30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
in Esai
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17 Agustus 2026, sebuah pameran desain yang memadukan material, produk, interior, hingga arsitektur dan bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali. Ini menjadi ajang bertemunya insan kreatif bidang-bidang yang berkenaan dengan bangunan—dengan segala isinya—dengan produsen material inovatif, tidak hanya dari level nasional tetapi juga internasional.

Sebelumnya, dalam satu postingan Instagram saya sempat menulis bahwa produk-produk industri yang memiliki standar tertentu, sehingga siapa pun yang memanfaatkannya akan memperoleh kualitas setara, telah mengalami transformasi di tangan desainer. Melalui desain, insan-insan kreatif kini telah membuat sebuah produk fisik dihargai bukan hanya dari sisi biaya produksinya semata tetapi juga karena nilai estetika, emosional, dan makna simbolis yang dipancarkannya.

Di pameran yang berlangsung lima hari tersebut, kita disajikan produk-produk industri dari kondisinya yang masih ‘mentah’ hingga sudah mengalami perubahan dan menghasilkan produk turunan. Batu tiruan bisa menjadi table-top, kayu fabrikasi (engineered-wood) menjadi beragam produk, dan banyak lagi material lainnya. Kemungkinan-kemungkinan personalisasinya sangat banyak. Ini memberi kebebasan dan keleluasaan bagi desainer untuk melakukan intepretasi dan re-intepretasi atas produk massal tersebut sesuai kreativitasnya.

Pengunjung dengan latar belakang arsitektur mungkin akan mengagumi desain-desain pavilion yang beragam. Mulai dari arsitektur kayu, tenda, hingga struktur yang terbuat dari material sintetis. Wujudnya pun bisa membuat kita menghabiskan beberapa menit di depan masing-masing pavilion karena rasa kagum. Mereka yang tertarik dengan desain interior juga tidak akan kalah tertarik. Inovasi produk-produk pendukung interior yang disajikan seringkali membuat kita harus bolak-balik masuk dan keluar, memperhatikan setiap detailnya. Produk-produk material yang ditampilkan juga sama, sangat beragam.

Produk yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dalam era yang disebut sebagai ‘the age of attention economy’ saat ini, desain visual dirancang secara agresif dengan tujuan untuk menangkap perhatian manusia karena hal ini bisa meningkatkan nilai tambah yang pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan finansial. Desain-desain yang berhasil memperoleh attention, merebut emosi dan perhatian publik menjadi viral. Tiba-tiba setiap orang bisa merasa tertinggal jika belum memilikinya. Atau bagi desainer, mereka akan merasa terbelakang jika belum mengaplikasikan material tertentu yang sedang digemari.

Industri dan desainer-desainer yang ‘menguasai’ pasar kini menjadi pembentuk tren dalam kehidupan desain. Ini menciptakan estetika universal. Kita mungkin masih terbayang dengan desain-desain yang disebut sebagai ‘Scandinavian’, ‘Minimalis’, ‘New York loft’, atau yang sekarang sedang dianggap sebagai pemimpin trend, ‘Japandi’. Tren yang terakhir ini tampaknya melangkah jauh hingga memengaruhi tektonika. Sambungan-sambungan kayu berjenis jepit dan dengan sambungan logam, menggantikan purus dan lubang tradisional. Dalam kondisi semacam ini, desainer memiliki posisi sangat penting: sebagai pembentuk opini publik tentang desain yang baik. Ini didukung oleh industri yang mem-back-up-nya dengan bahan mentah atau setengah jadi. Di satu sisi, ini tentu baik karena profesi ini mulai mendapat tempat, tetapi di sisi lain, ini bisa dimanfaatkan oleh produsen tertentu untuk mendominasi pasar.

Kembali ke pameran JIA Curated di Muntig Siokan, Pantai Pengembak. Lokasinya merupakan ruang publik di mana masyarakat biasanya beraktivitas. Pemilihan ini berpotensi bisa menarik minat pengunjung dari kalangan masyarakat luas. Sayangnya, pengunjung pameran dikenakan biaya. Akibatnya, terjadi seleksi siapa yang bisa dan tidak bisa masuk.

Mengingat pameran ini men-display produk, maka yang hadir sepertinya kebanyakan, jika tidak semuanya, adalah desainer dan pemasar produk. Akibatnya, diskusinya terjadi di antara like-minded people. Ini tentu saja bisa menghasilkan diskusi yang produktif, tetapi juga bisa berkebalikan, menghasilkan diskusi dengan topik terbatas tanpa pelibatan orang-orang di luar dunia desain. Masyarakat menjadi pengguna pasif. Istilahnya ‘design for the sake of design’ dan bukan ‘design for the community’.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dari sisi peserta pameran, produk yang dipamerkan, dan potensi trend yang ditimbulkan, maka bisa saja ini menjadi trendsetter, sumber tunggal, arah desain masa depan. Potensinya untuk menghasilkan desain yang seragam dan universal cukup besar. Adakah ini bisa dilihat dari sisi lain?

Dipesh Chakrabarty, lewat bukunya Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference, beragumen bahwa pandangan yang melihat Eropa sebagai site tunggal sumber modernitas itu tidak benar. Ia melihat apa yang terjadi di Eropa hanya sebagian kecil dari gejala yang berlangsung secara global.

Dengan meminjam kritik Chakrabarty, kita bisa memikirkan bahwa apa yang terjadi di Skandinavia, New York, atau Jepang, hanyalah sebagai estetika lokal di sana (provincial). Tidak perlu dijadikan acuan tunggal. Dalam hal ini, desain harus menghargai cara hidup lokal, misalnya bagaimana masyarakat tropis membutuhkan ruang yang teduh, adaptif terhadap kelembaban tinggi, non-furniture karena budaya lesehan, atau material bambu dan kayu setempat. Pendekatan semacam ini bisa mencegah terjadinya ‘gentrifikasi budaya desain’. Gentrifikasi desain adalah masuknya gaya-gaya baru, umumnya gaya global, yang memperoleh perhatian luas, serta viral, kemudian menggantikan budaya lokal yang sebelumnya ada di suatu tempat. 

Di sinilah, sebetulnya, saya melihat ada peluang besar yang bisa dilakukan melalui pameran desain seperti JIA-Curated ini. Alih-alih menjadi tempat industri global yang memamerkan produknya dan menjadi sumber tren tunggal, ia bisa berlaku sebagai agen dalam gerakan provincializing design—memprovinsikan desain.

Untuk menjadi pendorong bagi majunya desain lokal, pameran dapat melakukan reorientasi dari ‘merancang untuk komunitas’ ke ‘merancang bersama komunitas’. Ini berarti, kita membawa proses desain, dan terutama pameran-pameran, langsung ke tingkat tapak (site) lokal. Muntig Siokan adalah site yang tepat tetapi bisa dibuat bebas tanpa tiket sehingga yang datang bukan hanya desainer dan teman-teman sesama desainernya, melainkan masyarakat umum: warga, tukang lokal, material lokal.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Keterhubungan di ruang publik ini bisa meningkatkan partisipasi masyarakat secara lebih luas. Desainer, dalam hal ini, tidak lagi bertindak sebagai ahli yang duduk di balik meja, menciptakan produk di kota besar lalu mengirimkannya ke konsumen pasif di daerah. Mereka menjadi pendengar aktif dari kebutuhan masyarakat dalam tingkat lokal dan mencari penyelesaian bersama.

Berikutnya, proses semacam ini bukan bertujuan untuk (hanya) meningkatkan efisiensi, sebagaimana sistem ekonomi bangunan selama ini berjalan, tetapi yang lebih penting justru bisa meningkatkan resiliensi komunitas. Para desainer modern, yang banyak melakukan desain dengan tolok ukur kecepatan, produksi massal, efisiensi, dan dukungan industri, bisa memikirkan tujuan yang lebih luas.

Tujuan-tujuan desain bisa berkembang dengan tolok ukur baru, misalnya saja kegunaan sosial, ketahanan serta kemudahan perawatan oleh komunitas, dukungannya terhadap aktivitas komunal bukan personal. Peningkatan resiliensi sosial bisa jadi akan membuat ekosistem desain menjadi lebih sehat karena ini bisa memutar ekonomi lokal melalui penggunaan bahan dan tukang setempat.

Ini, tentu saja, hanya ide, bukan sesuatu yang harus diikuti. Saya sendiri, sebagai orang dengan latar belakang pendidikan arsitektur, sangat menikmati pameran serta kreativitas desain yang disajikan dalam dua pameran JIA Curated yang dilakukan di Padang Galak tahun lalu dan di Pantai Pengembak tahun ini. Selamat dan terima kasih kepada penyelenggara acara.[T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Jaswanto

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: arsitekturJIA Curated
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

Next Post

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co