2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

Made Chandra by Made Chandra
June 21, 2026
in Esai
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar | Gambar: Credit screenshot @mantapfunny

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. 

Satu kolom pada sudut sebuah koran, magazine, atau zine independen, benar-benar didedikasikan untuk kenyamanan pembaca yang ingin lebih clear saat membaca barisan kalimat dari sang penulis. 

Kamu bisa membayangkan, bagaimana 500-800 atau bisa sampai 1000 lebih kata dibubuhkan secara lengkap pada penampang media cetak, di masa itu. 

Bagaimana jika kita, tarik pada praktiknya hari ini? Akses terhadap informasi, kejadian, dan hiburan bisa dengan mudah ditelan oleh mata dalam sekali gerak ujung ibu jari. Scrolling. Sebuah kata yang teradopsi ulang untuk mewakili aktivitas tersebut.

Tumbuhnya internet dan percepatan teknologi, yang kian berakselerasi seperti kencangnya letupan peluru. Adalah faktor utama terbukanya akses terhadap media-media alternatif, bahkan individu seperti kita bisa dengan mudah beropini tanpa perlu masuk proses editorial yang rumit nan njelimet. 

Mungkin itulah yang sedang kita amini dalam perbincangan hari ini. Remah-remah gosip underground perlahan menggeliat di lidah para dedengkot kesenian. Di opening pameran, di parkiran depan, bahkan di burjo samping kampus. Berita viral bisa hinggap dan tumbuh di mana-mana dengan subur, ia bersemayam halus di setiap genggaman tangan kita sekarang.

Hampir setiap bulan, beragam kejadian silih berganti untuk mencapai puncak trending. Di sinilah kecenderungan publik sebagai pembaca dan para penulis mulai mengalami pergeseran ekstrem. Mulai marak sejak masa Covid-19 waktu lalu. 

Fokus dan ketahanan membaca kita tereduksi kian waktu ke waktu. Sampai beberapa penelitian membeberkan fakta bahwa atensi murni seseorang untuk tertarik pada sebuah postingan hanya bertahan di 1-3 detik pertama. 

Akibatnya jelas, minat membaca yang terus mengalami dekadensi memaksa si produsen konten, baik akun-akun personal, sampai media digital yang besar sekalipun ikut beradaptasi dengan perubahan perilaku para konsumen yakni netizen di sosial media.

Padat dan lengkapnya sebuah gagasan, lebih-lebih ia kritik seni harus disesuaikan dengan gejala tersebut. Tulisan yang padat berubah menjadi lengang, informasi yang penuh digantikan potongan-potongan kata, bahkan bisa sependek satu baris kesimpulan di kolom-kolom komentar. 

Tapi apa boleh buat, jika kita tak mengikuti perkembangan tersebut. Informasi yang kita rasa penting akan menjadi angin lewat saja, di hadapan ibu jari dan kedipan mata yang hanya sekelibet. 

Di situlah tantangannya. Informasi yang tidak utuh, terpecah-pecah, sebagian lagi di tambahkan yang bukan konteksnya menyebabkan dangkalnya pemahaman kita terhadap satu isu tertentu. Satu dua buah baris postingan dianggap mewakili seluruh konteks yang di belakangnya. 

Di titik ini, kritik seni dipaksa lebur dalam praktik-praktik instan, yang cepat dan terpotong-potong. Sependek slide yang disediakan atau beberapa baris komentar yang rawan untuk dipelintir, dan digeser jauh-jauh dari keadaan objektif sebenarnya. 

POLEMIK SENI DAN  ARTJOG

Tahun ini sebuah hajatan seni satu tahunan, ARTJOG menjadi contoh paling muktahir dari polemik dan kritik seni yang menyertainya. Peristiwa tersebut tengah menjadi pusat perbincangan skena kalcer hari ini. Keberadaan sponsor dan pembukaan dari sebuah instansi anak bapak membuat geger dunia maya. 

Aku sendiri masih sangat ingat bagaimana postingan-postingan awal, muncul dengan narasi dan gelombang kekecewaan yang cukup tendensius pada ARTJOG 2026 ini. 

Satu feed yang hanya terdiri dari beberapa baris kata, memantik api dan membakar semua yang dilewatinya. Algoritma dan exposure  Instagram (sosial media skena) dengan gesit menyambar kepala semua orang. 

Satu postingan dengan berapa baris kata, dihinggapi ratusan hingga ribuan like dan komentar yang merespon kejadian tersebut. 

Beragam opini berseliweran ria. Topik hangat tersebut digoreng habis-habisan sampai seniman yang sedang riweh-riwehnya menyelesaikan display karya mereka, terkena imbas dari banjir polemik tersebut. 

Seniman yang kadung berbulan-bulan mempersiapkan dengan segenap tenaga dan pikiran mereka. Dipaksa masuk dalam opini yang sebenarnya mereka sendiri sama sekali tak tahu menahu.

Karya dan pemikiran yang mereka ciptakan, sesungguhnya hadir untuk mereka dan dari mereka. Sesederhana kebanggaan atas pencapaian diri telah lolos dalam ajang pretensius yang katanya pusat seni kontemporer di Indonesia ini. 

Mereka sendiri termasuk saya yang hadir sebagai bagian kolektif yang berpameran di ajang ini. Tak ada intensi untuk mendukung agenda politik tertentu atau dengan sukarela menjadi mesin cuci uang sebuah agensi bisnis yang kini tengah dipermasalahkan. Bahkan kurator utama festival seni ini, Farah Wardani tak luput dari bulan-bulanan netizen dan kabar burung yang berputar-putar di media sosial.

Namun begitulah gejala di sosial media hari ini. Dalam banyak percakapan daring, konteks sering kali kalah cepat dibanding penyebaran opini. Cukup satu dua postingan dengan clickbait yang memancing sanggup mengguncangkan jagad kesenian kita hari ini. 

Di satu titik ini bagus, karena peristiwa ini menjadi momentum untuk menggerakan kembali roda wacana seni kontemporer kita. Membuat publik seni bahkan orang awam sekalipun, berdesak-desakan untuk ikut nimbrung dalam pusaran polemik yang tengah viral ini. 

Kritik tidak lagi hadir dalam ruang-ruang formal nan akademis. Ia bergerilya lewat akun-akun media independen, bahkan bersemayam dalam komentar para anonimus intelektual.

Namun di lain hal, ini menjadi ruang yang rentan jatuh dalam pusaran konflik yang brutal dan tak berpegang pada pemahaman yang objektif. Semua orang berbondong-bondong melempar api dimana-mana lalu menghilang dalam dekapan profil privat yang tak bisa diakses asal-usulnya. 

Foto salah satu karya @versusxproject

Percakapan yang diniatkan sebagai wacana yang kritis, akhirnya hanya sampai pada area permukaan saja, berhenti pada kata viral. Diskusi mendalam dan pengamatan yang menyeluruh seakan terabaikan dan tak lagi menjadi rujukan. 

Dampaknya jelas, bahkan terkesan berlebihan. Yakni mental yang terguncang bagi mereka yang diserang dan dianggap affiliator utama dalam polemik ini. Gempuran komentar seakan memapar pada setiap layar gawai kita hari ini. 

Bahkan agenda bangun tidur tidak lagi sekadar cuci muka dengan basahnya air, tapi terbanjiri oleh informasi dalam sekejap scrolling lembut jempol kita. 

Yang lebih parah, adalah maraknya budaya cancel culture yaitu fenomena di mana publik secara massal memboikot seseorang atau dalam konteks ini adalah satu festival seni. Dimana kita tahu ada banyak roda-roda kecil yag membentuk satu ekosistem industri kreatif ini, mereka yang begantung penghidupan pada sebuah helatan yang dilaksanakan setahun sekali ini.

Netizen seakan mencampakkan faktor-faktor di belakang semua itu, setiap stake holder dari seniman, kurator, manajer, art handler, galeri sitter, bahkan hingga penjaga karcis parkiran. Menjadi salah satu penggerak dalam terciptanya lebaran seni ini.

Tapi tak menutup celah bahwa ARTJOG juga lengah dalam memahami posisinya sebagai panggung prestisius seni rupa paling berpengaruh di Indonesia. Kehati-hatian dalam memilih sponsor dan mengelola komunikasi publik menjadi hal sentral yang mesti dipahami oleh mereka.

Konsekuensi atas posisi yang begitu kuat dan mapan, memang selayaknya perlu dinormalkan pada proporsi yang lebih sehat. ARTJOG dan segala ketegangan yang terjadi menjadi pil pahit yang harus kita telan demi publik, insfratruktur, serta pelaku seni yang lebih mawas dan waras.

Maka kritik terhadap ARTJOG memang seharusnya terjadi, dan hal wajar yang harus diterima oleh festival sebesar mereka. Yang perlu menjadi catatan justru bagaimana mekanisme kritik tersebut berkembang di era sosial media ini.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya ARTJOG sebagai institusi, melainkan juga cara kita sebagai netizen membangun, menyebarkan, dan mengonsumsi kritik yang sudah kadung basah ini.

MERAWAT KRITISISME YANG SEHAT

Kejadian ini adalah  satu dari sekian peristiwa yang menjadi contoh pusaran kritik seni yang berkembang pada awal era 5.0, dimana teknologi dan informasi tidak lagi terpusat pada corong-corong media mapan. Ia hadir disetiap genggaman tangan kita. Di setiap individu tanpa terkecuali. 

Dalam taraf tertentu, tanpa sadar kritik seni hari ini berubah ketika ia hidup di bawah rezim bernama algoritma dan ekonomi perhatian.

Di sinilah tantangan kita untuk mencari solusi merawat kritisisme yang sehat. Dimana ide dan opini benar-benar bisa diakses secara jelas dan mendalam. Sehat bukan berarti sempurna, ia meminimalkan kita untuk jatuh pada informasi instan yang tak tahu ujung pangkalnya. 

Maka melambatkan diri dan selektif dalam menerima dan mengamini sebuah informasi menjadi kewajiban utama bagi kita. Terkhusus bagi Milenial dan Gen-Z yang kini menjadi pemeran utama dalam melanjutkan tongkat estafet wacana dan perkembangan seni hari ini. 

Jangan sampai, kritisisme yang lemah dan cenderung reaktif menjadi penyebab utama dangkalnya kita dalam memahami satu narasi atas peristiwa tertentu. 

Di akhir sedikit timbul pertanyaan, apakah kritik seni hari ini dapat diserap secara mendalam, ketika ia harus berlomba dengan algoritma yang lebih menghargai traffic dan exposure ketimbang pemahaman?

Panjang Umur Seni Rupa!!!! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: ArtjogInstagramkritik senimedia sosialSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

Next Post

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Titik Nol, Titik Awal Singaraja ---Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co