21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
in Esai
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17 Agustus 2026, sebuah pameran desain yang memadukan material, produk, interior, hingga arsitektur dan bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali. Ini menjadi ajang bertemunya insan kreatif bidang-bidang yang berkenaan dengan bangunan—dengan segala isinya—dengan produsen material inovatif, tidak hanya dari level nasional tetapi juga internasional.

Sebelumnya, dalam satu postingan Instagram saya sempat menulis bahwa produk-produk industri yang memiliki standar tertentu, sehingga siapa pun yang memanfaatkannya akan memperoleh kualitas setara, telah mengalami transformasi di tangan desainer. Melalui desain, insan-insan kreatif kini telah membuat sebuah produk fisik dihargai bukan hanya dari sisi biaya produksinya semata tetapi juga karena nilai estetika, emosional, dan makna simbolis yang dipancarkannya.

Di pameran yang berlangsung lima hari tersebut, kita disajikan produk-produk industri dari kondisinya yang masih ‘mentah’ hingga sudah mengalami perubahan dan menghasilkan produk turunan. Batu tiruan bisa menjadi table-top, kayu fabrikasi (engineered-wood) menjadi beragam produk, dan banyak lagi material lainnya. Kemungkinan-kemungkinan personalisasinya sangat banyak. Ini memberi kebebasan dan keleluasaan bagi desainer untuk melakukan intepretasi dan re-intepretasi atas produk massal tersebut sesuai kreativitasnya.

Pengunjung dengan latar belakang arsitektur mungkin akan mengagumi desain-desain pavilion yang beragam. Mulai dari arsitektur kayu, tenda, hingga struktur yang terbuat dari material sintetis. Wujudnya pun bisa membuat kita menghabiskan beberapa menit di depan masing-masing pavilion karena rasa kagum. Mereka yang tertarik dengan desain interior juga tidak akan kalah tertarik. Inovasi produk-produk pendukung interior yang disajikan seringkali membuat kita harus bolak-balik masuk dan keluar, memperhatikan setiap detailnya. Produk-produk material yang ditampilkan juga sama, sangat beragam.

Produk yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dalam era yang disebut sebagai ‘the age of attention economy’ saat ini, desain visual dirancang secara agresif dengan tujuan untuk menangkap perhatian manusia karena hal ini bisa meningkatkan nilai tambah yang pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan finansial. Desain-desain yang berhasil memperoleh attention, merebut emosi dan perhatian publik menjadi viral. Tiba-tiba setiap orang bisa merasa tertinggal jika belum memilikinya. Atau bagi desainer, mereka akan merasa terbelakang jika belum mengaplikasikan material tertentu yang sedang digemari.

Industri dan desainer-desainer yang ‘menguasai’ pasar kini menjadi pembentuk tren dalam kehidupan desain. Ini menciptakan estetika universal. Kita mungkin masih terbayang dengan desain-desain yang disebut sebagai ‘Scandinavian’, ‘Minimalis’, ‘New York loft’, atau yang sekarang sedang dianggap sebagai pemimpin trend, ‘Japandi’. Tren yang terakhir ini tampaknya melangkah jauh hingga memengaruhi tektonika. Sambungan-sambungan kayu berjenis jepit dan dengan sambungan logam, menggantikan purus dan lubang tradisional. Dalam kondisi semacam ini, desainer memiliki posisi sangat penting: sebagai pembentuk opini publik tentang desain yang baik. Ini didukung oleh industri yang mem-back-up-nya dengan bahan mentah atau setengah jadi. Di satu sisi, ini tentu baik karena profesi ini mulai mendapat tempat, tetapi di sisi lain, ini bisa dimanfaatkan oleh produsen tertentu untuk mendominasi pasar.

Kembali ke pameran JIA Curated di Muntig Siokan, Pantai Pengembak. Lokasinya merupakan ruang publik di mana masyarakat biasanya beraktivitas. Pemilihan ini berpotensi bisa menarik minat pengunjung dari kalangan masyarakat luas. Sayangnya, pengunjung pameran dikenakan biaya. Akibatnya, terjadi seleksi siapa yang bisa dan tidak bisa masuk.

Mengingat pameran ini men-display produk, maka yang hadir sepertinya kebanyakan, jika tidak semuanya, adalah desainer dan pemasar produk. Akibatnya, diskusinya terjadi di antara like-minded people. Ini tentu saja bisa menghasilkan diskusi yang produktif, tetapi juga bisa berkebalikan, menghasilkan diskusi dengan topik terbatas tanpa pelibatan orang-orang di luar dunia desain. Masyarakat menjadi pengguna pasif. Istilahnya ‘design for the sake of design’ dan bukan ‘design for the community’.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dari sisi peserta pameran, produk yang dipamerkan, dan potensi trend yang ditimbulkan, maka bisa saja ini menjadi trendsetter, sumber tunggal, arah desain masa depan. Potensinya untuk menghasilkan desain yang seragam dan universal cukup besar. Adakah ini bisa dilihat dari sisi lain?

Dipesh Chakrabarty, lewat bukunya Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference, beragumen bahwa pandangan yang melihat Eropa sebagai site tunggal sumber modernitas itu tidak benar. Ia melihat apa yang terjadi di Eropa hanya sebagian kecil dari gejala yang berlangsung secara global.

Dengan meminjam kritik Chakrabarty, kita bisa memikirkan bahwa apa yang terjadi di Skandinavia, New York, atau Jepang, hanyalah sebagai estetika lokal di sana (provincial). Tidak perlu dijadikan acuan tunggal. Dalam hal ini, desain harus menghargai cara hidup lokal, misalnya bagaimana masyarakat tropis membutuhkan ruang yang teduh, adaptif terhadap kelembaban tinggi, non-furniture karena budaya lesehan, atau material bambu dan kayu setempat. Pendekatan semacam ini bisa mencegah terjadinya ‘gentrifikasi budaya desain’. Gentrifikasi desain adalah masuknya gaya-gaya baru, umumnya gaya global, yang memperoleh perhatian luas, serta viral, kemudian menggantikan budaya lokal yang sebelumnya ada di suatu tempat. 

Di sinilah, sebetulnya, saya melihat ada peluang besar yang bisa dilakukan melalui pameran desain seperti JIA-Curated ini. Alih-alih menjadi tempat industri global yang memamerkan produknya dan menjadi sumber tren tunggal, ia bisa berlaku sebagai agen dalam gerakan provincializing design—memprovinsikan desain.

Untuk menjadi pendorong bagi majunya desain lokal, pameran dapat melakukan reorientasi dari ‘merancang untuk komunitas’ ke ‘merancang bersama komunitas’. Ini berarti, kita membawa proses desain, dan terutama pameran-pameran, langsung ke tingkat tapak (site) lokal. Muntig Siokan adalah site yang tepat tetapi bisa dibuat bebas tanpa tiket sehingga yang datang bukan hanya desainer dan teman-teman sesama desainernya, melainkan masyarakat umum: warga, tukang lokal, material lokal.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Keterhubungan di ruang publik ini bisa meningkatkan partisipasi masyarakat secara lebih luas. Desainer, dalam hal ini, tidak lagi bertindak sebagai ahli yang duduk di balik meja, menciptakan produk di kota besar lalu mengirimkannya ke konsumen pasif di daerah. Mereka menjadi pendengar aktif dari kebutuhan masyarakat dalam tingkat lokal dan mencari penyelesaian bersama.

Berikutnya, proses semacam ini bukan bertujuan untuk (hanya) meningkatkan efisiensi, sebagaimana sistem ekonomi bangunan selama ini berjalan, tetapi yang lebih penting justru bisa meningkatkan resiliensi komunitas. Para desainer modern, yang banyak melakukan desain dengan tolok ukur kecepatan, produksi massal, efisiensi, dan dukungan industri, bisa memikirkan tujuan yang lebih luas.

Tujuan-tujuan desain bisa berkembang dengan tolok ukur baru, misalnya saja kegunaan sosial, ketahanan serta kemudahan perawatan oleh komunitas, dukungannya terhadap aktivitas komunal bukan personal. Peningkatan resiliensi sosial bisa jadi akan membuat ekosistem desain menjadi lebih sehat karena ini bisa memutar ekonomi lokal melalui penggunaan bahan dan tukang setempat.

Ini, tentu saja, hanya ide, bukan sesuatu yang harus diikuti. Saya sendiri, sebagai orang dengan latar belakang pendidikan arsitektur, sangat menikmati pameran serta kreativitas desain yang disajikan dalam dua pameran JIA Curated yang dilakukan di Padang Galak tahun lalu dan di Pantai Pengembak tahun ini. Selamat dan terima kasih kepada penyelenggara acara.[T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Jaswanto

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: arsitekturJIA Curated
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

Next Post

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang
Pendidikan

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

 “Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.” Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta,...

by Dede Putra Wiguna
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co