12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 20, 2026
in Esai
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Ilustrasi tatkala.co

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, termasuk politik. Seolah-olah semakin seseorang tidak peduli pada persoalan sosial, semakin tinggi pula kesadarannya. Akibatnya muncul pola spiritualitas yang sibuk mencari ketenangan pribadi, tetapi menutup mata terhadap penderitaan masyarakat, ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan alam.

Padahal kehidupan tidak pernah terpisah-pisah. Harga beras, kualitas pendidikan, kesehatan publik, reklamasi pantai, penggusuran petani, rusaknya hutan, korupsi, hingga kebijakan ekonomi adalah bagian nyata dari kehidupan manusia sehari-hari. Semua itu dipengaruhi keputusan politik. Maka ketika seseorang berkata dirinya spiritual tetapi tidak peduli pada dampak kebijakan publik, sesungguhnya ia sedang memisahkan spiritualitas dari realitas kehidupan.

Spiritualitas sejati justru mengajarkan kepekaan. Semakin sadar seseorang, semakin ia mampu merasakan penderitaan orang lain. Kesadaran bukan membuat manusia terbang meninggalkan bumi, melainkan membuatnya hadir sepenuhnya di bumi dengan empati dan tanggung jawab. Dalam perspektif ini, spiritualitas bukan pelarian, melainkan cara memandang hidup secara utuh dan holistik.

Politik Praktis dan Political Awareness Itu Berbeda

Banyak orang alergi terhadap politik karena mereka menyamakan political awareness dengan politik praktis. Padahal keduanya berbeda secara mendasar. Politik praktis berkaitan dengan perebutan kekuasaan: partai, jabatan, kampanye, strategi, lobi, dan kepentingan elektoral. Di wilayah ini memang sering muncul konflik kepentingan, pencitraan, bahkan manipulasi. Tidak sedikit orang kecewa karena politik praktis sering terlihat kotor.

Namun political awareness atau kesadaran politik berbeda sama sekali. Political awareness adalah kemampuan memahami bagaimana kekuasaan bekerja dan bagaimana kebijakan memengaruhi kehidupan rakyat. Kesadaran politik membuat seseorang tidak apatis. Ia sadar bahwa keputusan negara dapat menentukan nasib jutaan orang.

Ketika seseorang peduli pada nasib petani yang kehilangan lahan, menolak kebijakan yang merusak lingkungan, atau mengkritik korupsi anggaran publik, itu bukan berarti ia haus kekuasaan. Itu adalah bentuk kesadaran sosial. Sama seperti seseorang yang peduli terhadap kesehatan tubuhnya, masyarakat juga perlu peduli terhadap kesehatan kehidupan berbangsa.

Masalahnya, sebagian orang memilih menyederhanakan semuanya. Sedikit saja bicara tentang kebijakan publik, langsung dicap “terlalu politis”. Akibatnya masyarakat kehilangan keberanian moral untuk bersuara. Padahal diam terhadap ketidakadilan juga memiliki konsekuensi etis.

Kesadaran politik bukan berarti harus menjadi politisi. Sama seperti peduli kesehatan tidak berarti harus menjadi dokter. Political awareness adalah kesadaran warga negara yang memahami bahwa kehidupan sosial tidak bisa dilepaskan dari keputusan politik.

Pseudo Spiritualitas dan Kenikmatan Diri Sendiri

Di zaman sekarang muncul fenomena yang bisa disebut pseudo spiritualitas, yakni spiritualitas semu yang hanya berpusat pada kenyamanan pribadi. Yang penting meditasi, tenang, healing, bahagia sendiri, lalu merasa selesai dengan kehidupan. Persoalan rakyat dianggap “energi rendah”, kritik sosial dianggap “kurang spiritual”, dan kepedulian terhadap masalah publik dianggap mencemari vibrasi batin.

Padahal spiritualitas yang hanya sibuk mencari rasa nyaman pribadi tanpa kepedulian sosial sesungguhnya sangat egoistis. Dalam bahasa yang keras, itu mirip masturbasi psikologis dan spiritual: menikmati sensasi ketenangan sendiri tanpa mau berbagi kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. Ada kenikmatan pribadi, tetapi tidak ada transformasi sosial. Ada rasa damai individual, tetapi tidak ada keberanian moral menghadapi ketidakadilan.

Spiritualitas seperti ini akhirnya menjadi sebuah mode. Orang berbicara tentang chakra, energi, dsn vibrasi tinggi, tetapi diam ketika alam dihancurkan, rakyat kecil dipinggirkan, atau korupsi merajalela. Bahkan ada yang merasa dirinya lebih suci karena “tidak mau terlibat politik”.

Padahal ketidakpedulian juga adalah pilihan politik. Ketika orang baik diam, ruang publik akan diisi oleh mereka yang haus kekuasaan. Dalam banyak kasus sejarah, kerusakan sosial terjadi bukan hanya karena kejahatan orang jahat, tetapi juga karena diamnya orang-orang yang sebenarnya baik.

Spiritualitas tanpa kepedulian sosial mudah berubah menjadi narsisme rohani. Orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi lupa bahwa manusia hidup dalam jaringan kehidupan yang saling terhubung.

Spiritualitas Holistik: Menyentuh Alam dan Kemanusiaan

Spiritualitas yang sehat harus bersifat holistik. Artinya, ia menyentuh seluruh aspek kehidupan: tubuh, pikiran, relasi sosial, ekonomi, budaya, politik, hingga hubungan manusia dengan alam. Kesadaran spiritual tidak berhenti di ruang meditasi, tetapi tercermin dalam cara memperlakukan sesama dan bumi tempat manusia hidup.

Karena itu menjaga lingkungan sesungguhnya juga tindakan spiritual. Sungai bukan hanya objek ekonomi. Hutan bukan sekadar komoditas. Laut bukan hanya sumber eksploitasi. Alam adalah bagian dari kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Ketika alam dirusak demi keuntungan jangka pendek, dampaknya selalu kembali kepada rakyat kecil terlebih dahulu: banjir, kekeringan, krisis pangan, hilangnya ruang hidup, dan meningkatnya kemiskinan.

Dalam konteks ini, political awareness menjadi penting karena banyak kerusakan alam justru lahir dari keputusan politik dan ekonomi. Maka kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dengan meditasi atau doa. Dibutuhkan juga keberanian bersuara, mengingatkan, dan mengkritik kebijakan yang destruktif.

Tokoh-tokoh besar dunia menunjukkan hal itu. Mahatma Gandhi berbicara tentang kemerdekaan sekaligus kesederhanaan hidup. Dalai Lama sering mengangkat isu kemanusiaan dan lingkungan. Gus Dur membela pluralisme dan hak kelompok kecil dengan pendekatan spiritual-humanis. Mereka tidak melihat spiritualitas sebagai pelarian dari dunia, melainkan cara memanusiakan dunia.

Kesadaran Spiritual Adalah Keberanian Moral

Pada akhirnya spiritualitas sejati bukan soal tampil suci, melainkan keberanian menjaga nurani tetap hidup di tengah dunia yang penuh kepentingan. Kesadaran spiritual tidak menuntut semua orang masuk partai politik atau terlibat politik praktis. Tetapi spiritualitas yang matang akan melahirkan political awareness: kepedulian terhadap nasib masyarakat dan masa depan bumi.

Orang spiritual boleh berbeda pilihan politik, tetapi tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan. Ia boleh tidak mengejar jabatan, tetapi tidak boleh apatis terhadap penderitaan sosial. Sebab ketika kebijakan publik salah arah, yang paling menderita selalu rakyat kecil dan generasi mendatang.

Kesadaran sejati bukan hanya kemampuan memejamkan mata dalam meditasi, tetapi juga kemampuan membuka mata terhadap kenyataan. Meditasi yang mendalam seharusnya melahirkan kejernihan melihat kehidupan, bukan membuat manusia mati rasa terhadap dunia.

Karena itu spiritualitas dan political awareness sesungguhnya dapat berjalan berdampingan. Yang perlu dihindari adalah keterikatan ego dalam politik praktis, bukan kesadaran sosialnya. Spiritualitas yang holistik justru membuat manusia semakin sadar bahwa seluruh kehidupan saling terhubung.

Ketika manusia menyadari keterhubungan itu, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan peduli pada masyarakat, alam, bangsa, dan masa depan bersama. Dan di situlah spiritualitas menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar mencapai kedamaian pribadi, tetapi ikut menghadirkan kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesadaranMahatma GandhiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Next Post

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co