11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
in Khas
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan komunitas berkumpul dalam sebuah sharing session. Tidak ada peluncuran produk baru. Tidak pula agenda promosi besar-besaran. Yang terjadi justru percakapan tentang kota, kebiasaan minum kopi, dan bagaimana sebuah merek bisa hidup berdampingan dengan lingkungan baru.

Saya berkesempatan mengikuti pertemuan tersebut. Dari obrolan yang berlangsung, terlihat bahwa bagi TUKU, kehadiran di Bali bukan semata soal memperluas jaringan bisnis. Ada upaya untuk mengenal lebih dekat masyarakat yang kini menjadi bagian dari perjalanan mereka.

TUKU memang bukan nama baru di industri kopi Indonesia. Namun, gerai di Renon, Denpasar, memiliki arti tersendiri. Inilah gerai pertama mereka di luar Pulau Jawa, yang mulai beroperasi sejak Oktober 2025. Kehadirannya menjadi langkah penting sekaligus ujian baru bagi merek yang lahir dan berkembang di Jakarta tersebut.

Pelanggan antre memesan kopi di TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Dalam sesi berbagi itu, Senior External Relations Toko Kopi TUKU, Rury Anggi, menjelaskan bahwa sejak awal TUKU dibangun dengan filosofi “Bertetangga Baik”. Filosofi tersebut tidak hanya ditujukan kepada pelanggan yang datang membeli kopi. Tetangga, dalam pengertian TUKU, mencakup masyarakat sekitar, pelaku usaha lain, komunitas, kolaborator, hingga media lokal yang ikut membentuk ekosistem sebuah daerah.

Karena itu, ketika membuka gerai di Bali, mereka merasa perlu melakukan lebih dari sekadar menjual produk.

“Kami merasa kurang afdol kalau datang ke kota baru tanpa kenal siapa-siapa,” ujar Rury dalam sesi tersebut. Baginya, memperkenalkan diri kepada lingkungan sekitar merupakan bagian dari identitas TUKU yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan bisnis mereka.

Pendekatan seperti ini terasa menarik di tengah maraknya industri kopi yang tumbuh sangat cepat. Banyak kedai berlomba menghadirkan konsep ruang yang estetik, menu yang unik, atau pengalaman nongkrong yang nyaman. TUKU mengambil jalur yang sedikit berbeda. Mereka justru berusaha memahami bagaimana kopi hadir dalam keseharian masyarakat setempat.

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Melalui sharing session yang dilakukan bersama media dan komunitas, TUKU berusaha mendengarkan cerita, menangkap kesan pelanggan, sekaligus mencari tahu peluang apa yang masih bisa dikembangkan agar keberadaan mereka memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Bali sendiri menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Sebagai daerah dengan budaya kopi yang sudah berkembang kuat, masyarakatnya memiliki kebiasaan dan karakter konsumsi yang berbeda dibandingkan kota-kota di Pulau Jawa. TUKU menyadari hal tersebut sejak awal. Karena itulah mereka memilih untuk banyak mendengar sebelum berbicara terlalu jauh.

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Dari sudut pandang pelanggan, saya melihat ada satu hal yang cukup menonjol dari TUKU. Mereka tidak menawarkan pengalaman nongkrong seperti banyak kedai kopi di Bali yang menjadikan suasana sebagai daya tarik utama. TUKU justru terasa lebih sederhana.

Orang datang, memesan, menikmati kopi, lalu melanjutkan aktivitasnya.

Namun, kesederhanaan itu memiliki kekuatan tersendiri. Yang ditawarkan bukan pengalaman berlama-lama di dalam kedai, melainkan konsistensi. Konsistensi rasa, kualitas produk, dan pengalaman yang relatif serupa dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Dalam industri kopi yang acap kali mengejar tren dan sensasi baru, konsistensi justru menjadi nilai yang tidak mudah dipertahankan.

Hal tersebut tampaknya sejalan dengan cara TUKU memandang bisnisnya. Mereka tidak hanya ingin menjadi tempat membeli kopi, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas pelanggan. Sebuah tempat yang kehadirannya terasa akrab karena kualitas yang dapat diandalkan.

Toko Kopi TUKU Renon, Bali│Foto: tatkala.co/Dede

Di sisi lain, TUKU juga menyadari bahwa profil pelanggannya terus berubah. Jika pada masa awal pertumbuhan bisnis mereka lebih banyak dikenal oleh pelanggan usia 30-an, kini Generasi Z menjadi kelompok yang semakin dominan.

Perubahan ini membawa tantangan baru dalam berkomunikasi. Gen Z tumbuh bersama media sosial dan terbiasa mengonsumsi informasi secara digital. Karena itu, TUKU merasa perlu memahami cara berinteraksi yang lebih relevan dengan generasi tersebut tanpa kehilangan nilai-nilai yang selama ini mereka pegang.

Itulah alasan mereka mengundang pegiat media dan komunitas dalam sharing session di Bali. Bukan hanya untuk menyampaikan cerita tentang TUKU, tetapi juga mendengarkan perspektif mengenai tren, perilaku konsumen, dan perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan sebuah merek. Insight tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi langkah bisnis mereka ke depan.

Foto bersama setelah sesi sharing session di TUKU Renon│Foto: Dok. TUKU

Yang menarik, di tengah pembicaraan mengenai strategi bisnis dan perubahan perilaku konsumen, TUKU tetap kembali pada gagasan yang sama, yakni hubungan antarmanusia.

Barangkali itulah yang membuat kehadiran mereka di Bali terasa berbeda. Mereka datang sebagai merek nasional yang sudah memiliki nama, tetapi memilih memulai perjalanan dengan memperkenalkan diri kepada ‘tetangga’. Mendengarkan cerita sebelum menawarkan terlalu banyak hal.

Bagi TUKU, setiap daerah memiliki kebiasaan dan cerita yang berbeda, termasuk dalam cara menikmati kopi. Karena itu, kehadiran Toko Kopi TUKU Renon dipandang sebagai proses saling mengenal yang masih terus berlangsung hingga hari ini.

Di tengah industri kopi yang semakin padat dan kompetitif, pendekatan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah TUKU mencoba bertumbuh. Bukan hanya dengan membuka lebih banyak gerai, melainkan dengan memahami orang-orang yang berada di sekitarnya.

Sebab pada akhirnya, secangkir kopi mungkin menjadi alasan seseorang datang untuk pertama kali. Tetapi hubungan yang terbangun dengan lingkunganlah yang menentukan apakah mereka akan kembali lagi, dan lagi. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: coffee shopdenpasarkopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

Next Post

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

by Jaswanto
July 6, 2026
0
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

Read moreDetails

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
0
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

Read moreDetails
Next Post
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co