10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
in Esai
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17 Agustus 2026, sebuah pameran desain yang memadukan material, produk, interior, hingga arsitektur dan bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali. Ini menjadi ajang bertemunya insan kreatif bidang-bidang yang berkenaan dengan bangunan—dengan segala isinya—dengan produsen material inovatif, tidak hanya dari level nasional tetapi juga internasional.

Sebelumnya, dalam satu postingan Instagram saya sempat menulis bahwa produk-produk industri yang memiliki standar tertentu, sehingga siapa pun yang memanfaatkannya akan memperoleh kualitas setara, telah mengalami transformasi di tangan desainer. Melalui desain, insan-insan kreatif kini telah membuat sebuah produk fisik dihargai bukan hanya dari sisi biaya produksinya semata tetapi juga karena nilai estetika, emosional, dan makna simbolis yang dipancarkannya.

Di pameran yang berlangsung lima hari tersebut, kita disajikan produk-produk industri dari kondisinya yang masih ‘mentah’ hingga sudah mengalami perubahan dan menghasilkan produk turunan. Batu tiruan bisa menjadi table-top, kayu fabrikasi (engineered-wood) menjadi beragam produk, dan banyak lagi material lainnya. Kemungkinan-kemungkinan personalisasinya sangat banyak. Ini memberi kebebasan dan keleluasaan bagi desainer untuk melakukan intepretasi dan re-intepretasi atas produk massal tersebut sesuai kreativitasnya.

Pengunjung dengan latar belakang arsitektur mungkin akan mengagumi desain-desain pavilion yang beragam. Mulai dari arsitektur kayu, tenda, hingga struktur yang terbuat dari material sintetis. Wujudnya pun bisa membuat kita menghabiskan beberapa menit di depan masing-masing pavilion karena rasa kagum. Mereka yang tertarik dengan desain interior juga tidak akan kalah tertarik. Inovasi produk-produk pendukung interior yang disajikan seringkali membuat kita harus bolak-balik masuk dan keluar, memperhatikan setiap detailnya. Produk-produk material yang ditampilkan juga sama, sangat beragam.

Produk yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dalam era yang disebut sebagai ‘the age of attention economy’ saat ini, desain visual dirancang secara agresif dengan tujuan untuk menangkap perhatian manusia karena hal ini bisa meningkatkan nilai tambah yang pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan finansial. Desain-desain yang berhasil memperoleh attention, merebut emosi dan perhatian publik menjadi viral. Tiba-tiba setiap orang bisa merasa tertinggal jika belum memilikinya. Atau bagi desainer, mereka akan merasa terbelakang jika belum mengaplikasikan material tertentu yang sedang digemari.

Industri dan desainer-desainer yang ‘menguasai’ pasar kini menjadi pembentuk tren dalam kehidupan desain. Ini menciptakan estetika universal. Kita mungkin masih terbayang dengan desain-desain yang disebut sebagai ‘Scandinavian’, ‘Minimalis’, ‘New York loft’, atau yang sekarang sedang dianggap sebagai pemimpin trend, ‘Japandi’. Tren yang terakhir ini tampaknya melangkah jauh hingga memengaruhi tektonika. Sambungan-sambungan kayu berjenis jepit dan dengan sambungan logam, menggantikan purus dan lubang tradisional. Dalam kondisi semacam ini, desainer memiliki posisi sangat penting: sebagai pembentuk opini publik tentang desain yang baik. Ini didukung oleh industri yang mem-back-up-nya dengan bahan mentah atau setengah jadi. Di satu sisi, ini tentu baik karena profesi ini mulai mendapat tempat, tetapi di sisi lain, ini bisa dimanfaatkan oleh produsen tertentu untuk mendominasi pasar.

Kembali ke pameran JIA Curated di Muntig Siokan, Pantai Pengembak. Lokasinya merupakan ruang publik di mana masyarakat biasanya beraktivitas. Pemilihan ini berpotensi bisa menarik minat pengunjung dari kalangan masyarakat luas. Sayangnya, pengunjung pameran dikenakan biaya. Akibatnya, terjadi seleksi siapa yang bisa dan tidak bisa masuk.

Mengingat pameran ini men-display produk, maka yang hadir sepertinya kebanyakan, jika tidak semuanya, adalah desainer dan pemasar produk. Akibatnya, diskusinya terjadi di antara like-minded people. Ini tentu saja bisa menghasilkan diskusi yang produktif, tetapi juga bisa berkebalikan, menghasilkan diskusi dengan topik terbatas tanpa pelibatan orang-orang di luar dunia desain. Masyarakat menjadi pengguna pasif. Istilahnya ‘design for the sake of design’ dan bukan ‘design for the community’.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Dari sisi peserta pameran, produk yang dipamerkan, dan potensi trend yang ditimbulkan, maka bisa saja ini menjadi trendsetter, sumber tunggal, arah desain masa depan. Potensinya untuk menghasilkan desain yang seragam dan universal cukup besar. Adakah ini bisa dilihat dari sisi lain?

Dipesh Chakrabarty, lewat bukunya Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference, beragumen bahwa pandangan yang melihat Eropa sebagai site tunggal sumber modernitas itu tidak benar. Ia melihat apa yang terjadi di Eropa hanya sebagian kecil dari gejala yang berlangsung secara global.

Dengan meminjam kritik Chakrabarty, kita bisa memikirkan bahwa apa yang terjadi di Skandinavia, New York, atau Jepang, hanyalah sebagai estetika lokal di sana (provincial). Tidak perlu dijadikan acuan tunggal. Dalam hal ini, desain harus menghargai cara hidup lokal, misalnya bagaimana masyarakat tropis membutuhkan ruang yang teduh, adaptif terhadap kelembaban tinggi, non-furniture karena budaya lesehan, atau material bambu dan kayu setempat. Pendekatan semacam ini bisa mencegah terjadinya ‘gentrifikasi budaya desain’. Gentrifikasi desain adalah masuknya gaya-gaya baru, umumnya gaya global, yang memperoleh perhatian luas, serta viral, kemudian menggantikan budaya lokal yang sebelumnya ada di suatu tempat. 

Di sinilah, sebetulnya, saya melihat ada peluang besar yang bisa dilakukan melalui pameran desain seperti JIA-Curated ini. Alih-alih menjadi tempat industri global yang memamerkan produknya dan menjadi sumber tren tunggal, ia bisa berlaku sebagai agen dalam gerakan provincializing design—memprovinsikan desain.

Untuk menjadi pendorong bagi majunya desain lokal, pameran dapat melakukan reorientasi dari ‘merancang untuk komunitas’ ke ‘merancang bersama komunitas’. Ini berarti, kita membawa proses desain, dan terutama pameran-pameran, langsung ke tingkat tapak (site) lokal. Muntig Siokan adalah site yang tepat tetapi bisa dibuat bebas tanpa tiket sehingga yang datang bukan hanya desainer dan teman-teman sesama desainernya, melainkan masyarakat umum: warga, tukang lokal, material lokal.

Desain-desain yang dipamerkan di JIA Curated yang bertempat di Muntig Siokan, Pantai Pengembak, Sanur, Bali | Foto: Gede Maha Putra

Keterhubungan di ruang publik ini bisa meningkatkan partisipasi masyarakat secara lebih luas. Desainer, dalam hal ini, tidak lagi bertindak sebagai ahli yang duduk di balik meja, menciptakan produk di kota besar lalu mengirimkannya ke konsumen pasif di daerah. Mereka menjadi pendengar aktif dari kebutuhan masyarakat dalam tingkat lokal dan mencari penyelesaian bersama.

Berikutnya, proses semacam ini bukan bertujuan untuk (hanya) meningkatkan efisiensi, sebagaimana sistem ekonomi bangunan selama ini berjalan, tetapi yang lebih penting justru bisa meningkatkan resiliensi komunitas. Para desainer modern, yang banyak melakukan desain dengan tolok ukur kecepatan, produksi massal, efisiensi, dan dukungan industri, bisa memikirkan tujuan yang lebih luas.

Tujuan-tujuan desain bisa berkembang dengan tolok ukur baru, misalnya saja kegunaan sosial, ketahanan serta kemudahan perawatan oleh komunitas, dukungannya terhadap aktivitas komunal bukan personal. Peningkatan resiliensi sosial bisa jadi akan membuat ekosistem desain menjadi lebih sehat karena ini bisa memutar ekonomi lokal melalui penggunaan bahan dan tukang setempat.

Ini, tentu saja, hanya ide, bukan sesuatu yang harus diikuti. Saya sendiri, sebagai orang dengan latar belakang pendidikan arsitektur, sangat menikmati pameran serta kreativitas desain yang disajikan dalam dua pameran JIA Curated yang dilakukan di Padang Galak tahun lalu dan di Pantai Pengembak tahun ini. Selamat dan terima kasih kepada penyelenggara acara.[T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Jaswanto

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Tags: arsitekturJIA Curated
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

Next Post

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co