MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek. Pekerjaannya juga lumayan, meskipun bukan pegawai negeri atau BUMN. Gajinya lebih dari cukup untuk hidup sendirian.
Usia 32 tahun bagi Teguh Priyono sudah dirasa cukup umur untuk berumah tangga. Namun entah mengapa hingga kini ia masih sendiri. Pacaran pun belum pernah. Padahal teman-temannya banyak yang sudah menikah dan memiliki anak.
Konon jodoh di tangan Tuhan. Teguh Priyono tak kurang-kurang berdoa agar segera mendapat kekasih. Belum ada seorang gadis pun yang mau menjadi pacarnya. Padahal banyak gadis idaman Teguh Priyono. Ia juga tak tinggal diam. Beberapa gadis ia dekati. Tetapi tetap saja, tak ada satu pun gadis yang mau menerima cintanya.
Teguh Priyono tidak pilih-pilih gadis idamannya. Ia juga tidak membuat kriteria yang terlalu banyak untuk mendapatkan pacar. Baginya yang penting setia, jujur, dan mau menerimanya apa adanya. Soal wajah tidak begitu penting. Nanti kalau sudah menua gadis cantik pun akan kehilangan kecantikannya.
Ayahnya pernah mengenalkan seorang gadis kepada Teguh Priyono. Gadis bersahaja anak teman sekolah ayahnya. Akan tetapi perkenalan itu tidak berlanjut pada hubungan asmara selanjutnya. Gadis itu merasa kurang sreg dengan Teguh Priyono. Ia mengharap calon suaminya seorang pegawai negeri. Sedangkan Teguh Priyono karyawan swasta. Alasan yang mungkin dibuat-buat atau memang rasional.
Hingga suatu ketika Teguh Priyono bertemu Agus Setiadi, teman sekolah SD yang telah memiliki dua orang anak. Mereka mengobrol seputar pekerjaan masing-masing sampai kemudian membahas nasib Teguh Priyono yang masih menjomblo.
“Mengapa kamu belum menikah juga?” tanya Agus Setiadi.
“Entahlah, aku sudah berusaha mencari kekasih, tetapi hingga kini belum ada yang mau sama aku,” jawab Teguh Priyono dengan nada pasrah.
“Coba kamu cari ajian jaran goyang,” Agus Setiadi memberi saran.
“Ajian jaran goyang? Apa itu..??” tanya Teguh Priyono terkejut.
“Ajian untuk memikat hati perempuan,” jawab Agus Setiadi.
Teguh Priyono terdiam. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk mencari ajian jaran goyang. Ia masih ingin mencari pasangan hidup dengan caranya sendiri. Akan tetapi Agus Setiadi menjelaskan, ajian itu banyak dicari laki-laki yang kesulitan mendapatkan pacar. Apalagi ia melihat Teguh Priyono kesulitan mendapatkan kekasih.
***
Luluh juga hati Teguh Priyono. Ia mengikuti saran Agus Setiadi. Ajian jaran goyang banyak ditemukan di berbagai daerah. Atas saran teman kecilnya itu, Teguh Priyono berniat mencari ajian jaran goyang di daerah Cirebon, Jawa Barat. Ada seorang paranormal yang bisa memberi mantra ajian pemikat hati wanita itu.
Berbekal tekad untuk mendapat kekasih, Teguh Priyono menemui Mbah Galih di pelosok desa Cirebon. Ia merasa capai hati sekian lama berusaha mendapat pacar, tetapi tak kunjung datang. Jalan pintas yang ia putuskan untuk mendapat ajian jaran goyang sudah ia pikirkan secara matang. Meski ia tahu itu bukan cara yang baik untuk mendapat calon istri.
Rumah Mbah Galih menggambarkan ia seorang paranormal yang sering didatangi banyak orang. Terdapat banyak kursi di ruang tamu. Puntung rokok di asbak juga menumpuk belum sempat dibuang. Beberapa lukisan menyeramkan terpajang di dinding rumahnya. Akik besar yang dipakai Mbah Galih membuat Teguh Priyono percaya bahwa ia seorang paranormal yang hebat.
“Ingin mendapat calon istri yang seperti apa?” tanya Mbah Galih sambil menatap setelah Teguh Priyono mengutarakan kedatangannya.
“Yang penting setia, jujur, dan mau menerima saya apa adanya, Mbah,” jawab Teguh Priyono polos.
“Ada beberapa syarat yang harus dikerjakan dan mantra yang dibaca setiap malam. Sebut nama perempuan yang diharapkan jadi kekasih saat baca mantra,” ucap Mbah Galih memberi syarat.
Teguh Priyono mengangguk saja, menyanggupi beberapa syarat dan mantra yang diberikan Mbah Galih. Syaratnya cukup berat. Ia harus berpuasa mutih (hanya makan nasi putih dan air putih) dan puasa patigeni (tidak makan, minum, atau tinggal di kamar tanpa penerangan lampu) selama beberapa hari menjelang malam Jumat Kliwon.
Sedangkan mantra yang harus ia baca setiap malam juga agak asing bagi Teguh Priyono, karena berbeda dengan bahasa di daerahnya. Nama perempuan yang akan disebut dalam mantra itu juga sudah disiapkan, Sri Wahyuni. Teman kerjanya yang dari dulu ia taksir, namun ia tak berani mengutarakannya, takut mendapat penolakan.
Meski begitu Teguh Priyono siap untuk menjalankan semua syarat itu. Diawali dengan puasa mutih yang ia lakukan mulai hari Senin. Terasa berat dan membuat tubuhnya lemas. Seharian ia hanya makan nasi putih dan minum air putih saja. Padahal setiap hari ia biasa minum kopi dan merokok. Ia nyaris putus asa dan menyerah. Namun demi mendapatkan gadis idamannya ia lakukan semua itu.
Tahap selanjutnya Teguh Priyono harus menjalani patigeni di malam Jumat Kliwon, berdiam diri di dalam kamar tanpa kegiatan dan tanpa penerangan. Mirip seperti orang bersemedi di dalam gua yang gelap. Awalnya ia merasa pengap, sulit bernapas dalam kegelapan.
Perlahan, dengan perasaan berdebar dan suasana mencekam ia baca mantra ajian jaran goyang. Aura mistis ia rasakan di dalam kamar. Sekujur tubuh Teguh Priyono merinding. Mantra itu ia baca berulang kali. Dan setiap selesai dibaca, suasana di dalam kamar semakin mencekam.
***
Sebulan sudah Teguh Priyono menjalankan ajian jarang goyang. Namun belum ada tanda-tanda Sri Wahyuni membuka hati untuknya. Teguh Priyono sudah mencoba melakukan pendekatan. Mengajak makan siang di saat istirahat kerja. Tapi Sri Wahyuni selalu menolak dengan berbagai alasan. Teguh Priyono jadi bingung. Apa yang salah dari ajian jaran goyang yang ia dapatkan dari Mbah Galih?
Menjelang malam Jumat Kliwon, entah mengapa perasaan Teguh Priyono kurang enak. Ia merenung di kamarnya. Mendadak tercium aroma bunga mawar. Teguh Priyono terkejut. Ia pandangi sekeliling kamar. Bau bunga mawar itu semakin menyengat. Bulu kuduknya berdiri. Saat dilanda ketakutan, pintu kamarnya terbuka sendiri. Padahal ia merasa sudah menguncinya.
Teguh Priyono melompat mundur ketika hendak menutup pintu kamar. Di depannya berdiri perempuan bergaun putih dengan tatapan kosong. Kaki Teguh Priyono gemetaran. Ia ingin berteriak, tapi kerongkongannya kering. Perempuan itu terus menatap Teguh Priyono. Cukup lama, hingga kemudian menghilang begitu saja.
Pintu kamar segera ditutup. Teguh Priyono menghempaskan diri ke tempat tidur. Dadanya masih berdebar menahan rasa takut. Ia telah kedatangan hantu perempuan di kamarnya. Tak habis pikir mengapa ada hantu perempuan setelah ia melakukan ritual ajian jaran goyang.
Segelas air putih belum mampu mengurangi perasaan mencekam yang dialami Teguh Priyono. Ia menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba terdengur pintu kamar diketuk. Teguh Priyono tidak segera beranjak untuk membuka pintu. Ia masih diselimuti rasa takut.
“Mas Teguh…,” terdengar suara perempuan memanggil namanya.
Teguh Priyono mencermati suara itu. Ia merasa asing dengan suara perempuan itu. Suara ibunya maupun adik perempuannya tidak seperti itu. Kembali rasa takut menghinggapi. Suara siapakah di luar kamarnya?.
“Mas…,” kembali terdengar suara perempuan. Kali ini suaranya menyeramkan. Aroma bunga kenanga tercium di dalam kamar. Teguh Priyono gemetaran. Namun ia merasa penasaran. Ia ingin melihat siapa yang memanggilnya.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Teguh Priyono membuka pintu kamar. Seketika ia nyaris pingsan. Seorang perempuan berambut panjang menyeramkan berdiri di depan pintu kamar. Wajahnya seperti kuntilanak yang sering tampil di film-film. Perempuan itu tertawa nyaring, menakutkan. Teguh Priyono secepat kilat membanting pintu kamar, dan mengucinya. Keringat dingin mengucur di kening dan ketiaknya.
Dua kali dalam semalam Teguh Priyono didatangi makhluk halus perempuan. Ia merasa ada yang tidak beres. Esoknya ia mendatangi rumah Agus Setiadi, temannya. Ia ceritakan peristiwa semalam. Agus Setiadi tampak terkejut. Ia tanyakan Teguh Priyono rangkaian ritual ajian jaran goyang yang disarankan Mbah Galih. Teguh Priyono mengatakan telah melakukan semua saran Mbah Galih.
“Mungkin kamu salah baca mantranya,” kata Agus Setiadi mencoba menebak.
“Salah bagaimana?” tanya Teguh Priyono tak mengerti.
Kemudian Agus Setiadi meminta Teguh Priyono untuk mengucapkan mantra ajian jaran goyang yang diberikan Mbah Galih.
“Nah itu dia… Kamu salah membaca mantranya. Ada yang kurang kamu sebutkan,” kata Agus Setiadi setelah mendengar mantra ajian jaran goyang yang diucapkan Teguh Priyono.
“Apa yang kurang?” tanya Teguh Priyono masih belum paham.
“Kamu tidak menyebutkan kata jabang bayi Sri Wahyuni. Maka yang mendekat kepadamu bukan Sri Wahyuni, tetapi makhluk halus, arwah penasaran, dan hantu gentayangan,” terang Agus Setiadi.
“Waduuhhh…,” Teguh Priyono kaget. Ternyata ia lupa menyebut nama Sri Wahyuni dalam mantra yang ia ucapkan.
“Terus aku harus bagaimana?” tanya Teguh Priyono dengan wajah pucat ketakutan.
Agus Setiadi tidak segera menjawab. Ia mencoba berpikir solusi untuk teman kecilnya itu. Agus Setiadi sendiri sebetulnya kurang paham tentang ajian jaran goyang. Ia hanya mendengar cerita dari teman-teman kerjanya. Perempuan yang kini menjadi istrinya bukan hasil ajian jaran goyang. Istrinya memang telah ia kenal lama dan mereka saling mencintai.
“Coba kamu ulangi lagi ritual ajian jarang goyang dari awal, atau kamu datangi lagi Mbah Galih di Cirebon,” saran Agus Setiadi.
Teguh Priyono terdiam. Ia bingung atas saran temannya itu. Ritual ajian jaran goyang sudah sangat menyita energi banyak, tenaga, pikiran, dan perasaan. Ia takut akan ada hal lain yang ia lupakan saat menjalani ritual itu. Sedangkan bila harus mendatangi kembali Mbah Galih ia malu.
Cukup lama Teguh Priyono merenung. Sampai akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghentikan ritual ajian jaran goyang. Teguh Priyono tak ingin mendapatkan kekasih hati dengan jalan tak rasional. Ia ingin seorang istri yang benar-benar mencintainya dengan tulus, bukan dengan ajian. Entah sampai kapan ia akan dapatkan. Ia tak peduli. Teguh Priyono akan tetap menunggu. Siapa tahu suatu saat Sri Wahyuni membuka pintu hati untuknya.[T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto






















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)






