21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
in Khas
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.”

Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis yang digelar di Gramedia Teuku Umar, Denpasar, Jumat, 19 Juni 2026. Di hadapan para peserta, pesan tersebut terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan pelajaran penting tentang proses kreatif, pengalaman hidup, dan keberanian menemukan suara sendiri dalam menulis.

Malam itu, Gramedia Teuku Umar tampak lebih ramai dari biasanya. Seluruh peserta duduk lesehan di lantai beralaskan karpet, memenuhi lorong di antara rak buku. Sebagian lagi berdiri di belakang. Mereka datang untuk mengikuti acara bertajuk “Ngulik Dapur Kreatif Penulis”.

Acara yang dimoderatori oleh Laksmi Mutiara (bookstagammer) itu, menghadirkan tiga penulis kawakan: Henry Manampiring (penulis Filosofi Teras), Erwin Parengkuan (penulis dan praktisi komunikasi), serta Gde Aryantha Soethama (Budayawan dan sastrawan Bali).

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Antusiasme peserta sudah terlihat bahkan sebelum acara dimulai. Ketika para pembicara naik ke panggung, perhatian langsung tertuju ke depan. Mereka tidak hanya ingin mendengar teori menulis, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana sebuah karya lahir dari pengalaman hidup para penulisnya.

Gde Aryantha Soethama menjadi salah satu pembicara yang paling sering memancing gelak tawa. Namun, di balik humor-humornya, terselip pandangan tajam tentang menggali ide-ide cerita.

“Di sebuah tempat yang damai, bukan main banyaknya ada konflik. Kalau Anda orang Bali, pasti selalu berkonflik. Dan, konflik-konflik itu hadir sudah dulu kala. Bayangkan, di sebuah kahyangan, di pulau surga terdapat banyak konflik. Itu santapan pengarang. Cerita tidak akan menarik kalau tanpa konflik,” ujarnya.

Para peserta ‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Menurut Soethama, justru di balik citra Bali sebagai pulau yang tenang dan indah, terdapat banyak pertentangan yang bisa menjadi bahan cerita. Konflik adat, hubungan sosial, hingga perubahan zaman menghadirkan dinamika yang menarik untuk ditulis.

“Bayangkan banyak konflik terjadi di sebuah tempat yang tenang dan teduh. Itulah yang menarik dari Bali. Sekarang, konflik-konflik itu berkurang karena ada krematorium, haha,” katanya, membuat ruangan riuh oleh gelak tawa.

“Tetapi, dari situ muncul konflik baru, banyak orang tidak setuju di daerahnya ada krematorium. Bisa dikatakan pula, adat itu juga sumber konflik. Jadi, kalau Anda mau jadi pengarang, lama-lamalah di Bali, karena Bali itu sumber konflik.”

Tawa kembali terdengar. Akan tetapi, para peserta tetap menyimak dengan serius. Bagi Soethama, kemampuan seorang penulis bukan hanya melihat keindahan, melainkan juga menangkap ketegangan yang tersembunyi di balik ketenangan.

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Pandangan lain disampaikan Henry Manampiring. Penulis buku Filosofi Teras yang kini telah mencapai cetakan ke-100 itu mengajak peserta melihat bagaimana pengalaman personal dapat menjadi bahan tulisan yang kuat.

“Buku itu lahir pasti ada sisi personal dari penulisnya,” ujarnya.

Ia kemudian menyinggung latar belakang masing-masing pembicara. Jika Gde Aryantha Soethama banyak terinspirasi oleh konflik-konflik sosial dan adat di Bali, sementara Erwin Parengkuan memperoleh pelajaran dari pengalaman profesional dan interaksinya dengan banyak orang, maka Filosofi Teras lahir dari pergulatan pribadinya sendiri.

Henry bercerita bahwa pada tahun 2017 dirinya mengalami depresi klinis. Dalam kondisi tersebut, ia menemukan buku-buku tentang stoikisme yang kemudian memberinya perspektif baru dalam menghadapi kehidupan.

“Di tengah depresi saya bertemu buku stoikisme. Awalnya, saya tidak punya background tentang stoikisme. Dan itu menyembuhkan saya ternyata.”

Henry menjelaskan bahwa saat itu ia melihat konsep stoikisme sangat menarik, tetapi belum banyak tersedia dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami masyarakat umum. Dari situlah muncul keinginannya untuk menulis.

“Waktu itu saya pikir buku ini sangat bagus, tapi kenapa tidak ada Bahasa Indonesianya. Mungkin ada tapi tersimpan di perpustakaan kampus. Akhirnya saya memberanikan diri sebagai seorang Indonesia menulis tentang stoikisme. Tapi saya buat dengan bahasa yang ringan, ilustrasi menarik, sehingga pembaca tidak terintimidasi.”

Keputusan itu terbukti tepat. Filosofi Teras menjadi salah satu buku pengembangan diri paling populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Henry mengungkapkan bahwa buku tersebut kini sedang dalam proses adaptasi film.

“Sekarang, Filosofi Teras akan difilm-kan. Untung judulnya Filosofi Teras, bukan Filsafat Stoikisme,” ujarnya, diikuti gelak tawa peserta.

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Sementara itu, Erwin Parengkuan mengajak peserta melihat proses kreatif dari sudut pandang observasi. Menurutnya, modal utama seorang penulis bukan sekadar kemampuan merangkai kata, melainkan kemampuan memperhatikan kehidupan.

“Yang paling penting, menurut saya, mata, pikiran, dan perasaan itu hanya kita yang punya. Dari situlah kita menyadari bahwa hasil observasi yang diperoleh sepanjang hidup perlu direkam dan dikumpulkan sebanyak-banyaknya.”

Baginya, setiap orang memiliki pengalaman berbeda. Karena itu, bahan tulisan sebenarnya tersedia di sekitar kita. Tantangannya adalah bagaimana mengamati, merekam, dan mengolahnya menjadi tulisan yang menarik.

Erwin juga menekankan pentingnya pembukaan dalam sebuah tulisan. “Kalimat pertama atau bab pertama harus nampol. Itu adalah kunci orang akan tertarik atau melanjutkan membaca.”

Selain itu, ia mengingatkan agar penulis tidak terjebak dalam kepura-puraan. Ia mencontohkan fenomena personal branding yang sering dibicarakan dalam berbagai pelatihan.

“Misalnya soal personal branding yang sering saya ajarkan di kelas. Saya melihat banyak personal branding dibangun secara tidak autentik, seolah dipaksakan, diperkosa, hingga jauh dari jati diri. Akibatnya, seseorang terkesan selalu berpura-pura.”

Pernyataan itu seakan menjadi jembatan menuju gagasan utama yang kemudian ditegaskan kembali oleh Soethama: pentingnya keunikan dan keautentikan.

Menurut Soethama, banyak hal tampak unik, tetapi belum tentu autentik. Padahal, sebuah cerita akan lebih kuat ketika kedua unsur itu bertemu.

“Banyak yang unik di Bali, tapi tidak autentik. Kalau toh dia unik tapi tidak autentik, tidak akan menarik.”

‘NGERUMPI’: Ngobrol Seru Sama Penulis di Gramedia Teuku Umar, Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

Ia lalu memberikan contoh. “Misalnya, perempuan bule jatuh cinta sama laki-laki Bali, itu biasa. Kejadiannya bisa terjadi di New York, Jakarta, atau tempat lain. Tapi, bagaimana membuatnya menjadi autentik dan harus Bali?”

“Ada satu kisah, perempuan bule jatuh cinta sama laki-laki Bali. Suatu ketika ia berkata, ‘Sayang, kalau aku mati, aku mau diaben’. Nah, itu autentik, karena ngaben pasti di Bali, tidak mungkin di New York.”

Ruangan kembali dipenuhi tawa. Namun, contoh sederhana itu menjelaskan dengan gamblang apa yang dimaksud dengan keautentikan karya.

Memasuki penghujung acara, benang merah dari seluruh diskusi semakin jelas. Menulis bukan semata-mata soal teknik. Menulis adalah kemampuan menangkap pengalaman, mengolah pengamatan, memahami konflik, lalu menyajikannya dengan jujur.

Hari itu, selain membawa pulang buku bertanda tangan penulis, para peserta juga mendapat banyak pelajaran. Dari Henry Manampiring, mereka belajar bahwa luka dan pengalaman pribadi dapat menjadi karya yang memberi manfaat bagi banyak orang. Dari Erwin Parengkuan, mereka belajar pentingnya observasi dan kejujuran terhadap diri sendiri. Dari Gde Aryantha Soethama, mereka belajar bahwa cerita terbaik lahir dari kemampuan menemukan sesuatu yang unik dan autentik.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gde Aryantha SoethamaHenry Manampiringmenulispenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

Next Post

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co