Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng Festival (Bulfest) 2026. Budayawan dan peneliti naskah kuno asal Buleleng, Sugi Lanus, hadir sebagai narasumber dalam seminar kebudayaan yang membahas fenomena brain drain atau eksodus talenta terdidik yang dinilai mengancam keberlanjutan pembangunan di Kabupaten Buleleng.
Bagi Sugi Lanus, persoalan tersebut tidak cukup dilihat sebagai masalah ekonomi masa kini. Perpindahan talenta terdidik, baik ke Bali Selatan maupun ke luar negeri, menurutnya memiliki kaitan dengan perubahan posisi Buleleng dalam perjalanan sejarah Bali.
“Kita harus melihat sejarah secara jernih. Antara tahun 1849 hingga 1958, Singaraja adalah ibu kota Bali dan Kepulauan Sunda Kecil. Kota ini adalah magnet birokrasi dan pusat literasi termaju, rumah bagi peradaban intelektual yang melahirkan institusi legendaris seperti Gedong Kirtya. Namun, ketika pusat pemerintahan dipindahkan secara total ke Denpasar pada tahun 1958, Buleleng seketika kehilangan pengaruh politik dan ekonominya,” ujar Sugi Lanus di hadapan ratusan perwakilan pemuda, akademisi, dan praktisi industri kreatif Bali Utara.
Menurut Sugi Lanus, perubahan pusat pemerintahan tersebut turut memengaruhi pola perpindahan masyarakat Buleleng dari generasi ke generasi. Buleleng yang dikenal sebagai “Kota Pendidikan” terus meluluskan ribuan sarjana melalui berbagai perguruan tinggi lokal. Namun, ketersediaan lapangan kerja yang mampu menyerap keahlian spesifik mereka belum sebanding dengan jumlah lulusan. Akibatnya, banyak lulusan memilih mencari peluang di luar daerah, sementara sejumlah sektor lokal, termasuk pertanian dan industri kreatif, kehilangan tenaga muda yang dapat membawa perubahan.
Memutus Rantai Degradasi Produktivitas di Hulu
Persoalan tersebut, kata Sugi Lanus, tidak hanya berkaitan dengan daya tarik ekonomi di luar Buleleng. Ia juga menyoroti kondisi sosial di tingkat desa yang menurutnya turut memengaruhi produktivitas generasi muda.
Ia menekankan bahwa brain drain perlu dilihat bersama persoalan lingkungan sosial yang membentuk pilihan dan kebiasaan anak muda. Aktivitas nonproduktif, menurutnya, perlu mendapat perhatian agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang menghambat potensi generasi muda.
“Kita tidak bisa membiarkan talenta-talenta muda kita layu sebelum berkembang. Pemerintah daerah bersama desa adat harus mengambil tindakan tegas untuk mengantisipasi penurunan produktivitas ini. Pengetatan izin hiburan malam liar, pembatasan kafe musik liar, serta pengawasan ketat terhadap penjualan alkohol terbuka di pelosok desa yang menyasar anak-anak di bawah umur harus segera dilakukan,” tegasnya.
Selain itu, Sugi Lanus menyoroti bahaya judi online (judol) dan judi konvensional seperti tajen liar, serta aksi balap liar di jalanan umum yang dinilainya dapat menggerus potensi generasi muda Buleleng. Menurutnya, maraknya aktivitas perjudian juga berpotensi mengurangi manfaat ekonomi dari dana kiriman atau remittance ribuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Buleleng di luar negeri.
Alih-alih menjadi modal produktif atau investasi agrobisnis di desa asal, ia menilai sebagian dana tersebut justru dapat terserap dalam aktivitas perjudian.
Karena itu, ia menawarkan perubahan arah dukungan anggaran terhadap aktivitas generasi muda. “Solusinya adalah pembalikan arah anggaran. Alokasikan pendanaan daerah secara masif untuk mendukung kegiatan positif pemuda, siswa, dan mahasiswa di bidang akademik, sastra, seni budaya, serta industri kreatif. Berikan mereka panggung dan ruang ekspresi yang sehat di tanah kelahiran mereka sendiri,” tambahnya.
Jembatan Solusi Masa Depan Buleleng
Dari persoalan tersebut, Sugi Lanus kemudian menawarkan sejumlah langkah yang menurutnya dapat menjadi jalan untuk memperkuat daya tarik Buleleng bagi generasi mudanya. Ia mengusulkan skema integratif lintas sektor yang mencakup modernisasi agraria, konektivitas digital, serta regulasi dan investasi produktif.
Pertama, modernisasi agraria (smart farming). Pertanian perlu dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi seperti Internet of Things (IoT). Menurut Sugi Lanus, pendekatan tersebut dapat mengubah citra bertani menjadi bidang usaha yang lebih menarik bagi generasi muda terdidik sekaligus menjawab persoalan semakin banyaknya petani berusia lanjut.
Kedua, konektivitas dan ekonomi digital. Infrastruktur internet berkecepatan tinggi hingga tingkat desa adat dinilai penting untuk membuka peluang kerja jarak jauh (remote working). Dengan konektivitas yang memadai, pemuda Buleleng dapat bekerja untuk perusahaan di luar daerah, bahkan perusahaan global, tanpa harus meninggalkan daerah asal.
Ketiga, regulasi dan investasi produktif. Sugi Lanus juga mendorong Pemerintah Kabupaten Buleleng merancang Peraturan Daerah (Perda) Inovasi untuk memberikan insentif bagi startup lokal. Selain itu, diperlukan badan kurasi yang dapat mengarahkan dana investasi PMI ke sektor riil di daerah sehingga remitan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi dapat berkembang menjadi modal usaha.
Gagasan tersebut menempatkan persoalan brain drain bukan semata-mata sebagai masalah perpindahan penduduk. Persoalannya juga berkaitan dengan bagaimana Buleleng menyediakan ruang bagi anak muda untuk belajar, bekerja, berkarya, dan membangun kehidupan yang layak tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
“Buleleng Festival bukan sekadar ajang selebrasi seni tahunan, melainkan momentum untuk merebut kembali marwah intelektual Bali Utara. Kita harus menghentikan laju brain drain ini dengan membangun ekosistem yang menghargai kecerdasan, menjaga ketertiban sosial, dan menyediakan masa depan yang layak bagi anak-anak muda di tanah kelahiran mereka sendiri,” pungkas Sugi Lanus menutup sesinya.[T]
Reporter/Penulis: Puja Savitri
Editor: Jaswanto























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)





