor utama terbukanya akses terhadap media-media alternatif, bahkan individu seperti kita bisa dengan mudah beropini tanpa perlu masuk proses editorial yang rumit nan njelimet. 

Mungkin itulah yang sedang kita amini dalam perbincangan hari ini. Remah-remah gosip underground perlahan menggeliat di lidah para dedengkot kesenian. Di opening pameran, di parkiran depan, bahkan di burjo samping kampus. Berita viral bisa hinggap dan tumbuh di mana-mana dengan subur, ia bersemayam halus di setiap genggaman tangan kita sekarang.

Hampir setiap bulan, beragam kejadian silih berganti untuk mencapai puncak trending. Di sinilah kecenderungan publik sebagai pembaca dan para penulis mulai mengalami pergeseran ekstrem. Mulai marak sejak masa Covid-19 waktu lalu. 

Fokus dan ketahanan membaca kita tereduksi kian waktu ke waktu. Sampai beberapa penelitian membeberkan fakta bahwa atensi murni seseorang untuk tertarik pada sebuah postingan hanya bertahan di 1-3 detik pertama. 

Akibatnya jelas, minat membaca yang terus mengalami dekadensi memaksa si produsen konten, baik akun-akun personal, sampai media digital yang besar sekalipun ikut beradaptasi dengan perubahan perilaku para konsumen yakni netizen di sosial media.

Padat dan lengkapnya sebuah gagasan, lebih-lebih ia kritik seni harus disesuaikan dengan gejala tersebut. Tulisan yang padat berubah menjadi lengang, informasi yang penuh digantikan potongan-potongan kata, bahkan bisa sependek satu baris kesimpulan di kolom-kolom komentar. 

Tapi apa boleh buat, jika kita tak mengikuti perkembangan tersebut. Informasi yang kita rasa penting akan menjadi angin lewat saja, di hadapan ibu jari dan kedipan mata yang hanya sekelibet. 

Di situlah tantangannya. Informasi yang tidak utuh, terpecah-pecah, sebagian lagi di tambahkan yang bukan konteksnya menyebabkan dangkalnya pemahaman kita terhadap satu isu tertentu. Satu dua buah baris postingan dianggap mewakili seluruh konteks yang di belakangnya. 

Di titik ini, kritik seni dipaksa lebur dalam praktik-praktik instan, yang cepat dan terpotong-potong. Sependek slide yang disediakan atau beberapa baris komentar yang rawan untuk dipelintir, dan digeser jauh-jauh dari keadaan objektif sebenarnya. 

POLEMIK SENI DAN  ARTJOG

Tahun ini sebuah hajatan seni satu tahunan, ARTJOG menjadi contoh paling muktahir dari polemik dan kritik seni yang menyertainya. Peristiwa tersebut tengah menjadi pusat perbincangan skena kalcer hari ini. Keberadaan sponsor dan pembukaan dari sebuah instansi anak bapak membuat geger dunia maya. 

Aku sendiri masih sangat ingat bagaimana postingan-postingan awal, muncul dengan narasi dan gelombang kekecewaan yang cukup tendensius pada ARTJOG 2026 ini. 

Satu feed yang hanya terdiri dari beberapa baris kata, memantik api dan membakar semua yang dilewatinya. Algoritma dan exposure  Instagram (sosial media skena) dengan gesit menyambar kepala semua orang. 

Satu postingan dengan berapa baris kata, dihinggapi ratusan hingga ribuan like dan komentar yang merespon kejadian tersebut. 

Beragam opini berseliweran ria. Topik hangat tersebut digoreng habis-habisan sampai seniman yang sedang riweh-riwehnya menyelesaikan display karya mereka, terkena imbas dari banjir polemik tersebut. 

Seniman yang kadung berbulan-bulan mempersiapkan dengan segenap tenaga dan pikiran mereka. Dipaksa masuk dalam opini yang sebenarnya mereka sendiri sama sekali tak tahu menahu.

Karya dan pemikiran yang mereka ciptakan, sesungguhnya hadir untuk mereka dan dari mereka. Sesederhana kebanggaan atas pencapaian diri telah lolos dalam ajang pretensius yang katanya pusat seni kontemporer di Indonesia ini. 

Mereka sendiri termasuk saya yang hadir sebagai bagian kolektif yang berpameran di ajang ini. Tak ada intensi untuk mendukung agenda politik tertentu atau dengan sukarela menjadi mesin cuci uang sebuah agensi bisnis yang kini tengah dipermasalahkan. Bahkan kurator utama festival seni ini, Farah Wardani tak luput dari bulan-bulanan netizen dan kabar burung yang berputar-putar di media sosial.

Namun begitulah gejala di sosial media hari ini. Dalam banyak percakapan daring, konteks sering kali kalah cepat dibanding penyebaran opini. Cukup satu dua postingan dengan clickbait yang memancing sanggup mengguncangkan jagad kesenian kita hari ini. 

Di satu titik ini bagus, karena peristiwa ini menjadi momentum untuk menggerakan kembali roda wacana seni kontemporer kita. Membuat publik seni bahkan orang awam sekalipun, berdesak-desakan untuk ikut nimbrung dalam pusaran polemik yang tengah viral ini. 

Kritik tidak lagi hadir dalam ruang-ruang formal nan akademis. Ia bergerilya lewat akun-akun media independen, bahkan bersemayam dalam komentar para anonimus intelektual.

Namun di lain hal, ini menjadi ruang yang rentan jatuh dalam pusaran konflik yang brutal dan tak berpegang pada pemahaman yang objektif. Semua orang berbondong-bondong melempar api dimana-mana lalu menghilang dalam dekapan profil privat yang tak bisa diakses asal-usulnya. 

Foto salah satu karya @versusxproject

Percakapan yang diniatkan sebagai wacana yang kritis, akhirnya hanya sampai pada area permukaan saja, berhenti pada kata viral. Diskusi mendalam dan pengamatan yang menyeluruh seakan terabaikan dan tak lagi menjadi rujukan. 

Dampaknya jelas, bahkan terkesan berlebihan. Yakni mental yang terguncang bagi mereka yang diserang dan dianggap affiliator utama dalam polemik ini. Gempuran komentar seakan memapar pada setiap layar gawai kita hari ini. 

Bahkan agenda bangun tidur tidak lagi sekadar cuci muka dengan basahnya air, tapi terbanjiri oleh informasi dalam sekejap scrolling lembut jempol kita. 

Yang lebih parah, adalah maraknya budaya cancel culture yaitu fenomena di mana publik secara massal memboikot seseorang atau dalam konteks ini adalah satu festival seni. Dimana kita tahu ada banyak roda-roda kecil yag membentuk satu ekosistem industri kreatif ini, mereka yang begantung penghidupan pada sebuah helatan yang dilaksanakan setahun sekali ini.

Netizen seakan mencampakkan faktor-faktor di belakang semua itu, setiap stake holder dari seniman, kurator, manajer, art handler, galeri sitter, bahkan hingga penjaga karcis parkiran. Menjadi salah satu penggerak dalam terciptanya lebaran seni ini.

Tapi tak menutup celah bahwa ARTJOG juga lengah dalam memahami posisinya sebagai panggung prestisius seni rupa paling berpengaruh di Indonesia. Kehati-hatian dalam memilih sponsor dan mengelola komunikasi publik menjadi hal sentral yang mesti dipahami oleh mereka.

Konsekuensi atas posisi yang begitu kuat dan mapan, memang selayaknya perlu dinormalkan pada proporsi yang lebih sehat. ARTJOG dan segala ketegangan yang terjadi menjadi pil pahit yang harus kita telan demi publik, insfratruktur, serta pelaku seni yang lebih mawas dan waras.

Maka kritik terhadap ARTJOG memang seharusnya terjadi, dan hal wajar yang harus diterima oleh festival sebesar mereka. Yang perlu menjadi catatan justru bagaimana mekanisme kritik tersebut berkembang di era sosial media ini.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya ARTJOG sebagai institusi, melainkan juga cara kita sebagai netizen membangun, menyebarkan, dan mengonsumsi kritik yang sudah kadung basah ini.

MERAWAT KRITISISME YANG SEHAT

Kejadian ini adalah  satu dari sekian peristiwa yang menjadi contoh pusaran kritik seni yang berkembang pada awal era 5.0, dimana teknologi dan informasi tidak lagi terpusat pada corong-corong media mapan. Ia hadir disetiap genggaman tangan kita. Di setiap individu tanpa terkecuali. 

Dalam taraf tertentu, tanpa sadar kritik seni hari ini berubah ketika ia hidup di bawah rezim bernama algoritma dan ekonomi perhatian.

Di sinilah tantangan kita untuk mencari solusi merawat kritisisme yang sehat. Dimana ide dan opini benar-benar bisa diakses secara jelas dan mendalam. Sehat bukan berarti sempurna, ia meminimalkan kita untuk jatuh pada informasi instan yang tak tahu ujung pangkalnya. 

Maka melambatkan diri dan selektif dalam menerima dan mengamini sebuah informasi menjadi kewajiban utama bagi kita. Terkhusus bagi Milenial dan Gen-Z yang kini menjadi pemeran utama dalam melanjutkan tongkat estafet wacana dan perkembangan seni hari ini. 

Jangan sampai, kritisisme yang lemah dan cenderung reaktif menjadi penyebab utama dangkalnya kita dalam memahami satu narasi atas peristiwa tertentu. 

Di akhir sedikit timbul pertanyaan, apakah kritik seni hari ini dapat diserap secara mendalam, ketika ia harus berlomba dengan algoritma yang lebih menghargai traffic dan exposure ketimbang pemahaman?

Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: ArtjogInstagramkritik senimedia sosialSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Next Post

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails

Era Chatting Telah Berlalu

by Angga Wijaya
July 7, 2026
0
Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

Read moreDetails

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Titik Nol, Titik Awal Singaraja ---Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co