SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17 Agustus 2026, sebuah pameran desain yang memadukan material, produk, interior, hingga arsitektur dan bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali. Ini menjadi ajang bertemunya insan kreatif bidang-bidang yang berkenaan dengan bangunan—dengan segala isinya—dengan produsen material inovatif, tidak hanya dari level nasional tetapi juga internasional.
Sebelumnya, dalam satu postingan Instagram saya sempat menulis bahwa produk-produk industri yang memiliki standar tertentu, sehingga siapa pun yang memanfaatkannya akan memperoleh kualitas setara, telah mengalami transformasi di tangan desainer. Melalui desain, insan-insan kreatif kini telah membuat sebuah produk fisik dihargai bukan hanya dari sisi biaya produksinya semata tetapi juga karena nilai estetika, emosional, dan makna simbolis yang dipancarkannya.
Di pameran yang berlangsung lima hari tersebut, kita disajikan produk-produk industri dari kondisinya yang masih ‘mentah’ hingga sudah mengalami perubahan dan menghasilkan produk turunan. Batu tiruan bisa menjadi table-top, kayu fabrikasi (engineered-wood) menjadi beragam produk, dan banyak lagi material lainnya. Kemungkinan-kemungkinan personalisasinya sangat banyak. Ini memberi kebebasan dan keleluasaan bagi desainer untuk melakukan intepretasi dan re-intepretasi atas produk massal tersebut sesuai kreativitasnya.
Pengunjung dengan latar belakang arsitektur mungkin akan mengagumi desain-desain pavilion yang beragam. Mulai dari arsitektur kayu, tenda, hingga struktur yang terbuat dari material sintetis. Wujudnya pun bisa membuat kita menghabiskan beberapa menit di depan masing-masing pavilion karena rasa kagum. Mereka yang tertarik dengan desain interior juga tidak akan kalah tertarik. Inovasi produk-produk pendukung interior yang disajikan seringkali membuat kita harus bolak-balik masuk dan keluar, memperhatikan setiap detailnya. Produk-produk material yang ditampilkan juga sama, sangat beragam.


Dalam era yang disebut sebagai ‘the age of attention economy’ saat ini, desain visual dirancang secara agresif dengan tujuan untuk menangkap perhatian manusia karena hal ini bisa meningkatkan nilai tambah yang pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan finansial. Desain-desain yang berhasil memperoleh attention, merebut emosi dan perhatian publik menjadi viral. Tiba-tiba setiap orang bisa merasa tertinggal jika belum memilikinya. Atau bagi desainer, mereka akan merasa terbelakang jika belum mengaplikasikan material tertentu yang sedang digemari.
Industri dan desainer-desainer yang ‘menguasai’ pasar kini menjadi pembentuk tren dalam kehidupan desain. Ini menciptakan estetika universal. Kita mungkin masih terbayang dengan desain-desain yang disebut sebagai ‘Scandinavian’, ‘Minimalis’, ‘New York loft’, atau yang sekarang sedang dianggap sebagai pemimpin trend, ‘Japandi’. Tren yang terakhir ini tampaknya melangkah jauh hingga memengaruhi tektonika. Sambungan-sambungan kayu berjenis jepit dan dengan sambungan logam, menggantikan purus dan lubang tradisional. Dalam kondisi semacam ini, desainer memiliki posisi sangat penting: sebagai pembentuk opini publik tentang desain yang baik. Ini didukung oleh industri yang mem-back-up-nya dengan bahan mentah atau setengah jadi. Di satu sisi, ini tentu baik karena profesi ini mulai mendapat tempat, tetapi di sisi lain, ini bisa dimanfaatkan oleh produsen tertentu untuk mendominasi pasar.
Kembali ke pameran JIA Curated di Muntig Siokan, Pantai Pengembak. Lokasinya merupakan ruang publik di mana masyarakat biasanya beraktivitas. Pemilihan ini berpotensi bisa menarik minat pengunjung dari kalangan masyarakat luas. Sayangnya, pengunjung pameran dikenakan biaya. Akibatnya, terjadi seleksi siapa yang bisa dan tidak bisa masuk.
Mengingat pameran ini men-display produk, maka yang hadir sepertinya kebanyakan, jika tidak semuanya, adalah desainer dan pemasar produk. Akibatnya, diskusinya terjadi di antara like-minded people. Ini tentu saja bisa menghasilkan diskusi yang produktif, tetapi juga bisa berkebalikan, menghasilkan diskusi dengan topik terbatas tanpa pelibatan orang-orang di luar dunia desain. Masyarakat menjadi pengguna pasif. Istilahnya ‘design for the sake of design’ dan bukan ‘design for the community’.


Dari sisi peserta pameran, produk yang dipamerkan, dan potensi trend yang ditimbulkan, maka bisa saja ini menjadi trendsetter, sumber tunggal, arah desain masa depan. Potensinya untuk menghasilkan desain yang seragam dan universal cukup besar. Adakah ini bisa dilihat dari sisi lain?
Dipesh Chakrabarty, lewat bukunya Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference, beragumen bahwa pandangan yang melihat Eropa sebagai site tunggal sumber modernitas itu tidak benar. Ia melihat apa yang terjadi di Eropa hanya sebagian kecil dari gejala yang berlangsung secara global.
Dengan meminjam kritik Chakrabarty, kita bisa memikirkan bahwa apa yang terjadi di Skandinavia, New York, atau Jepang, hanyalah sebagai estetika lokal di sana (provincial). Tidak perlu dijadikan acuan tunggal. Dalam hal ini, desain harus menghargai cara hidup lokal, misalnya bagaimana masyarakat tropis membutuhkan ruang yang teduh, adaptif terhadap kelembaban tinggi, non-furniture karena budaya lesehan, atau material bambu dan kayu setempat. Pendekatan semacam ini bisa mencegah terjadinya ‘gentrifikasi budaya desain’. Gentrifikasi desain adalah masuknya gaya-gaya baru, umumnya gaya global, yang memperoleh perhatian luas, serta viral, kemudian menggantikan budaya lokal yang sebelumnya ada di suatu tempat.
Di sinilah, sebetulnya, saya melihat ada peluang besar yang bisa dilakukan melalui pameran desain seperti JIA-Curated ini. Alih-alih menjadi tempat industri global yang memamerkan produknya dan menjadi sumber tren tunggal, ia bisa berlaku sebagai agen dalam gerakan provincializing design—memprovinsikan desain.
Untuk menjadi pendorong bagi majunya desain lokal, pameran dapat melakukan reorientasi dari ‘merancang untuk komunitas’ ke ‘merancang bersama komunitas’. Ini berarti, kita membawa proses desain, dan terutama pameran-pameran, langsung ke tingkat tapak (site) lokal. Muntig Siokan adalah site yang tepat tetapi bisa dibuat bebas tanpa tiket sehingga yang datang bukan hanya desainer dan teman-teman sesama desainernya, melainkan masyarakat umum: warga, tukang lokal, material lokal.


Keterhubungan di ruang publik ini bisa meningkatkan partisipasi masyarakat secara lebih luas. Desainer, dalam hal ini, tidak lagi bertindak sebagai ahli yang duduk di balik meja, menciptakan produk di kota besar lalu mengirimkannya ke konsumen pasif di daerah. Mereka menjadi pendengar aktif dari kebutuhan masyarakat dalam tingkat lokal dan mencari penyelesaian bersama.
Berikutnya, proses semacam ini bukan bertujuan untuk (hanya) meningkatkan efisiensi, sebagaimana sistem ekonomi bangunan selama ini berjalan, tetapi yang lebih penting justru bisa meningkatkan resiliensi komunitas. Para desainer modern, yang banyak melakukan desain dengan tolok ukur kecepatan, produksi massal, efisiensi, dan dukungan industri, bisa memikirkan tujuan yang lebih luas.
Tujuan-tujuan desain bisa berkembang dengan tolok ukur baru, misalnya saja kegunaan sosial, ketahanan serta kemudahan perawatan oleh komunitas, dukungannya terhadap aktivitas komunal bukan personal. Peningkatan resiliensi sosial bisa jadi akan membuat ekosistem desain menjadi lebih sehat karena ini bisa memutar ekonomi lokal melalui penggunaan bahan dan tukang setempat.
Ini, tentu saja, hanya ide, bukan sesuatu yang harus diikuti. Saya sendiri, sebagai orang dengan latar belakang pendidikan arsitektur, sangat menikmati pameran serta kreativitas desain yang disajikan dalam dua pameran JIA Curated yang dilakukan di Padang Galak tahun lalu dan di Pantai Pengembak tahun ini. Selamat dan terima kasih kepada penyelenggara acara.[T]
Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Jaswanto
BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA


























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)


