1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

—Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari.

PADA suatu sore menjelang 17 Agustus, sebuah lapangan kecil di kampung mulai ramai. Tali rafia dibentangkan, beberapa balon digantung, dan sebuah botol plastik diletakkan di atas tanah. Di sampingnya telah tersedia beberapa batang pensil.

Anak-anak berkerumun. Ada yang tertawa, ada yang berteriak menyemangati temannya. Seorang anak tampak gugup ketika pensil yang digantung dengan tali di pinggangnya harus diarahkan tepat ke mulut botol. Berkali-kali ia mencoba. Pensil itu bergerak ke kiri, ke kanan, menjauh, mendekat, tetapi tak kunjung masuk.

Orang-orang tertawa. Anak itu pun akhirnya tertawa. Tak lama kemudian terdengar pengumuman: lomba makan kerupuk akan dimulai.

Kerupuk digantung. Tangan tidak boleh digunakan. Kepala mendongak. Mulut berusaha mencapai sesuatu yang bergoyang-goyang di hadapannya. Di tempat lain, beberapa anak membawa kelereng di atas sendok yang digigit dengan mulut. Ada yang berhasil sampai garis akhir, ada pula yang kelerengnya jatuh sebelum separuh perjalanan.

Sore itu kampung seperti menemukan kegembiraannya sendiri. Tetapi jika kita berhenti sejenak dari tawa dan keramaian itu, barangkali muncul sebuah pertanyaan sederhana: sesungguhnya apa yang sedang kita rayakan?

Apakah kita sedang merayakan kemerdekaan Indonesia? Ataukah kita sebenarnya sedang merayakan sesuatu yang lebih sederhana: kesempatan untuk berkumpul, tertawa, dan merasa menjadi bagian dari sebuah kampung?

Pertanyaan ini menjadi menarik ketika kehidupan sehari-hari memperlihatkan begitu banyak orang yang secara formal hidup di negara merdeka, tetapi dalam pengalaman sehari-hari masih berhadapan dengan berbagai bentuk ketidakbebasan.

Orang masih kesulitan memperoleh pekerjaan. Harga kebutuhan hidup terasa semakin berat. Pelayanan publik tidak selalu sepadan dengan kewajiban yang harus dipenuhi warga. Ada orang yang bekerja keras tetapi tetap sulit merasa aman terhadap masa depan. Di banyak tempat, fasilitas umum belum sepenuhnya membuat kehidupan menjadi mudah.

Kita tidak perlu membawa semua itu menjadi perdebatan hukum dan politik. Kita bisa memandangnya dari sesuatu yang lebih dekat: pengalaman manusia sehari-hari tentang arti merdeka.

Sebab kemerdekaan, dalam pengalaman manusia, barangkali bukan hanya sebuah tanggal. Ia adalah sesuatu yang seharusnya terasa.

Ketika Kemerdekaan Menjadi Sebuah Ritual

Fenomenologi mengajak kita melihat kembali sesuatu yang terlalu sering kita anggap biasa. Ia meminta kita menangguhkan sejenak pengetahuan yang sudah kita miliki tentang sebuah benda, peristiwa, atau kebiasaan, lalu bertanya: bagaimana sesuatu itu hadir dalam pengalaman kita?

Dengan cara pandang semacam itu, lomba 17 Agustus menjadi lebih dari sekadar lomba. Makan kerupuk, memasukkan pensil ke botol, membawa kelereng dengan sendok, balap karung, panjat pinang, dan berbagai permainan lain adalah bentuk-bentuk ritual sosial yang diwariskan dari waktu ke waktu. Ia hadir hampir otomatis setiap kali bulan Agustus datang.

Kita bahkan tidak selalu lagi bertanya mengapa harus ada lomba. Kita hanya merasa bahwa Agustus belum lengkap tanpa lomba. Di sinilah fenomenologi menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah peristiwa yang pada awalnya mungkin lahir dari kebutuhan merayakan kemerdekaan telah berubah menjadi pengalaman sosial yang memiliki kehidupannya sendiri.

Anak-anak mengikuti lomba bukan karena memahami sejarah kemerdekaan secara mendalam. Mereka mengikuti karena ingin bermain, mendapatkan hadiah, bertemu teman, atau sekadar ikut merasakan kegembiraan.

Orang tua datang bukan hanya untuk memperingati 17 Agustus. Mereka datang untuk melihat anaknya bermain. Para tetangga berkumpul. Orang-orang yang selama hari biasa sibuk dengan pekerjaan masing-masing memperoleh kesempatan untuk saling menyapa.

Dengan demikian, yang dirayakan mungkin bukan lagi hanya kemerdekaan sebagai sejarah, melainkan kebersamaan sebagai pengalaman. Dan barangkali di sinilah lomba-lomba itu masih memiliki makna.

Kerupuk, Kelereng, dan Sebuah Dunia yang Dibuat Sederhana

Jika dibaca secara semiotik, setiap permainan sebenarnya merupakan tanda. Kerupuk yang digantung adalah tanda. Karung yang digunakan untuk melompat adalah tanda. Kelereng di atas sendok adalah tanda. Bahkan hadiah kecil yang dibungkus sederhana pun adalah tanda.

Namun tanda-tanda itu tidak harus selalu dibaca secara harfiah. Kerupuk yang harus dimakan tanpa menggunakan tangan, misalnya, menghadirkan situasi yang tidak biasa. Dalam kehidupan sehari-hari manusia makan dengan cara yang efisien dan teratur. Dalam lomba, sesuatu yang biasa itu sengaja dibuat sulit.

Mengapa? Justru karena kesulitan itu menghasilkan tawa. Demikian pula memasukkan pensil ke botol. Sebuah pekerjaan yang dalam kehidupan normal dapat dilakukan dalam hitungan detik tiba-tiba menjadi permainan yang membuat orang berkonsentrasi, gagal, mencoba lagi, dan ditertawakan bersama.

Di dalam lomba, kegagalan tidak menjadi aib. Ia menjadi hiburan. Di sinilah terdapat makna yang mungkin jauh lebih penting daripada hadiahnya. Lomba menciptakan ruang sosial di mana manusia boleh gagal tanpa harus merasa kehilangan martabat.

Seorang anak yang gagal memasukkan pensil ke botol tidak kehilangan apa-apa. Ia justru mendapatkan tepuk tangan dan tawa. Betapa berbeda pengalaman itu dengan kehidupan sehari-hari.

Di luar arena lomba, kegagalan mencari pekerjaan dapat menjadi sumber kecemasan. Gagal memenuhi kebutuhan hidup dapat menjadi beban. Gagal mencapai standar sosial tertentu dapat membuat seseorang merasa rendah diri.

Dalam lomba, kegagalan justru menjadi bagian dari kegembiraan. Mungkin tanpa disadari, selama beberapa jam masyarakat sedang menciptakan sebuah dunia kecil yang lebih ramah terhadap kegagalan. Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa lomba-lomba sederhana tersebut terus bertahan.

Kemerdekaan yang Dialami, Bukan Sekadar Diperingati

Ada perbedaan antara mengetahui bahwa kita merdeka dan mengalami diri sebagai manusia yang merdeka. Secara historis, 17 Agustus 1945 adalah penanda penting bagi lahirnya Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Tetapi pengalaman kemerdekaan tidak berhenti pada sebuah peristiwa historis.

Kemerdekaan harus terus diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin hidup dalam sebuah negara merdeka, tetapi masih mengalami keterbatasan yang membuat hidup terasa sempit. Ia mungkin bebas secara formal, tetapi tidak selalu merasa memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.

Karena itu, ketika kita melihat seorang anak berlari dalam lomba balap karung, kita mungkin melihat sesuatu yang sangat sederhana: seorang anak sedang bermain. Tetapi fenomenologi mengajak kita melihat lebih dalam.

Anak itu sedang mengalami ruang yang berbeda dari ruang kehidupan sehari-harinya. Ia bebas berlari, tertawa, jatuh, bangun, dan mencoba lagi. Tidak ada nilai rapor. Tidak ada target pekerjaan. Tidak ada tagihan. Tidak ada tuntutan produktivitas.

Untuk sesaat, ia hanya menjadi anak-anak. Mungkin karena itu perayaan 17 Agustus tidak perlu selalu diukur dari seberapa megah acaranya. Boleh jadi ukuran yang lebih penting adalah: apakah ia berhasil menciptakan pengalaman kebersamaan dan kegembiraan yang sungguh-sungguh?

Tetapi Bagaimana Jika Anak-Anak Itu Semakin Sedikit?

Pertanyaan menjadi lebih rumit ketika kita meninggalkan kampung yang masih ramai. Di sejumlah desa, anak-anak dan pemuda tidak lagi sebanyak dahulu. Sebagian pergi ke kota untuk sekolah. Sebagian mencari pekerjaan. Sebagian lainnya menetap di kota setelah memperoleh pekerjaan. Lapangan yang dahulu penuh anak-anak kini mungkin hanya diisi beberapa orang.

Lalu muncul pertanyaan yang barangkali tidak nyaman: masihkah kita harus mengadakan lomba-lomba yang sama? Pertanyaan ini tidak berarti bahwa tradisi harus dihentikan.

Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut mengajak kita memahami bahwa tradisi tidak selalu berarti mengulang bentuk yang sama. Tradisi adalah ingatan yang terus mencari bentuk baru.

Jika dahulu lomba makan kerupuk mampu menghadirkan puluhan anak di sebuah kampung, tetapi kini anak-anak tinggal beberapa orang, mungkin makna perayaan tidak harus dipaksakan melalui perlombaan yang sama.

Bisa saja 17 Agustus menjadi kesempatan untuk mempertemukan anak-anak dengan orang tua dan para lansia. Bisa menjadi hari ketika pemuda yang bekerja di kota pulang dan berkumpul. Bisa menjadi ruang untuk mengenang sejarah kampung. Bisa pula menjadi malam ketika warga membawa cerita, foto lama, permainan tradisional, musik, atau makanan yang hampir dilupakan.

Dengan demikian, yang dipertahankan bukan bentuk lombanya. Yang dipertahankan adalah peristiwa berkumpulnya manusia. Sebab sebuah tradisi akan kehilangan makna apabila bentuknya dipertahankan sementara dunia sosial yang melahirkannya telah berubah.

Tirakatan dan Kesunyian di Balik Keramaian

Menariknya, di banyak tempat perayaan 17 Agustus tidak hanya diisi lomba. Ada pula tirakatan. Di sinilah dua wajah peringatan kemerdekaan bertemu.

Pada siang atau sore hari, masyarakat tertawa dalam lomba. Pada malam hari, mereka duduk lebih tenang, makan bersama, berdoa, mengenang sejarah, dan mungkin menyebut nama-nama orang yang telah mendahului mereka. Jika lomba adalah wajah kegembiraan, tirakatan adalah wajah perenungan. Keduanya sesungguhnya memiliki hubungan yang dalam.

Sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bersenang-senang, tetapi juga kemampuan untuk mengingat. Fenomenologi tentang ingatan mengajarkan bahwa manusia tidak hidup hanya di dalam masa kini. Pengalaman masa lalu selalu ikut hadir dalam kesadaran kita.

Karena itu, 17 Agustus bukan hanya tentang masa lalu yang sudah selesai. Ia adalah pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita mengingat mereka yang memperjuangkan kemerdekaan. Kita mengalami kehidupan hari ini. Dan pada saat yang sama kita berharap generasi berikutnya memperoleh kehidupan yang lebih baik.  Maka tirakatan sebenarnya menyimpan pertanyaan yang sama dengan lomba-lomba itu: apa arti kemerdekaan bagi kita hari ini?

Ketika Perayaan Menjadi Sekadar Rutinitas

Di sinilah kita perlu sedikit berhati-hati. Sebuah ritual dapat kehilangan maknanya ketika ia dilakukan hanya karena “memang sudah begitu”. Umbul-umbul dipasang karena Agustus. Lomba diadakan karena Agustus. Tirakatan dilakukan karena Agustus. Semua berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tetapi ketika ritual tidak lagi mengandung kesadaran, ia mudah berubah menjadi rutinitas.

Fenomenologi justru meminta kita kembali kepada pengalaman yang paling sederhana: Apa yang sebenarnya kita rasakan ketika berkumpul? Mengapa kita tertawa? Mengapa kita ingin anak-anak kita ikut? Mengapa kita merasa ada sesuatu yang kurang apabila Agustus berlalu tanpa perayaan?

Jawabannya mungkin sederhana. Karena manusia membutuhkan pengalaman menjadi bagian dari sesuatu. Di tengah kehidupan modern yang semakin individual, lomba 17 Agustus menghadirkan sebuah pengalaman yang semakin langka: tetangga bertemu tetangga, anak-anak bermain bersama, orang tua saling menyapa, dan sebuah kampung kembali merasakan dirinya sebagai komunitas.

Maka jangan-jangan yang paling penting dari lomba tujuhbelasan bukanlah lombanya. Yang penting adalah perjumpaannya.

Merayakan Kemerdekaan yang Masih Harus Dihidupkan

Kita boleh tertawa melihat anak-anak berebut kerupuk. Kita boleh bersorak ketika seorang anak berhasil membawa kelereng sampai garis akhir. Kita boleh memasang bendera dan umbul-umbul di depan rumah. Semua itu tidak perlu dicurigai sebagai sesuatu yang tidak bermakna hanya karena kehidupan masyarakat masih jauh dari sempurna. Justru mungkin di situlah letak paradoksnya.

Kita merayakan kemerdekaan bukan karena kehidupan telah selesai menjadi ideal, tetapi karena kita ingin terus mengingat bahwa manusia memiliki hak untuk berharap pada kehidupan yang lebih baik.

Kemerdekaan bukan barang jadi. Ia adalah pengalaman yang harus terus diusahakan agar hadir dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mungkin kita tidak perlu membubarkan lomba-lomba 17 Agustus hanya karena zaman berubah. Yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan kesadarannya.

Ketika anak-anak semakin sedikit, kita dapat mengubah bentuk perayaannya. Ketika pemuda semakin banyak berada di kota, kita dapat membuat perayaan yang mengundang mereka pulang. Ketika permainan tradisional mulai menghilang, kita dapat menjadikannya bagian dari perayaan. Ketika masyarakat semakin sibuk dengan dunia masing-masing, kita dapat menjadikan 17 Agustus sebagai alasan untuk kembali duduk bersama.

Dengan demikian, lomba tidak menjadi sekadar tontonan tahunan. Ia menjadi sebuah ruang pengalaman bersama. Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah lomba makan kerupuk masih relevan.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah: Apakah kita masih membutuhkan ruang untuk mengalami kebersamaan? Jawabannya barangkali masih: ya. Bahkan mungkin semakin ya.

Sebab ketika kehidupan semakin individual, ketika orang semakin sibuk mengejar pekerjaan dan kebutuhan hidup, ketika kampung-kampung perlahan kehilangan anak-anak dan pemudanya, pengalaman berkumpul menjadi sesuatu yang semakin berharga.

Maka jika suatu sore di bulan Agustus kita melihat seorang anak berusaha memasukkan pensil ke dalam botol dan orang-orang tertawa di sekelilingnya, jangan buru-buru menganggapnya sebagai permainan yang kekanak-kanakan dan tidak lagi relevan.

Di sana mungkin sedang berlangsung sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih penting daripada perlombaan. Manusia sedang menciptakan kembali sebuah kebersamaan. Dan barangkali itulah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling sederhana: kemampuan untuk hadir bersama orang lain, tertawa tanpa rasa takut, gagal tanpa dipermalukan, dan pulang dengan perasaan bahwa untuk beberapa jam tadi, kita tidak hidup sendirian.

Mungkin karena itu setiap bulan Agustus kita masih memasang bendera. Bukan hanya untuk mengingat bahwa Indonesia pernah memproklamasikan kemerdekaannya. Tetapi untuk mengingat bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang setiap generasi harus terus belajar menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dan jika suatu saat lomba makan kerupuk benar-benar tidak lagi diperlukan, biarlah ia menghilang secara alamiah. Tetapi jangan sampai yang ikut menghilang bersamanya adalah ruang untuk berkumpul, bermain, tertawa, mengingat, dan merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Sebab ketika itu terjadi, mungkin yang hilang bukan sekadar sebuah tradisi.

Yang hilang adalah salah satu cara sederhana kita mengalami arti menjadi manusia yang hidup bersama manusia lainnya.[T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT ke-81 Republik IndonesiaHUT Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

Next Post

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co