21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
in Esai
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17 Agustus 2026, sebuah pameran desain yang memadukan material, produk, interior, hingga arsitektur dan bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali. Ini menjadi ajang bertemunya insan kreatif bidang-bidang yang berkenaan dengan bangunan—dengan segala isinya—dengan produsen material inovatif, tidak hanya dari level nasional tetapi juga internasional.

Sebelumnya, dalam satu postingan Instagram saya sempat menulis bahwa produk-produk industri yang memiliki standar tertentu, sehingga siapa pun yang memanfaatkannya akan memperoleh kualitas setara, telah mengalami transformasi di tangan desainer. Melalui desain, insan-insan kreatif kini telah membuat sebuah produk fisik dihargai bukan hanya dari sisi biaya produksinya semata tetapi juga karena nilai estetika, emosional, dan makna simbolis yang dipancarkannya.

Di pameran yang berlangsung lima hari tersebut, kita disajikan produk-produk industri dari kondisinya yang masih ‘mentah’ hingga sudah mengalami perubahan dan menghasilkan produk turunan. Batu tiruan bisa menjadi table-top, kayu fabrikasi (engineered-wood) menjadi beragam produk, dan banyak lagi material lainnya. Kemungkinan-kemungkinan personalisasinya sangat banyak. Ini memberi kebebasan dan keleluasaan bagi desainer untuk melakukan intepretasi dan re-intepretasi atas produk massal tersebut sesuai kreativitasnya.

Pengunjung dengan latar belakang arsitektur mungkin akan mengagumi desain-desain pavilion yang beragam. Mulai dari arsitektur kayu, tenda, hingga struktur yang terbuat dari material sintetis. Wujudnya pun bisa membuat kita menghabiskan beberapa menit di depan masing-masing pavilion karena rasa kagum. Mereka yang tertarik dengan desain interior juga tidak akan kalah tertarik. Inovasi produk-produk pendukung interior yang disajikan seringkali membuat kita harus bolak-balik masuk dan keluar, memperhatikan setiap detailnya. Produk-produk material yang ditampilkan juga sama, sangat beragam.

Produk yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dalam era yang disebut sebagai ‘the age of attention economy’ saat ini, desain visual dirancang secara agresif dengan tujuan untuk menangkap perhatian manusia karena hal ini bisa meningkatkan nilai tambah yang pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan finansial. Desain-desain yang berhasil memperoleh attention, merebut emosi dan perhatian publik menjadi viral. Tiba-tiba setiap orang bisa merasa tertinggal jika belum memilikinya. Atau bagi desainer, mereka akan merasa terbelakang jika belum mengaplikasikan material tertentu yang sedang digemari.

Industri dan desainer-desainer yang ‘menguasai’ pasar kini menjadi pembentuk tren dalam kehidupan desain. Ini menciptakan estetika universal. Kita mungkin masih terbayang dengan desain-desain yang disebut sebagai ‘Scandinavian’, ‘Minimalis’, ‘New York loft’, atau yang sekarang sedang dianggap sebagai pemimpin trend, ‘Japandi’. Tren yang terakhir ini tampaknya melangkah jauh hingga memengaruhi tektonika. Sambungan-sambungan kayu berjenis jepit dan dengan sambungan logam, menggantikan purus dan lubang tradisional. Dalam kondisi semacam ini, desainer memiliki posisi sangat penting: sebagai pembentuk opini publik tentang desain yang baik. Ini didukung oleh industri yang mem-back-up-nya dengan bahan mentah atau setengah jadi. Di satu sisi, ini tentu baik karena profesi ini mulai mendapat tempat, tetapi di sisi lain, ini bisa dimanfaatkan oleh produsen tertentu untuk mendominasi pasar.

Kembali ke pameran JIA Curated di Muntig Siokan, Pantai Pengembak. Lokasinya merupakan ruang publik di mana masyarakat biasanya beraktivitas. Pemilihan ini berpotensi bisa menarik minat pengunjung dari kalangan masyarakat luas. Sayangnya, pengunjung pameran dikenakan biaya. Akibatnya, terjadi seleksi siapa yang bisa dan tidak bisa masuk.

Mengingat pameran ini men-display produk, maka yang hadir sepertinya kebanyakan, jika tidak semuanya, adalah desainer dan pemasar produk. Akibatnya, diskusinya terjadi di antara like-minded people. Ini tentu saja bisa menghasilkan diskusi yang produktif, tetapi juga bisa berkebalikan, menghasilkan diskusi dengan topik terbatas tanpa pelibatan orang-orang di luar dunia desain. Masyarakat menjadi pengguna pasif. Istilahnya ‘design for the sake of design’ dan bukan ‘design for the community’.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dari sisi peserta pameran, produk yang dipamerkan, dan potensi trend yang ditimbulkan, maka bisa saja ini menjadi trendsetter, sumber tunggal, arah desain masa depan. Potensinya untuk menghasilkan desain yang seragam dan universal cukup besar. Adakah ini bisa dilihat dari sisi lain?

Dipesh Chakrabarty, lewat bukunya Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference, beragumen bahwa pandangan yang melihat Eropa sebagai site tunggal sumber modernitas itu tidak benar. Ia melihat apa yang terjadi di Eropa hanya sebagian kecil dari gejala yang berlangsung secara global.

Dengan meminjam kritik Chakrabarty, kita bisa memikirkan bahwa apa yang terjadi di Skandinavia, New York, atau Jepang, hanyalah sebagai estetika lokal di sana (provincial). Tidak perlu dijadikan acuan tunggal. Dalam hal ini, desain harus menghargai cara hidup lokal, misalnya bagaimana masyarakat tropis membutuhkan ruang yang teduh, adaptif terhadap kelembaban tinggi, non-furniture karena budaya lesehan, atau material bambu dan kayu setempat. Pendekatan semacam ini bisa mencegah terjadinya ‘gentrifikasi budaya desain’. Gentrifikasi desain adalah masuknya gaya-gaya baru, umumnya gaya global, yang memperoleh perhatian luas, serta viral, kemudian menggantikan budaya lokal yang sebelumnya ada di suatu tempat. 

Di sinilah, sebetulnya, saya melihat ada peluang besar yang bisa dilakukan melalui pameran desain seperti JIA-Curated ini. Alih-alih menjadi tempat industri global yang memamerkan produknya dan menjadi sumber tren tunggal, ia bisa berlaku sebagai agen dalam gerakan provincializing design—memprovinsikan desain.

Untuk menjadi pendorong bagi majunya desain lokal, pameran dapat melakukan reorientasi dari ‘merancang untuk komunitas’ ke ‘merancang bersama komunitas’. Ini berarti, kita membawa proses desain, dan terutama pameran-pameran, langsung ke tingkat tapak (site) lokal. Muntig Siokan adalah site yang tepat tetapi bisa dibuat bebas tanpa tiket sehingga yang datang bukan hanya desainer dan teman-teman sesama desainernya, melainkan masyarakat umum: warga, tukang lokal, material lokal.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Keterhubungan di ruang publik ini bisa meningkatkan partisipasi masyarakat secara lebih luas. Desainer, dalam hal ini, tidak lagi bertindak sebagai ahli yang duduk di balik meja, menciptakan produk di kota besar lalu mengirimkannya ke konsumen pasif di daerah. Mereka menjadi pendengar aktif dari kebutuhan masyarakat dalam tingkat lokal dan mencari penyelesaian bersama.

Berikutnya, proses semacam ini bukan bertujuan untuk (hanya) meningkatkan efisiensi, sebagaimana sistem ekonomi bangunan selama ini berjalan, tetapi yang lebih penting justru bisa meningkatkan resiliensi komunitas. Para desainer modern, yang banyak melakukan desain dengan tolok ukur kecepatan, produksi massal, efisiensi, dan dukungan industri, bisa memikirkan tujuan yang lebih luas.

Tujuan-tujuan desain bisa berkembang dengan tolok ukur baru, misalnya saja kegunaan sosial, ketahanan serta kemudahan perawatan oleh komunitas, dukungannya terhadap aktivitas komunal bukan personal. Peningkatan resiliensi sosial bisa jadi akan membuat ekosistem desain menjadi lebih sehat karena ini bisa memutar ekonomi lokal melalui penggunaan bahan dan tukang setempat.

Ini, tentu saja, hanya ide, bukan sesuatu yang harus diikuti. Saya sendiri, sebagai orang dengan latar belakang pendidikan arsitektur, sangat menikmati pameran serta kreativitas desain yang disajikan dalam dua pameran JIA Curated yang dilakukan di Padang Galak tahun lalu dan di Pantai Pengembak tahun ini. Selamat dan terima kasih kepada penyelenggara acara.[T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Jaswanto

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: arsitekturJIA Curated
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

Next Post

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co