2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perilaku Umat Beragama versus Esensi Agama: Tinjauan Kritis dari Perspektif Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 18, 2025
in Opini
Perilaku Umat Beragama versus Esensi Agama: Tinjauan Kritis dari Perspektif Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

Abstrak

Perilaku umat beragama sering kali tidak mencerminkan esensi luhur agama itu sendiri. Dalam konteks sosial dan politik, agama kerap direduksi menjadi simbol dan identitas kelompok, bahkan digunakan sebagai justifikasi kekuasaan. Artikel ini membedah persoalan tersebut dengan menggunakan teori sistem hukum Lawrence M. Friedman yang mencakup tiga dimensi: substansi, struktur, dan kultur hukum. Pendekatan ini diperkaya oleh pemikiran Charles Kimball tentang penyalahgunaan agama, William James tentang pengalaman religius, Anand Krishna tentang spiritualitas universal, serta David R. Hawkins yang membedakan agama dan spiritualitas. Artikel ini mengajak pembaca merefleksikan makna sejati keberagamaan yang otentik—bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai transformasi kesadaran menuju welas asih dan kedamaian.

Pendahuluan

Agama pada dasarnya hadir untuk membimbing manusia menuju pencerahan, kedamaian, dan kasih sayang. Namun dalam praktik, perilaku umat beragama kerap menyimpang dari nilai-nilai luhur tersebut. Sebagaimana diungkapkan Charles Kimball (2002), agama menjadi berbahaya ketika digunakan untuk membenarkan kekerasan, mendogmakan kebenaran tunggal, dan menolak kritik. Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan antara ajaran agama sebagai substansi spiritual dan ekspresinya dalam struktur sosial dan perilaku kolektif umat.

Dalam teori sistem hukum Lawrence M. Friedman (1975), terdapat tiga unsur utama yang membentuk efektivitas hukum: substansi hukum (legal substance), struktur hukum (legal structure), dan kultur hukum (legal culture). Jika paradigma ini diterapkan dalam studi agama, maka kita dapat menganalisis bagaimana ajaran (substansi), institusi keagamaan (struktur), dan perilaku umat (kultur) sering kali tidak berjalan harmonis.

Substansi Agama: Spiritualitas sebagai Inti

Substansi hukum adalah nilai-nilai yang menjadi dasar dan tujuan hukum. Dalam konteks agama, substansi merujuk pada ajaran-ajaran inti seperti cinta kasih, keadilan, pengampunan, dan kejujuran. Namun realitas menunjukkan bahwa ajaran tersebut sering kali dilupakan atau ditafsirkan secara sempit demi kepentingan kelompok.

Kimball (2002) mengidentifikasi lima indikator agama yang menyimpang, salah satunya adalah klaim kebenaran absolut yang menutup ruang dialog. Agama dalam bentuk ini tidak lagi menjadi sumber pencerahan, melainkan alat dominasi. Sebaliknya, William James (1902/2002) menekankan bahwa pengalaman religius yang otentik adalah yang menyentuh batin, membebaskan jiwa dari penderitaan, dan memperdalam hubungan dengan realitas transenden.

Anand Krishna (2004) berpendapat bahwa agama sejatinya merupakan jalan spiritual, bukan sekadar sistem kepercayaan. Ajaran agama harus membimbing manusia untuk mengenali jati diri dan menyadari kesatuan dengan semua makhluk. Ia menegaskan bahwa “agama bukan untuk membuat kita eksklusif, tetapi untuk menjadikan kita inklusif” (Krishna, 2010).

Struktur Agama: Antara Institusi dan Otoritas

Struktur hukum menurut Friedman adalah lembaga dan mekanisme yang menjalankan hukum. Dalam agama, struktur ini merujuk pada institusi keagamaan dan otoritasnya—tokoh-tokoh agama, organisasi keagamaan, serta sistem ritus dan doktrin.

Sayangnya, struktur ini kerap menjadi terlalu dominan dan birokratis. Ketika ajaran agama diatur secara formalistik dan hierarkis, maka muncul legalisme spiritual yang mengukur religiositas dari aspek lahiriah saja. Anand Krishna (2010) mengingatkan bahwa struktur keagamaan cenderung menyibukkan diri pada “pembungkus” agama, bukan pada isinya.

Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya institusi keagamaan yang lebih fokus pada kekuasaan, status sosial, dan pengaruh politik daripada mengajarkan transformasi batin. Ketika institusi menjadi terlalu kuat tanpa refleksi spiritual, maka ia kehilangan rohnya.

Kultur Keberagamaan: Ritual Tanpa Transformasi

Kultur hukum adalah sikap, kebiasaan, dan persepsi masyarakat terhadap hukum. Dalam agama, ini mencerminkan bagaimana umat menjalani ajaran agamanya. Banyak umat beragama yang lebih tertarik pada simbol, ritus, dan penampilan luar daripada penghayatan batin.

Perilaku ini sejalan dengan kritik Hawkins (2002), seorang psikiater dan mistikus modern, yang mengatakan: “I lost my religion but found spirituality.” Ungkapan ini mencerminkan pengalaman banyak pencari kebenaran yang kecewa dengan agama formal tetapi justru menemukan dimensi spiritual yang lebih mendalam. Bagi Hawkins, spiritualitas adalah pengalaman langsung akan Tuhan—yang melampaui dogma dan institusi.

Dalam kerangka Friedman, hal ini menunjukkan kegagalan kultur keagamaan dalam menginternalisasi substansi ajaran. Umat lebih mementingkan apa yang tampak secara sosial daripada apa yang tumbuh secara batin. Akibatnya, agama menjadi ritual kosong yang tidak mengubah perilaku atau meningkatkan kesadaran.

Refleksi: Agama sebagai Jalan Transformasi Batin

Perbedaan mencolok antara perilaku umat dan esensi agama dapat dijelaskan melalui ketidakharmonisan antara substansi, struktur, dan kultur agama. Ketika struktur dan kultur menjadi dominan, maka substansi spiritual terpinggirkan.

Solusi dari persoalan ini bukanlah menolak agama, tetapi memulihkan spiritualitasnya. William James (1902/2002) menegaskan bahwa agama sejati harus menghasilkan transformasi batin dan membawa kedamaian jiwa. Charles Kimball (2002) mengingatkan agar agama tidak dijadikan sarana kekuasaan. Anand Krishna (2004, 2010) mendorong kesadaran bahwa semua agama mengarah pada sumber yang sama: cinta dan kesatuan. Sementara David R. Hawkins (2002) menegaskan bahwa spiritualitas dapat tumbuh di luar institusi agama, selama seseorang berusaha mengembangkan kesadaran murni dan cinta tanpa syarat.

Kesimpulan

Ketika kita menggunakan pendekatan sistem hukum Lawrence M. Friedman untuk menelaah keberagamaan, terlihat bahwa disharmoni antara ajaran, institusi, dan perilaku umat merupakan akar dari krisis religiositas saat ini. Substansi ajaran yang luhur tertutupi oleh kekakuan struktur dan superfisialitas kultur.

Dalam semangat pembebasan batin, David R. Hawkins menyatakan, “I lost my religion but found spirituality.” Ungkapan ini bukan ajakan meninggalkan agama, melainkan ajakan menggali intisarinya: kasih universal, kesadaran murni, dan penyatuan diri dengan Sang Sumber. Maka, umat beragama perlu kembali dari simbol menuju substansi, dari legalisme menuju spiritualitas, dari eksklusivisme menuju cinta yang meliputi semua. [T]

Daftar Pustaka (APA Style)

  • Friedman, L. M. (1975). The legal system: A social science perspective. Russell Sage Foundation.
  • Hawkins, D. R. (2002). Power vs. force: The hidden determinants of human behavior. Hay House.
  • James, W. (2002). The varieties of religious experience: A study in human nature. (Original work published 1902). Modern Library.
  • Kimball, C. (2002). When religion becomes evil: Five warning signs. HarperSanFrancisco.
  • Krishna, A. (2004). Soul quest: Journey from death to immortality. Gramedia Pustaka Utama.
  • Krishna, A. (2010). Life: The journey within. Gramedia Pustaka Utama.
  • Nasr, S. H. (2002). The heart of Islam: Enduring values for humanity. HarperOne.
  • Tillich, P. (1957). Dynamics of faith. Harper & Row.
  • Glock, C. Y., & Stark, R. (1965). Religion and society in tension. Rand McNally.
  • Koentjaraningrat. (2002). Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. Gramedia.

Penulis: Anak Agung Made Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Alexis de Tocqueville dan Tantangan Demokrasi: Mengapa Agama Sangat Penting bagi Masyarakat Demokratis?
Sad Agama:  Menelusuri Enam Aliran Kepercayaan di Bali dalam Geguritan Bali Tattwa
Islam Agama Pembebasan
Tags: agama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Next Post

Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan — Cerita Kecil di Hari Libur

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan — Cerita Kecil di Hari Libur

Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan -- Cerita Kecil di Hari Libur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co