11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, saya datang ke SPBU, ngantri, lalu menunggu beberapa menit. Sambil tengok kanan-kiri kurang kerjaan, perhatian saya tertuju pada sebuah truk tangki sedang membongkar muatan BBM.

Beberapa petugas berdiri mengelilingi lubang tangki pendam. Salah seorang memasukkan batang ukur, yang lain memegang lembar pencatatan. Mereka sesekali bercanda dengan bahasa daerah, sebentar-sebentar tawa kecil terdengar, tidak ada wajah tegang.

Tetapi begitu angka mulai disebut, suasana berubah. “Seratus tiga puluh lima koma lima…” Yang lain langsung mengulang. “Seratus tiga puluh lima koma lima.” Lalu seseorang mencatat. Tidak ada yang terburu-buru tapi juga tidak ada yang main-main. Saya sambil mengantri cukup lama memperhatikan mereka. Entah mengapa, justru dari pekerjaan yang dianggap sederhana itu saya melihat sesuatu yang semakin jarang kita bicarakan, yaitu integritas.

Mereka Tidak Sedang Menjaga BBM

Kalau dipikir-pikir, mereka memang sedang menjaga bensin. Tetapi sebenarnya bukan itu yang mereka jaga. Dalam pandangan saya, yang sedang mereka jaga adalah kepercayaan.  Beberapa liter BBM yang hilang mungkin hanya menjadi angka dalam laporan. Namun bagi mereka, angka itu bisa berarti teguran, kehilangan pekerjaan, bahkan hilangnya sumber nafkah keluarga.

Saya yakin gaji mereka tidak besar, maklumlah, memang jabatan mereka tidak prestisius. Namun mereka memahami satu hal yang sederhana,  yang intinya kalau mereka tidak bertanggung jawab, keluarga mereka bakal cilaka.

Kesadaran seperti ini melahirkan disiplin yang tidak dibuat-buat. Bukan karena mereka diawasi kamera. Bukan karena ingin viral atau dipuji-puji. Tetapi karena mereka paham betul, bahwa meski gaji tidak besar, pekerjaan mereka adalah amanah yang akan dapat diandalkan untuk merawat kehidupan anak dan istri.

Tiga Hal yang Menentukan Integritas

Percakapan saya dengan seorang kolega setelah itu, membawa saya pada sebuah rumusan sederhana, maklumlah karena otak saya juga sederhana. Bahwa integritas ternyata tidak hanya dibangun oleh moral, namun berdiri di atas tiga kaki. Moral, Sistem, dan Konsekuensi.

Moral membuat seseorang tahu mana yang benar,  sistem membuat penyimpangan sulit dilakukan, dan konsekuensi membuat orang berpikir ulang sebelum melanggar.  Kalau salah satu hilang, bangunan integritas mulai goyah, bahkan ambruk.

Mengapa orang baik pun bisa berbuat buruk? Tentu saja ini bukan pertanyaan baru.  Filsuf Hannah Arendt pernah memperkenalkan gagasan tentang the banality of evil, kejahatan yang menjadi biasa. Menurutnya, banyak tindakan buruk bukan dilakukan oleh monster, melainkan oleh orang-orang biasa yang berhenti berpikir secara moral dan menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang lumrah. 

Lah sekarang, korupsi pun sering bergerak ke arah itu. Bukan lagi dianggap penyimpangan, melainkan sudah jadi budaya.  Tengok saja kalimat-kalimat seperti, “Semua juga begitu,” atau “Kalau tidak ikut, malah rugi,”  malah kita sendiri kadang bilang, “Sudahlah, memang sistemnya begitu.” Semua itu  adalah contoh bagaimana kejahatan perlahan kehilangan rasa bersalahnya.  Padahal yang berubah bukan moralitasnya; yang berubah adalah standar sosialnya.

Lord Acton Sudah Mengingatkan Sejak Lama

Sejarawan Inggris John Emerich Edward Dalberg-Acton pernah menulis kalimat yang mungkin menjadi salah satu kutipan politik paling terkenal sepanjang masa.  “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”  Kekuasaan cenderung korup, lebih jauh lagi, kekuasaan yang mutlak cenderung korup secara mutlak.  Sayangnya kutipan itu sering dipahami secara keliru.

Bukan berarti setiap orang yang berkuasa pasti korup. Melainkan semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula godaan untuk menyalahgunakannya apabila tidak disertai pengawasan dan akuntabilitas.  Di sinilah sistem menjadi penting.  Bukan karena kita tidak percaya pada moral manusia.  Melainkan karena kita, saya dan anda, paham betul bahwa manusia adalah makhluk yang bisa, dan tidak hanya bisa,  malah gampang tergoda.

Ironi yang Sulit Dijelaskan

Dalam berbagai kesempatan, termasuk kuliah umum yang baru-baru ini disampaikan oleh Mahfud MD di UIN Palopo, muncul gagasan agar Indonesia mempertimbangkan hukuman yang jauh lebih berat bagi koruptor.  Gagasan ini tentu mengundang perdebatan.  Sebagian melihat korupsi sebagai kejahatan luar biasa, pastinya juga layak dijatuhi hukuman luar biasa.  Sebagian lain menekankan pentingnya menjaga prinsip hak asasi manusia dan memastikan efektivitas kebijakan pidana.

Apa pun posisi kita dalam perdebatan tersebut bebas dan sah, namun tetap saja ada satu pelajaran yang relatif disepakati banyak ahli kriminologi, yaitu kepastian penegakan hukum sering kali lebih berpengaruh daripada sekadar ancaman hukuman yang berat.  Jika seseorang merasa peluang tertangkap sangat kecil, sementara keuntungan yang diperoleh sangat besar, ancaman hukuman setinggi apa pun bisa kehilangan daya cegahnya. 

Sebaliknya, ketika sistem pengawasan kuat, pelanggaran cepat terdeteksi, dan sanksi diterapkan secara konsisten, ruang untuk penyimpangan menjadi jauh lebih sempit. Ya, mohon maaf jika pembicaraan ini jadi klasik dan membosankan, karena belum diterapkan. Wajar saja sineas Joko Anwar mengumpat keras lewat filmya, Ghost in The Cell.

Di sinilah saya kembali mengingat petugas SPBU tadi.  Ia mungkin bertanggung jawab atas beberapa ribu liter BBM.  Nilainya mungkin ratusan juta rupiah.  Setiap angka diperiksa.  Setiap selisih dicatat.  Setiap prosedur dijalankan.  Lalu di sisi lain, saya membayangkan orang-orang yang diberi amanah mengelola anggaran publik bernilai miliaran, bahkan triliunan rupiah.

Secara logika moral, semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawabnya.  Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa besarnya amanah tidak otomatis diikuti oleh besarnya integritas.  Ironi inilah yang berkali-kali menjadi kritik dalam karya sastra, film, maupun diskursus publik. 

Kita sering menyaksikan pelanggaran kecil dihukum cepat, sementara pelanggaran yang jauh lebih besar memerlukan proses panjang, bahkan kadang berakhir dengan hukuman yang oleh sebagian masyarakat dirasa belum sebanding dengan dampak yang ditimbulkan.

Integritas Tidak Mengenal Pangkat

Sang filsuf Aristoteles mengatakan bahwa kebajikan bukanlah sesuatu yang muncul sesekali, melainkan kebiasaan yang dibentuk melalui tindakan yang berulang.  “We are what we repeatedly do.”  Integritas juga demikian. Integritas tidak lahir ketika seseorang menduduki jabatan tinggi. Ia dibangun sejak seseorang mampu bertanggung jawab atas pekerjaan yang paling sederhana. 

Petugas SPBU itu mungkin tidak pernah membaca teori etika. Ia mungkin tidak mengenal filsafat politik.  Namun setiap hari ia sedang mempraktikkan sesuatu yang oleh banyak universitas diajarkan bersemester-semester lamanya, yaitu menjaga amanah.

Indonesia mungkin tidak kekurangan orang berpendidikan. Tidak kekurangan profesor, apalagi kekurangan doktor.  Tidak juga kekurangan pejabat yang fasih berbicara tentang tata kelola.  Uniknya yang kadang terasa langka justru adalah kesediaan untuk menganggap amanah sebagai sesuatu yang sakral. Yang ada adalah menganggap amanah sebagai sesuatu peta jalan kemakmuran pribadi.  Padahal bangsa ini mungkin tidak pertama-tama membutuhkan manusia yang paling cerdas. Bangsa ini membutuhkan manusia yang amanah, itu saja.

Dan titipan, sekecil apa pun, tidak boleh dikurangi.  Jadi, saya pulang dari SPBU hari itu bukan hanya membawa tangki motor istri saya yang tidak lagi penuh seperti biasanya, karena harga BBM baru saja naik. Namun, saya juga membawa sebuah pelajaran yang diajarkan oleh para petugas pompa bensin.  Bahwa integritas ternyata tidak selalu tinggal di gedung-gedung megah.  Kadang ia sedang berdiri di bawah terik matahari, mengenakan seragam sederhana, memegang batang ukur, menyebut angka dengan hati-hati, lalu pulang dengan gaji yang mungkin tidak pernah masuk berita.

Namun justru dari merekalah kita diingatkan bahwa harga sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaannya, melainkan oleh seberapa sungguh-sungguh warganya menjaga amanah. Kalau tidak, niscaya kita bakal jadi tikus mati di lumbung padi. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: integritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Next Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails

Era Chatting Telah Berlalu

by Angga Wijaya
July 7, 2026
0
Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

Read moreDetails

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co