SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan komunitas berkumpul dalam sebuah sharing session. Tidak ada peluncuran produk baru. Tidak pula agenda promosi besar-besaran. Yang terjadi justru percakapan tentang kota, kebiasaan minum kopi, dan bagaimana sebuah merek bisa hidup berdampingan dengan lingkungan baru.
Saya berkesempatan mengikuti pertemuan tersebut. Dari obrolan yang berlangsung, terlihat bahwa bagi TUKU, kehadiran di Bali bukan semata soal memperluas jaringan bisnis. Ada upaya untuk mengenal lebih dekat masyarakat yang kini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
TUKU memang bukan nama baru di industri kopi Indonesia. Namun, gerai di Renon, Denpasar, memiliki arti tersendiri. Inilah gerai pertama mereka di luar Pulau Jawa, yang mulai beroperasi sejak Oktober 2025. Kehadirannya menjadi langkah penting sekaligus ujian baru bagi merek yang lahir dan berkembang di Jakarta tersebut.

Dalam sesi berbagi itu, Senior External Relations Toko Kopi TUKU, Rury Anggi, menjelaskan bahwa sejak awal TUKU dibangun dengan filosofi “Bertetangga Baik”. Filosofi tersebut tidak hanya ditujukan kepada pelanggan yang datang membeli kopi. Tetangga, dalam pengertian TUKU, mencakup masyarakat sekitar, pelaku usaha lain, komunitas, kolaborator, hingga media lokal yang ikut membentuk ekosistem sebuah daerah.
Karena itu, ketika membuka gerai di Bali, mereka merasa perlu melakukan lebih dari sekadar menjual produk.
“Kami merasa kurang afdol kalau datang ke kota baru tanpa kenal siapa-siapa,” ujar Rury dalam sesi tersebut. Baginya, memperkenalkan diri kepada lingkungan sekitar merupakan bagian dari identitas TUKU yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan bisnis mereka.
Pendekatan seperti ini terasa menarik di tengah maraknya industri kopi yang tumbuh sangat cepat. Banyak kedai berlomba menghadirkan konsep ruang yang estetik, menu yang unik, atau pengalaman nongkrong yang nyaman. TUKU mengambil jalur yang sedikit berbeda. Mereka justru berusaha memahami bagaimana kopi hadir dalam keseharian masyarakat setempat.

Melalui sharing session yang dilakukan bersama media dan komunitas, TUKU berusaha mendengarkan cerita, menangkap kesan pelanggan, sekaligus mencari tahu peluang apa yang masih bisa dikembangkan agar keberadaan mereka memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Bali sendiri menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Sebagai daerah dengan budaya kopi yang sudah berkembang kuat, masyarakatnya memiliki kebiasaan dan karakter konsumsi yang berbeda dibandingkan kota-kota di Pulau Jawa. TUKU menyadari hal tersebut sejak awal. Karena itulah mereka memilih untuk banyak mendengar sebelum berbicara terlalu jauh.

Dari sudut pandang pelanggan, saya melihat ada satu hal yang cukup menonjol dari TUKU. Mereka tidak menawarkan pengalaman nongkrong seperti banyak kedai kopi di Bali yang menjadikan suasana sebagai daya tarik utama. TUKU justru terasa lebih sederhana.
Orang datang, memesan, menikmati kopi, lalu melanjutkan aktivitasnya.
Namun, kesederhanaan itu memiliki kekuatan tersendiri. Yang ditawarkan bukan pengalaman berlama-lama di dalam kedai, melainkan konsistensi. Konsistensi rasa, kualitas produk, dan pengalaman yang relatif serupa dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Dalam industri kopi yang acap kali mengejar tren dan sensasi baru, konsistensi justru menjadi nilai yang tidak mudah dipertahankan.
Hal tersebut tampaknya sejalan dengan cara TUKU memandang bisnisnya. Mereka tidak hanya ingin menjadi tempat membeli kopi, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas pelanggan. Sebuah tempat yang kehadirannya terasa akrab karena kualitas yang dapat diandalkan.

Di sisi lain, TUKU juga menyadari bahwa profil pelanggannya terus berubah. Jika pada masa awal pertumbuhan bisnis mereka lebih banyak dikenal oleh pelanggan usia 30-an, kini Generasi Z menjadi kelompok yang semakin dominan.
Perubahan ini membawa tantangan baru dalam berkomunikasi. Gen Z tumbuh bersama media sosial dan terbiasa mengonsumsi informasi secara digital. Karena itu, TUKU merasa perlu memahami cara berinteraksi yang lebih relevan dengan generasi tersebut tanpa kehilangan nilai-nilai yang selama ini mereka pegang.
Itulah alasan mereka mengundang pegiat media dan komunitas dalam sharing session di Bali. Bukan hanya untuk menyampaikan cerita tentang TUKU, tetapi juga mendengarkan perspektif mengenai tren, perilaku konsumen, dan perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan sebuah merek. Insight tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi langkah bisnis mereka ke depan.

Yang menarik, di tengah pembicaraan mengenai strategi bisnis dan perubahan perilaku konsumen, TUKU tetap kembali pada gagasan yang sama, yakni hubungan antarmanusia.
Barangkali itulah yang membuat kehadiran mereka di Bali terasa berbeda. Mereka datang sebagai merek nasional yang sudah memiliki nama, tetapi memilih memulai perjalanan dengan memperkenalkan diri kepada ‘tetangga’. Mendengarkan cerita sebelum menawarkan terlalu banyak hal.
Bagi TUKU, setiap daerah memiliki kebiasaan dan cerita yang berbeda, termasuk dalam cara menikmati kopi. Karena itu, kehadiran Toko Kopi TUKU Renon dipandang sebagai proses saling mengenal yang masih terus berlangsung hingga hari ini.
Di tengah industri kopi yang semakin padat dan kompetitif, pendekatan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah TUKU mencoba bertumbuh. Bukan hanya dengan membuka lebih banyak gerai, melainkan dengan memahami orang-orang yang berada di sekitarnya.
Sebab pada akhirnya, secangkir kopi mungkin menjadi alasan seseorang datang untuk pertama kali. Tetapi hubungan yang terbangun dengan lingkunganlah yang menentukan apakah mereka akan kembali lagi, dan lagi. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























