12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, saya datang ke SPBU, ngantri, lalu menunggu beberapa menit. Sambil tengok kanan-kiri kurang kerjaan, perhatian saya tertuju pada sebuah truk tangki sedang membongkar muatan BBM.

Beberapa petugas berdiri mengelilingi lubang tangki pendam. Salah seorang memasukkan batang ukur, yang lain memegang lembar pencatatan. Mereka sesekali bercanda dengan bahasa daerah, sebentar-sebentar tawa kecil terdengar, tidak ada wajah tegang.

Tetapi begitu angka mulai disebut, suasana berubah. “Seratus tiga puluh lima koma lima…” Yang lain langsung mengulang. “Seratus tiga puluh lima koma lima.” Lalu seseorang mencatat. Tidak ada yang terburu-buru tapi juga tidak ada yang main-main. Saya sambil mengantri cukup lama memperhatikan mereka. Entah mengapa, justru dari pekerjaan yang dianggap sederhana itu saya melihat sesuatu yang semakin jarang kita bicarakan, yaitu integritas.

Mereka Tidak Sedang Menjaga BBM

Kalau dipikir-pikir, mereka memang sedang menjaga bensin. Tetapi sebenarnya bukan itu yang mereka jaga. Dalam pandangan saya, yang sedang mereka jaga adalah kepercayaan.  Beberapa liter BBM yang hilang mungkin hanya menjadi angka dalam laporan. Namun bagi mereka, angka itu bisa berarti teguran, kehilangan pekerjaan, bahkan hilangnya sumber nafkah keluarga.

Saya yakin gaji mereka tidak besar, maklumlah, memang jabatan mereka tidak prestisius. Namun mereka memahami satu hal yang sederhana,  yang intinya kalau mereka tidak bertanggung jawab, keluarga mereka bakal cilaka.

Kesadaran seperti ini melahirkan disiplin yang tidak dibuat-buat. Bukan karena mereka diawasi kamera. Bukan karena ingin viral atau dipuji-puji. Tetapi karena mereka paham betul, bahwa meski gaji tidak besar, pekerjaan mereka adalah amanah yang akan dapat diandalkan untuk merawat kehidupan anak dan istri.

Tiga Hal yang Menentukan Integritas

Percakapan saya dengan seorang kolega setelah itu, membawa saya pada sebuah rumusan sederhana, maklumlah karena otak saya juga sederhana. Bahwa integritas ternyata tidak hanya dibangun oleh moral, namun berdiri di atas tiga kaki. Moral, Sistem, dan Konsekuensi.

Moral membuat seseorang tahu mana yang benar,  sistem membuat penyimpangan sulit dilakukan, dan konsekuensi membuat orang berpikir ulang sebelum melanggar.  Kalau salah satu hilang, bangunan integritas mulai goyah, bahkan ambruk.

Mengapa orang baik pun bisa berbuat buruk? Tentu saja ini bukan pertanyaan baru.  Filsuf Hannah Arendt pernah memperkenalkan gagasan tentang the banality of evil, kejahatan yang menjadi biasa. Menurutnya, banyak tindakan buruk bukan dilakukan oleh monster, melainkan oleh orang-orang biasa yang berhenti berpikir secara moral dan menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang lumrah. 

Lah sekarang, korupsi pun sering bergerak ke arah itu. Bukan lagi dianggap penyimpangan, melainkan sudah jadi budaya.  Tengok saja kalimat-kalimat seperti, “Semua juga begitu,” atau “Kalau tidak ikut, malah rugi,”  malah kita sendiri kadang bilang, “Sudahlah, memang sistemnya begitu.” Semua itu  adalah contoh bagaimana kejahatan perlahan kehilangan rasa bersalahnya.  Padahal yang berubah bukan moralitasnya; yang berubah adalah standar sosialnya.

Lord Acton Sudah Mengingatkan Sejak Lama

Sejarawan Inggris John Emerich Edward Dalberg-Acton pernah menulis kalimat yang mungkin menjadi salah satu kutipan politik paling terkenal sepanjang masa.  “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”  Kekuasaan cenderung korup, lebih jauh lagi, kekuasaan yang mutlak cenderung korup secara mutlak.  Sayangnya kutipan itu sering dipahami secara keliru.

Bukan berarti setiap orang yang berkuasa pasti korup. Melainkan semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula godaan untuk menyalahgunakannya apabila tidak disertai pengawasan dan akuntabilitas.  Di sinilah sistem menjadi penting.  Bukan karena kita tidak percaya pada moral manusia.  Melainkan karena kita, saya dan anda, paham betul bahwa manusia adalah makhluk yang bisa, dan tidak hanya bisa,  malah gampang tergoda.

Ironi yang Sulit Dijelaskan

Dalam berbagai kesempatan, termasuk kuliah umum yang baru-baru ini disampaikan oleh Mahfud MD di UIN Palopo, muncul gagasan agar Indonesia mempertimbangkan hukuman yang jauh lebih berat bagi koruptor.  Gagasan ini tentu mengundang perdebatan.  Sebagian melihat korupsi sebagai kejahatan luar biasa, pastinya juga layak dijatuhi hukuman luar biasa.  Sebagian lain menekankan pentingnya menjaga prinsip hak asasi manusia dan memastikan efektivitas kebijakan pidana.

Apa pun posisi kita dalam perdebatan tersebut bebas dan sah, namun tetap saja ada satu pelajaran yang relatif disepakati banyak ahli kriminologi, yaitu kepastian penegakan hukum sering kali lebih berpengaruh daripada sekadar ancaman hukuman yang berat.  Jika seseorang merasa peluang tertangkap sangat kecil, sementara keuntungan yang diperoleh sangat besar, ancaman hukuman setinggi apa pun bisa kehilangan daya cegahnya. 

Sebaliknya, ketika sistem pengawasan kuat, pelanggaran cepat terdeteksi, dan sanksi diterapkan secara konsisten, ruang untuk penyimpangan menjadi jauh lebih sempit. Ya, mohon maaf jika pembicaraan ini jadi klasik dan membosankan, karena belum diterapkan. Wajar saja sineas Joko Anwar mengumpat keras lewat filmya, Ghost in The Cell.

Di sinilah saya kembali mengingat petugas SPBU tadi.  Ia mungkin bertanggung jawab atas beberapa ribu liter BBM.  Nilainya mungkin ratusan juta rupiah.  Setiap angka diperiksa.  Setiap selisih dicatat.  Setiap prosedur dijalankan.  Lalu di sisi lain, saya membayangkan orang-orang yang diberi amanah mengelola anggaran publik bernilai miliaran, bahkan triliunan rupiah.

Secara logika moral, semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawabnya.  Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa besarnya amanah tidak otomatis diikuti oleh besarnya integritas.  Ironi inilah yang berkali-kali menjadi kritik dalam karya sastra, film, maupun diskursus publik. 

Kita sering menyaksikan pelanggaran kecil dihukum cepat, sementara pelanggaran yang jauh lebih besar memerlukan proses panjang, bahkan kadang berakhir dengan hukuman yang oleh sebagian masyarakat dirasa belum sebanding dengan dampak yang ditimbulkan.

Integritas Tidak Mengenal Pangkat

Sang filsuf Aristoteles mengatakan bahwa kebajikan bukanlah sesuatu yang muncul sesekali, melainkan kebiasaan yang dibentuk melalui tindakan yang berulang.  “We are what we repeatedly do.”  Integritas juga demikian. Integritas tidak lahir ketika seseorang menduduki jabatan tinggi. Ia dibangun sejak seseorang mampu bertanggung jawab atas pekerjaan yang paling sederhana. 

Petugas SPBU itu mungkin tidak pernah membaca teori etika. Ia mungkin tidak mengenal filsafat politik.  Namun setiap hari ia sedang mempraktikkan sesuatu yang oleh banyak universitas diajarkan bersemester-semester lamanya, yaitu menjaga amanah.

Indonesia mungkin tidak kekurangan orang berpendidikan. Tidak kekurangan profesor, apalagi kekurangan doktor.  Tidak juga kekurangan pejabat yang fasih berbicara tentang tata kelola.  Uniknya yang kadang terasa langka justru adalah kesediaan untuk menganggap amanah sebagai sesuatu yang sakral. Yang ada adalah menganggap amanah sebagai sesuatu peta jalan kemakmuran pribadi.  Padahal bangsa ini mungkin tidak pertama-tama membutuhkan manusia yang paling cerdas. Bangsa ini membutuhkan manusia yang amanah, itu saja.

Dan titipan, sekecil apa pun, tidak boleh dikurangi.  Jadi, saya pulang dari SPBU hari itu bukan hanya membawa tangki motor istri saya yang tidak lagi penuh seperti biasanya, karena harga BBM baru saja naik. Namun, saya juga membawa sebuah pelajaran yang diajarkan oleh para petugas pompa bensin.  Bahwa integritas ternyata tidak selalu tinggal di gedung-gedung megah.  Kadang ia sedang berdiri di bawah terik matahari, mengenakan seragam sederhana, memegang batang ukur, menyebut angka dengan hati-hati, lalu pulang dengan gaji yang mungkin tidak pernah masuk berita.

Namun justru dari merekalah kita diingatkan bahwa harga sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaannya, melainkan oleh seberapa sungguh-sungguh warganya menjaga amanah. Kalau tidak, niscaya kita bakal jadi tikus mati di lumbung padi. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: integritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Next Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co