11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 20, 2026
in Esai
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Ilustrasi tatkala.co

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, termasuk politik. Seolah-olah semakin seseorang tidak peduli pada persoalan sosial, semakin tinggi pula kesadarannya. Akibatnya muncul pola spiritualitas yang sibuk mencari ketenangan pribadi, tetapi menutup mata terhadap penderitaan masyarakat, ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan alam.

Padahal kehidupan tidak pernah terpisah-pisah. Harga beras, kualitas pendidikan, kesehatan publik, reklamasi pantai, penggusuran petani, rusaknya hutan, korupsi, hingga kebijakan ekonomi adalah bagian nyata dari kehidupan manusia sehari-hari. Semua itu dipengaruhi keputusan politik. Maka ketika seseorang berkata dirinya spiritual tetapi tidak peduli pada dampak kebijakan publik, sesungguhnya ia sedang memisahkan spiritualitas dari realitas kehidupan.

Spiritualitas sejati justru mengajarkan kepekaan. Semakin sadar seseorang, semakin ia mampu merasakan penderitaan orang lain. Kesadaran bukan membuat manusia terbang meninggalkan bumi, melainkan membuatnya hadir sepenuhnya di bumi dengan empati dan tanggung jawab. Dalam perspektif ini, spiritualitas bukan pelarian, melainkan cara memandang hidup secara utuh dan holistik.

Politik Praktis dan Political Awareness Itu Berbeda

Banyak orang alergi terhadap politik karena mereka menyamakan political awareness dengan politik praktis. Padahal keduanya berbeda secara mendasar. Politik praktis berkaitan dengan perebutan kekuasaan: partai, jabatan, kampanye, strategi, lobi, dan kepentingan elektoral. Di wilayah ini memang sering muncul konflik kepentingan, pencitraan, bahkan manipulasi. Tidak sedikit orang kecewa karena politik praktis sering terlihat kotor.

Namun political awareness atau kesadaran politik berbeda sama sekali. Political awareness adalah kemampuan memahami bagaimana kekuasaan bekerja dan bagaimana kebijakan memengaruhi kehidupan rakyat. Kesadaran politik membuat seseorang tidak apatis. Ia sadar bahwa keputusan negara dapat menentukan nasib jutaan orang.

Ketika seseorang peduli pada nasib petani yang kehilangan lahan, menolak kebijakan yang merusak lingkungan, atau mengkritik korupsi anggaran publik, itu bukan berarti ia haus kekuasaan. Itu adalah bentuk kesadaran sosial. Sama seperti seseorang yang peduli terhadap kesehatan tubuhnya, masyarakat juga perlu peduli terhadap kesehatan kehidupan berbangsa.

Masalahnya, sebagian orang memilih menyederhanakan semuanya. Sedikit saja bicara tentang kebijakan publik, langsung dicap “terlalu politis”. Akibatnya masyarakat kehilangan keberanian moral untuk bersuara. Padahal diam terhadap ketidakadilan juga memiliki konsekuensi etis.

Kesadaran politik bukan berarti harus menjadi politisi. Sama seperti peduli kesehatan tidak berarti harus menjadi dokter. Political awareness adalah kesadaran warga negara yang memahami bahwa kehidupan sosial tidak bisa dilepaskan dari keputusan politik.

Pseudo Spiritualitas dan Kenikmatan Diri Sendiri

Di zaman sekarang muncul fenomena yang bisa disebut pseudo spiritualitas, yakni spiritualitas semu yang hanya berpusat pada kenyamanan pribadi. Yang penting meditasi, tenang, healing, bahagia sendiri, lalu merasa selesai dengan kehidupan. Persoalan rakyat dianggap “energi rendah”, kritik sosial dianggap “kurang spiritual”, dan kepedulian terhadap masalah publik dianggap mencemari vibrasi batin.

Padahal spiritualitas yang hanya sibuk mencari rasa nyaman pribadi tanpa kepedulian sosial sesungguhnya sangat egoistis. Dalam bahasa yang keras, itu mirip masturbasi psikologis dan spiritual: menikmati sensasi ketenangan sendiri tanpa mau berbagi kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. Ada kenikmatan pribadi, tetapi tidak ada transformasi sosial. Ada rasa damai individual, tetapi tidak ada keberanian moral menghadapi ketidakadilan.

Spiritualitas seperti ini akhirnya menjadi sebuah mode. Orang berbicara tentang chakra, energi, dsn vibrasi tinggi, tetapi diam ketika alam dihancurkan, rakyat kecil dipinggirkan, atau korupsi merajalela. Bahkan ada yang merasa dirinya lebih suci karena “tidak mau terlibat politik”.

Padahal ketidakpedulian juga adalah pilihan politik. Ketika orang baik diam, ruang publik akan diisi oleh mereka yang haus kekuasaan. Dalam banyak kasus sejarah, kerusakan sosial terjadi bukan hanya karena kejahatan orang jahat, tetapi juga karena diamnya orang-orang yang sebenarnya baik.

Spiritualitas tanpa kepedulian sosial mudah berubah menjadi narsisme rohani. Orang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi lupa bahwa manusia hidup dalam jaringan kehidupan yang saling terhubung.

Spiritualitas Holistik: Menyentuh Alam dan Kemanusiaan

Spiritualitas yang sehat harus bersifat holistik. Artinya, ia menyentuh seluruh aspek kehidupan: tubuh, pikiran, relasi sosial, ekonomi, budaya, politik, hingga hubungan manusia dengan alam. Kesadaran spiritual tidak berhenti di ruang meditasi, tetapi tercermin dalam cara memperlakukan sesama dan bumi tempat manusia hidup.

Karena itu menjaga lingkungan sesungguhnya juga tindakan spiritual. Sungai bukan hanya objek ekonomi. Hutan bukan sekadar komoditas. Laut bukan hanya sumber eksploitasi. Alam adalah bagian dari kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Ketika alam dirusak demi keuntungan jangka pendek, dampaknya selalu kembali kepada rakyat kecil terlebih dahulu: banjir, kekeringan, krisis pangan, hilangnya ruang hidup, dan meningkatnya kemiskinan.

Dalam konteks ini, political awareness menjadi penting karena banyak kerusakan alam justru lahir dari keputusan politik dan ekonomi. Maka kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dengan meditasi atau doa. Dibutuhkan juga keberanian bersuara, mengingatkan, dan mengkritik kebijakan yang destruktif.

Tokoh-tokoh besar dunia menunjukkan hal itu. Mahatma Gandhi berbicara tentang kemerdekaan sekaligus kesederhanaan hidup. Dalai Lama sering mengangkat isu kemanusiaan dan lingkungan. Gus Dur membela pluralisme dan hak kelompok kecil dengan pendekatan spiritual-humanis. Mereka tidak melihat spiritualitas sebagai pelarian dari dunia, melainkan cara memanusiakan dunia.

Kesadaran Spiritual Adalah Keberanian Moral

Pada akhirnya spiritualitas sejati bukan soal tampil suci, melainkan keberanian menjaga nurani tetap hidup di tengah dunia yang penuh kepentingan. Kesadaran spiritual tidak menuntut semua orang masuk partai politik atau terlibat politik praktis. Tetapi spiritualitas yang matang akan melahirkan political awareness: kepedulian terhadap nasib masyarakat dan masa depan bumi.

Orang spiritual boleh berbeda pilihan politik, tetapi tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaan. Ia boleh tidak mengejar jabatan, tetapi tidak boleh apatis terhadap penderitaan sosial. Sebab ketika kebijakan publik salah arah, yang paling menderita selalu rakyat kecil dan generasi mendatang.

Kesadaran sejati bukan hanya kemampuan memejamkan mata dalam meditasi, tetapi juga kemampuan membuka mata terhadap kenyataan. Meditasi yang mendalam seharusnya melahirkan kejernihan melihat kehidupan, bukan membuat manusia mati rasa terhadap dunia.

Karena itu spiritualitas dan political awareness sesungguhnya dapat berjalan berdampingan. Yang perlu dihindari adalah keterikatan ego dalam politik praktis, bukan kesadaran sosialnya. Spiritualitas yang holistik justru membuat manusia semakin sadar bahwa seluruh kehidupan saling terhubung.

Ketika manusia menyadari keterhubungan itu, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan peduli pada masyarakat, alam, bangsa, dan masa depan bersama. Dan di situlah spiritualitas menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar mencapai kedamaian pribadi, tetapi ikut menghadirkan kesadaran bagi kehidupan yang lebih luas. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesadaranMahatma GandhiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

Next Post

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails

Era Chatting Telah Berlalu

by Angga Wijaya
July 7, 2026
0
Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

Read moreDetails

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails
Next Post
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co