28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, saya datang ke SPBU, ngantri, lalu menunggu beberapa menit. Sambil tengok kanan-kiri kurang kerjaan, perhatian saya tertuju pada sebuah truk tangki sedang membongkar muatan BBM.

Beberapa petugas berdiri mengelilingi lubang tangki pendam. Salah seorang memasukkan batang ukur, yang lain memegang lembar pencatatan. Mereka sesekali bercanda dengan bahasa daerah, sebentar-sebentar tawa kecil terdengar, tidak ada wajah tegang.

Tetapi begitu angka mulai disebut, suasana berubah. “Seratus tiga puluh lima koma lima…” Yang lain langsung mengulang. “Seratus tiga puluh lima koma lima.” Lalu seseorang mencatat. Tidak ada yang terburu-buru tapi juga tidak ada yang main-main. Saya sambil mengantri cukup lama memperhatikan mereka. Entah mengapa, justru dari pekerjaan yang dianggap sederhana itu saya melihat sesuatu yang semakin jarang kita bicarakan, yaitu integritas.

Mereka Tidak Sedang Menjaga BBM

Kalau dipikir-pikir, mereka memang sedang menjaga bensin. Tetapi sebenarnya bukan itu yang mereka jaga. Dalam pandangan saya, yang sedang mereka jaga adalah kepercayaan.  Beberapa liter BBM yang hilang mungkin hanya menjadi angka dalam laporan. Namun bagi mereka, angka itu bisa berarti teguran, kehilangan pekerjaan, bahkan hilangnya sumber nafkah keluarga.

Saya yakin gaji mereka tidak besar, maklumlah, memang jabatan mereka tidak prestisius. Namun mereka memahami satu hal yang sederhana,  yang intinya kalau mereka tidak bertanggung jawab, keluarga mereka bakal cilaka.

Kesadaran seperti ini melahirkan disiplin yang tidak dibuat-buat. Bukan karena mereka diawasi kamera. Bukan karena ingin viral atau dipuji-puji. Tetapi karena mereka paham betul, bahwa meski gaji tidak besar, pekerjaan mereka adalah amanah yang akan dapat diandalkan untuk merawat kehidupan anak dan istri.

Tiga Hal yang Menentukan Integritas

Percakapan saya dengan seorang kolega setelah itu, membawa saya pada sebuah rumusan sederhana, maklumlah karena otak saya juga sederhana. Bahwa integritas ternyata tidak hanya dibangun oleh moral, namun berdiri di atas tiga kaki. Moral, Sistem, dan Konsekuensi.

Moral membuat seseorang tahu mana yang benar,  sistem membuat penyimpangan sulit dilakukan, dan konsekuensi membuat orang berpikir ulang sebelum melanggar.  Kalau salah satu hilang, bangunan integritas mulai goyah, bahkan ambruk.

Mengapa orang baik pun bisa berbuat buruk? Tentu saja ini bukan pertanyaan baru.  Filsuf Hannah Arendt pernah memperkenalkan gagasan tentang the banality of evil, kejahatan yang menjadi biasa. Menurutnya, banyak tindakan buruk bukan dilakukan oleh monster, melainkan oleh orang-orang biasa yang berhenti berpikir secara moral dan menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang lumrah. 

Lah sekarang, korupsi pun sering bergerak ke arah itu. Bukan lagi dianggap penyimpangan, melainkan sudah jadi budaya.  Tengok saja kalimat-kalimat seperti, “Semua juga begitu,” atau “Kalau tidak ikut, malah rugi,”  malah kita sendiri kadang bilang, “Sudahlah, memang sistemnya begitu.” Semua itu  adalah contoh bagaimana kejahatan perlahan kehilangan rasa bersalahnya.  Padahal yang berubah bukan moralitasnya; yang berubah adalah standar sosialnya.

Lord Acton Sudah Mengingatkan Sejak Lama

Sejarawan Inggris John Emerich Edward Dalberg-Acton pernah menulis kalimat yang mungkin menjadi salah satu kutipan politik paling terkenal sepanjang masa.  “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”  Kekuasaan cenderung korup, lebih jauh lagi, kekuasaan yang mutlak cenderung korup secara mutlak.  Sayangnya kutipan itu sering dipahami secara keliru.

Bukan berarti setiap orang yang berkuasa pasti korup. Melainkan semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula godaan untuk menyalahgunakannya apabila tidak disertai pengawasan dan akuntabilitas.  Di sinilah sistem menjadi penting.  Bukan karena kita tidak percaya pada moral manusia.  Melainkan karena kita, saya dan anda, paham betul bahwa manusia adalah makhluk yang bisa, dan tidak hanya bisa,  malah gampang tergoda.

Ironi yang Sulit Dijelaskan

Dalam berbagai kesempatan, termasuk kuliah umum yang baru-baru ini disampaikan oleh Mahfud MD di UIN Palopo, muncul gagasan agar Indonesia mempertimbangkan hukuman yang jauh lebih berat bagi koruptor.  Gagasan ini tentu mengundang perdebatan.  Sebagian melihat korupsi sebagai kejahatan luar biasa, pastinya juga layak dijatuhi hukuman luar biasa.  Sebagian lain menekankan pentingnya menjaga prinsip hak asasi manusia dan memastikan efektivitas kebijakan pidana.

Apa pun posisi kita dalam perdebatan tersebut bebas dan sah, namun tetap saja ada satu pelajaran yang relatif disepakati banyak ahli kriminologi, yaitu kepastian penegakan hukum sering kali lebih berpengaruh daripada sekadar ancaman hukuman yang berat.  Jika seseorang merasa peluang tertangkap sangat kecil, sementara keuntungan yang diperoleh sangat besar, ancaman hukuman setinggi apa pun bisa kehilangan daya cegahnya. 

Sebaliknya, ketika sistem pengawasan kuat, pelanggaran cepat terdeteksi, dan sanksi diterapkan secara konsisten, ruang untuk penyimpangan menjadi jauh lebih sempit. Ya, mohon maaf jika pembicaraan ini jadi klasik dan membosankan, karena belum diterapkan. Wajar saja sineas Joko Anwar mengumpat keras lewat filmya, Ghost in The Cell.

Di sinilah saya kembali mengingat petugas SPBU tadi.  Ia mungkin bertanggung jawab atas beberapa ribu liter BBM.  Nilainya mungkin ratusan juta rupiah.  Setiap angka diperiksa.  Setiap selisih dicatat.  Setiap prosedur dijalankan.  Lalu di sisi lain, saya membayangkan orang-orang yang diberi amanah mengelola anggaran publik bernilai miliaran, bahkan triliunan rupiah.

Secara logika moral, semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawabnya.  Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa besarnya amanah tidak otomatis diikuti oleh besarnya integritas.  Ironi inilah yang berkali-kali menjadi kritik dalam karya sastra, film, maupun diskursus publik. 

Kita sering menyaksikan pelanggaran kecil dihukum cepat, sementara pelanggaran yang jauh lebih besar memerlukan proses panjang, bahkan kadang berakhir dengan hukuman yang oleh sebagian masyarakat dirasa belum sebanding dengan dampak yang ditimbulkan.

Integritas Tidak Mengenal Pangkat

Sang filsuf Aristoteles mengatakan bahwa kebajikan bukanlah sesuatu yang muncul sesekali, melainkan kebiasaan yang dibentuk melalui tindakan yang berulang.  “We are what we repeatedly do.”  Integritas juga demikian. Integritas tidak lahir ketika seseorang menduduki jabatan tinggi. Ia dibangun sejak seseorang mampu bertanggung jawab atas pekerjaan yang paling sederhana. 

Petugas SPBU itu mungkin tidak pernah membaca teori etika. Ia mungkin tidak mengenal filsafat politik.  Namun setiap hari ia sedang mempraktikkan sesuatu yang oleh banyak universitas diajarkan bersemester-semester lamanya, yaitu menjaga amanah.

Indonesia mungkin tidak kekurangan orang berpendidikan. Tidak kekurangan profesor, apalagi kekurangan doktor.  Tidak juga kekurangan pejabat yang fasih berbicara tentang tata kelola.  Uniknya yang kadang terasa langka justru adalah kesediaan untuk menganggap amanah sebagai sesuatu yang sakral. Yang ada adalah menganggap amanah sebagai sesuatu peta jalan kemakmuran pribadi.  Padahal bangsa ini mungkin tidak pertama-tama membutuhkan manusia yang paling cerdas. Bangsa ini membutuhkan manusia yang amanah, itu saja.

Dan titipan, sekecil apa pun, tidak boleh dikurangi.  Jadi, saya pulang dari SPBU hari itu bukan hanya membawa tangki motor istri saya yang tidak lagi penuh seperti biasanya, karena harga BBM baru saja naik. Namun, saya juga membawa sebuah pelajaran yang diajarkan oleh para petugas pompa bensin.  Bahwa integritas ternyata tidak selalu tinggal di gedung-gedung megah.  Kadang ia sedang berdiri di bawah terik matahari, mengenakan seragam sederhana, memegang batang ukur, menyebut angka dengan hati-hati, lalu pulang dengan gaji yang mungkin tidak pernah masuk berita.

Namun justru dari merekalah kita diingatkan bahwa harga sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaannya, melainkan oleh seberapa sungguh-sungguh warganya menjaga amanah. Kalau tidak, niscaya kita bakal jadi tikus mati di lumbung padi. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: integritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Next Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co