30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ajian Jaran Goyang

Chusmeru by Chusmeru
August 20, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek. Pekerjaannya juga lumayan, meskipun bukan pegawai negeri atau BUMN. Gajinya lebih dari cukup untuk hidup sendirian.

Usia 32 tahun bagi Teguh Priyono sudah dirasa cukup umur untuk berumah tangga. Namun entah mengapa hingga kini ia masih sendiri. Pacaran pun belum pernah. Padahal teman-temannya banyak yang sudah menikah dan memiliki anak.

Konon jodoh di tangan Tuhan. Teguh Priyono tak kurang-kurang berdoa agar segera mendapat kekasih. Belum ada seorang gadis pun yang mau menjadi pacarnya. Padahal banyak gadis idaman Teguh Priyono. Ia juga tak tinggal diam. Beberapa gadis ia dekati. Tetapi tetap saja, tak ada satu pun gadis yang mau menerima cintanya.

Teguh Priyono tidak pilih-pilih gadis idamannya. Ia juga tidak membuat kriteria yang terlalu banyak untuk mendapatkan pacar. Baginya yang penting setia, jujur, dan mau menerimanya apa adanya. Soal wajah tidak begitu penting. Nanti kalau sudah menua gadis cantik pun akan kehilangan kecantikannya.

Ayahnya pernah mengenalkan seorang gadis kepada Teguh Priyono. Gadis bersahaja anak teman sekolah ayahnya. Akan tetapi perkenalan itu tidak berlanjut pada hubungan asmara selanjutnya. Gadis itu merasa kurang sreg dengan Teguh Priyono. Ia mengharap calon suaminya seorang pegawai negeri. Sedangkan Teguh Priyono karyawan swasta. Alasan yang mungkin dibuat-buat atau memang rasional.

Hingga suatu ketika Teguh Priyono bertemu Agus Setiadi, teman sekolah SD yang telah memiliki dua orang anak. Mereka mengobrol seputar pekerjaan masing-masing sampai kemudian membahas nasib Teguh Priyono yang masih menjomblo.

“Mengapa kamu belum menikah juga?” tanya Agus Setiadi.

“Entahlah, aku sudah berusaha mencari kekasih, tetapi hingga kini belum ada yang mau sama aku,” jawab Teguh Priyono dengan nada pasrah.

“Coba kamu cari ajian jaran goyang,” Agus Setiadi memberi saran.

“Ajian jaran goyang? Apa itu..??” tanya Teguh Priyono terkejut.

“Ajian untuk memikat hati perempuan,” jawab Agus Setiadi.

Teguh Priyono terdiam. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk mencari ajian jaran goyang. Ia masih ingin mencari pasangan hidup dengan caranya sendiri. Akan tetapi Agus Setiadi menjelaskan, ajian itu banyak dicari laki-laki yang kesulitan mendapatkan pacar. Apalagi ia melihat Teguh Priyono kesulitan mendapatkan kekasih.

***

Luluh juga hati Teguh Priyono. Ia mengikuti saran Agus Setiadi. Ajian jaran goyang banyak ditemukan di berbagai daerah. Atas saran teman kecilnya itu, Teguh Priyono berniat mencari ajian jaran goyang di daerah Cirebon, Jawa Barat. Ada seorang paranormal yang bisa memberi mantra ajian pemikat hati wanita itu.

Berbekal tekad untuk mendapat kekasih, Teguh Priyono menemui Mbah Galih di pelosok desa Cirebon. Ia merasa capai hati sekian lama berusaha mendapat pacar, tetapi tak kunjung datang. Jalan pintas yang ia putuskan untuk mendapat ajian jaran goyang sudah ia pikirkan secara matang. Meski ia tahu itu bukan cara yang baik untuk mendapat calon istri.

Rumah Mbah Galih menggambarkan ia seorang paranormal yang sering didatangi banyak orang. Terdapat banyak kursi di ruang tamu. Puntung rokok di asbak juga menumpuk belum sempat dibuang. Beberapa lukisan menyeramkan terpajang di dinding rumahnya. Akik besar yang dipakai Mbah Galih membuat Teguh Priyono percaya bahwa ia seorang paranormal yang hebat.

“Ingin mendapat calon istri yang seperti apa?” tanya Mbah Galih sambil menatap setelah Teguh Priyono mengutarakan kedatangannya.

“Yang penting setia, jujur, dan mau menerima saya apa adanya, Mbah,” jawab Teguh Priyono polos.

“Ada beberapa syarat yang harus dikerjakan dan mantra yang dibaca setiap malam. Sebut nama perempuan yang diharapkan jadi kekasih saat baca mantra,” ucap Mbah Galih memberi syarat.

Teguh Priyono mengangguk saja, menyanggupi beberapa syarat dan mantra yang diberikan Mbah Galih. Syaratnya cukup berat. Ia harus berpuasa mutih (hanya makan nasi putih dan air putih) dan puasa patigeni (tidak makan, minum, atau tinggal di kamar tanpa penerangan lampu) selama beberapa hari menjelang malam Jumat Kliwon.

Sedangkan mantra yang harus ia baca setiap malam juga agak asing bagi Teguh Priyono, karena berbeda dengan bahasa di daerahnya. Nama perempuan yang akan disebut dalam mantra itu juga sudah disiapkan, Sri Wahyuni. Teman kerjanya yang dari dulu ia taksir, namun ia tak berani mengutarakannya, takut mendapat penolakan.

Meski begitu Teguh Priyono siap untuk menjalankan semua syarat itu. Diawali dengan puasa mutih yang ia lakukan mulai hari Senin. Terasa berat dan membuat tubuhnya lemas. Seharian ia hanya makan nasi putih dan minum air putih saja. Padahal setiap hari ia biasa minum kopi dan merokok. Ia nyaris putus asa dan menyerah. Namun demi mendapatkan gadis idamannya ia lakukan semua itu.

Tahap selanjutnya Teguh Priyono harus menjalani patigeni di malam Jumat Kliwon, berdiam diri di dalam kamar tanpa kegiatan dan tanpa penerangan. Mirip seperti orang bersemedi di dalam gua yang gelap. Awalnya ia merasa pengap, sulit bernapas dalam kegelapan.

Perlahan, dengan perasaan berdebar dan suasana mencekam ia baca mantra ajian jaran goyang. Aura mistis ia rasakan di dalam kamar. Sekujur tubuh Teguh Priyono merinding. Mantra itu ia baca berulang kali. Dan setiap selesai dibaca, suasana di dalam kamar semakin mencekam.

***

Sebulan sudah Teguh Priyono menjalankan ajian jarang goyang. Namun belum ada tanda-tanda Sri Wahyuni membuka hati untuknya. Teguh Priyono sudah mencoba melakukan pendekatan. Mengajak makan siang di saat istirahat kerja. Tapi Sri Wahyuni selalu menolak dengan berbagai alasan. Teguh Priyono jadi bingung. Apa yang salah dari ajian jaran goyang yang ia dapatkan dari Mbah Galih?

Menjelang malam Jumat Kliwon, entah mengapa perasaan Teguh Priyono kurang enak. Ia merenung di kamarnya. Mendadak tercium aroma bunga mawar. Teguh Priyono terkejut. Ia pandangi sekeliling kamar. Bau bunga mawar itu semakin menyengat. Bulu kuduknya berdiri. Saat dilanda ketakutan, pintu kamarnya terbuka sendiri. Padahal ia merasa sudah menguncinya.

Teguh Priyono melompat mundur ketika hendak menutup pintu kamar. Di depannya berdiri perempuan bergaun putih dengan tatapan kosong. Kaki Teguh Priyono gemetaran. Ia ingin berteriak, tapi kerongkongannya kering. Perempuan itu terus menatap Teguh Priyono. Cukup lama, hingga kemudian menghilang begitu saja.

Pintu kamar segera ditutup. Teguh Priyono menghempaskan diri ke tempat tidur. Dadanya masih berdebar menahan rasa takut. Ia telah kedatangan hantu perempuan di kamarnya. Tak habis pikir mengapa ada hantu perempuan setelah ia melakukan ritual ajian jaran goyang.

Segelas air putih belum mampu mengurangi perasaan mencekam yang dialami Teguh Priyono. Ia menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba terdengur pintu kamar diketuk. Teguh Priyono tidak segera beranjak untuk membuka pintu. Ia masih diselimuti rasa takut.

“Mas Teguh…,” terdengar suara perempuan memanggil namanya.

Teguh Priyono mencermati suara itu. Ia merasa asing dengan suara perempuan itu. Suara ibunya maupun adik perempuannya tidak seperti itu. Kembali rasa takut menghinggapi. Suara siapakah di luar kamarnya?.

“Mas…,” kembali terdengar suara perempuan. Kali ini suaranya menyeramkan. Aroma bunga kenanga tercium di dalam kamar. Teguh Priyono gemetaran. Namun ia merasa penasaran. Ia ingin melihat siapa yang memanggilnya.

Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Teguh Priyono membuka pintu kamar. Seketika ia nyaris pingsan. Seorang perempuan berambut panjang menyeramkan berdiri di depan pintu kamar. Wajahnya seperti kuntilanak yang sering tampil di film-film. Perempuan itu tertawa nyaring, menakutkan. Teguh Priyono secepat kilat membanting pintu kamar, dan mengucinya. Keringat dingin mengucur di kening dan ketiaknya.

Dua kali dalam semalam Teguh Priyono didatangi makhluk halus perempuan. Ia merasa ada yang tidak beres. Esoknya ia mendatangi rumah Agus Setiadi, temannya. Ia ceritakan peristiwa semalam. Agus Setiadi tampak terkejut. Ia tanyakan Teguh Priyono rangkaian ritual ajian jaran goyang yang disarankan Mbah Galih. Teguh Priyono mengatakan telah melakukan semua saran Mbah Galih.

“Mungkin kamu salah baca mantranya,” kata Agus Setiadi mencoba menebak.

“Salah bagaimana?” tanya Teguh Priyono tak mengerti.

Kemudian Agus Setiadi meminta Teguh Priyono untuk mengucapkan mantra ajian jaran goyang yang diberikan Mbah Galih.

“Nah itu dia… Kamu salah membaca mantranya. Ada yang kurang kamu sebutkan,” kata Agus Setiadi setelah mendengar mantra ajian jaran goyang yang diucapkan Teguh Priyono.

“Apa yang kurang?” tanya Teguh Priyono masih belum paham.

“Kamu tidak menyebutkan kata jabang bayi Sri Wahyuni. Maka yang mendekat kepadamu bukan Sri Wahyuni, tetapi makhluk halus, arwah penasaran, dan hantu gentayangan,” terang Agus Setiadi.

“Waduuhhh…,” Teguh Priyono kaget. Ternyata ia lupa menyebut nama Sri Wahyuni dalam mantra yang ia ucapkan.

“Terus aku harus bagaimana?” tanya Teguh Priyono dengan wajah pucat ketakutan.

Agus Setiadi tidak segera menjawab. Ia mencoba berpikir solusi untuk teman kecilnya itu. Agus Setiadi sendiri sebetulnya kurang paham tentang ajian jaran goyang. Ia hanya mendengar cerita dari teman-teman kerjanya. Perempuan yang kini menjadi istrinya bukan hasil ajian jaran goyang. Istrinya memang telah ia kenal lama dan mereka saling mencintai.

“Coba kamu ulangi lagi ritual ajian jarang goyang dari awal, atau kamu datangi lagi Mbah Galih di Cirebon,” saran Agus Setiadi.

Teguh Priyono terdiam. Ia bingung atas saran temannya itu. Ritual ajian jaran goyang sudah sangat menyita energi banyak, tenaga, pikiran, dan perasaan. Ia takut akan ada hal lain yang ia lupakan saat menjalani ritual itu. Sedangkan bila harus mendatangi kembali Mbah Galih ia malu.

Cukup lama Teguh Priyono merenung. Sampai akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghentikan ritual ajian jaran goyang. Teguh Priyono tak ingin mendapatkan kekasih hati dengan jalan tak rasional. Ia ingin seorang istri yang benar-benar mencintainya dengan tulus, bukan dengan ajian. Entah sampai kapan ia akan dapatkan. Ia tak peduli. Teguh Priyono akan tetap menunggu. Siapa tahu suatu saat Sri Wahyuni membuka pintu hati untuknya.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: cerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Next Post

Lampu Merah dan Mental Menerabas

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Lampu Merah dan Mental Menerabas

Lampu Merah dan Mental Menerabas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co