12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
in Khas
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.”

Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis yang digelar di Gramedia Teuku Umar, Denpasar, Jumat, 19 Juni 2026. Di hadapan para peserta, pesan tersebut terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan pelajaran penting tentang proses kreatif, pengalaman hidup, dan keberanian menemukan suara sendiri dalam menulis.

Malam itu, Gramedia Teuku Umar tampak lebih ramai dari biasanya. Seluruh peserta duduk lesehan di lantai beralaskan karpet, memenuhi lorong di antara rak buku. Sebagian lagi berdiri di belakang. Mereka datang untuk mengikuti acara bertajuk “Ngulik Dapur Kreatif Penulis”.

Acara yang dimoderatori oleh Laksmi Mutiara (bookstagammer) itu, menghadirkan tiga penulis kawakan: Henry Manampiring (penulis Filosofi Teras), Erwin Parengkuan (penulis dan praktisi komunikasi), serta Gde Aryantha Soethama (Budayawan dan sastrawan Bali).

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Antusiasme peserta sudah terlihat bahkan sebelum acara dimulai. Ketika para pembicara naik ke panggung, perhatian langsung tertuju ke depan. Mereka tidak hanya ingin mendengar teori menulis, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana sebuah karya lahir dari pengalaman hidup para penulisnya.

Gde Aryantha Soethama menjadi salah satu pembicara yang paling sering memancing gelak tawa. Namun, di balik humor-humornya, terselip pandangan tajam tentang menggali ide-ide cerita.

“Di sebuah tempat yang damai, bukan main banyaknya ada konflik. Kalau Anda orang Bali, pasti selalu berkonflik. Dan, konflik-konflik itu hadir sudah dulu kala. Bayangkan, di sebuah kahyangan, di pulau surga terdapat banyak konflik. Itu santapan pengarang. Cerita tidak akan menarik kalau tanpa konflik,” ujarnya.

Para peserta ‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Menurut Soethama, justru di balik citra Bali sebagai pulau yang tenang dan indah, terdapat banyak pertentangan yang bisa menjadi bahan cerita. Konflik adat, hubungan sosial, hingga perubahan zaman menghadirkan dinamika yang menarik untuk ditulis.

“Bayangkan banyak konflik terjadi di sebuah tempat yang tenang dan teduh. Itulah yang menarik dari Bali. Sekarang, konflik-konflik itu berkurang karena ada krematorium, haha,” katanya, membuat ruangan riuh oleh gelak tawa.

“Tetapi, dari situ muncul konflik baru, banyak orang tidak setuju di daerahnya ada krematorium. Bisa dikatakan pula, adat itu juga sumber konflik. Jadi, kalau Anda mau jadi pengarang, lama-lamalah di Bali, karena Bali itu sumber konflik.”

Tawa kembali terdengar. Akan tetapi, para peserta tetap menyimak dengan serius. Bagi Soethama, kemampuan seorang penulis bukan hanya melihat keindahan, melainkan juga menangkap ketegangan yang tersembunyi di balik ketenangan.

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Pandangan lain disampaikan Henry Manampiring. Penulis buku Filosofi Teras yang kini telah mencapai cetakan ke-100 itu mengajak peserta melihat bagaimana pengalaman personal dapat menjadi bahan tulisan yang kuat.

“Buku itu lahir pasti ada sisi personal dari penulisnya,” ujarnya.

Ia kemudian menyinggung latar belakang masing-masing pembicara. Jika Gde Aryantha Soethama banyak terinspirasi oleh konflik-konflik sosial dan adat di Bali, sementara Erwin Parengkuan memperoleh pelajaran dari pengalaman profesional dan interaksinya dengan banyak orang, maka Filosofi Teras lahir dari pergulatan pribadinya sendiri.

Henry bercerita bahwa pada tahun 2017 dirinya mengalami depresi klinis. Dalam kondisi tersebut, ia menemukan buku-buku tentang stoikisme yang kemudian memberinya perspektif baru dalam menghadapi kehidupan.

“Di tengah depresi saya bertemu buku stoikisme. Awalnya, saya tidak punya background tentang stoikisme. Dan itu menyembuhkan saya ternyata.”

Henry menjelaskan bahwa saat itu ia melihat konsep stoikisme sangat menarik, tetapi belum banyak tersedia dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami masyarakat umum. Dari situlah muncul keinginannya untuk menulis.

“Waktu itu saya pikir buku ini sangat bagus, tapi kenapa tidak ada Bahasa Indonesianya. Mungkin ada tapi tersimpan di perpustakaan kampus. Akhirnya saya memberanikan diri sebagai seorang Indonesia menulis tentang stoikisme. Tapi saya buat dengan bahasa yang ringan, ilustrasi menarik, sehingga pembaca tidak terintimidasi.”

Keputusan itu terbukti tepat. Filosofi Teras menjadi salah satu buku pengembangan diri paling populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Henry mengungkapkan bahwa buku tersebut kini sedang dalam proses adaptasi film.

“Sekarang, Filosofi Teras akan difilm-kan. Untung judulnya Filosofi Teras, bukan Filsafat Stoikisme,” ujarnya, diikuti gelak tawa peserta.

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Sementara itu, Erwin Parengkuan mengajak peserta melihat proses kreatif dari sudut pandang observasi. Menurutnya, modal utama seorang penulis bukan sekadar kemampuan merangkai kata, melainkan kemampuan memperhatikan kehidupan.

“Yang paling penting, menurut saya, mata, pikiran, dan perasaan itu hanya kita yang punya. Dari situlah kita menyadari bahwa hasil observasi yang diperoleh sepanjang hidup perlu direkam dan dikumpulkan sebanyak-banyaknya.”

Baginya, setiap orang memiliki pengalaman berbeda. Karena itu, bahan tulisan sebenarnya tersedia di sekitar kita. Tantangannya adalah bagaimana mengamati, merekam, dan mengolahnya menjadi tulisan yang menarik.

Erwin juga menekankan pentingnya pembukaan dalam sebuah tulisan. “Kalimat pertama atau bab pertama harus nampol. Itu adalah kunci orang akan tertarik atau melanjutkan membaca.”

Selain itu, ia mengingatkan agar penulis tidak terjebak dalam kepura-puraan. Ia mencontohkan fenomena personal branding yang sering dibicarakan dalam berbagai pelatihan.

“Misalnya soal personal branding yang sering saya ajarkan di kelas. Saya melihat banyak personal branding dibangun secara tidak autentik, seolah dipaksakan, diperkosa, hingga jauh dari jati diri. Akibatnya, seseorang terkesan selalu berpura-pura.”

Pernyataan itu seakan menjadi jembatan menuju gagasan utama yang kemudian ditegaskan kembali oleh Soethama: pentingnya keunikan dan keautentikan.

Menurut Soethama, banyak hal tampak unik, tetapi belum tentu autentik. Padahal, sebuah cerita akan lebih kuat ketika kedua unsur itu bertemu.

“Banyak yang unik di Bali, tapi tidak autentik. Kalau toh dia unik tapi tidak autentik, tidak akan menarik.”

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Ia lalu memberikan contoh. “Misalnya, perempuan bule jatuh cinta sama laki-laki Bali, itu biasa. Kejadiannya bisa terjadi di New York, Jakarta, atau tempat lain. Tapi, bagaimana membuatnya menjadi autentik dan harus Bali?”

“Ada satu kisah, perempuan bule jatuh cinta sama laki-laki Bali. Suatu ketika ia berkata, ‘Sayang, kalau aku mati, aku mau diaben’. Nah, itu autentik, karena ngaben pasti di Bali, tidak mungkin di New York.”

Ruangan kembali dipenuhi tawa. Namun, contoh sederhana itu menjelaskan dengan gamblang apa yang dimaksud dengan keautentikan karya.

Memasuki penghujung acara, benang merah dari seluruh diskusi semakin jelas. Menulis bukan semata-mata soal teknik. Menulis adalah kemampuan menangkap pengalaman, mengolah pengamatan, memahami konflik, lalu menyajikannya dengan jujur.

Hari itu, selain membawa pulang buku bertanda tangan penulis, para peserta juga mendapat banyak pelajaran. Dari Henry Manampiring, mereka belajar bahwa luka dan pengalaman pribadi dapat menjadi karya yang memberi manfaat bagi banyak orang. Dari Erwin Parengkuan, mereka belajar pentingnya observasi dan kejujuran terhadap diri sendiri. Dari Gde Aryantha Soethama, mereka belajar bahwa cerita terbaik lahir dari kemampuan menemukan sesuatu yang unik dan autentik.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gde Aryantha SoethamaHenry Manampiringmenulispenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

Next Post

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co