2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 20, 2026
in Esai
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Ilustrasi tatkala.co

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, termasuk politik. Seolah-olah semakin seseorang tidak peduli pada persoalan sosial, semakin tinggi pula kesadarannya. Akibatnya muncul pola spiritualitas yang sibuk mencari ketenangan pribadi, tetapi menutup mata terhadap penderitaan masyarakat, ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan alam.

Padahal kehidupan tidak pernah terpisah-pisah. Harga beras, kualitas pendidikan, kesehatan publik, reklamasi pantai, penggusuran petani, rusaknya hutan, korupsi, hingga kebijakan ekonomi adalah bagian nyata dari kehidupan manusia sehari-hari. Semua itu dipengaruhi keputusan politik. Maka ketika seseorang berkata dirinya spiritual tetapi tidak peduli pada dampak kebijakan publik, sesungguhnya ia sedang memisahkan spiritualitas dari realitas kehidupan.

Spiritualitas sejati justru mengajarkan kepekaan. Semakin sadar seseorang, semakin ia mampu merasakan penderitaan orang lain. Kesadaran bukan membuat manusia terbang meninggalkan bumi, melainkan membuatnya hadir sepenuhnya di bumi dengan empati dan tanggung jawab. Dalam perspektif ini, spiritualitas bukan pelarian, melainkan cara memandang hidup secara utuh dan holistik.

Politik Praktis dan Political Awareness Itu Berbeda

Banyak orang alergi terhadap politik karena mereka menyamakan political awareness dengan politik praktis. Padahal keduanya berbeda secara mendasar. Politik praktis berkaitan dengan perebutan kekuasaan: partai, jabatan, kampanye, strategi, lobi, dan kepentingan elektoral. Di wilayah ini memang sering muncul konflik kepentingan, pencitraan, bahkan manipulasi. Tidak sedikit orang kecewa karena politik praktis sering terlihat kotor.

Namun political awareness atau kesadaran politik berbeda sama sekali. Political awareness adalah kemampuan memahami bagaimana kekuasaan bekerja dan bagaimana kebijakan memengaruhi kehidupan rakyat. Kesadaran politik membuat seseorang tidak apatis. Ia sadar bahwa keputusan negara dapat menentukan nasib jutaan orang.

Ketika seseorang peduli pada nasib petani yang kehilangan lahan, menolak kebijakan yang merusak lingkungan, atau mengkritik korupsi anggaran publik, itu bukan berarti ia haus kekuasaan. Itu adalah bentuk kesadaran sosial. Sama seperti seseorang yang peduli terhadap kesehatan tubuhnya, masyarakat juga perlu peduli terhadap kesehatan kehidupan berbangsa.

Masalahnya, sebagian orang memilih menyederhanakan semuanya. Sedikit saja bicara tentang kebijakan publik, langsung dicap “terlalu politis”. Akibatnya masyarakat kehilangan keberanian moral untuk bersuara. Padahal diam terhadap ketidakadilan juga memiliki konsekuensi etis.

Kesadaran politik bukan berarti harus menjadi politisi. Sama seperti peduli kesehatan tidak berarti harus menjadi dokter. Political awareness adalah kesadaran warga negara yang memahami bahwa kehidupan sosial tidak bisa dilepaskan dari keputusan politik.

Pseudo Spiritualitas dan Kenikmatan Diri Sendiri

Di zaman sekarang muncul fenomena yang bisa disebut pseudo spiritualitas, yakni spiritualitas semu yang hanya berpusat pada kenyamanan pribadi. Yang penting meditasi, tenang, healing, bahagia sendiri, lalu merasa selesai dengan kehidupan. Persoalan rakyat dianggap “energi rendah”, kritik sosial dianggap “kurang spiritual”, dan kepedulian terhadap masalah publik dianggap mencemari vibrasi batin.

Padahal spiritualitas yang hanya sibuk mencari rasa nyaman pribadi tanpa kepedulian sosial sesungguhnya sangat egoistis. Dalam bahasa yang keras, itu mirip masturbasi psikologis dan spiritual: menikmati sensasi ketenangan sendiri tanpa mau berbagi kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. Ada kenikmatan pribadi, tetapi tidak ada transformasi sosial. Ada rasa damai individual, tetapi tidak ada keberanian moral menghadapi ketidakadilan.

Spiritualitas seperti ini akhirnya menjadi sebuah mode. Orang berbicara tentang chakra, energi, dsn vibrasi tinggi, tetapi diam ketika alam dihancurkan, rakyat kecil dipinggirkan, atau korupsi merajalela. Bahkan ada yang merasa dirinya lebih suci karena “tidak mau terlibat politik”.

Padahal ketidakpedulian juga adalah pilihan politik. Ketika orang baik diam, ruang publik akan diisi oleh mereka yang haus kekuasaan. Dalam banyak kasus sejarah, kerusakan sosial terjadi bukan hanya karena kejahatan orang jahat, tetapi juga karena diamnya orang-orang yang sebenarnya baik.

Spiritualitas tanpa kepedulian sosial mudah berubah menjadi narsisme rohani. Orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi lupa bahwa manusia hidup dalam jaringan kehidupan yang saling terhubung.

Spiritualitas Holistik: Menyentuh Alam dan Kemanusiaan

Spiritualitas yang sehat harus bersifat holistik. Artinya, ia menyentuh seluruh aspek kehidupan: tubuh, pikiran, relasi sosial, ekonomi, budaya, politik, hingga hubungan manusia dengan alam. Kesadaran spiritual tidak berhenti di ruang meditasi, tetapi tercermin dalam cara memperlakukan sesama dan bumi tempat manusia hidup.

Karena itu menjaga lingkungan sesungguhnya juga tindakan spiritual. Sungai bukan hanya objek ekonomi. Hutan bukan sekadar komoditas. Laut bukan hanya sumber eksploitasi. Alam adalah bagian dari kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Ketika alam dirusak demi keuntungan jangka pendek, dampaknya selalu kembali kepada rakyat kecil terlebih dahulu: banjir, kekeringan, krisis pangan, hilangnya ruang hidup, dan meningkatnya kemiskinan.

Dalam konteks ini, political awareness menjadi penting karena banyak kerusakan alam justru lahir dari keputusan politik dan ekonomi. Maka kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dengan meditasi atau doa. Dibutuhkan juga keberanian bersuara, mengingatkan, dan mengkritik kebijakan yang destruktif.

Tokoh-tokoh besar dunia menunjukkan hal itu. Mahatma Gandhi berbicara tentang kemerdekaan sekaligus kesederhanaan hidup. Dalai Lama sering mengangkat isu kemanusiaan dan lingkungan. Gus Dur membela pluralisme dan hak kelompok kecil dengan pendekatan spiritual-humanis. Mereka tidak melihat spiritualitas sebagai pelarian dari dunia, melainkan cara memanusiakan dunia.

Kesadaran Spiritual Adalah Keberanian Moral

Pada akhirnya spiritualitas sejati bukan soal tampil suci, melainkan keberanian menjaga nurani tetap hidup di tengah dunia yang penuh kepentingan. Kesadaran spiritual tidak menuntut semua orang masuk partai politik atau terlibat politik praktis. Tetapi spiritualitas yang matang akan melahirkan political awareness: kepedulian terhadap nasib masyarakat dan masa depan bumi.

Orang spiritual boleh berbeda pilihan politik, tetapi tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan. Ia boleh tidak mengejar jabatan, tetapi tidak boleh apatis terhadap penderitaan sosial. Sebab ketika kebijakan publik salah arah, yang paling menderita selalu rakyat kecil dan generasi mendatang.

Kesadaran sejati bukan hanya kemampuan memejamkan mata dalam meditasi, tetapi juga kemampuan membuka mata terhadap kenyataan. Meditasi yang mendalam seharusnya melahirkan kejernihan melihat kehidupan, bukan membuat manusia mati rasa terhadap dunia.

Karena itu spiritualitas dan political awareness sesungguhnya dapat berjalan berdampingan. Yang perlu dihindari adalah keterikatan ego dalam politik praktis, bukan kesadaran sosialnya. Spiritualitas yang holistik justru membuat manusia semakin sadar bahwa seluruh kehidupan saling terhubung.

Ketika manusia menyadari keterhubungan itu, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan peduli pada masyarakat, alam, bangsa, dan masa depan bersama. Dan di situlah spiritualitas menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar mencapai kedamaian pribadi, tetapi ikut menghadirkan kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesadaranMahatma GandhiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Next Post

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co