21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

—Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari.

PADA suatu sore menjelang 17 Agustus, sebuah lapangan kecil di kampung mulai ramai. Tali rafia dibentangkan, beberapa balon digantung, dan sebuah botol plastik diletakkan di atas tanah. Di sampingnya telah tersedia beberapa batang pensil.

Anak-anak berkerumun. Ada yang tertawa, ada yang berteriak menyemangati temannya. Seorang anak tampak gugup ketika pensil yang digantung dengan tali di pinggangnya harus diarahkan tepat ke mulut botol. Berkali-kali ia mencoba. Pensil itu bergerak ke kiri, ke kanan, menjauh, mendekat, tetapi tak kunjung masuk.

Orang-orang tertawa. Anak itu pun akhirnya tertawa. Tak lama kemudian terdengar pengumuman: lomba makan kerupuk akan dimulai.

Kerupuk digantung. Tangan tidak boleh digunakan. Kepala mendongak. Mulut berusaha mencapai sesuatu yang bergoyang-goyang di hadapannya. Di tempat lain, beberapa anak membawa kelereng di atas sendok yang digigit dengan mulut. Ada yang berhasil sampai garis akhir, ada pula yang kelerengnya jatuh sebelum separuh perjalanan.

Sore itu kampung seperti menemukan kegembiraannya sendiri. Tetapi jika kita berhenti sejenak dari tawa dan keramaian itu, barangkali muncul sebuah pertanyaan sederhana: sesungguhnya apa yang sedang kita rayakan?

Apakah kita sedang merayakan kemerdekaan Indonesia? Ataukah kita sebenarnya sedang merayakan sesuatu yang lebih sederhana: kesempatan untuk berkumpul, tertawa, dan merasa menjadi bagian dari sebuah kampung?

Pertanyaan ini menjadi menarik ketika kehidupan sehari-hari memperlihatkan begitu banyak orang yang secara formal hidup di negara merdeka, tetapi dalam pengalaman sehari-hari masih berhadapan dengan berbagai bentuk ketidakbebasan.

Orang masih kesulitan memperoleh pekerjaan. Harga kebutuhan hidup terasa semakin berat. Pelayanan publik tidak selalu sepadan dengan kewajiban yang harus dipenuhi warga. Ada orang yang bekerja keras tetapi tetap sulit merasa aman terhadap masa depan. Di banyak tempat, fasilitas umum belum sepenuhnya membuat kehidupan menjadi mudah.

Kita tidak perlu membawa semua itu menjadi perdebatan hukum dan politik. Kita bisa memandangnya dari sesuatu yang lebih dekat: pengalaman manusia sehari-hari tentang arti merdeka.

Sebab kemerdekaan, dalam pengalaman manusia, barangkali bukan hanya sebuah tanggal. Ia adalah sesuatu yang seharusnya terasa.

Ketika Kemerdekaan Menjadi Sebuah Ritual

Fenomenologi mengajak kita melihat kembali sesuatu yang terlalu sering kita anggap biasa. Ia meminta kita menangguhkan sejenak pengetahuan yang sudah kita miliki tentang sebuah benda, peristiwa, atau kebiasaan, lalu bertanya: bagaimana sesuatu itu hadir dalam pengalaman kita?

Dengan cara pandang semacam itu, lomba 17 Agustus menjadi lebih dari sekadar lomba. Makan kerupuk, memasukkan pensil ke botol, membawa kelereng dengan sendok, balap karung, panjat pinang, dan berbagai permainan lain adalah bentuk-bentuk ritual sosial yang diwariskan dari waktu ke waktu. Ia hadir hampir otomatis setiap kali bulan Agustus datang.

Kita bahkan tidak selalu lagi bertanya mengapa harus ada lomba. Kita hanya merasa bahwa Agustus belum lengkap tanpa lomba. Di sinilah fenomenologi menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah peristiwa yang pada awalnya mungkin lahir dari kebutuhan merayakan kemerdekaan telah berubah menjadi pengalaman sosial yang memiliki kehidupannya sendiri.

Anak-anak mengikuti lomba bukan karena memahami sejarah kemerdekaan secara mendalam. Mereka mengikuti karena ingin bermain, mendapatkan hadiah, bertemu teman, atau sekadar ikut merasakan kegembiraan.

Orang tua datang bukan hanya untuk memperingati 17 Agustus. Mereka datang untuk melihat anaknya bermain. Para tetangga berkumpul. Orang-orang yang selama hari biasa sibuk dengan pekerjaan masing-masing memperoleh kesempatan untuk saling menyapa.

Dengan demikian, yang dirayakan mungkin bukan lagi hanya kemerdekaan sebagai sejarah, melainkan kebersamaan sebagai pengalaman. Dan barangkali di sinilah lomba-lomba itu masih memiliki makna.

Kerupuk, Kelereng, dan Sebuah Dunia yang Dibuat Sederhana

Jika dibaca secara semiotik, setiap permainan sebenarnya merupakan tanda. Kerupuk yang digantung adalah tanda. Karung yang digunakan untuk melompat adalah tanda. Kelereng di atas sendok adalah tanda. Bahkan hadiah kecil yang dibungkus sederhana pun adalah tanda.

Namun tanda-tanda itu tidak harus selalu dibaca secara harfiah. Kerupuk yang harus dimakan tanpa menggunakan tangan, misalnya, menghadirkan situasi yang tidak biasa. Dalam kehidupan sehari-hari manusia makan dengan cara yang efisien dan teratur. Dalam lomba, sesuatu yang biasa itu sengaja dibuat sulit.

Mengapa? Justru karena kesulitan itu menghasilkan tawa. Demikian pula memasukkan pensil ke botol. Sebuah pekerjaan yang dalam kehidupan normal dapat dilakukan dalam hitungan detik tiba-tiba menjadi permainan yang membuat orang berkonsentrasi, gagal, mencoba lagi, dan ditertawakan bersama.

Di dalam lomba, kegagalan tidak menjadi aib. Ia menjadi hiburan. Di sinilah terdapat makna yang mungkin jauh lebih penting daripada hadiahnya. Lomba menciptakan ruang sosial di mana manusia boleh gagal tanpa harus merasa kehilangan martabat.

Seorang anak yang gagal memasukkan pensil ke botol tidak kehilangan apa-apa. Ia justru mendapatkan tepuk tangan dan tawa. Betapa berbeda pengalaman itu dengan kehidupan sehari-hari.

Di luar arena lomba, kegagalan mencari pekerjaan dapat menjadi sumber kecemasan. Gagal memenuhi kebutuhan hidup dapat menjadi beban. Gagal mencapai standar sosial tertentu dapat membuat seseorang merasa rendah diri.

Dalam lomba, kegagalan justru menjadi bagian dari kegembiraan. Mungkin tanpa disadari, selama beberapa jam masyarakat sedang menciptakan sebuah dunia kecil yang lebih ramah terhadap kegagalan. Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa lomba-lomba sederhana tersebut terus bertahan.

Kemerdekaan yang Dialami, Bukan Sekadar Diperingati

Ada perbedaan antara mengetahui bahwa kita merdeka dan mengalami diri sebagai manusia yang merdeka. Secara historis, 17 Agustus 1945 adalah penanda penting bagi lahirnya Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Tetapi pengalaman kemerdekaan tidak berhenti pada sebuah peristiwa historis.

Kemerdekaan harus terus diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin hidup dalam sebuah negara merdeka, tetapi masih mengalami keterbatasan yang membuat hidup terasa sempit. Ia mungkin bebas secara formal, tetapi tidak selalu merasa memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.

Karena itu, ketika kita melihat seorang anak berlari dalam lomba balap karung, kita mungkin melihat sesuatu yang sangat sederhana: seorang anak sedang bermain. Tetapi fenomenologi mengajak kita melihat lebih dalam.

Anak itu sedang mengalami ruang yang berbeda dari ruang kehidupan sehari-harinya. Ia bebas berlari, tertawa, jatuh, bangun, dan mencoba lagi. Tidak ada nilai rapor. Tidak ada target pekerjaan. Tidak ada tagihan. Tidak ada tuntutan produktivitas.

Untuk sesaat, ia hanya menjadi anak-anak. Mungkin karena itu perayaan 17 Agustus tidak perlu selalu diukur dari seberapa megah acaranya. Boleh jadi ukuran yang lebih penting adalah: apakah ia berhasil menciptakan pengalaman kebersamaan dan kegembiraan yang sungguh-sungguh?

Tetapi Bagaimana Jika Anak-Anak Itu Semakin Sedikit?

Pertanyaan menjadi lebih rumit ketika kita meninggalkan kampung yang masih ramai. Di sejumlah desa, anak-anak dan pemuda tidak lagi sebanyak dahulu. Sebagian pergi ke kota untuk sekolah. Sebagian mencari pekerjaan. Sebagian lainnya menetap di kota setelah memperoleh pekerjaan. Lapangan yang dahulu penuh anak-anak kini mungkin hanya diisi beberapa orang.

Lalu muncul pertanyaan yang barangkali tidak nyaman: masihkah kita harus mengadakan lomba-lomba yang sama? Pertanyaan ini tidak berarti bahwa tradisi harus dihentikan.

Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut mengajak kita memahami bahwa tradisi tidak selalu berarti mengulang bentuk yang sama. Tradisi adalah ingatan yang terus mencari bentuk baru.

Jika dahulu lomba makan kerupuk mampu menghadirkan puluhan anak di sebuah kampung, tetapi kini anak-anak tinggal beberapa orang, mungkin makna perayaan tidak harus dipaksakan melalui perlombaan yang sama.

Bisa saja 17 Agustus menjadi kesempatan untuk mempertemukan anak-anak dengan orang tua dan para lansia. Bisa menjadi hari ketika pemuda yang bekerja di kota pulang dan berkumpul. Bisa menjadi ruang untuk mengenang sejarah kampung. Bisa pula menjadi malam ketika warga membawa cerita, foto lama, permainan tradisional, musik, atau makanan yang hampir dilupakan.

Dengan demikian, yang dipertahankan bukan bentuk lombanya. Yang dipertahankan adalah peristiwa berkumpulnya manusia. Sebab sebuah tradisi akan kehilangan makna apabila bentuknya dipertahankan sementara dunia sosial yang melahirkannya telah berubah.

Tirakatan dan Kesunyian di Balik Keramaian

Menariknya, di banyak tempat perayaan 17 Agustus tidak hanya diisi lomba. Ada pula tirakatan. Di sinilah dua wajah peringatan kemerdekaan bertemu.

Pada siang atau sore hari, masyarakat tertawa dalam lomba. Pada malam hari, mereka duduk lebih tenang, makan bersama, berdoa, mengenang sejarah, dan mungkin menyebut nama-nama orang yang telah mendahului mereka. Jika lomba adalah wajah kegembiraan, tirakatan adalah wajah perenungan. Keduanya sesungguhnya memiliki hubungan yang dalam.

Sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bersenang-senang, tetapi juga kemampuan untuk mengingat. Fenomenologi tentang ingatan mengajarkan bahwa manusia tidak hidup hanya di dalam masa kini. Pengalaman masa lalu selalu ikut hadir dalam kesadaran kita.

Karena itu, 17 Agustus bukan hanya tentang masa lalu yang sudah selesai. Ia adalah pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita mengingat mereka yang memperjuangkan kemerdekaan. Kita mengalami kehidupan hari ini. Dan pada saat yang sama kita berharap generasi berikutnya memperoleh kehidupan yang lebih baik.  Maka tirakatan sebenarnya menyimpan pertanyaan yang sama dengan lomba-lomba itu: apa arti kemerdekaan bagi kita hari ini?

Ketika Perayaan Menjadi Sekadar Rutinitas

Di sinilah kita perlu sedikit berhati-hati. Sebuah ritual dapat kehilangan maknanya ketika ia dilakukan hanya karena “memang sudah begitu”. Umbul-umbul dipasang karena Agustus. Lomba diadakan karena Agustus. Tirakatan dilakukan karena Agustus. Semua berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tetapi ketika ritual tidak lagi mengandung kesadaran, ia mudah berubah menjadi rutinitas.

Fenomenologi justru meminta kita kembali kepada pengalaman yang paling sederhana: Apa yang sebenarnya kita rasakan ketika berkumpul? Mengapa kita tertawa? Mengapa kita ingin anak-anak kita ikut? Mengapa kita merasa ada sesuatu yang kurang apabila Agustus berlalu tanpa perayaan?

Jawabannya mungkin sederhana. Karena manusia membutuhkan pengalaman menjadi bagian dari sesuatu. Di tengah kehidupan modern yang semakin individual, lomba 17 Agustus menghadirkan sebuah pengalaman yang semakin langka: tetangga bertemu tetangga, anak-anak bermain bersama, orang tua saling menyapa, dan sebuah kampung kembali merasakan dirinya sebagai komunitas.

Maka jangan-jangan yang paling penting dari lomba tujuhbelasan bukanlah lombanya. Yang penting adalah perjumpaannya.

Merayakan Kemerdekaan yang Masih Harus Dihidupkan

Kita boleh tertawa melihat anak-anak berebut kerupuk. Kita boleh bersorak ketika seorang anak berhasil membawa kelereng sampai garis akhir. Kita boleh memasang bendera dan umbul-umbul di depan rumah. Semua itu tidak perlu dicurigai sebagai sesuatu yang tidak bermakna hanya karena kehidupan masyarakat masih jauh dari sempurna. Justru mungkin di situlah letak paradoksnya.

Kita merayakan kemerdekaan bukan karena kehidupan telah selesai menjadi ideal, tetapi karena kita ingin terus mengingat bahwa manusia memiliki hak untuk berharap pada kehidupan yang lebih baik.

Kemerdekaan bukan barang jadi. Ia adalah pengalaman yang harus terus diusahakan agar hadir dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mungkin kita tidak perlu membubarkan lomba-lomba 17 Agustus hanya karena zaman berubah. Yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan kesadarannya.

Ketika anak-anak semakin sedikit, kita dapat mengubah bentuk perayaannya. Ketika pemuda semakin banyak berada di kota, kita dapat membuat perayaan yang mengundang mereka pulang. Ketika permainan tradisional mulai menghilang, kita dapat menjadikannya bagian dari perayaan. Ketika masyarakat semakin sibuk dengan dunia masing-masing, kita dapat menjadikan 17 Agustus sebagai alasan untuk kembali duduk bersama.

Dengan demikian, lomba tidak menjadi sekadar tontonan tahunan. Ia menjadi sebuah ruang pengalaman bersama. Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah lomba makan kerupuk masih relevan.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah: Apakah kita masih membutuhkan ruang untuk mengalami kebersamaan? Jawabannya barangkali masih: ya. Bahkan mungkin semakin ya.

Sebab ketika kehidupan semakin individual, ketika orang semakin sibuk mengejar pekerjaan dan kebutuhan hidup, ketika kampung-kampung perlahan kehilangan anak-anak dan pemudanya, pengalaman berkumpul menjadi sesuatu yang semakin berharga.

Maka jika suatu sore di bulan Agustus kita melihat seorang anak berusaha memasukkan pensil ke dalam botol dan orang-orang tertawa di sekelilingnya, jangan buru-buru menganggapnya sebagai permainan yang kekanak-kanakan dan tidak lagi relevan.

Di sana mungkin sedang berlangsung sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih penting daripada perlombaan. Manusia sedang menciptakan kembali sebuah kebersamaan. Dan barangkali itulah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling sederhana: kemampuan untuk hadir bersama orang lain, tertawa tanpa rasa takut, gagal tanpa dipermalukan, dan pulang dengan perasaan bahwa untuk beberapa jam tadi, kita tidak hidup sendirian.

Mungkin karena itu setiap bulan Agustus kita masih memasang bendera. Bukan hanya untuk mengingat bahwa Indonesia pernah memproklamasikan kemerdekaannya. Tetapi untuk mengingat bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang setiap generasi harus terus belajar menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dan jika suatu saat lomba makan kerupuk benar-benar tidak lagi diperlukan, biarlah ia menghilang secara alamiah. Tetapi jangan sampai yang ikut menghilang bersamanya adalah ruang untuk berkumpul, bermain, tertawa, mengingat, dan merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Sebab ketika itu terjadi, mungkin yang hilang bukan sekadar sebuah tradisi.

Yang hilang adalah salah satu cara sederhana kita mengalami arti menjadi manusia yang hidup bersama manusia lainnya.[T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT ke-81 Republik IndonesiaHUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

Next Post

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co