2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perilaku Umat Beragama versus Esensi Agama: Tinjauan Kritis dari Perspektif Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 18, 2025
in Opini
Perilaku Umat Beragama versus Esensi Agama: Tinjauan Kritis dari Perspektif Teori Sistem Hukum Lawrence M. Friedman

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

Abstrak

Perilaku umat beragama sering kali tidak mencerminkan esensi luhur agama itu sendiri. Dalam konteks sosial dan politik, agama kerap direduksi menjadi simbol dan identitas kelompok, bahkan digunakan sebagai justifikasi kekuasaan. Artikel ini membedah persoalan tersebut dengan menggunakan teori sistem hukum Lawrence M. Friedman yang mencakup tiga dimensi: substansi, struktur, dan kultur hukum. Pendekatan ini diperkaya oleh pemikiran Charles Kimball tentang penyalahgunaan agama, William James tentang pengalaman religius, Anand Krishna tentang spiritualitas universal, serta David R. Hawkins yang membedakan agama dan spiritualitas. Artikel ini mengajak pembaca merefleksikan makna sejati keberagamaan yang otentik—bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai transformasi kesadaran menuju welas asih dan kedamaian.

Pendahuluan

Agama pada dasarnya hadir untuk membimbing manusia menuju pencerahan, kedamaian, dan kasih sayang. Namun dalam praktik, perilaku umat beragama kerap menyimpang dari nilai-nilai luhur tersebut. Sebagaimana diungkapkan Charles Kimball (2002), agama menjadi berbahaya ketika digunakan untuk membenarkan kekerasan, mendogmakan kebenaran tunggal, dan menolak kritik. Fenomena ini menunjukkan adanya ketimpangan antara ajaran agama sebagai substansi spiritual dan ekspresinya dalam struktur sosial dan perilaku kolektif umat.

Dalam teori sistem hukum Lawrence M. Friedman (1975), terdapat tiga unsur utama yang membentuk efektivitas hukum: substansi hukum (legal substance), struktur hukum (legal structure), dan kultur hukum (legal culture). Jika paradigma ini diterapkan dalam studi agama, maka kita dapat menganalisis bagaimana ajaran (substansi), institusi keagamaan (struktur), dan perilaku umat (kultur) sering kali tidak berjalan harmonis.

Substansi Agama: Spiritualitas sebagai Inti

Substansi hukum adalah nilai-nilai yang menjadi dasar dan tujuan hukum. Dalam konteks agama, substansi merujuk pada ajaran-ajaran inti seperti cinta kasih, keadilan, pengampunan, dan kejujuran. Namun realitas menunjukkan bahwa ajaran tersebut sering kali dilupakan atau ditafsirkan secara sempit demi kepentingan kelompok.

Kimball (2002) mengidentifikasi lima indikator agama yang menyimpang, salah satunya adalah klaim kebenaran absolut yang menutup ruang dialog. Agama dalam bentuk ini tidak lagi menjadi sumber pencerahan, melainkan alat dominasi. Sebaliknya, William James (1902/2002) menekankan bahwa pengalaman religius yang otentik adalah yang menyentuh batin, membebaskan jiwa dari penderitaan, dan memperdalam hubungan dengan realitas transenden.

Anand Krishna (2004) berpendapat bahwa agama sejatinya merupakan jalan spiritual, bukan sekadar sistem kepercayaan. Ajaran agama harus membimbing manusia untuk mengenali jati diri dan menyadari kesatuan dengan semua makhluk. Ia menegaskan bahwa “agama bukan untuk membuat kita eksklusif, tetapi untuk menjadikan kita inklusif” (Krishna, 2010).

Struktur Agama: Antara Institusi dan Otoritas

Struktur hukum menurut Friedman adalah lembaga dan mekanisme yang menjalankan hukum. Dalam agama, struktur ini merujuk pada institusi keagamaan dan otoritasnya—tokoh-tokoh agama, organisasi keagamaan, serta sistem ritus dan doktrin.

Sayangnya, struktur ini kerap menjadi terlalu dominan dan birokratis. Ketika ajaran agama diatur secara formalistik dan hierarkis, maka muncul legalisme spiritual yang mengukur religiositas dari aspek lahiriah saja. Anand Krishna (2010) mengingatkan bahwa struktur keagamaan cenderung menyibukkan diri pada “pembungkus” agama, bukan pada isinya.

Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya institusi keagamaan yang lebih fokus pada kekuasaan, status sosial, dan pengaruh politik daripada mengajarkan transformasi batin. Ketika institusi menjadi terlalu kuat tanpa refleksi spiritual, maka ia kehilangan rohnya.

Kultur Keberagamaan: Ritual Tanpa Transformasi

Kultur hukum adalah sikap, kebiasaan, dan persepsi masyarakat terhadap hukum. Dalam agama, ini mencerminkan bagaimana umat menjalani ajaran agamanya. Banyak umat beragama yang lebih tertarik pada simbol, ritus, dan penampilan luar daripada penghayatan batin.

Perilaku ini sejalan dengan kritik Hawkins (2002), seorang psikiater dan mistikus modern, yang mengatakan: “I lost my religion but found spirituality.” Ungkapan ini mencerminkan pengalaman banyak pencari kebenaran yang kecewa dengan agama formal tetapi justru menemukan dimensi spiritual yang lebih mendalam. Bagi Hawkins, spiritualitas adalah pengalaman langsung akan Tuhan—yang melampaui dogma dan institusi.

Dalam kerangka Friedman, hal ini menunjukkan kegagalan kultur keagamaan dalam menginternalisasi substansi ajaran. Umat lebih mementingkan apa yang tampak secara sosial daripada apa yang tumbuh secara batin. Akibatnya, agama menjadi ritual kosong yang tidak mengubah perilaku atau meningkatkan kesadaran.

Refleksi: Agama sebagai Jalan Transformasi Batin

Perbedaan mencolok antara perilaku umat dan esensi agama dapat dijelaskan melalui ketidakharmonisan antara substansi, struktur, dan kultur agama. Ketika struktur dan kultur menjadi dominan, maka substansi spiritual terpinggirkan.

Solusi dari persoalan ini bukanlah menolak agama, tetapi memulihkan spiritualitasnya. William James (1902/2002) menegaskan bahwa agama sejati harus menghasilkan transformasi batin dan membawa kedamaian jiwa. Charles Kimball (2002) mengingatkan agar agama tidak dijadikan sarana kekuasaan. Anand Krishna (2004, 2010) mendorong kesadaran bahwa semua agama mengarah pada sumber yang sama: cinta dan kesatuan. Sementara David R. Hawkins (2002) menegaskan bahwa spiritualitas dapat tumbuh di luar institusi agama, selama seseorang berusaha mengembangkan kesadaran murni dan cinta tanpa syarat.

Kesimpulan

Ketika kita menggunakan pendekatan sistem hukum Lawrence M. Friedman untuk menelaah keberagamaan, terlihat bahwa disharmoni antara ajaran, institusi, dan perilaku umat merupakan akar dari krisis religiositas saat ini. Substansi ajaran yang luhur tertutupi oleh kekakuan struktur dan superfisialitas kultur.

Dalam semangat pembebasan batin, David R. Hawkins menyatakan, “I lost my religion but found spirituality.” Ungkapan ini bukan ajakan meninggalkan agama, melainkan ajakan menggali intisarinya: kasih universal, kesadaran murni, dan penyatuan diri dengan Sang Sumber. Maka, umat beragama perlu kembali dari simbol menuju substansi, dari legalisme menuju spiritualitas, dari eksklusivisme menuju cinta yang meliputi semua. [T]

Daftar Pustaka (APA Style)

  • Friedman, L. M. (1975). The legal system: A social science perspective. Russell Sage Foundation.
  • Hawkins, D. R. (2002). Power vs. force: The hidden determinants of human behavior. Hay House.
  • James, W. (2002). The varieties of religious experience: A study in human nature. (Original work published 1902). Modern Library.
  • Kimball, C. (2002). When religion becomes evil: Five warning signs. HarperSanFrancisco.
  • Krishna, A. (2004). Soul quest: Journey from death to immortality. Gramedia Pustaka Utama.
  • Krishna, A. (2010). Life: The journey within. Gramedia Pustaka Utama.
  • Nasr, S. H. (2002). The heart of Islam: Enduring values for humanity. HarperOne.
  • Tillich, P. (1957). Dynamics of faith. Harper & Row.
  • Glock, C. Y., & Stark, R. (1965). Religion and society in tension. Rand McNally.
  • Koentjaraningrat. (2002). Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. Gramedia.

Penulis: Anak Agung Made Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Di Antara Teks dan Konteks: Re-interpretasi Agama dalam Perspektif Postmodernisme — Forbidden Questions: Dialog Eksploratif Edisi Kumaila Hakimah
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Alexis de Tocqueville dan Tantangan Demokrasi: Mengapa Agama Sangat Penting bagi Masyarakat Demokratis?
Sad Agama:  Menelusuri Enam Aliran Kepercayaan di Bali dalam Geguritan Bali Tattwa
Islam Agama Pembebasan
Tags: agama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Next Post

Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan — Cerita Kecil di Hari Libur

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan — Cerita Kecil di Hari Libur

Bocah, Bola Pasir dan Hantu Laut di Pantai Penimbangan -- Cerita Kecil di Hari Libur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co