22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perilaku Umat Beragama versus Esensi Agama: Tinjauan Kritis dari Perspektif Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 18, 2025
in Opini
Perilaku Umat Beragama versus Esensi Agama: Tinjauan Kritis dari Perspektif Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

Abstrak

Perilaku umat beragama sering kali tidak mencerminkan esensi luhur agama itu sendiri. Dalam konteks sosial dan politik, agama kerap direduksi menjadi simbol dan identitas kelompok, bahkan digunakan sebagai justifikasi kekuasaan. Artikel ini membedah persoalan tersebut dengan menggunakan teori sistem hukum Lawrence M. Friedman yang mencakup tiga dimensi: substansi, struktur, dan kultur hukum. Pendekatan ini diperkaya oleh pemikiran Charles Kimball tentang penyalahgunaan agama, William James tentang pengalaman religius, Anand Krishna tentang spiritualitas universal, serta David R. Hawkins yang membedakan agama dan spiritualitas. Artikel ini mengajak pembaca merefleksikan makna sejati keberagamaan yang otentik—bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai transformasi kesadaran menuju welas asih dan kedamaian.

Pendahuluan

Agama pada dasarnya hadir untuk membimbing manusia menuju pencerahan, kedamaian, dan kasih sayang. Namun dalam praktik, perilaku umat beragama kerap menyimpang dari nilai-nilai luhur tersebut. Sebagaimana diungkapkan Charles Kimball (2002), agama menjadi berbahaya ketika digunakan untuk membenarkan kekerasan, mendogmakan kebenaran tunggal, dan menolak kritik. Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan antara ajaran agama sebagai substansi spiritual dan ekspresinya dalam struktur sosial dan perilaku kolektif umat.

Dalam teori sistem hukum Lawrence M. Friedman (1975), terdapat tiga unsur utama yang membentuk efektivitas hukum: substansi hukum (legal substance), struktur hukum (legal structure), dan kultur hukum (legal culture). Jika paradigma ini diterapkan dalam studi agama, maka kita dapat menganalisis bagaimana ajaran (substansi), institusi keagamaan (struktur), dan perilaku umat (kultur) sering kali tidak berjalan harmonis.

Substansi Agama: Spiritualitas sebagai Inti

Substansi hukum adalah nilai-nilai yang menjadi dasar dan tujuan hukum. Dalam konteks agama, substansi merujuk pada ajaran-ajaran inti seperti cinta kasih, keadilan, pengampunan, dan kejujuran. Namun realitas menunjukkan bahwa ajaran tersebut sering kali dilupakan atau ditafsirkan secara sempit demi kepentingan kelompok.

Kimball (2002) mengidentifikasi lima indikator agama yang menyimpang, salah satunya adalah klaim kebenaran absolut yang menutup ruang dialog. Agama dalam bentuk ini tidak lagi menjadi sumber pencerahan, melainkan alat dominasi. Sebaliknya, William James (1902/2002) menekankan bahwa pengalaman religius yang otentik adalah yang menyentuh batin, membebaskan jiwa dari penderitaan, dan memperdalam hubungan dengan realitas transenden.

Anand Krishna (2004) berpendapat bahwa agama sejatinya merupakan jalan spiritual, bukan sekadar sistem kepercayaan. Ajaran agama harus membimbing manusia untuk mengenali jati diri dan menyadari kesatuan dengan semua makhluk. Ia menegaskan bahwa “agama bukan untuk membuat kita eksklusif, tetapi untuk menjadikan kita inklusif” (Krishna, 2010).

Struktur Agama: Antara Institusi dan Otoritas

Struktur hukum menurut Friedman adalah lembaga dan mekanisme yang menjalankan hukum. Dalam agama, struktur ini merujuk pada institusi keagamaan dan otoritasnya—tokoh-tokoh agama, organisasi keagamaan, serta sistem ritus dan doktrin.

Sayangnya, struktur ini kerap menjadi terlalu dominan dan birokratis. Ketika ajaran agama diatur secara formalistik dan hierarkis, maka muncul legalisme spiritual yang mengukur religiositas dari aspek lahiriah saja. Anand Krishna (2010) mengingatkan bahwa struktur keagamaan cenderung menyibukkan diri pada “pembungkus” agama, bukan pada isinya.

Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya institusi keagamaan yang lebih fokus pada kekuasaan, status sosial, dan pengaruh politik daripada mengajarkan transformasi batin. Ketika institusi menjadi terlalu kuat tanpa refleksi spiritual, maka ia kehilangan rohnya.

Kultur Keberagamaan: Ritual Tanpa Transformasi

Kultur hukum adalah sikap, kebiasaan, dan persepsi masyarakat terhadap hukum. Dalam agama, ini mencerminkan bagaimana umat menjalani ajaran agamanya. Banyak umat beragama yang lebih tertarik pada simbol, ritus, dan penampilan luar daripada penghayatan batin.

Perilaku ini sejalan dengan kritik Hawkins (2002), seorang psikiater dan mistikus modern, yang mengatakan: “I lost my religion but found spirituality.” Ungkapan ini mencerminkan pengalaman banyak pencari kebenaran yang kecewa dengan agama formal tetapi justru menemukan dimensi spiritual yang lebih mendalam. Bagi Hawkins, spiritualitas adalah pengalaman langsung akan Tuhan—yang melampaui dogma dan institusi.

Dalam kerangka Friedman, hal ini menunjukkan kegagalan kultur keagamaan dalam menginternalisasi substansi ajaran. Umat lebih mementingkan apa yang tampak secara sosial daripada apa yang tumbuh secara batin. Akibatnya, agama menjadi ritual kosong yang tidak mengubah perilaku atau meningkatkan kesadaran.

Refleksi: Agama sebagai Jalan Transformasi Batin

Perbedaan mencolok antara perilaku umat dan esensi agama dapat dijelaskan melalui ketidakharmonisan antara substansi, struktur, dan kultur agama. Ketika struktur dan kultur menjadi dominan, maka substansi spiritual terpinggirkan.

Solusi dari persoalan ini bukanlah menolak agama, tetapi memulihkan spiritualitasnya. William James (1902/2002) menegaskan bahwa agama sejati harus menghasilkan transformasi batin dan membawa kedamaian jiwa. Charles Kimball (2002) mengingatkan agar agama tidak dijadikan sarana kekuasaan. Anand Krishna (2004, 2010) mendorong kesadaran bahwa semua agama mengarah pada sumber yang sama: cinta dan kesatuan. Sementara David R. Hawkins (2002) menegaskan bahwa spiritualitas dapat tumbuh di luar institusi agama, selama seseorang berusaha mengembangkan kesadaran murni dan cinta tanpa syarat.

Kesimpulan

Ketika kita menggunakan pendekatan sistem hukum Lawrence M. Friedman untuk menelaah keberagamaan, terlihat bahwa disharmoni antara ajaran, institusi, dan perilaku umat merupakan akar dari krisis religiositas saat ini. Substansi ajaran yang luhur tertutupi oleh kekakuan struktur dan superfisialitas kultur.

Dalam semangat pembebasan batin, David R. Hawkins menyatakan, “I lost my religion but found spirituality.” Ungkapan ini bukan ajakan meninggalkan agama, melainkan ajakan menggali intisarinya: kasih universal, kesadaran murni, dan penyatuan diri dengan Sang Sumber. Maka, umat beragama perlu kembali dari simbol menuju substansi, dari legalisme menuju spiritualitas, dari eksklusivisme menuju cinta yang meliputi semua. [T]

Daftar Pustaka (APA Style)

  • Friedman, L. M. (1975). The legal system: A social science perspective. Russell Sage Foundation.
  • Hawkins, D. R. (2002). Power vs. force: The hidden determinants of human behavior. Hay House.
  • James, W. (2002). The varieties of religious experience: A study in human nature. (Original work published 1902). Modern Library.
  • Kimball, C. (2002). When religion becomes evil: Five warning signs. HarperSanFrancisco.
  • Krishna, A. (2004). Soul quest: Journey from death to immortality. Gramedia Pustaka Utama.
  • Krishna, A. (2010). Life: The journey within. Gramedia Pustaka Utama.
  • Nasr, S. H. (2002). The heart of Islam: Enduring values for humanity. HarperOne.
  • Tillich, P. (1957). Dynamics of faith. Harper & Row.
  • Glock, C. Y., & Stark, R. (1965). Religion and society in tension. Rand McNally.
  • Koentjaraningrat. (2002). Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. Gramedia.

Penulis: Anak Agung Made Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Alexis de Tocqueville dan Tantangan Demokrasi: Mengapa Agama Sangat Penting bagi Masyarakat Demokratis?
Sad Agama:  Menelusuri Enam Aliran Kepercayaan di Bali dalam Geguritan Bali Tattwa
Islam Agama Pembebasan
Tags: agama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Next Post

Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan — Cerita Kecil di Hari Libur

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan — Cerita Kecil di Hari Libur

Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan -- Cerita Kecil di Hari Libur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co