31 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
in Khas
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan komunitas berkumpul dalam sebuah sharing session. Tidak ada peluncuran produk baru. Tidak pula agenda promosi besar-besaran. Yang terjadi justru percakapan tentang kota, kebiasaan minum kopi, dan bagaimana sebuah merek bisa hidup berdampingan dengan lingkungan baru.

Saya berkesempatan mengikuti pertemuan tersebut. Dari obrolan yang berlangsung, terlihat bahwa bagi TUKU, kehadiran di Bali bukan semata soal memperluas jaringan bisnis. Ada upaya untuk mengenal lebih dekat masyarakat yang kini menjadi bagian dari perjalanan mereka.

TUKU memang bukan nama baru di industri kopi Indonesia. Namun, gerai di Renon, Denpasar, memiliki arti tersendiri. Inilah gerai pertama mereka di luar Pulau Jawa, yang mulai beroperasi sejak Oktober 2025. Kehadirannya menjadi langkah penting sekaligus ujian baru bagi merek yang lahir dan berkembang di Jakarta tersebut.

Pelanggan antre memesan kopi di TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Dalam sesi berbagi itu, Senior External Relations Toko Kopi TUKU, Rury Anggi, menjelaskan bahwa sejak awal TUKU dibangun dengan filosofi “Bertetangga Baik”. Filosofi tersebut tidak hanya ditujukan kepada pelanggan yang datang membeli kopi. Tetangga, dalam pengertian TUKU, mencakup masyarakat sekitar, pelaku usaha lain, komunitas, kolaborator, hingga media lokal yang ikut membentuk ekosistem sebuah daerah.

Karena itu, ketika membuka gerai di Bali, mereka merasa perlu melakukan lebih dari sekadar menjual produk.

“Kami merasa kurang afdol kalau datang ke kota baru tanpa kenal siapa-siapa,” ujar Rury dalam sesi tersebut. Baginya, memperkenalkan diri kepada lingkungan sekitar merupakan bagian dari identitas TUKU yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan bisnis mereka.

Pendekatan seperti ini terasa menarik di tengah maraknya industri kopi yang tumbuh sangat cepat. Banyak kedai berlomba menghadirkan konsep ruang yang estetik, menu yang unik, atau pengalaman nongkrong yang nyaman. TUKU mengambil jalur yang sedikit berbeda. Mereka justru berusaha memahami bagaimana kopi hadir dalam keseharian masyarakat setempat.

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Melalui sharing session yang dilakukan bersama media dan komunitas, TUKU berusaha mendengarkan cerita, menangkap kesan pelanggan, sekaligus mencari tahu peluang apa yang masih bisa dikembangkan agar keberadaan mereka memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Bali sendiri menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Sebagai daerah dengan budaya kopi yang sudah berkembang kuat, masyarakatnya memiliki kebiasaan dan karakter konsumsi yang berbeda dibandingkan kota-kota di Pulau Jawa. TUKU menyadari hal tersebut sejak awal. Karena itulah mereka memilih untuk banyak mendengar sebelum berbicara terlalu jauh.

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Dari sudut pandang pelanggan, saya melihat ada satu hal yang cukup menonjol dari TUKU. Mereka tidak menawarkan pengalaman nongkrong seperti banyak kedai kopi di Bali yang menjadikan suasana sebagai daya tarik utama. TUKU justru terasa lebih sederhana.

Orang datang, memesan, menikmati kopi, lalu melanjutkan aktivitasnya.

Namun, kesederhanaan itu memiliki kekuatan tersendiri. Yang ditawarkan bukan pengalaman berlama-lama di dalam kedai, melainkan konsistensi. Konsistensi rasa, kualitas produk, dan pengalaman yang relatif serupa dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Dalam industri kopi yang acap kali mengejar tren dan sensasi baru, konsistensi justru menjadi nilai yang tidak mudah dipertahankan.

Hal tersebut tampaknya sejalan dengan cara TUKU memandang bisnisnya. Mereka tidak hanya ingin menjadi tempat membeli kopi, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas pelanggan. Sebuah tempat yang kehadirannya terasa akrab karena kualitas yang dapat diandalkan.

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Di sisi lain, TUKU juga menyadari bahwa profil pelanggannya terus berubah. Jika pada masa awal pertumbuhan bisnis mereka lebih banyak dikenal oleh pelanggan usia 30-an, kini Generasi Z menjadi kelompok yang semakin dominan.

Perubahan ini membawa tantangan baru dalam berkomunikasi. Gen Z tumbuh bersama media sosial dan terbiasa mengonsumsi informasi secara digital. Karena itu, TUKU merasa perlu memahami cara berinteraksi yang lebih relevan dengan generasi tersebut tanpa kehilangan nilai-nilai yang selama ini mereka pegang.

Itulah alasan mereka mengundang pegiat media dan komunitas dalam sharing session di Bali. Bukan hanya untuk menyampaikan cerita tentang TUKU, tetapi juga mendengarkan perspektif mengenai tren, perilaku konsumen, dan perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan sebuah merek. Insight tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi langkah bisnis mereka ke depan.

Foto bersama setelah sesi sharing session di TUKU Renon│Foto: Dok. TUKU

Yang menarik, di tengah pembicaraan mengenai strategi bisnis dan perubahan perilaku konsumen, TUKU tetap kembali pada gagasan yang sama, yakni hubungan antarmanusia.

Barangkali itulah yang membuat kehadiran mereka di Bali terasa berbeda. Mereka datang sebagai merek nasional yang sudah memiliki nama, tetapi memilih memulai perjalanan dengan memperkenalkan diri kepada ‘tetangga’. Mendengarkan cerita sebelum menawarkan terlalu banyak hal.

Bagi TUKU, setiap daerah memiliki kebiasaan dan cerita yang berbeda, termasuk dalam cara menikmati kopi. Karena itu, kehadiran Toko Kopi TUKU Renon dipandang sebagai proses saling mengenal yang masih terus berlangsung hingga hari ini.

Di tengah industri kopi yang semakin padat dan kompetitif, pendekatan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah TUKU mencoba bertumbuh. Bukan hanya dengan membuka lebih banyak gerai, melainkan dengan memahami orang-orang yang berada di sekitarnya.

Sebab pada akhirnya, secangkir kopi mungkin menjadi alasan seseorang datang untuk pertama kali. Tetapi hubungan yang terbangun dengan lingkunganlah yang menentukan apakah mereka akan kembali lagi, dan lagi. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: coffee shopdenpasarkopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

Next Post

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails
Next Post
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra
Kritik Seni

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew
Ulas Rupa

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

by Angga Wijaya
July 30, 2026
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer
Ulas Rupa

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

by Hartanto
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co